You are on page 1of 60

AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Ujian Akhir Semester Geologi Indonesia (GL-3271)

Hari / Tgl. : Selasa, 26 April 2016


Pukul : 09.00 - 11.00
Tempat : Ruang Hilmi Panigoro
Dosen : Dr. Ir. Chalid Idham Abdullah

SOAL

1. Sejak dulu kita telah mengenal bahwa batas daratan Sunda (Sundaland)
pada zaman Kapur mengikuti arah Meratus (Hamilton, 1979). Tetapi
akhir-akhir ini beberapa peneliti mempunyai hipotesa bahwa batas
tersebut terletak lebih ke arah timur (ke arah Sulawesi Selatan -
Bantimala).

a. Jelaskan, data apa yang menjadi pertimbangan bagi para peneliti


dalam mengemukakan hipotesa tentang batas Daratan Sunda ?.

b. Jika hipotesa tersebut di atas adalah benar, coba anda gambarkan


atau sketsa penampang tektonik pada zaman Kapur dari Timur ke
arah Barat (melalui Sulawesi Selatan, Selat Makassar, Pulau Laut dan
Pulau Kalimantan serta memotong Pegunungan Meratus sampai ke
cekungan Barito ? Sebutkan juga nama elemen-elemen tektonik dari
masing-masing tempat pada penampang saudara ?

Jawab :

Pegunungan Meratus yang sebelumnya dinyatakan oleh beberapa ahli seperti Katili, 1974
dan Hamilton, 1979 sebagai batas Sundaland dan merupakan jalur subduksi yang dapat
dihubungkan dengan melange Ciletuh dan Karangsambung, menurut penelitian terbaru (Satyana,
2003 -HAGI & IAGI; Satyana & Armandita, 2008-HAGI, Satyana, 2010-IPA; Satyana, 2012-
AAPG) merupakan sebuah suture Mesotethys hasil benturan antara mikrokontinen Schwaner dan

1 | Page

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Paternoster pada early Late Cretaceous, yang emplacement-nya dengan cara obduction of
detached oceanic slab, yang lalu naik ke permukaan karena ekshumasi Paternoster di bawahnya.

a. Data yang dipertimbangkan para peneliti dalam mengemukakan hipotesa tentang


daratan Sunda :
Hasil perhitungan umur metamorfisme dan umur radiolaria di Ciletuh dan Luk Ulo
yaitu sekitar Maastrichtian (Kapur Akhir, 72.1 66.0 Ma), sedangkan emplacement
ofiolit Meratus terjadi pada Albian Aptian (Kapur Awal, 126.3 100.5 Ma).
Data gaya berat yang diteliti dan diinterpretasi oleh Satyana, dkk (2007) serta Satyana
dan Armandita (2008) menunjukan bahwa ofiolit Pegunungan Meratus merupakan
detached oceanic crust atau slab break-off yang lepas dari akarnya berupa slab induk
di depan mikrokontinen Paternoster (tipe passive margin) pada saat terjadi proses
akrasi karena benturan antara mikrokontinen Paternoster dan mikrokontinen
Schwanner (SW Borneo) pada Kapur Awal. Detached slab Meratus terobduksi di atas
dua mikrokontinen yang berbenturan ini, sementara sebagian kerak benua
mikrokontinen Paternoster menunjam di bawah detached slab Meratus karena dibawa
masuk ke dalam astenosfer oleh kerak samudera induk di depan mikrokontinen
Paternoster.
Satyana (2003) merekonstruksi tektonik wilayah bagian tenggara Sundaland (Kalimantan
Tenggara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan). Hasilnya adalah ofiolit yang terdapat
pada Pegunungan Meratus tidak dapat dihubungkan dengan ofiolit Ciletuh dan ofiolit Luk Ulo,
seperti yang digambarkan oleh Katili (1974) dan Hamilton (1979) yang menyebutnya sebagai
jalur penunjaman Kapur Akhir. Proses emplacement ofiolit Meratus berbeda dengan proses
emplacement ofiolit di Ciletuh dan Luk Ulo. Satyana (2003) mengusulkan Ciletuh dan Luk Ulo
seharusnya disambungkan dengan singkapan kompleks ofiolit di Bantimala, Sulawesi Selatan.

b. Element element yang ada adalah Magmatic Arc, Fore Arc Basin,
Back Arc Basin, South China Sea, Sunda and Microcontinent Plate,
Meratus Wedge. Adapun penampang tektonik zaman Kapur Pulau
Kalimantan berarah NW-SE dijelaskan dengan gambar yang ada dibawah:

2 | Page

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

WEST DIPPING SUBDUCTION


NW SE
MA
RIFTED FROM
SCS BASIN FA MERATU'S WEDGE GO NDWANA
BA 1

SUNDA PL MICRO - CO NT

80 - 60 MA INDIAN -AUSTRALIA
L.CRET. - PALEOC. PLATE PATERNO SFER -
KANGEAN BLOCK
FIRST EPISODES PLATE
SCS SPREADING
MA

BA 2 NW
FA
LUPAR WEDGE
AUSTRALIA PLATE

60 - 40 MA
PALEOC. - M. EOCENE
EAST DIPPING SUBDUCTION CO LLISIO N MICCRO CO NTINEN - MERATUS
MA = MAGMATIC ARC
BA = BACK ARC BASIN
FA = FORE ARC BASIN
SCS = SO UTH CHINA SEA

Gambar 1. NW SE Cross section Schematic reconstruction (A) Late Cretaceous, and

(B) Eocene (Pertamina BPPKA, 1997, op cit., Bachtiar, 2006).

Gambar 2. Penampang Pulau Kalimantan berarah NW-SE Zaman Kapur (Hasan, 1991; Wakita, 2000;
dimodifikasi Satyanan dan Armandita, 2008)

3 | Page

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

2. Sebutkan empat perbedaan utama antara Busur Barat dan Busur Timur
dari Pulau Sulawesi ?. Dan dibagian mana dataran luas ofiolit yang dapat
ditemukan di Pulau Sulawesi ?. Zona penunjaman manakah di kawasan
Sulawesi yang berkaitan dengan vulkanisma aktif saat ini ? (jawaban
disertai gambar).

Jawab :

Perbedaan utama antara Busur Barat dan Busur Timur dari Pulau Sulawesi dijelaskan
oleh tabel dibawah :

Tabel 1. Perbedaan Busur Barat dan Busur Timur dari Pulau Sulawesi

Busur Barat Busur Timur


Busur barat berupa Continental Busur timur berupa Mid Oceanic
Origin Origin
Busur barat berupa busur vulkanik Busur timur berupa sabuk ofiolit
yang tersebar di lengan selatan bagian dan asosiasi dengan sedimen pelagik
barat hingga lengan utara Pulau yang tersebar menutupi lengan timur
Sulawesi. dan tenggara Pulau Sulawesi.
Busur barat berupa batuan Sabuk ini berupa batuan mafik dan
vulkanik-plutonik berumur ultramafik dengan batuan sedimen
Paleogen-Kuarter, batuan sedimen pelagik dan melange.
dan batuan metamorf berumur
Mesozoik- Tersier.
Batuan dasar tersingkap di dua area,
Batuan dasar berupa batuan
yaitu di bagian barat Sulawesi Selatan
metamorf derajat rendah yang
dekat Bantimala dan Barru, berupa
mendominasi bagian lengan tenggara
batuan metamorf derajat tinggi,
dengan umur yang belum diketahui,
ultramafik dan sedimen. Batuan
berupa fasies amfibolit-epidot dan
metamorf derajat tinggi berupa
fasies sekis-glaukofan.
amfibolit, eklogit, sekis-mika, kuarsit,
klorit-feldspar dan filit grafit (tHoen
& Zeigler, 1917; Sukamto, 1975;1982;
Berry & Grandy, 1987).
Busur barat memiliki pola struktur
Busur timur relatif tersesarkan
4 | Page

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

yang relatif lebih sederhana dan secara tektonik yang membentuk


kemungkinan busur ini berasal dari bongkahan-bongkahan, dan
kontinen. berdasarkan data geokimia kompleks
ofiolit ini kemungkinan berasal dari
punggungan tengah samudra
Sulawesi Barat selempeng dengan (Surono,1995)
pulau-pulau Kalimantan, Jawa dan Busur timur merupakan bagian dari
Sumatra yaitu merupakan bagian dari lempeng Australia
lempeng Eurasia
Busur barat kaya akan logam-logam
Busur timur kaya akan mineral
yang berasiosiasi dengan aktivitas
logamnya seperti nikel, krom dan
volkanik seperti besi, tembaga, dan
kobalt.
emas

Dataran luas ofiolit ditemukan di Busur Timur tepatnya pada Lengan Timur dan Tenggara
Sulawesi yang dinamakan the Eastern Sulawesi Ophiolite Belt.
Zona penunjaman aktif yang berkaitan dengan vulkanisme akif saat ini berada di Busur
Barat diantaranya Camba Volcanik yang terletak di Western Divide Ran.

Gambar 3. Penampang Pulau Sulawesi (Coffield, et.al. 1993)

5 | Page

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 4. Peta Geologi Sulawesi (http://randyweblog.blogspot.com/ )

3. Uraikan perbedaan dan kesamaan antara Stratigrafi Neogen dan


Stratigrafi Paleogen Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur
Indonesi (KTI) ?. Berilah masing-masing contoh di suatu cekungan ?

Jawab :

Perbedaan dan kesamaan yang dapat dilihat dari contoh cekungan di KBI dan KTI yakni
sebagai berikut.

a. Kesamaan

Perbandingan stratigrafi pada Indonesia Timur dan Barat dapat dilihat dari kedua contoh
cekungan ini, yaitu Cekungan Barito dan Cekungan Sengkang Timur.

Pada kedua cekungan ini memiliki kesamaan dari asosiasi batuan dalam formasi
penyusunnya. Perbandingan pertama adalah pada sekuen pre-rift Volkanik Langi dengan Formasi
Manunggul di Cekungan Barito. Kemudian perbadingan selanjutnya adalah pada sekuen syn rift

6 | Page

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

antara Formasi Malawa di Cekungan Sengkang Timur dan Formasi Tanjung di Cekungan Barito.
Sikuen pada kedua cekungan ini dinilai sama karena mengandung banyak kuarsa dan tidak
ditemukan tuf. Sekuen ini terkenal sebagai source rocks yang baik karena mengandung lapisan
batubara dan serpih karbonan.

Sekuen post-rift Oligo-Miosen di Sulawesi disusun oleh batugamping Tonasa/Makale


yang sebanding dengan batugamping dari Formasi Berai di Cekungan Barito. Stratigrafi
Sulawesi Selatan kemudian ditutup oleh endapan molas Walanae yang konglomeratik dan punya
fragmen dari batuan-batuan pre-rift sampai pre-orogen yang dapat disebandingkan dengan
Formasi Dahor (Pliosen) di Cekungan Barito yang konglomeratik dan punya fragmen dari batuan
dasar Meratus sampai Warukin yang deltaik.

b. Perbedaan

Perbedaan dari kedua cekungan ini adalah pada Cekungan di Indonesia timur seperti
Cekungan Sengkang Timur adalah adanya asosiasi batuan yang menunjukan adanya proses
tektonik yang tidakada di Indonesia Barat. Proses tektonik tersebut dapat berupa asosiasi
kompleks batuan ultramafik ofiolit sebagai hasil dari proses tektonik obduksi maupun uplift yang
hanya dapat ditemukan di Indonesia Timur.

Tentunya hal ini menggambarkan adanya perbedaan proses tektonik yang signifikan
tetapi dibagi dalam sikuen rifting yang sama.

PRA-TERSIER

Tabel 2. Perbedaan KBI dan KTI Pra Tersier

ASPEK KBI KTI


PERSAMAAN/PERBEDAA
N
PROSES PEMBENTUKAN Kawasan Indonesia Barat rata- Kawasan Indonesia Timur
rata terbentuk oleh tumbukan- rata- rata terbentuk oleh
tumbukan mikrokontinen pecahan mikrofragmen
seperti Woyla Arc, Sibumasu, Gondawana yang berasal
dan sebagainya. dari Australia (Irian, dsb.)
CEKUNGAN Hampir tidak terjadi Proses pembentukan
pembentukan cekungan pada cekungan mulai
kawasan ini. berlangsung dari umur
Pra- Tersier, seperti
7 | Page

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Cekungan Bonaparte,
Cekungan Bintuni, dsb.
BAGIAN ASAL Kawasan ini terbentuk dari Kawasan ini terbentuk
suatu paparan besar berupa dari beberapa paparan,
Paparan Sunda seperti Paparan Sahul,
dsb.

TERSIER

Tabel 3. Perbedaan KBI dan KTI Tersier

ASPEK KBI KTI


PERSAMAAN/PERBEDAAN
BATUAN DASAR berasal dari satu didominasi oleh batuan dasar dari
kontinen yang sama Australia (Sahul) dan sebagian
(Sundaland, Eurasia). hasil tumbukan Sundaland dan
Ada sedikit campuran Kraton Australia
dari fragmen Gondwana
EVENT TEKTONIK Extrussion tectonics tumbukan-tumbukan antara
PENTING yang terjadi karena volcanic arc dan lempeng benua
reaksi dari tumbukan Australia yang terjadi di beberapa
India-Eurasia yang wilayah. Ada juga efek extrussion
berpengaruh di hampir di tumbukan di Papua
semua wilayah
UMUR COLLISION kapur akhir di daerah bervariasi dari Oligo-miosen
ciletuh-karangsambung (Papua) sampai yang paling muda
dengan mikrokontinen pada kala Miosen (Timor)
Jawa Timur
PEMBENTUKAN Terjadinya subduksi Proses pembukaan cekungan pada
CEKUNGAN yang mengakibatkan kawasan Indonesia Timur tidak
pembukaan cekungan di terjadi akibat rifting subduksi dan
bagian back-arc maupun terbentuk rata- rata pada umur
secara Transtension Pra- Tersier
pada kawasan Indonesia
Barat
POLA STRUKTUR sederhana dan biasanya bisa kompleks-sangat kompleks

8 | Page

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

hanya antara 2-3 dengan komponen yang bisa dari


komponen tektonik beberapa mikrokontinen dan
lempeng
MELANGE kebanyakan dari hasil kebanyakan dari hasil prisma
prisma akresi yang akresi yang bertumbukan dengan
bertumbukan dengan kontinen
kontinen. Ada yang dari
proses Ekshumasi

Gambar 5. Stratigrafi Kepulauan Tanimbar dari umur Permian hingga Pliosen (sumber: http://www.timcharlton.co.uk/banda-
arcprospectivity/tanimbar-islands).

9 | Page

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 6. Stratigrafi Halmahera (Darman & Hasan, 2000)

4. Banyak perdebatan dari para ahli yang mempelajari evolusi tektonik


Papua, salah satu perdebatan yang hangat adalah model subduksi ke utara
atau ke selatan. Menurut saudara bagaimana seharusnya ?. Bukti apa
yang mendukung ide saudara tersebut jika dikaitan dengan pola tektonik
Papua saat ini ?.

Jawab :

Model yang lebih tepat adalah ke utara dengan penjabaran sebagai berikut. Lempeng
Indo-Australia, yang berkembang akibat adanya pertemuan antara Lempeng Australia yang
bergerak ke utara dengan Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat.

10 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Dua lempeng utama ini mempunyai sejarah evolusi yang diidentifikasi yang berkaitan
erat dengan perkembangan sari proses magmatik dan pembentukan busur gunung api yang
berasoisasi dengan mineralisasi emas phorpir dan emas epithermal. Menurut Smith (1990),
perkembangan Tektonik Pulau Papua dapat dipaparkan sebagai berikut:

Periode Oligosen sampai Pertengahan Miosen (35 5 JTL)

Pada bagian belakang busur Lempeng kontinental Australia terjadi pemekaran yang
mengontrol proses sedimentasi dari Kelompok Batugamping Papua Nugini selama Oligosen
Awal Miosen dan pergerakan lempeng ke arah utara berlangsung cepat dan menerus.

Gambar 7. Papua pada 30 Ma / Oligosen Tengah

Pada bagian tepi utara Lempeng Samudera Solomon terjadi aktivitas penunjaman,
membentuk perkembangan Busur Melanesia pada bagian dasar kerak samudera selama periode
44 24 Juta Tahun yang lalu (JTL).
Kejadian ini seiring kedudukannya dengan komplek intrusi yang terjadi pada Oligosen
Awal Miosen seperti yang terjadi di Kepatusan Bacan, Komplek Porphir West Delta Kali Sute
di Kepala Burung Papua.
Selanjutnya pada Pertengahan Miosen terjadi pembentukan ophiolit pada bagian tepi
selatan Lempeng Samudera Solomon dan pada bagian utara dan Timur Laut Lempeng Indo-
11 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Australia. Kejadian ini membentuk Sabuk Ofiolit Papua dan pada bagian kepala Burung Papua
diekspresikan oleh adanya Formasi Tamrau.

Gambar 8. Papua pada 15 Ma / Miosen Tengah

Pada Akhir Miosen terjadi aktivitas penunjaman pada Lempeng Samudera Solomon ke
arah utara, membentuk Busur Melanesia dan ke arah selatan masuk ke lempeng Indo-Australia
membentuk busur Kontinen Calc Alkali Moon Utawa dan busur Maramuni di Papua Nugini.

Periode Miosen Akhir Plistosen (15 2 JTL)


Mulai dari Miosen Tengah bagian tepi utara Lempeng Indo-Australia di Papua Nugini sangat
dipengerahui oleh karakteristik penunjaman dari Lempeng Solomon. Pelelehan sebagian ini
mengakibatkan pembentukan Busur Maramuni dan Moon-Utawa yang diperkirakan berusia 18
7 Juta Tahun yang lalu.
Busur Vulkanik Moon ini merupakan tempat terjadinya prospek emas sulfida ephitermal dan
logam dasar seperti di daerah Apha dan Unigolf, sedangkan Maramuni di utara, Lempeng
Samudera Solomon menunjam terus di bawah Busur Melanesia mengakibatkan adanya penciutan
ukuran selama Miosen Akhir.

12 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 9. Papua pada 5 Ma / Pliosen Awal


Pada 10 juta tahun yang lalu, pergerakan lempeng Indo-Australia terus berlanjut dan
pengrusakan pada Lempeng Samudra Solomon terus berlangsung mengakibatkan tumbukan di
perbatasan bagian utara dengan Busur Melanesia.
Busur tersebut terdiri dari gundukan tebal busur kepulauan Gunung Api dan sedimen
depan busur membentuk bagian Landasan Sayap Miosen seperti yang diekspresikan oleh
Gunung Api Mandi di Blok Tosem dan Gunung Api Batanta dan Blok Arfak.
Kemiringan tumbukan ini mengakibatkan kenampakan berbentuk sutur antara Busur
Melanesia dan bagian tepi utara Lempeng Australia yang diduduki oleh Busur Gunung Api
Mandi dan Arfak terus berlangsung hingga 10 juta tahun yang lalu dan merupakan akhir dan
penunjaman dan perkembangan dari busur Moon Utawa.
Kenampakan seperti jahitan ditafsirkan dari bentukan tertutup dari barat ke timur mulai
dari Sorong, Koor, Ransiki, Yapen, dan Ramu Zona Patahan Markam.
Pasca tumbukan gerakan mengiri searah kemiringan ditafsirkan terjadi sepanjang Sorong,
Yapen, Bintuni dan Zona Patahan Aiduna, membentuk kerangka tektonik di daerah Kepala
Burung. Hal ini diakibatkan oleh pergerakan mencukur dari kepala tepi utara dari Lempeng
Australia.
Kejadian yang berasosiasi dengan tumbukan busur Melanesia ini menggambarkan bahwa
pada Akhir Miosen usia bagian barat lebih muda dibanding dengan bagian timur. Intensitas
perubahan ke arah kemiringan tumbukan semakin bertambah ke arah timur.
13 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Akibat tumbukan tersebut memberikan perubahan yang sangat signifikan di bagian


cekungan paparan di bagian selatan dan mengarahkan mekanisme perkembangan Jalur Sesar
Naik Papua.
Zona Selatan tumbukan yang berasosiasi dengan sesar serarah kemiringan konvergensi
antara pergerakan ke utara lempeng Indo-Australia dan pergerakan ke barat lempeng Pasifik
mengakibatkan terjadinya resultante NE-SW tekanan deformasi. Hal itu mengakibatkan
pergerakan evolusi tektonik Papua cenderung ke arah Utara Barat sampai sekarang.
Kejadian tektonik singkat yang penting adalah peristiwa pengangkatan yang diakibatkan
oleh tumbukan dari busur kepulauan Melanesia. Hal ini digambarkan oleh irisan stratigrafi di
bagian mulai dari batuan dasar yang ditutupi suatu sekuen dari bagian sisi utara Lempeng Indo-
Australia yang membentuk Jalur Sesar Naik Papua. Bagian tepi utara dari jalur sesar naik ini
dibatasi oleh batuan metamorf dan teras ophilite yang menandai kejadian pada Miosen Awal.
Perbatasan bagian selatan dari sesar naik ini ditandai oleh adanya batuan dasar
Precambrian yang terpotong di sepanjang Jalur Sesar Naik. Jejak mineral apatit memberikan
gambaran bahwa terjadi peristiwa pengangkatan dan peruntuhan secara cepat pada 4 3,5 juta
tahun yang lalu (Weiland, 1993).

Gambar 10. Papua saat ini


Selama Pliosen (7 1 juta tahun yang lalu) Jalur lipatan papua dipengaruhi oleh tipe
magma I, yaitu suatu tipe magma yang kaya akan komposisi potasium kalk alkali yang menjadi
sumber mineralisasi Cu-Au yang bernilai ekonomi di Ersberg dan Ok Tedi.
Selama pliosen (3,5 2,5 JTL) intrusi pada zona tektonik dispersi di kepala burung
terjadi pada bagian pemekaran sepanjang batas graben. Batas graben ini terbentuk sebagai respon
14 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

dari peningkatan beban tektonik di bagian tepi utara lempeng Indo-Australia yang diakibatkan
oleh adanya pelenturan dan pengangkatan dari bagian depan cekungan sedimen yang menutupi
landasan dari Blok Kemum. Menurut Smith (1990), sebagai akibat benturan lempeng Indo-
Australia dan Pasifik adalah terjadinya penerobosan batuan beku dengan komposisi sedang
kedalam batuan sedimen diatasnya yang sebelumnya telah mengalami patahan dan perlipatan.
Hasil penerobosan itu selanjutnya mengubah batuan sedimen dan mineralisasi dengan
tembaga yang berasosiasi dengan emas dan perak.
Tempat tempat konsentrasi cebakan logam yang berkadar tinggi diperkirakan terdapat pada
lajur Pegunungan Tengah Papua mulai dari komplek Tembagapura (Erstberg, Grasberg , DOM,
Mata Kucing, dll), Setakwa, Mamoa, Wabu, Komopa Dawagu, Mogo Mogo Obano,
Katehawa, Haiura, Kemabu, Magoda, Degedai, Gokodimi, Selatan Dabera, Tiom, Soba-Tagma,
Kupai, Etna Paririm Ilaga.
Sementara di daerah Kepala Burung terdapat di Aisijur dan Kali Sute. Sementara itu
dengan adanya busur kepulauan gunungapi (Awewa Volkanik Group) yang terdiri dari : Waigeo
Island (F.Rumai) Batanta Island (F.Batanta), Utara Kepala Burung (Mandi & Arfak Volc), Yapen
Island (Yapen Volc), Wayland Overhrust (Topo Volc), Memungkinkan terdapatnya logam, emas
dalam bentuk nugget.

5. Sebagai akibat tumbukan pada zaman Tersier di Papua, maka dibagian


Central range fold belt dijumpai struktur apa ?. Jelaskan dan
gambarkan apakah yang dimaksud struktur tersebut ?. Jelaskan juga
tentang model aktivitas magmatik berumur Tersier di Papua Barat yang
menghasilkan akumulasi tembaga dan emas di ditinjau dari pandangan
geodinamik ?.

Jawab :

Gambar 11. Model thin-skinned deformation

15 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Sabuk pegunungan lipatan tengah di Irian Jaya terbentuk oleh adanya collision antara
lempeng Pasifik dan lempeng Australia. Pada zaman Pra-Tersier belum ada aktivitas aktif secara
tektonik di wilayah bakal pulau Irian jaya ini. Fase tektonik aktif mulai muncul pada kala Eosen
yang diwakili adanya busur volkanik di Pasifik. Tumbukan antara busur volkanik Melanesia dan
Australia terjadi di kala Oligo-Miosen (sekitar 25 Jtyl) dan diikuti dengan proses delaminasi
pada Miosen akhir (8 Jtyl). Delaminasi adalah proses penipisan lempeng dan diikuti slab break
off. Peristiwa ini menghasilkan kegiatan magnetisme di pegunungan tengah yang menghasilkan
beberapa sistem endapan mineral.

Proses organik ini menghasilkan struktur lipatan dan thrust fault akibat gaya dengan
arah U-S di sepanjang busur tumbukan. Selain itu, terdapat sesar-sesar mendatar akibat gejala
extrussion tectonics dari tumbukan ini.

16 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 12. Model thin-skinned deformation

17 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 13. Penampang Utara Selatan bagian Barat dari Pegunungan Tengah

Penampang U-S dari bagian barat (tertinggi) dari Pegunungan Tengah, menunjukkan
puncak dengan ketinggian hingga 5000 m yang terdiri dari batugamping Irian (Eosen-Oligosen)
yang terlipat. Daerah yang lebih rendah terdiri dari klastika dan karbonat berumur Paleozoikum-
Mesozoikum. (Dozy, 1939)

6. Fisiografi Kawasan Timur Indonesia (KTI) memperlihatkan posisi Pulau


Sumba yang unik pada Cekungan Muka Busur Banda. Umbgrove (1949)
mensinyalir adanya problem geodinamik pulau tersebut. Coba sebutkan
apa permasalahannya ditinjau dari sudut pandangan Tektonik
Lempeng ?.

Jawab :

Posisi Pulau Sumba yang berada di depan Busur Sunda. Berdasarkan data geologi dan
geofisika saat ini, Pulau Sumba tidak menunjukan fitur tektonik subduksi dari sistem Busur
Sunda, tidak juga menunjukan fitur tektonik kolisi dari sistem busur Banda. Saat ini, Pulau
Sumba diduga berasal dari lempeng kontinen Asia atau Australia. Hal tersebut masih menjadi
perdebatan hingga saat ini, dan memerlukan studi lebih lanjut. Beberapa data yang mendukung
mengenai evolusi geodiamik Pulau Sumba adalah sebagai berikut:

a. Urutan stratigrafi Sumba pada Paleogen sama dengan urutan stratigrafi Sulawesi Selatan
(Burollet& Salle, 1981;Simandjuntak, 1993).
b. Extruded magma Sumba yang berumur Late Cretaceous-Paleogen mirip secara
petrokimia dan geokronologi dengan arc volcanism di tepi Sundaland (Abdullah, 1994,
2010).
c. Data paleomagnetik Sumba dari Late Cretaceous sampai Paleogen menunjukkan posisi
Sumba pada Late Cretaceous ada di 18.3 N, pada Paleosen ada di 7.4 N dan pada
Miosen Awal di posisinya sekarang di 9.9 S (Wensink, 1994).

18 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

d. Data isotop Pb-Nd batuan Sumba menunjukkan karakteristik yang sama dengan data
isotop batuan di Sulawesi (Vroon et al, 1996).
e. Sumba mengandung foram besar yang khas foram besar Eosen yang hidup di wilayah
tropis, yaitu Assilina, Pellatispira, dan Biplanispira; dan tak pernah ditemukan foram
besar wilayah subtropis yang khas Australia yaitu Lacazinella (Lunt, 2003).
Dari data di atas maka diambil kesimpulan bahwa Sumba adalah mikrokontinen yang
berasal dari tenggara Benua Eurasia (Sundaland) atau bagian dari tenggara paparan. Sikuen
stratigrafi selama Kapur Akhir hingga Miosen menunjukkan kesamaan dengan stratigrafi barat
daya. Dengan demikian, berdasarkan data-data dan bukti-bukti yang ada, Sumba adalah bagian
dari fragmen

Gambar 14. Letak Pulau Sumba dalam tatanan tektonik regional ( http://geosphere.gsapubs.org/)

19 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 15. Peta sketsa geologi Sumba (Abdullah et al., 2000)

Gambar 16. Kolom stratigrafi Sumba (Abdullah et al., 2000)

20 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

7. Hipotesa tentang evolusi geodinamik pulau Sumba menjadi bahan


perdebatan diantara para ahli kebumian, salah satunya menyatakan
bahwa pulau Sumba merupakan kepingan kerak kontinen yang berasal
dari tepi tenggara paparan Sunda. Jelaskan data apa saja yang dapat
mendukung hipotesa tersebut ?.

Jawab :

Pulau Sumba sekarang adalah pulau non-voulkanik yang berada di belakang (sebelah
utara) jalur subduksi Jawa dan berada di antara jalur magmatik Sunda yang merupaka subduksi
antara samudera India dan Sundaland dan kolisi antara Australia yang secara underthrust ke
pulau Timor. Sampai saat ini, Pulau Sumba dipercaya sebagai mikrokontinen yang sudah terpisah
dari kontinen asalnya. Masalah yang masih menjadi perdebatan adalah: Darimanakah
mikrokontinen Sumba berasal? Sampai saat ini setidaknya sudah ada 4 dugaan dari mana
mikrokontinen Sumba berasal:

a. Sumba awalnya adalah bagian dari Kontinen Australia yang lepas ketika cekungan
Wharton terbentuk, mengapung ke utara dan kemudian terjebak di belakang palung Jawa
sebelah timur
b. Sumba dulunya adalah bagian dari Sundaland dan mengapung ke selatan selama
pembukaan laut tepi di margin timur Sundaland (kebanyakan penulis mendukung
pendapat ini)
c. Sumba bisa merupakan mikrokontinen atau bagian dari benua yang lebih besar dalam
Samudera Tethys, yang kemudian terpecah-pecah (Chamalaun dan Sunata, 1982).
d. Sumba adalah bagian dari Timor dan mengalami escape tectonics ke posisi sekarang
setelah tabrakan Timor dengan benua Australia melalui pembukaan Cekungan Savu
(Audley-Charles, 1985; Djumhana dan Rumlan, 1992).

Kesemua pendapat di atas merupakan model berdasarkan disiplin-disiplin yang berbeda.


Satyana dan Purwaningsih, 2011 mencoba merangkum dan membuat dugaan baru dari data-data
yang telah ada (stratigraphic succession (Burollet dan Salle, 1981; Simandjuntak, 1993;
Abdullah, 1994); geochronology-geochemistry daribatuan magmatik (Abdullah, 1994; Abdullah,
2010), paleomagnetisme (Wensink, 1994; Wensink dan van Bergen, 1995), isotope geology
(Vroon et al., 1996) dan foraminifera besar Eosen (Lunt, 2003)) dan menyimpulkan bahwa Pulau
Sumba adalah dulunya bagian dari Sundaland bagian timur/tenggara.

21 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Mekanisme detachement Pulau Sumba dari kontinen induknya juga merupakan masalah
yang belum terselesaikan sekarang. Simandjuntak (1993) memberikan 3 kemungkinan
pergerakan pulau Sumba dari Sundaland: (1) Sumba terlepas dari Kalimantan Tenggara dan
mengalami rifting ke selatan oleh perpindahan transcurrent-transformal sebelum perkembangan
busur vulkanik Neogen Akhir di kawasan Sunda Kecil. (2) Sumba terrane terlepas dari zona
rifting yang selanjutnya mengalami Sesar ekstensional yang kemudian pemecahan dan
pembentukan Selat Makassar selama pemisahan Sulawesi Selatan dari Kalimantan Tenggara, dan
sebelum pengembangan busur vulkanik Neogen Akhir di kawasan Sunda Kecil. (3)
Karenasuksesi turbidite Mid-Miosen di Sumba sangat berbeda dengan gunung berapi, karbonat,
dan sedimen Molass di Sulawesi Selatan, detachment Sumba dari Teluk Bone, atau dari depresi
Walanae di Lengan Selatan Sulawesi, mungkin telah terjadi di Miosen tengah oleh reaktivasidari
Sesar Wrench Palu-Koro atau Sesar Walanae, sebelum pengembangan busur vulkanik di kawasan
Sunda Kecil. Satyana (2003) mengusulkan ide yang lain dimana Pulau Sumba ini bergerak
dengan mekanisme escape tectonics dari pengaruh tumbukan India-Eurasia di Paleogen yang
bisa dijelaskan dengan adanya beberapa sesar mendatar besar di Kalimantan Tenggara dan Palu-
koro.

Gambar 17. Rekonstruksi yang menggambarkan bahwa Sumba adalah Mikrokontinen bagian dari Sundaland
pada Kapur akhir. (Satyana, 2003)

22 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

.
Gambar 18. Rekonstruksi detachment dan emplacement dari Pulau Sumba dari Eosen Akhir-Miosen Akhir

8. Jelaskan tentang evolusi dari jalur-jalur magmatisma di Pulau Jawa mulai


dari umur Kapur, Paleogen, Neogen dan Kuarter ?. Dan jelaskan juga di
mana letak perbedaannya dengan pola dari jalur-jalur magmatisma di
Pulau Sumatera, (jawaban disertai sketsa / gambar).
Jawab :

Gambar 19. Jalur Magmatisme Pulau Jawa dan Pulau Sumatera

23 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Evolusi jalur magmatk Pulau Jawa adalah akibat adanya subduksi lempeng Indo-
Australia yang menujam ke lempeng Eurasia. Terjadi perubahan pada jalur magmatic ini akibat
adanya perbedaan kecepatan penujaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia.
a. Kapur Paleogen

Jalur subduksi purba pada Pre-Tersier yang memiliki umur Kapur, dapat diamati mulai
dari Jawa Barat selatan (ciletuh), Pegunungan Serayu (Jawa Tengah) dan Laut Jawa bagian timur
ke Kalimantan Tenggara. Sedangkan Jalur magmatik menempati lepas pantau Utara Jawa.
(berwarna ungu pada gambar 1). Jalur subduksi purba disebabkan penunjaman lempeng Indo-
Australia dibawah lempeng Eurasia yang berarah NE SW dan pola tektonik ini dinamakan Pola
Meratus
b. Paleogen Neogen

Gambar 20. Jalur Subduksi dan Busur Magmatik Zaman Kapur, Oligosen dan Recent
Pada sub zaman Paleogen dan Neogen terdapat jalur subduksi purba membentuk struktur
positif (punggungan) bawah permukaan laut yang terletak di selatan Pulau Jawa. Jalur ini
merupakan kelanjutan deretan pulau pulau di sebelah barat Sumatera yang terdiri dari
singkapan melange (Pulau Nias) berumur Miosen. Jalur ini merupakan satuan tektonik yang
penting karena dikaitkan dengan terangkatnya masa ringan dibandingkan sekitarnya sebagai
akibat penyusupan Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Mikro Sunda. Sedangkan jalur

24 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

magmatisme Tersier daoat dibedakan menjadi dua periode kegiatan magmatic, yaitu yang
berlangsung sepanjang Eosen Akhir-Miosen Awal dan Miosen Akhir - Pliosen.
1. Eosen Akhir-Miosen awal
Pola subduksi mengalami perubahan jalur semakin ke arah W E. Pergerakan
arah tegasan NW SE ke arah relatif N S, sehingga terdapat pola struktur yang lebih
muda, yaitu Pola Sunda.
2. Miosen Akhir- Pliosen
Pola subduksi yang sudah berarah W - E menghasilkan jalur magmatisme berarah
W E juga yang menghasilkan pola pola struktur berarah W E dan berlangsung
hingga saat ini. Pola struktur ini dinamakan Pola Jawa. Pergerakan mundur dari zona
subduksi daerah selatan Jawa terjadi pada kala Miosen Akhie-Pliosen yang diikuti dengan
melandaikan sudut penunjaman antara Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng
Eurasia, sehingga menyebabkan bergeraknya zona magmatis lebih ke utara dari
sebelumnya (lebih ke tengah pulau Jawa)
c. Kuarter- Resen

Gambar 21. Perkembangan Zona Subduksi dan Busur Magmatik Pulau Jawa (modifikasi Soeria-Atmadja dkk.
1994 dan Simanjuntak & Barber 1996).
Jalur magma atau volkanik Kuarter yang membentang sepanjang pulau dan meliputi
hampir seluruh pulau. Perbedaan antara pola dan jalur magmatisme pada Pulau Sumatera terjadi
sejak zaman Pre-Tersier sedangkan pada Jawa hanya terjadi pada Jawa bagian barat saja proses
magmatismenya. Perubahan jalur magmatisme di Sumatera lebih diakibatkan pada mekanisme
roll back. Bentuk subduksi pada Pulau Sumatera adalah oblique akibat pengaruh sistem

25 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

mendatar Sumatra sehingga menjadikan kompleksitas regim stress dan pola strain pada Sumatra
(Darman dan Sidi, 2000).

9. Pulau Timor merupakan satu contoh produk tektonik dari proses


tumbukan antara Busur Kepulauan dengan Kontinen (Island Arc -
Continent Collision) di Kawasan Timur Indonesia.
a. Jelaskan tentang proses tersebut secara fisiografi dan tektonik ?.
b. Secara stratigrafi dan struktural Timor dapat dibedakan menjadi 3
bagian utama. Sebut dan uraikan secara ringkas ?.
c. Pilih 3 Model Tektonik untuk Pulau Timor dari berbagai model yang
pernah diusulkan yang menunjukkan perbedaan yang signifikatif dan
berikan penjelasannya ?.

Jawab :

a. Fisiografi dan Tektonik

Gambar 22. Peta Geologi Timor

Secara Tektonik, Timor memiliki kondisi geologi yang kompleks adalah akibat dari
tumbukan Lempeng Australia bagian barat laut dengan Busur Kepulauan Banda sehingga kerak
Benua Australia menunjam di bawah busur kepulauan dengan arah penunjaman ke utara.
Peristiwa tumbukan tersebut diperkirakan terjadi pada umur Miosen Akhir. Tumbukan awalnya
terjadi di bagian tengah Timor dan kemudian berpindah ke arah baratdaya dengan kecepatan
sekitar 110 km/Ma (Harris, 1991). Setelah proses tumbukan tersebut, terjadi obduksi dari

26 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

lempeng Busur Banda ke atas batas pasif lempeng benua Australia. Ini menyebabkan endapan
Banda Allochthon muncul di kerak muka busur sehingga menutupi endapan benua Australia
yang berumur Perm-Trias

Gambar 23. Peta Fisiografis Timor Barat

Secara Fisiografis, Pulau Timor dapat dibagi menjadi dua kawasan yaitu Timor Barat dan
Timor Timur (Timor Leste). Pada kawasan Timor Barat yang secara administratif termasuk
dalam wilayah negara Indonesia. Timor Barat secara umum disusun oleh barisan perbukitan
bergelombang, dataran tinggi, dan dataran rendah yang tersebar di beberapa tempat.
Menurut Sani dkk. (1995), kawasan Timor Barat dapat dibagi menjadi tiga zona fisiografi
(Gambar 2.1) yaitu:
1. Barisan Perbukitan Utara (Northern Range)
Zona ini dicirikan oleh barisan perbukitan dengan topografi yang rapat dan keras.
Adapun litologi penyusun dari zona ini adalah batuan dari kompleks melange serta
batuan dari tepi kontinen Australia yang berumur Paleozoikum-Mesozoikum.
2. Cekungan Tengah (Central Basin)
Zona ini dicirikan oleh dataran rendah dengan kemiringan landai yang disusun
oleh endapan synorogenik klastik dan karbonat berumur Neogen Akhir.
3. Barisan Perbukitan Selatan (Southern Range)

27 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Zona ini dicirikan oleh barisan perbukitan yang merupakan rangkaian lembar
sesar naik (thrust sheet). Zona ini sendiri disusun oleh batuan berumur Trias-Miosen yang
termasuk dalam Sekuen Kekneno dan Sekuen Kolbano. Zona ini juga terkadang disebut
sebagai Perbukitan Kolbano.

b. Stratigrafi dan Stuktural


Secara umum litostratigrafi di Timor dapat dibagi menjadi tiga sekuen (Sawyer
dkk.,1993),yaitu
1. Sekuen Kekneno, Umur dari sekuen ini berkisar dari Perm Awal hingga Jura Tengah
dengan adanya hiatus pada Jura Akhir, lingkungan pengendapan paparan-laut dalam.
2. Sekuen Kolbano, Kisaran Umur litologi sekuen ini berkisar dari Jura Akhir-Pliosen
Awal, dengan lingkungan pengendapan paparan-laut dalam(endapan turbidit)
3. Sekuen Viqueque, Sekuen ini terdiri dari endapan sedimen synorogenik Plio-
Pleistosen tipe molasse yang mencakup Formasi Viqueque dan beberapa unit melange
meskipun hubungan genetiknya sulit untuk dijelaskan.
Umur dari ketiga sekuen ini berkisar dari Perm hingga Pleistosen.

Gambar 24. Stratigrafi Pulau Timor (Milsom, 2000)

28 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Proses tektonik yang terdapat di Timor sangatlah kompleks dan sangat mempengaruhi
posisi stratigrafi batuan penyusunnya. Barber (1981) membagi Timor menjadi beberapa satuan
tektonostratigrafi yaitu:

Gambar 25. Tektonostratigrafi Timor (modifikasi dari Barber, 1981)


Paraautochtone
Paraautochtone bertindak sebagai batuan dasar dari Timor yang terdiri dari Unit
Paparan Benua Australia yang dicirikan oleh Klastik Bisane yang berumur Perm,
batugamping dan Klastik Aitutu berumur Trias, Klastik Wailuli berumur Jura, serta
kalsilutit dan rijang Nakfunu yang berumur Kapur.
Allochtone
Allochtone terdiri atas beberapa satuan yaitu :
- Satuan Atapupu yang terdiri atas peridotit dan milonit.
- Satuan Oeccusi yang terdiri atas basalt berstruktur bantal.
- Satuan Aileu-Maubisse yang terdiri atas batugamping dan batuan vulkanik
berumur Perm serta batuan metamorf Aileu.
- Satuan Mutis yang terdiri atas batuan metamorf dan peridotit, batuan volkanik
berumur Eosen, serta rijang Palelo dan klastik batugamping berumur Jura Atas-
Paleosen. Satuan Mutis ditindih secara tidak selaras oleh tiga satuan yaitu klastik
Noil Toko dan batugamping Cablac (Oligosen-Miosen), batulempung bersisik
Bobonaro (MiosenTengah-Pliosen), dan batugamping Batuputih (Pliosen).
- Satuan Kolbano; terdiri dari radiolarite Ofu dan kalsilutit Batuputih berumur
Kapur Akhir-Pliosen.
Autochtone
29 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Autochtone terdiri dari sedimen klastik Noele berumur Plio-Pleistosen yang


ditindih secara tidak selaras oleh endapan aluvial dan batugamping terumbu koral yang
berumur Kuarter.

c. Model
Ada setidaknya 3 model yaitu :
Model Imbrikasi
Pada model ini Timor diintepretasikan sebagai material yang terimbrikasi pada
hanging wall suatu zona subduksi, yang kini terwakili di permukaan oleh Terusan Timor.
Model ini menjelaskan bahwa Timor terbentuk sebagai chaotic melange menyebabkan
terjadinya pengangkatan zona melange dan kemudian tersingkap membentuk suatu prisma
akrasi yaitu Pulau Timor itu sendiri. Model ini dikemukakan oleh Hamilton (1979)

Gambar 26. Model Imbrikasi (Chamalaun & Grady, 1978 op cit Barber, 1981)

Model Overthrust
Model ini dikemukakan oleh Barber (1981) ini menyatakan bahwa Timor terbentuk
oleh batas kontinen Australia yang ditutupi oleh beberapa seri dari unit overthrust yang
terdiri atas endapan dasar samudera, batuan metamorf, dan batuan sedimen. Unit overthrust
ini sudah melewati zona subduksi sebagai akibat dari tumbukan dengan batas kontinen
Australia. Unit overthrust ini merupakan endapan allochthone yang teranjakkan di atas
endapan paraautochtone. Endapan allochthone merupakan endapan origin Busur Banda,
sedangkan endapan paraautochtone merupakan endapan kontinen Australia.

30 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 27. Model Overthrust (Chamalaun & Grady, 1978 op cit Barber, 1981)

Model Upthrust
Model ini menjelaskan bahwa batas kontinen Australia masuk ke dalam zona
subduksi di sekitar Selat Wetar dan kemudian proses subduksi terhenti. Lempeng benua
terpisah dari lempeng samudera sehingga menyebabkan terjadinya pengangkatan Timor
sebagai akibat dari pelentingan isostatik (Gambar 2.9). Pada model ini, semua unit struktur
yang terbentuk hanya berasal dari batas kontinen Australia dan tidak ada unit tektonik dari
Asia yang terbentuk.

Gambar 28. Model Uprthrust (Chamalaun & Grady, 1978 op cit Barber, 1981)

10.Dilihat dari posisi geografi, Pulau Sumba dan Pulau Timor merupakan
rangkaian pulau-pulau bagian selatan dari Provinsi Nusa Tenggara Timur,
tetapi dari tatanan geologinya sangat jauh berbeda. Jelaskan di mana letak
perbedaannya ditinjau dari tatanan stratigrafi, struktur dan tektonik ?.
Dan jelaskan juga secara singkat (disertai sketsa / gambar) evolusi
geodinamik dari Pulau Sumba sejak umur Kapur hingga Kuarter ?.
Jawab :

31 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

P Sumba Timor
e
m
b
e
d
a
S Berdasarkan Peta Geologi Lembar Secara umum litostratigrafi di Timor dapat
t Waingapu Waikabubak, skala 1 : dibagi menjadi tiga sekuen yaitu Sekuen
r
a 250.000, oleh A.C. Effendi dan T. Apandi Kekneno, Sekuen Kolbano, dan Sekuen
ti (P3G, 1994), batuan tertua yang terdapat di Viqueque. Umur dari ketiga sekuen
g
r P. Sumba adalah Formasi Praikajelu yang iniberkisar dari Perm hingga Pleistosen.
a terdiri dari batupasir grewake berselingan Menurut Sawyer dkk.(1993),
f
dengan serpih, batulanau, batu-lempung, litostratigrafiregional Timor secara umum
i
napal lanauan dan konglomeratan yang disusun oleh
berumur Kapur, diendapkan pada lereng 1. Batuan Dasar (Basement)
bawah laut. Di bagian atas berupa batuan Keberadaan batuan dasar di Timor agak sulit
gunungapi berkomposisi andesit sebagai dimengerti. Batuan dasar berupa sekis, filit,
Formasi Masu berupa lava, breksi amfibolit, dan serpentinit pada Kompleks
gunungapi dan tuf. Kedua formasi ini Mutis/Lolotoi menunjukkan dua kisaran
diterobos oleh batuan sienit, diorit, umur yang berbeda yaitu berumur Pra Perm
granodiorit, granit dan gabro pada kala atau berumur Jura Akhir-Kapur Awal.
Paleosen. Secara tidak selaras di bagian 2. Sekuen Kekneno
atas Formasi Praikajelu dan Formasi Masu Umur dari sekuen ini berkisar dari Perm
diendapkan batugamping dari Formasi Awal hingga Jura Tengah dengan adanya
Watopata, serta selang-seling grewake, hiatus pada Jura Akhir.
batupasir gampingan bersisipan lanau dan 3. Sekuen Kolbano
lempung berupa endapan flysh dari Kisaran umur litologi pada sekuen ini
Formasi Tanah Roong berumur Eosen. berkisar dari Jura Akhir-Pliosen Awal dimana
Di atas Formasi Watupata dan terdapat empat periode hiatus pada Kapur
Formasi Tanah Roong ini, secara tidak Tengah, Paleosen Awal, Oligosen- Miosen
selaras diendapkan Formasi Paumbapa Awal, dan Miosen Akhir-Pliosen Awal.
yang terdiri dari batugamping terumbu 4. Sekuen Viqueque
lingkungan pengendapan laut dangkal Sekuen ini terdiri dari endapan sedimen
berumur Oligosen. Diikuti dengan kegiatan synorogenik Plio-Pleistosen tipe molasses

32 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

gunungapi pada awal Neogen berupa lava yang mencakup Formasi Viqueque dan
dan piroklastik andesitic dari Formasi beberapa unit melange meskipun hubungan
Jawila. Secara tidak selaras di atasnya genetiknya sulit untuk dijelaskan.
diendapkan Formasi Pamalar yang terdiri
dari batugamping dan batulempung
lingkungan laut dangkal berumur Miosen
Awal. Bagian atas Formasi Pamalar
menjemari dengan Formasi Tanadaro yang
berumur Miosen Tengah hingga Miosen
Akhir, terdiri dari batulempung dalam
kondisi laut dalam. Secara tidak selaras di
atasnya diendapkan Formasi Kananggar
dan Formasi Waikabubak. Formasi
Kananggar terdiri dari perselingan napal,
napal pasiran, napal tufan bersisipan
batugamping. Formasi Waikabubak terdiri
dari batugamping yang mempunyai
hubungan menjemari dengan Formasi
Kananggar. Kedua Formasi ini berumur
Miosen Akhir hingga Pliosen yang
terendapkan dalam lingkungan laut dalam.
Selanjutnya secara tidak selaras di
atasnya diendapkan Formasi Kaliangga
yang terdiri dari batugamping terumbu dan
batulempung dalam kondisi laut dangkal
berumur Pleistosen. Paling atas adalah
satuan batuan alluvium berupa endapan
teras sungai berumur Pleistosen Tengah
hingga Pleistosen Akhir. Satuan ini terdiri
dari konglomerat aneka bahan dengan
fragmen berukuran kerikil kerakal,
bersusunan andesit, batugamping, riolit dan
tufit lutit. Matriks berukuran pasir halus

33 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

hingga pasir kasar, bersusunan plagioklas,


kuarsa, piroksen, kalsit, mineral mafik,
gelas volkanik dan mineral bijih.
S Secara tektonik lempeng Pulau Struktur utama yang ditemukan antara lain
t Sumba merupakan tubuh yang unik karena adalah lipatan, sesar naik, dan sesar mendatar
r
u tidak menampakkan produk penunjaman mengiri. Struktur geologi yang berkembang
k antar lempeng seperti pada pulau-pulau secara umum dibentuk oleh tegasan-tegasan
t
u lain di sekitarnya. Posisi Pulau Sumba utama utama yang berarah baratlaut -
r terletak di antara Busur Gunungapi Sunda tenggara (NW-SE). Struktur lipatan hadir
dan Busur Banda. Struktur yang dijumpai sebagai Antiklin Aitutu yang berarah
di Pulau Sumba adalah berupa lipatan kecil baratdaya timurlaut dan Antiklin Cribas
dan sesar. Sesar yang dijumpai berupa yang berarah barat - timur (W-E). Tiga sesar
sesar normal berarah barat timur dan utama di Pulau Timor adalah Sesar Semau,
baratlaut tenggara, memotong batuan Pra Sesar Mena-mena, dan Sesar Belu.
Tersier dan Tersier, umumnya berkembang Ketiganya merupakan sesar mendatar
di bagian selatan pulau. mengiri dengan arah bidang sesar yang
relatif sama yaitu berarah timurlaut -
baratdaya (NE-SW). Selain itu juga terdapat
Sesar Tunsip-Toko yang juga merupakan
sesar mendatar mengiri namun dengan arah
bidang sesar yang berbeda yaitu berarah
baratlaut - tenggara (NW-SE).
Sesar naik banyak dijumpai pada Blok
Kolbano yang secara struktur merupakan
jalur anjakan-lipatan. Lipatan yang terbentuk
memiliki sumbu relative timur-barat (E-W)
dan terbentuk pada Plio-Pleistosen. Arah
sesar naik umumnya berarah relatif timur -
barat (E-W) dan berasosiasi dengan
terbentuknya lipatan di Kolbano. Sesar
mendatar mengiri berkembang intensif di
selatan blok Kolbano dengan arah umum
utara timurlaut - selatan baratdaya (NNE-

34 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

SSW).
T Pulau Sumba terletak di Bentuk model dari Kolisi tersebut masih
e persimpangan sistem subduksi Busur menjadi perdebatan, dan terdapat tiga model
k
t Sunda dan Busur Banda, dimana kerak yang diajukan yakni Model Imbricate, Model
o benua Australia terlibat dalam proses Overthrust, dan Model Rebound (Richardson
n
i kolisinya. Sumba merupakan bagian yang dan Blundell, 1996 dalam Bailie).
k muncul lebih besar, diperkirakan a. Model Imbrikasi
merupakan cekungan depan busur yang Pada model ini Timor diintepretasikan
terangkat (uplift) yang berarah sebagai material yang terimbrikasi pada
baratbaratlaut-timuttenggara pada hanging wall suatu zona subduksi, yang kini
pertemuan cekungan depan busur Lombok terwakili di permukaan oleh Terusan Timor.
dan Savu. Model ini menjelaskan bahwa Timor
Pulau Sumba memiliki posisi yang terbentuk sebagai chaotic melange
khas terkait dengan busur Sunda-Banda menyebabkan terjadinya pengangkatan zona
yang merepresentasikan sebuah potongan melange dan kemudian tersingkap
terisolasi dari kerak benua terhadap busur membentuk suatu prisma akrasi yaitu Pulau
kepulauan vulkanik aktif (Sumbawa, Timor itu sendiri. Model ini dikemukakan
Flores) dalam cekungan muka busur, oleh Hamilton (1979).
terletak di bagian utara pada transisi antara b. Model Overthrust
Palung Jawa (bidang subduksi) dengan Model ini dikemukakan oleh Barber (1981)
Timor Trough (bidang kolisi). Hal tersebut ini menyatakan bahwa Timor terbentuk oleh
tidak menunjukkan efek kompresi kuat, batas kontinen Australia yang ditutupi oleh
berbeda dengan pulau-pulau sistem busur beberapa seri dari unit overthrust yang terdiri
sebelah luar (Savu, Roti, Timor), atas endapan dasar samudera, batuan
sedangkan unit magmatik menjadi bagian metamorf, dan batuan sedimen. Unit
yang substansial pada stratigrafi Kapur overthrust ini sudah melewati zona subduksi
Akhir hingga Paleogen sebagai akibat dari tumbukan dengan batas
kontinen Australia. Unit overthrust ini
merupakan endapan allochthone yang
teranjakkan di atas endapan paraautochtone.
Endapan allochthone merupakan endapan
origin Busur Banda, sedangkan endapan
paraautochtone merupakan endapan kontinen

35 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Australia.
c. Model Upthrust
Model ini menjelaskan bahwa batas kontinen
Australia masuk ke dalam zona subduksi di
sekitar Selat Wetar dan kemudian proses
subduksi terhenti. Lempeng benua terpisah
dari lempeng samudera sehingga
menyebabkan terjadinya pengangkatan
Timor sebagai akibat dari pelentingan
isostatik (Gambar 20). Pada model ini,
semua unit struktur yang terbentuk hanya
berasal dari batas kontinen Australia dan
tidak ada unit tektonik dari Asia yang
terbentuk.

Gambar 29. Element tektonik dan struktur yang mempengaruhi Pulau Sumba (Keep et al. 2003)

Tiga model geodinamik untuk Sumba telah dikemukakan oleh Chamalaun et al. (1982)
dan Wensink (1994) yaitu sebagai berikut: (1) Semula Sumba merupakan bagian dari Kontinen

36 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Australia yang telah terpisah ketika cekungan Wharton telah terbentuk, terapung dan bergerak ke
arah utara kemudian terperangkap di belakang Palung Jawa bagian timur (Audley-Charles, 1975;
Otofuji et al., 1981); (2) Sumba pernah menjadi bagian dari Paparan Sunda yang kemudian
terapung dan bergerak ke arah selatan selama pembukaan Cekungan Flores (Hamilton, 1979;
Von der Borch et al., 1983; Rangin et al., 1990); dan (3) Sumba merupakan salah satu
mikrokontinen atau bagian dari kontinen yang lebih besar di dalam Tethys, yang kemudian
terfragmentasi (Chamalaun dan Sunata, 1982).

Batuan dasar dari Sumba dapat dikenali berupa batuan yang tidak berhubungan dengan
laut (van der Werff et al. 1994), yang berasal dari busur ( Lytwyn et al. 2000). Pulau Sumba
terangkat dan batuan dasarnya mengalami penggabungan sebagai Blok Sumba yang memiliki
bentuk bervariasi ( Hamilton 1979; Rutherford et al. 2001). Cekungan Savu yang triangular-
shaped pada bagian Timur Sumba menghasilkan suatu anomali gravitasi negatif yang kuat,
berbatasan dengan suatu busur sebelah luar yang tinggi dan punggung bukit serta mempunyai
suatu profil bathymetric curam kira-kira mencapai 3 km ( Rutherford et al. 2001).

Sumba telah dibagi lagi ke dalam dua bagian, yaitu bagian Utara yang lebih muda dan
Cekungan Savu di selatan yang lebih tua (van der Werff 1995). Rutherford et al. (2001) membagi
Blok Sumba ke dalam dua bagian yaitu Bagian timur dan Bagian barat, dipisahkan oleh
Cekungan Savu. Cekungan Savu memisahkan Sumba dari pulau Timor, suatu bagian terangkat
dari prisma akresi busur Banda yang berasal dari subduksi lempeng kontinen Australia ke bawah
Busur Banda. Daya apung dari kerak benua Australia menyumbat zona subduksi dan
mengakibatkan formasi dari Palung Timor pada sisi bagian tenggara dari zona collision terangkat
(Richardson & Blundell 1996; Hughes et al. 1996). Selanjutannya terjadi pemendekan yang
sekarang ini sebagian diakomodasikan pada south-dipping Wetar Thrust pada sisi bagian barat
laut batas lempeng (Silver Et al. 1983; Breen et al. 1989).

37 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 30. Rekonstruksi Asia Tenggara pada umur 5 dan 10 Ma yang memperlihatkan Lempeng Hindia
mengalami subduksi terhadap Lempeng Eurasia (Hall 2002)

Permulaan collision antara lempeng Australia dan busur Dari lempeng Philippine dimulai
sekitar 20 Ma di daerah Papua Nugini berada sekarang. tepi dari kerak benua Australia tiba di
busur daerah subduksi Indonesia dan menyebabkan inisiasi dari sistem perlipatan dan sesar anjak
di Papua Nugini (Hamilton 1979; Hall/Aula 1996). Gerakan yang cepat menuju ke arah barat
lempeng Pacific telah menghasilkan suatu sesar left-lateral strike-slip sistem sepanjang garis tepi
bagian utara Papua Nugini dan Sorong Fault Zone (Hall 1996). Pergerakan sepanjang Sorong
Fault menyebabkan membelahnya material terakresi dari Nugini untuk diangkut dan disatukan
ke dalam kompleks collision dari Busur Banda ke arah barat (Mccaffrey 1996). Lama-kelamaan
pergerakan ini ke arah bagian benturan dari kerak benua Australia dengan Busur Banda terjadi di
daerah sekitar Timor berada sekarang, walaupun usul menyangkut pemilihan waktu dari
peristiwa collision ini bertukar-tukar.

Rutherford et al. (2001) mengusulkan awal dari collision antara kerak benua Australia
dan Busur Banda di daerah ini terjadi sekitar 1816 Ma, walaupun tidak ada catatan suatu
38 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

peristiwa collision pada umur tersebut pada bagian Baratlaut paparan. Suatu umur collision pada
8 Ma telah diusulkan oleh Wheller et al. (1987), Richardson dan Blundell (1986) atas dasar
analisa isotopik dan mass-balance kalkulasi secara berturut-turut. Umur ini berhubungan dengan
deformasi yang dikenal pada bagian baratlaut paparan (Keep Et al. 2000) dan peristiwa tektonik
regional pada pulau Papua Nugini (Packham 1996), seperti halnya peristiwa deformasi di tempat
lain di lempeng Indo-Australia (Clough 1999). Umur 8 Ma juga bersamaan dengan perhentian
pergerakan yang kasar dan pengangkatan dari Sumba Blok, seperti yang diusulkan oleh
Rutherford et al. ( 2001), yaitu umur Suatu collisional adalah 3 Ma (Hamilton 1979; Bowin et al.
1980; Hartono 1990) sangat berhubungkan dengan diketahuinya suatu deformasi pulses di Laut
Timor dan suatu perubahan gaya deformasi di Papua Nugini dari contractional ke strike-slip ( K.
C. Hillpers. comm. 2002). Umur 3 Ma juga sesuai dengan umur formasi dari Palung Timor, suatu
kedalaman cekungan linier bahwa batasnya adalah Laut Timor.

Palung Timor terbentuk sebagai hasil tekuk dari gaya ke atas dari kerak Australia yang
mencapai subduction zone, gagal bersubduksi dan menyumbat subduction zone. Strain dari
collision ini sekarang adalah yang sedang diakomodasikan pada Wetar dan sesar anjak Flores ke
arah utara (Silver Et al. 1983; Breen et al. 1989). Peristiwa 8 Ma dan 3 Ma sangat berhubungan
dengan urut-urutan deformasi regional yang disebabkan oleh interaksi dari kerak benua Australia
dengan zona subduksi pada Busur Banda.

Busur Sumba terbentuk oleh pemekaran yang terjadi di Laut Flores. Pemekaran ini
mengakibatkan terjadinya rotasi pada Pulau Sumba dan pergantian posisi Pulau Sumba menjadi
lebih ke fore arc. Kejadian ini terjadi pada zaman Miosen Tengah sampai Miosen Akhir.

Hal yang menarik dari kejadian ini adalah ditemukannya bukti paleomagnetik untuk
rotasi pada Pulau Sumba yang sangat kecil. Karena Pulau Sumba berotasi secara relatif pada
Baratdaya Sulawesi, sedangkan semua pulau di timur Paparan Sunda berotasi dengan arah yang
berlawanan dengan rotasi Pulau Sumba. Walaupun Pulau Sumba berada pada garis lintang yang
sama dengan pulau-pulau yang tidak mengalamai rotasi.

Menurut Rutherford et al.(2001) kesamaan waktu dan rekonstruksi pada pergerakan


Neogen Sumba terjadi dari sebuah mekanisme yang berbeda. Keluar dari konsep pergerakan
tektonik anatar lempeng Australia dengan busur Banda yang terjadi sekitar 16 Ma.

Kemiripan jalur magmatik Pulau Sumba dengan Baratdaya Sulawesi, dibuktikan dengan
kegiatan magmatik pada Kapur Akhir sampai Paleosen dan stratigrafi daerah Sumba dengan

39 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Baratdaya Sulawesi. Hal ini mendukung bahwa Pulau Sumba merupakan bagian dari busur
magmatik Andean disekitar jalur magmatik baratdaya Pualu Sulawesi dan dekat dengan pantai
tenggara Pulau Kalimantan (Pegunungan Meratus)

Selama Zaman Paleogen, pergerakan rata-rata dari Lempeng Indo-Australia menurun.


Sehingga back arc basin dapat berkembang dan terbentuk endapan pada pinggiran laut
(Hamilton, 1979). Hasil dari pemekaran di back arc menghasilkan berpindahnya Pulau Sumba ke
selatan. Perpindahan ini dibuktikan dengan terdapatnya data paleomagnetik, selama Neogen
sampai Kuater Pulau Sumba terperangkap dalam fore arc basin di depan busur vulkanik Paparan
Sunda bagian timur.

Sepanjang batas Lempeng Australia bagian utara, arah pergerakan relatif lempeng
berkenaan dengan perubahan bentuk busur Banda dari collision orthogonal ke arah barat, melalui
daerah tertahan pada Timor, ke hampir strike-slip murni di akhir bagian timur dari Busur Banda (
Keep et al. 1998). Sebagai tambahan, kelanjutan pergerakan yang cepat menuju ke arah barat
lempeng Pacific membutuhkan suatu tenaga putaran left-lateral yang cukup kuat pada batas
bagian utara Australia di daerah ini. Di selatan daerah Sumba, kendali tektonik yang dominan
meliputi pergerakan left-lateral strike-slip (dari Pacific Plat), flexure dari pembentukan Palung
Timor, dan pemendekan dari collision awal di Timor ( Et al. 1998, 2000).

40 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 31. Peta skema dari daerah konvergensi antara australia dan Indonesia yang memperlihatkan perbedaan tipe
kerak bumi. a. Posisi penampang b. Penampang sepanjan batas lempeng (Keep et al., 2003)

Sekarang ini subduksi yang terjadi antara Lempeng Australia dengan Busur Banda yang
berarah NW mengakibatkan pengangkatan (uplift) pada Pulau Sumba dengan rata-rata sekitar 0.5
mm/tahun sebagai bukti ditemukannya daerah batugamping karang.

41 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 32. Empat tahap utama evolusi tektonik Sumba (Abdullah et al., 2000)

11. Suatu gejala strukturisasi yang menonjol pada formasi batuan tersier di
Sumatera Tengah, Jambi maupun di Sumatera Selatan adalah struktur
inversi (inversion).
a. Jelaskan apa yang dimaksud struktur inversi dan bagaimana cara
terbentuknya ?.
b. Jelaskan juga, formasi batuan sedimen tersier yang telah mengalami
struktur inversi.
c. Melalui elemen-elemen yang mana struktur inversi dapat terbentuk, baik
di Sumatera Tengah, Jambi maupun di Sumatera Selatan ?.

Jawab :

a. Struktur Inversi

Stuktur inversi adalah struktur yang membentuk kenampakan sesar turun dibagian bawah
namun menunjukkan kenampakan sesar naik pada bagian atasnya, sehingga terdapat dua

42 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

kenampakan pergerakan sesar yang berbeda dalam satu bidang sesar. Sesar inversi
merupakan hasil reaktivasi sesar yang semula
sesar turun menjadi sesar naik akibat
perubahan rezim tektonik, dari yang semua
tensional menjadi kompresional.

Gambar 33 . Sketsa Pembentukan Struktur Inversi

b. Formasi Batuan Sedimen yang terinversi

Bentukan khas yang menandakan adanya suatu inversi adalah bentukan struktur keris yang
nampak dari bentukan cekungan yang awalnya merupakan bentukan syn-rift lalu terjadi
bentukan lipatan pada sebelah timur formasi tersebut yang menjadikan indikasi adanya
struktur tektonik inversi.

Gambar 34 . Penampang Formasi Talang Akar

Gambar 35 . Penampang Seismik Formasi Talang Akar

43 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

c. Elemen struktur Inversi pada ketiga cekungan

Subcekungan Jambi

Penampang Subcekungan Jambi yang memperihatkan struktur inversi yang bekerja pada
Formasi Talang Akar dan Formasi Baturaja yang terjadi akibat kompresi pada Plio-
Pleistosen sehingga menyebabkan terangkatnya Formasi Lahat. Ditandai dengan daerah
lingkaran merah.

Cekungan Sumatra Selatan

Pada penampang cekungan Sumatra Selatan disamping juga ditemukan bentuk lipatan
hasil struktur inversi yaitu pada formasi Muara Enim. Ditandai dengan daerah lingkaran
biru.

Cekungan Sumatra Tengah

Dari penampang terlihat bahwa terdapat struktur Harpon yang berkembang pada
cekungan Sumatera Tengah akibat adanya fasa kompresif yang terjadi pada Miosen Akhir
hingga kini. Ditandai dengan daerah lingkaran kuning.

Gambar 36 . Penampang Subcekungan Jambi

44 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 37 . Penampang dan Tektonostratigrafi Cekungan Sumatra Selatan

Gambar 38. Penampang dan Tektonostratigrafi Cekungan Sumatra Tengah

11.Ofiolit tersingkap dengan baik dan penyebarannya cukup luas di


Pegunungan Meratus (Kalimantan). Jelaskan proses terbentuknya alih
tempat dari ofiolit tersebut ditinjau dari teori tektonik lempeng ?.

Jawab :

Pegunungan Meratus merupakan sekuen ofiolit dan busur volkanik Kapur Awal dan
terletak di wilayah yang terletak jauh dari tepi konvergensi lempeng. Pegunungan Meratus di
bagian tenggara Kalimantan yang membatasi Cekungan Barito dengan Cekungan Asem-asem.
Pegunungan Meratus mulai terangkat pada Miosen Akhir dan efektif membatasi sebelah barat
Cekungan Barito pada Plio-Pleistosen (Penrose, 1972; Coleman, 1977 dalam Clague dan Straley,
1977).

45 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Pada Miosen Awal, karena perbedaan densitas, kerak benua Paternoster yang densitasnya
paling ringan pun mengalami break-off dengan kerak samudera di depannya yang melaju terus
memasuki astenosfer yang semakin dalam ke sebelah barat. Selanjutnya, kerak benua Paternoster
yang sempat menunjam menjadi terangkat (ekshumasi) oleh tektonik gaya berat akibat
perbedaan densitas segmen segmen kerak yang pernah mengalami benturan dan astenosfer
sekelilingnya. Tektonik gaya berat ekshumasi berupa pengangkatan kembali kerak benua ini
turut mengangkat detached oceanic slab ofiolit Meratus yang hanya menumpang secara pasif
(obducted) di atas kerak benua Paternoster. Demikian, terangkatlah Pegunungan Meratus,
seluruhnya melalui tektonik gaya berat ekshumasi akibat perbedaan densitas.

Gambar 39. Penampang melintang NW SE (A) Oligocen Miocen Tengah, and (B) Miocene Tengah - Resen
(Pertamina BPPKA, 1997, op cit., Bachtiar, 2006).

12.Cekungan Ombilin di Sumatera Barat sering disebut oleh para ahli


kebumian sebagai cekungan antar gunung (inter mountain basin). Coba
anda ceritakan sejarah cekungan Ombilin ditinjau dari tatanan struktur
dan stratigrafi sejak umur Eosen sampai Pleistosen di mana mulai
diendapkannya Formasi Brani, Formasi Sangkarewang, Formasi
Sawahlunto, Formasi Sawahtambang dan Formasi Ombilin ?.

Jawab :

Cekungan Ombilin adalah cekungan pull apart yang terjadi pada Paleogen dikontrol
sesar transcurrent berarah Utara Setan dan terletak di dalam Busur Gunung Api Barisan. Menurut

46 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Hastuti, dkk (2001) terdapat lima fase tektonik yang bekerja pada cekungan Ombilin dan
mempengaruhi pola struktur serta sedimentasi pada cekungan Ombilin.

Fase tektonik pertama berlangsung awal Tersier, berupa fase tektonik ekstensif bersamaan
dengan terbentuknya sistem tarik pisah berarah baratlaut-tenggara yang merupakan awal
terbentuknya cekungan Ombilin. Pada saat membukanya cekungan, terbentuk endapan kipas
aluvial Formasi Brani pada lereng-lereng tinggian dan formasi Sangkarewang pada bagian
tengahnya.

Fase tektonik kedua berlangsung sejak Eosen, berupa fase kompresif dengan
terbentuknya sesar-sesar berarah utara-selatan. Dibeberapa tempat terjadi ekstensif yang
menyebabkan penurunan cekungan yang cepat dan diimbangi oleh pengendapan sedimen,
menyebabkan pelongsoran endapan aluvium Formasi Brani dan masuk ke dalam endapan rawa
Formasi Sangkarewang.

Fase tektonik ketiga, berupa fase kompresif. Fase ini mengakibatkan proses
pengangkatan dengan terbentuknya endapan sungai berkelok Formasi Sawahlunto. Dibeberapa
tempat fase kompresif diikuti oleh fase ekstensif dengan terbentuknya endapan batubara di
daerah limpahan banjir. Pada fase ini terjadi pengaktifan kembali sesar-sesar yang telah terbentuk
dan sesar minor naik yang terjadi bersamaan dengan pengendapan formasi Sawahlunto.

Fase tektonik keempat, berupa fase kompresif yang relatif berarah utara-selatan. Akibat
fase ini terjadi reaktifasi sesar-sesar berarah utara-selatan dan baratlaut-tenggara menjadi sesar
naik dan sesar mendatar. Terjadi pula fase ekstensif berarah relatif baratlaut-tenggara yang
mengakibatkan dibeberapa tempat terjadi genangan rawa dan penumpukan sedimen.

Fase tektonik kelima berlangsung sejak Miosen awal, berupa fase ekstensif yang berarah
relatif utara-selatan. Fase ini mengakibatkan terbentuknya sesar-sesar berarah barat-timur. Fase
ini mengakibatkan terbentuknya sesar-sesar berarah barat-timur. Selain itu, fase ekstensif ini
mengakibatkan terjadinya Sesar Tanjung Ampalu berarah utara-selatan yang kemudian diikuti
dengan fase genang laut. Pada Miosen Akhir terjadi fase kompresif berarah relatif timur yang
menghasilkan sesar-sesar berarah timurlaut-barat daya dan sesar-sesar yang terbentuk awal aktif
kembali.

47 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Batuan Sedimen tertua yang mengisi cekungan Ombilin adalah Formasi Brani yang
disusun oleh aliran debris berupa kipas alluvial dan atau kipas delta. Dibagian timur, sebaran Fm.
Brani sejajar dengan tepi cekungan dengan arah kemiringan kea rah barat, dibagian barat
membentuk kipas, di selatan sejajar dengan bentuk cekungan, dan dibagian utara tersingkap di
sebelah barat batuan alas. Dibagian barat cekungan, formasi Brani berubah menjadi endapan
fluvial dan rawa yang membentuk Fm. Sangkarewang dengan hubungan menjari dan diduga
berumur Eosen Akhir.
Selama Oligosen Miosen, terjadi transgresi yang ditunjukkan dengan ketidakselarasan
pada Fm. Sangkarewang bagian paling atas, dan di dalam cekungan diendapkan endapan sungai
meandering dan sungai brainded. Endapan endapan tersebut sebagai Endapan Fm. Sawahlunto
dan ditindih Fm. Sawahtambang yang juga mengindikasikan perubahan dari endapan sungai
braided menjadi fasies distal berbentuk meandering. Transgresi menerus dan diikuti endapan laut
dangkal sebagai formasi Ombilin. Pada miosen tengah tidak ada pengendapan di cekungan
karena adanya pengangkatan Pegunungan Barisan. Pada deformasi Plio-Plistosen, sedimen
terakumulasi terlipat dan tersesarkan dengan sesar utama adalah sesar menganan baratlaut -
tenggara
Kolom stratigrafi cekungan Ombilin kali pertama diusulkan oleh Musper (1924), Musper
mendefinisikan menjadi tiga formasi :
(1). Grup Napal; Miosen Bawah awal sampai Miosen Atas akhir (Mergel Afdeeling).
(2). Grup Batupasir Kuarsa; Oligosen awal sampai akhir (Kwarts Zandsteen).
(3). Grup Breksi dan Serpih; Paleosen tengah sampai Eosen tengah (Breccie en Mergelschalie
Afdeeling).
Klasifikasi Musper hanya digunakan sampai 1975 ketika Silitonga dan Kastowo
mengkompilasi peta geologi lembar Solok skala 1:250.000.
Pada 1975 Silitonga dan Kastowo menambah dan merubah nama dari klasifikasi Musper.
Grup Napal dirubah menjadi Formasi Ombilin Atas tetapi masih mengacu pada umur dan
deskripsi litologi yang sama dengan Grup Napal klasifikasi Musper.
Perubahan yang besar dalam penamaan yang diusulkan oleh Silitonga dan Kastowo
terjadi pada definisi ulang dari Grup Batupasir Kuarsa. Grup ini berubah nama menjadi Formasi
Ombilin Bawah dan dengan kisaran umur yang bertambah (Miosen awal sampai Oligosen akhir).
Deskripsi litologi sedikit berubah dengan memasukkan batubara dan sedimen berbutir halus.

48 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Silitonga dan Kastowo juga merubah nama Grup Breksi dan Serpih menjadi Formasi
Brani dan Sangkarewang, perbandingan unit litostratigrafi ini dapat dilihat pada Gambar di
bawah

Gambar 40. Kolom Stratigrafi Ombilin

Kolom stratigrafi Silitonga dan Kastowo (1975) adalah sebagai berikut :


(1). Formasi Ombilin Atas; Miosen Bawah awal sampai Miosen Atas akhir.
(2). Formasi Ombilin Bawah; Oligosen awal sampai akhir.
(3). Formasi Sangkarewang; Paleosen tengah sampai akhir.
(4). Formasi Brani; Paleosen tengah sampai akhir.
Pada tahun 1981, Koesoemadinata dan Matasak mendefinisi ulang kolom stratigrafi yang
digunakan oleh Silitonga dan Kastowo untuk menyesuaikan dengan penamaan stratigrafi
internasional. Koesoemadinata dan Matasak memperkenalkan nama formasi baru pada anggota
klasifikasinya. Klasifikasi tersebut adalah:
(1). Formasi Ombilin; Miosen Bawah awal sampai Miosen Atas akhir.
(2). Formasi Sawahtambang (anggota Rasau dan Poro); Oligosen awal sampai akhir.
(3). Formasi Sawahlunto; Oligosen tengah sampai akhir.
(4). Formasi Sangkarewang; Paleosen tengah sampai akhir.
49 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

(5). Formasi Brani (anggota Kulampi dan Selo); Paleosen tengah sampai akhir.
Penamaan ini masih digunakan dalam semua publikasi mengenai cekungan Ombilin yang
ada sampai saat ini. Perbedaan utama antara Kastowo dan Silitonga (1975) dan Koesoemadinata
dan Matasak (1981) adalah pada definisi ulang dalam Formasi Ombilin Bawah. Koesoemadinata
dan Matasak (1981) membagi Formasi Ombilin Bawah kedalam batubara yang berumur Eosen,
batupasir dan serpih Formasi sawahlunto, dan batupasir berlapis silang-siur dan beramalgamasi
Formasi Sawahtambang.
Deskripsi litologi dari Formasi Brani dan Sangkarewang digambarkan oleh
Koesoemadinata dan Matasak (1981) lebih rinci dibandingkan oleh Kastowo dan Silitonga
(1975), tetapi intinya tetap tidak berubah. Perbedaan yang paling besar dari penulis sebelumnya
terdapat pada pengenalan Anggota Kulampi dan Selo. Hal ini adalah tipe batuan yang berbeda
yang dikenali pada sekitar batas dari cekungan.

13. Heidrick dan Aulia (1993) menyebut adanya fase-fase tektonik di kawasan
Sumatera Tengah yang menghasilkan bentuk-bentuk struktur yang khas.
Ceritakan proses-proses apa yang berlangsung selama kala Eosen -
Oligosen dan selama kala Miosen Tengah - Resen serta bentuk-bentuk
struktur apa yang dihasilkan ?.

Jawab :

Heidrick dan Aulia (1993), membahas secara terperinci tentang perkembangan tektonik
di Cekungan Sumatra Tengah dengan membaginya menjadi 3 (tiga) episode tektonik, F1 (fase 1)
berlangsung pada Eosen-Oligosen, F2 (fase 2) berlangsung pada Miosen Awal-Miosen Tengah,
dan F3 (fase 3) berlangsung pada Miosen Tengah-Resen. Fase sebelum F1 disebut sebagai fase 0
(F0) yang berlangsung pada Pra Tersier.

50 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 41. Perkembangan Episode TektonikTersierCekungan Sumatra Tengah (Heidrick&Aulia, 1993)

1. Episode F0 (Pre-Tertiary)
Batuan dasar Pra Tersier di Cekungan Sumatra Tengah terdiri dari lempeng-lempeng
benua dan samudera yang berbentuk mozaik. Orientasi struktur pada batuan dasar
memberikan efek pada lapisan sedimen Tersier yang menumpang di atasnya dan
kemudian mengontrol arah tarikan dan pengaktifan ulang yang terjadi kemudian. Pola
struktur tersebut disebut sebagai elemen struktur F0. Ada 2 (dua) struktur utama pada
batuan dasar. Pertama kelurusan utara-selatan yang merupakan sesar geser
(Transform/WrenchTectonic) berumur Karbon dan mengalami reaktifisasi selama
Permo-Trias, Jura, Kapur dan Tersier. Tinggian-tinggian yang terbentuk pada fase ini
adalah Tinggian Mutiara, Kampar, Napuh, Kubu, Pinang dan Ujung Pandang.
Tinggian-tinggian tersebut menjadi batas yang penting pada pengendapan sedimen
selanjutnya.

51 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

2. Episode F1 (26 - 50 Ma)


Episode F1 berlangsung pada kala Eosen-Oligosen disebut juga Rift Phase. Pada F1
terjadi deformasi akibat Rifting dengan arah Strike timurlaut, diikuti oleh reaktifisasi
struktur-struktur tua. Akibat tumbukan Lempeng Samudera Hindia terhadap Lempeng
Benua Asia pada 45 Ma terbentuklah suatu sistem rekahan Transtensional yang
memanjang ke arah selatan dari Cina bagian selatan ke Thailand dan ke Malaysia
hingga Sumatra dan Kalimantan Selatan (Heidrick&Aulia, 1993). Perekahan ini
membentuk serangkaian Horst dan Graben di Cekungan Sumatra Tengah. Horst-
Graben ini kemudian menjadi danau tempat diendapkannya sedimen-sedimen
Kelompok Pematang. Pada akhir F1 terjadi peralihan dari perekahan menjadi
penurunan cekungan ditandai oleh pembalikan struktur yang lemah, denudasi dan
pembentukan daratan Peneplain. Hasil dari erosi tersebut berupa paleosol yang
diendapkan di atas Formasi UpperRed Bed.
3. Episode F2 (13 26 Ma)
Episode F2 berlangsung pada kala MiosenAwal-MiosenTengah. Pada kala Miosen
Awal terjadi fase amblesan (sag phase), diikuti oleh pembentukan Dextral Wrench
Fault secara regional dan pembentukan Transtensional Fracture Zone. Padastruktur tua
yang berarah utara-selatan terjadi Release, sehingga terbentuk ListricFault, Normal
Fault, Graben, dan Half Graben. Struktur yang terbentuk berarah relatif baratlaut-
tenggara. Pada episode F2, Cekungan Sumatra Tengah mengalami transgresi dan
sedimen-sedimen dari KelompokSihapasdiendapkan.
4. Episode F3 (13Recent)
Episode F3 berlangsung pada kala Miosen Tengah-Resen disebut juga Barisan
Compressional Phase. Pada episode F3 terjadi pembalikan struktur akibat gaya
kompresi menghasilkan reverse dan Thrust Fault di sepanjang jalur Wrench Fault yang
terbentuk sebelumnya. Proses kompresi ini terjadi bersamaan dengan pembentukan
Dextral Wrench Fault di sepanjang Bukit Barisan. Struktur yang terbentuk umumnya
berarah baratlaut - tenggara. Pada episode F3 Cekungan Sumatra Tengah mengalami
regresi dan sedimen-sedimen Formasi Petani diendapkan, diikuti pengendapan
sedimen-sedimen Formasi Minas secara tidak selaras.

52 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 42 . Perkembangan tektonik Cekungan Sumatra Tengah pada fase F2 dan F3 (Heidrick dan Turlington,
1994)

Gambar 43. Peta Struktur Top Basement Cekungan Sumatra Tengah(Heidrick & Aulia, 1993)

14.Gambarkan (secara umum tetapi lengkap) pola struktur yang dijumpai


saat ini di kawasan Jawa Timur ? (berikut daerah lepas-pantainya, Pulau
Madura, Pulau Kangean dan sekitarnya).
53 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Jawab :

JAWA TIMUR

Gambar 44. Penampang Utara Selatan melalui Gunung Lawu Jawa Timur

Di Jawa-Timur tidak atau belum pernah dilaporkan munculnya batuan yang berumur pra-
Tersier. Bagian tengahnya ditempati oleh jalur volkanik Kuarter. Satuan-satuan fisiografi yang
ada dapat dibedakan 5 (lima) satuan, dari Selatan ke Utara masing-masing :
(a) Pegunungan Selatan
(b) Jalur depresi tengah
(c) Jalur Kendeng
(d) Depresi Randublatung dan
(e) Zona Rembang yang dapat diteruskan ke P.Madura.
Pegunungan Selatan di Jawa Timur berkembang sebagai fasies volkanik dan karbonatan
yang berumur Miosen. Di sebelah Utara dari Jalur Volkanik Kuarter adalah Jalur Kendeng, yang
terdiri dari endapan-endapan Tersier yang amat tebal. Menurut Genevraye dan Samuel (1972),
tebalnya lapisan Tersier disini mencapai beberapa ribu meter. Dekat kota Cepu mereka terlipat
dan tersesarkan dengan kuat. Di beberapa tempt lapisan-lapisan itu bahkan terpotong-potong
oleh sesar naik dengan sudut kemiringan yang kecil.
Pola struktur
Berdasarkan pola strokturnya, Jalur Kendeng merupakan bentuk antiklinoriumdengan
arah Barat-Timur dan terutama melibatkan batuan sedimen marin. Sebarannya kurang-lebih 250
Km panjang dan rata-rata 20 Km lebar. Kearah Timur antiklinorium ini menunjam kebawah
dataran aluvial dan Selat Madura. Pola strukturnya sangat ketat dengan lipatan-lipatan bentuk a-
simetris dengan disertai sesar-sesar yang rumit di bagian dalamnya (hasil penafsiran seismik).
Depresi Randublatung, secara struktural merupakan suatu bentuk negatip yang didisi
umumnya oleh endapan aluvial, dan hanya sedikit sekali mengalami pengaruh deformasi.
54 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Terdapat beberapa antiklin seperti Ngimbangdan Pegat, namun itupun hanya merupakan
lipatan yang lebar, landai dan tidak begitu komplek seperti yang dijumpai di Zona Kendeng,
Panjangnya hampir sama dengan Zona Kendeng dan lebarnya sekitar 10 Km sampai 20 Km.
Zona Rembang merupakan suatu bentuk antiklinoriumdengan lebar 80 Km. Pola
strukturnya terdiri dari bentuk-bentuk perlipatan yang intensip dengan bentuk a-simetri dan
sempit. Seringkali berurutan secara merencong (en-echelon). Sayap yang curam mengarah ke
Utara, tetapi di bagian tengah justru mengarah ke selatan. Masip Muria yang berada disebelah
baratnya merupakan bentuk gunung-api yang menyendiri (menyimpang dari busur utama Jawa)
atau soliter, dan dikenal sebagai gunung-api yang mengandung mineral leusit (juga
menyimpang dari susunan umum di Jawa). Muria dan Lasem yang terletak agak kesebelah
Timurnya, keduanya berada di luar dari jalur uatama busur gunung-api Kuarter.
Suatu penelitian gayaberat semi-detil yang dilakukan oleh Pertamina di daerah
Semarang-Purwodadi-Cepu (Gatot Karyoso dkk.1977), memperlihatkan adanya suatu pola yang
menarik, yaitu adanya suatu anomali Bouguer yang tinggi yang ditafsirkan sebagai tinggian
batuan dasar, yang arahnya Timur Laut-Barat Daya.
Pegunungan Selatan Jawa-Timur sebenarnya bukan merupakan suatu rangkaian yang
menerus, tetapi diselingi oleh dataran-dataran rendah seperti Dataran Lumajang. Satuan satuan
batuan yang membentuk Pegunungan Selatan,nmenurut beberpa tulisan (Sartono, 1964; Jan
Sopa Heluwaken, 1976 dan Nahrowi dkk 1978 ), umumnya terdiri dari : lava bantal dengan
sisipan breksi polimik, endapan turbidit yang terdiri dari pasir-tufaan, pasir, tufa dan
batugamping dengan matrik tufa. Di beberapa tempt satuan batuan andesit ini diterobos oleh
andesit-porfir. Satuan batuan tersebut didalam literatur lama dikenal sebagai Formasi Andesit
Tua. Sekarang sudah mempergunakan nama-nama resmi yang memenuhi persyaratan kode
stratigrafi seperti Formasi Besole dsb.
Adjat Sudrajat serta Untung dkk (1975) telah menyusun suatu peta struktur Jawa - Timur
dari hasil penafsiran citra Landsat dan gayaberat. Dalam peta tersebut nampak bahwasanya
Pegunungan Selatan Jawa-Timur terpotong-potong oleh pola kelurusan yang menyerupai huruf
V. Pola tersebut diduga merupakan pencerminan dari pola sesar bongkah. Dengan demikian,
maka dataran Lumajang diatas dapat ditafsirkan sebagai suatu struktur amblesan atau graben.
Berdasarkan data sesar dan gayaberat tersebut, maka Pegunungan Selatan Jawa-Timur dapat
dibagi menjadi beberapa bentuk tinggiandan depresi.

MADURA

Secara fisiografis pulau Madura masih merupakan bagian dari cekungan Jawa-Timur
Utara, dan termasuk kedalam Zona Rembang. Zona ini di sebelah utaranya dibatasi oleh suatu
55 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

struktur penting yang arahnya Barat-Timur dari paparan Madura Utara. Batas tersebut ternyata
juga merupakan batas tektonik, dimana pola struktur yang berada disebelah utaranya mengarah
Timur Laut-Barat daya, sedangkan di selatannya (di Pulau Madura), strukturnya umumnya
berarah Barat-Timur.
P.Madura dengan singkapan-singkapannya yang baik dan juga dapat diamati dari foto
udara, memperlihatkan adanya 2 (dua) pola struktur, yaitu yang berarah Barat-Timur ( yang
paling menonjol ), dan mengarah Timur Laut-Barat Daya. Pola struktur yang kedua ini dapat
dilihat pengaruhnya pada bentuk pantai yang mengarah Barat-Timur pulau Madura.
Secara regional, susunan stratigrafi Miosen Awal hingga Tengah dari P.Madura ini sangat
mirip dengan Zona Rembang, yang umumnya terdiri dari serpih laut dalam. Susunan stratigrafi
Miosen Akhir memperlihatkan adanya beda fasies dimana sebagian daerah ini rupanya sudah
berada diatas permukaan laut (suatu bidang erosi), dan sebagian lagi masih dibawah permukaan
laut, sehingga terbentuk daerah-daerah tinggian dan depresi setempat-setempat (lihat
paleogeografi Miosen akhir).
Disamping itu, dari data seismik yang banyak didapat (PERTAMINA), terlihat pola
pantulan yang rumit yang umumnya berimpit dengan bentuk antiklin dan tersingkapnya
lapisan serpih lempung dari Formasi Tuban. Pola dan bentuk tersebut ditafsirkan sebagai akibat
daripada mekanisma diapir atau argillo kinetis. Penafsiran ini juga didukung dengan
dijumpainya gunug-api lumpur atau mud-volkanodi Madura Barat.

15.Gambarkan suatu penampang sekarang dari suatu titik di Samudera


India (Indonesia) yang letaknya di Selatan Pulau Jawa menuju ke Utara
sampai ke suatu titik di Pulau Kalimantan ?. Sebutkan elemen-elemen
struktur utama sepanjang penampang tersebut ?.

Jawab :

Elemen stuktur utama adalah Gunung Bawah Laut Roo, Palung Jawa,
Punggung Akresi, Cekungan Muka Busur, Busur Vulkanik (Gunung Wilis), Sesar Kendeng,
Sesar Sakala, Dalaman Pati, Tinggian Karimunjawa, Sub Cekungan Biliton, Sundaland
(Kalimantan)

56 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 45. Penampang NW SE dari Jawa Kalimantan

============== TERIMAKASIH, SEMOGA SUKSES


===============
DAFTAR PUSTAKA

57 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Abdullah C. I., Rampnoux J. P., Belton H., Maury R. & Soeriaatadja R., 2000. The Evolution of
Sumba Island (Indonesia) Revisited in Light of New Data on the Geochronology and
Geochemistry of Magmatic rocks. Journal of Asian Earth Sciences 18, 533546.

Awang H. Satyana and Margaretha E. M. Purwaningsih. 2012. New Look at the Origin of the
Sumba Terrane: Multidisiplinary Approaches. Berita Sedimentologi -- FOSI
Barber, A.J et.al. 2005. Sumatra: Geology , Resources , and Tectonic Evolutions. London, UK.
The Geological Society London. p. 234-259.
Cameron N.R., Clarke M.C.G., Aldiss, D.T., Aspden J.A. & Djunuddin A. (1980). The
Geological Evolution Of Northern Sumatra. Proc. Lndon. Petrol. Assoc. 9, 149-187.
Closs, Mark, Sapiee, Benyamin, dkk. 2005. Collisional Delamination in New Guinea: The
Geotectonic of Subducting Slab Breakoff. Austin, Texas. The Geological Society of
America
Darman, Herman dan Sidi, Hasan. 2000. An Outline of the Geology of Indonesia. Jakarts. Ikatan
Ahli Geologi Indonesia (IAGI).
Dow, D.B., dan Sukamto, R. (1984) : Western Irian Jaya: the end-product ofoblique plate
convergence in the Late Tertiary, Tectonophysics, 106, p.109-139.
Guntoro, Agus. 1997. The formation of the Makassar Strait and the separation between SE
Kalimantan and SW Sulawesi, Journal of Asian Earth Sciences, Vol.17, tahun 1999,
hal.79-98.
Hall, R., 2000. Cenozoic Geological and Plate Tectonic Evolution of SE Asia and SW Pacific.
Journal of Asian Earth Sciences 20, 2002.

Hall, Robert & Wim Spakman. Mantle structure and tectonic history of SE Asia. 2015. Jurnal
ilmiah
Hamilton, W.R. (1979) : Tectonics of the Indonesian Region, US Geological Survey Professional
Paper 1078, 345 pp.
Hutchison, C. S. 1973. Tectonic Evolution of Sundaland: A Phanerozoic Synthesis. Proceedings
Regional Conference on the Geology of South East Asia, Geological Society of Malaysia.
Vol. 6. Hal. 61-86.
J.T. Van Gorsel. 2013. Bibliography Of The Geology Of Indonesia And Surrounding Areas 5th
Edition. www.vangorselslist.com
Keep, M., Longley, I., and Jones, R., 2003, Sumba and Its Effect on Australias North Western
Margin. Journal Geological Society of Australia. Special Publication
Metcalfe, Ian. 2011. Tectonic Framework and Phanerozoic Evolution of Sundaland. Gondwana
Research. ELSEVIER.

58 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Sieh, K., and D. Natawidjaja, 2000. Neotectonics of the Sumatran Fault. Indonesia: Journal of
Geophysical Research, v. 105, p. 28,295-28,326.

Simandjuntak, TO., 1986. Sedimentology and Tectonics of the Collision Complex in the East
Arm of Sulawesi, Indonesia. Unpubl. PhD Thesis RHBNC University of London, UK.

Simandjuntak, TO., 1992. An Outline of Tectonics of the Indonesian Region. Geol. News Letter,
252(3), 4-6. Geol. Res. Dev. Center Bandung.

Simandjuntak, T.O, 1996. Contrasting Tectonic Styles in the Neogene Orogenic Belt of
Indonesia. In: Hall, R. and Blundell, D. (Eds.): Tectonic Evolution of Southeast Asia.
Geological Society Special Publication No. 106, pp. 185-201.

Sudarmono, Suherman T, Eza B (1997). Paleogene Basin Development in Sundaland and its role
to the petroleum systems in Western Indonesia. Proceedings Indonesian Petroleum
Association, Petroleum Systems of SE Asia, pp. 545-560.
Pigram, C.J., Robinson, G.P., dan Tobring, S.L. (1982) : Late Cainozic Origin forthe Bintuni
Basin and Adjacent Lengguru Fold Belt, Irian Jaya, Proceedings Indonesian Petroleum
Association, 11th Annual Convention, p. 109-126
Pigram, C.J., dan Sukanta, U. (1981) : Report on the geology of the Taminabuansheet area.
Indonesian Geological Research and Development Centre, Open File Report.
Pubellier, M. 2014. The basins of Sundaland (SE Asia): Evolution and boundary conditions.
Malaysia. Elsevier

Risdianto, D., Soetoyo dan N. Freddy. 2008. Penyelidikan Geologi Daerah Panas Bumi
Massepe, Kabupaten Sedenreng Rappang, Sulawesi Selatan, Proceeding Pemaparan
Hasil-Hasil Kegiatan Lapangan dan Non-Lapangan, Pusat Sumber Daya Geologi,
http://psdg.bgl.esdm.go.id/kolokium%202008/PANASBUMI/Penyelidikan
%20geologi%20Massepe.pdf diunduh tanggal 29 November 2015.
van Bemmelen, R.W., 1949, The Geology Of Indonesia. Vol. IA., Martinus Nijhoff, The Hague.

Van Leeuwen dan Pieters. 2011. Mineral Deposits of Sulawesi. Proceeding of The Sulawesi
Mineral Resources, Seminar MGEI -IAGI
Villenueve, M., W. Gunawan, J.J. Cornee, dan O. Vidal. 2000. Geology of the central
Sulawesi belt (eastern Indonesia): constrain for geodinamic models, Int J Earth
Science (Geol Rundsch) (2002) 91: 524-537

59 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 AKHIR SEMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Villeneuve, Michel, dkk. Deciphering of six blocks of Gondwanan origin within Eastern
Indonesia (South East Asia). 2010. Jurnal Ilmiah
Widijono, B.S. dan B Setyanta. 2009. Medan Gaya Berat pada Batuan Ofiolit (Ultramafik) di
Beoga Papua dan Implikasi terhadap Genesis AlihTempatnya,dalam
http://www.jurnal.pdii.lipi.go.id, diunduh 2 Oktober 2013.
Zulfikar, A., Yusuf F., Bahar, N., Latif, N., Sukmawardany, R., Sutisna, T., 2001, Laporan
Penyelidikan Pendahuluan Bahan Galian Industri di Daerah Waingapu, Kabupaten Sumba
Timur, Provinsi NTT, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral, Bandung.

Sumber Website diakses pada 25 April 2016 13.00 21.00 WIB :


Anonim. -. Profil Wilayah Provinsi Papua Barat , dalam www.rtrwpapuabarat.info
%2Ffakta%2Fpdf%2Fasp-fisik.pdf
Anonim.2009. The Geology of Papua, dalam
http://en.wikibooks.org/wiki/The_Geology_of_Indonesia/Papua, Anonim. 2011. 7 Daerah
Geologi Indonesia yang Unik, dalam
http://www.kaskus .us/showthread.php?p=445844903
Anonim. 2011. Misteri Pulau Jutaan Tahun-Papua, dalam http://rovicky.multiply
.com/journal/item/206
Departemen Pertambangan dan Energi Provinsi Papuawww.deptamben.go.idcopyright 2004
dinas pertambangan dan energi provinsi papualast modified: desember 11, 2004
Florida Museum of Natural History. -. Papua New Guinea Geology, dalam
http://www.flmnh.ufl.edu/pngsnails/geology.htm
West Papua Liberation Organitation. 2011. Terbentuknya Pulau Papua, dalam
http://oppb.webs.com/apps/blog

60 | P a g e

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung