You are on page 1of 18

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

di Laboratorium

Dona Wulandari : 061540411575


Sarah Nurlita Sari : 061540411588

Dosen Pembimbing : Tahdid S.T., M.T

Politeknik Negeri Sriwijaya


Tahun Akademik 2015-2016
I. PENDAHULUAN
Laboratorium adalah suatu tempat dimana mahasiswa atau Praktikan, dosen,
dan peneliti melakukan percobaan. Bekerja di laboratorium kimia tak akan lepas dari
berbagai kemungkinan terjadinya bahaya dari berbagai jenis bahan kimia baik yang
bersifat sangat berbahaya maupun yang bersifat berbahaya. Selain itu, peralatan yang
ada di dalam Laboratorium juga dapat mengakibatkan bahaya yang tak jarang berisiko
tinggi bagi Praktikan yang sedang melakukan praktikum jika tidak mengetahui cara
dan prosedur penggunaan alat yang akan digunakan. Oleh karena itu, diperlukan
pemahaman dan kesadaran terhadap keselamatan dan bahaya kerja dilaboratorium.
Telah banyak terjadi kecelakaan ataupun menderita luka baik yang bersifat luka
permanen, luka ringan, maupun gangguan kesehatan dalam yang dapat menyebabkan
penyakit kronis maupun akut, serta kerusakan terhadap fasilitas fasilitas dan
peralatan penunjang praktikum yang sangat mahal harganya. Semua kejadian ataupun
kecelakaan kerja di laboratorium sebenarnya dapat dihindari dan diantisipasi jika para
praktikan mengetahui dan selalu mengikuti prosedur kerja yang aman di laboratorium.
Suatu Percobaan yang dilakukan sering kali menggunakan berbagai bahan
kimia baik yang berbahaya maupun yang tidak berbahaya, peralatan gelas yang
mudah pecah, dan instrumen khusus yang kesemuanya itu dapat menyebabkan
terjadinya kecelakaan kerja bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat ataupun
terjadi kesalahan pada saat peracikan bahan yang akan digunakan. Kecelakaan itu
dapat juga terjadi karena kelalaian atau kecerobohan praktikan, tentu saja hal ini dapat
membuat orang tersebut cedera, dan bahkan dapat mencelakai orang yang berada
disekitarnya. Keselamatan kerja di laboratorium merupakan dambaan bagi setiap
individu yang sadar akan kepentingan kesehatan, keamanan dan kenyamanan dalam
bekerja, dan ini berlaku dalam semua aspek pekerjaan. Bekerja dengan selamat dan
aman berarti menurunkan resiko kecelakaan kerja yang sangat ingin kita hindari.
Walaupun petunjuk keselamatan dan kesehatan kerja sudah tertulis dalam setiap
penuntun praktikum, namun hal ini perlu dijelaskan berulang-ulang agar setiap
individu lebih meningkatkan kewaspadaannya ketika bekerja di laboratorium.
Berbagai peristiwa yang pernah terjadi perlu dicatat sebagai latar belakang
pentingnya bekerja dengan aman di laboratorium. Sumber bahaya terbesar berasal
dari bahan-bahan kimia terutama bahan kimia yang mudah bereaksi, atau yang dapat
menyebabkan bahaya lain seperti kebakaran, iritan, keracunan, atau penyebab bahaya
penyakit dalam lainnya. Oleh sebab itu diperlukan pemahaman mengenai jenis jenis
bahan kimia agar siapapun yang bekerja dengan bahan-bahan tersebut dapat lebih
berhati-hati dalam penggunaannya dan yang lebih penting lagi tahu cara
menanggulanginya jika sampai terjadi kecelakaan akibat kesalahan penggunaan bahan
tersebut. Selain itu yang harus diperhatikan juga adalah limbah bekas bahan kimia
sisa percobaan harus dibuang dengan cara yang tepat agar tidak menyebabkan polusi
pada lingkungan. Cara menggunakan peralatan yang umum digunakan dalam
laboratorium juga sangat perlu untuk diketahui oleh para praktikan baik petunjuk
praktis maupun petunjuk khususnya untuk mengurangi kecelakaan yang mungkin
akan terjadi ketika bekerja di Laboratorium. Dengan pengetahuan tersebut,
diharapkan setiap individu praktikan dan khususnya para asisten agar dapat bekerja
sama dalam bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan dan keselamatan kerja
dalam sebuah Praktikum di laboratorium dengan sebaik-baiknya.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk
upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, dan bebas dari pencemaran
lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat mempengaruhi efisiensi dan
produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun
kerugian materi bagi praktikan, tetapi juga dapat mengganggu proses praktikum
secara menyeluruh.

II. POKOK-POKOK ISI


Kecelakaan di laboratorium

Ada dua jenis kecelakaan yang mungkin terjadi di dalam laboratorium yaitu
kecelakaan akut dan kronis . Kecelakaan fatal (akut) dalam penanganan bahan-bahan kimia
jarang terjadi, tetapi yang paling berbahaya ialah gangguan kesehatan secara kronis
(keracunan kronis) . Keracunan kronis tersebut akibatnya baru bisa dirasakan setelah
beberapa bulan, tahun atau bahkan dirasakan pada masa menjelang pensiun . Keracunan
kronis akibat bahan kimia tersebut misalnya leukemia yang disebabkan oleh racun uap Pb ,
kanker paru-paru yang berasal dari debu asbes dan lainnya dimana penyakitpenyakit tersebut
sulit disembuhkan (Imam Khasani, 1987) .
Oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang sifat berbahaya dari bahan-bahan
kimia yang dipergunakan serta cara pencegahan maupun pengendaliannya . Dengan bekal
pengetahuan dan selalu bertindak hati-hati dalam penggunaan bahan kimia berbahaya,
kecelakaan yang mungkin terjadi, dapat dihindarkan .

Sumber sumber Bahaya dalam Laboratorium

Secara garis besar, sumber-sumber bahaya dalam laboratorium dapat dikelompokkan


menjadi tiga, yakni :

1. Bahan-bahan kimia yang berbahaya yang perlu kita kenal jenis, sifat, cara
penanganan, dan cara penyimpanannya.Contohnya: bahan kimia beracun, mudah
terbakar, eksplosif, dan sebagainya.
2. Teknik percobaan yang meliputi pencampuran bahan distilasi, ekstraksi, reaksi kimia,
dansebagainya.
3. Sarana laboratorium yakni gas, listrik, air, dan sebagainya.

Ketiga sumber tersebut diatas saling berkaitan, tetapi praktis potensi bahaya terletak
pada keunikan sifat bahan kimia yang digunakan. Masing-masing sumber beserta
keterkaitannya perlu dipahami lebih detail agar dapat memperkirakan setiap kemungkinan
bahaya yang mungkin terjadi sehingga mampu mencegah atau menghindarinya.Selain itu,
perlu pula dipahami tentang alat pelindung diri serta cara penanggulangannya bila terjadi
kecelakaan
Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok :
1. Kondisi berbahaya (unsafe condition), yaitu yang tidak aman dari:
Mesin, peralatan, bahan dan lain-lain
Lingkungan kerja
Proses kerja
Sifat pekerjaan
Cara kerja

2. Perbuatan berbahaya (unsafe act), yaitu perbuatan berbahaya dari manusia, yang
dapat terjadi antara lain karena:
Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana
Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect)
Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh.
Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik

Tanggung jawab Keselamatan Laboratorium


Lembaga/staff laboratorium bertanggungjawab terhadap fasilitas, yaitu:
perlengkapan, pemeliharaan dan keamanan
Dosen/guru bertanggungjawab terhadap petunjuk kegiatan dan keselamatan
laboratorium
Siswa/mahasiswa bertanggung jawab dalam mempelajari sifat bahan dan
akibat dari suatu proses yang ditimbulkan serta penggunaan peralatan
keselamatan laboratorium.

Simbol Bahan Kimia Berbahaya berdasarkan Sifat dan Bahayanya


1. Explossive (bersifat mudah meledak)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya explosive dapat
meledak dengan pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain
bahkan tanpa oksigen atmosferik. Ledakan akan dipicu oleh suatu reaksi keras dari
bahan. Energi tingi dilepaskan dengan propagasi gelombang udara yang bergerak
sangat cepat. Resiko ledakan dapat ditentukan dengan metode yang diberikan dalam
Law for Explosive Subtances.

Di laboratorium, campuran senyawa oksidasi kuat dengan bahan mudah terbakar atau
bahan pereduksi dapat meledak. Sebagai contoh, asam nitrat dapat menimbulkan
ledakan jika bereaksi dengan beberapa seyawa solven seperti aseton, dietil eter,
etanol, dll.
2. Oxidizing (pengoksidasi)
Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya oxidizing
biasanya tidak mudah terbakar. Tetapi bila kontak dengan bahan mudah terbakar atau
bahan sangat mudah terbakar mereka dapat meningkatkan resiko kebakaran secara
signifikan. Dalam berbagai hal mereka adalah bahan anorganik seperti garam denagn
sifat pengoksidasi kuat dan peroksida-peroksida organik.

Contoh bahan tersebut adalah kalium klorat dan kalium permanganat juga asam nitrat
pekat.

3. Extremmely Flammable (amat sangat mudah terbakar)


Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya extremely
flammable merupakan likuid yang memiliki titik nyala sangat rendah (di bawah 0
oC) dan titik didih rendah dengan titik didih awal (di bawah +35oC). Bahan amat
sangat mudah terbakar berupa gas dengan udara dapat membentuk suatu campuran
bersifat mudah meledak di bawah kondisi normal

Contoh bahan dengan sifat tersebut adalah dietil eter (cairan) dan propane (gas)

4. Highly Flammable (sangat mudah terbakar)


Bahan dan formulasi ditandai dengan notasi bahaya highly flammable adalah
subyek untuk self-heating dan penyalaan di bawah kondisi atmosferik biasa, atau
mereka mempunyai titik nyala rendah (di bawah +21oC). Beberapa bahan sangat
mudah terbakar menghasilkan gas yang amat sangat mudah terbakar di bawah
pengaruh kelembaban. Bahan-bahan yang dapat menjadi anas di udara pada
temperatur kamar tanpa penambahan pasokan energi dan akhirnya terbakar, juga
diberi label sebagai highly flammable
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya aseton dan logam natrium, yang sering
digunakan di laboratorium sebagai solven dan agen pengering.

5. Flammable (mudah terbakar)


Tidak ada simbol bahaya diperlukan untuk melabeli bahan dan formulasi
dengan notasi bahaya flammable. Bahan dan formulasi likuid yang memiliki titik
nyala antara +21oC dan +55oC dikategorikan sebagai bahan mudah terbakar
(flammable). Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya minyak terpentin

6. Bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan


1) Very toxic (sangat beracun)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya very toxic
dapat menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan bahkan
kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke tubuh melalui inhalasi,
melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit.

Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya kalium sianida, hydrogen sulfida,
nitrobenzene dan atripin

2) Toxic (beracun)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya toxic dapat
menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada
konsentrasi sangat rendah jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut
(ingestion), atau kontak dengan kulit. Bahan karsinogenik dapat menyebabkan
kanker atau meningkatkan timbulnya kanker. Contoh bahan dengan sifat
tersebut misalnya solven-solven seperti metanol (toksik) dan benzene (toksik,
karsinogenik).

3) Harmful (berbahaya)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya harmful
memiliki resiko merusak kesehatan sedang jika masuk ke tubuh melalui
inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit. Contoh bahan
yang memiliki sifat tersebut misalnya solven 1,2-etane-1,2-diol atau etilen
glikol (berbahaya) dan diklorometan (berbahaya, dicurigai karsinogenik).

7. Bahan-bahan yang merusak jaringan


1) Corrosive (korosif)

Bahan dan formulasi dengan notasi corrosive adalah merusak


jaringan hidup. Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya asam mineral
seperti HCl dan H2SO4 maupun basa seperti larutan NaOH (>2%).

2) Irritant (menyebabkan iritasi)


Bahan dan formulasi dengan notasi irritant adalah tidak korosif tetapi
dapat menyebabkan inflamasi jika kontak dengan kulit atau selaput lendir.
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya isopropilamina, kalsium klorida
dan asam dan basa encer.

8. Bahan berbahaya bagi lingkungan


Bahan dan formulasi dengan notasi dangerous for environment adalah dapat
menyebabkan efek tiba-tiba atau dalam sela waktu tertentu pada satu kompartemen
lingkungan atau lebih (air, tanah, udara, tanaman, mikroorganisma) dan menyebabkan
gangguan ekologi.
Contoh bahan yang memiliki sifat tersebut misalnya tributil timah kloroda,
tetraklorometan, dan petroleum hidrokarbon seperti pentana dan petroleum bensin.

Untuk mencagah terjadinya kecelakaan didalam laboratorium beberapa bahan kimia


yang sering dipergunakan baik dalam industry maupun dalam labolatorium perlu dikenali
sifat-sifatnya diantaranya. Beberapa jenis bahan kimia yang harus diperhatikan karena
berbahaya adalah :

1. AgNO3
Senyawa ini beracun dan korosif. Simpanlah dalam botol berwarna dan ruang yang
gelap serta jauhkan dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Dapat menyebabkan luka
bakar dan kulit melepuh. Gas/uapnya juga menebabkan hal yang sama.

2. HCl
Cairan yang tidak berwarna atau kekuningan tergantung pada kemurniannya, bersifat
korosif, mudah menguap. Mudah larut dalam air, alkohol dan eter. Uap HCl
berbahaya terhadap sistem saluran pernapasan. HCI pekat bila mengenai kulit akan
merusaknya dengan sempurna, sedang larutannya menyebabkan gatal-gatal (iritasi
kulit)

3. H2S
Senyawa ini mudah terbakar dan beracun. Menghirup bahan ini dapat menyebabkan
pingsan, gangguan pernafasan , bahkan kematian

4. H2SO4
Berupa cairan menyerupai minyak, tidak berwarna, kadang kadang berwarna coklat
tergantung pada tingkat kemurnianya. Senyawa ini sangat korosif, higroskopis,
bersifat membakar bahan organik dan dapat merusak jaringan tubuh. Gunakan ruang
asam untuk proses pengenceran dan hidupkan kipas penghisapnya. uap dan kabut
asam sulfat sangat beracun dan korosif terhadap kulit, mata dan system saluran
pernapasan (hidung tenggorokan, paru-paru) . Jika asam pekat terkena kulit
menyebabkan luka parah yang amat sakit, jika kena mata walaupun sedikit akan
merusak mata dan menyebabkan kebutaan

5. NaOH dan KOH


Kedua basa ini mempunyai warna putih, mudah menyerap air dn CO2 dari udara,
mudah larut dalam air alkohol dan gliserin.
Timbul panas (eksoternis) apabila kontak dengan air, larutan pekat amat berbahaya
terhadap kulit dan mata sangat korosif dan bisa merusak dengan sempurna.

6. HCN
Senyawa ini sangat beracun. Hindarkan kontak dengan kulit. Jangan menghirup gas
ini karena dapat menyebabkan pingsan dan kematian

7. NH3
Gas ini tidak berwarna berbau tajam, sangat korosif dan berbaya terhadap saluran
pernapasan( hidung dan tenggorokan), bersifat korosif bila bereaksi dengan bahan
oksidator, halogen dan asam-asam kuat, cairan NH3 bersifat explosif terhadap logam
berat(Ag,Pb dan Zn ) dan garam garam terutama garam halide
Menghirup senyawa ini pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pembengkakan
saluran pernafasan dan sesak nafas. Terkena amonia pada konsentrasi 0.5% (v/v)
selama 30 menit dapat menyebabkan kebutaan. Keterpaan uap dengan kadar rendah
tetapi terus menerus dapat mengakibatkan iritasi pada mata, hidung saluran
pernapasan bagian atas

8. HClO4
Cairan tidak berwarna, higroskopis, asam pekat murni tidak stabil, tetapi akan stabil
bila diencerkan, mudah larut dalam air dan larutannya dengan konsentrasi 71,6%
dalam keadaan stabil. Asam ini merupakan oksidator kuat, dapat menimbulkan
ledakan (exposif) dan api apablia kontak langsung dengan bahan mudah dioksidasi
atau mudah terbakar, disamping itu asam ini beracun dan korosif

9. HF
Gas/uap maupun larutannya sangat beracun
Dapat menyebabkan iritasi kulit, mata, dan saluran pernafasan

10. HNO3
Cairan transparan atau kekuningan tergantung pada tingkat kemurniannya, mudah
menguap pada suhu kamar. Senyawa ini bersifat korosif., mudah bercampur dengan
air. Uap nitrogen oksida dapat menyebabkan kerusakan paru-paru, uap ini terbentuk
lambat laun apabila HNO3 diletakkan berdekatan dengan HCI .

Bahan-bahan kimia diatas, jika kita amati adalah bahan-bahan kimia yang umumnya
kita gunakan dalam laboratorium. Ternyata bahan-bahan kimia tersebut menyimpan potensi
untuk meracuni tubuh.

Jenis Jenis Bahaya dan Penanggulangannya

1. Keracunan
Keracunan sebagai akibat penyerapan bahan-bahan kimia beracun atau toksik
seperti amonia, karbon monoksida, benzene, kloroform, dan sebagainya. Keracunan
dapat berakibat fatal ataupun gangguan kesehatan. Yang terakhir adalah yang lebih
sering terjadi baik yang diketahui dalam jangka waktu pendek ataupun jangka waktu
panjang. Pengaruh jagka panjang seperti pada penyakit hati, kanker dan asbetois
adalah akibat akumulasi penyerapan bahan kimia toksik dalam jumlah kecil tetapi
terus menerus. Pertolongan pertama pada kecelakaan keracunan bahan kimia
sebaiknya dilakukan jika dokter belum juga tiba di lokasi keracunan tersebut. Adapun
cara mengatasi keracunan bahan kimia sebagai awal adalah pencegahan kontak bahan
kimia dengan tubuh secepat mungkin. Langkah-langkah untuk melakukannya adalah
sebagai berikut :
Cucilah bahan kimia yang masih kontak dengan tubuh (kulit, mata, dan organ
tubuh yang lainnya)
usahakan penderita keracunan tidak kedinginan
jangan memberi minuman beralkohol kepada penderita karena akan
mempercepat penyerapa racun di dalam tubuh
jika sukar bernafas, bantu dengan pernafasan dari mulut ke mulut
Cara mengatasi keracunan bahan kimia juga dapat dilakukan dengan beberapa
langkah lain jika bahan kimia racu tersebut masuk melalui kulit, mulut, atau
keracunan akibat adanya gas yang beracun beredar di sekeliling kita.

Cara mengatasi keracunan bahan kimia jika bahan racun masuk melalui mulut :
Berilah minum berupa air atau susu 2 hingga 4 gelas.
Jika korban keracunan sedang dalam keadaan pingsan, jangan memasukkan
sesuatu (berupa makanan/minuman) melalui mulutnya
Masukkan jari telunjuk ke dalam mulut korban sambil menggerak-gerakkan
jari di bagian pangkal lidah dengan tujuan agar si korban muntah
Jangan melakukan poin di atas jika korban keracunan minyak tanah, bensin,
alkali atau asam
Berilah 1 sendok antidote dan segelas air hangat kepada korban
Antidote itu dalam keadaan serbuk dan terbuat dari 2 bagian arang aktif, 1
bagian magnesium oksida dan 1 bagian asam tannat.

Cara mengatasi keracunan bahan kimia jika bahan racun masuk melalui kulit :
Cucilah bagian tubuh yang terkena dengan air bersih sedikitnya selama 15
menit.
Lepaskan pakaian yang terkena bahan kimia
Jangan mengoleskan minyak, mentega atau pasta natrium bikarbonat, kecuali
untuk keracunan yang lebih tinggi/tertentu lainnya

Cara mengatasi keracunan bahan kimia jika bahan racun berupa gas :
Untuk keracunan bahan kimia berupa gas maka sebaiknya memberikan udara
segar sebaik-baiknya. Dan untuk pencegahan keracunan bahan kimia berupa gas
sebaiknya sejak awal menggunakan masker. Sebab gas berupa klorin, hidrogen
sulfida, fosgen, hidrogen sianida adalah bahan kimia gas yang sangat beracun.
Jadi, sebelum bekerja dengan bahan kimia, sebaiknya harus mengetahu lebih dahulu
cara mengatasi keracunan bahan kimia tersebut untuk mengantisipasi hal-hal yang
tidak diinginkan. Selain itu juga penting untuk mengetahui jenis jenis gas beracun

Untuk mencegah terjadinya keracunan selama bekerja di laboratorium, berikut


adalah beberapa hal yang harus diperhatikan penguna :
Mempunyai pengetahuan akan bahaya dari setiap bahan kimia sebelum
melakukan analisis.
Simpanlah semua bahan kimia pada wadahnya dalam keadaan tertutup dengan
label yang sesuai dan peringatan bahayanya.
Jangan menyimpan bahan kimia berbahaya dalam wadah bekas
makanan/minuman, gunakanlah botol reagen.
Jangan makan/minum atau merokok di laboratorium.
Gunakan lemari asam untuk bahan-bahan yang mudah menguap dan beracun.
Gunakan atau pakailah jas laboratorium selama bekerja di laboratorium.
Mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan bila terjadi keracunan bahan
kimia di laboratorium.

2. Luka Bakar
Kebakaran dan luka bakar sebagai akibat kurang hati-hati dalam menangani
pelarut-pelarut organik yang mudah terbakar seperti eter, aseton, alkohol dan
sebagainya. Hal yang sama dapat disebabkan oleh peledakan bahan-bahan reaktif
seperti peroksida dan perklorat
Pertolongan pertama pada luka bakar adalah :
Bila mungkin segera bawa korban ke rumah sakit, apabila tidak mungkin dilakukan
rendam bagian tubuh yang terbakar dalam wadah berisi air dingin.
Apabila luka bakar luas atau derajat berat dilakukan
Jangan tarik/ menarik pakaian yang melekat di luka
Jangan memberi minyak gosok, pelumas, atau antiseptic
Jangan memecah lepuh
Jangan menolong sendiri, kirim ke rumah sakit.

Bila korban sadar berikan minuman larutan garam (1/4 sendok teh tiap gelas 200 cc)
berikan satu gelas setiap jam.

Luka Bakar akibat zat kimia

Terkena larutan asam

kulit segera dihapuskan dengan kapas atau lap halus


dicuci dengan air mengalir sebanyak-banyaknya
Selanjutnya cuci dengan 1% Na2CO3
kemudian cuci lagi dengan air
Keringkan dan olesi dengan salep levertran.

Terkena logam natrium atau kalium


Logam yang nempel segera diambil
Kulit dicuci dengan air mengalir kira-kira selama 15-20 menit
Netralkan dengan larutan 1% asam asetat
Dikeringkan dan olesi dengan salep levertran atau luka ditutup dengan kapas
steril atau kapas yang telah dibasahi asam pikrat.

Terkena bromin

Segera dicuci dengan larutan amonia encer


Luka tersebut ditutup dengan pasta Na2CO3.

Terkena phospor

Kulit yang terkena segera dicuci dengan air sebanyak-banyaknya


Kemudian cuci dengan larutan 3% CuSO4.

Luka bakar akibat benda panas

Diolesi dengan salep minyak ikan atau levertran


Mencelupkan ke dalam air es secepat mungkin atau dikompres sampai rasa
nyeri agak berkurang

3. Luka kulit
Luka kulit sebagai akibat bekerja dengan gelas atau kaca ataupun karena tertusuk
benda tajam luka sering terjadi pada tangan atau mata karena pecahan mata.
Pertologan pertama pada luka karena tertusuk benda tajam
Cabut benda tersebut dengan hati-hati
Dekontaminasi luka
Desinfeksi luka
Beri obat pada luka
Beri pembalut pada luka agar tidak terkontaminasi
Laporkan pada petugas
Jika luka terlalu parah cari pertolongan medis

4. Kebakaran

5. Sengatan listrik

Penyimpanan bahan kimia

Mengelompokkan baha kimia berbahaya di dalam penyimpanannya mutlak dilakukan,


sehingga tempat/ruangan yang ada dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dan aman.
Mengabaikan sifat-sifat fisik dan kimia dari bahan yang disimpan aka mengandung bahaya
seperti kebakaran, peledakan, mengeluarkan gas/uap/debu beracun, dan berbagai kombinasi
dari pengaruh tersebut

1. Bahan Beracun
Banyak bahan-bahan kimia yang beracun. Yang paling keras dan sering
dijumpai di laboratorium sekolah antara lain: sublimate (HgCl2), persenyawaan
sianida, arsen, gas karbon monoksida (CO) dari aliran gas.
Syarat penyimpanan:
ruangan dingin dan berventilasi
jauh dari bahaya kebakaran
dipisahkan dari bahan-bahan yang mungkin bereaksi
kran dari saluran gas harus tetap dalam keadaan tertutup rapat jika tidak
sedang dipergunakan
disediakan alat pelindung diri, pakaian kerja, masker, dan sarung tangan

2. Bahan korosif
Contoh bahan korosif, misalnya asam-asam, anhidrida asam, dan alkali. Bahan
ini dapat merusak wadah dan bereaksi dengan zat-zat beracun. Syarat penyimpanan:
ruangan dingin dan berventilasi
wadah tertutup dan beretiket
dipisahkan dari zat-zat beracun.

3. Bahan mudah terbakar


Banyak bahan-bahan kimia yang dapat terbakar sendiri, terbakar jika kena
udara, kena benda panas, kena api, atau jika bercampur dengan bahan kimia lain.
Fosfor (P) putih, fosfin (PH3), alkil logam, boran (BH3) misalnya akan terbakar
sendiri jika kena udara. Pipa air, tabung gelas yang panas akan menyalakan karbon
disulfide (CS2). Bunga api dapat menyalakan bermacam-macam gas. Dari segi
mudahnya terbakar, cairan organic dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu
Cairan yang terbakar di bawah temperatur -4oC, misalnya karbon disulfida
(CS2), eter (C2H5OC2H5), benzena (C5H6, aseton (CH3COCH3).
Cairan yang dapat terbakar pada temperatur antara -4oC - 21oC, misalnya
etanol (C2H5OH), methanol (CH3OH).
Cairan yang dapat terbakar pada temperatur 21oC 93,5oC, misalnya kerosin
(minyak lampu), terpentin, naftalena, minyak baker.
Syarat penyimpanan:
temperatur dingin dan berventilasi
jauhkan dari sumber api atau panas, terutama loncatan api listrik dan bara
rokok
tersedia alat pemadam kebakaran

4. Bahan mudah meledak


Contoh bahan kimia mudah meledak antara lain: ammonium nitrat, nitrogliserin, TNT.
Syarat penyimpanan :
ruangan dingin dan berventilasi
jauhkan dari panas dan api
hindarkan dari gesekan atau tumbukan mekanis
Banyak reaksi eksoterm antara gas-gas dan serbuk zat-zat padat yang dapat
meledak dengan dahsyat. Kecepatan reaksi zat-zat seperti ini sangat tergantung pada
komposisi dan bentuk dari campurannya. Kombinasi zat-zat yang sering meledak di
laboratorium pada waktu melakukan percobaan misalnya:
natrium (Na) atau kalium (K) dengan air
ammonium nitrat (NH4NO3), serbuk seng (Zn) dengan air
kalium nitrat (KNO3) dengan natrium asetat (CH3COONa)
nitrat dengan eter
peroksida dengan magnesium (Mg), seng (Zn) atau aluminium (Al)
klorat dengan asam sulfat
asam nitrat (HNO3) dengan seng (Zn), magnesium atau logam lain
halogen dengan amoniak
merkuri oksida (HgO) dengan sulfur (S)
Fosfor (P) dengan asam nitrat (HNO3), suatu nitrat atau klorat

5. Bahan Oksidator
Contoh: perklorat, permanganat, peroksida organic. Syarat penyimpanan :
temperatur ruangan dingin dan berventilasi
jauhkan dari sumber api dan panas, termasuk loncatan api listrik dan bara
rokok
jauhkan dari bahan-bahan cairan mudah terbakar atau reduktor

6. Bahan reaktif terhadap air


Contoh: natrium, hidrida, karbit, nitrida. Syarat penyimpanan
temperatur ruangan dingin, kering, dan berventilasi
jauh dari sumber nyala api atau panas
bangunan kedap air
disediakan pemadam kebakaran tanpa air (CO2, dry powder)
7. Bahan reaktif terhadap asam
Zat-zat tersebut kebanyakan dengan asam menghasilkan gas yang mudah terbakar
atau beracun, contoh: natrium, hidrida, sianida. Syarat penyimpanan
ruangan dingin dan berventilasi
jauhkan dari sumber api, panas, dan asam
ruangan penyimpan perlu didesain agar tidak memungkinkan terbentuk
kantong-kantong hydrogen disediakan alat pelindung diri seperti kacamata,
sarung tangan, pakaian kerja

8. Gas bertekanan
Contoh: gas N2, asetilen, H2, dan Cl2 dalam tabung silinder. Syaat penyimpanan
disimpan dalam keadaan tegak berdiri dan terikat
ruangan dingin dan tidak terkena langsung sinar matahari
jauh dari api dan panas
jauh dari bahan korosif yang dapat merusak kran dan katub-katub
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam proses penyimpanan adalah
lamanya waktu pentimpanan untuk zat-zat tertentu. Eter, paraffin cair, dan olefin akan
membentuk peroksida jika kontak dengan udara dan cahaya. Semakin lama disimpan
akan semakin besar jumlah peroksida. Isopropil eter, etil eter, dioksan, dan
tetrahidrofuran adalah zat yang sering menimbulkan bahaya akibat terbentuknya
peroksida dalam penyimpanan. Zat sejenis eter tidak boleh disimpan melebihi satu
tahun, kecuali ditambah inhibitor. Eter yang telah dibuka harus dihabiskan selama
enam bulan.

Penyimpanan Bahan Kimia


Ikuti panduan umum ini saat menyimpan bahan kimia dan peralatan bahan kimia:
Sediakan tempat penyimpanan khusus untuk masing-masing bahan kimia dan
kembalikan bahan kimia ke tempat itu setelah digunakan.
Simpan bahan dan peralatan di lemari dan rak khusus penyimpanan.
Amankan rak dan unit penyimpanan lainnya. Pastikan rak memiliki bibir
pembatas di bagian depan agar wadah tidak jatuh. Idealnya, tempatkan wadah
cairan pada baki logam atau plastik yang bisa menampung cairan jika wadah
rusak. Tindakan pencegahan ini utamanya penting di kawasan yang rawan
gempa bumi atau kondisi cuaca ekstrem lainnya.
Hindari menyimpan bahan kimia di atas bangku, kecuali bahan kimia yang
sedang digunakan. Hindari juga menyimpan bahan dan peralatan di atas
lemari. Jika terdapat sprinkler, jaga jarak bebas minimal 18 inci dari kepala
sprinkler.
Jangan menyimpan bahan pada rak yang tingginya lebih dari 5 kaki (~1,5 m).
Hindari menyimpan bahan berat di bagian atas.
Jaga agar pintu keluar, koridor, area di bawah meja atau bangku, serta area
peralatan keadaan darurat tidak dijadikan tempat penyimpanan peralatan dan
bahan.
Labeli semua wadah bahan kimia dengan tepat. Letakkan nama pengguna dan
tanggal penerimaan pada semua bahan yang dibeli untuk membantu kontrol
inventaris.
Hindari menyimpan bahan kimia pada tudung asap kimia, kecuali bahan kimia
yang sedang digunakan.
Simpan racun asiri (mudah menguap) atau bahan kimia pewangi pada lemari
berventilasi. Jika bahan kimia tidak memerlukan lemari berventilasi, simpan di
dalam lemari yang bisa ditutup atau rak yang memiliki bibir pembatas di
bagian depan.
Simpan cairan yang mudah terbakar di lemari penyimpanan cairan yang
mudah terbakar yang disetujui.
Jangan memaparkan bahan kimia yang disimpan ke panas atau sinar matahari
langsung.
Simpan bahan kimia dalam kelompok-kelompok bahan yang sesuai secara
terpisah yang disortir berdasarkan abjad. Lihat Gambar di bawah ini untuk
mendapatkan gambaran metode pengodean warna untuk penyusunan bahan
kimia.
Ikuti semua tindakan pencegahan terkait penyimpanan bahan kimia yang tidak
sesuai.
Berikan tanggung jawab untuk fasilitas penyimpanan dan tanggung jawab
lainnya di atas kepada satu penanggung jawab utama dan satu orang cadangan.
Kaji tanggung jawab ini minimal setiap tahun.

Larangan larangan saat berada di Laboratorium

a. Dilarang bekerja sendirian di laboratorium, minimal ada asisten yang


mengawasi.
b. Dilarang bermain-main dengan peralatan laboratorium dan bahan Kimia.
c. Persiapkanlah hal yang perlu sebelum masuk laboratorium seperti buku kerja,
jenis percobaan, jenis bahan, jenis perlatan, dan cara membuang limbah sisa
percobaan.
d. Dilarang makan, minum dan merokok di laboratorium.
e. Jagalah kebersihan meja praktikum, apabila meja praktiukm basah segera
keringkan dengan lap basah.
f. Jangan membuat keteledoran antar sesama teman
g. Pencatatan data dalam setiap percobaan selengkap-lengkapnya. Jawablah
pertanyaan pada penuntun praktikum untuk menilai kesiapan anda dalam
memahami percobaan.
h. Berdiskusi adalaha hal yang baik dilakukan untuk memahami lebih lanjut
percobaan yang dilakukan.
i. Gunakan perlatan kerja seperti kacamata pengaman untuk melindungi mata,
jas laboratorium untuk melindungi pakaian dan sepatu tertutup untuk
melindungi kaki.
j. Dilarang memakai perhiasan yang dapat rusak karena bahan Kimia.
k. Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu berhak tinggi.
l. Wanita/pria yang berambut panjang harus diikat.
m. Biasakanlah mencuci tangan dengan sabun dan air bersih terutama setelah
melakukan praktikum.
n. Bila kulit terkena bahan Kimia, janganlah digaruk agar tidak tersebar.
o. Bila terjadi kecelakaan yang berkaitan dengan bahan Kimia, laporkan segera
pada asisten atau pemimpin praktikum.

Teknik kerja di Laboratorium

Dibawah ini akan dijelaskan beberapa teknik dan prosedur yang harus dilakukan pada
saat melakukan Praktikum di Laboratorium :

A. Hal pertama yang perlu dilakukan


Gunakan perlatan kerja seperti kacamata pengaman untuk melindungi mata,
jas laboratorium untuk melindungi pakaian dan sepatu tertutup untuk
melindungi kaki.
Dilarang memakai perhiasan yang dapat rusak karena bahan Kimia.
Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu berhak tinggi.
Wanita/pria yang berambut panjang harus diikat.

B. Bekerja aman dengan bahan kimia


Hindari kontak langsung dengan bahan Kimia.
Hindari mengisap langsung uap bahan Kimia.
Dilarang mencicipi atau mencium bahan Kimia kecuali ada perintah khusus.
Bahan Kimia dapat bereaksi langsung dengan kulit menimbulkan iritasi (pedih
atau gatal).
C. Memindahkan bahan Kimia
Baca label bahan Kimia sekurang-kurangnya dua kali untuk menghindari
kesalahan.
Pindahkan sesuai dengan jumlah yang diperlukan.
menggunakan bahan Kimia secara berlebihan.
mengembalikan bahan Kimia ke dalam botol semula untuk mencegah
kontaminasi.

D. Memindahkan bahan Kimia cair


Tutup botol dibuka dan dipegang dengan jari tangan seklaigus telapak tangan
memegang botol tersebut.
Tutup botol jangan ditaruhdi atas meja karena isi botol dapat terkotori.
Pindahkan cairan melalui batang pengaduk untuk mengalirkan agar tidak
memercik.

E. Memindahkan bahan Kimia padat


Gunakan tutup botol untuk mengatur pengeluaran bahan Kimia.
Jangan mengeluarkan bahan Kimia secara berlebihan.
Pindahkan sesuai keperluan tanpa menggunakan sesuatu yang dapat mengotori
bahan tersebut.

F. Cara memanaskan larutan menggunakan tabung reaksi


Isi tabung reaksi maksimal sepertiganya.
Api pemanas hendaknya terletak pada bagiuan atas larutan.
Goyangkan tabung reaksi agar pemanasan merata.
arahkan mulut tabung reaksi pada tempat yang aman agar percikannya tidak
melukai orang lian maupun diri sendiri.

G. Cara memanaskan larutan menggunakan gelas Kimia


Gunakan kaki tiga dan kawat kasa untuk menopang gelas Kimia tersebut.
Letakkan Batang gelas atau batu didih dalam gelas Kimia untuk mencegah
pemanasan mendadak.
Jika gelas Kimia digunakan sebagai penangas air, isilah dengan air.
Maksimum seperampatnya.

H. Keamanan kerja di laboratorium.
Rencanakan percobaan yang akan dilakukan sebelum memulai praktikum.
Gunakan perlatan kerja seperti kacamata pengaman untuk melindungi mata,
jas laboratorium untuk melindungi pakaian dan sepatu tertutup untuk
melindungi kaki.
Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu berhak tinggi.
Wanita/pria yang berambut panjang harus diikat.
Dilarang makan, minum dan merokok di laboratorium.
Jagalah kebersihan meja praktikum, apabila meja praktiukm basah segera
keringkan dengan lap basah.
Hindari kontak langsung dengan bahan kimia.
Hindari mengisap langsung uap bahan kimia.
Bila kulit terkena bahan Kimia, janganlah digaruk agar tidak tersebar.
Pastikan kran gas tidak bocor apabila hendak mengunakan bunsen.
Pastikan kran air dan gas selalu dalam keadaan tertutup pada sebelum dan
sesudah praktikum selesai.