You are on page 1of 11

BAB II

GAS INSULATED SWITCHGEAR ( GIS )

2.1 SEJARAH GIS

GIS yang sekarang telah menggunakan Gas SF6 ( Sulfur Hexafluoride )

sebagai media isolasi, menjadikannya sebagai sebuah teknologi yang maju dan

telah banyak dipakai di banyak gardu untuk melayani kebutuhan listrik dimulai

tahun 1960. Pada awalnya GIS merupakan sebuah konsep dari ruang yang

tertutup oleh bahan logam pada tahun 1920 dimana minyak digunakan sebagai

bahan isolasi di dalamnya. Kemudian pada tahun 1930-an, digunakanlah gas

untuk pertama kalinya sebagai media isolasi , dimana Freon merupakan gas

pertama yang dipakai saat itu . Dengan munculnya teknologi untuk menghasilkan

Gas SF6, maka digunakanlah gas SF6 sebagai media untuk mengisolasi sistem

tegangan tinggi pada GIS, yang kemudian mulai diperkenalkan ke pasaran pada

tahun 1968 sebagai pemadam busur api dan media isolasi. Tonggak sejarah yang

kemudian membuat semakin berkembangnya teknologi GIS adalah pemasangan

gardu 550 kV GIS di Kanada dengan kapasitas pemutusan tertinggi yang pernah

dicapai senilai 100 kA. Kemudian adanya gardu 765 kV GIS di Afrika Selatan

dan bahkan baru baru ini adanya gardu 1000 kV GIS di Jepang.

Konsistensi dari penelitian, pembangunan, serta upaya yang inovatif

membuat teknologi ini berkembang pesat dengan diciptakannya GIS yang bentuk

nya semakin terpadu dan dioptimalkan secara keseluruhan. GIS biasanya didesain

modular ( dapat dirakit perbagian ) dan sudah diisi dengan SF6 dengan kuantitas

yang minimum per bagian ( compartment ). Sejak awal penerapannya, GIS telah

Universitas Sumatera Utara


mengalami perkembangan yang sangat pesat, dengan perkiraan 80.000 bay yang

ada sekarang dan pertambahannya kemudian diperkirakan mencapai 6.000 bay

pertahun. Kunci keberhasilan teknologi GIS adalah dari desainnya yang dibuat

semakin terpadu, ketahanan GIS terhadap lingkungan sekitarnya, keandalan,

serta mudah dipahami dan didokumentasikan.

Pada saat sekarang ini dimana penilaian terhadap modal sebuah proyek

didasarkan pada biaya total dari keseluruhan umur peralatan, menjadikan GIS bisa

menjadi solusi yang lebih baik jika dibandingkan dengan AIS ( Air Insulated

Switchgear ).

2.2 KOMPONEN - KOMPONEN GIS

GIS memiliki berbagai macam komponen dimana komponen komponen

tersebut memiliki fungsi dan tugas masing masing dalam kerja GIS . Beberapa

komponen umum yang ada pada GIS antara lain adalah :

a. Pemutus Tenaga ( Circuit breaker )

b. Saklar Pemisah ( Disconnecting switch )

c. Saklar Pembumian ( Earthing switch )

d. Trafo arus (Current transformer )

e. Trafo Tegangan (Voltage transformer )

f. Rel Daya (Busbar )

g. Sambungan kabel (Cable connection )

h. Panel control (Control panel )

Universitas Sumatera Utara


a. Pemutus Tenaga

Adalah alat pemutus arus listrik pada rangkaian yang dibuat untuk

melindungi sistem dari kerusakan akibat beban lebih ataupun hubung

singkat. Tidak seperti sekering, pemutus tenaga dapat di-set ulang baik

secara manual ataupun otomatis untuk mengalirkan arus listrik. Pemutus

tenaga dapat digerakkan dengan cara manual ataupun dengan mekanisme

penggerak seperti motor, spring, pneumatik dan hidrolik seperti yang

ditunjukkan pada Gambar 2.1

Gambar 2.1 Pemutus Tenaga pada GIS dengan penggerak motor

b. Saklar Pemisah

Adalah alat pengamanan yang digunakan untuk memisahkan peralatan

yang ada di gardu dari arus dan tegangan yang ada pada jaringan listrik,

sehingga dapat dilakukan pemeriksaan atau perawatan pada gardu oleh

operator dalam keadaan aman, dimana saklar pemisah baru dapat

dioperasikan setelah pemutus tenaga pada kondisi terbuka, seperti yang

ditunjukkan Gambar 2.2

Gambar 2.2 Saklar Pemisah pada GIS

Universitas Sumatera Utara


c. Saklar Pembumian

Adalah alat pengaman yang digunakan untuk membumikan peralatan -

peralatan gardu induk selama proses perbaikan atau perawatan sehingga

arus sisa yang masih ada di dalam peralatan gardu disalurkan ke bumi

untuk menjaga keselamatan operator. Saklar pembumian hanya dapat

dioperasikan apabila saklar pemisah sudah dalam kondisi terbuka seperti

yang ditunjukkan oleh Gambar 2.3 dibawah ini

Gambar 2.3 Saklar pembumian pada GIS

d. Trafo Arus

Adalah peralatan yang digunakan untuk mengukur arus pada jaringan

listrik gardu dimana Trafo Arus dapat digunakan sebagai peralatan

pengukuran maupun proteksi, seperti pada Gambar 2.4

Gambar 2.4 Current transformer pada GIS

Universitas Sumatera Utara


e. Trafo Tegangan

Merupakan peralatan yang digunakan untuk mengukur tegangan pada

jaringan listrik gardu dimana Trafo Tegangan dapat digunakan untuk

pengukuran dan proteksi serta digunakan sebagai penyuplai tegangan pada

peralatan relay proteksi yang ada pada gardu seperti telihat pada Gambar

2.5.

Gambar 2.5 Trafo Tegangan pada GIS

f. Rel Daya

Merupakan bagian dari GIS sebagai titik pertemuan atau penghubung

dengan transformator transformator tenaga seperti yang dapat dilihat

pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Rel Daya pada GIS

Universitas Sumatera Utara


GIS dapat dibedakan dalam beberapa klasifikasi umum yaitu :

A. Berdasarkan jumlah fasa per tabung, yaitu GIS dengan satu

fasa per tabung atau GIS dengan tiga fasa per tabung.

B. Berdasarkan lokasi instalasi, yaitu GIS dengan instalasi

indoor atau GIS dengan instalasi outdoor dan GIS bergerak

( mobile ).

C. Berdasarkan jenis penggerak, yaitu penggerak motor,

hydraulic, pneumatic, dan spring.

2.3 DIAGRAM SATU GARIS GARDU INDUK GIS 150Kv GLUGUR

MEDAN

Gambar 2.7 Diagram satu garis Gardu Induk GIS 150kV Glugur Medan

Universitas Sumatera Utara


2.4 PARAMETER TERUKUR DARI GIS

Pada GIS terdapat beberapa parameter yang dapat diukur, meliputi kondisi

fisik isolasi gas SF6 dan fenomena listrik berupa partial discharge, untuk kondisi

fisik isolasi gas SF6 dapat dipengaruhi oleh beberapa hal berikut :

a. Tekanan ( pressure )

b. Kemurnian ( purity )

c. Titik embun ( dew point )

d. Produk hasil dekomposisi ( decomposition product )

e. Suhu lingkungan ( ambient temperature )

a. Tekanan ( pressure )

Tekanan isolasi gas SF6 berkaitan dengan kerapatan partikel gas di dalam

kompartemen GIS, dimana nilai tekanan ini sangat berpengaruh pada

kekuatan dielektrik dari gas SF6 itu sendiri. Jika terjadi penurunan

kekuatan dielektrik gas SF6 maka pada saat menahan medan listrik

homogen yang tinggi akan rentan terjadi breakdown. Tekanan ini dapat

berkurang jika terjadi kebocoran pada kompartemen GIS dan terdapat

celah pada sambungan antar kompartemen yang bisa diakibatkan oleh

korosi tabung yang terbuat dari logam ataupun kesalahan pada saat

pemasangan GIS itu sendiri .

b. Kemurnian ( purity )

Kemurnian dapat dinyatakan sebagai persentase jumlah gas SF6 murni

dalam suatu kompartemen GIS. Semakin tinggi persentase ini maka akan

semakin sedikit ditemukan zat lain dalam gas SF6 tersebut. Untuk gas SF6

10

Universitas Sumatera Utara


yang baru, nilai kemurnian yang disyaratkan dalam standar IEC 60376

adalah > 97 %.

c. Titik embun ( dew point )

Titik embun menunjukkan titik dimana gas berubah menjadi air. Hal ini

berkaitan dengan tingkat kelembaban dari gas SF6, yaitu berapa banyak

partikel air yang terkandung dalam isolasi gas SF6. Nilai titik embun ini

sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terutama suhu, dimana

semakin tinggi suhu maka semakin tinggi pula kandungan uap air yang

berada di dalam tabung GIS.

d. Produk hasil dekomposisi ( decomposition product )

Produk hasil dekomposisi terjadi karena ketidaksempurnaan pembentukan

kembali gas SF6, hal ini bisa terjadi karena adanya pemanasan berlebihan,

percikan listrik, serta busur api yang terjadi. Beberapa produk hasil

dekomposisi beserta sumber penyebabnya dapat dilihat pada tabel 2.1

berikut ini.

Tabel 2.1 Produk hasi dekomposisi SF6

GAS SENYAWA SUMBER


Udara N2, O2 Bocor / intrusi dari luar
Moisture H2O Bocor / intrusi dari luar
Hydrofluoric acid HF Terbentuk di gas SF6 jika
terjadi busur api
Sulfur dioxide SO 2 Terbentuk jika SOF 2
berekasi dengan air
Sulfur diflouride SF 2 Mudah bereaksi
Sulfur tetraflouride SF 4 Mudah bereaksi
Thionil fluoride SOF 2 Jika ada busur api dan air

11

Universitas Sumatera Utara


Jika produk hasil dekomposisi ini terjadi dalam jumlah yang besar, maka

kekuatan dielektrik dari isolasi gas SF6 akan mengalami penurunan.

e. Suhu lingkungan ( ambient temperature )

Suhu lingkungan memiliki kaitan yang sangat erat dengan titik embun.

Untuk lingkungan dengan temperature yang tinggi maka kandungan uap

air yang ada di dalam tabung pun akan menjadi tinggi pula. Hal ini akan

membuat kemungkinan untuk terjadinya intrusi uap air kedalam isolasi gas

akan menjadi lebih tinggi.

Sedangkan untuk fenomena listrik berupa partial discharge adalah

peluahan elektrik pada medium isolasi yang terdapat diantara dua

elektroda berbeda tegangan, dimana peluahan tersebut tidak sampai

menghubungkan kedua elektroda secara sempurna. Peristiwa seperti ini

dapat terjadi pada bahan isolasi padat. Sedangkan pada bahan isolasi gas,

partial discharge terjadi disekitar elektroda yang runcing seperti pada

Gambar 2.7. Adanya aktivitas partial discharge di GIS menandakan

terdapat gangguan dalam kompartemen GIS. Sumber partial discharge

tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :

Partikel bebas

Partikel bebas yang menempel pada permukaan

Tonjolan atau ketidakrataan permukaan ( protrusi )

Sambungan antar kompartemen yang tidak erat

Gelembung udara ( void )

12

Universitas Sumatera Utara


duct spacer

Partikel pada spacer


protrusi

konduktor

Void pada spacer


Protrusi pada potensial tanah Partikel bebas

Gambar 2.8 Ilustrasi gangguan umum yang terjadi pada GIS

Aktivitas partial discharge pada isolasi SF6 dapat kita deteksi melalui

beberapa teknik yang lazim digunakan, yaitu sebagai berikut :

a. IEC 60270

pada teknik ini yang dideteksi untuk mengetahui adanya

aktivitas partial discharge adalah muatan pada saat

timbulnya aliran listrik sesaat ( satuan yang digunakan

adalah pC, nC )

b. Ultra High Frequency / Very High Frequency (UHF / VHF)

Mendeteksi timbulnya gelombang elektromagnetik yang

terjadi ( satuan yang digunakan V, mV ). Teknik ini

biasanya digunakan pada bagian non metal dari GIS.

13

Universitas Sumatera Utara


c. Teknik emisi akustik

Mendeteksi timbulnya gelombang akustik / suara ( satuan

yang digunakan adalah V, mV ). Teknik ini biasanya

digunakan pada bagian metal dari GIS.

Pada tabel 2.2 di bawah ini dapat kita lihat perbandingan dari beberapa teknik

diagnosis partial discharge pada GIS

Tabel 2.2 perbandingan teknik diagnosis partial discharge

IEC 60270 VHF / UHF Accoustic


Emission
Kondisi GIS Off line On line On line
Off line Off line
Kalibrator Ada Tidak ada Tidak ada

Peredaman noise Buruk Sangat baik Baik

Sensitivitas 10% atau 1pC 5pC 5pC

Jangkauan - Luas Sempit


pengukuran
Lokasi - Bagian non Bagian metal
pemasangan metal
sensor
Besaran partial PRPD Frequency Individual pulses
discharge spectrum

14

Universitas Sumatera Utara