You are on page 1of 8

SEMINAR NASIONAL

LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

RURAL SOCIETY DEVELOPMENT STRATEGY CONFRONT


GLOBAL COMPETITION IN THE ERA
ASEAN ECONOMIC COMMUNITY
Ben Ibratama1
benibratama10@gmail.com

ABSTRAK

Diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2015 lalu, menjadi dilema
tersendiri bagi Indonesia sebagai salah satu negara berkembang (developing country) yang pada
dasarnya masih memiliki pekerjaan rumah untuk mempersiapkan sumber daya manusianya agar
mampu bersaing secara global, khususnya dalam regional ASEAN. Kondisi seperti ini tentu bisa
menjadi peluang, tantangan, sekaligus ancaman untuk negara yang tidak siap dalam melawan
gelombang globalisasi ini. Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis strategi pembangunan
masyarakat pedesaan untuk menghadapi persaingan global di era Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA). Tulisan ilmiah ini dikembangkan dengan menggunakan pendekatan kajian literatur atau
studi pustaka. Pendekatan teori/konsep dilakukan dengan merujuk dari beberapa sumber, seperti,
buku, jurnal ilmiah, dan internet. Untuk menghadapi persaingan global ada beberapa strategi
pembangunan masyarakat pedesaan yang menjadi prioritas diataranya adalah melakukan
penyuluhan dan pelatihan dibidang kewirausahaan secara sustainable,meningkatkan kapasitas
ekonomi masyarakat melalui usaha mikro, dan menciptakan produk usaha yang kompetitif.

Kata kunci :Strategi pembangunan, MEA, persaingan global, developing country,

PENDAHULUAN
Latar Belakang
James Petras dan Henry Veltmeyer mengatakan globalisasi dapat dimaknai sebagai
proses liberalisasi pasar nasional dan global yang mengarah pada kebebasan arus
perdagangan, modal maupun informasi dengan kepercayaan bahwa situasi ini akan
menciptakan pertumbuhan dan kesejahteraan manusia (Paulus,2014). Merujuk pada
pengertian di atas seluruh kepala negara yang tergabung dalam satu kumpulan yang
bernama ASEAN meyepakati dan memberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN atau
MEA. MEA merupakan salah kesepakatan yang dihasilkan dengan cita-cita untuk
memberikan banyak dampak positif bagi negara. Pembentukan Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) berawal dari kesepakatan para pemimpin ASEAN dalam Konferensi
Tingkat Tinggi (KTT) pada Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia dan selanjutnya

Sekrertariat :
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Jalan Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta
Telp : (0274) 544975, 564239
E-Mail :semnaspkpugm2016@gmail.com
CP : 08983479782 (Titis)
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

dibahas pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang berlangsung di Bali Oktober 2003,
para petinggi ASEAN mendeklarasikan bahwa pembentukan MEA pada tahun 2015
(nationalgeographic.co.id).
Dengan disepakatinya dan bergulirnya era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)
yang sudah berlangsung sejak tahun 2015 lalu, artinya Indonesia membuka diri untuk
bersaing dengan para negara tetangga dari berbagai bidang dalam sebuah wadah yang
bernama persaingan global di wilayah regional ASEAN. Kondisi seperti ini tentu bisa
menjadi sebuah, peluang, tantangan, sekaligus ancaman untuk negara jika tidak siap
dalam melawan gelombang globalisasi ini. Tidak ada lagi sekat yang membatasi arus
impor dan ekspor, produk dari berbagai negara menjadi hal yang lumrah dan tak bisa
dihindarkan. Pada kenyataannya sebagai negara berkembang Indonesia (developing
country) pasti membutuhkan negara lain khususnya kebutuhan terhadap berbagai produk
mulai dari kebutuhan pokok sampai kebutuhan industri dalam skala yang lebih besar.
Dengan kondisi seperti ini tentu akan menciptakan persaingan yang luar biasa khususnya
gempuran produk dari luar yang berpotensi mengancam produk dalam negeri, ketika
pada kenyataannya produk dari luar memang memiliki kualitas yang baik, atau harga
yang relatif lebih murah, atau harga murah dan memiliki kualitas yang cukup baik
dibandingkan produk kita dalam negeri.
Dengan kondisi seperti ini persaingan global antar negara ASEAN menjadi arena
kompetensi resmi yang menghadirkan banyak kompetitor dari segala sektor yang sudah
pasti dapat memberikan dampak atau resiko serta tantangan kepada masyarakat,
khususnya masyarakat pedesaan. Tantangan untuk bertahan dalam parsaingan, serta
keinginan untuk memenangkan persaingan, serta mendapatkan income atau benefit yang
lebih besar menjadi prioritas bagi pemerintah, masyarakat dan individu dalam lingkup
terkecil. Dalam era globalisasi sekarang ini masyarakat pedesaan merupakan subjek
bukan lagi objek, yang sejatinya harus berpartisipasi aktif untuk mencapai tujuan
bersama, tapi pemerintah juga harus hadir untuk memberikan dukungan modal,
knowledge, pelatihan, informasi, teknologi, serta kebijakan yang menguntungkan
masyarakat pedesaan.

Sekrertariat :
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Jalan Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta
Telp : (0274) 544975, 564239
E-Mail :semnaspkpugm2016@gmail.com
CP : 08983479782 (Titis)
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya persaingan global lintas negara ASEAN ini
adalah pilihan bijak yang telah diambil oleh pemerintah setelah mempertimbangkan
berbagai hal dan konsekuensi yang akan diterima meskipun memiliki potensi resiko tidak
berdayanya masyarakat pedesaan dalam menghadapi persaingan global. Kebijakan
pemerintah dengan membuka diri untuk mengikuti persaingan global regional ASEAN
tidak bisa sepenuhnya dapat disalahkan meskipun pada kenyataanya dapat memberikan
dampak negatif kepada para pelaku ekonomi menengah kebawah atau masyarakat
pedesaan. Sejatinya pemerintah sebagai penyelenggara negara tentu memiliki otoritas
serta kebijakan untuk merumuskan strategi dalam meminimalisir sebuah resiko,
menghadapi persaingan, bahkan memenangkan kompetisi khususnya di wilayah regional
ASEAN.
Salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah dengan memberdayakan masyarakat
sebagai human capital dalam sebuah negara, khusunya masyarakat yang berada di
pedesaan. Menurut Sutoro Eko pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan oleh banyak
elemen baik pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, pers, partai
politik, masyarakat sipil, atau oleh organisasi masyarakat lokal sendiri. Birokrasi
pemerintah tentu saja sangat strategis karena mempunyai banyak keunggulan dan
kekuatan yang luar biasa ketimbang unsur-unsur lainnya karena mempunyai dana,
aparat yang banyak, kewenangan untuk membuat kerangka legal, kebijakan untuk
pemberian layanan publik, dan lain-lain (dalam Cholisin, 2011). Penulisan ini bertujuan
untuk menganalisis strategi pembangunan masyarakat pedesaan untuk menghadapi
persaingan global di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

METODE PENELITIAN
Tulisan ilmiah ini dikembangkan dengan menggunakan pendekatan kajian literatur
atau studi pustaka. Pendekatan teori/konsep dilakukan dengan merujuk dari beberapa
sumber seperti buku, jurnal ilmiah, dan internet. Semua uraian dan gagasan yang ada
digabungkan dan menjadi sebuah kerangka pemikiran baru.

Sekrertariat :
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Jalan Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta
Telp : (0274) 544975, 564239
E-Mail :semnaspkpugm2016@gmail.com
CP : 08983479782 (Titis)
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan
dan untu menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) sebenarnya sudah mulai
terlihat dengan program nawacita pemerintah yang mulai melakukan pembangunan dari
pedesaan dan memberikan bantuan dana desa sebesar 1,4 M setiap desa, tapi untuk
mendapatkan hasil maksimal harus didukung dengan peningkatan kapasitas masyarakat
desa untuk selalu mandiri, inovatif , kreatif dan berdaya saing dapat diwujudkan melalui
program penyuluhan dan pelatihan di bidang kewirausahaan, meningkatkan kapasitas
usaha mikro melalui inkubasi kewirausahaan di pedesaan, serta menciptakan produk
usaha yang kompetitif agar memiliki daya saing. Ketiga metode di atas merupakan
alternatif yang dapat dimanfaatkan pemerintah untuk membantu masyarakat desa dalam
menghadapi gelombang MEA, memenuhi janji politik, dan mewujudkan UU no 6 tahun
2014 tentang desa dalam mewujudkan kemandirian Desa.

1. Penyuluhan dan Pelatihan di bidang Kewirausahaan secara sustainable


Menurut Jhingan pengusaha mempunyai kriteria kualitas sebagai berikut (1)
energik, banyak akal, siap siaga terhadap peluang baru, mampu menyesuaikan diri
terhadap kondisi yang berubah dan mau menanggung resiko dalam perubahan dan
perkembangan (2) memperkenalkan perubahan teknologi dan memperbaiki kualitas
produknya (3) mengembangkan skala operasi dan melakukan persekutuan, mengejar dan
menginvestasikan kembali labanya (Jhingan,2010:426). Berdasarkan pemaparan di atas
ada tiga komponen yang harus dimiliki individu sebagai pengusaha atau pelaku
kewirausahaan, hal ini tentu sangat minim khususnya untuk masyarakat pedesaan.
Mayoritas masyarakat pedesaan pada umumnya melakukan aktivitas perdagangan atau
usaha hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja. Sebenarnya potensi ini bisa
ditingkatkan agar setiap usaha masyarakat pedesaan memiliki pola untuk berkembang,
tetapi yang sering menjadi kendala pada umumnya adalah minimnya penyuluhan,
edukasi, transfer knowledge, dan pelatihan mengenai kewirausahaan.
Usaha yang dijalankan oleh masyarakat pedesaan cenderung stagnan dan tidak
memiliki perkembangan walaupun memiliki potensi untuk berkembang. Penyuluhan dan

Sekrertariat :
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Jalan Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta
Telp : (0274) 544975, 564239
E-Mail :semnaspkpugm2016@gmail.com
CP : 08983479782 (Titis)
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

pelatihan secara sustainable merupakan salah tools yang dapat mengakselerasi potensi
masyarakat untuk berkembang dan menambah capacity building agar terciptanya
masyarakat yang mandiri dan kompetitif. Secara umum capacity building adalah suatu
proses atau kegiatan memperbaiki kemampuan seseorang, kelompok, organisasi atau
sistem untuk mencapai tujuan atau kinerja yang lebih baik (dalam Sudaryanto,2014).
Penyuluhan dan pelatihan sangat berkaitan erat dengan strategi komunikasi. Strategi
komunikasi merupakan penentu berhasil atau tidaknya kegiatan komunikasi secara
efektif. Dengan demikian strategi komunikasi, baik secara makro atau mikro mempunyai
fungsi ganda seperti menyebarluaskan pesan yang bersifat informatif, persuasif dan
instruktif secara sistematik kepada target sasaran untuk memperoleh hasil yang optimal
(Effendy,2000:300). Strategi komunikasi merupakan sebuah katalisator bagi penyuluh
profesional karena merupakan kunci yang bisa membuka potensi masyarakat pedesaan
dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan usaha yang dimiliki ke arah yang
lebih baik, sehingga mendatangkan income dan benefit yang lebih tinggi. Secara tidak
langsung akselerasi ini tentu dapat berkontribusi pada pendapatan per kapita masyarakat
khususnya bagi masyarakat di pedesaan, serta diharapkan mampu meningkatkan
kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Tantangannya adalah bagaimana seluruh stakeholder seperti pemerintah, LSM, pihak
swasta, perguruan tinggi, serta instansi terkait bersinergi sehingga mampu menyediakan
tenaga profesional dalam bidang penyuluhan dibidang kewirausahaan. Pemerintah
memiliki otoritas dalam membuat regulasi dan kebijakan serta memilki sumber daya
secara finansial, atau sumber daya manusia sebagai tenaga penyuluh, pihak swasta tentu
dapat menyediakan modal fiskal khususnya melalui dana Costumer Social Responsibility
yang sudah dianggarkan oleh setiap manajemen perusahaan swasta, dan seharusnya
dapat dimaksimalkan untuk kepentingan masyarakat secara luas, LSM dan perguruan
tinggi memiliki sumber daya manusia yang mumpuni yang bisa menjadi generator atau
penggerak dalam memberikan penyuluhan dan pelatihan.

Sekrertariat :
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Jalan Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta
Telp : (0274) 544975, 564239
E-Mail :semnaspkpugm2016@gmail.com
CP : 08983479782 (Titis)
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

2. Meningkatkan usaha mikro masyarakat desa melalui inkubasi kewirausahaan


Menurut Stephen Robinson strategi adalah merupakan penentuan suatu tujuan dan
sasaran usaha jangka panjang yang diadopsi upaya pelaksanaannya, dan alokasi sumber
daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan (Cutlip dkk, 2006:353). Pengembangan
usaha mikro melalui inkubasi kewirausahaan, khsusnya bagi masyarakat yang tinggal di
pedesaan merupakan sebuah strategi dalam memperkuat dasar kehidupan perekonomian
masyarakat pedesaan, khususnya melalui penyediaan lapangan pekerjaan,meningkatkan
pendapatan dan mengurangi tingkat pengangguran. Berdasarkan Undang-undang no 20
tahun 2008 tentang UMKM usaha mikro adalah usaha yang memilki kekayaan bersih
Rp.50.000.000 dan hasil penjualan tahunan mencapai Rp.300.000.000 (kemenkeu.go.id).
Contoh usaha mikro yang ada di Indonesia seperti petani dan penggarap
perorangan, peternak, nelayan, pedagang kaki lima, penjahit, perbengkelan, tukang
ojek,tukang sayur, dll. Beberapa alasan logis kenapa perlu dikembangkangkanya usaha
mikro khususnya bagi masyarakat pedesaan adalah 1) Usaha mikro di Indonesia
dominan berada pada daerah pedesaan 2) perputaran usaha (turn over) cukup tinggi dan
tahan terhadap situasi krisis (kemenkeu.go.id). Artinya dengan pengembangan yang
dilakukan terhadap usaha mikro, secara tidak langsung tentu akan berimplikasi pada
perekonomian masyarakat di pedesaan. Selain itu usaha mikro mampu bertahan dalam
krisis, dan ini merupakan salah satu modal untuk bersaing dalam menghadapi
persaingan global seperti era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Kendala dalam
pengembangan usaha mikro adalah sumber daya manusianya yang belum memiliki jiwa
kewirausahaan mumpuni dan rendahnya taraf pendidikan masih mendominasi pelaku
usaha mikro, khususnya di daerah pedesaan. Hal ini tentu berpotensi menghambat
peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.

3. Menciptakan Produk Kewirausahaan yang Kompetitif


Pengembangan usaha mikro bagi masyarakat pedesaan merupakan suatu hal yang
wajib agar mampu mendongkrak perekonomian masyarakat pedesaan. Untuk menjawab
tantangan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN sangat dibutuhkan produk-produk yang
kompetitif agar bisa bersaing di tengah persaingan regional ASEAN yang semakin ketat.

Sekrertariat :
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Jalan Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta
Telp : (0274) 544975, 564239
E-Mail :semnaspkpugm2016@gmail.com
CP : 08983479782 (Titis)
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

Produk yang kompetitif hanya akan dihasilkan jika pemberdayaan masyarakat terus
dilakukan secara berkelanjutan. Menurut Sutoro Eko pemberdayaan merupakan suatu
proses mengembangkan, memandirikan, menswadayakan, serta memperkuat posisi
tawar menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan penekan di
segala bidang dan sektor kehidupan (dalam Cholisin, 2011). Tujuan akhir dari proses
pemberdayaan adalah agar masyarakat pedesaan memiliki daya saing khususnya dalam
hal penciptaan produk-produk usaha yang kompetitf.
Dalam hal ini untuk menciptakan produk yang kompetitif ada dua hal yang perlu
di aplikasikan yaitu menetapkan positioning product dan melakukan mapping strategy. Dua
hal tersebut sangat berkaitan erat, positioning product berkaitan dengan penetapan posisi
produk agar mudah diingat oleh konsumen dan mapping strategy merupakan pemetaan
target pasar dari produk yang dihasilkan. Dalam hal ini produk yang dihasilkan harus
berada pada posisi yang jelas misalnya, apakah produk ini bersaing pada level harga atau
kualitas. Merujuk kepada Tiongkok yang secara konsisten menetapkan positioning product
nya pada level harga yang low price sehingga produk-produk yang dihasilkan menjadi
kompetitif di pasaran. Menurut MS Hidayat ada beberapa faktor penyebab produk
Tiongkok bisa dijual lebih murah, karena pemerintah Tiongkok memberikan kemudahan
kepada para pelaku usaha seperti insentif yang menyangkut masalah perpajakan. Dalam
bidang ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja Tiongkok sangat banyak dan bunga
perbankan yang murah. Di Tiongkok bunga kredit perbankan untuk usaha hanya 4%
sampai 6%, sedangkan di Indonesia 14% sampai 16% pertahun (dalam Riana,2010).
Gambar 1. Input dan Output dari Strategi Pembangunan Masyarakat

Sumber : Olahan Penulis

Sekrertariat :
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Jalan Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta
Telp : (0274) 544975, 564239
E-Mail :semnaspkpugm2016@gmail.com
CP : 08983479782 (Titis)
SEMINAR NASIONAL
LUSTRUM KE-2
PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA

PENUTUP

Indonesia telah membuka diri untuk bersaing dengan negara-negara yang


tergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dengan harapan mampu
menghadirkan perubahan baik dari tatanan ekonomi, politik, sosial dan budaya.
Diberlakukannya era Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2015 lalu, menjadi
dilema tersendiri bagi Indonesia sebagai salah satu negara berkembang (developing
country) yang pada dasarnya masih memiliki pekerjaan rumah untuk mempersiapkan
sumber daya manusianya agar mampu bersaing secara global, khususnya dalam regional
ASEAN. Untuk menjaga citra dan martabat negara di dunia internasional tidak mungkin
Indonesia menutup diri dengan alasan belum memadainya sumber daya manusia untuk
bersaing secara global. Hal yang paling bijaksana untuk dilakukan adalah dengan ikut
berpartisipasi dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN dan melakukan berbagai
akselerasi dalam berbagai bidang atau sektor serta membuat strategi dalam rangka untuk
pembangunan masyarakat, seperti penyuluhan dan pelatihan dibidang kewirausahaan,
meningkatkan usaha mikro, dan menciptakan produk usaha yang kompetitif sehingga
berimplikasi pada capacity building masyarakat untuk meningkatkan daya saing agar
terciptanya masyarakat yang kompetitif.

DAFTAR PUSTAKA

Cholisin. (2011). Pemberdayaan Masyarakat di kabupaten Sleman. Staff.uny.ac.id


Cutlip,Scott,et,al. 2006. Effective Public Relations. Jakarta : Pernada Media Group
Effendy, Onong Uchjana. 2000. Dinamika Komunikasi. Bandung :Remaja Rosda karya
M.Jhingan.(2010). Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta : Rajawali Pers
Nationalgeographic.co.id/berita/2014/12/pahami-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015
Paulus Rudolf Yuniarto. (2014). Masalah Globalisasi di Indonesia: AntaraKepentingan,
Kebijakan, danTantangan. PSDR : LIPI
Riana Panggabean. (2010). Kesiapan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
Menghadapi ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA) Studi Kasus dampak
ACFTA terhadap UMKM di provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Tengah.
Jurnal.smecda.com
Sudaryanto,dkk. (2014) Strategi Pemberdayaan UMKM Menghadapi Pasar Bebas Asean.
Kemenkeu.go.id, diakses pada 15 september 2016 jam 20.07

Sekrertariat :
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Jalan Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta
Telp : (0274) 544975, 564239
E-Mail :semnaspkpugm2016@gmail.com
CP : 08983479782 (Titis)