You are on page 1of 11

Kekuatan dan Praksis dalam Wacana Komunikasi Pembangunan

dan Metode
Jody Waters

Summarized and Prepared by


Ani, Ade, Ben & Fitri
benibratama10@gmail.com
Mahasiswa Master Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM

Abstrak
Secara spesifik tulisan ini membahas tentang kekuatan dan praksis dalam komunikasi pembangunan,
peran persepktif antropologi dalam komunikasi pembangunan, dan mendokumentasikan wacana dalam
praksis komunikasi pembangunan. Penulisan dan penyusanan tulisan ini menggunakan metode
literature review dari berbagai sumber yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer
berasala dari buku Redeveloping Communication for Social Change yang dirangkum oleh Karin
Gwinn Wilkins. Sumber sekunder yaitu dari jurnal dan tulisan ilmiah di internet yang terkait dengan
wacana dan metode dalam komunikasi pembangunan.

Kata Kunci : Wacana, Praksis, antropologi, dan komunikasi pembangunan

Ketika kita berjuang dengan cara yang lebih baik untuk menggunakan metode partisipatif dalam
komunikasi sebagai sebuah strategi pembangunan, kita cenderung mengabaikan tindakan komunikatif
sebagai sebuah proses dalam pembangunan. Demikian pula, kita sering gagal dalam menerapkan
berbagai keterampilan sebagai peneliti, untuk membuat dokumentasi sistematis mengenai campur
tangan kekuasaan dalam kegiatan kami sebagai praktisi, peserta, analisis, dan produsen dari wacana
tentang pembangunan. Pengetahuan dan praktik, dapat ditingkatkan dengan memadukan aspek metode
penelitian etnografi dengan analisis berkelanjutan dan kritis kekuasaan.
Saran tersebut dapat memperluas konsep-konsep baru pembangunan sebagai wacana yang dapat
menengahi kekuasaan melalui pembangunan dunia ketiga yang memerlukan sebuah manajemen dan
intervensi (Crush,1995,Escobar,1995,Ferguson,1994). Pengamatan mengenai isu kekuasaan dan
praksis dalam rangka antropologi pembangunan, etnografi, dan perspektif antropologi baru pada
wacana pembangunan membuat kasus, bahwa sebagai peneliti komunikasi, kita harus memiliki posisi
yang baik untuk mengatasi masalah representasi dan proses berkomunikasi di lapangan.
Wacana, kekuatan, dan praksis telah memunculkan isu-isu vital dalam bidang komunikasi. Dalam
hal ini, isu-isu tersebut sebagai pertimbangan utama, keprihatinan saya tidak terbatas hanya pada
mengusulkan cara-cara untuk membangun praktek partisipatif yang lebih baik melalui komunikasi.
Sebaliknya, saya mengakui bahwa komunikasi merupakan dasar untuk partisipasi dan berpendapat
bahwa kita memerlukan konsep dan mengoperasionalkan proses ini dengan cara-cara yang mendorong
penekanan yang berbeda dalam praktik penelitian kami.
Salah satu cara yang dilakukan, dimulai dengan analisis faktor sistematis yang memediasi praktik
komunikasi dalam pembangunan, seperti kekuasaan. Disisi lain perlu melibatkan pengamatan refleksif
bagaimana kita terlibat dalam menafsirkan, dan mendokumentasikan proses yang terjadi sebagai
refleksi dari tindakan (praksis). Mencari kerangka metodologis untuk mendukung pernyataan ini, bab
ini mengeksplorasi peran perspektif antropologi dalam komunikasi pembangunan dan implikasi kritis,
dar perspektif yang menggabungkan analisis kekuatan dan praksis dalam komunikasi.

A. Kekuatan dan Praksis dalam Komunikasi Pembangunan


Selama dua dekade terakhir, konsep partisipasi telah menjadi hal yang populer dalam teori
pembangunan. Pendekatan berbasis modernisasi pembangunan yang mendalilkan mekanisme top-
down, ekonomi didorong dalam pembangunan sebagai pertumbuhan dan cenderung dilaksanakan
dengan kurang memperhatikan konteks atau budaya lokal. Baru-baru ini, para sarjana dan praktisi
telah berpaling dari model ini dan telah menggunakan pendekatan partisipatif yang berfokus pada
membantu masyarakat lokal dengan menetapkan dan mengimplementasikan solusi mereka sendiri
untuk masalah pembangunan.
Model partisipatif pembangunan umumnya dianggap lebih responsif terhadap keadaan orang-
orang dan masyarakat, untuk siapa pembangunan seharusnya dilakukan. Tetapi sangat penting bahwa
kita mengeksplorasi strategi ini dengan perspektif kritis yang membongkar asumsi bahwa partisipasi
adalah lebih baik daripada pendekatan ortodoks. Hubungan antara pembangunan dan komunikasi
menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap cita-cita dan praktik partisipatif belum tentu membawa kita
lebih dekat ke salah satu aspek untuk memahami praksis komunikasi dan kekuasaan dalam proses
pembangunan.
Pendekatan partisipatif menekankan kebutuhan untuk membangun teori dari praktek, posisi
peneliti (praktisi) dan penggunaan/ implemetasi teori sama-sama terlibat dalam proses pembangunan,
dan menekankan perlunya untuk mengembangkan hubungan antara teori dan praktek dalam kerangka
kontekstual transformasi sosial. Huesca tahun (1996) mencatat, bagaimanapun diskusi pendekatan
partisipatif untuk komunikasi pembangunan umumnya membatasi diri pada aspek etika, normatif, dan
praktek partisipatif, perbedaan tersebut belum diselidiki dalam prosedur pembangunan yang terjadi
dalam situasi proyek, dimana praktisi eksternal dan peneliti bekerja dengan masyarakat lokal untuk
memecahkan masalah pembangunan. Pertimbangan masalah ini menuntut analisis yang lebih terfokus
pada bagaimana partisipasi sebenarnya diproduksi, dirasakan, dan diwakili,
Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya mempermasalahkan pemahaman kita tentang partisipasi
daalm pembangunan dengan dua cara. Pertama, pendekatan partisipatif gagal dalam berurusan dengan
praksis komunikatif atau interaktif yang berlangsung dalam pengaturan proyek. Einsiedel (1992)
mengkonsepkan praksis sebagai praktik kritis informasi yang diberlakukan pada tiga tingkatan : 1)
sikap yang tepat dari tindakan seperti yang dilakukan, seperti yang dirasakan dan dipahami, 2)
dampak atau konsekuensi dari tindakan, dan 3) konteksnya. Refleksi ini dimaksudkan untuk
mengubah basis pengetahuan dalam rangka untuk memandu tindakan lebih lanjut (Einsiedel,1992).
Kecenderungan untuk fokus pada konsekuensi dan konteks telah meninggalkan celah yang signifikan
dalam pemahaman kita tentang bagaimana tindakan dan interaksi berlangsung dalam pekerjaan
pembangunan pada umumnya. Dalam komunikasi pembangunan, khususnya, kesenjangan ini bahkan
lebih bermasalah.
Komunikasi partisipatif menetapkan bahwa refleksi dan tindakan harus dipandu oleh dialog,
yaitu komunikasi yang demokratis, kolaboratif, dan terbuka, mengarahkan keterlibatan antar aktor
sosial sebagai sebuah subyek yang sama (Servaes, Jacobson,White,1996). Sementara aspek etika dan
normatif yang mendasari pernyataan ini telah dibahas panjang lebar, beberapa peneliti telah
memberikan kerangka sistematis dari aspek praktis dan operasional. Dengan kata lain, praksis tetap
belum diselidiki.
Isu permasalahan yang kedua dalam komunikasi pembangunan meluas kepada pemahaman
yang umum bahwa pembangunan sebagai perusahaan politik dimana badan-badan pembangunan
dunia pertama dan lembaga terlibat dalam mendefinisikan masalah dan merancang intervensi yang
bertujuan mempengaruhi perubahan di dunia ketiga. Berbagai badan atau lembaga tumbuh, dan turut
mengembangkan kritik ini dengan melihat bagaimana pengetahuan tentang pembangunan disaring
melalui struktur kekuasaan dan kontrol, kemudian disajikan dalam wacana yang dibentuk oleh
struktur ini. Gardner dan Lewis mendefinisikan teori wacana yang menginformasikan perspektif ini:
Berdasarkan gagasan dari Michel Foucault, teori wacana mengacu pada gagasan bahwa istilah
dimana kita berbicara, menulis, dan berpikir tentang dunia adalah refleksi dari hubungan yang lebih
luas dengan kekuasaan karena mereka terkait dengan praktik itu sendiri dalam mempertahankan
struktur kekuasaan. (Gardner dan Lewis,1996). Apthorpe menggambarkan jenis penyelidikan ini
sebagai pendekatan semiotik untuk menganalisis budaya kebijakan, mengingatkan kita bahwa
analisis wacana adalah usaha untuk melibatkan teks, lembaga, dan proses komunikasi (1985). Kritik
ini memiliki latar pertanyaan tentang faktor-faktor yang memediasi bagaimana mengumpulkan,
menafsirkan, merupakan pengetahuan yang dihasilkan dalam praktek pembangunan.
Banyak pertanyaan-pertanyaan ini, seperti mewakili proses dalam wacana tekstual tentang
pembangunan. Demikian pula dengan otoritas teks yang tertulis sebagai modus dominan untuk
dokumentasi dan representasi dalam wacana resmi organisasi pembangunan, lembaga, dan
akademisi. Kerangka kerja mencerminkan wacana kelembagaan yang dominan dalam pembangunan,
menentukan siapa yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kekuatan untuk mengamati,
menafsirkan, dalam proses pembangunan. Namun, dalam perspektif komunikasi pembangunan dan
pengembangan, kerangka kerja ini ditentang. Pembangunan model ini sangat ditentang, meskipun
berada di luar cakupan diskusi ini untuk memberikan pertimbangan penuh dengan makna bervariasi.
Pembangunan sebagai seperangkat praktik dan konsep mengacu pada upaya untuk membawa
pertumbuhan dan perubahan dalam dunia ketiga atau negara berkembang. Banyak analisis
pembangunan sekarang dalam bingkai dan dimensi politik, budaya, dan ideologinya. Antara tahun
1960 dan 1990an, berbagai perspektif telah muncul, mengkritisi kegagalan pembangunan untuk
meningkatkan kualitas hidup dibelahan dunia ketiga, kurangnya perubahan di negara-negara yang
terpinggirkan, yang selama ini mengasumsikan bahwa konsep dunia pertama dan teknologi bisa
membimbing seluruh wilayah diseluruh dunia mengalami pertumbuhan dan kemajuan (Goulet,1971,
Hirschmann,1967, Korten, 1990, Sachs, 1992).
Penataan kembali bidang pembangunan juga menuntut perubahan peran komunikasi dalam teori
dan praktik pembangunan. Praktisi komunikasi pembangunan awalnya membuat suatu asumsi bahwa
media massa dapat digunakan untuk mendorong individu, masyarakat, dan negara-negara ke tahap
yang lebih modern (Lerner, 1958). Tapi dengan akhir 1970an dan awal 1980an, para sarjana dan
praktisi, dari dunia ketiga sendiri semakin tidak puas dengan model ini. Keprihatinan mereka
bermula dari kritik etnosentrisme, karena mencoba untuk mentransfer pola dunia pertama dalam
pembangunan, ketidaktepatan budaya dan politik dan intervensi pembangunan menggunakan ide dari
negara-negara maju, dampak dari proyek pembangunan di daerah setempat, imperatif teknologi dan
ekonomi mengendalikan proses pembangunan (Beltran, 1976, Diaz Bordenave, 1976, Rogers, 1976).
Kritik dari model-model pembangunan sebelumnya berusaha untuk membongkar objectifying,
konstruksi dunia ketiga sebagai penonton pasif. Penerapan metode ilmu sosial terutama kuantitatif
untuk mengukur sejauh mana media bisa menyebabkan orang untuk mengembangkan, misalnya,
mengadopsi teknologi baru. Selanjutnya, implikasi budaya terhadap paparan berulang dalam konten
media dan teknologi dari dunia pertama dinilai hanya sedikit memberikan manfaat dalam kualitas
hidup (Beltran,1976). Dari berbagai kritik tersebut model baru muncul, perlunya partisipasi aktif dari
masyarakat lokal, pemberdayaan, kolaborasi, otonomi, dan kemandirian (Fals Borda & Rahman,
1991).
Pendekatan baru menekankan bagaimana komunikasi dan informasi dapat digunakan oleh
masyarakat yang terpinggirkan untuk menyelidiki dan mengartikulasikan solusi kebutuhan mereka
sendiri dengan demikian akan memudahkan penyusunan strategi dalam meningkatkan kemampuan
mereka untuk terlibat dalam transformasi sosial (Freire,1970). Beberapa peneliti menyelidiki peran
dan bentuk komunikasi adat seperti musik, teater, dan tari sebagai cara untuk merangsang dialog dan
kesadaran kritis budaya (Kidd,1984, Mlama,1994). Proyek-proyek lain yang dimanfaatkan adalah
teknologi mainstream, seperti video, komputer, dan radio, untuk menyediakan saluran untuk
kelompok marginal, seperti perempuan, untuk mengembangkan peran mereka dan terlibat sebagai
komunikator (Taylor,1994).
Partisipasi dalam pendekatan ini umumnya disebut hak untuk menentukan dan mengontrol
proses pembangunan. Hak ini menjamin masyarakat dalam pembentukan struktur pengambilan
keputusan baru, menghormati budaya, norma, dan nilai-nilai, dan partisipasi. Tapi wacana yang
dihasilkan dari model ini jarang terlibat dalam kekuasaan. Sementara banyak proyek partisipatif
menunjukkan bahwa komunikasi dapat menjadi alat yang ampuh dalam membantu pelaku
menemukan cara baru untuk menafsirkan dan mendekati realitas mereka (Alfaro,1994,Taylor,1994),
beberapa peneliti telah mampu membuat hubungan antara transformasi pribadi dan perubahan sosial
yang lebih luas.
Selanjutnya, negosiasi kekuasaan dalam proses komunikasi yang terjadi dalam pembangunan
terus diabaikan demi membahas hasil. Hak untuk mendokumentasikan dan menjelaskan pengalaman
untuk umpan balik, interpretasi, dan pembelajaran sebagian besar masih sesuai dengan kekuatan
akademik dan kelembagaan. Kami terus melihat perkembangan diwakili semata-mata dari perspektif
peneliti dan jarang dari sudut pandang masyarakat setempat. Selain itu, kami jarang diundang untuk
belajar tentang bagaimana peneliti berinteraksi dengan masyarakat.
Pembangunan kelembagaan partisipasi sebagai pendekatan alternatif. Dalam konteks ini, analis
menyatakan bahwa konstruksi partisipatif oleh organisasi besar merampas pendekatan ini dan
menghilangkan daya kritis mereka (Fals Borda,Rahman,1991 Rahnema,1990). Selanjutnya, beberapa
sarjana merasa bahwa pendekatan pembangunan yang direkayasa dan dilaksanakan oleh instansi,
lembaga, dan akademisi merupakan proses berkelanjutan dari legitimasi dan reproduksi kekuasaan
ekonomi dan politik yang dipegang oleh negara-negara maju (Escobar,1991,1995).
Meskipun pendekatan baru dapat berbicara bahasa pemberdayaan, yang mereka lakukan untuk
mendorong jenis perubahan sosial dan politik yang menghubungkan agen lokal dengan tingkat yang
lebih tinggi dari kebijakan dan pengambilan keputusan. Dengan asumsi bahwa pendekatan partisipatif
secara inheren lebih mampu menghasilkan transformasi sosial dipertanyakan. Karena kita hanya
melihat analisis sistematis tentang bagaimana agen lokal terlibat dengan struktur kekuasaan yang
lebih besar, yang diwakili oleh para peneliti dan praktisi.
B. Peran Perspektif Antropologi dalam Komunikasi Pembangunan
Tumbuhnya berbagai badan penelitian dalam antropologi bertujuan untuk mengungkapkan
struktur diskursif dalam pembangunan. Sarjana yang bekerja dalam tradisi ini telah meneliti
konstruksi pembangunan sebagai jenis pengetahuan yang dimediasi oleh kekuasaan dan ideologi
(Escobar,1991,1995,Ferguson,1994). Fungsi kekuasaan direpresentasikan secara tekstual dalam
pembangunan (Crush,1995), dan persimpangan pengetahuan lokal, ideologi kelembagaan, dan sistem
global dalam proyek-proyek pembangunan (Pigg,1992). Selain itu, perdebatan saat ini dalam
etnografi dapat dikaitkan dengan munculnya wacana baru sebagai dasar untuk mengusulkan struktur
konseptual baru untuk analisis pembangunan sebagai kerangka untuk representasi dari realitas sosial.
Sebagai aliran dalam antropologi, etnografi memberikan perspektif kritis untuk analisis
transformasi sosial. Hal ini melatarbelakangi pembangunan intersubjektif dari realitas sosial, peran
kekuasaan dan otoritas dalam penciptaan teks yang mewakili proses sosial,dan dinamika komunikatif
yang terlibat antara peneliti dan masyarakat setempat. Domain politik, sosial, ekonomi, dan ideologi
dimana pengembangan antropologi terletak telah bergeser jauh selama beberapa dekade terakhir.
Pertengahan 1970an yang dipandang sebagai periode booming karena keterlibatannya antropologi
dalam proyek-proyek pembangunan.
United State Agency for International Development (USAID) dengan arah baru kebijakan,
misalnya, memperkenalkan wacana terjemahan budaya dan analisis kesehatan sosial untuk proyek-
proyek pembangunan, membuka banyak kesempatan untuk aktivis yang berpikiran antropolog untuk
diterapkan bekerja di dunia ketiga (Green,1986). Keprihatinan untuk menggabungkan informasi
lebih banyak tentang budaya dan konteks, mungkin juga telah menciptakan ruang bagi ahli etnografi
dan antropologi lainnya yang keterampilannya dipandang sangat berharga untuk membantu untuk
mendorong buy-in dari penduduk lokal dan merancang model kongruen budaya dari tindakan yang
akan meningkatkan intervensi (Gow,1993).
Pada 1980an, antusiasme pada akar rumput, program partisipasi berorientasi budaya, berkurang
dalam lembaga seperti USAID ketika,Presiden Reagan menggagas Percepatan Pembangunan",
program bergeser dari arah pandangan yang lebih tradisional kepada pembangunan sebagai reformasi
ekonomi dan kebijakan. Dalam konteks ini program penyesuaian struktural diarahkan menuju
pembentukan program ekonomi neoliberal di negara-negara dunia ketiga dan privatisasi perusahaan
milik negara, prioritas pendanaan di lembaga besar seperti Bank Dunia dan USAID bergeser jauh
dari proyek-proyek skala kecil yang selama ini mencoba untuk memberdayakan masyarakat lokal .
Pada saat yang sama, bagaimanapun, penelitian baru, dengan fokus pada bentuk transformasi
sosial diberlakukan oleh aktor sosial dan kelompok-kelompok di tingkat akar rumput, menjadi
terkenal. Tren ini terkait, di satu sisi, untuk pengembangan sosial, politik, dan ekonomi di negara
berkembang dan, di sisi lain, penolakan konsep mainstream pembangunan. Penulis bekerja di daerah
ini mengaku prihatin untuk mengeksplorasi perubahan sosial di luar batas-batas pembangunan dan
bukan untuk menghasilkan pendekatan baru atau paradigma (Escobar,1995). Studi dari gerakan
sosial baru yang melibatkan perempuan, petani perkotaan, pedesaan, gay, dan lesbian, dan pekerja di
sektor informal merupakan contoh semakin pentingnya konsep dan praktik perubahan sosial dan
politik yang terjadi di luar kerangka intervensi strategis (Moran,1996).
Studi ini menekankan analisis tentang budaya lokal dan sistem makna, praktik popular, dan
mobilisasi, dan ketahanan terhadap wacana yang mengakar pada pertumbuhan dan perubahan dalam
kerangka modal global (Escobar & Alvarez,1992 Scott,1985). Sejarah singkat ini menggambarkan
kontradiksi dan perdebatan yang berhubungan dengan hal yang besar seperti politik, epistemologis,
dan ketegangan metodologis yang timbul dalam studi proses sosial dan budaya. Dalam beberapa
konteks, pengembangan antropologi terutama mengacu pada studi pembangunan sebagai proses
sosial, budaya, dan politik, sementara disisi lain menggambarkan aplikasi ini terlibat dalam metode
antropologi untuk mempelajari budaya dalam rangka untuk membawa perubahan (Gardner Lewis,
1996, Gow, 1993, Moran, 1996).
Yang terakhir, sering dicirikan sebagai aktivis antropologi, bertujuan untuk mengungkapkan
pertaruhan ideologi dan politik dalam praktik budaya, sehingga membuka ruang untuk kontestasi,
perlawanan, dan transformasi (Moore,1996). Perspektif ini tajam dan kontras dengan antropologi
tradisional, di mana analisis budaya lokal membayangi kekhawatiran lainnya. Ketegangan ini juga
menyangkut sikap antropolog dalam pengembangan terhadap budaya, masyarakat, dan proses
mereka belajar dan lembaga yang mereka wakili. Para antropolog bernegosiasi antara peneliti dan
aktivis dalam melakukan suatu pembangunan. Moran (1996) mencatat bahwa dalam dunia yang
semakin terkoneksi oleh teknologi, politik, dan modal, pengembangan antropologi harus berjuang
untuk menentukan tempatnya.
Di satu sisi, jika pembangunan menghancurkan budaya lokal, mengencerkan pengetahuan
adat, dan mengikis sistem nilai tradisional, maka praktisi pembangunan dan peneliti antropologi
bekerja dilintas tujuan. Kelompok pertama mempromosikan perubahan sosial untuk kepentingan
meningkatkan kualitas hidup, sedangkan yang terakhir menolak itu untuk kepentingan pelestarian
budaya. Di sisi lain, antropolog dipandang sebagai advokat atau pelindung dari budaya. Ahli
etnografi, mencerminkan politik dan praktik analisis budaya dan representasi, telah menghasilkan
beberapa pertimbangan perseptif dalam masalah ini.
Etnografi conceives sudut pandang epistemologis berdasarkan pengetahuan yang dihasilkan
melalui persimpangan observasi, interpretasi, dan representasi (Van Maanen, 1995). Dalam
praktiknya, tiga poros utama penelitian etnografi mencakup pengetahuan intensif budaya atau
masyarakat yang dihasilkan melalui penelitian jangka panjang dalam pengaturan berbagai penelitian,
interpretasi data, dan produksi teks tertulis yang berfungsi untuk mencari penelitian dalam kerangka
teoritis yang lebih besar.
Dalam etnografi klasik, observasi partisipan, dilakukan melalui studi lapangan yang luas,
berfungsi sebagai modus dominan dalam penyelidikan (Malinowski, 1922). Teks yang dihasilkan
oleh sketsa pola budaya, sosial, dan politik diperoleh melalui pengamatan dan analisis ritual, tradisi,
kegiatan sehari-hari, dan hubungan sosial. Posisi etnografi sebagai bentuk dialogis, politik, dan
intersubjektif dalam penyelidikan telah menempatkan sebagian besar prinsip utama di bawah
pengawasan. Pertama, penelitian etnografi sering melibatkan asumsi bahwa fakta-fakta tertentu
terdiri dari realitas sosial dan dapat dipelajari dan dianalisis melalui partisipasi dan observasi. Sebuah
perdebatan penting apakah kenyataan ini adalah tetap dan objektif atau relatif dan subjektif telah
dipentaskan di arena etnografi dan antropologi budaya pada umumnya.
Perdebatan ini bersedia untuk melakukan divestasi otoritas mereka dan mengeksplorasi peran
mereka dalam membangun pandangan realitas yang secara bersamaan mencerminkan masyarakat
yang mereka pelajari, pembentukan akademis dan politik mereka, dan penonton untuk siapa mereka
menulis. Tindakan menulis teks etnografis secara bersamaan menghasilkan perubahan dan perbaikan
budaya yang diteliti dan maknanya (Clifford & Marcus,1986). Para peneliti melakukan deskripsi
orang, tempat, peristiwa, ritual, dan hubungan ke bentuk tertulis yang dapat diakses. Paling sering,
penontonnya merupakan salah satu akademisi atau institusi. Dengan demikian sebagian besar bisa
dihindari bahwa etnografi melibatkan perampasan budaya dan pengakuan bahwa fakta-fakta secara
sosial dibangun dan berhubungan dengan otoritas dan kekuatan suara yang berbicara.
Abu-Lughod mengamati bahwa yang disebut fakta apa yang kita dapatkan di lapangan yang
dibangun melalui interaksi pribadi kita dengan individu tertentu dalam konteks sosial dan budaya
tertentu (1990). Sebuah tren paralel terbaru, antropolog dalam pengembangan untuk menghubungkan
pertanyaan besar terkait dengan struktur dominasi dan kepentingan dalam pembangunan dengan
tindakan mempelajari budaya dan masyarakat dalam proses transformasi. Ciri khas dari pendekatan
ini adalah penerapan teori Michel Foucault untuk analisis pembangunan sebagai himpunan relasi
kekuasaan yang beroperasi melalui wacana.
Wacana berfungsi dengan baik secara diam-diam dan hierarkis. Mereka menyediakan aturan
tidak tertulis atau peta yang menurut struktur sosial dan agen yang bekerja dalam struktur ini
mengorientasikan diri sehubungan dengan proses sosial yang bertujuan untuk menganalisis atau
mempengaruhi. Dengan demikian, wacana pembangunan yang diwujudkan dalam sistem makna dan
praktik membenarkan intervensi kelembagaan strategis sebagai masalah pada dunia ketiga (Escobar,
1995). Kritik ideologi menonjol dalam asal-usul konseptual pendekatan ini, seperti dicatat oleh
Porter, yang mengamati bahwa analisis wacana enfolds pengakuan postmodern terletak pada
pengetahuan dan kekhawatiran modernis dengan emansipasi melalui bantuan yang bertujuan untuk
mengungkapkan dan mendekonstruksi struktur hegemonik, serta mengatur dan memahami dunia
(1995).
Analisis wacana mengungkapkan kerangka yang mendasari dan memandu pembentukan
kebijakan, teks, dan praktek dalam pembangunan. Naksir (1995), misalnya, berpendapat agar lebih
memperhatikan isu-isu dalam teks-teks pembangunan, kosa kata, dan praktik, karena ketiga aspek
tersebut terikat dalam masalah strategis dan taktis. Watts (1995) menganalisa pembangunan sebagai
bentuk kinerja memperkuat praktik politik yang bercokol, dominan dalam bidang kelembagaan. Dia
berpendapat bahwa pembangunan bekerja sebagai sistem interpretif melalui dunia ketiga dibuat
dalam narasi dan drama yang pada dasarnya mendukung tema yang sama (Watts,1995). Tema-tema
ini sesuai dengan hubungan yang lebih luas dengan kekuasaan yang mendominasi sistem global.
Dengan demikian, kritik tersebut mengungkapkan asumsi dasar yang mendasari praktik
pembangunan, bahasa krisis dan disintegrasi menciptakan kebutuhan logis untuk intervensi eksternal
dan manajemen (Crush,1995) .Gambar krisis merupakan panduan praktik pembangunan sebagai
rangkaian intervensi strategis untuk mengurangi masalah dunia ketiga. Oleh karena itu, paradigma
pembangunan sebagai intervensi strategis terus diabadikan dalam praktik dan teori. Dalam kerangka
kritis ini beberapa ahli yakin bahwa model pembangunan alternatif, seperti partisipasi, banyak yang
harus dilakukan dengan menentang wacana hegemonik pembangunan.
Tugasnya adalah untuk menghindari lampiran dari pengetahuan ke rasionalitas pembangunan
(Escobar,1995). Perspektif ini menetapkan area penting untuk penelitian lebih lanjut. Yang paling
mendasar, jika fungsi pengembangan sebagai konstruk intersubjektif yang melibatkan kekuasaan dan
kontrol, kita perlu menyelidiki cara-cara untuk melawan struktur dan praktik yang mendorong proses
ini. Selain itu, banyak dari kritik antropologi didasarkan pada masalah wacana dan interpretasi.
Mereka mendorong peneliti untuk menggunakan kapasitas analitis mereka untuk mengeksplorasi dan
menghasilkan counternarratives dan antinarratives pembangunan. Akhirnya, analis juga mulai
mengungkapkan kemungkinan pembongkaran beberapa terminologi dan sistem yang telah diatur
dalam pembangunan (Watts, 1995).
C. Mendokumentasikan Wacana dalam Praksis Komunikasi
Kritik wacana umumnya difokuskan pada bagaimana dominasi kosakata, teks, dan konsep
pembangunan yang sarat dengan makna yang dirumuskan oleh agen pembangunan dengan struktur
dan konsep pada dunia pertama. Demikian pula, aspek politik yang mempelajari perubahan budaya,
seperti yang dijelaskan oleh etnografer, menantang kita untuk melihat struktur dan konsep dalam
praktek, interpretasi, dan perwakilan dari penelitian. Ini aliran teoritis yang menimbulkan tantangan
penting untuk peneliti komunikasi pembangunan. Pertama, kita perlu menemukan cara-cara interaksi
masyarakat setempat, praktik sehari-hari dalam pembangunan. Kedua, kita perlu menghargai matriks
kekuatan politik, budaya, dan kelembagaan berdasarkan kerangka pemahaman dan situs penafsiran
yang dibentuk oleh kolaborasi mereka.
Sifat model baru pembangunan, seperti komunikasi partisipatif, bergantung pada upaya untuk
membangun pengetahuan melalui refleksi interaksi dan refleksi aksi. Dialektis, berorientasi pada
proses pemahaman ini adalah ciri khas dari praksis. Tapi, sangat sedikit peneliti komunikasi yang
berusaha untuk mengembangkan alat metodologis untuk menginformasikan praktik ini. Kami
mungkin mulai dengan mencoba untuk memahami konteks suatu proyek tertentu, termasuk dinamika
kekuasaan antara masyarakat setempat dan para pemangku kepentingan dalam struktur politik lokal,
nasional, dan regional. Sebagai peneliti komunikasi, maka, perhatian kita mungkin kurang terfokus
pada bagaimana membawa partisipasi yang lebih baik pada proses komunikasi sosial dalam
pengaturan pembangunan dan yang memelihara kekuasaan untuk mengarahkan dan mewakili proses
ini.
Seperti dijelaskan sebelumnya, metode etnografi adalah posisi yang baik untuk berkontribusi
pada beberapa aspek. Lapangan etnografi merupakan bentuk praksis komunikasi, yang melibatkan
tindakan komunikasi dan interpretasi, sekaligus menuntut implikasi politik dari interaksi dengan lain
(Conquergood, 1991). Ahli etnografi mempertanyakan berbagai praktik penelitian budaya dan teks
interpretatif. Mereka telah dieksplorasi, dan bagaimana kontigensi ini berhubungan dengan proses
interpretasi dan wacana. Ini refleksi epistemologis, politik, dan etika telah menyebabkan banyak
analis untuk kembali mengidentifikasi komunikasi sebagai isu penting.
Konvergensi komunikasi pembangunan dan etnografi menunjukkan arah cara berpikir baru
tentang pembangunan dan praktiknya. Pertama, analis dan praktisi yang terlibat dalam penyelidikan
sosial membangun realitas dengan cara yang diinformasikan oleh atribut seperti status sosial,
pembentukan politik, afiliasi institusi, jenis kelamin, etnis, dan pendidikan. Kedua, atribut ini tidak
dapat dipisahkan dari kekuasaan, karena hubungan mencerminkan pola kekuasaan dan kontrol yang
terjadi pada semua formasi sosial. Ketiga, kita harus lebih peka terhadap masalah kekuasaan dan
lebih refleksif dalam merepresentasikan tentang proses sosial.
Huesca (1996) menyediakan titik awal yang penting untuk pertimbangan tersebut dalam upaya
terakhir untuk menggabungkan metode etnografi dengan konsep operasional komunikasi sebagai
proses yang dinamis. Berikut Dervin dan Clark (1993), ia menghasilkan format komunikasi untuk
mengeksplorasi pertanyaan prosedural terkait praktik partisipatif. Pendekatan ini memungkinkan
pemeriksaan lebih dekat tentang bagaimana interaksi, situasi, dan strategi terkait dalam transformasi
sosial. Huesca juga memberikan contoh instruktif bagaimana penulisan proses lapangan dengan cara
tidak mengalahkan kerangka teoritis dengan pertimbangan pragmatis. Einsiedel (1992) sepakat,
menghubungkan metode etnografi dengan proses partisipatif.
Huesca dan Einsiedel benar menyarankan kita mulai dengan memahami etnografi dari suatu
proyek tertentu, termasuk tidak hanya masyarakat lokal atau pemangku kepentingan, tetapi juga
hubungan dan situasi yang terlibat dalam kontak antara agen eksternal (yaitu, peneliti atau lembaga),
dan struktur lokal, nasional, dan politik. Selanjutnya, pemahaman etnografi bergantung pada proses
komunikatif yang terjadi antara peneliti dan masyarakat, dan kita telah melihat, praksis tidak dapat
dicapai hanya dengan melaporkan bagaimana masyarakat lokal terlibat dalam proses interaktif baru.
Sebagai peneliti yang terlibat dalam konsep, proses, dan wacana pembangunan, maka perlu
mempermasalahkan praktik sebagai produksi dan penggunaan pengetahuan yang dihasilkan melalui
proses berkomunikasi.

Kesimpulan
Wacana, kekuatan, dan praksis telah memunculkan isu-isu vital dalam bidang komunikasi.
Wacana berfungsi dengan baik secara diam-diam dan hierarkis. Wacana menyediakan aturan tidak
tertulis atau peta dalam struktur sosial yang bertujuan untuk menganalisis atau mempengaruhi dan
mengeksplorasi peran perspektif antropologi dalam komunikasi pembangunan yang menggabungkan
analisis kekuatan dan praksis dalam komunikasi. Komunikasi pembangunan meluas kepada
pemahaman yang lebih umum bahwa pembangunan sebagai perusahaan politik dimana badan-badan
pembangunan dunia pertama dan lembaga terlibat dalam mendefinisikan masalah dan merancang
intervensi yang bertujuan mempengaruhi perubahan di dunia ketiga. Kerangka kerja yang dibangun
mencerminkan wacana kelembagaan yang dominan dalam pembangunan, menentukan siapa yang
memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kekuatan untuk mengamati, menafsirkan, dalam proses
pembangunan. Tumbuhnya berbagai badan-badan penelitian dalam antropologi bertujuan untuk
mengungkapkan struktur diskursif dalam pembangunan. Sebagai aliran dalam antropologi, etnografi
memberikan perspektif kritis untuk analisis transformasi sosial.