You are on page 1of 10

UJIAN AKHIR SEMESTER

MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN


SOSIAL
STUDI KASUS

Oleh

BEN IBRATAMA
16/405165/PMU/09052

Dosen Pengampu
Prof. Dr.Partini, SU.

PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
1. Pengertian Studi Kasus (Case Study)
Metode penelitian studi kasus (case study) merupakan salah satu jenis penelitian yang dapat
menjawab beberapa issue dan objek terhadap suatu fenomena terutama di dalam cabang ilmu sosial.
Misalnya pada cabang ilmu sosiologi, psikologi, antropologi, komunikasi, dll. Studi kasus bisa dilihat
dari berbagai sudut pandang, dan sampai hari ini masih menuai perbedaan. Perbedaan pendapat dalam
menterjemahkan studi kasus begitu beragaman. Saya mencoba merangkum beberapa perbedaan
pandangan beberapa ahli yang pernah mengemukakan pendapat mengenai studi kasus diantaranya
adalah : studi kasus adalah suatu kajian yang detail tentang suatu setting atau suatu subjek tunggal,
satu kumpulan dokumen tunggal, dan suatu kejadian tertentu. Studi kasus adalah disain penelitian
yang sangat fleksibel, yang memungkinkan peneliti untuk menetapkan karakteristik yang holistik
terhadap kejadian hidup yang real sambil meneliti kejadian empirik (Rochmat Wahab, 2011). Dari
pernyataan Rochmat Wahab di atas jelas menegaskan bahwa studi kasus merupakan suatu kajian yang
spesifik, fleksibel, dinamis, dalam menganalisis suatu peristiwa dan fenomena.
Hal yang berbeda pernah disampaikan oleh Creswell yang mengatakan bahwa penelitian studi
kasus adalah menempatkan objek yang diteliti sebagai sebuah kasus. Pernyataan Creswell ini juga
didukung oleh pendapat Guba dan Lincoln (1985), diperjelas oleh Stake (2005), Algozzine (2006) dan
mengembangkan pemikiran-pemikiran para pendahulunya. Intinya dari pemikiran mereka secara
tegas menyatakan bahwa penelitan studi kasus adalah penelitian terhadap suatu obyek penelitian yang
disebut sebagai kasus. Kelompok ini menekankan bahwa penelitian studi kasus merupakan
penelitian yang dilakukan terhadap obyek atau sesuatu yang harus diteliti secara menyeluruh, utuh
dan mendalam. Menurut Creswell (2002), suatu obyek dapat diangkat sebagai kasus apabila obyek
tersebut dapat dipandang sebagai suatu sistem yang dibatasi dan terikat dengan waktu serta tempat
kejadian obyek. Mengacu pada kriteria tersebut, beberapa obyek yang dapat diangkat sebagai kasus
dalam penelitian studi kasus adalah kejadian atau peristiwa (event), situasi, proses, program, dan
kegiatan (Creswell,2007).
Disisi lain berkembang pendapat yang tidak sejalan dengan pemikiran kelompok pertama
yang dimotori oleh Creswell yaitu kelompok Robert K.Yin yang secara tegas melihat studi kasus
sebagai sebuah metode Yin (2003) mendefinisikan studi kasus sebagai suatu metode dalam
melakukan suatu penelitian akan fenomena yang terjadi dengan fokus pada pengalaman hidup
seseorang (real life context). Secara sederhana Yin memandang dan menempatkan penelitian studi
kasus sebagai sebuah metode penelitian (Yona, 2006). Pendapatnya Yin secara khusus menjelaskan
bahwa studi kasus adalah sebuh metode penelitian yang megamati fenomena kontemporer yang
terdapat dalam kehidupan nyata, dan terkadang fenomena tersebut belum memiliki batasan-batasan
yang nyata, atau konteksnya masih diragukan. Dalam hal ini Yin juga menegaskan bahwa objek yang
akan diteliti merupakan kejadian, fenomena, atau peristiwa, yang sedang terjadi, telah terjadi, namun
masih menyisakan dampak dan pengaruh yang kuat saat penelitian akan dilakukan.
Pendapat Yin tersebut di atas didukung oleh Dooley, (2005), dan Van Wynsberghe (2007)
yang menyatakan penelitian studi kasus pada awalnya bertujuan untuk mengambil lesson learned
yang terdapat dibalik perubahan yang ada, tetapi banyak penelitian studi kasus yang ternyata mampu
menunjukkan adanya perbedaan yang dapat mematahkan teori-teori yang telah mapan, atau
menghasilkan teori dan kebenaran yang baru. Dari sifat kasusnya terkadang dapat disimpulkan bahwa
penelitian studi kasus cenderung bersifat memperbaiki atau memperbaharui teori. Banyak hasil
penelitian studi kasus yang berhasil mamatahkan teori yang ada dan menggantikannya dengan teori
yang baru (Dooley,2005). Menurut Yin (2003), posisi pemanfaatan teori yang telah ada di dalam
penelitian studi kasus dimaksudkan untuk menentukan arah dan fokus penelitian (Yin, 2003)
Dari pemaparan singkat di atas saya mencoba menarik suatu benang merah dari apa yang
dikemukakan oleh Creswell dan Robert Yin. Creswell memulai penjelasannya dengan menyatakan
bahwa objek penelitianlah yang dapat disebut sebagai kasus, dan merupakan jenis penelitian
kualitatif tertentu, dengan metode khusus yaitu metode penelitian studi kasus. Sementara pendapat
Yin melihat bahwa studi kasus sebagai salah satu metode dalam penelitian kualitatif yang
digunakan untuk meneliti suatu objek yang layak dijadikan sebagai sebuah kasus. Namun Creswell
dan Yin juga memiliki kesamaan pendapat yang menyatakan bahwa studi kasus adalah salah satu jenis
penelitian kualitatif.

2. Menentukan dan Mengimplementasikan Studi Kasus


Untuk menentukan dan melacak studi kasus dalam sebuah penelitian maka ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan yang pertama (1) adalah studi tersebut harus mengkaji satu kasus sosial atau
lebih mengenai, fenomena, atau peristiwa yang terjadi secara mendalam. Intinya adalah menggali
secara menyeluruh suatu kasus, fenomena, atau peristiwa yang akan diteliti. Yang kedua (2) adalah
merupakan studi kualitatif untuk memahami suatu tindakan atau kegiatan-kegiatan sosial yang
terjadi.Yang ketiga (3) adalah studi tersebut bersifat multi method yang bertujuan untuk memberikan
pemahaman yang kompleks terhadap suatu fenomena, peristiwa, atau kasus yang terjadi dalam
lingkup sosial (Anonim, 2009). Yang keempat (4), berdasarkan pendapat Yin (1996) yang memberi
suatu penegasan bahwa studi kasus tidak bisa dalam menggeneralisasikan suatu populasi namun
hanya dapat dipakai untuk menggeneralisasikan teori saja. Menurut hemat saya, apa yang diuraikan
di atas khususnya pada poin 1,2, dan 3 adalah beberapa langkah sederhana yang dapat dipakai untuk
menentukan sebuah penelitian dikategorikan sebagai studi kasus atau tidak. Sementara poin ke
empat adalah bentuk implemetasi spesifik studi kasus dalam sebuah penelitian.

3. Jenis dan Perbedaan Studi Kasus


Pada bagian ini saya mencoba merangkum jenis dan perbedaan studi kasus. Jenis dan
perbedaan penelitian studi kasus dapat dikelompok menjadi beberapa bagian yang pertama (1) jenis
berdasarkan paradigma penelitian yang terdiri dari paradigma postpositivistik dan positivistik. Kedua
(2), perbedaan studi kasus berdasarkan tujuan penyelidikan dalam penelitian. Penelitian studi kasus
yang menggunakan paradigma postpostivistik lebih menekankan pada kasus sebagai objek yang
diteliti, dan hal ini juga pernah dikemukakan oleh Creswell. Sementara penelitian studi kasus yang
menggunakan paradigma positivistik lebih menekankan pada penggunaan literatur atau teori dalam
penelitian dan melihat bahwa studi kasus sebagai sebuah metode. Hal ini sejalan dengan
pemikirannya Yin yang melihat bahwa penelitian studi kasus berada dalam sistem yang terikat
khususnya pada penggunaan unit analisis.

Gambar 3.1. Jenis Studi Kasus berdasarkan Paradigma

Studi Kasus dengan Kasus sebagai "objek" yang


Paradigma diteliti
Postpositivistik Creswell,dkk

Studi Kasus dengan Kasus sebagai sebuah


Paradigma "Metode"
Positivistik Robert Yin,dkk

Sumber : Gagasan Creswell dan Robert Yin


Merujuk pada pendapat Ermi Suhasti mengenai paradigma postpositivsitk dan positivistik
yang meyatakan bahwa postpostivistik adalah pola pemikiran zaman klasik dan abad pertengahan
yang didominasi oleh penalaran deduktif, artinya mengamati fenomena umum ke dalam fenomena
yang bersifat khusus. Sebaliknya paradigma positivistik mengandalkan kemampuan pengamatan
langsung, objek ilmu harus dapat diamati, bisa diukur, bisa diuji, dapat diramalkan dan penalaran
yang digunakan adalah induktif, mengamati fenomena khusus ke dalam hal yang lebih umum
(Suhasti, 2016).
Poin yang kedua melihat perbedaan studi kasus berdasarkan tujuan penyelidikan. Untuk
menguraikan hal ini saya mengambil landasan dari jurnalnya Donna M. Zucker yang merangkum
pernyataanya Saham (1995) yang menekankan bahwa perbedaan studi kasus tergantung pada tujuan
penyelidikan dan dibagi kedalam tiga kelompok yang pertama (1) studi kasus instrumental yang
berperan untuk memberikan wawasan tentang suatu permasalahan, peneliti bermaksud untuk
menunjukkan adanya sesuatu yang khas yang dapat dipelajari dari suatu kasus tersebut yang berbeda
dari penjelasan yang diperoleh dari obyek-obyek lainnya. Yang kedua (2) studi kasus intrinsik dengan
tujuan untuk mendapatkan pemahaman lebih terhadap suatu permasalahan. Pengertian tentang
intrinsik di atas menunjukkan bahwa penelitian studi kasus mendalam bermaksud menggali hal yang
mendasar (esensi) yang menyebabkan terjadinya atau keberadaan dari suatu kasus. Dan yang ketiga
(3) adalah studi kasus kolektif adalah studi tentang sejumlah kasus untuk menyelidiki fenomena
tertentu dan pada akhirnya dapat melahirkan konsep atau teori baru. Untuk menyempurnakan uraian
di atas Lincoln dan Guba mengungkapkan bahwa struktur studi kasus harus terdiri dari masalah,
konteks, isu dan pelajaran yang dipelajari.(Zucker,2009)

Gambar 3.2. Perbedaan Studi Kasus


berdasarkan Tujuan Penyelidikan

Studi Kasus
Intrinsik
"Kemacetan Lalu lintas
di kawasan Soekarno
Studi Kasus Hatta Bandung"
Studi Kasus
Instrumental Kolektif
"Kemacetan lalu lintas "Kemacetan lalu lintas
di Bandung (Studi di Bandung (Studi
Kasus di kawasan Kasus di kawasan
Soekarno Hatta)" Soekarno Hatta dan
Dago)"

Studi
Kasus

Sumber : Olahan Penulis dan gagasan Saham

Bagan di atas saya kembangkan dari gagasannya Creswell, Robert Yin, dan Saham di dalam
beberapa jurnal maupun buku yang membagi jenis studi kasus berdasarkan paradigma seperti studi
kasus dengan paradigma postpositivistik serta paradigma positivistik dan juga menguraikan studi
kasus menjadi tiga bagian yaitu studi kasus instrumental, intrinsik, dan kolektif. Dari penjabaran
Creswell, Robert Yin dan Saham saya mencoba memaparkan contoh sederhana seperti yang tertera
pada bagan di atas untuk memudahkan dalam menangkap jenis dan perbedaan studi kasus yang
disampaikan oleh para ahli tersebut.
Menurut hemat saya, studi kasus instrumental menekankan bahwa, kasus hanyalah sebuah
instrumen untuk memahami suatu peristiwa atau fenomena, bukan bermaksud untuk meggeneralisasikan
suatu fenomena atau peristiwa sebagai hasil penelitian. Kalau kita merujuk kepada pendapatnya Yin
yang menyatakan bahwa studi kasus sebagai sebuah metode untuk memahami suatu fenomena atau
peristiwa mungkin ini relevan dengan gagasan studi kasus instrumental yang disampaikan oleh Saham,
karena Yin juga pernah menyampaikan bahwasanya studi kasus bukan sebagai objek namun sebuah
metode yang akan menghasilkan sebuah konsep atau teori baru yang dapat mematahkan konsep atau
teori yang telah ada. Sementara studi kasus intrinsik lebih menekankan agar kita memperoleh
pemahaman secara mendalam mengenai suatu kasus, peristiwa atau fenomena yang terjadi, dan dari
hasil penelitian tersebut kita dapat memperoleh suatu pemahaman secara mendalam, secara holistik
hingga pada akhirnya kita menemukan sebuah konsep baru setelah melakukan penelitian, dan hal ini
tentu relevan dengan gagasan Creswell yang melihat bahwsanya studi kasus adalah sebuah objek
penelitian . Intinya adalah studi kasus instrumental maupun studi kasus intrinsik pada dasarnya dapat
berfungsi untuk menggeneralisasikan sebuah konsep atau teori.

4. Kasus yang ada dalam Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan


Untuk contoh kasus dalam penyuluhan dan komunikasi pembangunan dan spesifiknya yang
ingin saya angkat adalah penyuluhan dan komunikasi pembangunan dalam bidang agama. Saya
mengambil sebuah contoh tentang fenomena bunuh diri yang terjadi di kalangan masyarakat Tepus
Gunung Kidul Yogyakarta. Permasalahan ini menurut hemat saya tentu ada kaitannya dengan proses
penyuluhan dan komunikasi pembangunan. Uraian kasusnya sebagai berikut : Bunuh diri merupakan
fenomena yang menarik perhatian para filsuf, agamawan, dokter, ahli sosial, dan seniman. Di
Indonesia prevalensi bunuh diri cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Surilena dalam Ida (2009),
mencatat bahwa 1030 orang melakukan percobaan bunuh diri setiap tahunnya dan lebih kurang 705
orang diantaranya tewas. Fenomena bunuh diri pada masyarakat Indonesia meningkat pada kelompok
masyarakat yang rentan terhadap stresor psikososial yaitu pengungsi, remaja, dan masyarakat sosial
ekonomi rendah. Bunuh diri yang termasuk angka tertinggi di Indonesia ada pada masyarakat Gunung
kidul.
Dalam dekade 1980-1990 terdapat 337 orang melakukan tindak bunuh diri di seluruh DIY
dan kasus tertinggi terjadi di Kabupaten Gunung kidul, yaitu sebanyak 94 orang. Yoga mencatat ada
85 kasus bunuh diri sejak tahun 1999-2001. Pada periode tahun 2001 sampai tahun 2008, tercatat 235
kasus bunuh diri di Gunung kidul (data Polres Gunung kidul, 2009). Angka tersebut merupakan kasus
meninggal yang dilaporkan ke pihak kepolisian, belum termasuk kasus yang tidak dilaporkan atau
dilaporkan sebagai kasus kecelakaan dan kasus percobaan bunuh diri. Menurut WHO, angka bunuh
diri mengalami peningkatan pada krisis ekonomi di Indonesia (tahun 1997-1998) dan kabupaten
Gunung kidul menduduki peringkat tertinggi Nasional (9 per 100.000), lebih tinggi dibanding kota
metropolitan Jakarta (1 per 100.000). Berdasarkan penemuan terkini dari data kepolisian Resort
Gunung kidul, kasus bunuh diri mengalami kenaikan yang signifikan, yaitu tahun 2013 mencapai 29
orang, Tahun 2014 sebanyak 21 orang, tahun 2015 sebanyak 33 orang serta tahun 2016 yang baru saja
menginjak bulan Maret sudah mencapai mencapai 10 orang.
Rata-rata yang melakukan aksi bunuh diri adalah mereka berusia diatas 60 tahun dengan
mengalami penyakit yang telah menahun dan tidak ada kesabaran dalam penyembuhan, serta mereka
dengan tingkat ekonomi berpenghasilan rendah. Fenomena lain terjadinya kasus bunuh diri yang ada
di Gunung kidul, sering dikenal dengan istilah pulung gantung. Istilah tersebut merujuk pada
kepercayaan atau mitos terhadap alasan seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Seseorang dapat
melakukan bunuh diri bila memperoleh pulung atau wahyu berupa tanda bintang dari langit di malam
hari. Bintang akan jatuh dengan cepat menuju rumah atau dekat rumah si korban bunuh diri.
Keyakinan mendapat pulung ini seakan-akan menjadi pembenaran dan keyakinan seseorang untuk
melakukan tindakan bunuh diri dengan cara gantung. Kepercayaan atau mitos melihat pulung gantung
menjadi keyakinan dan memberikan pemahaman pembolehan terhadap aksi bunuh diri (Khusbanatun,
2016).
Berdasarkan kasus di atas saya melihat bahwa kasus tersebut merupakan suatu permasalahan
yang sangat serius yang perlu mendapat perhatian dari tokoh masyarakat maupun pemerintah, karena
mudahnya masyarakat dalam mengambil jalan pintas yang dianggap sebagai sesuatu yang sah melalui
aksi bunuh diri atau yang terkenal dengan pulung gantung di kalangan masyarakat Tepus, Gunung
Kidul. Dalam fenomena ini khusus dalam konteks penyuluhan dan komunikasi pembangunan saya bisa
mengambil suatu kesimpulan bahwa pentingnya peranan penyuluh agama dalam rangka membangun
masyarakat yang sudah terjebak dalam kepercayaan atau mitos yang sesat dan sudah mengakar,
sekaligus juga menegaskan bahwa fenomena ini adalah paradoksial yang paling nyata mengingat
masyarakat Tepus Gunung Kidul 98 % adalah beragama Islam.
Dalam menyikapi fenomena ini tenaga penyuluh yakni berperan memberikan nasehat atau
pesan kepada masyarakat mengenai prinsip-prinsip, etika terkait dengan nilai-nilai agama. Tujuanya
adalah terciptanya perubahan perilaku dalam berkeyakinan secara benar. Sebab penyuluh agama
bertugas sebagai pemberi arah, motivator, dan konsultan dalam rangka membangun masyarakat.
Maka meminimalisir fenomena tersebut, dibutuhkan bantuan para penyuluh agama yang ada di
lingkungan Kementerian Agama dengan memberikan pembinaan secara intensif dan komunikasi yang
baik kepada masyarakat setempat.

Gambar.4.1. Permasalahan Masyarakat Tepus Gunung Kidul

Kepercayaan terhadap
"Mitos" yang tinggi dan
lingkugaan sosial yang
permisif

Tradisi "Pulung gantung"


mengindikasikan masih
rendahnya pemahaman
agama masyarakat

Gambar.4.2. Gejala dan Pola Sosial Masyarakat Tepus Gunung Kidul

Mengalami Stersor Mempercayai Bunuh diri sebagai


Psikososial Mitos Pulung solusi dalam
Gantung menyelesaikan
(Penyakit,
permasalahan
Himpitan Ekonomi

Sumber gambar di atas : Olahan Penulis


Melihat fenomena di atas saya memiliki gagasan untuk memberikan pencerahan dalam rangka
untuk pemabangunan masyarakat di Tepus Gunung Kidul yang selama ini terjebak dalam pemahaman
yang keliru, dan tidak mencerminkan ajaran agama yang sesungguhnya. Padahal berdasarkan data
yang ada masyarakat Tepus 98 % beragama Islam. Namun mempercayai tradisi pulung gantung
sebagai jalan alternatif dalam menghadapi persoalan hidup merupakan sebuah wujud nyata bahwa
implemetasi nilai agama belum maksimal ke dalam sendi kehidupan masyarakat Tepus Gunung Kidul
dan masih menempatkan mitos sebagai sebuah keyakinan utama.

Strategi Dakwah Modern dalam Penyuluhan Agama


Untuk meminimalisir fenomena tersebut menurut hemat saya dapat dilakukan beberapa
tindakan yang bisa dilakukan oleh tenaga penyuluh agama sebagai berikut : Pertama (1) dengan
mengembangkan potensi atau fitrah dan kedhaifan manusia, maka dakwah tidak lain merupakan suatu
proses memanusiakan manusia dalam proses transformasi sosio-kultural yang membentuk ekosistem
kehidupan. Kedua (2) dakwah sebagai gerakan transformasi sosial sering dihadapkan pada kendala-
kendala kemapanan keberagamaan. Pemahaman agama yang terialu eksoteris dalam memahami
gejala-gejala kehidupan dapat menghambat pemecahan masalah sosial. Oleh karena itu, diperlukan
pemikiran inovatif yang dapat mengubah kemapanan pemahaman agama dari pemahaman yang
tertutup menuju pemahaman keagamaan yang terbuka. Ketiga (3) strategi yang imperatif dalam
dakwah. Dakwah berorientasi pada upaya amar maruf dan nahi munkar. Dalam hal ini, dakwah tidak
dipahami secara sempit sebagai kegiatan yang identik dengan pengajian umum atau memberikan
ceramah di atas podium, lebih dari itu esensi dakwah sebetulnya adalah segala bentuk kegiatan yang
mengandung unsur amar maruf dan nahi munkar (bdksemarang.kemenag.go.id)

Komunikasi Interpersonal dan Komunikasi Publik dalam Penyuluhan Agama


Komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang berlangsung dua arah atau lebih
secara tatap muka. Menurut sifatnya komunikasi dibedakan atas dua yaitu komunikasi diadik dan
komunikasi kelompok kecil. Komunikasi diadik adalah proses komunikasi antara dua orang dan ini
dengan tatap muka, sementara komunikasi kelompok kecil merupakan komunikasi yang berlangsung
antara tiga orang atau lebih dimana masing-masing anggotanya saling berinteraksi (Cangara, 2010).
Dalam penyuluhan agama komunikasi interpersonal diadik tentu sangat tepat dalam membangun
kedekatan emosi dengan masyarakat, dan komunikasi kelompok kecil tentu sangat efektif dalam
penyebaran informasi kepada khalayak dalam jumlah yang banyak seperti melalui khutbah Jumat,
ceramah, wirid, pengajian, atau diskusi lainnya baik formal maupun informal. Tentu hal ini bisa
diterapkan di masjid atau di balai desa maupun dalam pergaulan sehari-hari.

Penyuluh Agama Berperan dalam Merubah Mindset Masyarakat


Mindset adalah posisi atau pandangan mental seseorang yang mempengaruhi pendekatan
orang tersebut dalam menghadapi suatu fenomena. Mindset terdiri dari seperangkat asumsi, metode,
atau catatan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang tertanam dengan sangat kuat. Menurut
Mulyadi (2007), mindset merupakan sikap mental mapan yang di bentuk melalui pendidikan,
pengalaman dan prasangka. Mindset itu terbagi ke dalam beberapa macam salah satunya adalah Fixed
mindset. Ciri-ciri orang dengan kategori fixed mindset adalah sebagai berikut : selalu menghindari
adanya tantangan, mudah menyerah, menganggap usaha tidak ada gunanya. Kalau kita merujuk pada
pernyataan di atas dan dikaitkan dengan gejala serta pola sosial masyarakat Tepus Gunung kidul saya
bisa mengkategorikan bahwa lestarinya mitos pulung gantung karena sebagian masyarakat tersebut
adalah masyarakat fix mindset. Hal itu jelas terlihat dari masyarakat yang mudah menyerah, dan
menghindari tantangan hidup dan pada akhirnya memilih jalan pintas dengan meyakini pulung
gantung sebagai solusi. Salah satu peran penyuluh agama yang paling mendasar dalam hal ini adalah
merubah mindset masyarakat menjadi growth mindset.
Komunikasi Interpersonal dan Komunikasi Publik dalam Penyuluhan Agama
Komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang berlangsung dua arah atau lebih
secara tatap muka. Menurut sifatnya komunikasi dibedakan atas dua yaitu komunikasi diadik dan
komunikasi kelompok kecil. Komunikasi diadik adalah proses komunikasi antara dua orang dan ini
dengan tatap muka, sementara komunikasi kelompok kecil merupakan komunikasi yang berlangsung
antara tiga orang atau lebih dimana masing-masing anggotanya saling berinteraksi (Cangara, 2010).
Dalam penyuluhan agama komunikasi interpersonal diadik tentu sangat cocok dalam membangun
kedekatan emosi dengan masyarakat, dan komunikasi kelompok kecil tentu sangat efektif dalam
penyebaran informasi kepada khalayak dalam jumlah yang banyak seperti melalui khutbah Jumat,
ceramah, wirid, pengajian, atau diskusi lainnya baik formal maupun informal. Tentu hal ini bisa
diterapkan di masjid atau di balai desa maupun dalam pergaulan sehari-hari.

Penyuluh Agama Berperan dalam Merubah Mindset Masyarakat


Mindset adalah posisi atau pandangan mental seseorang yang mempengaruhi pendekatan
orang tersebut dalam menghadapi suatu fenomena. Mindset terdiri dari seperangkat asumsi, metode,
atau catatan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang tertanam dengan sangat kuat. Menurut
Mulyadi (2007), mindset merupakan sikap mental mapan yang di bentuk melalui pendidikan,
pengalaman dan prasangka. Mindset itu terbagi ke dalam beberapa macam salah satunya adalah Fixed
mindset. Ciri-ciri orang dengan kategori fixed mindset adalah sebagai berikut : selalu menghindari
adanya tantangan, mudah menyerah, menganggap usaha tidak ada gunanya. Kalau kita merujuk pada
pernyataan di atas dan dikaitkan dengan gejala serta pola sosial masyarakat Tepus Gunung kidul saya
bisa mengkategorikan bahwa lestarinya mitos pulung gantung karena sebagian masyarakat tersebut
adalah masyarakat fix mindset. Hal itu jelas terlihat dari masyarakat yang mudah menyerah, dan
menghindari tantangan hidup dan pada akhirnya memilih jalan pintas dengan meyakini pulung
gantung sebagai solusi. Salah satu peran penyuluh agama yang paling mendasar dalam hal ini adalah
merubah mindset masyarakat menjadi growth mindset.

Kolaborasi PEMDA, Penyuluh Agama, dan tokoh adat setempat


Untuk membantu pencapaian tujuan dan mewujudkan pembangunan masyarakat seutuhnya
harus dilakukan melalui kelompok yang solid dan terintegrasi. Dalam kasus ini saya melihat
bahwasanya seluruh stakeholder baik PEMDA, Penyuluh Agama, dan tokoh adat mengambil peranan
masing-masing dalam rangka memberikan pencerahan dan pemahaman yang utuh dan sesuai dengan
nilai-nilai agama. Kalau hanya mengandalkan penyuluh agama sebagai generator tentu tidak akan
maksimal jika PEMDA tidak ambil bagian, tak bisa dipungkiri bahwa perhatian pemerintah terhadap
kelangsungan hidup penyuluh agama, misalnya melalui dukungan finansial harus ditingkatkan sebagai
upaya sinergitas dalam memaksimalkan peran penyuluh agama dalam membangun masyarakat.
Dalam hal ini tokoh adat juga memiliki peran penting sebagai key person yang bisa dimanfaatkan
dalam mensosialisasikan program penyuluhan dan mempengaruhi masyarakat setempat.

Penutup
Pemahaman agama dan pola berpikir masyarakat (mindset) sebelum diberi penyuluhan tentu
akan berbeda dengan setelah diberi pencerahan dan pemahaman agama. Sebab memahamkan ilmu
atau materi yang disampaikan kepada warga masyarakat yang masih dangkal keagamaanya belum
tentu mereka dapat memahami sepenuhnya. Oleh karenanya diperlukan kesabaran dan ketelatenan
dalam penyuluhan. Sebab bahasa agama adalah bahasa yang mengandung makna. Dan makna-makna
agama tersebut harus dikordinasikan secara baik dan runtut, agar mudah diterima oleh masyarakat.
Pendekatan penyuluh mengenai keyakinan masyarakat tentang bunuh diri harus penuh dengan
bimbingan kesabaran. Sebab menjelaskan kepada masyarakat dengan tingkat pendidikan yang
berbeda, bukan hal yang mudah. Semua dilakukan agar tingkat pemahaman dan penghayatan terhadap
ajaran agama bisa direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Jenis dan perbedaan penelitian studi kasus dapat dikelompok menjadi beberapa bagian yang
pertama (1) jenis berdasarkan paradigma penelitian yang terdiri dari paradigma postpositivistik yang
melihat kasus sebagai objek penelitian, tokoh yang cukup terkenal penganut postpositivistik adalah
Creswell dan paradigma positivistik melihat kasus sebagai metode penelitian dan tokoh yang cukup
terkenal penganut postivistik adalah Robert K.Yin. Kedua (2), perbedaan studi kasus berdasarkan
tujuan penyelidikan dalam penelitian terdiri dari studi kasus instrumental, intrinsik, dan kolektif.
Untuk studi kasus saya mengambil contoh pada fenomena bunuh diri di kalangan masyarakat Tepus
Gunung Kidul.Permasalahanya adalah tingginya kepercayaan masyarakat setempat terhadap mitos
yang disebut dengan pulung gantung sebagai salah satu solusi alternatif dalam menghadapi setiap
permasalahan hidup. Untuk membangun masyarakat setempat agar tidak terjebak dengan mitos yang
bertentangan dengan nilai-nilai agama maka dapat dilakukan beberapa langkah seperti menerapkan
strategi dakwah modern, penerapan komunikasi interpersonal dan komunikasi publik dalam
penyuluhan, merubah mindset masyarakat, dan kolaborasi antara pemerintah daerah, penyuluh agama,
dan tokoh adat setempat untuk memaksimalkan tujuan.

Daftar Pustaka

Anonim. (2009).Penelitianstudikasus.com, diakses pada 9 Desember 2016


Bdksemarang.kemenag.go.id, diakses pada 9 Desember 2016
Creswell, J.W. (2007). Qualitative Inquiry and Research Design: (2nd ed.). Thousand Oaks,CA:Sage.
Cangara, Hafied .(2010). Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta : Raja Grafindo Persada
Khusbanatun .(2016). Komunikasi Penyuluh Agama dalam Merespon Fenomena bunuh diri di
Masyarakat Tepus Gunung Kidul. Yogykarta : Pascasarjana.umy.ac.id
Mulyadi. (2007). Sistem Perencanaan dan Pengendalian Menejemen. Jakarta : Salemba Empat
Suhasti, Ermi. (2016) .Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Prajnyamedia
Wahab, Rochmat. (2011). Case Study. FIP UNY : staff.uny.ac.id
Yona, Sri .(2006). Penyusunan Studi Kasus. Depok : jki.ui.ac.id,
Yin, Robert .(2003). Studi Kasus Desain dan Metode. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Zucker, Donna .(2009). How to Do Case Study Research : University of Massachusetts - Amherst
donna@acad.umass.edu