You are on page 1of 7

TEKNIK DAN PROSPEK BUDIDAYA PEMBESARAN KEPITING BAKAU

ABSTRAK

Kepiting bakau memiliki nilai komersil yang cukup tinggi. Kepiting bakau terdiri dari 4 (empat) spesies yang
semuanya hampir dapat ditemui di daerah berlumpur sepajang pantai. Budidaya kepiting bakau dapat
secara dilakukan dengan berbagai metode dan memperhatikan beberapa ketatap yang harus di patuhi.
Diantaranya Pemilihan Lokasi, Desain Tambak Kepiting Bakau, Persiapan Tambak, Penebaran Benih,
Pakan Kepiting Bakau (Scylla spp) dan Pemanenan dan Cara Pengemasan. Dengan memperhatikan
beberapa aspek tersebut maka proses budidaya kepiting dapat berjalan dengan baik.

PENDAHULUAN
Kepiting dapat ditemukan di sepanjang pantai Indonesia. Ada dua jenis kepiting yang memiliki nilai
komersil, yakni kepiting bakau dan rajungan. Di dunia, kepiting bakau sendiri terdiri atas 4 spesies dan
keempatnya ditemukan di Indonesia, yakni: kepiting bakau merah (Scylla olivacea) atau di dunia
internasional dikenal dengan namared/orange mud crab, kepiting bakau hijau (S .serrata) yang dikenal
sebagai giant mud crab karena ukurannya yang dapat mencapai 2-3 kg per ekor, S. tranquebarica (kepiting
bakau ungu) juga dapat mencapai ukuran besar dan S. paramamosain (kepiting bakau putih) (Yusinta, 2007).

Potensi kepiting bakau juga melimpah terdapat di desa Kuala Lupak Kabupaten Barito Kuala Propinsi
Kalimantan Selatan ini, hal itu terlihat ketika berada di desa. Hanya dalam hitungan beberapa waktu,
ratusan kepiting bakau dari berbagai ukuran konsumsi ada disana. Ternyata, pengumpul kepiting dari desa
ini telah menunggu dan segera mensortir kepiting bakau layak ekspor untuk dijual ke coldstorage, sisanya
(Grade BS/rejected live mud crab) dijual kepada pedagang lokal. Menurut pengumpul tersebut, setiap
harinya didapatkan sekitar 80-100 kg kepiting dan langsung habis terjual.

Masyarakat desa sekarang ini hanya mencari dan menangkap kepiting bakau ukuran konsumsi untuk
kemudian dijual kepedang pengumpul dengan harga Rp. 40.000 Rp.50.000,- per kg. Menurut Yusinta
(2007), harga kepiting bakau. hidup ditingkat pedagang pengumpul dapat mencapai Rp.100.000,- per kg
untuk grade CB (betina besar berisi/bertelur, ukuran > 200 g/ekor) dan Rp.30.000,- untuk LB (jantan
besar berisi, ukuran > 500g- 1000g/ekor). Kepiting lunak/soka harganya dua kali lipat lebih tinggi. Di luar
negeri, harga kepiting bakau grade CB dapat mencapai 8.40 U$ - 9.70 U$ per kg sedangkan LB dihargai
6.10 U$ - 9.00 U$ per kg. Ukuran >1000g (Super crab) harganya 10.5 U$ per kg.

Berdasarkan data yang tersedia di Departemen Kelautan dan Perikanan, permintaan kepiting dan rajungan
dari pengusaha restoran sea food Amerika Serikat mencapai 450 ton setiap bulan. Jumlah tersebut belum
dapat dipenuhi karena keterbatasan hasil tangkapan di alam dan produksi budidaya yang masih sangat
minim. Padahal, negara yang menjadi tujuan ekspor kepiting bukan hanya Amerika tetapi juga Cina,
Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, dan sejumlah negara di kawasan Eropa. Sebuah
perusahaan di Tarakan yang menjadi pengumpul sekaligus eksportir kepiting mengaku hanya sanggup
mengirim 20 ton kepiting per bulan ke Korea, padahal permintaan mencapai 80 ton per bulan. Kepiting
tersebut diekspor dalam bentuk segar/hidup, beku, maupun dalam kaleng. Di luar negeri, kepiting
merupakan menu restoran yang cukup bergengsi. Dan pada musim-musim tertentu harga kepiting melonjak
karena permintaan yang juga meningkat terutama pada perayaan-perayaan penting seperti imlek dan lain-
lain. Daging kepiting, tidak saja lezat tetapi juga menyehatkan. Daging kepiting mengandung nutrisi
1
penting bagi kehidupan dan kesehatan. Meskipun mengandung kholesterol, makanan ini rendah
kandungan lemak jenuh, merupakan sumber Niacin, Folate, dan Potassium yang baik, dan merupakan
sumber protein, Vitamin B12, Phosphorous, Zinc, Copper, dan Selenium yang sangat baik. Selenium
diyakini berperan dalam mencegah kanker dan pengrusakan kromosom, juga meningkatkan daya tahan
terhadap infeksi virus dan bakteri. Selain itu, Fisheries Research and Development Corporation di
Australia melaporkan bahwa dalam 100 gram daging kepiting baka mengandung 22 mg Omega-3 (EPA), 58
mg Omega-3 (DHA), dan 15 mg Omega-6 (AA) yang begitu penting untuk pertumbuhan dan kecerdasan
anak. Bahkan kandungan asam lemak penting ini pada rajungan lebih tinggi lagi. Dalam 100 gram daging
rajungan mengandung 137 mg Omega-3 (EPA), 90 mg Omega-3 (DHA), dan 86 mg Omega-6 (AA). Untuk
kepiting lunak/soka, selain tidak repot memakannya karena kulitnya tidak perlu disisihkan, nilai nutrisinya
juga lebih tinggi, terutama kandungan chitosan dan karotenoid yang biasanya banyak terdapat pada kulit.

Bukan hanya dagingnya yang mempunyai nilai komersil, kulitnyapun dapat ditukar dengan dollar. Kulit
kepiting diekspor dalam bentuk kering sebagai sumber chitin, chitosan dan karotenoid yang dimanfaatkan
oleh berbagai industri sebagai bahan baku obat, kosmetik, pangan, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut
memegang peran sebagai antivirus dan anti bakteri dan juga digunakan sebagai obat untuk meringankan
dan mengobati luka bakar. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai bahan pengawetmakanan.

Bila ingin menjadikan kepiting sebagai komoditas andalan maka penangkapan dari alam saja tidaklah
cukup. Bahkan penangkapan yang berlebihan dapat mengancam kelestarian hewan ini. Karena itu,
budidaya adalah pilihan yang tepat. Ada beberapa teknologi yang mendukung kegiatan budidaya tersebut,
yakni: pembenihan, pembesaran, penggemukan, produksi kepiting bertelur, dan produksi kepiting
lunak/soka.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu adanya suatu teknologi pembesaran kepiting bakau. Hal ini
sangat penting dan utama dalam rangka memanfaatkan lahan yang tidak produktif untuk meningkatkan
pendapatan dan taraf hidup masyarakat. Karena komoditas kepiting bakau mempunyai prospek yang cerah,
mempunyai nilai ekonomis tinggi dan sangat laku dipasaran dalam negeri dan luar negeri.

TEKNOLOGI BUDIDAYA PEMBESARAN KEPITING BAKAU

1. Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi tambak yang tepat sangat menentukan keberhasilan dan kelanjutan usaha budidaya
kepiting bakau. Oleh karena itu, penetapan lokasi untuk usaha pembesaran kepiting bakau harus
dipertimbangkan secara matang. Setiap lokasi mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Dengan
kata lain, tidak ada lokasi yang sempurna. Apakah lokasi tersebut memadai bagi kegiatan pembesaran
kepiting bakau dan dapat digolongkan ke dalam prasana fisik dan penunjang. Faktor faktor yang perlu
dikaji dalam menentukan suatu lokasi yang akan dijadikan lokasi pembesaran kepiting bakau

2. Desain Tambak Kepiting Bakau

Menurut Iskandar (2002), teknik pembesaran kepiting bakau adalah sebagai berikut :

A. Petakan Tambak

2
Petakan tambak didesain berdasarkan kondisi dan sifat perairan (sungai), di samping faktor biologis,
fisik, ekonomi, dan sosial. Di samping itu, tingkah laku dan sifat biologis kepiting bakau juga
diperhitungkan dalam membuat konstruksi tambak, terutama pematang/tanggul dan pintu air. Luas
satu unit tambak sekitar 5 - 10 hektar yang terdiri atas 2 petakan pembesaran dan 2 petakan kecil untuk
kepiting yang mengalami pergantian kulit (moulting,). Luas untuk petakan kecil cukup 5 m2. Untuk
menjaga kepiting dan serangan hama, penyakit, pencemaran air, dan untuk rnemudahkan pemanenan,
maka setiap petakan sebaiknya rnempunyai pintu air sendiri. Untuk itu, pertambakan kepiting
memerlukan saluran pembagi air yang dapat mensuplai dan mengatur volume air yang diperlukan dalam
tambak.

B. Tanggul (Pematang)

Bahan penyusun pematang sangat penting diperhatikan dalam mendesain tambak, karena pematang
berfungsi menahan massa air dalam tambak dan melindungi tambak dan tekanan air dari luar akibat
banjir atau penggenangan air pasang.

C. Pemagaran Tanggul

Pemagaran tanggul dapat menggunakan pagar bambu atau waring yang ditempatkan di sekeliling
pematang bagian dalam. Untuk mencegah kepiting melarikan diri melalui dasar pematang dengan
menggali tanah, maka pemagaran sebaiknya dimulai pada dasar pematang. Pagar ditanam sedalam 30
cm 40 cm dan usahakan jarak antara bilahan-bilahan bambu pada pagar tersebut tidak terlalu
renggang agar kepiting tidak bisa melarikan diri melewati celah-celah antar bilahan bambu tersebut.

Menurut Ahmad (1995), alternatif bentuk tambak yang bisa digunakan untuk pembesaran kepiting
adalah sebagai berikut:

a. Tambak tradisional ala Thailand

Di Thailand, tambak pembesaran sekaligus berfungsi sebagal tcmpat pembesaran dan pemeliharaan
larva. Dengan bangunan tambak seperti mi, penebaran benih hanya dilakukan sekali saja yaitu pada
awal pemeliharaan. Luas tambak sistem ini bisa mencapai 1 ha. SekelilIng tambak dipagar dengan
batang buloh (kalau di Indonesia bisa digunakan kayu bakau atau bambu) sctinggi 22,5 meter dan
pematang. Pematangnya dibuat sangat lebar untuk menghindari kepiting ini dengan cara
melubangi pematang. Batang buloh ditata rapat sehingga kepiting tidak mungkin lolos keluar.
Pagar ini sekaligus berfungsi sebagai pagar pengaman dan gangguan luar.

b. Keramba bambu

3
Keramba bambu digunakan oleh petani untuk menggemukkan kepiting atau menghasilkan
kepiting bertelur penuh. Keramba bambu dibuat dari bilah bambu yang disusun seperti kere dan
dibuat kotak berukuran 25 cm x 20 cm x 25 cm.

Pada sisi panjang yang bersebelahan dirangkai dengan bambu utuh. Satu unit keramba bambu bisa
berukuran 2 mx 1 m atau 3 m x 2 m. Pemasangan keramba untuk seperti memasang keramba ikan
di sungai yang dangkal.

c. Jaring apung

Pembesaran kepiting juga dapat dilakukan dalam jaring apung. Selain untuk pembesaran, Jaring
apung juga cocok untuk membuat kepiting betina bertelur penuh. Model jaring apung ini termasuk
model budidaya komersial dengan padat modal. Bangunannya dilengkapi dengan perumahan
pegawai dan kantor. Di setiap sudut dipasang penerangan instalasi listrik untuk mempermudah
pengawasan. Bahan bahan yang diperlukan dalam pembuatan jaring apung antara lain : kayu
untuk kerangka jaring, blug untuk pelampung dan tali plastik untuk jaring apung. Ukurannya
sekitar 3x3 m. Disekitarnya dilengkapi pamatang kayu untuk memudahkan memberi pakan. Bagian
bawah pelampung diberi alas dari kayu, sehingga pelampung terangkai dalam kerangka yang kuat.

3. Persiapan Tambak

Kegiatan persiapan tambak meliputi beberapa subkegiatan, antara lainpengeringan tanah dasar,
pemupukan, pengapuran, dan pengisian air.

A. Perbaikan Konstruksi

4
Kegiatan perbaikan konstruksi meliputi perbaikan pematang yang bocor,saluran air, pintu air, dan
konstruksi lainnya. Di samping itu, endapan lumpur yang terlalu dalam tebal di saluran kering
(caren) perlu dikeruk.

B. Pengeringan Tanah Dasar

Pengeringan tanah dasar tambak bertujuan untuk menyuburkan tanah sehingga pertumbuhan
makanan alami terutama klekap terjamin. Pengolahan dan pengeringan tambak dapat juga
dimaksudkan untuk mnghi1angkan berbagai senyawa sulfida (H2S) dan senyawa - senyawa beracun
lainnya, seperti Ammonia (NH3).

C. Pemupukan

Pemupukan dilakukan untuk menumbuhkan klekap. Oleh karcna itu, sebaiknya tanah dasar yang
sudah kering ditaburi dedak (500 kg/ha), kemudian diberi pupuk kandang atau kompos (1000
kg/ha) dan diairi sedalam 5 cm 10 cm. Kemudian, dasar tambak ditebari pupuk organik (urea 15
kg/ ha) dan TSP 75 kg/ha. Setelah tumbuh klekap (sekitar seminggu setelah pemupukan), secara
berangsur-angsur tinggi air dinaikkan dan pada saat demikian kepiting muda sudah dapat ditebarkan.

D. Pengapuran

Salah satu hal yang juga diperlukan dalam budidaya kepiting adalah pengapuran. Seperti halnya
udang, kepiting memerlukan kapur dalarn proses pergantian kulit. Pengapuran juga berguna untuk
menaikkan pH tambak yang rendah, mengikat CO2. yang herlebihan karena proses pembusukan
dan pemapasan, dan mempercepat proses penguraian bahan organik. Jumlah kapur yang diperlukan
tergantung pada pH tambak. Tambak - tambak di daerah hutan bakau biasanya memiliki pH rendah
(4,0 5,0) sehingga membutuhkan kapur dalam jumlah banyak (3.000 6.000 kg/ha batu kapur
bakar, CaO). Kapur ini diberikan pada waktu pengolahan tanah dengan cara mengaduk-aduknya
hingga tercampur merata dengan lumpur tanah dasar tambak sedalam 10 cm. Pemberian pupuk
sebaiknya dilakukan 1 2 minggu sekali setelah pengapuran.

E. Pengairan

Persyaratan untuk kualitas air yang perlu diperhatikan untuk menunjang kehidupan kepiting bakau
adalah suhu, salinitas dan pH. Suhu yang sesuai untuk menunjang pada kehidupan kepiting bakau
adalah 23C 32C, tanpa ada perubahan yang cukup berarti. Salinitas berkisar antara 15 30
, dan pH berkisar antara 7,2 - 7,8 (Susanto, 2008).

Berdasarkan daur hidupnya di alam, Kepiting Bakau (Scylla spp) dalam menjalani kehidupannya
diperkirakan melewati berbagai kondisi perairan. Pada saat pertama kali kepiting ditetaskan, suhu air
laut umumnya berkisar 25 C 27 C dan salinitas 29 33 ppt. Secara gradual, salinitas dan suhu
air ke arah pantai akan semakin rendah. Kepiting muda yang baru berganti kulit dari megalopa yang
memasuki muara sungai dapat mentoleransi salinitas air yang rendah (10 24 ppt) dan suhu diatas
10C. Kebiasaan kepiting mentoleransi suhu dan salinitas ini merupakan pedoman untuk
memodifikasi air pemeliharaan jika kepiting tersebut dibudidayakan dan dibenihkan. Namun,
kisaran suhu dan salinitas yang dapat ditoleransi kepiting bervariasi, tergantung pada keadaan suhu
dan salinitas perairan ketika kepiting bakau tersebut beruaya (Iskandar, 2002).

5
Menurut Iskandar (2002), persyaratan kualitas air untuk budidaya adalah Salinitas 15 30 ppt, pH
6,5 8,5, bebas dari pencemaran dan pengaruh banjir, dapat terjangkau pasang surut dan dekat
dengan saluran air untuk memudahkan dalam pergantian air, tekstur tanah lumpur liat berpasir
(sandy loam) dengan kandungan pasir kurang dari 20 % atau liat berlumpur (mud loam) dan tidak
bocor (porous).

4. Penebaran Benih

Sebelum benih kepiting dipelihara di tambak pembesaran, dianjurkan agar seluruh benih ditempatkan
terlebih dahulu pada petak-petak penyesuaian (aklimatisasi) selama jangka waktu tertentu (sekitar satu
bulan). Selama waktu tersebut, benih kepiting diharapkan sudah dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan perairan tambak. Di samping itu, ukuran kepiting sudah bertambah besar, sehingga bila
dimasukkan ke dalam tambak tingkat kematiannya rendah.

Petak-petak tambak untuk penyesuaian (adaptasi) sebaiknya dibuat dari bahan semen berukuran kecil
(sekitar 1520 m2), dengan dinding yang licin. Dasar tambak berlumpur dengan tebal 5 15 cm yang
dicampur dengan pasir pantai dan kedalaman air 30 - 50 cm. Petak-petak tambak ini tidak memerlukan
penghawaan (aerasi), tetapi cukup diberi aliran air yang dimasukkan dari dasar tambak.

Pengontrolan air pada musim panas dapat dilakukan melalui penggantian air dengan pompa atau sipon
dan sebagian atau seluruhnya diberi peneduh. Padat penebaran benih Kepiting Bakau (Scylla spp) pada
tambak pembesaran tergantung dari ukuran benih. Benih yang mempunyai lebar karapas 2 3 cm
dengan berat 40 80 gram dapat ditebar dengan padat penebaran 20.000 ekor/ha (Iskandar, 2002).

Selain itu menurut Ahmad (1995), ada beberapa macam cara budidaya pembesaran yang dapat
dilakukan dalam budidaya kepiting antara lain adalah pembesaran di tambak bambu dan pembesaran
ala Thailand. Budidaya pembesaran kepiting bakau di tambak bambu, benih yang digemukkan adalah
kepiting yang berukuran 250 300 gr/ekor. Setiap kotak bambu hanya diisi 1 ekor kepiting. Selain tu,
ada lagi budidaya pembesaran kepiting ala Thailand yaitu dengan cara penebaran benih hanya 1 kali
yaitu pada saat awal usaha di mulai. Benih yang digunakan rata rata bobot badannya 100 gr/ekor.
Jumlah benih yang ditebar adalah 2 ekor/m.

5. Pakan Kepiting Bakau (Scylla spp)

Selama pemeliharaan kepiting (Scylla spp) diberikan pakan ikan rucah, daging kerang, dan hancuran
daging siput. Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan, yang dapat dilihat dari sisa
pakan yang tidak termakan. Jika pakan dimakan seluruhnya, maka pemberian pakan selanjutnya
sebaiknya ditambah. Namun jika banyak sisa pakan yang tertinggal didasar tambak, maka dosis pakan
sebaiknya dikurangi. Sisa pakan jangan dibiarkan berada didasar tambak terlalu lama karena dapat
mempengaruhi kualitas air tambak (Iskandar, 2002).

Pada pembesaran ala Thailand setiap hari Kepiting Bakau (Scylla spp) diberi pakan ikan rucah sebanyak
0,5 % dari total bobot tubuhnya. Pemberian pakan pada budidaya ini lebih sedikit karena pakan alami
banyak terdapat di kolam pemeliharaan. Untuk budidaya pemeliharaan di karamba bambu, pakan yang
diberikan adalah ikan rucah atau pakan buatan dengan dosis pemberian 3 5 % dari bobot kepiting per
hari (Ahmad, 1995).

6
Masa pemeliharaan penggemukan kepiting bakau relatif singkat atau juga tergantung dari awal
penebaran bibit. Untuk bibit ukuran 100 gram dalam masa pemeliharaan 1,5 2 bulan sudah bisa
mencapai ukuran konsumsi (34 ekor/kg). Namun apabila awal sudah mempunyai berat lebih dari 200
gram, maka masa pemeliharaan bisa lebih singkat. Petani memanen kepiting bakau dilakukan secara
selektif yaitu dengan cara memancing dan memisahkannya antara kepiting bakau yang sangat gemuk
dan yang telah mengalami matang gonad atau matang telur. Kepiting bakau yang sedang matang telur
mempunyai harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Kepiting bakau sebelum diikat
diletakkan ke dalam air bersih beberapa saat. Setelah itu kepiting bakau baru diikat kakinya dengan tali
raffia atau karet, kemudian dimasukkan ke dalam keranjang atau tempat lainnya yang diberi alas bawah
dan penutup atasnya dari handuk atau kain basah sebagai pelembab. Sehingga dengan demikian, kulit
kepiting bakau tidak dapat mengeras kembali sampai dikonsumsi.

PENUTUP

Kepiting bakau diekspor dalam bentuk segar/hidup, beku, maupun dalam kaleng. Di luar negeri, kepiting
merupakan menu restoran yang cukup bergengsi. Dan pada musim-musim tertentu harga kepiting melonjak
karena permintaan yang juga meningkat terutama pada perayaan-perayaan penting. Negara yang menjadi
tujuan ekspor kepiting bukan hanya Amerika tetapi juga Cina, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan,
Malaysia, dan sejumlah negara di kawasan Eropa.

Bukan hanya dagingnya yang mempunyai nilai komersil, kulitnyapun dapat ditukar dengan dollar. Kulit
kepiting diekspor dalam bentuk kering sebagai sumber chitin, chitosan dan karotenoid yang dimanfaatkan
oleh berbagai industri sebagai bahan baku obat, kosmetik, pangan, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut
memegang peran sebagai anti virus dan anti bakteri dan juga digunakan sebagai obat untuk meringankan
dan mengobati luka bakar. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai bahan pengawet makanan.

Selama ini untuk memenuhi permintaan eksportir kepiting bakau sebagian besar masih mengharapkan
penangkapan dari alam, dan sebagian kecil saja yang baru terpenuhi. Apabila hanya semata-mata
mengharap penangkapan dari alam tanpa memikirkan kelestariannya. Maka lambat laun populasi kepiting
bakau akan dikhawatirkan punah. Dari hal tersebut, maka perlu dilakukan upaya teknologi budidaya
pembesaran kepiting bakau yang tepat. Sehingga lahan tambak yang tidur menjadi produktf, menjaga
kelestarian sumberdaya alam, dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Soim, 1995. Pembesaran Kepiting. Cetakan ke-2. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta. 61 halaman.
Iskandar Kana, 2002. Budidaya Kepiting Bakau. Cetakan ke-5. Penerbit Kanisius. Yogyakatra. 79 halaman.
Susanto, 2008. Penyusunan Metode dan Prosedur A Susanto Edisi Kedelapan. Bandung: Lingga Jaya, 2007.
Yushinta, Fujaya. 2007. Mempersiapkan Kepiting Menjadi Komoditas Andalan. acced 11 Maret 2009.