You are on page 1of 33

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP MEDIS

A. Definisi
Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) merupakan suatu keadaan di mana
didapatkan kelebihan hormon tiroid karena ini berhubungan dengan suatu
kompleks fisiologis dan biokimiawi yang ditemukan bila suatu jaringan
memberikan hormon tiroid berlebihan.
Hipertiroidisme adalah keadaan tirotoksikosis sebagai akibat dari produksi
tiroid, yang merupakan akibat dari fungsi tiroid yang berlebihan. Hipertiroidisme
(Hyperthyrodism) adalah keadaan disebabkan oleh kelenjar tiroid bekerja secara
berlebihan sehingga menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan di dalam darah.
Krisis tiroid merupakan suatu keadaan klinis hipertiroidisme yang paling berat
mengancam jiwa, umumnya keadaan ini timbul pada pasien dengan dasar
penyakit Graves atau Struma multinodular toksik, dan berhubungan dengan faktor
pencetus: infeksi, operasi, trauma, zat kontras beriodium, hipoglikemia, partus,
stress emosi, penghentian obat anti tiroid, ketoasidosis diabetikum, tromboemboli
paru, penyakit serebrovaskular/strok, palpasi tiroid terlalu kuat.
1. Apakah itu tiroid ?
Kelenjar Tiroid adalah sejenis kelenjar endokrin yang terletak di bagian bawah
depan leher yang memproduksi hormon tiroid dan hormon calcitonin.
2. Hormon Tiroid
Hormon yang terdiri dari asam amino yang mengawal kadar metabolisme
Penyakit Grave, penyebab tersering hipertiroidisme, adalah suatu penyakit
otoimun yang biasanya ditandai oleh produksi otoantibodi yang memiliki kerja
mirip TSH pada kelenjar tiroid. Otoantibodi IgG ini, yang disebut
immunooglobulin perangsang tiroid (thyroid-stimulating immunoglobulin),
meningkatkan pembenftukan HT, tetapi tidak mengalami umpan balik negatif dari
kadar HT yang tinggi. Kadar TSH dan TRH rendah karena keduanya berespons
terhadap peningkatan kadar HT. Penyebab penyaldt Grave tidak diketahui namun
tampaknya terdapat predisposisi genetik terhadap penyakit otoimun, Yang paling
sering terkena adalah wanita berusia antara 20an sampai 30an.
Gondok nodular adalah peningkatan ukuran kelenjar tiroid akibat peningkatan
kebutuhan akan hormon tiroid. Peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid terjadi
selama periode pertumbuhan atau kebutuhan metabolik yang tinggi misalnya pada
pubertas atau kehamilan. Dalarn hal ini, peningkatan HT disebabkan oleh
pengaktivan hipotalamus yang didorong oleh proses metabolisme tubuh sehingga
disertai oleh peningkatan TRH dan TSH. Apabila kebutuhan akan hormon tiroid
berkurang, ukuran kelenjar tiroid biasanya kembali ke normal. Kadang-kadang
terjadi perubahan yang ireversibel dan kelenjar tidak dapat mengecil. Kelenjar
yang membesar tersebut dapat, walaupun tidak selalu, tetap memproduksi HT
dalm jumlah berlebihan. Apabila individu yang bersangkutan tetap mengalami
hipertiroidisme, maka keadaan ini disebut gondok nodular toksik. Dapat terjadi
adenoma, hipofisis sel-sel penghasil TSH atau penyakit hipotalamus, walaupun
jarang.

B. ETIOLOGI
Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau
hipotalamus. Peningkatan TSH akibat malfungsi kelenjar tiroid akan disertai
penurunan TSH dan TRF karena umpan balik negatif HT terhadap pelepasan
keduanya.
Hipertiroidisme akibat rnalfungsi hipofisis memberikan gambamn kadar HT
dan TSH yang finggi. TRF akan Tendah karena uinpan balik negatif dari HT dan
TSH. Hipertiroidisme akibat malfungsi hipotalamus akan memperlihatkan HT
yang finggi disertai TSH dan TRH yang berlebihan.
a) Penyakit Graves
Penyakit ini disebabkan oleh kelenjar tiroid yang oberaktif dan merupakan
penyebab hipertiroid yang paling sering dijumpai. Penyakit ini biasanya
turunan. Wanita 5 kali lebih sering daripada pria. Di duga penyebabnya adalah
penyakit autonoium, dimana antibodi yang ditemukan dalam peredaran darah
yaitu tyroid stimulating.
b) Immunogirobulin (TSI antibodies), Thyroid peroksidase antibodies (TPO) dan
TSH receptor antibodies (TRAB). Pencetus kelainan ini adalah stres,
merokok, radiasi, kelainan mata dan kulit, penglihatan kabur, sensitif terhadap
sinar, terasa seperti ada pasir di mata, mata dapat menonjol keluar hingga
double vision. Penyakit mata ini sering berjalan sendiri dan tidak tergantung
pada tinggi rendahnya hormon teorid. Gangguan kulit menyebabkan kulit jadi
merah, kehilangan rasa sakit, serta berkeringat banyak.
c) Toxic Nodular Goiter
Benjolan leher akibat pembesaran tiroid yang berbentuk biji padat, bisa satu
atau banyak. Kata toxic berarti hipertiroid, sedangkan nodule atau biji itu tidak
terkontrol oleh TSH sehingga memproduksi hormon tiroid yang berlebihan.
d) Minum obat Hormon Tiroid berlebihan
Keadaan demikian tidak jarang terjadi, karena periksa laboratorium dan
kontrol ke dokter yang tidak teratur. Sehingga pasien terus minum obat tiroid,
ada pula orang yang minum hormon tiroid dengan tujuan menurunkan badan
hingga timbul efek samping.
e) Produksi TSH yang Abnormal
Produksi TSH kelenjar hipofisis dapat memproduksi TSH berlebihan,
sehingga merangsang tiroid mengeluarkan T3 dan T4 yang banyak.
f) Tiroiditis (Radang kelenjar Tiroid)
Tiroiditis sering terjadi pada ibu setelah melahirkan, disebut tiroiditis pasca
persalinan, dimana pada fase awal timbul keluhan hipertiorid, 2-3 bulan
kemudian keluar gejala hpotiroid.
g) Konsumsi Yoidum Berlebihan
Bila konsumsi berlebihan bisa menimbulkan hipertiroid, kelainan ini biasanya
timbul apabila sebelumnya si pasien memang sudah ada kelainan kelenjar
tiroid.

C. Klasifikasi
1. Goiter Toksik Difusa (Graves Disease)
Kondisi yang disebabkan, oleh adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh
dimana zat antibodi menyerang kelenjar tiroid, sehingga menstimulasi
kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid terus menerus.
Graves disease lebih banyak ditemukan pada wanita daripada pria, gejalanya
dapat timbul pada berbagai usia, terutama pada usia 20 40 tahun. Faktor
keturunan juga dapat mempengaruhi terjadinya gangguan pada sistem
kekebalan tubuh, yaitu dimana zat antibodi menyerang sel dalam tubuh itu
sendiri.
2. Nodular Thyroid Disease
Pada kondisi ini biasanya ditandai dengan kelenjar tiroid membesar dan tidak
disertai dengan rasa nyeri. Penyebabnya pasti belum diketahui. Tetapi
umumnya timbul seiring dengan bertambahnya usia.
3. Subacute Thyroiditis
Ditandai dengan rasa nyeri, pembesaran kelenjar tiroid dan inflamasi, dan
mengakibatkan produksi hormon tiroid dalam jumlah besar ke dalam darah.
Umumnya gejala menghilang setelah beberapa bulan, tetapi bisa timbul lagi
pada beberapa orang.
4. Postpartum Thyroiditis
Timbul pada 5 10% wanita pada 3 6 bulan pertama setelah melahirkan dan
terjadi selama 1 -2 bulan. Umumnya kelenjar akan kembali normal secara
perlahan-lahan

D.Patofisiologi
Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves, goiter toksika.
Pada kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai
tiga kali dari ukuran normalnya, disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan-
lipatan sel-sel folikel ke dalam folikel, sehingga jumlah sel-sel ini lebih meningkat
beberapa kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar. Juga, setiap sel
meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat dengan kecepatan 5-15
kali lebih besar daripada normal.
Pada hipertiroidisme, kosentrasi TSH plasma menurun, karena ada sesuatu
yang menyerupai TSH, Biasanya bahan bahan ini adalah antibodi
immunoglobulin yang disebut TSI (Thyroid Stimulating Immunoglobulin), yang
berikatan dengan reseptor membran yang sama dengan reseptor yang mengikat
TSH. Bahan bahan tersebut merangsang aktivasi cAMP dalam sel, dengan hasil
akhirnya adalah hipertiroidisme. Karena itu pada pasien hipertiroidisme kosentrasi
TSH menurun, sedangkan konsentrasi TSI meningkat. Bahan ini mempunyai efek
perangsangan yang panjang pada kelenjar tiroid, yakni selama 12 jam, berbeda
dengan efek TSH yang hanya berlangsung satu jam. Tingginya sekresi hormon
tiroid yang disebabkan oleh TSI selanjutnya juga menekan pembentukan TSH
oleh kelenjar hipofisis anterior.
Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid dipaksa mensekresikan hormon hingga
diluar batas, sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel-sel sekretori kelenjar
tiroid membesar. Gejala klinis pasien yang sering berkeringat dan suka hawa
dingin termasuk akibat dari sifat hormon tiroid yang kalorigenik, akibat
peningkatan laju metabolisme tubuh yang diatas normal. Bahkan akibat proses
metabolisme yang menyimpang ini, terkadang penderita hipertiroidisme
mengalami kesulitan tidur. Efek pada kepekaan sinaps saraf yang mengandung
tonus otot sebagai akibat dari hipertiroidisme ini menyebabkan terjadinya tremor
otot yang halus dengan frekuensi 10-15 kali perdetik, sehingga penderita
mengalami gemetar tangan yang abnormal. Nadi yang takikardi atau diatas normal
juga merupakan salah satu efek hormon tiroid pada sistem kardiovaskuler.
Eksopthalmus yang terjadi merupakan reaksi inflamasi autoimun yang mengenai
daerah jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokuler, akibatnya bola mata
terdesak keluar.

E. MANIFESTASI KLINIS

1. Peningkatan frekuensi denyut jantung

2. Peningkatan tonus otot, tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan terhadap


Katekolamin

3. Peningkatan laju metabolisme basal, peningkatan pembentukan panas,


intoleran terhadap panas, keringat berlebihan

4. Penurunan berat, peningkatan rasa lapar (nafsu makan baik)

5. Peningkatan frekuensi buang air besar

6. Gondok (biasanya), yaitu peningkatan ukuran kelenjar tiroid


7. Gangguan reproduksi

8. Tidak tahan panas

9. Cepat letih

10. Tanda bruit

11. Haid sedikit dan tidak tetap

12. Pembesaran kelenjar tiroid

13. Mata melotot (exoptalmus)

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosa bergantung kepada beberapa hormon berikut ini :
Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan
memastikan diagnosis keadaan dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf
pusat atau kelenjar tiroid.
1. TSH(Tiroid Stimulating Hormone)
2. Bebas T4 (tiroksin)
3. Bebas T3 (triiodotironin)
4. Diagnosa juga boleh dibuat menggunakan ultrabunyi untuk memastikan
pembesaran kelenjar tiroid
5. Tiroid scan untuk melihat pembesaran kelenjar tiroid
6. Hipertiroidisme dapat disertai penurunan kadar lemak serum
7. Penurunan kepekaan terhadap insulin, yang dapat menyebabkan
hiperglikemia.

G.Komplikasi
Komplikasi hipertiroidisme yang dapat mengancam nyawa adalah krisis
tirotoksik (thyroid storm). Hal ini dapat berkernbang secara spontan pada pasien
hipertiroid yang menjalani terapi, selama pembedahan kelenjar tiroid, atau terjadi
pada pasien hipertiroid yang tidak terdiagnosis. Akibatnya adalah pelepasan HT
dalam jumlah yang sangat besar yang menyebabkan takikardia, agitasi, tremor,
hipertermia (sampai 106 oF), dan, apabila tidak diobati, kematian
Penyakit jantung Hipertiroid, oftalmopati Graves, dermopati Graves,
infeksi karena agranulositosis pada pengobatan dengan obat antitiroid. Krisis
tiroid: mortalitas

H.Penatalaksanaan
1. Konservatif
Tata laksana penyakit Graves
a. Obat Anti-Tiroid. Obat ini menghambat produksi hormon tiroid. Jika dosis
berlebih, pasien mengalami gejala hipotiroidisme.Contoh obat adalah
sebagai berikut :
1) Thioamide
2) Methimazole dosis awal 20 -30 mg/hari
3) Propylthiouracil (PTU) dosis awal 300 600 mg/hari, dosis maksimal
2.000 mg/hari
4) Potassium Iodide
5) Sodium Ipodate
6) Anion Inhibitor
b. Beta-adrenergic reseptor antagonist. Obat ini adalah untuk mengurangi
gejalagejala hipotiroidisme. Contoh: Propanolol
Indikasi :
1) Mendapat remisi yang menetap atau memperpanjang remisi pada
pasien muda dengan struma ringan sedang dan tiroktosikosis
2) Untuk mengendalikan tiroktosikosis pada fase sebelum pengobatan
atau sesudah pengobatan yodium radioaktif
3) Persiapan tiroidektomi
4) Pasien hamil, usia lanjut
5) Krisis tiroid
Penyekat adinergik pada awal terapi diberikan, sementara menunggu pasien
menjadi eutiroid setelah 6-12 minggu pemberian anti tiroid. Propanolol dosis 40-
200 mg dalam 4 dosis pada awal pengobatan, pasien kontrol setelah 4-8 minggu.
Setelah eutiroid, pemantauan setiap 3-6 bulan sekali: memantau gejala dan tanda
klinis, serta Lab.FT4/T4/T3 dan TSHs. Setelah tercapai eutiroid, obat anti tiroid
dikurangi dosisnya dan dipertahankan dosis terkecil yang masih memberikan
keadaan eutiroid selama 12-24 bulan. Kemudian pengobatan dihentikan , dan di
nilai apakah tejadi remisi. Dikatakan remisi apabila setelah 1 tahun obat antitiroid
di hentikan, pasien masih dalam keadaan eutiroid, walaupun kemidian hari dapat
tetap eutiroid atau terjadi kolaps.
2. Surgical
a. Radioaktif iodine.
Tindakan ini adalah untuk memusnahkan kelenjar tiroid yang hiperaktif
b. Tiroidektomi.
Tindakan Pembedahan ini untuk mengangkat kelenjar tiroid yang
membesar
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas pasien
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama,
pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa,= alamat, jenis kelamin, status
perkawinan, dan penanggung biaya.
2. Riwayat Sakit dan Kesehatan
a. Keluhan utama
Pasien merasa perutnya tidak enak dan sering buang air besar dengan
konsistensi cair.
b. Riwayat penyakit saat ini
c. Riwayat penyakit dahulu
d. Riwayat penyakit keluarga
Dalam keluarga klien tidak ada yang memiliki riwayat penyakit
hipertiroid.
3. Pengkajian pola fungsional (Gordon)
4. Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )
a. Pernafasan B1 (breath)
sirkulasi kolaps, syok (krisis tirotoksikosis), frekuensi pernafasan
meningkan,dipneu,dipsneu,dan edema paru.
b. Kardiovaskular B2 (blood)
hipertensi, aritmia, palpitasi, gagal jantung, limfositosis, anemia,
splenomegali, leher membesar
c. Persyarafan B3 (brain)
Bicaranya cepat dan parau, gangguan status mental dan perilaku, seperti:
bingung, disorientasi, gelisah, peka rangsang, delirium,
psikosis, stupor, koma, tremor halus pada tangan, tanpa tujuan, beberapa
bagian tersentak sentak, hiperaktif refleks tendon dalam (RTD).
d. Perkemihan B4 (bladder)
oligomenorea, amenorea, libido turun, infertil, ginekomasti
e. Pencernaan B5 (bowel)
Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan
banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah.
f. Muskuloskeletal/integument B6 (bone)
rasa lemah, kelelahan
5. Data Laboratorium
a. Tes ambilan RAI : Meningkat pd penyakit graves & toksik goiter
noduler,menurun pada tiroiditis
b. T4 dan T3 serum : meningkat (normal : T3 = 26-39 mg, T4 = 80-100 mg)
c. T4 dan T3 bebas serum : meningkat
d. TSH : tertekan dan tidak bereson pd TRH
e. Tiroglobulin : meningkat
f. Stimulasi TRH : dikatakan tiroid jika TRH tidak ada sampai meningkat
setelah pemberian TRH
g. ikatan protei iodiun : meningkat
h. gula darah : meningkat (sehubungan dengan kerusakan andrenal)
i. kortisol plasma : turun (menurunnya pengeluaran pada andrenal)
j. pemeriksaan fungsi heper : abnormal
k. elektrolit : hiponatrenia mungkin sebagai akibat dari respon andrenal atau
efek dilusi dalam tera cairan pengganti. Hipoklemia terjadi dengan
sendiranya pada kehilangan melalui gastrointestinal dan diuresis
l. katekolamin serum : menurun
m. kreatinin urine : meningkat
n. EKG : fibrilasi atrium, waktu sistolik memendek, kardiomegali

B. Diagnosa
1. Resiko tinggi teradap penurunan curah jantung berhubungan dengan
hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban
kerja jantung.
2. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan
kebutuhan energy.
3. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan peningkatan metabolism (eningkatan nafsu makan atau pemasukan
dengan penurunan berat badan ).
4. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis; status hipermetabolik.
5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhanpengobatan
berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.

C. INTERVENSI
N Diagnosa Tujuan dan
Intervensi
o keperawatan Kriteria Hasil
1. Resiko tinggi teradap Klien akan 1) Pantau tekanan darah pada
penurunan curah mempertahanka
jantung b/d n curah jantung posisi baring, duduk dan
hipertiroid tidak yang adekuat
berdiri jika memungkinkan.
terkontrol, keadaan sesuai
2) Perhatikan besarnya tekanan
hipermetabolisme, dengankebutuh
peningkatan beban an tubuh. nadi
kerja jantung.
3) Periksa kemungkinan

adanya nyeri dada atau

angina yang dikeluhkan

pasien.

4) Auskultasi suara nafas,

perhatikan adanya suara yang

tidak normal (seperti krekels)

5) Observasi tanda dan gejala

haus yang hebat,mukosa

membran kering, nadi

lemah, penurunan produksi

urine dan hipotensi

2 Kelelahan Kelelahan tidak 1) Pantau tanda-tanda vital dan


berhubungan dengan
terjadi catat nadi baik saat istirahat
hipermetabolik
maupun saat melakukan
dengan peningkatan
kebutuhan energy aktivitas.

2) Catat berkembangnya

takipnea, dipsnea, pucat saat


sianosis

3) Berikan/ciptakan lingkungan

yang terang

4) Sarankan pasien pasien

untuk mengurangi aktivitas

dan meningkatkan aktivitas

dan meningkatkan istirahat

ditempat tidur sebanyak-

banyaknya jika

memungkinkan

5) Berikan tindakan yang

membuat pasien nyaman

seperti sentuhan/ massase,

bedak sejuk.

6) Berikan obat sesuai indikasi :

sedatif

(fenobarbital/luminal),transq

uilizer misal

klordiazepoxsida (librium).

3 Risiko tinggi Penurunan 1) Auskultasi bising usus


terhadap perubahan nutrisi tidak
2) Catat dan laporkan adnya
nutrisi kurang dari terjadi.
kebutuhan anoreksia kelemahan umum/
berhubungan dengan nyeri abdomen mual
peningkatan
muntah.
metabolism
(eningkatan nafsu 3) Pantau masukan makanan
makan atau setiap hari. Timbang berat
pemasukan dengan
badan setiap hari serta
penurunan berat
badan ). laporkan adanya penurunan

berat badan

4) Konsultasikan dengan ahli

gizi untuk memberikan diit

tinggi kalori, tinggi protein,

karbohidrat dan vitamin

5) Berikan obat sesuai indikasi :

glukosa, vitamin B

kompleks.

4 Ansietas Ansietas tidak 1) Observasi tingkah laku yang


berhubungan dengan terjadi.
menunjukan tingkat ansietas.
faktor fisiologis;
2) Pantau respon fisik,
status
hipermetabolik. palpitasi, gerakan yang

berulang-ulang,

hiperventilasi, insomnia.

3) Kurangi stimulasi dari luar :

tempatkan pada ruangan


yang tenang

4) Terangkan bahwa

pengendalian emosi itu harus

tetap diberikan sesuai dengan

perkembangan terapi obat.

5) Berikan obat ansietas

(transquilizer,sedatif) dan

pantau efeknya.

5 Kurang pengetahuan Klien akan 1) Tinjau ulang proses penyakit


mengenai kondisi, melaporkan
dan harapan masa
prognosis dan pemahaman
depanberdasarkan informasi
kebutuhanpengobata tentang
n berhubungan penyakitnya 2) Berikan informasi yang tepat
dengan tidak dengan
3) Identifikasi sumber stress
mengenal sumber kriteria :
4) Tekankan pentingnya
informasi. Mengungkapka
n pemahaman perencanaan waktu istirahat
tentang
5) Berikan informasi tanda dan
penyakitnya
gejala dari hipotiroid

D.EVALUASI
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan
yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan
pelaksanaan sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat
untuk memonitor kekurangan yang terjadi saat tahap pengkajian, analisa,
perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Pada pasien hipertiroid evaluasi bisa yang
diharapkan adanya perbaikan status nutrisi, memperlihatkan koping yang efektif
dalam menghadapi keluarga, sahabat dan teman. Mencapai peningkatan diri,
mempertahankan suhu tubuh yang normal dan tidak terdapat komplikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, M.E dan Moorhouse, M.F. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, ed 3.
Jakarta: EGC.

Greenspan, Francis S. dan Baxter, John D. 2000. Endokrinologi Dasar &

Ismail. Askep Klien Hipertiroidisme.

Kumar, dkk. 2007. Buku Ajar Patologi, vol 2. Jakarta: EGC.

Price, S.A dan Wilson, LM. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, vol 2. Jakarta: EGC.

Semiardji, Gatut. 2003. Penyakit Kelenjar Tiroid. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Guyton, Arthur C. & John E. Hall, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9,
Editor: Irawati Setiawan, EGC, Jakarta.
KASUS

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
a. Nama : Ny. Y
b. Umur : 26 tahun
c. Agama : Islam
d. Pendidikan terakhir : SD
e. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
f. Status perkawinan : sudah menikah
g. Alamat : Jl. Dusun Mega Jaya Pontianak
2. Keluhan Utama
Sesak (+), badan sebelah kanan terasa lemah (+), sakit sudah 4 hari
3. Riwayat penyakit sekarang
Klien mengatakan pusing kepala pada saat mau ke WC, mata terasa berputar
putar dan pemandangan gelap. Badan terasa panas, S: 38,3 oC
4. Riwayat Kesehatan dahulu
Klien mengatakan bahwa tidak pernah mengalami penyakit DM, Hemoroid
dan penyakit hipertensi.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pada saat di data klien dan keluarga tidak pernah mengalami penyakit yang
sering yaitu demam dan batuk biasa.
6. Keadaan lingkungan yang mempengaruhi timbulnya penyakit
Lingkungan rumah klien sangat bersih, perkarangan rumah dimanfaatkn untuk
bercocok tanam.
7. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola persepsi dan tata tertib laksana kesehatan
Klien bisanya minum teh setiap pagi dan klien jarang berolahraga
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Sebelum sakit
Klien mengatakan makan 3 kali sehari dengan komposisi nasi, lauk, dan
sayur. Klien biasanya menghabiskan 1 porsi makanan yang
disediakan.nafsu makan baik dan minum 6 8 gelas perhari.
Saat sakit
Klien mengatakan makan 1 kali sehari dan menghabiskan 3 sendok makan
dari porsi makanan yang disediakan di rumah sakit dan minum klien hanya
bisa menghabiskan 2-3 gelas sehari.
c. Pola Eliminasi
Sebelum sakit
Klien mengatakan BAK lancar tidk ada rasa sakit 4 5 x sehari berwarna
kuning pekat dan BAB 2 x / hari dengan kosisten lunak.
Saat Sakit
Klien mengatakan BAK 2-3 x/hari, selama di rumah sakit klien tidak ada
BAB.
d. Pola aktivitas dan kebersihan diri
Sebelum sakit
Klien mengatakan beraktivitas secara mandiri dan mandi 2 -3 x hari
dengan menggunakan sabun dan shampo, menggosok gigi 2x / hari dengan
menggunakan pasta gigi.
Saat Sakit
Klien mengatakan mandi hanya di lap lap saja oleh keluarga dan klie
beraktivitas dibantu perawat dan keluarga.
e. Pola istirahat tidur
Sebelum sakit
Klien mengatakan tidur malam 6 7 jam/hari dan tidur siang 1-2 jam/hari.
Saat sakit
Klien mengatakan tidur siang lebih dari 2 jam tetapi sering terbangun..
f. Pola Kognitif dan persepsi sensori
Klien sehari hari menggunakan bahsa melayu. Dapat mengikuti instruksi
perawat/dokter dengan baik.
g. Pola Konsep diri
Gambaran diri : klien menyukai seluruh anggota tubuhnya.
Ideal diri : klien ingin cepat sembuh dan ingin pulang
Harga diri : klien menerima penyakit yang dideritanya
Peran diri : klien seorang ibu dari satu anaknya
Identitas diri : klien seorang anak perempuan dari tiga bersaudara.
h. Pola hubungan peran
Hubungan klien dengan keluarga serta tetangganya harmonis, komunikai
klien dengan perawat/dokter dapat berkomunikasi dengan baik.
i. Pola fungsi seksual
Klien mengatakan tidak mengalami masalah dalam fungsi seksual
j. Pola mekanisme Koping
Klien orangnya ceria, mudah bergaul dan klien dengan keluarganya sangat
baik, klien memecahkan masalahnya dengan membicarakn pada
kelurganya.
k. Pola nilai Kepercayaan
Sebelum sakit
klienmengatakan dirinya beragama Islam dan berada di rumahnya klien
beraktivitas dan melakukan ibadah sembahyang
Saat sakit
Klien mengatakan di rumah sakit hanya dapat berdoa dalam hati saja.
8. Pemeriksaan fisik
a. Status kesehatan umum
1) Keadaan umum : Lemah
2) Kesadaran : composmetis
3) Nilai GCS :15
E:4 (membuka mata dengan spontan)
M:6 (menurut sesuai perintah)
V:5 (tepat menjawab/ orientasi penuh)
4) Tanda tanda vital
Suhu : 38,3 oC
Nadi : 88 x/mnt
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Pernafasan : 24 x /mnt
Tinggi Badan : 120/70 cm
Berat badan sebelum sakit : 48 Kg
Berat badan saat sakit : 45 Kg
b. Sistem pernafasan
Inspeksi : bentuk hidung simetris, membran mukosa berwarna merah muda,
tidak terdapat sekret, pengembangan dada simetris, frekuensi nafas 24x/menit
Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan pada isnus maksilaris dan frontalis
ekspansi dinding dada kiri dan kanan sama.
c. Sistem kardioaskuler
Inspeksi : tidak terlihat getar jantung
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : tidak terdengar suara pekak
Auskultasi : terengar suara S1 dan S2 (lub dub) irama reguler
d. Sistem persyarafan
Syaraf olfaktorius : klien dapat membedakan bau buan dengan baik
Syaraf optkus : penglihatan klien normal
Syaraf okulanotorius : gerakan bola mata normal
Syaraf trochlearis : klien dapat menelan minum dengan baik
Syaraf abdusen : gerakan bola mata kiri dan kanan normal
Syaraf fasialis : klien dapat melakukan perintah dengan baik seperti
mengerutkan dahi
Syaraf auskustikus : tidak ada masalah dengan pendengaran.
Syaraf glosofarigius : dapat membdakan berbagai macam rasa seperti manis,
atau pahit
Syaraf vagus : klien dapat menelan
Syaraf aksesorius : kontraksi otot leher dan bahu normal
Syaraf hipoglosus : pergerakan lidah normal.
e. Sistem pencernaan
Inspeksi : bentuk mulut simetris, mukosa bibir kering, tidak terdapat lesi atau
stomatitis, lidah berwarna merah muda.
Auskultasi: gerakan peristaltik usus normal
Palpasi : terdpat nyeri tekan
Perkusi : bunyi normal(timpani)
f. Sistem muskuloskeletal
Inspeksi : tidak ada odema pada bagian kiri terpasang inus RL 20 tpm
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : tidak ada nyeri tekan
g. Sistem perkemihan
Alat genetalia bersih, urine berwarna kuning, ada nyeri tekan dantidak ada
keluhan saat BAK
h. Sistem integumen
Warna kulit sawo matang, turgor baik, kulit bersih, tidak ada penyakit kulit,
tekstur kulit elastis
i. Sistem endokrin
Inspeksi : tidak ada pembesaran kelnjar tyroid dan kelnjar limfa
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
j. Sistem reproduksi
Tidak terkaji berubungan dengan privasi klien
k. Sistem imunitas
Tidak terkaji
9. Data penunjang
Laboratorium
Hb 11,8 g/dl
Leukosit 5200 set/mm3
Eritrosit 4,1 juta/ mm3
Kolestreol total 208 mg/dl
10. Terapi
Tgl 12 05- 2014
Inj ceftriaxsone 2x1 g/iv /12 jam
Inj. Ranitidine 25 mg, 3x1/IV/8 jam
Tgl 13 05- 2014
Inj ceftriaxsone 2x1 g/iv /12 jam
Inj. Ranitidine 25 mg, 3x1/IV/8 jam
Tgl 14 05- 2014
IUFD RL 20 tpm + keterolac 3 mg + Ranitidine 25 mg + Tramadol 4 mg drip

Analisa Data
NO Symptom Etiologi Problem
1 DS : Klien mengatakan badan terasa Proses jalannya Hipertermi
panas penyakit
DO: - Klien tampak lemah
- S:38 ,3oC
- Mukosa bibir kering

2 DS: Klien mengatakan makan 1 x/ Anoreksia Ketidakseimbangan


hari pada saat pagi hari dengan 3 nutrisi kurang dari
sendok dari porsi makanan yang kebutuhan tubuh
disediakan
DO:- klien tampak lemah

3 DS: Klien mengatakan selama di Kelemahan Intoleransi Aktivitas


rumah sakit klien hanya berbaring Fisik
lemas di tempat tidur.
DO: Klien tampak lemah
Aktivitas klien dibantu oleh keluarga
Skala aktivitas 3 Kurang
4. DS:Klien mengatakan tidak Kurang pengetahuan
mengetahui tentang penyakit yang terpaparnya
dideritanya informasi
DO: Klien tampak bertanya - tanya tentang
penyakit

B. Diagnosa Keperawatan
Setelah dilakukan pengkajian dan analisa data, maka tahap selanjutnya adalah
perumusan diagnosa keperawatan. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul
pada klien Ny. N adalah sebagai berikut :
1. Hipertemi b/d proses jalannya penyakit
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia
3. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik
4. Kurangnya pengetahuan b/d kurang terpaparnya informasi tentang penyakit.

C. INTERVENSI
Pada tahap ini dirumuskan tujuan dan intervensi keperawatan berdasarkan
diagnosa keperawatan yang ada adalah sebagai berikut:
No Dx Tujuan dan kriteria Intervensi Rasional
keperawatan hasil
1. Hipertemi Setelah dilakukan 1. Berikan 1. Dapat membantu
b/d proses tindakan kompres air penurunan panas
jalannya keperawatan 3 x 24 hangat sesuai yang dialami klien
penyakit jam suhu tubuh kebutuhan 2. Kondisi tubuh
kembali normal 2. Anjurkan klien yang lembab
dengan KH: menggunakan memicu
1. Tidak ada tanda baju yang dapat pertumbuhan
tanda infeksi menyebabkan jamur
2. Mukosa bibir keringat 3. Membantu
lembab 3. Pertahankan menjaga suhu
3. S:37oC lingkungan yang tubuh klien agar
sejuk dalam keadaan
4. Kolaborasi normal
dengan tim 4. Membantu
medis dalam menurunkan suku
pemberian obat tubuh

2 Ketidakseimb Setelah di lakukan 1. Awasi 1. Untuk


angan nutrisi tindakan pemasukan diet menghindari
kurang dari keperawatan 2. Anjurkan klien mual muntah
kebutuhan selama 3x24 jam di makan sedikit 2. Meningkatkan
tubuh harapkan nutrisi tapi sering nafsu makan
klien tercukupi 3. Berikan Ht 3. Meningkatkan
dengan KH: tentang pengetahuan
1. Porsi makan pentingnya klien tentang
kembali normal nutrisi bagi nutrisi
2. Bb normal tubuh
3. Tidak 4. Kolaborasi 4. Memberikan
menunjukkan tanda dengan tim terapi yang tepat
tanda malnutrisi medis dalam bagi klien
pemberian obat
3. Intoleransi Setelah dilakukan 1. Observasi TTV 1. mengetahui
aktivitas b/d tindakan 2. Bantu dan latih keadaan umum
kelemahan keperawatan klien untuk klien
2. Meningkatkan
fisik selama 3x24 jam melakukan
asa percaya diri
diharapkan klien aktivitas /
klien dan
dapat melakukan gerakan
minimalkan
aktivitas dengan 3. Atur posis secara
resiko dekubitus
KH: periodik, sesuai
3. Perubahan posisi
- Klien dapat kondisi klien
menurunkan
melakukan aktifitas 4. Memahami klien
resiko komplikasi
sendirian untuk
akut
melakukan 4. Memberikan rasa
latihan percaya diri dan
memberikan
semangat agar
klien cepat
sembuh

4 Kurangnya Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat 1. Untuk mengetahui


pengetahuan tindakan pengetahuan pengetahuan
b/d kurang keperawatan 3x24 keluarga keluarga
terpaparnya jam keluarga klien 2. Memberikan 2. Agar keluarga
informasi mulai mengerti penyuluhan klien mengerti
tentang tentang penyakit kesehatan tentang tentang penyakit
penyakit. Hipertiroid dengan penyakit thypoid
K.H: hipertiroid
klien tidak bingung 3. Gali sumber- 3. Agar keluarga
lagi sumber dukungan klien lebih
Informasi sudah yang ada mengetahui
didapat tentang penyakit
thypoid

D.Pelaksanaan
N Dx keperawatan Tanggal/jam Implementasi paraf
O
1 Hipertemi b/d 12-5-2014 D : Klien mengatakan badan
proses jalannya terasa panas
penyakit A:- Memberikan kompres
hangat sesuai kebutuhan.
- menganjurkan klien
menggunakan baju yang dapat
menyerap keringat.
- Kolaborasi dengan tim medis
Ketidakseimbanga
dalam pemberian obat
n nutrisi kurang
R: - Klien tampak lemah
dari kebutuhan
- Klien merasa tubuhnya panas
tubuh b/d anoreksia
- S: 38,3oC

D: Klien mengatakan makan 1


x/ hari pada saat pagi hari
dengan 3 sendok dari porsi
Intoleransi aktivitas
makanan yang disediakan
b/d kelemahan
A: - mengawasi pemasukan diet
fisik
- menganjurkan klien makan
sedikit tapi sering
- memberikan HE tentang
pentingnya nutrisi bagi tubuh
- mengkolaborasi dengan tim
medis dalam pemberian obat
Kurangnya R: Klien tampak lemah
pengetahuan b/d - Klien hanya menghabiskan
kurang terpaparnya dari porsi makanan
informasi tentang
penyakit. D: Klien mengatakan tidak bisa
melakukan aktivitasnya sendiri
A: - mengkaji skala aktifitas
- Membantu klien melakukan
aktifitas
- Mendekatkan barang yang
diperlukan klien
R: - Skala aktivitas 3
- Aktivitas klien dibantu
Keluarga
- Klien hanya baring ditempat
tidur
D:Klien mengatakan tidak
mengetahui tentang penyakit
yang dideritanya
A: - kaji tingkat pengetahuan
klien
- Memberikan penyuluhan
kesehatan tentang hipertiroid
R: -klien masih bingung
- Keluarga Klien masih belum
mengerti tentang proses
penyakit klien

2 Hipertemi b/d 13-5-2014 D : Klien mengatakan badan


proses jalannya terasa panas
penyakit A:- berikan kompres hangat
sesuai kebutuhan.
- Anjurkan klien menggunakan
baju yang dapat menyerap
keringat.
- Kolaborasi dengan tim medis
Ketidakseimbanga
dalam pemberian obat
n nutrisi kurang
R: - Klien tampak lemah
dari kebutuhan
- Klien merasa tubuhnya tidak
tubuh b/d anoreksia
panas lagi
- S: 37oC

D: Klien mengatakan
Intoleransi aktivitas menghabiskan dari porsi
b/d kelemahan makanan yang disediakan
fisik A: - Anjurkan klien makan
sedikit tapi sering
- Berikan HE tentang
pentingnya nutrisi bagi tubuh
- Kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian obat
Kurangnya
R: - Klien tampak
pengetahuan b/d
menghabiskan dari porsi
kurang terpaparnya
makanan
informasi tentang
- Klien tampak kooperatif
penyakit.

D: Klien mengatakan tidak bisa


melakukan aktivitasnya sendiri
A: - mengkaji skala aktifitas
- Membantu klien melakukan
aktifitas
- Mendekatkan barang yang
diperlukan klien
R: - Skala aktivitas 2
- Klien sudah dapat duduk dan
mandi tapi dibantu keluarga
D:Klien mengatakan sudah
mengetahui tentang penyakit
yang dideritanya
A: - kaji tingkat pengetahuan
klien
- Memberikan penyuluhan
kesehatan tentang hipertiroid
R: -klien tampak mengerti
tentang penyakit hipertiroid
- Keluarga Klien sudah
mengerti tentang proses
penyakit klien dan
pengobatannya

3 Ketidakseimbanga 14-5-2014 D: Klien mengatakan


n nutrisi kurang menghabiskan dari porsi
dari kebutuhan makanan yang disediakan
tubuh b/d anoreksia A: - Anjurkan klien makan
sedikit tapi sering
- Berikan HE tentang
pentingnya nutrisi bagi tubuh
- Kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian obat
Intoleransi aktivitas
R: - Klien tampak
b/d kelemahan
menghabiskan 1 dari porsi
fisik
makanan
- Klien tampak kooperatif

D: Klien mengatakan tidak bisa


melakukan aktivitasnya sendiri
A: - mengkaji skala aktifitas
- Membantu klien melakukan
aktifitas
- Mendekatkan barang yang
diperlukan klien
R: - Skala aktivitas 1
- Klien sudah dapat duduk dan
mandi secara mandiri

E. Evaluasi
No Dx keperawatan Tanggal/jam Evaluasi paraf
1 Hipertemi b/d 12-5-2014 S : Klien mengatakan badan
proses jalannya terasa panas
penyakit O: - Klien tampak lemah
- S:38 ,3oC
- Mukosa bibir kering
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi dilanjutkan 1,2,3,4
I: - berikan kompres hangat
sesuai kebutuhan.
- menganjurkan klien
Ketidakseimbangan
menggunakan baju yang dapat
nutrisi kurang dari
menyerap keringat.
kebutuhan tubuh b/d
- Pertahankan linkungan yang
anoreksia
sejuk
- Kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian obat
E: -Klien tampak lemah
- Klien merasa tubuhnya panas
Intoleransi aktivitas
- S: 38,3oC
b/d kelemahan fisik

S: Klien mengatakan tidak


nafsu makan
O:- klien tampak lemah
- Klien tampak menghabiskan
dari porsi makanan yang
Kurangnya
disediakan
pengetahuan b/d
A: Masalah teratasi sebagian
kurang terpaparnya
P: Intervensi dilanjutkan
informasi tentang
1,2,3,4
penyakit.
I: -Awasi pemasukan diet
- Anjurkan klien makan sedikit
tapi sering
- Berikan HE tentang
pentingnya nutrisi bagi tubuh
- Kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian obat
S: Klien mengatakan selama di
rumah sakit klien hanya
berbaring lemas di tempat tidur.
O: -Klien tampak lemah
- Aktivitas klien dibantu oleh
keluarga
- Skala aktivitas 3
A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi dilanjutkan 1,2,3,
I: - mengkaji skala aktifitas
Membantu klien melakukan
aktifitas
Mendekatkan barang yang
diperlukan klien
E: - Skala aktivitas 3
- Aktivitas klien dibantu
keluarga
Klien hanya baring ditempat
tidur

S:Klien mengatakan tidak


mengetahui tentang penyakit
yang dideritanya
O: Klien tampak bertanya
tanya
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi dilanjutkan 1,dan
2
I: - kaji tingkat pengetahuan
klien
- Memberikan penyuluhan
kesehatan tentang hipertiroid
E:- klien masih bingung
- Keluarga klien masih belum
mengerti tentang proses
penyakit klien

2 Hipertemi b/d 13-5-2014 S : Klien mengatakan badan


proses jalannya terasa panas
penyakit O: - Klien tampak lemah
- S:37 oC
- Mukosa bibir lembab
Ketidakseimbangan
A: Masalah teratasi
nutrisi kurang dari
P: Intervensi dihentikan
kebutuhan tubuh b/d
anoreksia

S: Klien mengatakan sudah


nafsu makan
Intoleransi aktivitas
O:- klien tampak lemah
b/d kelemahan fisik
- Klien tampak menghabiskan
dari porsi makanan yang
disediakan
Kurangnya
A: Masalah teratasi sebagian
pengetahuan b/d
P: Intervensi dilanjutkan
kurang terpaparnya
1,2,3,4
informasi tentang
penyakit.

S: Klien mengatakan sudah


dapat duduk dan mandi tapi
masih dibantu oleh keluarga.
O: -Klien tampak lemah
- Aktivitas klien dibantu oleh
keluarga
- Skala aktivitas 2
A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi dilanjutkan 1,2,3

S:Klien mengatakan sudah


mengetahui tentang penyakit
yang dideritanya
O: Klien tidak bertanya tanya
lagi
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan.

3 Ketidakseimbangan 14-5-2014 S: Klien mengatakan sudah


nutrisi kurang dari nafsu makan
kebutuhan tubuh b/d O:- klien tampak segar
anoreksia - Klien tampak menghabiskan 1
dari porsi makanan yang
disediakan
Intoleransi aktivitas
A: Masalah teratasi
b/d kelemahan fisik
P: Intervensi dihentikan

S: Klien mengatakan sudah


duduk dan mandi secara
mandiri
O: -Klien melakukan
aktivitasnya secara mandiri
- Skala aktivitas 1
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan

E. EVALUASI