You are on page 1of 3

Bersama Matahari yang Tenggelam

Hari ini hari pertama masuk sekolah setelah sekian lama libur atas kelulusan. Aku masuk
OFF High School. OFF High School yaitu sekolah yang terkenal elit dengan orang-orang yang
terkenal langka-langka dengan berbagai sifat karakter.

Aku datang ke sekolah lebih pagi daripada biasanya. Berharap dapat keberkahan di pagi
pertamaku di sekolah ini.

BRUUKK!!

eetoo. Maaf maaf aku nggak se.


Apa sih nabrak-nabrak?! hash

Dan aku pun mendapatkan keberkahan itu.

Pagi ini begitu cerah, awan-awan sedang bersembunyi dan matahari pun bersinar cukup
terik. Burung-burung berkicau, seperti hatiku yang berkicau melihat gadis manis itu. Meski ia
terlihat seperti pemarah, namun tetap saja membuat hatiku berdegup kencang saat ituberharap
bertemu dengannyasekali lagi

Hudson-senpaaaii. Akhirnya bisa satu sekolah lagi deh .

Seperti biasa, adik kelasku dari SD ini selalu saja satu sekolah denganku, suaranya sudah sangat
ku kenali. Siapa lagi kalo bukan Michelle, anak kelas 1 yang selalu jadi adik kelas yang satu
sekolah denganku.

Nani Mi-chan? jawabku dengan malas. Tentu saja kali ini ia akan berharap mendapat lollipop
yang selalu ke berikan padanya setiap awal tahun.

Lolipopp!! jawabnya dengan senang. Nah kan, sudah ku duga. Ya ya.. aku pun segera
merogoh celanaku dan mengambil lolipop tersebut untuknya. Mi-chan sudah ku anggap sebagai
adikku sendiri. Mungkin karena memang ia selalu menempel padaku, dan sifatnya yang seperti
anak-anak itulah yang membuatku seperti berkewajiban untuk menjaganya.

Hari pertama sekolah sangatlah membosankan, yah seperti biasa hanya perkenalan,
pembagian jadwal pelajaran, pembagian jadwal piket dan tentunya ketua kelas. Coba tebak siapa
yang menjadi ketua kelas? Ya, itu akulagi -_- Lagi-lagi ini ulah Rookie, sahabatku sejak aku
kecil yang selalu saja menggodaku. Berita buruknya, ia sekelas lagi denganku di kelas 3-C.

Kaichou!!

Hentikan sapaan itu Rookie -_- Mengapa aku harus sekelas lagi denganmu sih?
Ayolah jangan begitu, nanti kau bisa kangen padaku lho kalau aku tidak sekelas denganmu

Justru aku terlalu bosan denganmu

Hudson-sama malu-malu deh mengakuinya

Terserah kau saja deh

Untung saja murid-murid sudah boleh pulang. Aku pun meninggalkan Rookie
secepatnya, sebelum ia menyadari bahwa aku meninggalkannya. Dalam perjalananku untuk
meninggalkan sekolah, aku melihat seseorang yang tidak asing lagi bagiku, ia sudah muncul di
berbagai media massa. Ia dikenal sebagai pemecah rekor ranking teratas di hampir semua game
favorit di Jepang. Siapa lagi kalau bukan Lucius kelas 2-F.

Suatu hari, ada seorang temannya yang membongkar isi tas Lucius. Kalian tahu apa yang
ia dapatkan di tas Lucius? Tentu saja game full serial terbaru, joypad, dan perkakas-perkakas
game lainnya yang tak ku mengerti. Bagaimana dengan buku? Lucius meninggalkannya di loker.
Lucius memang murid yang cerdas, hanya saja ia tidak rajin. Jika ia ingin rajin maka ia akan
sangat rajin jika dibandingkan dengan teman-temannya, namun jika ia sedang ingin malas maka
ia akan lebih malas dibandingkan dengan teman-temannya. Kalau orang baru saja mengenalnya,
ia akan tampak sperti pengangguran kelas atas.

Aku berjalan dalam senja, di tengah kesunyian yang ditemani dengan langit orange yang
terpapar dengan indah. Menelusuri jalan aspal, rumah-rumah dan taman. Ketika aku hendak
melewati taman, aku melihat seseorang yang ku kenal di sana.

Akhirnya aku bertemu dengannya sekali lagi.

Ia sedang duduk di taman, di atas rerumputan hijau yang segar, menatap matahari yang
akan tenggelam itu. Terlihat seperti benar-benar menghayatinya.

Hei, apa yang sedang kamu lakukan?

Hm? Eh Tidak ngapa-ngapain

Hanya melihat matahari yang akan tenggelam itu

Matahari tenggelam itu memang sangat indah

Ya, aku setuju Matahari itu terlihat lelah setelah menyinari bumi Dulu, ketika aku kecil aku
selalu melihat matahari ini bersama ibuku Namun, sekarang sudah tidak bisa

Tidak bisa? Mengapa?

Ia sudah meninggalkarena sakit jantung lemah


Aku turut berduka cita ya

Terimakasih Tapi, aku sangat merindukan hal itu

Aku melihatnya. Ada segelintir air di matanya. Ia menyibaknya, mungkin agar aku tidak
mengerti bahwa ia menangis. Aku menggenggam tangannya dengan sangat erat seperti hatiku
yang erat ingin tetap bersamanya. Ia melihatku dengan tatapan penuh arti, aku kurang mengerti
apa maksud dari tatapannya itu. Tak lama setelahnya aku merasakan ada air yang juga mengalir
di pipiku tentu dari mataku. Sepertinya aku bisa merasakan apa yang ia rasakan.

Aku bersyukur telah berbincang-bincang dengannya. Meski hingga sekarang aku tidak
tahu namanya, namun tak apa. Bersamanya ku lihat matahari yang tenggelam ini. Tapi, semoga
perasaanku tidak tenggelam terhadapnya. Ku harap..