You are on page 1of 9

Teknik Penambangan

Batu Bara

Minggu, 29 Maret 2015

KUALITAS BATUBARA
PENGENALAN UMUM

Batubara merupakan endapan organik yang mutunya sangat ditentukan oleh beberapa faktor
antara lain tempat terdapatnya cekungan , umur dan banyaknya kontaminasi. Didalam
penggunaannya perancangan mesin yang mempergunakan batubara sebagai bahan bakr harus
menyesuaikan dengan kualitas batubaranya agar mesin yang dipergunakan tahan lama.

Batubara merupakan bahan baku pembangkit energi yang dipergunakan untuk industri. Mutu
dari batubara akan sangat penting dalam mentukan peralatan yang dipergunakan. Untuk mengetahui
kualitas suatu batubara maka yang terlebih dahulu kita harus perhatikan adalah:

Komposisi kimia batubara

Sampling batubara

Analisa kimia batubara

Klasifikasi dan tingkatan batubara

Dari masing-masing unsur yang kita bicarakan diatas akan dibahas pada uraian dibawah ini.

I. KOMPOSISI KIMIA BATUBARA

Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan mati dengan komposisi utama dari cellulosa. Proses
pembentukan batubara atau coalification yang dibantu oleh faktor fisika, kimia alam akan merubah
cellulosa menjadi lignit, sub-bitomine, bitumine dan anthrasit. Reaksi pembentukan batubara dapat
digambarkan sebagai berikut :

5(C6H10O5) C20H22O4 + 3CH4 + 8CH2O + 6CO2 + CO

cellulosa lignit gas metan

5(C6H10O5) C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

cellulosa bitumine gas metan

keterangan :

cellulosa (zat organik) yang merupakan zat pembentuk batubara.

Unsur C dalam Lignit lebih sedikit dibanding bitumine.

Semakin banyak unsur C lignit semakin baik mutunya.


Unsur H dalam Lignit lebih banyak dibandingkan pada bitumine.

Semakin banyak unsur H Lignit makin kurang baik mutunya.

Senyawa CH4 (gas metan) dalam lignit lebih sedikit dibandingkan dalam bitumine.

Semakin banyak CH4 lignit semakin baik kualitasnya.

Gas-gas yang terbentuk selama proses coalification akan masuk kedalam celah
celah veinbatulempung dan ini sangat berbahaya. Gas yang sudah terakumulasi didalam celah vein.
Terlebih-lebih apabila terjadi kenaikan temperatur, karena tidak dapat keluar, sewaktu-waktu dapat
meledak dan terjadi kebakaran. Oleh sebab itu mengetahui bentuk deposit batubara dapat
menentukan cara penambangan yang akan dipilih dan juga meningkatkan keselamatan kerja.

III. ANALISA KIMIA BATUBARA


Analisa batubara banyak macammya, tetapi pada umumnya anlisa yang dipakai oleh
beberapa perusahaan hanya mengunakan parameter analisa Total Moisture, Proximate, Total Sulfur,
Caloric Value, dan Relative Density. Pada Perusahaan PT. Mahakam Sumber Jaya analisa yang
dipakai adalah TM, Proximate, TS, CV, RD, Ash Analysis, Ash Fusion Temperature, Ultimate, HGI dan
Major Trace Element Analysis, berikut akan kami terangkan satu demi satu.

III.1. TOTAL MOISTURE

Total moisture biasanya ditentukan pada batubara mulai dari explorasi sampaitransshipment.
Dalam explorasi, TM ditentukan untuk memperkirakan nilai TM batubara in-situsekaligus untuk
menentukan nilai surface moisturenya dari selisih antara TM dan EQM. Pada coal in bulk, nilai TM ini
dipengaruhi oleh

Luas permukaan batubara (size distribusi),

Cuaca

Coal Properties

Dalam penjualannya nilai TM sangat diperhatikan dan menentukan harga dari batubara
tersebut selain berpengaruh pada nilai parameter-parameter lain dalam basis as received

III.2.1. PROXIMATE
Analisa ini merupakan analisa standard yang digunakan berbagai perusahaan batubara untuk
menentukan qualitas dari suatu seam batubara pada suatu daerah. Rangkaian analisa ini
menghasilkan qualitas dari batubara meliputi IM, ASH,VM, FC, dan TS. Tetapi pada umumnya
suatu company menggolongkan analisis TM, IM, ASH, VM, FC, TS, CV, dan RD menjadi satu yaitu
analisis Proximate. Pembahasan dari masing-masing analysis akan diterangkan dibawah

III.2.2. MOISTURE

Moisture yang terdapat dalam batubara pada prinsipnya terdiri dari dua jenis yaitu Inherent
Moisture dan Extraneous Moisture. Inherent moisture nilainya relatif tetap, tidak fluktuatif dan tidak
terpengaruh oleh humiditas dan juga tidak dapat dihilangkan dengan air drying pada ambient
temperature. Inherent moisture ini hanya bisa dihilangkan dengan pemanasan dengan temperature
diatas 100 derajart Celsius. Sedangkan Extraneous moisture adalah moisture yang berasal dari luar
seperti dari air hujan, air siraman air genangan dan lain-lain. Moisture ini sering juga disebutsurface
moisture karena dianggap moisture ini hanya berada dipermukaan partikel batubara. Moisture ini ada
di dalam batabara setelah batubara terbentuk. Nilai dari moisture ini berubah-ubah sesuai dengan
perubahan humiditas dimana batubara tersebut berada.

Adapun faktor lain yang mempengaruhi naik turunnya nilai moisture ini adalah ;

1. Luas permukaan batubara

2. Banyaknya air yang tercurah kedalam batubara tersebut.

Total Moisture adalah jumlah dari kedua jenis moisture tersebut.

TM = IM + EM

Istilah TM. IM dan EM diatas adalah merupakan istilah pengertian atau filosofi bukan
merupakan istilah parameter.

Metoda penentuan moisture bermacam-macam jenis parameternya tergantung dari interpretasi


dari nilai moisture yang diinginkan. Beberapa contoh parameter dari moisture adalah sebagai berikut ;

Total Moisture (disebut juga ; as received moisture, as sampled moisture)

Air dried moisture (disebut juga ; Inherent moisture (AS standard), moisture in the analysis
sample, as determined moisture, as analysed moisture)

Equilibrium moisture (EQM) (disebut juga ; Inherent moisture(ASTM), in-situ moisture, bed
moisture, Moisture Holding Ccapacity (MHC dalam ISO) )

Transportable moisture / flow moisture.


Selain istilah-istilah moisture diatas yang merupakan parameter, ada juga istilah lain
yang merupakan tahapan penentuan TM yaitu Air dry loss moisture,free
moisture, dan residual moisture. Akan tetapi nilainya tidak biasa dilaporkan secara
individual melainkan dilaporkan sebagai gabungan yaitu sebagai Total moisture.

Didalam industri perbatubaraan nilai moisture merupakan parameter yang pasti ada
dalam transaksi jual beli batubara dan sangat diperhatikan dikarenakan oleh pengaruh
negative dari nilai moisture ini.

Pengaruh negative secara komersial adalah ;

1. Mengurangi volume batubara itu sendiri secara kuantitas

2. Menambah energy untuk menaikan temperature baik pada primary air maupun secondary airpada
saat injeksi PCI fuel dilakukan kedalam boiler. Biasanya hal ini terjadi apabila batubara yang
digunakan di Power station dengan cara injection.

3. Moisture adalah non combustible material dalam batubara bahkan sebaliknya ikut mengkonsumsi
panas pada saat batubara tersebut dibakar sehingga mengurangi panas yang dihasilkan dari
pembakaran batubara tersebut.

Untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh berkurang atau bertambahnya volume
batubara yang diakibatkan oleh naik turunnya moisture (no. 1), didalam kontrak jual beli batubara
biasanya selalu ada price adjusment yang seiring dengan naik turunya nilai moisture. Adjustmentnya
ada yang langsung ke kuantitas yaitu dengan mengkalkulasi pertambahan moisturesebagai volume
batubara yang hilang, sehingga dengan suatu formula akan didapat adjustment tonnase actual yang
akan dijadikan dasar pada paymentnya.

Ada pula adjustment langsung dengan pengurangan atau penambahan dasar harga per ton
batubara seiring dengan naik turunya moisture tersebut. Bahkan banyak juga yang menempatkan
nilai moisture ini dalam term rejection limit. Sedangkan untuk megurangi kesalahan perkiraan nilai
kalori yang dihasilkan didalam penggunaannya (no. 3), biasanya Buyer juga membuat spesifikasi nilai
kalorinya dalam basis NAR (Net as received) Karena nilai kalori dalam basis inilah yang lebih
mendekati ke actual kalori yang dihasilkan pada saat batubara tersebut dibakar.

Jadi jelaslah bahwa betapa berartinya nilai moisture dalam batubara terutama untuk tujuan
komersial. Tentu saja baik Seller maupun Buyer tidak ada yang mau dirugikan atas akibat negatif dari
nilai moisture ini. Kalau Buyer berusaha dengan membuat suatu spesifikasi yang ketat, sebaliknya
bagi Seller harus mengupayakan bagaimana caranya untuk mengurangi akibat dari moisture ini, baik
untuk mengkatrol harga dasar maupun untuk mencegah rejection yang akibatnya sangat fatal
bagi Seller. Selain itu juga untuk menjaga kesan yang baik dan kepuasan bagiCustomer dengan
memberikan kualitas yang sama atau paling tidak mendekati guarantee specification secara
konsisten.

III.2.3. ASH

Ash atau abu merupakan istilah umum sebagai sisa pembakaran.

Mineral dalam batubara digolongkan menjadi tiga kategori yaitu:


Mineral matter: unsur-unsur yang terikat secara organik dalam rantai carbon sebagai kation pengganti
hidrogen. Contoh Kalium dan sodium

Inherent ash: superfine discrete mineral yang masih dapat tertinggal dalam partikel batubara setelah
dihaluskan misalnya alumina dan besi

Extraneous ash: yang termasuk kedalam kategori ini adalah tanah atau pasir yang terbawa pada saat
penambangan batubara.

III.2.4. VOLATIL MATTER

Volatile matter adalah zat terbang yang terkandung dalam batubara.Zat yang terkandung
dalam volatile matter ini biasanya gas hidrokarbon terutama gas methane. Volaitile matter ini berasal
dari pemecahan struktur molekule batubara pada rantai alifatik pada temperature tertentu. Di
laboratorium penentuannya dengan cara memanaskan sejumlah batubara pada temperature 900
derajat Celsius.

Sifat dalam coal combustion, volatile matter memegang peranan penting karena ikut
menentukan sifat-sifat pembakaran seperti efisiensi pembakaran karbon atau carbon los on
ignition.Volatile matter yang tinggi menyebabkan batubara mudah sekali terbakar pada
saat injection ke dalam suatu boiler.

Volatile matter juga digunakan sebagai parameter dalam memprediksi keamanan batubara
pada Silo Bin, Miller atau pada tambang-tambang bawah tanah. Tingginya nilai volatile matter
semakin besar pula resiko dalam penyimpananya terutama dari bahaya ledakan.

III.2.5. FIXED CARBON

Fixed carbon adalah adalah parameter yang tidak ditentukan secara analisis melainkan
merupakan selisih 100 % dengan jumlah kadar moisture, ash, dan volatile matter.

Fixed carbon ini tidak sama dengan total carbon pada Ultimate.

Perbedaan yang cukup jelas adalah bahwa Fixed carbon merupakan kadar karbon yang pada
temperature penetapan volatile matter tidak menguap. total carbon yang ditentukan pada Ultimate
analysis merupakan semua carbon dalam batubara kecuali carbon yang berasal dari karbonat.

III.3. TOTAL SULFUR

Sulfur didalam batubara terdiri dari dua jenis yaitu

sulfur organik ada dalam batubara seiring dengan pembentukan batubara dan berasal dari tumbuhan
pembentuk batubara tersebut
sulfur anorganik. anorganik sulfur berasal dari lingkungan dimana batubara tersebut terbentuk. Ada
dua jenis sulfur anorganik yaitu

Pyritic sulfur dan

sulfat sulfur.

Dalam utilisasi di industri, sulfur yang tinggi dapat menimbulkan emisi SO2 yang
konsentrasinya tidak boleh tinggi karena dapat menyebabkan hujan asam. Selain itu SO2 juga
termasuk corrosive constituent bersama chlorine yang dapat merusak metal dalam boiler.

Analisa reguler yang ditentukan baik untuk explorasi, produksi, dan shipment adalah total sulfur
yang biasanya ditentukan dengan high temperature method

III.4. CALORIC VALUE

Nilai Kalori atau Calorific Value adalah jumlah unit panas yang dikeluarkan per unit bahan
bakar yang dibakar dengan oxygen, nitrogen dan oksida nitrogen, carbondioksida, sulfurdioksida, uap
air dan abu padat

Penentuan nilai kalori batubara yang digunakan di


sini adalah dengan alat Calorimeter dengan sistem Isoperibol. Alat ini
menggunakan siklus Isotermik, dimana secara komputerize, panas yang dihasilkan
dari pembakaran batubara dalam calorimeter tersebut dikonversikan ke dalam satuan Calori per
gram (Cal/g).

III.5. RELATIVE DENSITY

Relative Density adalah hasil yang didapatkan untuk mengetahui berat jenis batubara. Apabila
suatu seam memiliki hasil RD, kemudian dikalikan dengan ketebalan batubara akan didapatkan
tonase dari seam tersebut

III.6. ULTIMATE

Ultimate analysis adalah penentuan karbon dan hidrogen yang ada didalam material yang
diperoleh dan produk gas dari hasil combustion yang sempurna dan penentuan sulfur, nitrogen dan
abu yang ada didalam material, serta perhitungan kandungan oksigen.
Pada umumnya hasil analisis ini dilaporkan dengan basis daf atau dmmf. Unsur yang diperoleh;

karbon dan hidogen :

pembentuk utama bahan organik dalam batubara. Terlepas dalam bentuk CO2 dan H2O sewaktu
pembakaran. Akan tetapi CO2 ada juga dari karbonat dan H2O dari lempung

Nitrogen:

Berasosisisai hanya dengan bahan organi. Dapat memdorong terjadinya polusi bila batubara
terbakar.

Sulfur :

Terdapat dalam 3 bentuk yaitu

> Sulphur organik : terikat dengan bahan organik

> Sulfur piritik : bagian dari mineral sulphida

> Sulphat

Sulphur bermasalah sewaktu pemakaian, karena: korosi, fouling, polusi udara

Oksigen

Okigen pada batubara diperlukan dari 100% dikurangi jumlah persen karbon, hidrogen, nitrogen,
toatal sulfur dan abu.

III.7. ASH ANALYSIS

Ash pada umumnya terdiri dari ikatan dari logam Silikon, Aluminium, Besi dan Kalsium serta
kandungan lain yang lebih kecil seperti Titanium, mangan, magnesium, sodium dan potassiumdimana
semuanya terjadi dalam bentuk silicates, oksida, sulphida, sulfat dan phospat.

Element lain seperti arsen, copper, timbal, nikel, zinc dan uranium dapat dilaporkan dalam
jumlah yang sangat kecil.

Pengetahuan mengenai komposisi sebenarnya dari ash sangat penting untuk memprediksi
karakteristik dan behaviour batubara jika digunakan dalam berbagai aplikasi di dunia industri.

III.8. ASH FUSION TEMPERATURE


Ash Fusion Temperature menggambarkan karakteristik pelunakan dan pelelehan ash, dan
diukur menurut standar prosedur tertentu dengan cara pemanasan secara gradual terhadap sample
yang sudah disiapkan dalam bentuk cone untuk selanjutnya diamati profil perubahannya.

Temperatur dicatat pada sifat-sifat yang menunjukkan:

initial Deformation

Spherical

Hemispherical

Flow

III.9. HARDGROVE GRINDABILITY INDEX

Merupakan suatu bilangan yang dapat menunjukkan mudah sukarnya batubara digerus
menjadi bahan serbuk. Makin kecil bilangannya makin keras keadaan batubaranya. Harga hardgrove
indexuntuk batubara di Indonesia berkisar antara 35-60.