You are on page 1of 5

KEJANG DEMAM

I. DEFINISI

Kejang Demam (Febrile Convulsion) adalah kejang pada bayi atau anak-anak
yang terjadi akibat demam, tanpa adanya infeksi pada susunan saraf pusat
maupun kelainan saraf lainnya.

Seorang anak yang mengalami kejang demam, tidak berarti dia menderita
epilepsi karena epilepsi ditandai dengan kejang berulang yang tidak dipicu
oleh adanya demam.

Hampir sebanyak 1 dari setiap 25 anak pernah mengalami kejang demam dan
lebih dari sepertiga dari anak-anak tersebut mengalaminya lebih dari 1 kali.

Kejang demam biasanya terjadi pada anak-anak yang berusia antara 6 bulan-5
tahun dan jarang terjadi sebelum usia 6 bulan maupun sesudah 3 tahun.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang:

1. Usia ketika pertama kali terserang kejang demam (kurang dari 15 bulan)
2. Sering mengalami demam
3. Riwayat keluarga yang juga menderita kejang demam.
4. Jika kejang terjadi segera setelah demam atau jika suhu tubuh relatif
rendah, maka besar kemungkinannya akan terjadi kembali kejang demam.

Kejang demam bisa membuat orang tua cemas, tetapi sebetulnya tidak
berbahaya. Selama kejang berlangsung, ada kemungkinan bahwa anak akan
mengalami cedera karena terjatuh atau tersedak makanan maupun ludahnya
sendiri.

Belum bisa dibuktikan bahwa kejang demam bisa menyebabkan kerusakan otak.
Penelitian menunjukkan, anak-anak yang pernah mengalami kejang demam
memiliki prestasi dan kecerdasan yang normal di sekolahnya.

95-98% dari anak-anak yang pernah mengalami kejang demam, tidak berlanjut
menjadi epilepsi. Tetapi beberapa anak memiliki resiko tinggi menderita
epilepsi, jika:
- kejang demam berlangsung lama
- kejang hanya mengenai bagian tubuh tertentu
- kejang demam yang berulang dalam waktu 24 jam
- anak menderita cerebral palsy, gangguan pertumbuhan atau kelainan saraf
lainnya.
II. PENYEBAB

Penyebab yang pasti dari terjadinya kejang demam tidak diketahui.

Kejang demam biasanya berhubungan dengan demam yang tiba-tiba tinggi dan
kebanyakan terjadi pada hari pertama anak mengalami demam.
Kejang berlangsung selama beberapa detik sampai beberapa menit.

Kejang demam cenderung ditemukan dalam satu keluarga, sehingga diduga


melibatkan faktor keturunan (faktor genetik).
Kadang kejang yang berhubungan dengan demam disebabkan oleh penyakit lain,
seperti keracunan, meningitis atau ensefalitis.

Roseola atau infeksi oleh virus herpes manusia 6 juga sering menyebabkan
kejang demam pada anak-anak. Disentri karena Shigella juga sering menyebakan
demam tinggi dan kejang demam pada anak-anak.

III. GEJALA

Gejalanya berupa:
1. Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang tejradi secara
tiba-tiba)
2. Kejang tonik-klonik atau grand mal
3. Pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi
pada anak-anak yang mengalami kejang demam)
3. Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya
berlangsung selama 10-20 detik)
4. Gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama,
biasanya berlangsung selama 1-2 menit)
5. Lidah atau pipinya tergigit
6. Gigi atau rahangnya terkatup rapat
7. Inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadarannya)
8. Gangguan pernafasan
9. Apneu (henti nafas)
10.Kulitnya kebiruan.

Setelah mengalami kejang, biasanya:


akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit atau tertidur selama 1 jam
atau lebih
terjadi amnesia (tidak ingat apa yang telah terjadi) - sakit kepala
mengantuk
linglung (sementara dan sifatnya ringan).
Jika kejang tunggal berlangsung kurang dari 5 menit, maka kemungkinan
terjadinya cedera otak atau kejang menahun adalah kecil.

IV. PEMERIKSAAN FISIK

a. Vital Sign :

Keadaan Umum ; Sakit sedang


Tekanan darah : Hipotensi
Denyut Nadi : Takikardi
Respirasi : cheyne stoke
Suhu : Febris > 39 C
Kesadaran : Kompos mentis

b. Diagnostik Fisik
Kepala :
Wajah ; Pucat / Kebiruan
Reflek mata : positip / positip
Konjunctiva : anemis
Sklera : ikterik negatif
Mulut : Kering

Thorak ;
Cor :
Pulmo ;
o Inspeksi : hemitoraks
o Palpasi : gerakan paru dextra sinistra simetri
o Percusi : sonor
o Auscultasi: Pernapasan tidak teratur, Whezzing/
ronki ( - / - )
Abdomen :
Inspeksi ;
Bentuk : datar
Gambaran usus ( - )
Turgor kulit menurun ( dehidrasi )
Palpasi :
o Bising usus ; normal
o Hepar dan lien : tidak teraba
Perkusi :
o Tympani pada setiap regio
V. DIAGNOSA BANDING

1. Epilepsi
2. Meningitis
3. Ensefalitis
4. DHF
5. Demam Thypoid

Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya kejang pada seorang anak yang


mengalami demam dan sebelumnya tidak ada riwayat epilepsi. Suhu tubuh yang
diukur dengan cara memasukkan termometer ke dalam lubang dubur, menunjukkan
angka lebih besar dari 38,9 Celsius.

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah


1. EEG (perekaman aktivitas listrik di otak)
2. CT scan kepala
3. Pungsi lumbal
4. Pemeriksaan neurologis.

VII. PENGOBATAN

Orang tua sebaiknya tetap tenang dan mengawasi anaknya. Untuk mencegah
terjadinya cedera, sebaiknya anak dibaringkan di lantai atau tanah,
singkirkan benda-benda yang bisa melukai anak. Jangan menahan atau
menggendong anak selama kejang berlangsung.
Supaya tidak tersedak, baringkan anak dalam posisi miring atau telungkup.
Jangan memasukkan apapun ke dalam mulut anak karena bisa melukai dan
menyumbat saluran pernafasan.
Jika kejang berlangsung selama lebih dari 10 menit, anak harus segera dibawa
ke rumah sakit terdekat.

Untuk mengatasi demam bisa diberikan asetaminofen atau ibuprofen.


Aspirin sebaiknya tidak digunakan untuk mengobati demam pada anak-anak
karena resiko terjadinya sindroma Reye.

Penyebab demam harus diobati.


VIII. PENCEGAHAN

Kejang bisa terjadi jika suhu tubuh naik atau turun dengan cepat. Pada
sebagian besar kasus, kejang terjadi tanpa terduga atau tidak dapat dicegah.

Dulu digunakan obat anti kejang sebagai tindakan pencegahan pada anak-anak
yang sering mengalami kejang demam. Tetapi hal ini sekarang sudah jarang
dilakukan.
Kepada anak-anak yang cenderung mengalami kejang demam, pada saat mereka
menderita demam, bisa diberikan diazepam (baik yang melalui mulut maupun
melalui rektal).