You are on page 1of 45

PROPOSAL SKRIPSI

HUBUNGAN PERILAKU PEKERJA DALAM PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG

DIRI (APD) DENGAN FREKUENSI KECELAKAAN KERJA PT.SERBAPRIMA

TEKNINDOSEJAHTERA ENGGINERING

DISUSUN OLEH
RIAN KRISNA PRATIWI
2012-31-295

PROGRAM STUDI MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat-Nya kepada penulis
sehingga dapat menyelesaikan proposal skripsi dengan judul Hubungan Perilaku Pekerja
Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri Dengan Frekuensi Kecelakaan kerja ini sesuai
dengan yang direncanakan. Penulisan proposal skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu
persyaratan mengajukan skripsi. Pada kesempatan ini penulis memberikan ucapan terimakasih
kepada:
1. Ibu Aprilita Rina Yanti Eff, M.Biomed, Apt selaku Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Esa Unggul.
2. Ibu Intan Silviana M, SKM, MPH, selaku Ketua Jurusan Kesehatan Masyarakat
Universitas Esa Unggul
3. Ibu Titta Novianti, S.Si., M.Biomed Selaku Dosen Pembimbing Pertama dalam
penyelesaian proposal skripsi ini.
4. Ibu Mira Asmirajanti, S.Kp, M.Kep selaku Dosen Pembimbing Kedua dalam
penyelesaian proposal skripsi ini.
5. HRD PT. Serba Prima Teknindo yang telah memberikan ijin untuk melakukan
pengambilan data.
6. Ibu Yunita selaku Pembimbing Lapangan di Bagian K3
7. Para Staf K3 seluruhnya yang telah banyak membantu selama Pengambilan data untuk
skripsi.
8. Seluruh keluarga besar baik Ayah, Ibu, eyang, kakak, adik, serta teman-teman tercinta
yang senantiasa memberikan motivasi, nasehat dan doa untuk penulis.

Penulis menyadari bahwa pembuatan proposal skripsi ini jauh dari sempurna, oleh karena itu
saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi sempurnanya proposal
skripsi ini. Namun, penulis tetap berharap proposal skripsi ini akan bermanfaat bagi semua
pihak yang membacanya.
Jakarta, 11 Agustus 2016
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Perkembangan industri di Indonesia ini berlangsung sangat pesat seiring
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Proses industralisasi masyarakat Indonesia
makin cepat dengan berdirinya perusahaan dan tempat kerja yang beraneka ragam.
Perkembangan industry yang pesat ini diiringi pula oleh adanya risiko bahaya yang lebih
besar dan beraneka ragam karena adanya alih teknologi dimana penggunaan mesin dan
peralatan kerja yang semakin komplek untuk mendukung berjalannya proses produksi.
Hal ini menimbulkan masalah kesehatan dan keselamatan kerja (Novianto,2010)
Laporan ILO tahun 2008 menyatakan bahwa tiap tahun diperkirakan 1.200.000
jiwa pekerja meninggal karena kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Sementara
kerugian ekonomi akibat kecelakaan dan penyakit akibat kerja mencapai 4 persen dari
pendapatan perkapita tiap Negara (Menakertrans,2011)
Menurut mentri tenaga kerja dan transmigrasi Muhaimin Iskandar, selama 2010
Jamsostek mencatat terjadi kasus kecelakaan kerja sebanyak 98.711 kasus, sebanyak
2.191 tenaga kerja meninggal dunia dari kasus-kasus kecelakaan tersebut dan 6.667 orang
mengalami cacat permanen (Menakertrans,2011)
Menurut Direktur Jendral Pembinaan Pengamanan Ketenagakerjaan Kementerian
Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muji Handoyo, korban meninggal akibat kecelakaan
kerja di Indonesia termasuk tertinggi dibandingkan dengan negara-negara eropa maupun
negara ASEAN lainnya. Kalau dirata-rata dalam satu hari ada tujuh pekerja Indonesia
yang meninggal, menurut Muji, data ini diperoleh selama2010 dan di Indonesia ada
98.000 kasus kecelakaan kerja dengan korban meninggal dunia mencapai 1.200 orang.
Angka tersebut sangat mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan negara-negara di
eropa seperti jerman dan Denmark yang kecelakaan kerja dalam satu tahun bisa lebih dari
100.000 kasus, namun korban meninggal tidak lebih dari 500 orang (Wicaksono,2011)

Hal 1

Menurut Sumamur (2009), ada dua golongan penyebab kecelakaan kerja yaitu
faktor individu dan faktor lingkungan. Paparan dari kondisi lingkungan yang berbahaya
dan perilaku beresiko di area tempat kerja memunculkan upaya peningkatan terhadap
keselamatan yang terorganisir di lingkungan kerja.

Salah satu cara pengendalian resiko kecelakaan adalah dengan menggunakan alat
pelindung diri. Alat Pelindung Diri (APD) adalah seperangkatb alat keselamatan yang
digunakan oleh pekerja untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya dari
kemungkinan adanya pemaparan potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan
dan penyakit akibat kerja (Tarwaka,2008)
Terjadinya kasus kecelakaan kerja merupakan dampak dari paparan risiko yang
akan selalu ada di setiap tempat dan proses kerja, bahkan di setiap tempat kegiatan
manusia. Banyak sekali jenis resiko dan setiap resiko memiliki dampak yang berlainan.
Secara garis besar risiko terdiri dari risiko keselamatan kerja dan risiko kesehatan kerja.
Risiko keselamatan kerja biasanya bersifat akut (mendadak) dan menyebabakan
terjadinya cedera, sedangkan risiko kesehatan kerja biasanya bersifat kronik (paparan
jangka waktu lama) dan menyebabkan gangguan kesehatan pekerja (Syaaf,2008).
Kecelakaan kerja adalah kerjadian yang tak terduga dan tidak diharapkan, dimana
dalam peristiwa tersebut tidak terdapat unsur kesengajaan, terlebih lagi dalam bentuk
perencanaan. Tidak diharapkan oleh karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian
material maupun penderitaan yang paling ringan sampai kepada yang paling berat
(Sumamur,2009)
Angka kecelakaan di Indonesia memang paling banyak berada di sektor industri
jasa konstruksi. Data tahun 2011 kecelakaan kerja terbanyak tetap dari sektor jasa
konstruksi (lebih dari 30%), baru menyusul kemudian dari sector industry (selain
konstruksi) dan baru kemudian di sector transportasi 9dibawah 10%)
Dari hasil penelitian yang diperoleh suatu perusahaan konstruksi jumlah
responden yang tidak lengkap memakai alat pelindung diri dan mengalami kecelakaan
sebanyak 32 orang (70,4%), sedangkan yang lengkap memakai alat pelindung diri dan
mengalami kecelakaan kerja 13 orang (29,6%). Sedangkan pada unit composer jumlah
responden yang tidak lengkap memakai alat pelindung diri dan mengalami kecelakaan
kerja sebanyak 6 orang (66,7%), sedangkan yang lengkap memakai alat pelindung diri
dan mengalami kecelakaan kerja 3 orang (33,3%) (Muslimin,2012)
PT. Serbaprima Tekindosejahtera Rekayasa (PT. STE) merupakan salah satu
Perusahaan Kontraktor di Indonesia yang menyediakan jasa rekayasa espesiall untuk
cosntruksi mekanikal & elektrikal dan pemeliharaan. Sejak berdirinya ist pada tahun
1993, PT. STE telah mendedikasikan untuk reliabilitu dan qualiti kepada pelanggan dan
ist anak kuda adalah untuk mencapai kepuasan pelanggan melalui layanan terbaik.
Perusahaan ini termasuk kedalam perusahaan besar dengan tingkat resiko tinggi.
ini terlihat dari proses produksinya yang banyak menggunakan mesin-mesin berteknologi
tinggi sehingga menimbulkan potensi bahaya yang cukup banyak. Penerapan program K3
di perusahaan ini sudah dimulai sejak awal berdirinya perusahaan ini. Bagian
pelaksanaan program K3 sudah berjalan sebagaimana mestinya hal ini ditunjukan dengan
adanya peraturan perusahaan tentang pengunaan alat pelindung diri bagi para pekerja.
Tetapi kecelakaan kerja masih juga terjadi, kondisi pelaksanaan program K3
diperusahaan ini cukup menarik untuk diperhatikan, mengingat pada tahun 2012 saja
tejadi kecelakaan kerja sebanyak 23 kejadian dan pada tahun 2013 meningkat menjadi 25
kejadian.
Semua perusahaan yang pekerjaannya melibatkan keselamatan kerja karyawannya
pasti menginginkan zero-accident, yang berarti tidak adanya kecelakaan kerja yang
terjadi pada karyawan ditempat kerja. Akan tetapi berdasarkan uraian diatas, masih
terdapat kecelakaan kerja disetiap tahunnya dengan kata lain kurangnya perilaku
keselamatan karyawan pada PT. Serbaprima Teknindosejahtera Engginering.
Berdasarkan uraian diatas, maka diambil penelitian dengan judul :
Hubungan Perilaku Pekerja Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Dengan Frekuensi Kecelakaan Kerja di PT.SERBAPRIMA TEKNINDOSEJAHTERA
ENGGINERING

Hal 3

1.2 Identifikasi Masalah


Secara garis besar identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Masih tingginya angka kecelakaan kerja yang terjadi di perusahaan.
2. Pekerja konstruksi belum sepenuhnya menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
3. Kurangnya pengawasan dari pimpinan sehingga perilaku pekerja kemungkinan dapat
menimbulkan risiko kecelakaan kerja.
1.3 Pembatasan Masalah
Dari berbagai faktor yang dapat mempengaruhi frekuensi kecelakaan kerja,
peneliti membatasi variabel yang mempengaruhi frekuensi kecelakaan kerja berdasarkan
kemampuan peneliti yang ditinjau dari berbagai aspek, faktor yang akan diteliti adalah
perilaku pekerja dalam penggunaan alat pelindung diri dengan frekuensi kecelakaan
kerja.
1.4 Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Adakah Hubungan Perilaku
Pekerja Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri Dengan Frekuensi Kecelakaan Kerja di
PT. SERBAPRIMA TEKNINDOSEJAHTERA ENGGINERING

1.5 Tujuan Penelitian


1.5.1 Tujuan Umum
Mengetahui Hubungan Perilaku Pekerja Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri
Dengan Frekuensi Kecelakaan Kerja di PT.SERBAPRIMA TEKNINDOSEJAHTERA
ENGGINERING
1.5.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui perilaku pekerja dalam penggunaan alat pelindung diri (APD di PT.
SERBAPRIMA TEKNINDOSEJAHTERA ENGGINERING
2. Menganalisa frekuensi kecelakaan kerja di PT. SERBAPRIMA
TEKNINDOSEJAHTERA ENGGINERING.
3. Menganalisa hubungan perilaku pekerja dalam penggunaan alat pelindung diri (APD)
dengan frekuensi kecelakaan kerja di PT. SERBAPRIMA TEKNINDOSEJAHTERA
ENGGINERING.

1.6 Manfaat Penelitian


1.6.1 Bagi Instansi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan bagi pihak perusahaan sebagai
tambahan informasi, bahan evaluasi dan masukan untuk pekerja konstruksi khususnya
pada kegiatan perilaku penggunaan alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi resiko
kecelakaan kerja.
1.6.2 Bagi Peneliti
Sebagai aplikasi ilmu yang telah didapatkan selama mengikuti perkuliahan dan
menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman khususnya mengenai perilaku
penggunaan alat pelindung diri yang benar pada sektor jasa konstruksi.

1.6.3 Bagi FIKES Esa Unggul


Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan referensi tambahan
pengetahuan dan sebagai bahan masukan pengembangan keilmuan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja industri (K3i) dan masukan hasil penelitian di dunia kesehatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Perilaku

Ilmu perilaku (behavioral science) adalah adalah suatu istilah bagi


pengelompokkan yang mempunyai cangkupan luas. Termasuk di dalamnya
antropologi, sosiologi, dan psikologi. Kadang kala ilmu politik atau ekonomi juga
digolongkan ke dalam kelompok ilmu perilaku. Semuanya adalah bidang ilmu
yang bertujuan mengembangkan pemahaman mengenai kegiatan manusia, sikap
dan nilai-nilai. Setelah psikologi berkembang luas dan dituntut memiliki ciri-ciri
suatu disiplin ilmu pengetahuan maka jiwa dipandang terlalu abstrak. Sementara
itu, ilmu pengetahuan menghendaki objeknya bisa diamati, dicatat, dan diukur
(Joyce, 2004).
Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman
serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk
pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain perilaku merupakan respon
atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari
dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan : berpikir,
berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Sesuai dengan
batasan ini, perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai bentuk pengalaman dan
interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut
pengetahuan dan sikap tentang kesehatan. Perilaku aktif dapat dilihat, sedangkan
perilaku pasif tidak tampak, seprti pengetahuan, persepsi atau motivasi (Sarwono,
2004).

2.1.2. Determinan Perilaku


Faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi karena
perilaku merupakan resultansi dari berbagai faktor, baik internal maupun
eksternal (lingkungan). Secara lebih terinci perilaku manusia sebenarnya
merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan, seperti pengetahuan keinginan,
kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya. Namun demikian pada
realitasnya sulit dibedakan atau dideteksi gejala kejiwaan yang menentukan
perilaku seseorang. Apabila ditelusuri lebih lanjut, gejala kejiwaan tersebut
ditentukan atau dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, diantaranya adalah faktor
pengalaman, keyakinan, sarana fisik, sosio-budaya masyarakat dan sebagainya
(Notoatmodjo, 2003).
2.1.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pekerja
Menurut Lawrence Green (1980) mengungkapkan bahwa ada dua
determinan masalah kesehatan, yaitu behavioural factor (faktor perilaku) dan
non-behavioural factor (faktor non perilaku). Faktor perilaku sendiri ditentukan
oleh 3 faktor yaitu:
a. Predisposing factor (faktor-faktor predisposisi) adalah faktor yang
mempermudah atau mendahului terjadinya perilaku seseorang antara
lain: pengetahuan, persepsi, sikap, nilai, keyakinan, dan sebagainya
b. Enabling factor (faktor pemungkin) adalah faktor yang
memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku. Yang dimaksud
dengan faktor pemungkin adalah sarana dan prasana atau fasilitas
untuk terjadinya perilaku aman, seperti penyediaan APD dan peraturan
c. Reinforcing factor (faktor penguat) adalah faktor yang mendukung
atau memperkuat terjadinya perilaku yang terwujud dalam
pengawasan.

2.1.4. Faktor Predisposisi (Predisposing Factor)


2.1.4.1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah
individu melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
dan tes yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek
penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui
atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkat pengetahuan (Notoatmodjo,
2007).
Kurangnya pengetahuan seperti tidak cukupnya informasi yang
diterima, tidak apat dimengerti, tidak tahu kebutuhannya, tidak dapat
mengambil keputusan, serta tidak berpengalaman adalah alasan atau
penyebab seseorang melakukan perilaku tidak aman (Kristianto,2009).
Untuk melakukan perilaku kerja tidak aman, tidak cukup bila
hanya mengetahui prosedur kerja maupun bahaya yang mereka hadapi.
Perilaku kerja aman akan muncul pada saat pekerja ini sudah sampai pada
tahap memahami manfaat dari berperilaku kerja aman kemudian
menerapkannya dalam pola kerja sehari-hari (Pratiwi,2009).
Dalam pengertian lain, pengetahuan yang lebih menekankan
pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai pengetahuan
empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan
dengan melakukan pengamatan dan observasi yang dilakukan secara
empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang
menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan
menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris
tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman
pribadi manusia yang terjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang
sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan
mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi (Meliono,
Irmayanti, dkk. 2007).
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui
proses yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif,
maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting) daripada
perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang dalam hal ini pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif
mempunyai 6 tingkatan (Notoadmojo, 2003).
Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari
seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang
paling rendah.
Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang
telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap objek yang dipelajari.
Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan
hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam
konteks atau situasi yang lain.
Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja,
seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan,
memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-
formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat
merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan
sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah
ada.
Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang
ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah
ada.
2.1.4.2. Pengetahuan Pekerja yang Berhubunggan dengan kecelakaan kerja
Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2007:139) pengetahuan merupakan hasil
dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap
suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia
yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Penelitian ini berfokus pada pengetahuan pekerja tentang faktor yang
berhubungan dengan kecelakaan kerja, sehingga dapat diartikan bahwa
pengetahuan
pekerja adalah segala sesuatu yang diketahui dan dipahami oleh pekerja
tentang hal-hal yang berkaitan dengan kecelakaan kerja misalnya
pengetahuan tentang faktor risiko kecelakaan kerja, penyebab kecelakaan
kerja, akibat adanya kecelakaan kerja, upaya pencegahan kecelakaan kerja
dan faktor lainnya yang dapat menyebabkan
kecelakaan kerja.
2.1.4.3 Sikap
Sikap adalah respon yang tidak teramati secara langsung, yang
masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek (Notoatmojo,
2003). Newcomb dalam Notoatmodjo menyatakan bahwa sikap lebih
mengacu pada kesiapan dan kesediaan untuk bertindak, dan bukan
pelaksana motif tertentu. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang
mempengaruhi pembentukkan sikap dan pembentukan sikap ini lah yang
membuat pekerja memiliki sikap yang negatif dan positif.
Sikap adalah determinan perilaku, karena mereka berkaitan dengan
persepsi, kepribadian, dan motivasi. Sebuah sikap merupakan suatu
keadaan sikap mental, yang dipelajari dan diorganisasi menurut
pengalaman, dan yang menyebabkan timbulnya pengaruh khusus atas
reaksi seseorang terhadap orang-orang, objek-objek, dan situasi-situasi
dengan siapa ia berhubungan (Winardi, 2004).
Menurut Zimbardo dan Ebbesen, sikap adalah suatu predisposisi
(keadaan mudah terpengaruh) terhadap seseorang, ide atau obyek yang
berisi komponenkomponen cognitive, affective dan behavior (Ahmadi,
1999).
Terdapat tiga komponen sikap, sehubungan dengan faktor-faktor
lingkungan kerja sebagai berikut :
Afeksi (affect) yang merupakan komponen emosional atau
perasaan.
Kognisi adalah keyakinan evaluatif seseorang. Keyakinan-
keyakinan evaluatif, dimanifestasi dalam bentuk impresi atau
kesan baik atau buruk yang dimiliki seseorang terhadap objek atau
orang tertentu.
Perilaku, yaitu sebuah sikap berhubungan dengan kecenderungan
seseorang untuk bertindak terhadap seseorang atau hal tertentu
dengan cara tertentu (Winardi, 2004).
Tingkatan Sifat
Sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu:
Menerima (receiving), menerima diartikan bahwa subjek mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan.
Merespon (responding), memberikan jawaban apabila ditanya,
mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah
suatu indikasi dari sikap.
Menghargai (valuing), mengajak orang lain untuk mengerjakan
atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap
tingkat tiga.
Bertanggungjawab (responsible), bertanggungjawab atas segala
suatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap
yang memiliki tingkatan paling tinggi (Notoatmodjo, 2003).
2.1.4.4. Sikap Pekerja yang Berhubungan dengan Kecelakaan Kerja
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Berdasarkan pengertian
tersebut dapat dikatakan manifestasi sikap itu tidak dapat dilihat tetapi
hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap
secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap
stimulus tertentu yang dalam kehidupan keseharian merupakan reaksi
yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Soekidjo Notoadmodjo,
2007:142).
Menurut Allport dalam Soekidjo Notoatmodjo (2007:144) sikap
dibagi menjadi 3 komponen pokok, yaitu: (1) kepercayaan (keyakinan),
ide dan konsep terhadap suatu obyek, (2) Kehidupan emosional atau
evaluasi terhadap suatu objek dan (3). Kecenderungan untuk bertindak
(tend to behave). Ketiga komponen ini secara bersama membentuk sikap
yang utuh (total attitude). Sikap yang utuh ini di tentukan oleh;
pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting
seperti halnya pengetahuan.
Sikap terdiri dari empat tingkatan yaitu: (1) Menerima (receiving),
diartikan bahwa orang atau subyek mau dan memperhatikan stimulus yang
diberikan obyek; (2) Merespon (responding), indikasi dari sikap adalah
memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan
tugas yang diberikan; (3) Menghargai (valuing), indikasi dari menghargai
adalah mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu
masalah; dan (4) Bertanggung Jawab (responsible) atas segala sesuatu
yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang
paling tinggi dalam tingkatan sikap.
Pada penelitian ini sikap difokuskan pada sikap pekerja pada setiap
hal yang berkaitan dengan kecelakaan kerja. Sikap pekerja disini yaitu
suatu kecenderungan atau reaksi pekerja terhadap setiap hal yang
berkaitan dengan kecelakaan kerja baik dengan merespon yang sifatnya
positif atau negatif. Sikap pekerja dapat berupa sikap terhadap faktor
penyebab kecelakaan kerja, sikap terhadap risiko kecelakaan kerja yang
dapat dialaminya dan sikap terhadap upaya pencegahan kecelakaan kerja.

2.1.5. Faktor Pemungkin (Enabeling Factor)


2.1.5.1. Ketersediaan APD
Dalam UU No. 1 tahun 1970 pasal 14 butir c menyatakan bahwa pengurus
(pengusaha) diwajibkan untuk menyediakan secara cuma-cuma semua alat
perlindungan diri yang diwajibkan pada pekerja yang berada dibawah
pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki
tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan
menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli-ahli keselamatan kerja.
APD harus tersedia sesuai dengan risiko bahaya yang ada di tempat kerja.
Contohnya di pengelasan risiko bahaya yang ada seperti infrared dan
radiasi, maka APD yang harus digunakan adalah face shield dan goggles
untuk perlindungan mata dan wajah (Wentz, 1998).
2.1.5.2. Kenyamanan APD
APD adalah alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi
seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi pekerja dari
bahaya di tempat kerja. Karena itu adalah penting APD bisa digunakan
oleh pekerja secara nyaman dan tidak menimbulkan bahaya baru
(Imamkhasani, 1991).
Banyak alasan pekerja enggan menggunakan APD salah satunya adalah
karena faktor kenyamanan. Contohnya safety shoes yang terlalu kebesaran
atau kekecilan, tidak akan melindungi pekerja secara efektif namun tidak
menutup kemungkinan untuk muncul kejadian baru karena memakai
safety shoes yang tidak sesuai ukuran. Untuk memberikan perlindungan
yang baik maka pakaian harus pas dan sesuai. APD biasanya didisain
berdasarkan rata-rata ukuran orang Amerika Utara atau Eropa, dan akan
menjadi masalah jika digunakan oleh pekerja yang ukurannya berada
diatas atau dibawah ukuran tersebut (Rosskam, 1996).
Perlindungan yang efektif hanya dapat dicapai melalui kecocokan alat,
kesesuaian alat, perawatan APD dan digunakan dengan tepat. Yang
menjadi masalah lain dalam penggunaaan APD adalah keterbatasan
pergerakan dan penglihatan serta penambahan beban dari berat APD yang
dibawa (Mokhtar, 1992).
Faktor yang mempengaruhi pekerja menggunakan APD antara lain:
Manajemen telah memberi contoh dengan menggunakan APD
yang benar
Mudah, nyaman, dan kesenangan menggunakan APD
Mengerti akan kegunaan APD
Berkurangnya masalah ekonomi dan kedisiplin karena
menggunakan APD
Diterima oleh pekerja lain (Wentz, 1998).

2.1.5.3. Pelatihan (Training)


Menurut The Trainers Library (1987), pelatihan adalah seluruh kegiatan
yang didisain untuk membantu meningkatkan pekerja memperoleh
pengetahuan, keterampilan dan meningkatkan sikap, perilaku yang
dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik yang sekarang
menjadi tanggungjawabnya sehingga tujuan organisasi dapat tercapai.
Sedangkan menurut Francesco Sofo (1999), pelatihan sebagai adopsi
peran seseorang membantu orang lain, kelompok dan organisasi untuk
belajar dan hidup; peningkatan fungsi manusia dan organisasi yang
berkelanjutan tentang orang, belajar dan bagaimana belajar (Atmodiwirio,
2002).
Agar pekerja dapat menggunakan APD dengan benar maka manajemen
perlu mengadakan pelatihan penggunaan APD. Pelatihan APD harus
memenuhi elemenelemen sebagai berikut:
Adanya peraturan dan standar yang berlaku
Karakteristik bahaya di tempat kerja
Pelaksanaan pengendalian engineering dan manajemen
Memberikan pengarahan akan kebutuhan APD
Penjelasan memilih APD
Mendiskusikan kemampuan dan keterbatasan APD
Menunjukan cara menggunakan APD yang pas dan benar
Bagaimana membersihkan APD dari kuman
Bagaimana merawat, manjaga dan memperbaiki APD
Kapan dan bagaimana membuang APD yang sudah tidak
digunakan
Menjelaskan kebijakan, peraturan dan pelaksanaan APD
Mendiskusikan harga dan pembelian APD
Mendiskusikan pelaporan dan pencatatan APD

2.1.6. Faktor Penguat (Reinforcement Factor)


2.1.6.1. Peraturan Tentang APD
Peraturan yang mengatur penggunaan APD adalah Permenakertans
No. 1 Tahun 1981 pasal 5 ayat 2 menyatakan Pekerja harus
memakai alat pelindung diri yang diwajibkan untuk mencegah
penyakit akibat kerja maksud dari dikeluarkannya peraturan
tentang APD adalah:
Melindungi pekerja dari bahaya-bahaya akibat kerja seperti
mesin, pesawat, proses dan bahan kimia.
Memelihara dan meningkatkan derajat keselamatan dan
kesehatan kerja khususnya dalam penggunaan APD
sehingga mampu meningkatkan produktifitas.
Terciptanya perasaan aman dan terlindung, sehingga
mampu meningkatkan motivasi untuk lebih berprestasi.
Penggunaan APD di tempat kerja sendiri telah diatur melalui
Undang-Undang dan Permenakertrans. Pasal-pasal yang mengatur
tentang penggunaan APD adalah antara lain:
1. Undang-undang No. 1 tahun 1970
Pasal 3 ayat (1) butir f menyatakan bahwa dengan
peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat untuk
memberikan APD.
Pasal 9 ayat (1) butir c menyatakan bahwa pengurus
diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap
pekerja baru tentang APD.
Pasal 12 butir b menyatakan bahwa dengan peraturan
perundangan diatur kewajiban dan atau hak pekerja
untuk memakai APD.
Pasal 14 butir c menyatakan bahwa kewajiban pengurus
menyediakan alat pelindung diri dan wajib bagi pekerja
untuk menggunakannya untuk pencegahan penyakit
akibat kerja.
Permenakertrans No. Per. 03/MEN/1982 Pasal 2 butir I
menyebutkan memberikan nasehat mengenai
perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan
alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi
serta penyelenggaraan makanan ditempat
kerja (HIPERKES, 2008).
2.1.6.2. Pengawasan
Pengawasan adalah kegiatan manajer yang mengusahakan agar
pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan
atau hasil yang dikehendaki. Agar pengawasan berhasil maka
manajer harus melakukan kegiatankegaiatan pemeriksaan,
pengecekan, pengcocokan, inspeksi, pengendalian dan berbagai
tindakan yang sejenis dengan itu, bahkan bilamana perlu mengatur
dan mencegah sebelumnya terhadap kemungkinan-kemungkinan
adanya yang mungkin terjadi (Sarwoto, 1991).
Perilaku pekerja terhadap penggunaan APD sangat dipengaruhi
oleh perilaku dari manajemen. Pengawas harus menjadi contoh
yang pertama dalam menggunakan APD. Harus ada program
pelatihan dan pendidikan ke pekerja dalam hal menggunakan dan
merawat APD dengan benar (Wentz, 1998).

2.1.7. Alat Pelindung Diri


2.1.7.1. Definisi Alat Pelindung Diri
Menurut PERMENAKERTRANS No. 08/MEN/VII/2010 pasal 1
menjelaskan bahwa Alat Pelindung Diri adalah Suatu alat yang
mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya
mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya ditempat
kerja.
Sedangkan menurut (Anizar, 2012) menjelaskan bahwa Alat
Pelindung Diri (APD) adalah suatu kewajiban dimana biasanya para
pekerja atau buruh bangunan yang bekerja disebuah proyek atau
pembangunan sebuah gedung, diwajibkan menggunakannya. Kewajiban
itu sudah disepakati oleh pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja
Republik Indonesia.
APD adalah seperangkat alat yang digunakan oleh pekerja untuk
melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya
potensi bahaya/kecelakaan kerja. APD dipakai sebagai upaya terakhir
dalam usaha melindungi pekerja apabila engineering dan administratif
tidak dapat dilakukan dengan baik. Namun pemakaian APD bukanlah
pengganti dari kedua usaha tersebut, namun sebagai usaha akhir. APD
haruslah enak dipakai, tidak mengganggu kerja dan memberikan
perlindungan yang efektif terhadap bahaya. (HIPERKES, 2008).
2.1.7.2. Dasar Hukum Alat Pelindung Diri
Dasar hukum Alat Pelindung Diri tercantum dalam
1. Undang-undang No.1 tahun 1970
1. Pasal 3 ayat (1) butir f : Dengan peraturan perundangan
ditetapkan syarat-syarat untuk memberikan APD.
2. Pasal 9 ayat (1) butir c : Pengurus diwajibkan
menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru
tentang APD.
3. Pasal 12 butir b : Dengan peraturan perundangan diatur
kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk memakai APD.
4. Pasal 14 butir c : Pengurus diwajibkan menyediakan APD
secara cuma-cuma terhadap tenaga kerja dan orang lain
yang memasuki tempat kerja.

2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.


PER.08/MEN/2010
1. Pasal 2 ayat (1) : Pengusaha wajib menyediakan APD bagi
pekerja / buruh di tempat kerja.
2. Pasal 2 ayat (2) : APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) atau
standar yang berlaku.
3. Pasal 2 ayat (3) : APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
wajib diberikan oleh pengusaha secara cuma-cuma.
4. Pasal 5 ayat (2) : Pengusaha atau Pengurus wajib
mengumumkan secara tertulis dan memasang rambu
rambu mengenai kewajiban penggunaan APD di tempat
kerja.
5. Pasal 6 ayat (1) : Pekerja/buruh dan orang lain yang
memasuki tempat kerja wajib memakai atau menggunakan
APD sesuai dengan potensi bahaya dan risiko.
6. Pasal 7 ayat (1) : Pengusaha atau pengurus wajib
melaksanakan manajemen APD di tempat kerja.
2.1.7.3. Jenis-Jenis Alat Pelindung Diri dan Penggunaanya
Menurut Departemen Kesehatan RI (2005) dan Menurut Pruss,
Giroult dan Rushbrook dalam Pengelolaan Aman Limbah Layanan
Kesehatan (2005) menjelaskan Alat Pelindung Diri (APD) yang perlu
disediakan bagi petugas pengumpulan atau penanganan limbah yaitu :
1. Helm yang ada penutup wajah atau tidak, penggunaanya tergantung
pada jenis kegiatannya.
2. Masker wajah yang dilengkapi dengan filter untuk mengabsorbsi gas.
3. Perlindungan mata (safety goggle), penggunaanya tergantung pada
jenis kegiatan.
4. Coverall (pakaian bengkel), wajib sesesuai perundangan.
5. Sarung tangan sekali pakai (bagi staf medis) atau sarung tangan untuk
tugas berat (bagi tenaga penanganan limbah), wajib sesuai dengan
perundangan.
6. Celemek kedap air untuk rumah sakit, wajib sesuai dengan
perundangan.
7. Perlindungan kaki dan/atau sepatu boot untuk rumah sakit, wajib
sesuai dengan perundangan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.


PER.08/MEN/2010 dijelaskan bahwa :
1. Alat pelindung kepala
a. Fungsi
Alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi
untuk melindungi kepala dari benturan, terantuk, kejatuhan
atau terpukul benda tajam atau benda keras yang melayang
atau meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas, api,
percikan bahan-bahan kimia, jasad renik (mikro organisme)
dan suhu yang ekstrim.
b. Jenis
Jenis alat pelindung kepala terdiri dari helm pengaman
(safety helmet), topi atau tudung kepala, penutup atau
pengaman rambut, dan lain-lain.
2. Alat pelindung mata dan muka
a. Fungsi
Alat pelindung mata dan muka adalah alat pelindung yang
berfungsi untuk melindungi mata dan muka dari paparan
bahan kimia berbahaya, paparan partikel-partikel yang
melayang di udara dan di badan air, percikan benda-benda
kecil, panas, atau uap panas, radiasi gelombang
elektromagnetik yang mengion maupun yang tidak
mengion, pancaran cahaya, benturan atau pukulan benda
keras atau benda tajam.
b. Jenis
Jenis alat pelindung mata dan muka terdiri dari kacamata
pengaman (spectacles), goggles, tameng muka (face
shield), masker selam, tameng muka dan kacamata
pengaman dalam kesatuan (full face masker).
3. Alat pelindung telinga
a. Fungsi
Alat pelindung telinga adalah alat pelindung yang berfungsi
untuk melindungi alat pendengaran terhadap kebisingan
atau tekanan.
b. Jenis
Jenis alat pelindung telinga terdiri dari sumbat telinga (ear
plug) dan penutup telinga (ear muff).
4. Alat pelindung pernafasan beserta perlengkapannya
a. Fungsi
Alat pelindung pernapasan beserta perlengkapannya adalah
alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi organ
pernapasan dengan cara menyalurkan udara bersih dan
sehat dan/atau menyaring cemaran bahan kimia, mikro-
organisme, partikel yang berupa debu, kabut (aerosol), uap,
asap, gas/ fume, dan sebagainya.
b. Jenis
Jenis alat pelindung pernapasan dan perlengkapannya
terdiri dari masker, respirator, kanister, Re-
breather, Airline respirator, Continues Air Supply
Machine=Air Hose Mask Respirator, tangki selam dan
regulator (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus
/SCUBA), Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA),
dan emergency breathing apparatus.
5. Alat pelindung tangan
a. Fungsi
Pelindung tangan (sarung tangan) adalah alat pelindung
yang berfungsi untuk melindungi tangan dan jari-jari
tangan dari pajanan api, suhu panas, suhu dingin, radiasi
elektromagnetik, radiasi mengion, arus listrik, bahan kimia,
benturan, pukulan dan tergores, terinfeksi zat patogen
(virus, bakteri) dan jasad renik.
b. Jenis
Jenis pelindung tangan terdiri dari sarung tangan yang
terbuat dari logam, kulit, kain kanvas, kain atau kain
berpelapis, karet, dan sarung tangan yang tahan bahan
kimia.
6. Alat pelindung kaki
a. Fungsi
Alat pelindung kaki berfungsi untuk melindungi kaki dari
tertimpa atau berbenturan dengan benda-benda berat,
tertusuk benda tajam, terkena cairan panas atau dingin, uap
panas, terpajan suhu yang ekstrim, terkena bahan kimia
berbahaya dan jasad renik, tergelincir.
b. Jenis
Jenis Pelindung kaki berupa sepatu keselamatan pada
pekerjaan peleburan, pengecoran logam, industri,
konstruksi bangunan, pekerjaan yang berpotensi bahaya
peledakan, bahaya listrik, tempat kerja yang basah atau
licin, bahan kimia dan jasad renik, dan/atau bahaya
binatang dan lain-lain.
7. Pakaian pelindung
a. Fungsi
Pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi badan
sebagian atau seluruh bagian badan dari bahaya temperatur
panas atau dingin yang ekstrim, pajanan api dan benda-
benda panas, percikan bahan-bahan kimia, cairan dan
logam panas, uap panas, benturan (impact) dengan mesin,
peralatan dan bahan, tergores, radiasi, binatang, mikro-
organisme patogen dari manusia, binatang, tumbuhan dan
lingkungan seperti virus, bakteri dan jamur.
b. Jenis
Jenis pakaian pelindung terdiri dari rompi (Vests), celemek
(Apron/Coveralls), Jacket, dan pakaian pelindung yang
menutupi sebagian atau seluruh bagian badan.
8. Alat pelindung jatuh perorangan
a. Fungsi
Alat pelindung jatuh perorangan berfungsi membatasi
gerak pekerja agar tidak masuk ke tempat yang mempunyai
potensi jatuh atau menjaga pekerja berada pada posisi kerja
yang diinginkan dalam keadaan miring maupun tergantung
dan menahan serta membatasi pekerja jatuh sehingga tidak
membentur lantai dasar.
b. Jenis
Jenis alat pelindung jatuh perorangan terdiri dari sabuk
pengaman tubuh (harness), karabiner, tali koneksi
(lanyard), tali pengaman (safety rope), alat penjepit tali
(rope clamp), alat penurun (descender), alat penahan jatuh
bergerak (mobile fall arrester), dan lain-lain.
9. Pelampung
a. Fungsi
Pelampung berfungsi melindungi pengguna yang bekerja di
atas air atau di permukaan air agar terhindar dari bahaya
tenggelam dan atau mengatur keterapungan (buoyancy)
pengguna agar dapat berada pada posisi tenggelam
(negative buoyant) atau melayang (neutral buoyant) di
dalam air.

b. Jenis
Jenis pelampung terdiri dari jaket keselamatan rompi
keselamatan (life vest), rompi pengatur keterapungan
(Bouyancy Control Device).
2.1.7.4. Pedoman Penyimpanan dan Pemeliharaan APD
Dalam standar SNI 19 1958 1990 dijelaskan tentang pedoman
penyimpanan dan pemeliharaan APD yaitu sebagai berikut :
1. Penyimpanan & pemeliharaan APD diperlukan guna menjaga APD
tak mudah rusak dan membahayakan pihak lain karena salah pakai.
2. Penyimpanan & pemeliharaan meliputi semua jenis APD.
3. Penyimpanan & pemeliharaan APD dapat dilakukan sendiri oleh
pemakai atau dilakukan oleh petugas khusus.
4. Penyimpanan & pemeliharaan APD dilakukan di tempat kerja.
5. Dalam rangka pemeliharaan, APD harus diuji/diperiksa secara
berkala dan bila ditemukan kelainan harus segera
diperbaiki/diganti.
6. APD yang sudah rusak harus segera dimusnahkan atau disimpan di
tempat khusus agar tak digunakan lagi.
7. APD sebagai cadangan harus disimpan dalam jumlah yang cukup
sesuai kebutuhan, dan disimpan & dipelihara agar tidak rusak.
8. APD untuk penanganan bahan Kimia berbahaya (sarung tangan,
jaket dan sepatu) tak boleh dibawa pulang kerumah, harus dicuci
dan disimpan khusus oleh masing-masing pemakai di tempat kerja.
9. Tanggung jawab penyimpanan & pemeliharaan APD harus
diserahkan kepada masing-masing pemakai, sedang pengurus
tempat kerja bertanggung jawab atas pengadaan & pengujiannya.
10. Tempat penyimpanan & pemeliharaan APD tidak boleh dimasuki
oleh orang lain yang tak berkepentingan dan tidak berwenang.

2.1.7.5. Perilaku Pekerja dalam Penggunaan APD terhadap Kecelakaan


Kerja
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan.
Menurut (Soekidjo Notoatmodjo, 2007:149) tindakan atau praktik
merupakan perilaku terbuka. Suatu sikap belum otomatis terwujud
dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk terwujudnya sikap
menjadi suatu perbedaan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu
kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.
Praktik penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dalam penelitian
ini yaitu suatu tindakan untuk menggunakan seperangkat alat
keselamatan yang oleh pekerja untuk melindungi seluruh atau sebagian
anggota tubuh dari kemungkinan adanya pemaparan potensi bahaya
lingkungan kerja terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja. APD
belum menjamin seorang pekerja untuk tidak celaka karena fungsinya
hanya mengurangi akibat dari kecelakaan. Pemakaian APD yang tidak
tepat dapat mencelakakan tenaga kerja yang memakainya, bahkan
mungkin lebih membahayakan dibandingkan tanpa memakai APD. Oleh
karena itu agar dapat memilih APD yang tepat, maka perusahaan harus
mampu mengidentifikasi potensi bahaya yang ada, khususnya yang tidak
dapat dihilangkan ataupun dikendalikan.
Perilaku pemakaian APD pada pekerja pada umumnya ada
beberapa permasalahan seperti menurut Gempur Santoso (2004:28)
yaitu: (1) Pekerja tidak mau memakai dengan alasan: tidak sadar atau
tidak mengerti, panas, sesak, tidak enak dipakai, tidak enak dipandang,
berat, mengganggu pekerjaan, tidak sesuai dengan bahaya yang ada,
tidak ada sangsi dan atasan juga tidak memakai; (2) Tidak disediakan
oleh perusahaan yaitu ketidakmengertian, sengaja tidak memperdulikan,
alasan bahaya dan dianggap percuma; (3) Pengadaan oleh perusahaan
yaitu tidak sesuai dengan bahaya yang ada dan asal beli.

2.1.8. Proyek Konstruksi


Menurut Ervianto (2004), suatu proyek konstruksi merupakan suatu
rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka
waktu pendek. Selain itu, proyek konstruksi juga memiliki karakteristik yaitu
bersifat unik, membutuhkan sumber daya (manpower, material, machines, money,
method), serta membutuhkan organisasi.
Menurut Muzayamah (2008), proyek merupakan suatu rangkaian kegiatan
dan kejadian yang saling terkait untuk mencapai tujan tertentu dan membuahkan
hasil dalam suatu jangka tertentu dengan memanfaatkan sumberdaya yang
tersedia.
2.1.8.1. Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proyek Kontruksi
Industri jasa konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang
memiliki risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Berbagai penyebab
utama kecelakaan kerja pada proyek konstruksi adalah halhal yang
berhubungan dengan karakteristik proyek konstruksi yang bersifat unik,
lokasi kerja yang berbedabeda, terbuka dan dipengaruhi cuaca, waktu
pelaksanaan yang terbatas, dinamis dan menuntut ketahanan fisik yang
tinggi, serta banyak menggunakan tenaga kerja yang tidak terlatih.
Ditambah dengan manajemen keselamatan kerja yang sangat lemah,
akibatnya para pekerja bekerja dengan metoda pelaksanaan konstruksi
yang berisiko tinggi. Untuk memperkecil risiko kecelakaan kerja, sejak
awal tahun 1980an pemerintah telah mengeluarkan suatu peraturan
tentang keselamatan kerja khusus untuk sektor konstruksi, yaitu Peraturan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per01/Men/1980. Peraturan
mengenai keselamatan kerja untuk konstruksi tersebut, walaupun belum
pernah diperbaharui sejak dikeluarkannya lebih dari 20 tahun silam,
namun dapat dinilai memadai untuk kondisi minimal di Indonesia. Hal
yang sangat disayangkan adalah pada penerapan peraturan tersebut di
lapangan.
Rendahnya kesadaran masyarakat akan masalah keselamatan kerja, dan
rendahnya tingkat penegakan hukum oleh pemerintah, mengakibatkan
penerapan peraturan keselamatan kerja yang masih jauh dari optimal, yang
pada akhirnya menyebabkan masih tingginya angka kecelakaan kerja.
Akibat penegakan hukum yang sangat lemah, King and Hudson (1985)
menyatakan bahwa pada proyek konstruksi di negaranegara berkembang,
terdapat tiga kali lipat tingkat kematian dibandingkan dengan di
negaranegara maju. Dari berbagai kegiatan dalam pelaksanaan proyek
konstruksi, pekerjaanpekerjaan yang paling berbahaya adalah pekerjaan
yang dilakukan pada ketinggian dan pekerjaan galian. Pada ke dua jenis
pekerjaan ini kecelakaan kerja yang terjadi cenderung serius bahkan sering
kali mengakibatkan cacat tetap dan kematian. Jatuh dari ketinggian adalah
risiko yang sangat besar dapat terjadi pada pekerja yang melaksanakan
kegiatan konstruksi pada elevasi tinggi. Biasanya kejadian ini akan
mengakibat kecelakaan yang fatal. Sementara risiko tersebut kurang
dihayati oleh para pelaku konstruksi, dengan sering kali mengabaikan
penggunaan peralatan pelindung (personal fall arrest system) yang
sebenarnya telah diatur dalam pedoman K3 konstruksi. Jenisjenis
kecelakaan kerja akibat pekerjaan galian dapat berupa tertimbun tanah,
tersengat aliran listrik bawah tanah, terhirup gas beracun, dan lainlain.
Bahaya tertimbun adalah risiko yang sangat tinggi, pekerja yang tertimbun
tanah sampai sebatas dada saja dapat berakibat kematian. Di samping itu,
bahaya longsor dinding galian dapat berlangsung sangat tibatiba,
terutama apabila hujan terjadi pada malam sebelum pekerjaan yang akan
dilakukan pada pagi keesokan harinya. Data kecelakaan kerja pada
pekerjaan galian di Indonesia belum tersedia, namun sebagai
perbandingan, Hinze dan Bren (1997) mengestimasi jumlah kasus di
Amerika Serikat yang mencapai 100 kematian dan 7000 cacat tetap per
tahun akibat tertimbun longsor dinding galian serta kecelakaankecelakaan
lainnya dalam pekerjaan galian. Masalah keselamatan dan kesehatan kerja
berdampak ekonomis yang cukup signifikan. Setiap kecelakaan kerja
dapat menimbulkan berbagai macam kerugian. Disamping dapat
mengakibatkan korban jiwa, biayabiaya lainnya adalah biaya pengobatan,
kompensasi yang harus diberikan kepada pekerja, premi asuransi, dan
perbaikan fasilitas kerja. Terdapat biayabiaya tidak langsung yang
merupakan akibat dari suatu kecelakaan kerja yaitu mencakup kerugian
waktu kerja (pemberhentian sementara), terganggunya kelancaran
pekerjaan (penurunan produktivitas), pengaruh psikologis yang negatif
pada pekerja, memburuknya reputasi perusahaan, denda dari pemerintah,
serta kemungkinan berkurangnya kesempatan usaha (kehilangan
pelanggan pengguna jasa). Biayabiaya tidak langsung ini sebenarnya jauh
lebih besar dari pada biaya langsung. Berbagai studi menjelaskan bahwa
rasio antara biaya tidak langsung dan biaya langsung akibat kecelakaan
kerja konstruksi sangat bervariasi dan diperkirakan mencapai 4:1 sampai
dengan bahkan 17:1 (The Business Roundtable, 1991).

2.1.9. Kecelakaan Kerja


Kecelakaan adalah kejadian tak terduga dan tidak diharapkan tak terduga,
oleh karena di belakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih-lebih
dalam bentuk perencanaan. Kecelakaan kerja adalah sesuatu yang tidak
direncanakan, tidak terkontrol, dan merupakan sesuatu yang tidak diinginkan,
sehingga hal tersebut mengganggu fungsi normal dari seseorang atau sekelompok
orang maupun perusahaan (Sumamur, 1996).
Menurut Sulaksmono dalam Gempur Santoso (2004) kecelakaan adalah
suatu kejadian tidak terduga dan tidak dikehendaki yang mangacaukan proses
suatu aktivitas yang telah diatur. Kecelakaan terjadi tanpa diduga dan tidak
diharapkan tetapi kecelakaan kerja pada prinsipnya dapat dicegah dan pencegahan
ini menurut Bennett NBS merupakan tanggung jawab para manajer lini,
penyedian, mandor, kepala dan juga kepala urusan. disamping ada sebab, maka
suatu kejadian juga akan membawa akibat.
Menurut Grimaldi (1975) dalam tesis Chandra (2005), Kecelakaan
merupakan kejadian yang secara eksplisit dan implicit terjadi secara tidak
terencana dan mengakibatkan kerusakan fisik dan kimia pada benda hidup
maupun mati serta kerusakan pada kondisi sekitar.
Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan.
Tidak terduga, oleh karena dibelakang peristiwa itu tidak terdapat unsur
kesengajaan, apalagi dalam bentuk perencanaan. Kejadian peristiwa sabotase atau
tindakan kriminal diluar lingkup kecelakaan kerja. Kecelakaan tidak diharapkan
oleh karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian material ataupun penderiataan
dari yang paling ringan sampai kepada yang paling berat. Kecelakaan adalah
suatu kejadian yang tidak diinginkan, datang secara langsung dan tidak terduga,
yang dapat menyebabkan kerugian pada manusia, perusahaan, masyarakat dan
lingkungan. Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan berhubungan dengan
hubungan kerja diperusahaan (Soekidjo Notoatmodjo, 2007).
2.1.9.1. Sebab Kecelakaan Kerja
Sebab kecelakaan akibat kerja hanya ada dua golongan penyebab.
Golongan pertama adalah faktor mekanis dan lingkungan, yang meliputi
segala sesuatu selain manusia. Golongan kedua adalah faktor manusia itu
sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan. Faktor mekanis dan
lingkungan dapat pula dikelompokkan nenurut keperluan dengan suatu
maksud tertentu. kecelakaan diperusahaan dapat disusun menurut
kelompok pengolahan bahan, mesin penggerak dan pengangkat, terjatuh
dilantai dan tertimpa benda jatuh, pemakaian alat atau perkakas yang
dipegang dengan tangan, luka bakar, dan lain sebagainya (Sumamur,
2014).
Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh empat hal yaitu (1) peralatan
kerja dan perlengkapan, (2) tidak tersedianya alat pengaman dan
pelindung bagi tenaga kerja, (3) keadaan tempat kerja yang tidak
memenuhi syarat, seperti faktor fisik dan faktor kimia yang tidak sesuai
dengan persyaratan yang tidak diperkenankan, (4) pekerja kurang
pengetahuan dan pengalaman tentang cara kerja dan keselamatan kerja
serta kondisi fisik dan mental pekerja yang kurang baik. (Cecep Dani
Sucipto,2014). Kemudian disimpulkan pula bahwa penyebab kecelakaan
dikarenakan 2 faktor utama yaitu faktor pekerjaan (jam kerja) dan faktor
manusia (umur pekerja,pengalaman, tingkat pendidikan dan keterampilan,
lama bekerja dan kelelahan).
Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh faktor manusia (unsafe action)
dan faktor lingkungan (unsafe condition) (Anizar, 2009). Faktor unsafe
action dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti ketidak seimbangan fisik
tenaga kerja (cacat), kurang pendidikan, mengangkut beban berlebihan,
bekerja berlebihan atau melebihi jam kerja. Faktor unsafe condition
disebabkan oleh berbagai hal yaitu peralatan yang sudah tidak layak pakai,
ada api di tempat bahaya, pengamanan gedung yang kurang standar,
terpapar bising, terpapar radiasi, pencahayaan dan ventilasi yang kurang
atau berlebihan, kondisi suhu yang membahayakan, dalam keadaan
pengamanan yang berlebihan, sistem peringatan yang berlebihan dan sifat
pekerjaan yang mengandung potensi bahaya.
2.1.9.2. Klasifikasi Kecelakaan Kerja
Kecelakaan akibat kerja ini diklasifikasikan berdasarkan 4 macam
penggolongan menurut ILO, yaitu:
1. Klasifikasi Menurut Jenis Kecelakaan:
a) Terjatuh
b) . Tertimpa benda
c) Tertumbuk atau terkena benda-benda
d) Terjepit oleh benda
e) Gerakan-gerakan melebihi kemampuan
f) Pengaruh suhu tinggi
g) Terkena arus listrik
h) Kontak bahan-bahan berbahaya atau radiasi
2. Klasifikasi Menurut Penyebab:
a) Mesin, misalnya mesin pembangkit tenaga listrik, mesin
penggergaji kayu dan sebagainya,
b) Alat angkut, alat angkut darat, udara, dan alat angkut air,
c) Peralatan lain, misalnya: dapur pembakar dan pemanas,
instalasi pendingin, alat-alat listrik, dan sebagainya,
d) Bahan-bahan, zat-zat, dan radiasi, misalnya: bahan
peledak, gas, zat-zat kimia, dan sebagainya,
e) Lingkungan kerja (di luar bangunan, di dalam bangunan,
dan di bawah tanah),
f) Penyebab lain yang belum masuk tersebut di atas
3. Klasifikasi Menurut Sifat Luka atau Kelainan:
a) Patah tulang
b) . Dislokasi (keseleo)
c) Regang otot (urat)
d) Memar dan luka dalam yang lain
e) Luka dipermukaan
f) Gegar dan remuk
g) Luka bakar
h) Pengaruh radiasi
i) Lain-lain
4. Klasifikasi Menurut Letak Kelainan atau Luka di Tubuh:
a) Kepala
b) Leher
c) Badan
d) Anggota atas
e) Anggota bawah
f) Banyak tempat
g) Letak lain yang tidak termasuk dalam klasifikasi tersebut
2.1.9.2. Teori Kecelakaan Kerja
Dalam Teori Domino Heinrich, kecelakaan terdiri atas lima faktor yang
saling berhubungan: kondisi kerja, kelalaian manusia, tindakan tidak
aman, kecelakaan dan cedera. Heinrich (1980) berpendapat bahwa
kecelakaan pada pekerja terjadi sebagai rangkaian yang saling berkaitan.
Mekanisme terjadinya kecelakaan diuraikan dengan Domino Sequence
berupa:
1. Ancestry and environment, yakni pada orang yang memiliki sifat tidak
baik (misalnya keras kepala) yang diperoleh karena faktor keturunan,
pengaruh lingkungan dan pendidikan, mengakibatkan seorang pekerja
kurang hati-hati, dan banyak membuat kesalahan,
2. Fault of person, merupakan rangkaian dari faktor keturunan dan
lingkungan tersebut di atas yang menjurus pada tindakan yang salah
dalam melakukan pekerjaan,
3. Unsafe act and mechanical or physical hazards, tindakan yang
berbahaya disertai bahaya mekanik dan fisik lain, memudahkan
terjadinya rangkaian berikutnya,
4. Accident, peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja. Pada umumnya
disertai dengan kerugian,
5. Injury, kecelakaan mengakibatkan cedera/luka atau berat,
kecacatan dan bahkan kematian,
Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang
diberdirikan. Jika satu kartu jatuh, maka kartu ini akan menimpa kartu lain
hingga kelimanya akan roboh secara bersama. Ilustrasi ini mirip dengan
efek domino yang telah kita kenal sebelumnya, jika satu bangunan roboh,
kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan
robohnya bangunan lain.
Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah kecelakaan adalah
dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima
faktor penyebab kecelakaan. Menurut penelitian yang dilakukannya,
tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan. Dengan
penjelasannya ini, Teori Domino Heinrich menjadi teori ilmiah pertama
yang menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja. Kecelakaan tidak lagi
dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa kebetulan.
Heinrich mengemukakan bahwa untuk mencegah terjadinya
kecelakaan, kuncinya adalah dengan memutuskan rangkaian sebabakibat.
Misalnya dengan membuang hazard, satu domino diantaranya.
2.1.9.3. Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja
Pada dasarnya kecelakaan kerja dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1. Kondisi berbahaya yang selalu berkaitan dengan:
a) Mesin, peralatan, bahan, dan lain-lain,
b) Lingkungan kerja: kebisingan, penerangan, dan lain-lain,
c) Proses produksi: waktu kerja, sistem, dan lain-lain,
d) Sifat kerja,
e) Cara kerja
2. Tindakan berbahaya yang dalam beberapa hal dapat dilatarbelakangi
oleh faktor-faktor:
a) Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan,
b) Cacat tubuh yang tidak kelihatan,
c) Keletihan dan kelelahan,
d) Sikap dan tingkah laku yang tidak aman

2.1.9.4. Pencegahaan Kecelakaan kerja


Menurut Mathias (2003) dalam skripsi Candra dan Rony (2006),
beberapa pendekatan dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja
pada pekerja konstruksi, yaitu:
1. Pendekatan Organisasi berupa:
a) Merancang pekerjaan,
b) Mengenalkan serta menerapkan peraturan keselamatan
kerja,
c) Membentuk komite keselamatan kerja,
d) Mengkoordinasi penyelidikan kecelakaan kerja.
2. Pendekatan Tenaga Ahli, berupa:
a) Merancang sistem kerja dan peralatan,
b) Melihat kembali kelayakan peralatan yang dipakai.
3. Pendekatan Individual berupa:
a) Membangkitkan motivasi dan kesadaran tentang
pentingnya keselamatan kerja,
b) Memberi pelatihan keselamatan kerja,
c) Memberikan penghargaan

2.2 Kerangka Berpikir


Menurut kerangka teori yang diuraikan Lawrence Green (1980) mengungkapkan
bahwa ada dua determinan masalah kesehatan, yaitu behavioural factor (faktor
perilaku) dan non-behavioural factor (faktor non perilaku). Faktor perilaku
sendiri ditentukan oleh 3 faktor yaitu:
a. Predisposing factor (faktor-faktor predisposisi) adalah faktor yang
mempermudah atau mendahului terjadinya perilaku seseorang antara
lain: pengetahuan, persepsi, sikap, nilai, keyakinan, dan sebagainya
b. Enabling factor (faktor pemungkin) adalah faktor yang
memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku. Yang dimaksud
dengan faktor pemungkin adalah sarana dan prasana atau fasilitas
untuk terjadinya perilaku aman, seperti penyediaan APD dan peraturan
c. Reinforcing factor (faktor penguat) adalah faktor yang mendukung
atau memperkuat terjadinya perilaku yang terwujud dalam
pengawasan.
Kerangka pemikiran diatas dituangkan kedalam diagram dibawah ini :

Bagan 2.2.1
Kerangka Berpikir

Faktor Predisposisi :
1. Pengetahuan
2. Sikap
3. Persepsi
4. Nilai
5. Keyakinan

Faktor Pemungkin :
1. Sarana dan
prasarana Perilaku Pekerja Frekuensi Kecelakaan
peyediaan APD (apa yang dikerjakan)
Kerja
2. Kenyamanan
APD

Faktor Penguat :
1. Pengawasan
2. Peraturan tentang
APD

Sumber : Lawrence Green dikutip oleh Notoatmodjo (2007:178), Gempur


Santoso (2004:28), Snehandu B. Kar dikutip oleh Notoatmodjo
(2007:178).

2.3. Kerangka Konsep

Bagan 2.3.1
Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Perilaku Penggunaan
APD
Frekuensi Kecelakaan Kerja di
Faktor
PT.SERBAPRIMA
Predisposisi:
TEKNINDOSEJAHTERA
1. Pengetahuan
2.4. 2.Hipotesis
Sikap

Ha : Ada Hubungan Perilaku Pekerja Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri


(APD) Dengan Frekuensi Kecelakaan Kerja di PT.SERBAPRIMA
TEKNINDOSEJAHTERA ENGGINERING
Ho :Tidak Ada Hubungan Perilaku Pekerja Dalam Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) Dengan Frekuensi Kecelakaan Kerja di PT.SERBAPRIMA
TEKNINDOSEJAHTERA ENGGINERING

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di PT. SERBAPRIMA TEKNINDOSEJAHTERA

ENGGINERING yang beralamat di jalan Curug Raya No. 17, Jakarta Timur. Waktu
Penelitian dilakukan mulai bulan December 2015.

3.2 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat survey dengan pendekatan metode

Cross Sectional Study, dimana data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat

akan dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan dan hasilnya akan dianalisa secara

deskriptif dan analitik (Notoatmodjo, 2005). Pendekatan yang digunakan adalah

pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan bertujuan untuk mengetahui

korelasi antara variabel bebas yaitu perilaku dalam penggunaan APD dengan variabel

terikat yaitu frekuensi kecelakaan kerja di PT. SERBAPRIMA TEKNINDOSEJAHTERA

ENGGINERING, Jakarta Timur.

3.3 Populasi dan Sampel

1. Populasi
Pengertian populasi dalam buku Statistik Teori dan Aplikasi Edisi Keenam

J.Supranto (2009 : 21) adalah kumpulan dari seluruh elemen sejenis tetapi dapat

dibedakan satu sama lain. Populasi yang akan digunakan dalam penelitian yaitu

seluruh pekerja konstruksi berjumlah 150 orang.

2. Sampel
Pengertian sampel dalam buku Statistik Teori dan Aplikasi Edisi Keenam J.Supranto

(2009 : 21) adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi.

Dengan populasi berjumlah 150 orang. Pengambilan sampel dihitung dengan rumus

sebagai berikut:
N
n=
1+N(d)
Keterangan :
N = Besar Populasi
n = Besar sampel
d = Tingkat keprcayaan atau ketepatan yang diinginkan (0,1)
(Soekidjo Notoadmodjo, 2004:92)
Besarnya sampel dalam penelitian ini adalah:
150
n=
1+150(0,1)
150
n=
1+150(0,1)
n = 60

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitin ini adalah Simple Random
sampling. Simple Random Sampling yaitu pengambilan sampel secara acak
sederhana dimana setiap anggota atau unit dari setiap populasi mempunyai
kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sempel. Pertimbangan lain yang
digunakan peneliti dalam menentukan 60 sampel penelitian yaitu pekerja yang
bagian produksi yang bekerja dengan menggunakan alat dan mesin untuk proses
produksinya.
3.4 Pengumpulan Data

a. Data Primer
data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul
data (Sugiyono, 2010:307). Data primer dalam penelitian ini diperoleh dengan
penyebaran kuesioner.

b. Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada
pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen (Sugiyono,2010:308).
Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari PT. SERBAPRIMA TE yaitu data
jumlah karyawan, data kejadian kecelakaan kerja dan data lain yang berhubungan
dengan penelitian ini.
3.5. Variable Penelitian
Variabel penelitian merupakan obyek penelitian atau apa saja yang menjadi perhatian
dalam suatu penelitian. Adapun variabel penelitian yang diteliti dalam penelitan ini terdiri
dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel-variabel tersebut yaitu:
1. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat (Sugiyono2010:61).
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengetahuan, sikap dan perilaku
penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).
2. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat,
karena terdapat variabel bebas (Sugiyono, 2010:61). Variabel terikat dalam penelitian
ini adalah kejadian kecelakaan kerja.
3.6. Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel
Definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel atau
konstrak dengan cara memberi arti, atau menspesifikasikan kegiatan, ataupun
memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur konstrak atau variabel
tersebut. Definisi operasional dalam penelitian ini terdiri dari pengetahuan, sikap dan
perilaku penggunaan Alat pelindung Diri (APD).

No Variabel Definisi Cara Ukur Alat Hasil Ukur Skala


Ukur
1. Perilaku Tindakan Melakukan Kuisione Dikategorikan dalam 2 Ordinal
Penggunaan nyata pengukuran r kategori :
1. Menerapkan
APD responden dengan
apabila pekerja
observasi
dalam
melakukan > 60-
mengupayakan 100% (dari
pencegahan seluruh observasi)
kecelakaan yaitu interval 9-
kerja melalui 16 tindakan
2. Tidak
penggunaan
menerapkan
No Variabel Definisi Cara Ukur Alat Hasil Ukur Skala
Ukur
Alat Pelindung apabila pekerja
Diri (APD) melakukan <
50% (dari seluruh
observasi) yaitu
interval 0-8
tindakan

2 Frekuensi Frekuensi Melihat data Data Dikategorikan dalam 3 Ordinal


2 Kecelakaan kecelakaan kecelakaan Perusaha kategori :
2 1. Sering:
2 Kerja adalah tingkat kerja an
perusahaan frekuensi
2 seringnya
2 dalam 3 terjadinya
2 terjadi
tahun sekitar 11 20
w kecelakaan atau
kebelakang kali dalam
bahaya yang
setahun
akan terjadi 2. Sering sekali:
atau seberapa frekuensi
sering kejadian terjadinya
kecelakaan sekitar 21 40
akan terjadi. kali dalam
setahun
3. Terus menerus:
frekuensi
terjadinya lebih
dari 40 kali
dalam setahun
(OHSAS
18001:2007)

3.7. Instrument Penelitian


Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipergunakan dalam pengumpulan
data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti cermat, lengkap
dan sistematis, sehingga lebih mudah diolah (Suharsimi Arikunto,2006:136). Instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner adalah daftar
pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik, dimana responden tinggal memberikan
jawaban dengan berbagai alternatif yang telah disediakan.
3.8. Teknik Pengambilan Data
Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan melalui penyebaran kuesioner
atau angket. Penggunaan kuesioner adalah cara pengambilan data dengan menggunakan
daftar pertanyaan (angket) atau daftar isian terhadap objek yang diteliti (Igbal Hasan,
2006:24). Penyebaran angket dilakukan untuk memudahkan peneliti mendapatkan data
tentang pengetahuan, sikap dan tindakan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) serta
kejadian kecelakaan kerja, observasi dan Dokumentasi
3.9. Teknik Pengolahan Data
Dalam penelitian ini, pengolahan data dilakukan menggunakan single table maupun
cross table yang digambarkan dalam bentuk narasi. Langkah langkah yang ditempuh
dalam proses pengolahan data adalah sebagai berikut:
1. Editing yaitu dengan memeriksa kelengkapan instrumen penelitian.
2. Coding yaitu upaya pemberian kode pada variabel penelitian agar mudah dilakukan
analisa data.
3. Tabulating yaitu dengan mengelompokkan data dalam suatu tabel frekuensi distribusi
untuk dilakukan tabulasi.
4. Analyzing yaitu proses pengambilan kesimpulan berdasarkan kerangka teoritis dan
hasil uji statistik.
3.10. Analisis Data
3.10.1. Analisis Univariat
Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel
dari hasil penelitian (Soekidjo Notoatmodjo, 2004:188). Analisis ini dilakukan
terhadap setiap variabel hasil dari penelitian yaitu variabel kejadian kecelakaan
kerja, pengetahuan, sikap dan praktik penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).
Hasil dari analisis ini berupa distribusi frekuensi, tendensi sentral, ukuran
penyebaran maupun presentase dari setiap variabel, ataupun dengan melihat
gambaran histogram dari variabel tersebut. Dengan menggunakan analisis
univariat ini dapat diketahui apakah konsep yang kita ukur tersebut sudah siap
untuk dianalisis serta dapat dilihat gambaran secara rinci (Moch Imron dan Amrul
Munif, 2010:155).
3.10.2. Analisi Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan terhadap dua variabel
yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Soekidjo Notoatmodjo, 2004:188).
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel bebas dengan
variabel terikat secara sendiri-sendiri. Analisis menggunakan uji chi square
dengan menggunakan = 0,05 dan Confidence Interval (CI) sebesar 95 %. Syarat
Uji Chi-Square adalah tidak ada sel yang nilai observed bernilai nol dan sel yang
nilai expected (E) kurang dari 5 maksimal 20% dari jumlah sel. Jika syarat uji
Chi-square tidak terpenuhi, maka dipakai uji alternatifnya yaitu uji Fisher
(Sopiyudin Dahlan, 2008:18).
3.11. Uji Statistik
Uji statistik analisis bivariat yang digunakan pada penelitian ini adalah uji Chi
Square dengan derajat kesalahan yang dapat ditolerir sebesar 5%. Uji statistik tersebut
dimaksudkan untuk membuktikan hipotesis dalam mendapatkan hubungan perilaku
pekerja dalam penggunaan APD dengan frekuensi kecelakaan kerja di PT.
SERBAPRIMA TEKNINDOSEJAHTERA ENGGINERING.

Ket :
(O E) 2 X2 : Chi Kuadrat
Rumus : X = 2 O : Frekuensi yang diobservasi
E E : Frekuensi yang diharapkan

Untuk dapat membuat keputusan tentang hipotesa yang diajukan diterima atau
ditolak, maka nilai chi kuadrat yang diperoleh dibandingkan dengan chi kuadrat dalam
tabel dengan derajat kebebasan (Degree of Freedom) dan taraf kesalahan tertentu. Taraf
kesalahan yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah 5% = 0,05.
Rumus Degree of Freedom
DF = ( b-1 ) ( k-1 )
Ket :
DF : Degree of Freedom (derajat kebebasan )
b : jumlah baris dalam tabel silang
k : jumlah kolom dalam tabel silang

Jika nilai chi kuadrat hitung lebih kecil dari nilai tabel, maka Ho ditolak artinya ada
hubungan dan apabila lebih besar atau sama dengan nilai tabel, maka Ho diterima artinya
tidak ada hubungan antara dua variabel.

Ha : p value > = Ada hubungan perilaku pekerja dalam


penggunaan APD terhadap frekuensi
kecelakaan kerja di PT. SERBAPRIMA
TEKNINDOSEJAHTERA ENGGINERING.
Ho : p value < = Tidak ada hubungan perilaku pekerja dalam
penggunaan APD terhadap frekuensi
kecelakaan kerja di PT. SERBAPRIMA
TEKNINDOSEJAHTERA ENGGINERING.

DAFTAR PUSTAKA

Notoatmodjo, S. (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rienka Cipta.


Arikunto, S, (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT Rienka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rienka Cipta.
Sumamur, (2008). Keselamatan Kerja dan Pencegahaan Kecelakan. Jakarta: Gunung Agung.
Azwar, S, (2007). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tarwaka, (2008). Buku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3): Manajemen dan Implementasi
K3 di Tempat Kerja, Surakarta: Harapan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Depkes RI, (2002). Kesehatan dan Keselamatan Kerja Laboratorium Kesehatan, Pusat
Kesehatan Kerja Setjen Depkes RI, Jakarta.

Anizar, (2009). Teknik keselamatan dan kesehatan kerja di industry. Graha Ilmu: Yogyakarta

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor


PER.08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri.