Вы находитесь на странице: 1из 35

PELAYANAN UNIT RAWAT JALAN

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Tujuan Pedoman

C. Ruang Lingkup Pelayanan

D. Batasan Operasional

E. Landasan Hukum

BAB II STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifi kasi Sumber Daya Manusia

B. Distribusi Ketenagaan

C. Jadwal Kegiatan

BAB III STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang

B. Standar Fasilitas

BAB IV TATALAKSANA PELAYANAN

BAB V LOGISTIK

BAB VI KESELAMATAN PASIEN

BAB VII KESELAMATAN KERJA

BAB VIII PENGENDALIAN MUTU

BAB IX PENUTUP

2 | Page
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Terwujudnya kondisi kesehatan masyarakat yang baik adalah tugas dan tanggung
jawab dari negara sebagai bentuk amanah konstitusi yaitu Undang- Undang Dasar
Negara Republik Indonesia tahun 1945. Dalam pelaksanaannya negara berkewajiban
menjaga mutu pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Mutu pelayanan kesehatan
sangat ditentukan oleh fasilitas kesehatan serta tenaga kesehatan yang berkualitas.
Untuk mewujudkan tenaga kesehatan yang berkualitas, negara sangat membutuhkan
peran organisasi profesi tenaga kesehatan yang memiliki peran menjaga kompetensi
anggotanya

B. Tujuan Pedoman
Tersedianya pedoman sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelayanan medik
dasar yang profesional dan bermutu di sarana kesehatan
Tujuan khusus:
a. Terlaksananya penilaian terhadap kinerja pelayanan medik dasar di puskesmas
b. Terlaksananya perbaikan berkelanjutan program
c. Meningkatnya kepuasan dan harapan pelanggan terhadap pelayanan kesehatan
di puskesmas

C. Ruang Lingkup Pedoman Pelayanan


Ruang lingkup pedoman ini adalah input,proses dan output pelayanan kesehatan
dasar,keselamatan kerja dan keselamatan pasien.
D. Batasan Operasional
1. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut puskesmas adalah
fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan
masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih
mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
2. Upaya Kesehatan Perseorangan yang selanjutnya disingkat UKP adalah suatu
kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan
untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan
penderitaan akibat penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan
3. Upaya Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disingkat UKM adalah setiap
kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan
menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran keluarga,
kelompok, dan masyarakat
4. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan
5. Tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang selanjutnya disebut tindakan
kedokteran adalah suatu tindakan medis berupa preventif,diagnostik,terapeutik
dan rehabilitatif yang dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien
6. Dokter atau dokter gigi adalah luusan pendidikan kedokteran atau kedokteran
gigi didalam maupun diluar negri yang diakui oleh pemerintah republik
indonesi sesuai dengan peraturanperundangan.
7. Mutu adalah kemampuan untuk memenuhi persyaratan berdasarkan
karakteristik yang dimiliki suatu produk
8. Mutu pelayanan kesehatan adalah derajat kesempurnaan yang memenuhi
kebutuhanmasyarakat yang dilaksanakan sesuai dengan standard pelayanan
kesehatan dengan menggunakan sumber daya yang tersedia,wajar,efisien dan
3 | Page
efektif serta memberikan keamanan dan memuaskan sesuai norma dan
etika,hukum dan sosial budaya dengan memperhatikan keterbatasan dan
kemampuan pemerintah dan masyarakat.

E. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4431);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa
kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4844);
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1438/Menkes/PER/IX/2010 tentang
Standar Pelayanan Kedokteran;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2052/Menkes/PER/X/2011 tentang Izin
Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2011 Tahun 671);
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan
Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2013 Nomor 1400);
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Panduan Praktek
klinis Bagi dokter di fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 231);

BAB II
STANDAR KETENAGAAN
4 | Page
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Tenaga pelaksana yang digunakan untuk pelayanan medik dasar adalah tenaga yang
memiliki surat izin praktek /surat izin kerja ,al;
1,Dokter
2.Tenaga Paramedis
Tenaga baru harus melalui orientasi petugas.Tenaga kesehatan mengikuti seminar dan
pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

B. Distribusi Ketenagaan
Pengaturan dan penjadwalan pelayanan dikoordinir oleh penanggungjawab poli gigi.

C. Jadwal Jaga di Poli Gigi

No Hari Nama Dokter Nama Perawat


1 Senin Drg. Tri T. Utami Sukartini, Agus
2. Selasa Drg. Tri T. Utami Sukartini, Agus
3. Rabu Drg. Tri T. Utami Sukartini, Agus
4 Kamis Drg. Tri T. Utami Sukartini, Agus
5 Jumat Drg. Tri T. Utami Sukartini, Agus
6 Sabtu Drg. Tri T. Utami Sukartini, Agus

BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang

5 | Page
B. Standar Fasilitas

Ruangan Kesehatan Gigi dan Mulut


1 Atraumatic Restorative Treatment (ART)
2 Enamel Access Cutter
3 Eksavator Berbentuk Sendok Ukuran Kecil (Spoon Excavator Small)
4 Eksavator Berbentuk Sendok Ukuran Sedang (Spoon Excavator Medium)
5 Eksavator Berbentuk Sendok Ukuran Besar (Spoon Excavator Large)
6 Double Ended Applier and Carver
7 Spatula Plastik
8 Hatchet
9 Batu Asah
10 Bein Lurus Besar
11 Bein Lurus Kecil
Bor Intan (Diamond Bur Assorted) untuk Air Jet Hand Piece (Kecepatan Tinggi)
12 (round, inverted dan fissure)
Bor Intan Kontra Angle Hand Piece Conventional (Kecepatan Rendah) (round,
13 inverted dan fissure)
14 Ekskavator Berujung Dua (Besar)
15 Ekskavator Berujung Dua (Kecil)
16 Gunting Operasi Gusi (Wagner) (12 cm )
17 Handpiece Contra Angle
18 Handpiece Straight
19 Kaca Mulut Datar No.4
20 Klem/Pemegang Jarum Jahit (Mathieu Standar)
21 Set Kursi Gigi Elektrik
22 Scaler elektrik pada table dental unit
23 Kompresor Oilless 1 PK
24 Light Curing
25 Penumpat Semen Berujung Dua
26 Pinset Gigi
27 Penumpat Plastis
28 Skalpel, Mata Pisau Bedah (Kecil)
29 Sonde Lengkung
30 Sonde Lurus
31 Pengungkit Akar Gigi Kanan Mesial (Cryer Distal)
32 Pengungkit Akar Gigi Kanan Mesial (Cryer Mesial)
33 Skeler Standar , Bentuk Cangkul Kiri (Type Chisel/Mesial)
34 Skeler Standar , Bentuk Cangkul Kanan (Type Chisel/Mesial)
35 Skeler Standar, Bentuk Tombak (Type Hook)
36 Skeler Standar, Black Kiri dan Kanan (Type Chisel/Mesial)
37 Skeler Standar, Black Kiri dan Kiri (Type Chisel/Mesial)
38 Spatula Pengaduk Semen
39 Spatula Pengaduk Semen
6 | Page
40 Spatula Pengaduk Semen Ionomer
41 Tang sisa akar rahang bawah
42 Tang gigi anterior rahang atas dewasa
43 Tang gigi molar rahang bawah kanan/kiri
44 Tang gigi molar 3 rahang bawah
45 Tang gigi premolar rahang atas
46 Tang gigi molar kanan rahang atas
47 Tang gigi molar kiri rahang atas
48 Tang molar 3 rahang atas
49 Tang sisa akar gigi anterior rahang atas
50 Tang sisa akar gigi posterior rahang atas
51 Tang gigi anterior dan premolar rahang bawah
52 Tang sisa akar sulung rahang atas
53 Tang gigi anterior sulung rahang bawah
54 Tang molar sulung rahang atas
55 Tang molar sulung rahang bawah
56 Tang gigi anterior sulung rahang atas
57 Bein lurus
58 Bein bengkok
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75

F. Ruangan Kesehatan Gigi dan Mulut


II. Perlengkapan
Baki Logam Tempat Alat Steril Bertutup

7 | Page
Korentang
Waskom Bengkok (Neirbeken)
Lemari peralatan
Lempeng Kaca Pengaduk Semen
Needle Destroyer
Silinder Korentang Steril
Tempat Pembuangan Kapas (50 x 75 mm)
Tempat Alkohol (Dappen Glas)
Toples Kapas Logam dengan Pegas dan Tutup
(50 x 70 mm)
Tempat Pembuangan Kapas (50 x 75 mm)
Meja kerja

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

1. Penanggung jawab poli gigi harus ditetapkan.


Pelayanan medik dasar gigi adalah pelayanan perseorangan yang dilakukan secara
berkesinambungan.
2. Prinsip pelayanan adalah :
a. Kontak pertama

8 | Page
b. Layanan bersifat pribadi
c. Pelayanan paripurna
d. Paradigma sehat
e. Pelayanan berkesinambungan
f. Berorientasi pada keluarga dan masyarakat dengan memperhatikan hak dan
kewajiban pasien, pendidikan pasien dan keluarga sehingga pasien dan
keluarga dan berperan aktif dalam pengambilan keputusan tindakan
kedokteran berdasarkan pengetahuan yang benar dan ilmiah..
g. Pelayanan memperhatikan keselamatan kerja dan keselamatan pasien.

3. Jenis pelayanan medik dasar gigi di puskesmas adalah;


a. Konsultasi
b. Premedikasi
c. Kegawatdaruratan orodental post traumatik
d. Pencabutan gigi sulung atau gigi permanen dengan anestesi topikal atau
infiltrasi
e. Obat setelah ekstraksi gigi
f. Tumpatan komposit /GIC
g. Pembersihan karang gigi

4. Pencatatan dan pelaporan


Pencatatan dilakukan pada rekam medis, memuat kajian awal klinis dari pasien
yang datang ke puskesmas,dan disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan
dokter mendapat informasi penting yang perlu diketahui setiap pasien datang.
Kajian awal klinis berupa :
S : keluhan subyektif yang di dapat dari hasil anamnesa pasien atau dari hasil
alloanamnesa.
O : keluhan obyektif, didapat dari pemeriksaan yang dilakukan pada pasien,
meliputi pemeriksaan palpasi, perkusi, druk, tes termis.
A : analisa dari hasil pemeriksaan subyektif dan obyektif akan didapat diagnosa
penyakit yang dikeluhkan pasien.
P : Planning, memuat rencana perawatan yang akan dilakukan.

Pencatatan juga dilakukan di register ruang pemeriksaaan gigi, buku konsul bila
dilakukan konsul, buku jenis penyakit gigi dan mulut menurut kelompok umur, serta
buku pencatatan jenis penyakit (diagnosa) dan terapinya.

Adapun jenis-jenis pelaporan di ruang pemeriksaan gigiadalah :


- Laporan bulanan pelayanan kesehatan dasar program JKN
- Laporan bulanan kunjungan pasien menurut jenis kelamin (gender)
- Laporan bulanan data kesakitan (LB1)
- Laporan bulanan (LB3)
-
Pengkodean klasifikasi diagnosis perlu ditetapkan oleh manajemen.

9 | Page
ALUR PELAYANAN
Pendaftaran

Ruang KIA Ruang Rujuk


Pemeriksaan Pemeriksaan Gigi
Umum

Konseling
laboratorium

Farmasi

Pulang

5. Mekanisme rujukan
1. Rujukan dilakukan kefasyankes terdekat sesuai dengan sistem rujukan
2. Rujukan berdasarkan indikasi medis

6. Kredensial

Kredensial adalah proses menilai dokter/dokter gigi oleh Dinas Kesehatan dengan suatu
kriteria mutu yang ditetapkan .Proses ini bertujuan agar kualitas mutu pelayanan dapat
distandarkan.
Hal-hal yang dikredensialingkan adalah;
1. Aspek legal: Perizinan ; izin praktek dokter gigi, izin kerja perawat gigi
2. Sarana prasarana sesuai standard

7.Jenis Penyakit Gigi dan Mulut pada Pelayanan Primer

Penyakit Gigi Diagnosis ICD 10


Terbanyak

Penyakit 1 Karies dini/karies email tanpa K.02.0


jaringan keras kavitas
gigi/karies
2 Karies email/Karies dentin/Karies K.02.1,K 02.2
gigi
sementum/Akar

3 Karies terhenti/Arrested caries K.02.3

10 | P a g e
4 Demineralisasi Permukaan Halus K.02.0
/Aproksimal

5 Fraktur Mahkota Gigi Yang tidak S02.51,S02.52


merusak Pulpa

6 Dentin hipersensitif K.03.80

7 Atrisi,Abrasi,Erosi K03.K03.1,K03.2,K0
2.3

8 Karies mencapai pulpa vital gigi K.02.8


sulung

Penyakit 9 Periodontitis Kronis dengan K.05.3


Periodontal kehilangan jaringan periodontal
ringan-sedang

10 Gingivitis akibat Plak Mikrobial K.05.1

11 Primary Herpetic B00.2


Gingivostomatitis

12 Oral Hygiene Buruk K.03.66

13 Stomatitis aftosa K.12.0

14 Angular cheilitis K.13.01

15 Pulpitis reversibel K.04.00

Penyakit 16 Nekrosis pulpa/Gangren pulpa K.04.1


pulpa dan (Akar tunggal, akar jamak yang
periapikal lurus dengan sudut pandang
kerja pada orifice tidak
terhalang )

17 Nekrosis pulpa/Gangren pulpa K.04.1


gigi tinggal akar( gigi sisa sudah
tidak mendukung untuk
dilakukan tumpatan)

18 Pulpitis irreversibel (Akar K.044.01


tunggal, akar jamak yang lurus
dengan sudut pandang kerja
pada orifice tidak terhalang)

19 Iritasi Pulpa Gigi tetap muda K.04.0

20 Hyperemia Pulpa Gigi Tetap K.04.0


Muda

Lain-lain 21 Nyeri Orofasial K049

22 Persistensi Gigi Sulung K.00.63

23 Akar gigi Tertinggal/Facial K.08.3


Fenestrasi/Ulcus Decubitus

24 Lesi Traumatik K12.04 K14.01K13.1

11 | P a g e
Kegawatdarur 25 Abses Periapikal K.04.7
atan Gigi
26 Abses Periodontal K.05.2

8.Rekam Medis
Dalam rekam medik gigi data-dat penting yang perlu dicatat,dirangkum
dalam blangko rekam medik gigi adalah;
a. Identitas pasien
a. Nomor file
b. Tanggal pembuatan status
c. Nama
d. Jenis Kelamin
e. Tempat dan tanggal lahir/umur
f. Alamat rumah /nomor telepon dan handphone
g. Pekerjaan
h. Alamat kantor,nomor telepon dan fax
b. Keadaan Umum Pasien
a. Golongan darah
b. Tekanan darah
c. Ada /tidak kelainana haemofilia
d. Ada/tidak penyakit jantung
e. Ada/tidak penyakit diabetes
f. Ada/tidak alergi terhadap obat tertentu
g. Ada/tidak penyakit tertentu seperti Hepatitis,HIV
c. Odontogram
Pemeriksaan terhadap seluruh keadaan gigi dan mulut pasien di
catatkan pada kunjungan pertama atau kesempatan pertama,sehingga
memberikan gambaran keadaan secara keseluruhan.Odontogram
selalu ditempatkan pada lembar pertama rekam medik,setelah data
identitas ,keadaan umum.selanjutnya baru diikuti oleh lembar data
perawatankedokteran gigi yang dilakukan.
Setelah pengisian pertama pembuatan odontogram diulang atau
dilengkapi;
-setiap satu tahun
-setiap kedatangan atau kontrol
-jika pasien akan pindah kota/dokter gigi
-jika sebelum satu tahun banyak restorasi gigi permanen yang
dilakukan.
Pada odontogram berisi data;
a. Tanggal pemeriksaan untuk odontogram
b. Gambar denah gigi (odontogram)
c. Hubungan oklusi
d. Ada atau tidaknya torus palatinus,torus mandibularis
e. Type langit-langit mulut (palatum);Dalam ,sedang ,rendah
f. Ada atau tidaknya diastema sentral
g. Adakah anomali atau ciri-ciri lain.
d. Data Perawatan Kedokteran gigi
Data perawatan kedokteran gigi yang dilakukan dicatat pada setiap
kunjungan secara teliti.
Data perawatan kedokteran gigi berisi:
a. Tanggal kunjungan
b. Gigi yang dirawat
c. Keluhanan dan diagnosa
d. Tindakan yang dilakukan
12 | P a g e
e. Paraf dokter gigi (penting)
f. Hasil Rontgen foto,jika ada
e. Nama dokter gigi yang merawat.

13 | P a g e
14 | P a g e
15 | P a g e
16 | P a g e
]

9.Persetujuan dan informasi tindakan kedokteran


17 | P a g e
PEMBERIAN INFORMASI KEPADA PASIEN
Pemberian informasi kepada pasien adalah kewajiban pemberi layananan dan
merupakan hak dari pasien.

12 kunci informasi yang sebaiknya diberikan kepada pasien :


1) Diagnosis dan prognosis secara rinci dan juga prognosis apabila tidak diobati
2) Ketidakpastian tentang diagnosis (diagnosis kerja dan diagnosis banding)
termasuk pilihan pemeriksaan lanjutan sebelum dilakukan pengobatan
3) Pilihan pengobatan atau penatalaksanaan terhadap kondisi kesehatannya,
termasuk pilihan untuk tidak diobati
4) Tujuan dari rencana pemeriksaan atau pengobatan; rincian dari prosedur atau
pengobatan yang dilaksanakan, termasuk tindakan subsider seperti
penanganan nyeri, bagaimana pasien seharusnya mempersiapkan diri,
rincian apa yang akan dialami pasien selama dan sesudah tindakan,
termasuk efek samping yang biasa terjadi dan yang serius
5) Untuk setiap pilihan tindakan, diperlukan keterangan tentang
kelebihan/keuntungan dan tingkat kemungkinan keberhasilannya, dan diskusi
tentang kemungkinan risiko yang serius atau sering terjadi, dan perubahan
gaya hidup sebagai akibat dari tindakan tersebut
6) Nyatakan bila rencana pengobatan tersebut adalah upaya yang masih
eksperimental
7) Bagaimana dan kapan kondisi pasien dan akibat sampingannya akan
dimonitor atau dinilai kembali
8) Nama dokter yang bertanggungjawab secara keseluruhan untuk pengobatan
tersebut, serta bila mungkin nama-nama anggota tim lainnya
9) Bila melibatkan dokter yang sedang mengikuti pelatihan atau pendidikan,
maka sebaiknya dijelaskan peranannya di dalam rangkaian tindakan yang
akan dilakukan
10) Mengingatkan kembali bahwa pasien dapat mengubah pendapatnya
setiap waktu. Bila hal itu dilakukan maka pasien bertanggungjawab penuh
atas konsekuensi pembatalan tersebut.
11) Mengingatkan bahwa pasien berhak memperoleh pendapat kedua dari
dokter lain
12) Bila memungkinkan, juga diberitahu tentang perincian biaya

PERSETUJUAN TERTULIS DIPERLUKAN PADA KEADAAN-KEADAAN SBB:


Bila tindakan terapetik bersifat kompleks atau menyangkut risiko atau
efek samping yang bermakna.
Bila tindakan kedokteran tersebut bukan dalam rangka terapi
Bila tindakan kedokteran tersebut memiliki dampak yang bermakna bagi
kedudukan kepegawaian atau kehidupan pribadi dan sosial pasien
Bila tindakan yang dilakukan adalah bagian dari suatu penelitian

18 | P a g e
19 | P a g e
20 | P a g e
21 | P a g e
BAB V
LOGISTIK

Kebutuhan dana dan logistik untuk melaksanakan kegiatan pelayanan medik rawat jalan
direncanakan dalam loka karya mini sesuai dengan tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan

22 | P a g e
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan pasien puskesmas adalah suatu sistem dimana puskesmas membuat asuhan pasien
lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan
dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak
lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Standar keselamatan pasien tersebut terdiri dari tujuh standar yaitu:


1. hak pasien
2. mendidik pasien dan keluarga
3. keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan
program peningkatan keselamatan pasien
5. peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
6. mendidik staf tentang keselamatan pasien
7. komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien tindakan
yang seharusnya diambil
Standar I. Hak pasien
Standar:
Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil
pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya insiden.
Kriteria:
1.1. Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan.
1.2. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan.
1.3. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan secara jelas dan benar
kepada pasien dan keluarganya tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur
untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya insiden.

Standar II. Mendidik pasien dan keluarga


Puskesmas harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab
pasien dalam asuhan pasien.
Kriteria:
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan pasien yang
merupakan partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di puskesmas harus ada sistem dan
mekanisme mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien
dalam asuhan pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga dapat :
1. Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur.
2. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga.
3. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti.
4. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.
5. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan puskesmas.
6. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.
7. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.

Standar III. Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan


Standar:

23 | P a g e
Puskesmas menjamin keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan dan menjamin
koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan.
Kriteria:
3.1. Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat pasien masuk,
pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan, tindakan pengobatan, rujukan dan saat pasien
keluar dari puskesmas.
3.2. Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kelayakan
sumber daya secara berkesinambungan sehingga pada seluruh tahap pelayanan transisi antar unit
pelayanan dapat berjalan baik dan lancar.
3.3. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi untuk memfasilitasi
dukungan keluarga, pelayanan keperawatan, pelayanan sosial, konsultasi dan rujukan, pelayanan
kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya.
3.4. Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan sehingga dapat
tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan, aman dan efektif.

Standar IV. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan
program peningkatan keselamatan pasien
Standar:
Puskesmas harus mendesain proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan
mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif insiden, dan
melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.
Kriteria:
4.1. Setiap puskesmas harus melakukan proses perancangan (desain) yang baik, mengacu pada
visi, misi, dan tujuan puskesmas, kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis
terkini, praktik bisnis yang sehat, dan faktor-faktor lain yang berpotensi risiko
bagi pasien sesuai dengan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Puskesmas.
4.2. Setiap puskesmas harus melakukan pengumpulan data kinerja yang antara lain terkait
dengan : pelaporan insiden, akreditasi, manajemen risiko, utilisasi, mutu pelayanan, keuangan.
4.3. Setiap puskesmas harus melakukan evaluasi intensif terkait dengan semua insiden, dan
secara proaktif melakukan evaluasi satu proses kasus risiko tinggi.
4.4. Setiap puskesmas harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis untuk
menentukan perubahan sistem yang diperlukan, agar kinerja dan keselamatan pasien terjamin.

Standar V. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien

Standar:
1. Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan pasien secara
terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien
Puskesmas .
2. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan
pasien dan program menekan atau mengurangi insiden.
3. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan individu
berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien.
4. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur, mengkaji, dan
meningkatkan kinerja puskesmas serta meningkatkan keselamatan pasien.
5. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam meningkatkan kinerja
puskesmas dan keselamatan pasien

Kriteria:
5.1. Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.
5.2. Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program meminimalkan
insiden.
24 | P a g e
5.3. Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari puskesmas
terintegrasi dan berpartisipasi dalam program keselamatan pasien.
5.4. Tersedia prosedur cepat-tanggap terhadap insiden, termasuk asuhan kepada pasien yang
terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan
jelas untuk keperluan analisis.
5.5. Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden termasuk
penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang Analisis Akar Masalah Kejadian Nyaris
Cedera (Near miss) dan Kejadian Sentinel pada saat program keselamatan pasien mulai
dilaksanakan.
5.6. Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden, misalnya menangani
Kejadian Sentinel (Sentinel Event) atau kegiatan proaktif untuk memperkecil risiko, termasuk
mekanisme untuk mendukung staf dalam kaitan dengan Kejadian Sentinel.
5.7. Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar pengelola
pelayanan di dalam puskesmas dengan pendekatan antar disiplin. 5.8. Tersedia sumber daya dan
sistem informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan perbaikan kinerja puskesmas dan perbaikan
keselamatan pasien, termasuk evaluasi berkala terhadap kecukupan sumber daya tersebut.
5.9. Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektif untuk
mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja puskesmas dan keselamatan pasien, termasuk rencana
tindak lanjut dan implementasinya.

Standar VI. Mendidik staf tentang keselamatan pasien


Standar:
1. Puskesmas memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup
keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas.
2. Puskesmas menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk
meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisipliner
dalam pelayanan pasien
Kriteria:
6.1. Setiap puskesmas harus memiliki program pendidikan, pelatihan dan orientasi bagi staf baru
yang memuat topik keselamatan pasien sesuai dengan tugasnya masing-masing.
6.2. Setiap puskesmas harus mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan
in-service training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.
6.3. Setiap puskesmas harus menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok
(teamwork) guna mendukung pendekatan interdisipliner dan kolaboratif dalam rangka melayani
pasien.

Standar VII. Komunikasi merupakan kunci bagi staff untuk mencapai keselamatan pasien
Standar:
1. Puskesmas merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi keselamatan pasien
untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal.
2. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.

Kriteria:
7.1. Perlu disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk
memperoleh data dan informasi tentang halhal terkait dengan keselamatan pasien.
7.2. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi
manajemen informasi yang ada.

SASARAN KESELAMATAN PASIEN


SASARAN I : KETEPATAN IDENTIFIKASI PASIEN
25 | P a g e
Standar SKP I
Puskesmas mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi
pasien.
Maksud dan Tujuan Sasaran I
Kesalahan karena keliru dalam mengidentifikasi pasien dapat terjadi di hampir semua
aspek/tahapan diagnosis dan pengobatan. Kesalahan identifikasi pasien bisa terjadi pada pasien
yang dalam keadaan terbius/tersedasi, mengalami disorientasi, tidak sadar, bertukar tempat
tidur/kamar/ lokasi di puskesmas, adanya kelainan sensori, atau akibat situasi lain. Maksud
sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan yaitu: pertama, untuk identifikasi
pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk
kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
Kebijakan dan/atau prosedur yang secara kolaboratif dikembangkan untuk memperbaiki proses
identifikasi, khususnya pada proses untuk mengidentifikasi pasien ketika pemberian obat, darah,
atau produk darah; pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis; atau
pemberian pengobatan atau tindakan lain. Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya
dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, nomor rekam medis,
tanggal lahir, gelang identitas pasien dengan bar-code, dan lain-lain. Nomor kamar pasien atau
lokasi tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kebijakan dan/atau prosedur juga menjelaskan
penggunaan dua identitas berbeda di lokasi yang berbeda di puskesmas, seperti di pelayanan
rawat jalan, unit gawat darurat, atau ruang operasi termasuk identifikasi pada pasien koma tanpa
identitas. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk mengembangkan kebijakan dan/atau
prosedur agar dapat memastikan semua kemungkinan situasi untuk dapat diidentifikasi.
Elemen Penilaian Sasaran I
1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan nomor
kamar atau lokasi pasien.
2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah.
3. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis.
4. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan/prosedur.
5. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang konsisten pada semua
situasi dan lokasi.

SASARAN II : PENINGKATAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF


Standar SKP II
Puskesmas mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antar para
pemberi layanan.
Maksud dan Tujuan Sasaran II
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien,
akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi
dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan
kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telepon.
Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan
kritis, seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telepon ke unit pelayanan.
Puskesmas secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk perintah
lisan dan telepon termasuk: mencatat (atau memasukkan ke komputer) perintah yang lengkap
atau hasil pemeriksaan oleh penerima perintah; kemudian penerima perintah membacakan
kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan; dan mengkonfirmasi bahwa apa yang
sudah dituliskan dan dibaca ulang adalah akurat. Kebijakan
dan/atau prosedur pengidentifikasian juga menjelaskan bahwa diperbolehkan tidak melakukan
pembacaan kembali (read back) bila tidak memungkinkan seperti di kamar operasi dan situasi
gawat darurat di IGD atau ICU.

26 | P a g e
Elemen Penilaian Sasaran II
1. Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui telepon atau hasil pemeriksaan dituliskan
secara lengkap oleh penerima perintah.
2. Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil pemeriksaan dibacakan kembali secara lengkap
oleh penerima perintah.
3. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau yang menyampaikan
hasil pemeriksaan
4. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi keakuratan komunikasi lisan atau
melalui telepon secara

SASARAN III : PENINGKATAN KEAMANAN OBAT YANG PERLU DIWASPADAI


(HIGH-ALERT)
Standar SKP III
Puskesmas mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obat yang
perlu diwaspadai (high-alert).
Maksud dan Tujuan Sasaran III
Bila obat-obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan pasien, manajemen harus berperan
secara kritis untuk memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-
alert medications) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius
(sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse
outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan
Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Soun Alike/LASA). Obat-obatan yang sering disebutkan
dalam isu keselamatan pasien adalah pemberian elektrolit konsentrat secara tidak sengaja
(misalnya, kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih
pekat dari 0.9%, dan magnesium sulfat =50% atau lebih pekat). Kesalahan ini bisa terjadi bila
perawat tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit pelayanan pasien, atau bila perawat
kontrak tidak diorientasikan terlebih dahulu sebelum ditugaskan, atau pada keadaan gawat
darurat. Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau
mengeliminasi kejadian tersebut adalah dengan meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang
perlu diwaspadai termasuk memindahkan
elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi. Puskesmas secara kolaboratif
mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang perlu
diwaspadai berdasarkan data yang ada di puskesmas. Kebijakan dan/atau prosedur
juga mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan elektrolit konsentrat, seperti di IGD
atau kamar operasi, serta pemberian label secara benar pada elektrolit dan bagaimana
penyimpanannya di area tersebut, sehingga membatasi akses, untuk mencegah pemberian yang
tidak sengaja/kurang hati-hati.

Elemen Penilaian Sasaran III


1. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses identifikasi, menetapkan
lokasi, pemberian label, dan penyimpanan elektrolit konsentrat.
2. Implementasi kebijakan dan prosedur.
3. Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali jika dibutuhkan secara
klinis dan tindakan diambil untuk mencegah pemberian yang kurang hati-hati di area tersebut
sesuai kebijakan

SASARAN V : PENGURANGAN RISIKO INFEKSI TERKAIT PELAYANAN


KESEHATAN
Standar SKP V
Puskesmas mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi yang terkait
pelayanan kesehatan.
27 | P a g e
Maksud dan Tujuan Sasaran V
Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan
kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan
kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan
kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi
saluran kemih, infeksi pada aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali
dihubungkan dengan ventilasi mekanis).
Pusat dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene)
yang tepat. Pedoman hand hygiene bisa dibaca kepustakaan WHO, dan berbagai organisasi
nasional dan internasional.
Puskesmas mempunyai proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur
yang menyesuaikan atau petunjuk hand hygiene yang diterima secara umum dan untuk
implementasi petunjuk itu di puskesmas.
Elemen Penilaian Sasaran V
1. Puskesmas mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand hygiene terbaru yang diterbitkan
dan sudah diterima secara umum (al.dari WHO
Patient Safety).
2. Puskesmas menerapkan program hand hygiene yang efektif.
3. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan pengurangan secara
berkelanjutan risiko dari infeksi yang terkait
pelayanan kesehatan.
SASARAN VI : PENGURANGAN RISIKO PASIEN JATUH
Standar SKP VI
Puskesmas mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko
pasien dari cedera karena jatuh.
Maksud dan Tujuan Sasaran VI
Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi pasien rawat inap. Dalam
konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang disediakan, dan fasilitasnya,
puskesmas perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi
risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh, obat dan telaah terhadap
konsumsi alkohol, gaya jalan dan keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh
pasien. Program tersebut harus diterapkan puskesmas.
Elemen Penilaian Sasaran VI
1. Puskesmas menerapkan proses asesmen awal atas pasien terhadap risiko jatuh dan melakukan
asesmen ulang pasien bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan, dan lain-
lain.
2. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka yang pada hasil
asesmen dianggap berisiko jatuh.
3. Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik keberhasilan pengurangan cedera akibat jatuh dan
dampak dari kejadian tidak diharapkan.
4. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan pengurangan berkelanjutan
risiko pasien cedera akibat jatuh di puskesmas.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Puskesmas sebagai tempat kerja mempunyai potensi bahaya beragamterhadap
kesehatan,terdapat disemua tempat baik didalam maupun diluar gedung yang dapat timbul dari
lingkungan tempat kerja,proses kerja,cara kerja,alat dan bahan kerja yang dapat menimbulkan
penyakit akibat kerja.
28 | P a g e
tujuan dari pengenalan potensi bahaya di puskesmas dan masalah yang ditimbulkannya
adalah agar petugas puskesmas dapat melakukan pengendalian resiko dengan benar sehingga
terhindar dari berbagai masalah yang ditimbulkan akibat pekerjaan

A.Identifikasi Potensi Bahaya di Poli Gigi

Lokasi Potensi Jehis bahaya Masalah


Bahaya Kesehatan/kecelakaan kerja
Poli Gigi Kecelakaa Benda tajam,alat Tertusuk,tersayat,ced
n kerja medis era

biologi mikroorganisme,vir infeksi


us bakteri dll hepatitis,tbc,cacar
air,influenza,HIV,ebol
a

kimia mercuri,amalgam, gangguam SSP,


silikat,klor ginjal, dermatitis
etil,clorin

ergonomi posisi janggal musculoskeletal


disorder

fisik getaran,bising renauld


syndrom.pendengara
n

Psikososial Bekerja yang Stres kerja


monoton

1. Pengendalian resiko dengan upaya;


i. Promotif;
a. Menginformasikan potensi bahaya ditempat kerja kpd seluruh petugas
b. Memasang leaflet,brosur budaya kesehatan dan keselamatan kerja.
c. Melaksanakan latihan fisik,bimbingan rohani,rekreasi
ii. Preventif
a. Penerapan prinsip pencegahan meliputi cuci tangan pakai
sabun,APD,mengganti alat berbahaya,pengaturan shift kerja
b. Vaksinasi hepatitis

Penatalaksanaan limbah poli rawat gig puskesmas

No Jenis Limbah Asal Perlakuan

1 Limbah domestik Kegiatan dapur,kardus obat, Ditampung dalam kantong


plastik lain yang tidak hitam
infeksius,terkontaminasi Selanjutnya di bawa ke TPA

2 Limbah benda Materi padat yang memiliki Tidak boleh recapping


tajam sudut lancip ,dapat langsung
menyebabkan luka tusuk Dikumpul dalam safety box
ataupun iris ;contohnya ;jarum atau kontener lain yang tidak
suntik,kaca sedian,infus bocor
set,vial obat Tidak boleh didaur ulang

29 | P a g e
3 Limbah infeksius Limbah yang diduga Ditampung dalam wadah yang
mengandung patogen dalam kuat dan tidak bocor,tidak
jumlah cukup untuk boleh dicampur dengan
menyebabkan infeksi limbah lain
misalnya limbah kultur,stok Penyimpanan di pkm tidak
agen infeksius dari boleh lebih dari 48 jam sejak
laboratorium.limbah hasil mulai dari penyimpanan
operasi, limbah pasien dengan Penyimpanan di ruang
penyakit menular khusus,tertutup,ada
pencatatan jumlah timbulan
limbah setiap hari, tidak
mungkin binatang pengerta
masuk,termasuk pembatasan
orang masuk keruang
tersebut.

4 Limbah patologis Limbah berasal dari organ Masukkan dalam kontener


tubuh misalnya janin,organ kuat dan tidak bocor
tubuh,darah,muntahan. Perlakuannya sama dengan
limbah infeksius
Jika limbah padat maka diolah
dengan alat pengolahan
limbah padat
Jika cair diolah dengan alat
pengolahan limbah cair

5 Limbah Farmasi Limbah yang mengandung Dapat dikembalikan pada


bahan bahan produsannya
obat,vaksin,produk farmasi, Bila terjadi tumpahan obat
serum kadaluarsa dapat menggunakan pasir
absorben untk menyerap
tumpahan
farmasi,tumpahan farmasi
termasuk sampah B3 dan
harus dikelola dan diolah
oleh pihak yang khusus
dapat mengelola limbah
farmasi

6 Limbah Kimia Limbah berasal dri zat kimia Jika jumlahnya kecil
misalnya formaldehid,zat pengelolaannya sama
rontgen,dll, dengan limbah infeksius.

7 Limbah logam Berasal dari alat medis yang Penampungannya ditempat


berat mengandung logam berat yang tidak bocor dan kuat
misalnya dari bocoran tensi air pengelolaannya
raksa bekerjasama dengan dinas
atau lingkugan hidup

30 | P a g e
d.Deteksi dini melalui medical check up;pemeriksaan pekerja sebelum masuk
kerja,pindah,pemeriksaan berkala pada pekerja ,pemeriksaan khusus pada
petugas yang terpajan bahan berbahaya seperti petugas lab,radiologi.

iii. Kuratif:
1. Penatalaksanaan kecelakaan kerja seperti tertusuk jarum
2. Penatalaksanaaan kecelakaan akibat kerja
3. Melakukan pengobatan penyakit akibat kerja
4. Melakukan rujukan kasus

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

A. Bakuan Mutu
31 | P a g e
Mutu pelayanan medik adalah:Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada seorang
pasien sebaik-baiknya mealui pengetahuan yang konsisten sesuai dengan pengetahuan
terkini,sehingga probabilitas outcome yang diharapkan meningkat (IOM 1990)
Pelayanan individual ang dilandasi ilmu klinik sebagai kesehatan perorangan meliputi
;aspek pencegahan primer,pencegahan sekundr,pencegahan tersier berupa rehabilitasi
medik.

Demi menjamin tercapai dan terpeliharanya mutu dari waktu ke waktu, diperlukan
bakuan mutu berupa pedoman/bakuan yang tertulis yang dapat dijadikan pedoman kerja
bagi tenaga pelaksana.
1. Tiap pelaksana yang ditunjuk memiliki pegangan yang jelas tentang apa dan
bagaimana prosedur melakukan suatu aktifitas.
2. Standar yang tertulis memudahkan proses pelatihan bagi tenaga pelaksana baru yang
akan dipercayakan untuk mengerjakan suatu aktifitas.
3. Kegiatan yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur baku yang tertulis akan
menjamin konsistensinya mutu hasil yang dicapai.
4. Kebijakan mutu dibuat oleh penanggung jawab poli.
5. Standar Operasional Prosedur dan instruksi kerja dibuat oleh tenaga teknis
laboratorium dan disahkan oleh penanggung jawab poli Puskesmas.
6. Indikator mutu pelayanan rawat jalan meliputi;

Input Rincian Kegiatan Target


1 Sumber Daya
. Manusia
SDM memiliki SIK 100 %
SDM menerima pelatihan 20 jam
pelatihan
2 Alat Ketersediaan alat sesuai standard 90 %
.
3 Sarana Ketersediaan sarana sesuai 90 %
. standard
4 Kebijakan 1. Pola ketenagaan ada
.
2. Persyaratan kompetensi ada
petugas Poli
3. Tentang penyusunan ada
rencana layanan medis.
4. Tentang layanan klinis ada
yang menjamin
kesinambungan layanan
5. tentang hak dan kewajiban ada
pasien yang didalamnya
memuat hak untuk menolak
atau tidak melanjutkan
pengobatan.
6. yang mewajibkan ada
penulisan lengkap dalam
rekam medis: semua
pemeriksaan penunjang
diagnostik tindakan dan
pengobatan yang diberikan
pada pasien dan kewajban
perawat dan petugas
32 | P a g e
kesehatan lain untuk
mengingatkan pada dokter
jika terjadi pengulangan
yang tidak perlu. Dalam
SOP layanan klinis memuat
jika terjadi pengulangan
pemeriksaan penunjang
diagnostik, tindakan, atau
pemberian obat, petugas
kesehatan wajib
memberitahu kepada
dokter yang bersangkutan.
7. tentang penggunaan dan ada
pemberian obat dan/atau
cairan intravena
8. SK penyediaan obat-obat ada
emergensi di unit kerja.
Daftar obat emergensi di
unit pelayanan
9. Kebijakan penanganan
pasien berisiko tinggi
10. tentang jenis-jenis sedasi
yang dapat dilakukan di
Puskesmas.
11. tentang tenaga kesehatan
yang mempunyai
kewenangan melakukan
sedasi
12. Kebijakan dan SOP
penanganan pasien berisiko
tinggi
Pedoman Pelayanan Klinis
Kalibrasi alat
Proses
Pelayanan sesuai protap dan
standar mutu
1. SOP pengkajian awal klinis CR 90 %
2. SOP pelayanan medis, CR 90 %
3. SOP asuhan keperawatan
4. SOP pembentukan tim CR 90 %
interprofesi bila dibutuhkan
(termasuk pelaksanaan
perawatan kesehatan
masyarakat/home care
5. SOP pendelegasian CR 90 %
wewenang
6. SOP penyusunan rencana CR 90 %
layanan medis. SOP
penyusunan rencana
layanan terpadu jika
diperlukan penanganan
secara tim.
7. SOP layanan terpadu CR 90 %

33 | P a g e
8. SOP pemberian informasi CR 90 %
tentang efek samping dan
risiko pengobatan
9. SOP CR 90 %
pendidikan/penyuluhan
pasien
10. SOP informed consent CR 90 %
11. SOP evaluasi informed CR 90 %
consent, hasil evaluasi,
tindak lanjut
12. SOP rujukan CR 90 %
13. SOP persiapan pasien CR 90 %
rujukan
14. SOP identifikasi dan CR 90 %
penanganan keluhan
15. SOP layanan klinis yang CR 90 %
menjamin kesinambungan
layanan
16. SOP pemberian anestesi CR 90 %
lokal dan sedasi di
Puskesmas
17. SOP asuhan gizi CR 90 %
18. SOP tentang penolakan CR 90 %
pasien untuk menolak atau
tidak melanjutkan
pengobatan
19. SOP alternatif penanganan CR 90 %
pasien yang memerlukan
rujukan tetapi tidak
mungkin dilakukan

20. SOP penyediaan obat-obat CR 90 %


emergensi di unit kerja.
Daftar obat emergensi di
unit pelayanan
21. SOP penyimpanan obat CR 90 %
emergensi di unit
pelayanan
22. SOP monitoring CR 90 %
penyediaan obat emergensi
di unit kerja. Hasil
monitoring dan tindak
lanjut.
23. SOP penanganan pasien CR 90 %
berisiko tinggi
24. SOP identifikasi dan CR 90 %
penanganan keluhan
25. SOP dan bukti pelaksanaan CR 90 %
pendidikan/penyuluhan
pada pasien

Out put
Rekam medik lengkap 100 %

34 | P a g e
Out come
Kepuasan pelanggan 90 %

BAB IX
PENUTUP

Pedoman ini sebagai acuan bagi karyawan puskesmas dalam melaksanakan pelayanan medik
dasar gig di Puskesmas

Keberhasilan pelayanan medik dasar terkait dengan kepatuhan pemberi layanan terhadap standar
dan prosedur yang ditetapkan

35 | P a g e