You are on page 1of 28

CRYSTALLIZER DAN ALAT TRANSPORTASI

BAHAN PADAT

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengenalan pabrik

Disusun Oleh

Kelompok 6:

1. Muhammad Ariq Perdana ( 061440411706 )


2. Putu Injario ( 061440411712 )
3. Fauzia ( 061440412035 )

Tingkat / Program : I / D-IV Teknik Energi

Dosen Pembimbing : Ir. Sahrul Effendy, M.T

Mata Kuliah : Pengenalan Pabrik

JURUSAN TEKNIK KIMIA

PROGRAM STUDI TEKNIK ENERGI

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

2016

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.1.1. Crystallizer

Kristalisasi atau penghabluran (crystallzation) ialah peristiwa pembentukan


partikel-partikel zat padat (kristal) di dalam suatu fase yang homogen. Kristalisasi
merupakan metode yang praktis untuk mendapatkan bahan-bahan kimia murni dalam
kondisi yang memenuhi syarat baik untuk pengemasan ataupun untuk penyimpanan.

Alat-alat kristalisasi disebut juga kristallisator. Alat-alat ini digunakan dalam


proses kristalisasi terutama dalam skala industri, alat-alat yang digunakan dalam
proses kristalisasi sangat beragam macam, hal ini disebabkan oleh sifat-sifat bahan dan
kondisi pertumbuhan kristal yang sangat bervariasi. Disamping itu juga karena
kristallisasi dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda-beda (pemisahan bahan,
pemurnian bahan, pemberian bentuk).
Penggunaan alat kristallisasi harus memenuhi persyaratan misalnya
konsentrasi, suhu, dan gerakan untuk menunjang pertumbuhan inti atau benih kristal.
Dengan melengkapi perlengkapan-perlengkapan pada kristalisator untuk
memungkinkan terjadinya perpindahan panas (pemanasan, pendinginan, dan
penguapan) dan juga gerakan (pengadukan, penggulingan, pengankutan).
Kristallisator biasanya dilengkapi dengan alat pemisah (filtrasi) yang dipasang
dibelakang alat kristalisasi dan alat pengering. Faktor-faktor yang menjadi dasar
pemilihan sebuah alat kristalisasi ialah misalnya
Unjuk kerja kristalisasi yang diingikan
Cara operasi (tak kontinu, kontinu)
Kondisi bahan baku (larutan , lelehan)
Ukuran Kristal yang diinginkan
Bentuk Kristal yang diinginkan
Kemurnian kristalisat yang diinginkan
Kecendrungan produk untuk menbentuk kerak

1.1.2. Alat Transportasi Zat Padat


Di dalam industri, bahan-bahan yang digunakan tidak jarang merupakan bahan
yang berat maupun berbahaya bagi manusia. Untuk itu diperlukan alat transportasi
khusus untuk mengangkut bahan-bahan tersebut mengingat keterbatasan kemampuan

2
tenaga manusia baik itu berupa kapasitas bahan yang akan diangkut maupun
keselamatan kerja dari karyawan.
Salah satu jenis alat pengangkut yang sering digunakan adalah conveyor yang
berfungsi untuk mengangkut bahan -bahan industri yang berbentuk padat. Pemilihan
alat transportasi (conveying equipment) material padatan antara lain tergantung pada :
Kapasitas material yang ditangani
Jarak perpindahan material
Kondisi pengangkutan : horizontal, vertikal atau inklinasi
Ukuran, bentuk dan sifat material
Harga peralatan tersebut.

3
BAB II

CRYSTALLIZER DAN ALAT TRANSPORTASI


BAHAN PADAT

2.1. Jenis jenis dari Crystallizer dan alat transportasi bahan padat
2.1.1. Crystallizer
Alat-alat kristalisasi disebut juga Crystallizer atau Kristallisator. Alat-alat ini
digunakan dalam proses kristalisasi terutama dalam skala industri, alat-alat yang
digunakan dalam proses kristalisasi sangat beragam. Hal ini disebabkan oleh sifat-sifat
bahan dan kondisi pertumbuhan kristal yang sangat bervariasi. Disamping itu juga
karena kristallisasi dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda-beda (pemisahan bahan,
pemurnian bahan, pemberian bentuk).

A. Jenis Crystallizer dengan Circulating Magma

1. Forced Circulating Liquid Evaporator Crystallizer


Kristaliser jenis ini mengkombinasikan antara pendinginan dan evaporasi
untuk mencapai kondisi supersaturasi (larutan lewat jenuh).

Umpan berupa larutan induk terlebih dahulu dilewatkan melalui sebuah Heat
Exchangers untuk dipanaskan. Heat exchangers berada didalam evaporator. Didalam
evaporator terjadi flash evaporation yaitu: terjadi pengurangan jumlah atau kandungan
pelarut dan terjadi peningkatan kosentrasi zat terlarut. Dimana pada saat itu juga,
keadaan zat terlarut sudah lewat jenuh atau supersaturasi. Larutan yang sudah berada
pada keadaan lewat jenuh tersebut dialirkan menuju badan crystallizer untuk diperoleh
padatan berupa kristal. Dimana pada badan crystallizer terdapat mekanisme kristalisasi
yaitu nukleasi dan pertumbuhan kristal. Produk kristal dapat diambil sebagai hasil
pada bagian bawah crystallizer, namun tidak semua proses berjalan sempurna atau
dengan kata lain tidak semua cairan induk berubah menjadi padatan kristal. Karena itu
ada proses pengembalian kembali hasil pipa sirkulasi (circulating pipe) atau
proses recycle hasil kristaliasi. Terlihat bahwa umpan dan campuran umpan dengan

4
hasil yang masih belum padatan, dialirkan dengan paksa atau forced circulation, serta
adanya Heat Exchangers dapat membuat kenaikan titik didih yang sempurna.
Kenaikan titik didih pada Heat Exchangers pada Evaporator untuk dapat membuat
larutan menjadi lewat jenuh berkisar antara 3 100F untuk sekali lewat. Bila kenaikan
titid didih yang diharapkan untuk mendapatkan kristal yang baik tidak sesuai, maka
dapat digunakan beberapa evaporator untuk menaikan titik didih, dimana kosentrasi
zat terlarut akan meningkat juga. Karena mengalir secara paksa menggunakan pompa,
maka kecepatan aliran cukup tinggi, sehingga akan mengakibatkan ketinggian
permukaan larutan pada crystallizer tidak tetap atau naik turun. Umumnya crystallizer
jenis ini dibangun dengan diameter 2 feet atau pada skala industri sekitar 4 feet atau
lebih.

2. Draft Tube Baffle (DTB) Cyrstallizer


Draft tube baffle (DTB) crystallizers atau plat buang/tabung isap kristalisasi
merupakan salah satu dari beberapa jenis alat kristalisator yang didasarkan pada
pemisahan debu/uap dari bahan melalui fase lewat - jenuh yang ditingkatkan sehingga
diperoleh kristal kristal yang besar. Alat ini dilengkapi dengan tabung junjut fungsi
sekat untuk mengendalikan sirkulasi magma dan dilengkapi pula oleh alat penggerak
(argitator).

Proses kerja Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizers dapat dibedakan menjadi
dua bagian. Bagian pertama adalah proses kristalisasi dan bagian kedua adalah proses
klarifikasi. Pada bagian kristalisasi, bahan sample dan cairan induk (mother liquid)
dimasukkan kedalam tangki DTB Crystallizers melalui sebuah pipa Superheated
Solution From Hearter and Recirculation Pump, komponen ini akan mendorong bahan
naik ke atas dalam Draft Tube (suatu tabung isap). Didalam tabung isap bahan akan
tercampur dan mengalami sirkulasi dengan bantuan Agitator (pemutar/pengaduk) yang
berada di dalam tangki bagian bawah, Kedua bahan ini akan membentuk magma
melalui fase lewat-jenuh yang ditingkatkan. Magma yang terbentuk akan mengalami
perubahan density sehingga uap yang terkandung di dalamnya akan terlepas
kepermukaan magma menuju ke Vapors Separation (pemisahan uap). Magma yang
mengalami perubahan density akan mengalami proses nukleasi (pembentukan inti

5
kristal), kristal yang terbentuk akibat proses nukleasi akan mengendap ke dasar larutan
dan sebagian akan naik ke permukaan. Kristal yang mengendap akan mengalami
pemisahan antara kristal halus dan kristal kasar pada settling zone (zona penyelesaian),
dimana sebagian Kristal akan dikeluarkan dari dasar tangki dan selebihnya dijadikan
umpan bersama cairan induk untuk melakukan proses sirkulasi guna melarutkan
partikel-partikel halus yang masih mengendap. Pada bagian klarifikasi akan terjadi
pemisahan pada bentuk kristal, Kristal yang sesuai dengan keinginan akan diambil dan
kristal yang belum sesuai (ukurannya besar/kasar) akan dikembalikan ke zona
kristalisasi untuk proses lebih lanjut.

Dengan menggunakan alat Draft Tube Baffle (DTB)


Crystallizers dapat diperoleh produk :
Natrium Karbonat (Sodium Carbonate)
Sodium Sulfat (Sodium Sulfate)
Natrium Nitrat (Sodium Nitrate)
Tembaga Sulfat (Copper Sulfate)
Sodium Sulfit (Sodium Sulfite)
Kalsium Klorida (Calcium Chloride)
Amonium Sulfat (Ammonium Sulfate)
Kalium Klorida (Potassium Chloride)

Keuntungan menggunakan Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizers antara lain :


Mampu memproduksi kristal kristal dalam bentuk tunggal.
Siklus operasionalnya lebih panjang.
Biaya operasi lebih rendah.
Kebutuhan ruang minimum
Instrument dapat dikendalikan dengan mudah
Kesederhanaan operasi, memulai dan penyelesaian.

3. Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer

6
Crystallizer jenis ini menggunakan prinsip sirkulasi cairan atau larutan induk,
dimana umpan maupun hasil kristaliasi akan masuk kedalam Sheell and Tube Heat
Exchangers untuk didinginkan. Perbedaan dengan jenis crystallizer lainnya ialah
karena pada saat dibadan crystallizer terbentuk campuran kristal dan cairan induk,
maka akan terjadi tumbukan antara cairan dengan kristal sehingga suhu campuran
akan meningkat, untuk mendinginkannya diperlukan medium pendingin. Crystallizer
ini menggunakan prinsip pendinginan, karena kristalisasi dapat terjadi melalui
pembekuan (solidification).

Umpan dan recylce kristalisasi bersama-sama masuk kedalam medium


pendingin. Namun ada kelemahannya yaitu, panjang untuk pertukaran panas pada HE
dan kecepatan umpan serta recycle kristalisasi sangat di perhitungkan, sebab jika
terjadi kesalahan penurunan suhu untuk dapat melakukan kristalisasi pada proses
pendinginan tidak berlangsung secara optimal. Oleh karena itu, pompa untuk sirkuasi
sangat dikontrol dengan baik, karena pompa itulah yang menciptakan laju alir
disamping bukaan valve. Adanya pompa menyebabkan cairan induk akan mengalir
secara turbulen baik didalam HE maupun didalam badan Crystalizer, maka akan
terjadi sering tumbukan untuk menghasilkan kristal, dimana terdapat sekat antara
saluran Head HE dengan ujung keluaran cairan induk. Bila kristal sudah terbentuk
pada cairan induk yang sudah lewat jenuh, maka kristal akan turun karena adanya
gaya gravitasi dan perbedaan massa jenis. Kristal dari Crystallizer jenis ini berukuran
besar antara 30 100 mesh.

4. OSLO Evaporative Crystallizer


Crystallizer ini dirancang berdasarkan adanya perbedaan suspensi yang mulai
terbentuk pada chamber of suspension. Dimana terdapat HE eksternal yang bertujuan
untuk membuat keadaan lewat jenuh pada suhu supersaturasinya.

Umpan masuk pada G, karena dipompa umpan akan bergerak secara paksa,
masuk kedalam evaporator yang terdapat HE, cairan umpan tersebut masuk kedalam
B. Sebelum masuk ke B, pada bagian A cairan induk yang panas akan bercampur
dengan panas penguapan pada bagian B. Laju penguapan tersebut harus dikontrol

7
antara kerja pompa untuk mengalirkan cairan induk dengan perubahan panas
campuran tersebut. Pada bagian B terjadi proses pencampuran antara keadaan
supersaturasi dengan kedaan penguapan, maka sering timbul scale atau kerak garam,
sehingga akan mengganggu proses sirkulasi dari aliran tersebut. Sering kali diberikan
bibit kristal pada bibit kristal untuk mempercepat pembentukan kristal-kristal yang
kita harapkan.

5. OSLO Surface Cooled Crystallizer

Tidak jauh berbeda dengan OSLO Evaporative Crystallizer, hanya saja cairan
induk didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk kedalam crystallizer. Lainnya sama
dengan jenis crystallizer OSLO EC.

6. Crystal Vacum Crystallizer


Prinsip kerja dari Crytallizer jenis ini adalah : Feed dicampur dengan cairan
yang di recycle dipompa keruang penguap untuk diuapkan secara adiabatic sehingga
terjadilarutan lewat jenuh. Larutan tersebut mengalir melalui pipa ketangki kristalisasi
sehingga terbentuk kristal di dalam tangki kristalisasi, kemudian kristal dikeluarkan
melalui dischargenya dan cairannya di recycle. Dengan alat ini ukuran kristal yang
diinginkan dapat diatur dengan mengatur kecepatan pompa sirkulasi. Kalau
sirkulasinya lambat maka kristal yang kecil-kecil pun akan larut mengendap.

7. Circulating Magma Vacuum Crystallizer


Pada tipe kristaliser ini, baik kristal ataupun larutan di sirkulasi diluar badan
kristal. Setelah dipanaskan larutan akan dialirkan ke badan kristaliser. Kondisi vakum
menjadi penyebab menguapnya pelarut, sehingga menjadi lewat jenuh dan dihasilakan
kristal.

B. Jenis Crystallizer Tanpa Circulating Magma

1. Jacketed Pipe Scraped Crystallizer

8
Crystallizer jenis ini berbentuk balok yang panjang, dimana didalamnya
terdapat piringan yang berlekuk-lekuk yang dapat berputar karena adanya poros pada
ujungnya. Alat ini umumnya dibuat dari dengan pipa dalam 6 12 inchi sebagai
diameter dan panjangnya sekitar 20 40 feet, yang disusun seri dalam sambungan
dengan 3 buah atau lebih. Piringan yang berlekuk tersebut dinamakan dengan Scraper
Blades yang berputar dengan kecepatan 15 sampai 30 rpm. Suhu operasi yang dapat
dijalankan sekitar -75 sampai 1000F dan dapat juga digunakan pada cairan yang
memiliki viskositas lebih dari 10000 cp.
Prinsip kerjanya ialah plug flow, dimana cairan induk masuk dari bagian atas
samping kanan, lama kelamaan akan membentuk kristal didalam pipa tersebut dan
kristal akan mengendap dibawah dan menempel didinding pipa, yang nantinya scaper
blades akan mengambil kristal-kristal tersebut. Ukuran kristal yang dihasilkan akan
seragam, umumnya besar-besar.

2. Batch Stirred Tank With Internal Cooling Coil


Crystallizer jenis ini dapat divariasikan terutama pada bagian
badan crystallizer yang dapat digunakan pengaduk atau tanpa pengaduk. Umumnya
bila dilengkapi dengan pengaduk waktu yang diperlukan untuk menghasilkan kristal
akan lebih cepat bila dibandingkan dengan tanpa pengaduk. Koefisien perpidaan panas
yang terjadi sebesar 50 -200 Btu/hr ft2 0F, namun perbedaan temperature yang
diperbolehkan untuk mendapatkan keadaan lewat jenuh ialah sebesar 5 100F.
Jenis crystallizer ini termasuk jenis yang batch, artinya tidak ada aliran yang
keluar setiap waktunya. Tangki crystallizer diisi, lalu diambil hasilnya pada waktu
tertentu. Jenis ini dapat digunakan untuk proses yang continous dengan dilengkapi
pengaduk. Umumnya jenis ini memiliki tutup yang berbentuk torispherical, dimana
umpan atau cairan induk masuk dari atas dan masuk kedalam tangki untuk
didinginkan. Medium pendingin digunakan koil yang berada didalam
tangki crystallizer tersebut, sehingga efisiensi perpindahan panas cukup tinggi. Karena
kontak antar cairan dengan medium pendingin cukup luas. Disamping itu, bila

9
digunakan pengaduk pembentuk kristal terutama pada secondary nucleation akan lebih
besar bila dibandingkan dengan tanpa pengaduk.
3. Direct Contact Refrigeration Crystallizer
Umunya bila kita ingin menciptakan permukaan yang dingin atau cukup dingin
pada sebuah HE agak sulit karena perbedaan temperaturnya harus sangat kecil
(dibawah 30F), sehingga HE didesain dengan sebaik-baiknya terutama luas
permukaannya yang dapat memindahkan sejumlah panas yang kita inginkan. Apalagi
bila cairannya cukup kental, agak sulit untuk menciptakan perbedaan suhu yang sangat
kecil tersebut. Untuk mengatasinya dapat digunakan bahan pendingin yaitu
zat refrigerant seperti pada beberapa aplikasi pendinginan air laut menjadi es pada
suhu yang rendah yang menggunakan refrigerant.
Prinsip kerja dari crystallizer jenis ini ialah dengan adanya pendinginan
dari refrigerantyang digunakan. Dimana umpan berupa cairan induk dimasukkan
kebadan crystallizer dengan suhu yang lebih tinggi dari suhu yang refrigerant (suhu
cair refrigerant minus). Karena titik didih dari refrigerant sangat kecil atau jauh
dibawah suhu cairan induk, maka ada perpindahan panas dari cairan induk
menuju refrigerant, dimana akan mengakibatkan suhu refrigerant akan naik dan
menguap untuk mendinginkan cairan induk, sampai cairan induk berada pada keadaan
lewat jenuhnya. Penggunaan refrigerant ini medium pendingin sangatlah efektif,
karena apabila digunakan HE dengan media refrigerant sebagai pendingin, perbedaan
suhu yang dihasilkan akan sangat kecil. Contoh dari jenis crystallizer ini pada proses
pembuatan kristal Calcium Chloride dengan refrigerant freon atau propane dan
pembuatan kristal p-xylene dengan refrigerant propane.

4. Twinned Crystallizer
Jenis crystallizer ini sebenarnya berbentuk tangki yang didalamnya terdapat
dua pengaduk yang dipisahkan oleh sekat atau baffle. Pada tiap pengaduk terdapat
medium pemanas dimana yang salah satunya berkerja pada suhu saturasi, sedangkan
satunya bekerja pada suhu supersaturasi atau lewat jenuh. Namun bila suhu operasi
pada crystallizer ini sama pada kedua medium pemanas, umumnya akan didapatkan

10
keseragaman ukuran. Tetapi waktu yang diperlukan akan lebih lama, walaupun
terdapat dua pengaduk dalam satu tangki tersebut.
Sesuai dengan namanya bahwa seolah-olah terdapat dua macam
jenis crystallizer yang beroperasi pada suhu yang berbeda namun dalam satu
tangki crystallizer . Terlihat bahwa umpan masuk, karena adanya pergerakan
pengaduk, cairan induk bersikulasi dan juga disebabkan karena adanya sekat antara
kedua pengaduk tersebut. Bila kita melihat jenis alirannya, sudah pasti cukup turbulen,
sebab cairan bersikulasi cukup panjang didalam crystallizer tersebut. Semakin cepat
gerakan pengaduk dan semakin tinggi perbedaan suhu yang ditukarkan, maka semakin
cepat dan baik kristal yang didapatkan. Produk berupa kristal dapat diambil pada
bagian bawah crystallizer, karena kristal akan jatuh atau mengendap dibawah
adanya gaya gravitasi dan perbedaan massa jenis.

5. APV-Kestner Long Tube Vertical Evaporative Crystallizer


Umumnya crystallizer jenis ini digunakan untuk mendapatkan butiran-butiran
atau kristal yang cukup kecil, biasanya kurang dari 0.5 mm.
Prinsip kerjanya hampir sama dengan crystallizer yang lain, yaitu umpan
masuk dengan pompa, lalu melewati sebuah evaporator yang didalamnya terdapat HE.
Pada saat cairan induk berada pada keadaan supersaturasi atau lewat jenuh, maka akan
terbentuk kristal-kristal halus, kristal tersebut ditampung pada salt box, cairan induk
yang belum lewat jenuh dikeluarkan, sedangkan yang berupa kristal dikelurkan
produk. Contohnya pada pembuatan kristal NaCl (garam), Na2SO4, Citric Acid.

2.1.2. Alat transportasi bahan padat


Jenis-jenis alat transportasi bahan padat adalah sebagai berikut :

1. BeltConveyor
Beltconveyor pada dasarnya merupakan peralatan yang terdiri dari
sabuk yang tahan terhadap pengangkutan benda padat. Sabuk yang digunakan
pada beltconveyor ini dapat dibuat dari berbagai jenis bahan misalnya dari
karet, plastik, kulit ataupun logam yang tergantung dari jenis dan sifat bahan

11
yang akan diangkut. Untuk mengangkut bahan -bahan yang panas, sabuk yang
digunakan terbuat dari logam yang tahan terhadap panas.

Karakteristik belt conveyor adalah sebagai berikut :

Jarak tempuh dapat bermil-mil.


Kecepatan s/d 5,08 m/detik = 1000 ft/menit.
Kapasitas s/d 4539 metric ton/jam = 5000 ton/jam.
Kemiringan : maksimum 30o, biasanya 18-20o
Bahan yang ditransfer tidak mengalami pengecilan ukuran.
Sederhana, paling banyak digunakan.
Sudut naik (elevasi) terbatas.
Baik untuk mengangkut tepung, granular, gumpalan.
Tidak baik untuk mengangkut bahan yang mudah terbawa angin.

Gambar 2.1 Belt Conveyor

2. ChainConveyor
Chain conveyor pada dasarnya adalah alat yang menggunakan rantai
sebagai alat bantu untuk menggerakkan material. Chain conveyor dapat dibagi
atas beberapa jenis conveyor, yaitu :
Scraper Conveyor
Apron Conveyor
Bucket Conveyor
Bucket Elevator

12
3. Scraper Conveyor
Scraper conveyor merupakan konveyor yang sederhana dan paling murah
diantara jenis-jenis conveyor lainnya. Conveyor jenis ini dapat digunakan dengan
kemiringan yang besar. Conveyor jenis ini digunakan untuk mengangkut material-
material ringan yang tidak mudah rusak, seperti : abu, kayu dan kepingan.

Karakteristik dari scaper conveyor:

Dapat beroperasi dengan kemiringan sampai 45.


Mempunyai kecepatan maksimum 150 ft/m.
Kapasitas pengangkutan hingga 360 ton/jam.
Harganya murah.

Gambar 2.2 Scraper Conveyor

4. Apron Conveyor
ApronConveyor digunakan untuk variasi yang lebih luas dan untuk beban yang
lebih berat dengan jarak yang pendek. ApronConveyor yang sederhana terdiri dari
dua rantai yang dibuat dari mata rantai yang dapat ditempa dan ditanggalkan
dengan alat tambahan A. Palang kayu dipasang pada alat tambahan A diantara
rantai dengan seluruh tumpuan dari tarikan conveyor. Untuk bahan yang berat dan
pengangkutan yang lama dapat ditambahkan roda (roller) pada alat tambahan A.
Selain digunakan roller, palang kayu dapat juga digantikan dengan plat baja untuk
mengangkut bahan yang berat.
Karakteristik dan apron conveyor:
Dapat beroperasi dengan kemiringan hingga 25.
Kapasitas pcngangkutan hingga 100 ton/jam.
Kecepatan maksimum 100 ft/m.
Dapat digunakan untuk bahan yang kasar, berminyak maupun yang besar.

13
Perawatan murah.

5. Bucket Conveyor
BucketConveyor sebenarnya merupakan bentuk yang menyerupai conveyor apron
yang dalam.

Karakteristik dari bucketconveyor:


Bucket terbuat dari baja
Bucket digerakkan dengan rantai
Biaya relatif murah.
Rangkaian sederhana.
Dapat digunakan untuk mengangkut bahan bentuk bongkahan.
Kecepatan sampai dengan 100 ft/m.
Kapasitas kecil 100 ton/jam.

Gambar 2.3 Bucket Conveyor

6. Bucket Elevator
Secara umum bucketelevator terdiri dari timba-timba (bucket) yang dibawa
oleh rantai atau sabuk yang bergerak. Timba-timba yang digunakan memiliki
beberapa bentuk sesuai dengan fungsinya masing-masing. Bentuk - bentuk dari
timba-timba dapat dibagi atas :
a. Minneapolis Type
Bentuk ini hampir dipakai di seluruh dunia. Dipergunakan untuk mengangkut
butiran dan material kering yang sudah lumat.
b. Buckets for Wet or Sticky Materials
Bucket yang lebih datar dan dipergunakan untuk mengangkut material yang
cenderung lengket.
c. Stamped Steel Bucket for Crushed Rock
Dipergunakan untuk mengangkut bongkahan -bongkahan besar dan material
yang berat.

14
Gambar 2.4 Jenis Bucket Elevator

Gambar 2.5 Bucket Elevator


7. Screw Conveyor
Jenis konveyor yang paling tepat untuk mengangkut bahan padat berbentuk
halus atau bubur adalah konveyor sekrup (screwconveyor). Alat ini pada
dasarnya terbuat dari pisau yang berpilin mengelilingi suatu sumbu sehingga
bentuknya mirip sekrup. Pisau berpilin ini disebut flight.
Macam-macam flight adalah:
1. Sectional flight
2. Helicoid flight
3. Special flight, terbagi :
cast iron flight
ribbon flight
cut flight
Konveyor berfiight section (Gambar 2.6-a) dibuat dari pisau-pisau
pendek yang disatukan -tiap pisau berpilin satu putaran penuh- dengan cara
disimpul tepat pada tiap ujung sebuah pisau dengan paku keling sehingga
akhirnya akan membentuk sebuah pilinan yang panjang.
Sebuah helicoid flight, bentuknya seperti pita panjang yang berpilin
mengelilingi suatu poros (Gambar 2.6-b). Untuk membentuk suatu konveyor,
flight-flight itu disatukan dengan cara dilas tepat pada poros yang bersesuaian
dengan pilinan berikutnya.

15
Flight khusus digunakan dimana suhu dan tingkat kerusakan tinggi
adalah flight cast iron. Flight-flight ini disusun sehingga membentuk sebuah
konveyor (Gambar 2.6-c).
Untuk bahan yang lengket, digunakan ribbon flight (Gambar 2.6-d).
Untuk mengaduk digunakan cut flight (Gambar 2.6-e). Flight pengaduk ini
dibuat dari flight biasa, yaitu dengan cara memotong-motong flight biasa lalu
membelokkan potongannya ke berbagai arah.
Untuk mendapatkan konveyor panjang yang lebih sederhana dan murah,
biasanya konveyor tersebut itu disusun dari konveyor-konveyor pendek.
Sepasang konveyor pendek disatukan dengan sebuah penahan yang disebut
hanger dan disesuaikan pasangan pilinannya.
Tiap konveyor pendek mempunyai standar tertentu sehingga dapat
dipasang dengan konveyor pendek lainnya, yaitu dengan cara memasukkan salah
satu poros sebuah konveyor ke lubang yang terdapat pada poros konveyor yang
satunya lagi (Gambar 2.7).

Gambar 2.6Screw Conveyor : a Sectional ; b. Helicoid; c. Cast Iron;


d. Riboon ; e. Cut Flight

16
Gambar 2.7 Screw Conveyor Coupling

Gambar 2.8. Screw conveyor secara keseluruhan

8. Pneumatic Conveyor
Konveyor yang digunakan unluk mengangkut bahan yang ringan atau
berbentuk bongkahan kecil adalah konvenyor aliran udara (pneumatic
conveyor). Pada jenis konveyor ini bahan dalam bentuk suspensi diangkut oleh
aliran udara.
Pada konveyor ini banyak alat dipakai, antara lain:
Sebuah pompa atau kipas angin untuk menghasilkan aliran udara.
Sebuah cyclone untuk memisahkan partikel-partikel besar.
Sebuah kotak penyaring (bag filter) untuk menyaring debu.
Pada tipe yang sederhana, sebuah pompa cycloida akan menghasilkan
kehampaan yang sedang dan sedotannya dihubungkan dengan sistem
pengangkulan. Bahan -bahan akan terhisap naik melalui selang yang dapat
dipindah-pindahkan ujungnya. Kemudian, aliran udara yang mengangkut
bahan padat dalam bentuk suspensi akan menuju siklon dan selanjutnya
menuju ke pompa.

Jika bahan-bahan ini mengandung debu, debu ini tentunya akan


merusak pompa dan debu ini juga akan membahayakan jika dibuang ke udara,
dengan kala lain debu adalah produk yang tidak diinginkan. Karenanya, sebuah
kotak penyaring ditempatkan diantara siklon dan pompa.
Jenis konveyor ini terutama digunakan untuk mengangkut bahan yang
kebersihannya harus tetap terjaga baik (seperti biji-bijian, bahan-bahan lumat
seperti soda abu, dan lain-lain) supaya keadaannya tetap baik dan tidak
mengandung zat-zat beracun seperti timbal dan arsen.
Konveyor ini juga dapat dipakai untuk mengangkut bahan-bahan yang
berbentuk bongkahan kecil seperti chip kayu, bit pulp kering, dan bahan
lainnya yang sejenis. Kadang-kadang juga digunakan bila jalan yang dilalui

17
bahan berkelok-kelok atau jika bahan harus diangkat dan lain-lain hal yang
pada tipe konveyor lainnya menyebabkan biaya pengoperasian lebih tinggi.
Kecepatan aliran udara pada kecepatan rendah adalah 3000-7500 fpm
( feet per minute ) dan pada kecepatan tinggi adalah 10000-20000 fpm.
Sedangkan jumlah udara yang digunakan untuk mengangkut tiap ton bahan per
jam adalah 50-200 cfm (cubic feet per minute ), tergantung pada keadaan dan
berat bahan,jarak dan kemiringan pengangkutan, dan lain-lain.

Gambar 2.9 Pneumatic Conveyor

2.2. Fungsi dari Crystallizer dan alat transportasi bahan padat


2.2.1. Crystallizer
Dalam proses kristalisasi menggunakan alat yang dinamakan dengan crystallizer.
Crystallizer adalah alat yang digunakan untuk memperoleh atau membuat kristal dari
larutannya. Oleh karena itu, larutan yang akan dikristalisasi harus dibuat lewat jenuh
terlebih dulu dengan jalan penguapan atau pendinginan. Kristalisasi tidak dapat terjadi
tanpa super saturasi terlebih dahulu, dimana cara memperoleh saturasi ini tergantung
dari kelarutannya. Sebagai contoh misalnya NaNO 3, untuk memperoleh super saturasi
dan kristalisasi dapat dilakukan dengan :

pendinginan tanpa penguapan

18
penguapan tanpa pendinginan
kombinasi penguapan dan pendinginan (adiabatic)

2.2.2. Alat transportasi bahan padat


Alat transportasi bahan padat atau Conveyor mempunyai fungsi memindahkan
barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Conveyor banyak dipakai di industri
untuk transportasi barang yang jumlahnya sangat banyak dan berkelanjutan.
Dalam kondisi tertentu, conveyor banyak dipakai karena mempunyai nilai
ekonomis dibanding transportasi berat seperti truk dan mobil pengangkut. Conveyor
dapat memobilisasi barang dalam jumlah banyak dan kontinyu dari satu tempat ke
tempat lain. Perpindahan tempat tersebut harus mempunyai lokasi yang tetap agar
sistem conveyor mempunyai nilai ekonomis. Kelemahan sistem ini adalah tidak
empunyai fleksibilitas saat lokasi barang yang dimobilisasi tidak tetap dan jumlah
barang yang masuk tidak kontinyu.

2.3. Aplikasi dari Crystallizer dan alat transportasi bahan padat


2.3.1. Aplikasi dari Crystallizer
2.3.1.1. Di industri Garam
Proses Pembentukan Kristalisasi Garam
Garam merupakan salah satu kebutuhan yang merupakan pelengkap dari
kebutuhan pangan dan merupakan sumberelektrolit bagi tubuh manusia. Walaupun
Indonesia termasuk negara maritim, namun usaha meningkatkan produksi garam
belum diminati, termasuk dalam usaha meningkatkan kualitasnya. Di lain pihak untuk
kebutuhan garam dengan kualitas baik (kandungan kalsium dan magnesium kurang)
banyak diimpor dari luar negeri, terutama dalam hal ini garam beryodium serta garam
industri.
Kualitas garam yang dikelola secara tradisional pada umumnya harus diolah
kembali untuk dijadikan garam konsumsi maupun untuk garam industri. Pembuatan
garam dapat dilakukan dengan beberapa kategori berdasarkan perbedaan kandungan
NaCl nya sebagai unsur utama garam. Jenis garam dapat dibagi dalam beberapa
kategori seperti; kategori baik sekali, baik dan sedang. Dikatakan berkisar baik sekali

19
jika mengandung kadar NaCl >95%, baik kadar NaCl 90-95%, dan sedang kadar NaCl
antara 8090% tetapi yang diutamakan adalahyang kandungan garamnya di atas 95%.
Proses pembuatan garam yang sederhana adalah menguapkan air laut sehingga
mineral-mineral yang ada di dalamnya mengendap. Hanya saja mineral-mineral yang
kurang diinginkansedapat mungkin hanya sedikit yang dikandung oleh garam yang
diproduksi. Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara bertingkat, sehingga
dengan gaya gravitasi air dapat mengalir ke hilir kapan saja dikehendaki. Dalam
tulisan ini diberikan dua model peningkatan mutu garam, yaitu mengendapkan Ca dan
Mg dengan menggunakan Natrium Karbonat atau Natrium Oksalat yang
dikombinasikan dengan cara pengendapan bertingkat. Kalsium dan magnesium
sebagai unsur yang cukup banyak dikandung dalam air laut selain NaCl perlu
diendapkan agar kadar NaCl yang diperoleh meningkat. Kalsium dan magnesium
dapat terendapkan dalam bentuk garam sulfat, karbonat dan oksalat.Dalam proses
pengendapan atau kristalisasi garam karbonat dan oksalat mengendap dahulu,
menyusul garam sulfat, terakhir bentuk garam kloridanya. Prinsip dasar dari proses
pembuatan garam yang dilakukan adalah menghasilkan garam yang kualitasnya lebih
baik. Untuk itu, diperlukan studi lapangan yang menunjang kualitas garam antara lain
kondisi lahan yang digunakan, kemiringan, uji laboratorium, termasuk kondisi iklim
dan sebagainya, sehingga dihasilkan garam sesuai kualitas yang diharapkan.
Proses Pembuatan Garam
Ada bermacam-macam cara pembuatan garam yang telah dikenal manusia,
tetapi dalam tulisan ini hanya akan diuraikan secara singkat cara pembuatan garam
yang proses penguapannya menggunakan tenaga matahari (solar evaporation),
mengingat cara ini dinilai masih tepat untuk diterapkan perkembangan teknologi dan
ekonomi di Indonesia pada waktu sekarang.
Pada dasarnya pembuatan garam dari air laut terdiri dari langkah-langkah
proses pemekatan (dengan menguapkan airnya) dan pemisahan garamnya (dengan
kristalisasi). Bila seluruh zat yang terkandung diendapkan/dikristalkan akan terdiri
dari campuran bermacam-macam zat yang terkandung, tidak hanya Natrium Klorida
yang terbentuk tetapi juga beberapa zat yang tidak diinginkan ikut terbawa
(impurities). Proses kristalisasi yang demikian disebut kristalisasi total.

20
2.3.1.2. Di Industri Pupuk

Gambar kristalizer di PT PUSRI unit Urea

Seksi ini bertujuan untuk mengkristalisasi cairan Urea dan membuat butiran urea
untuk dipasarkan. Urea hasil dari oxidizing column memiliki konsentrasi urea 73,9%
yang kemudian dipompakan memasuki kristalisaser bagian bawah. Kristalisasi ini
terdiri dari dua bagian, yaitu kristalisasi bagian atas yang disebut Vacuum Concentrator
yang bekerja pada tekanan 102 mmHg absolut dan temperatur operasi 72C serta
kristalisasi bagian bawah yang bekerja pada tekanan vakum. Kedua bagian crystallizer
tersebut dihubungkan oleh barometric leg. Pada vacuum concentrator, terjadi proses
penguapan air dan larutan Urea yang supersaturated turun ke bawah melalui
barometricleg dan masuk ke kristalisasi.
Pada kristalisasi bagian bawah, air akan menguap pada temperatur rendah
karena tekanan yang digunakan ialah tekanan vakum. Larutan Urea pada kristalisasi
bagian bawah akan bercampur dengan larutan Urea jenuh yang turun dari barometric
leg (seperti pipa) dan berasal dari kristalisasi bagian atas. Slurry Urea yang keluar dari
kristalisasi bagian bawah akan dipompa oleh slurry feed pump sebagian ke prethickener

21
dan sisanya masuk ke bagian atas ke kristalisasi di bagian bawah . Dari bagian tengah
kristalisasi, slurry Urea dipompa oleh sirkulasi pompa untuk kristalisasike bagian tube
side dari HPAC untuk menjaga temperatur HPAC. Kemudian dari HPAC, slurry Urea
akan bergabung dengan larutan induk slurry Urea dari oxidizing column dan masuk
kembali ke bagian atas dari kristalisasi bagian tengah dengan dipompa oleh pompa
larutan Urea (GA-205). Pada kristalisasi bagian atas atau pada vacuumconcentrator, air
dapat teruapkan akibat panas yang didapat dari panas sensibel Urea yang masuk dari
oxidizing column (DA-203), panas kristalisasi Urea, panas air di dalam jaket , dan panas
yang didapat oleh Urea yang disirkulasi ke HPAC. Tekanan vakum dan temperatur
untuk kristalisasi Urea pada vacuumconcentrator diatur agar Urea yang keluar
mengandung kristal Urea.
2.3.2. Aplikasi dari Crystallizer
2.3.2.1. Di Industri Pupuk

Gambar Conveyor di Prilling Tower unit Urea PT Pusri

Dari accoustic granular, butiran Urea akan turun akibat gaya gravitasi dan mulai
memadat hingga didinginkan lagi menjadi 40C pada Fluidizing Cooler oleh hembusan udara

22
dari Fan. Butir Urea yang turun dari Fluidizing Coolerkemudian jatuh ke Belt Conveyoryang
mengantarkan butir Urea masuk ke Trommol Screen. Trommol Screen ini berfungsi untuk
memisahkan produk Urea yang terlalu besar. Butiran Urea yang terlalu besar akan menuju ke
Dissolving Tankkedua yang kemudian akan dialirkan Dissolving Tank pertama lalu masuk ke
mother liquor tank. Produk Urea dengan ukuran yang sesuai kemudian diitimbang dengan
Belt Scale,lalu diantarkan ke bagian pengemasan.

23
BAB III

PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
1. Crystallizer adalah alat yang digunakan untuk memperoleh atau membuat
kristal dari larutan.
2. Alat transportasi bahan padat atau Conveyor mempunyai fungsi
memindahkan barang dari satu tempat ke tempat yang lain.
3. Jenis Crystallizer
a. Dengan Circulating Magma
- Forced Circulating Liquid Evaporator Crystallizer
- Draft Tube Baffle (DTB) Cyrstallizer
- Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer
- OSLO Evaporative Crystallizer
- OSLO Surface Cooled Crystallizer
- Crystal Vacum Crystallizer
- Circulating Magma Vacuum Crystallizer
b. Tanpa Circulating Magma
- Jacketed Pipe Scraped Crystallizer
- Batch Stirred Tank With Internal Cooling Coil
- Direct Contact Refrigeration Crystallizer
- Twinned Crystallizer
- APV-Kestner Long Tube Vertical Evaporative Crystallizer

4. Jenis-jenis transportasi bahan padat adalah Beltconveyor, Chain


conveyor, screwconveyor, pneumatic conveyor.

24
DAFTAR PUSTAKA
Jayanti,Nyoman. 2009. Perancangan PabrikK Mata-Aminohenol dari Resorcinoldan
Ammonia dengan Katalis Ammonium Klorida Kapasitas 50.000 Ton/Tahun
(Perancangan Crystallizer (CR-301)). Bandar Lampung

Julaiha,Titin. 2003. Laporan Kerja Praktek di PT Gunung Madu Plantations Gunung Batin.
Bandar Lampung
http://novhan-natanagara.blogspot.co.id/2011/03/alat-transportasi-benda-padat.html

http://www.academia.edu/11350669/Crystallizer

http://domas09.blogspot.co.id/2013/02/alat-kristalisasi.html

Berhascon G, Gerster H, Hauser H, Stauble H, Schneiter, 1995. Teknologi Kimia bagian


kedua;hal: 192-203,Bandung: PT Pertja.

Warren L, McCabe Julian C, Peter H, 1993. Operasi Teknik Kimia jilid kedua edisi
keempat, Jakarta: Penerbit Erlangga

Walterl B & Julius T, 1955. Introduction To Chemical Engineering, Mc Graw; Hill


International Edition.

Ken Toyokura et all : Crystallization Volume I & II , JACE Design Manual Series, Tokyo
1982.

Ken Toyokura, R.C. Bennett & G.H. Dale : Crystallization in Encyclopedia of Chemical
Processing and Design editor : Mc. Ketta & Cunningham, Marcel Dekker Inc. New York,
1981.

J.W. Mullin Crystallization ; Butterworths, London, 1972.

25
P.A. Schweitzer (ed.) : Handbook of Separation Techniques for Chemical Enginers;
McGraw Hill Book, New York, 1979.

R.W. Rousseau (ed.) : Handbook of Separation Process Technology John Wiley & Sons,
New York, 1987.
Suluhito, Suselo. 2012. Anatomi Sistem Roller Conveyor, (online),
https://suluhmania.wordpress.com. Diakses 22 April 2016.

26
Pertanyaan

1. Sebutkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing jenis kristalizer


Jawab :
Pada masing-masing jenis kristalizer memiliki kelebihan dan kekurangan namun tidak
bisa dijelaskan secara signifikan. Hanya saja setiap bagian kristalizer memilki fungsi yang
digunakan sesuai peruntukannya.

2. Sebutan penyebab kerusakan alat pada kristalisasi dan conveyor


Jawab:
Penyebab kebrusakan pada alat kristalisasi dikarenakan penggunaan alat yang terus
menerus sehingga akan rusak termakan usia. Begitu pula yang terjadi pada conveyer,
selain itu juga bisa dikarenakan pada kerusakan alat penunjang.

3. Apa saja aplikasi kristalizer selain pada industry pupuk dan garam
Jawab:
Aplikasi kristalizer selain pada indusrti pupuk dan garam juga terdapat pada industri
permen, industry gula, dan insdutri plastik.

4. Mengapa jenis kristalisasi diberi nama sirculating magma?


Jawab:
Pemberian nama sirculating magma dikarenakan magma merupakan kata lain dari panas
sehingga sirculating magma adalah proses yang menggunakan cairan panas.

5. Jelaskan proses yang terjadi pada industry garam, sebutkan bahan kimia yang
ditambahkan pada proses pembuatannya ?

Jawab: Proses pembuatan garam yang sederhana adalah menguapkan air laut sehingga
mineral-mineral yang ada di dalamnya mengendap. Hanya saja mineral-mineral yang
kurang diinginkansedapat mungkin hanya sedikit yang dikandung oleh garam yang
diproduksi. Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara bertingkat, sehingga
dengan gaya gravitasi air dapat mengalir ke hilir kapan saja dikehendaki. Dalam tulisan
ini diberikan dua model peningkatan mutu garam, yaitu mengendapkan Ca dan Mg
dengan menggunakan Natrium Karbonat atau Natrium Oksalat yang dikombinasikan
dengan cara pengendapan bertingkat. Kalsium dan magnesium sebagai unsur yang cukup
banyak dikandung dalam air laut selain NaCl perlu diendapkan agar kadar NaCl yang
diperoleh meningkat. Kalsium dan magnesium dapat terendapkan dalam bentuk garam
sulfat, karbonat dan oksalat.Dalam proses pengendapan atau kristalisasi garam karbonat
dan oksalat mengendap dahulu, menyusul garam sulfat, terakhir bentuk garam
kloridanya. Prinsip dasar dari proses pembuatan garam yang dilakukan adalah
menghasilkan garam yang kualitasnya lebih baik. Untuk itu, diperlukan studi lapangan
yang menunjang kualitas garam antara lain kondisi lahan yang digunakan, kemiringan, uji
laboratorium, termasuk kondisi iklim dan sebagainya, sehingga dihasilkan garam sesuai
kualitas yang diharapkan.

6. Bagaimana gambar dari crystallizer ada pada industri dan bagian-bagiannya ?


Jawab :