You are on page 1of 2

Aku melihat cerminan wajahku sendiri kala itu,jemariku tertahan oleh kalbu yang

dengan hebat mengguncang jiwaku. Perlahan aku bangkit dan menghampiri


bayangan itu. Kusut. Hidup diantara orang-orang terkasih adalah sesuatu yang
sangat indah,keadaan yang tidak bisa dibeli dengan harga diri sekalipun. Tangan
mereka selalu merangkul pundak-pundak belia darah mereka. Helaan nafas
sampai kebiasaan rutin para penghuninya bagai sebuah melodi yang saling
berhamonis di sebuah lagu timangan tidur,nyaman,tenang dan membuat rindu.
Aku masih sangatlah ingat bagaimana caraaku dan bapakku berkomunikasi kala
itu. Cara unik yang malah membuat keluarga ini terasa amatlah penting
bagiku,dan kedua adikku. Sungguh aku merindukan kala itu,bahkan aku
mendambakan saat aku dan ia sedang berebut acara televisi. Hal kecil namun
sangat terjaga kedekatannya.

Bulan ramadhan adalah bulan berkah bagi kebanyakan orang islam. Sama
seperti kelurgaku terutama aku yangselalu kegirangan menyambutnya.
Dulu,sebelum ini berakhir kami menunggu waktu berbuka di depan tivi,ibuku
sibuk menyiapkan hidangan untuk beruka. Kebiasaan bapakku berpuasa cukup
unik,beliau hanya meminum secangkir kopi hitam dicampur gula dua sendok dan
memakan gorengan dengan cabai atau sambal kacang dengan porsi luar biasa
pedas. Biasanya ,ibuku tidak akan pernah menyediakan gorengan karena itu
sudah tanggung jawab bapakku atau adikkuuntuk membelinya. Sekalian
ngabuburit . saat bedug sudah terdengung ditelinga, bergegaslah kami
berkumpul didepan meja ruang tengah yang telah terisi beberapa hidangan khas
rumah kami. Tak jarang aku berebut es atau gorengan dengan adikku.
Setelahnya bapakku langsung maghriban dan bergegas untuk sholat tarawih di
musholah karena beliau adalah khotib kala itu. Ibuku tidak sholat karna harus
menidurkan adikku yang paling kecil dulu,kalau ia nekat akan terjadi kegaduhan
dimusholah nanti. Oh,Tuhan. Aku ingat semua itu dengan jelas. Betapa
bahagianya kami dulu sebelum bom atom jatuh memecah keheningan. Sebelum
badai merombak kami dari sebagaimana mestinya. Sebelum pisau tajam itu
ditancapkan dan sebelum surat itu ditanda tangani kedua belah pihak yang
sampai sekarang masih berseteru.

Langit sudah perlahan gelap,angin terus meniupi dedaunan kering hingga


terbang ke arah selatan. Nyanyian para burung tidaklah lagi terdengar , perlahan
tapi pasti kesunyian itu menghampiri. Melodi yang semula utuh lama lama
terpecah. Komitmen retak berkecambuk dalam kegelisahan batin penghuninya.
Aral terurai didepan kami tanpa pakaian. Asa yang kilauannya mulai padam
berkecambuk ditengah haluan ingkar janji mereka. Rumah ku bukanlah rumah ku
yang dulu. Rumahku bukanlah kesatuan dari kasih sayangku yang selalu kunanti
setelah sekolah. Rumahku bukan lagi tempat asa citaku bersatu. Tapi rumahku
sekarang,hanyalah sebuah atap yang tak berfondasi lagi. Seakan jika angin
meniup dari barat daya atap itu akan pergi bersamanya. Hilang .

Bagaikan padi yang meminta diairi saat kemarau panjang, bagai negri tropis
yang meminta salju turun, aku memohon. Kini keluarga yang indah dulunya itu
tercerai berai. Retak sampai retakkannya tak berujung. Berjalan namun terlihat
darah terus mengucur dari jarian kaki mereka. Karena api yang dikobarkan
belum juga padam. Biarpun lalu namun tetap terhubung jiwa. Kami terpisah.

Tawa itu sekarang hanyalah memori masa lalu. Masa lalu! Ya,Masa lalu yang
mungkin takkan pernah terjadi lagi dimasa sekarang atau masa depan.
Sungguh,jika aku tau akhirnya akan seperti ini. Tak akan ku biarkan surat yang
ditulis ibukku terbaca,takkan kulepaskan genggaman tangan bapakku yang
pernah menarik kita bertiga dari kejauhan,takkan pernah ku bergumam jika
keduanya menyuruhku,takkan pernah aku biarkan wanita yang tidak tahu diri itu
menjaga kedua adikku,takkan pernah lissanku bergelutu,takkan pernah kulepas
mereka . Takkan pernah!

Semua sudah terjadi,tapi belum berakhir. Hari ini terlintas dibenak untuk
mengenang namun bukan untuk melepas. Terpikir untuk menyatukan namun aku
tak cukup kuat melawan montster yang sedang mengaung didirinya. Hanya
untaian doa dan perasaan rindu yang bisa aku semaikan. Mengingat dan
menuliskan peluh lalu meneteskan airmata. Biarlah aku tunggu episode terakhir
rumah ini. Ditengah kerasnya saing dan ribuan paku terbalik terus menusuki.
Lihat,betapa indahnya seni drama kehidupan asli rumah ini,keluarga ini,dan aku.
Aku yang saat ini merindu.