You are on page 1of 7

TUGAS KEWIRAUSAHAAN

BENTUK KERJASAMA PERUSAHAAN

Disusun Oleh :

Imas Laela T
Lenny Putri A
Ismail Hasan B
Rini Widiyanti
Yullia
XII PM D

SMK BAKTI INDONESIA KUNINGAN


Jl. Raya Sadamantra No. 10 Km. 12 Jalaksana Kuningan 45554

1. Joint Venture
Joint venture adalah bentuk kerjasama antar beberapa perusahaan yang berasal dari
beberapa negara menjadi satu perusahaan untuk mencapai konsentrasi kekuatan-kekuatan ekonomi
yang lebih padat.
Contoh perusahaan yang melakukan joint venture adalah :

Chitose dan Okamura Buat Perusahaan Joint Venture

Perusahaan furnitur PT Chitose Internasional Tbk membentuk perusahaan patungan (joint


venture) dengan perusahaan internasional terkemuka asal Jepang, Okamura Corp, guna
meningkatkan kualitas produk, penguatan jaringan pemasaran dan distribusi. Perusahaan patungan
tersebut akan beroperasi dengan nama PT Okamura Chitose Indonesia.
Okamura Corp berkedudukan di Jepang, Yokohama. Perusahaan yang berdiri sejak tahun
1945 itu mempunyai tiga kategori utama, yakni segmen Office Furniture, Store Displays, dan
Material Handling Systems. Dari tiga segmen tersebut, Office Furniture dan Store Displays yang
mendominan di dalam bisnis Okamura. Total pendapatan per Maret 2014 adalah sebesar JPY 211,4
billion (kurang lebih setara dengan Rp 22,8 trilyun) dan total aset sebesar JPY 190,9 billion
(kurang lebih setara dengan Rp 20,6 trilyun).
Direktur Utama Chitose Internasional, Dedie Suherlan, di Jakarta, Senin (27/4),
mengatakan, dalam operasional di tahun pertama, diharapkan Okamura Chitose dapat mencetak
pendapatan sebesar Rp30 milyar. Proyeksi pendapatan untuk tahun yang pertama sebesar Rp 30
milyar dengan target pertumbuhan setiap tahun sekitar 15-20%, ujar Dedie.
Untuk pendirian perusahan patungan ini, Dedie menjelaskan bahwa Chitose
menganggarkan investasi sebesar Rp15 milyar modal disetor, sementara Okamura Corp mendapat
porsi saham 33%, sebagaimana diatur dalam persyaratan awal penanaman modal asing di dalam
negeri.
Sementara itu, Presiden Direktur Okamura Corp, Mayasuki Nakamura mengatakan, sebagai
tahap awal Okamura akan meningkatkan kapasitas marketing menjadi produsen secara langsung di
Indonesia.
Awalnya kita sementara ini kerja sama marketing dengan Chitose, ke depan kami ingin
memproduksi bersama Chitose mulai dari produk office dan lain-lain. Chitose sudah banyak toko
dan agen, kami ingin kembangkan produk kami melalui Chitose, ungkap Nakamura.
Nakamura menambahkan, dalam praktik bisnisnya, Okamura Chitose Indonesia melakukan
tiga tugas utama, yakni masuk ke dalam Upper dan High End Market, menyediakan Advanced
Product, Service, dan After-Care dengan standar kualitas Jepang keperusahaan-perusahaan
Indonesia, serta mengembangkan Store Display dan Shop Furniture untuk market di Indonesia,
contohnya AEON project dan UNIQLO.
Dengan tambahan aktivitas bisnis melalui Okamura Chitose, Dedie berharap berkontibusi
pada perolehan pendapatan Chitose Internasional menargetkan peningkatan pendapatan tahun 2015
minimal di atas level 10% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk mencapai target
tersebut, sejumlah langkah dilakukan Chitose Internsional dengan memperluas ekpansi pabrik dan
jaringan distribusi di tanah air.
Sesuai rencana, Chitose akan membuka flagship shop di Jawa Timur untuk pasar retail dan
beberapa proyek untuk kawasan Indonesia Timur yang akan terealisasi pembangunannya di tahun
ini juga. Sedangkan dari sisi manufaktur, Perseroan akan melengkapi dan mereview persiapan
pabrik kedua di daerah Cimahi Jawa Barat.
2. Holding Company
Holding company adalah perusahaan yang bertujuan untuk memiliki (menguasai) saham
dalam satu atau lebih perusahaan lain dan/atau mengatur (mengendalikan) satu atau lebih
perusahaan lain tersebut.

CONTOH HOLDING COMPANY

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. adalah produsen semen yang terbesar di Indonesia
yang berstatus multinational corporation. Pada tanggal 20 Desember 2012, PT Semen Indonesia
Tbk resmi berganti nama dari sebelumnya bernama PT Semen Gresik Tbk. PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk. adalah Holding Company (HoCo) yang membawahi 4 buah Operating Company
(OpCo) yaitu PT Semen Gresik, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, dan Thang Long Cement.
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. secara terencana memadukan lingkungan hidup dalam
proses bisnisnya dengan memastikan keseimbangan keberlanjutan dari aspek ekonomi (profit),
sosial (people), dan lingkungan (planet) agar tercipta pertumbuhan berkelanjutan.
Lokasi pabrik sangat strategis di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Vietnam menjadikan
Semen Indonesia mampu memasok kebutuhan semen di seluruh tanah air yang didukung ribuan
distributor, sub distributor dan toko-toko. Selain penjualan di dalam negeri, Semen Indonesia juga
mengekspor ke beberapa negara antara lain: Singapura, Malaysia, Korea, Vietnam, Taiwan,
Hongkong, Kamboja, Bangladesh, Yaman, Norfolk USA, Australia, Canary Island, Mauritius,
Nigeria, Mozambik, Gambia, Benin dan Madagaskar.
emen Padang. Semen Padang memiliki 4 (empat) pabrik semen, kapasitas terpasang 6 juta
ton semen pertahun berlokasi di Indarung, Sumatera Barat. Semen padang memiliki 5
pengantongan semen, yaitu : Teluk Bayur, Belawan, Batam, Tanjung Priok dan Ciwandan.
Semen Gresik. Semen Gresik memiliki 4 pabrik dengan kapasitas terpasang 8,5 juta ton
semen per tahun yang berlokasi di Tuban, Jawa Timur. Semen Gresik memiliki 2 pelabuhan, yaitu :
Pelabuhan khusus Semen Gresik di Tuban dan Gresik. Semen Gresik pabrik Tuban berada di Desa
Sumberarum, Kec Kerek.
Semen Tonasa. Semen Tonasa memiliki 4 pabrik semen, kapasitas terpasang 6,5 juta ton
semen per tahun, berlokasi di Pangkep, Sulawesi Selatan. Semen Tonasa memiliki 9 (sembilan)
pengantongan semen, yaitu : Biringkasi, Makassar, Samarinda, Banjarmasin, Pontianak, Bitung,
Palu, Ambon, Bali.
Thang Long Cement Company. Thang Long Cement Company memiliki kapasitas
terpasang 2,3 juta ton semen per tahun, berlokasi di Quang Ninh, Vietnam, Thang Long Cement
Company memiliki 3 (tiga) pengantongan semen.
3. Sindikat
Adalah bentuk perjanjian kerjasama antara beberapa orang untuk melaksanakan suatu
proyek. Sindikasi juga dapat melakukan perjanjian sindikasi untuk memusatkan penjualan pada
satu lokasi tertentu, disebut sindikasi penjualan. Ada juga sindikasi perbankan (beberapa bank
bersindikasi untuk membiayai suatu proyek yang besar).

Contoh Sistem Sindikat di Indonesia :

4 Bank Membentuk Sindikatdan proyek comuter line

PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk,
dan PT Bank Central Asia Tbk, membentuk sindikat berjangka waktu 14 tahun dalam membiayai
pembangunan infrastruktur transportasi ini. Masing-masing bank tersebut akan menyalurkan
pembiayaan Rp760,97 miliar.
Direktur Institutional Banking Bank Mandiri, Abdul Rachman, Senin, 10 November 2014,
menyatakan bahwa langkah ini merupakan wujud komitmen perbankan untuk berperan aktif dalam
pengembangan sarana transportasi massal di tanah air.
4. Trust / Marger
Merger adalah sebuah penggabungan dua perusahaan menjadi satu, dimana perusahaan
yang yang meakukan merger mengambil alih semua assets dan liabilities perusahaan yang menjadi
rekanan mergernya dengan begitu perusahaan yang melakukan merger memiliki paling tidak 50%
saham dan perusahaan yang di-merger berhenti beroperasi dan pemegang sahamnya menerima
sejumlah uang tunai atau saham di perusahaan yang baru. Definisi merger yang lain yaitu sebagai
penyerapan dari suatu perusahaan oleh perusahaan yang lain tanpa menghilangkan bentuk asli
perusahaan tersebut. Perusahaan pembeli juga akan mengambil baik aset maupun kewajiban
perusahaan yang dibeli. Setelah merger, perusahaan yang dibeli akan kehilangan/berhenti
beroperasi (Harianto dan Sudomo, 2001, p.640). Bidding firm tetap berdiri dengan identitas dan
namanya, dan memperoleh semua aset dan kewajiban milik target firm. Setelah merger target firm
berhenti untuk menjadi bagian dari bidding firm. Konsolidasi sama dengan merger kecuali
terbentuknya perusahaan baru. Kedua perusahaan sama-sama menghilangkan keberadaan
perusahaan secara hukum dan menjadi bagian dari perusahaan baru itu, dan antara perusahaan yang
di-merger atau yang me-merger tidak dibedakan.
Contoh Perusahaan Sistem Trust/Marger
Merger Niaga Dan Lippo
Merger Niaga Dan Lippo merupakan dampak dari diterapkannya aturan kepemilikan tunggal
(single presence policy / SPP ) yang ditetapkan Bank Indonesia. Ketentuan SPP mewajibkan
kepemilikan tunggal bagi pemegang saham pengendali dilebih dari satu Bank. Oleh karena itu,
Khazanah Berhad asal Malaysia selaku pemilik saham Bank CIMB Niaga dan Lippo Bank
memutuskan untuk merger.
Selain itu jika merger terlaksana, struktur permodalan akan semakin kokoh dengan asumsi
Niaga memiliki ekiuditas sebesar Rp 5 triliun dan Lippo sebesar Rp 3,6 triliun, maka merger akan
memiliki modal Rp 8,7 triliun. Dengan modal sebesar itu, akan memberikan kredit tanpa harus
khawatir terbentuk BMPK ( batas maksimium pemberian kredit ). Disamping itu, bank hasil
merger juga akan lebih cepat memenuhi syarat Arsitektur Perbankan Indonesia (API) untuk
menjadi bank berskala nasional yang mensyaratkan modal minimal sebesar 10 triliun.
Merger itu juga akan melahirkan sinergi positif. Lippo yang dikenal cukup kuat diusaha
kecil menengah (UKM) dan system pembayaran (Payment back), diyakini akan bias menopang
bisnis Niaga sebagai pemain kuat disegmen korporat dan kredit perumahan. Kondisi yang ada
adalah penetrasi kredit Lippo masih amat rendah. Itu terbukti dari Loan to deposit ratio (LDR)
yang hanya sekitar 50,7 %. Sedangkan di Niaga sekitar 95 % dana masyarakat mengalir dalam
bentuk kredit.
Hasil Merger Bank Lippo dan Niaga
Pascamerger, Simpanan Nasabah CIMB Niaga Meningkat
PT Bank CIMB Niaga Tbk meraih predikat perusahaan "Sangat Tepercaya".
Laba Bersih Bank Niaga Capai Rp 207 Miliar
Niaga-CIMB Group Kirim Pelajar ke Malaysia
Dll.
5. Kartel
Kartel adalah kerja sama antara beberapa badan usaha yang memproduksi dan memasarkan
barang yang sejenis. Dalam kartel ini, masing-masing badan usaha masih mempunyai kebebasan
dalam mengurus badan usahanya kecuali untuk hal-hal yang telah disepakati dalam kartel. Adapun
maksud dan tujuan kartel adalah untuk mengurangi persaingan atau meniadakan persaingan.

Contoh :
Kartel Penetapan Layanan Tarif Short Message Service (SMS)

KPPU berhasil membongkar praktek kartel yang dilakukan enam perusahaan seluler selama
2004-2008 yang menetapkan persekongkolan harga tarif SMS Rp 350/SMS, konsumen dirugikan
mencapai Rp 2,827 triliun.
Keenam perusahaan operator seluler tersebut diantaranya PT Excelcomindo Pratama Tbk
(XL), PT Telkomsel, PT Telkom, PT Bakrie Telecom Tbk, PT Mobile-8 Telecom Tbk dan PT
Smart Telecom yang telah dihukum denda oleh KPPU.
Dilansir dalam suatu situs :
Mahkamah Agung (MA) menghukum 5 operator seluler karena melakukan kartel tarif pulsa
SMS. Akibat permainan tarif SMS itu, konsumen dirugikan karena tidak bisa mengirim SMS
dengan lebih banyak.
Kasus bermula saat Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menerima adanya dugaan
pelanggaran Pasal 5 UU Nomor 5 Tahun 1999 yang dilakukan sejumlah provider seluler di
Indonesia. Pasal 5 berbunyi:
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk
menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau
pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama.
Atas laporan ini, KPPU lalu bergerak untuk menelisik jejak kartel tarif SMS tersebut. SMS
merupakan jasa nilai tambah dari layanan telekomunikasi seluler maupun FWA yang tidak bisa lagi
dipisahkan dari layanan suara/voice. Untuk jasa ini, operator menerapkan tarif yang yang
melakukan pengiriman SMS atau biasa dikenal dengan istilah Sender Keeps All (SKA).
Tarif SMS pada periode 1994-2004 adalah sama untuk semua operator off-net (lintas
operator) maupun on-net (antar operator), yaitu sebesar Rp 350 untuk prabayar. Memasuki 2005,
persaingan mulai muncul dengan membedakan tarif off-net (lintas operator) maupun on-net (antar
operator).
Biaya SMS ini diatur dalam UU Nomor 36/1999 tentang Telekomunikasi, PP Nomor
52/2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, Keputusan Menteri Nomor 21/2001 tentang
Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi, Peraturan menteri Nomor 8/2006 tentang Tarif Interkoneksi
dan Peraturan Menteri Nomor 12/2006 tentang Tarif Stasiun Telepon Seluler. Semua regulasi itu
mengatur besaran tarif telekomunikasi diserahkan sepenuhnya kepada operator dengan mengacu
pada formula dan susunan tarif yang ditetapkan pemerintah.
Atas temuan ini, KPPU memanggil para pihak yang diduga melakukan kartel tersebut.
Setelah dilakukan pemeriksaan secara mendetail, pada 17 Juni 2008 KPPU memutuskan empat
operator seluler bersalah karena melakukan kartel harga dan dihukum masing-masing Terlapor I
(PT Excelkomindo Pratama, Tbk) sebesar Rp 25 miliar, Terlapor IV (PT Telekomunikasi Indonesia,
Tbk) sebesar Rp 18 miliar, Terlapor VI (PT Bakrie Telecom) sebesar Rp 4 miliar dan Terlapor VII
(PT Mobile-8 Telecom, Tbk) sebesar Rp 5 miliar. PT Telekomunikasi Seluler dihukum Rp 25
miliar.