You are on page 1of 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Jamu


Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, yang
berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut, higienis
(bebas cemaran) serta digunakan secara tradisional. Jamu telah digunakan
secara turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan
tahun, Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep
peninggalan leluhur . Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah
sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris turun temurun.
2.2 Macam-macam sediaan jamu
Berdasarkan cara persiapannya, jamu dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu obat herbal yang hanya berisi satu jenis tanaman tunggal dan
obat herbal mengandung dua atau lebih spesies tanaman. Ada beberapa
metode atau cara untuk menyajikan jamu, yaitu yang dilakukan secara
tradisional dan dengan cara moderen, diantaranya adalah sebagai berikut
(Riswan dan Roemantyo, 2002) :
a. Jamu Segar
Disebut jamu segar karena terbuat dari bahan yang segar dan diminum
dalam kondisi segar.
b. Jamu Godogan
Dalam bahasa Jawa, godog berarti direbus. Dalam jamu godokan material
jamu (tumbuh-tumbuhan) direbus dengan air, dan air hasil rebusan
digunakan untuk mengobati penyakit. Bahan bakunya dapat berupa bahan
kering atau bahan yang masih segar.
c. Jamu seduhan
Dalam bahasa Jawa seduhan berarti powder (serbuk). Jamu ini biasanya
diseduh dengan menggunakan air panas, lalu diminum.Jamu Seduhan
diproduksi di industri herbal, misalnya, "Jago", "Nyonya Meneer", dan
"Sido Muncul" di Jawa Tengah.

d. Jamu Olesan
Penggunaan jamu ini dilakukan dengan cara dioleskan pada tubuh bagian
luar. Bentuk jamu ini sering disebut pilisatau tapel.
e. Jamu dalam bentuk Pil, Kapsul dan Tablet.
Saat ini dalam masyarakat modern, jamu dapat ditemukan dalam bentuk
pil, tablet dan kapsul. Karena sangat sederhana dan mudah untuk

1
dikonsumsi, seperti obat modern lainnya. Jamu dalam bentuk godogan,
olesan, seduhan, pil, tablet dan kapsul sekarang sangat mudah ditemukan
di apotek, pasar, atau supermarket, kecuali untuk jamu gendong. Jamu
gendongharus dibeli di industri rumah tangga atau menemui penjual yang
menjajakan jamu dari rumah ke rumah (Riswan dan Roemantyo, 2002).
2.3 Formulasi
a. Bahan :
R/300 gram Daun Sambiloto
50 gram Brotowali
200 gram Daun Meniran
300 gram Serai
100 gram Babakan Pule
400 gram Temulawak
200 gram Lempuyang
200 gram Laos
3 Buah Temu ireng
beserta tambahan rempah-rempah dan empon-empon yang lainnya
secukupnya
b. Cara Membuat :
1) Pertama-tama kumpulkan semua bahan untuk dicuci di kucek di gosok
supaya bersih.
2) Lalu iris semua bahan menjadi irisan yang kecil-kecil dan tipis-tipis
3) Masukan semuanya kedalam wadah kuali tanah menjadi satu
4) Ditambahkan air secukupnya saja jangan terlalu sedikit maupun
terlalu banyak
5) kemudian direbus semua bahannya yang telah diberi air sampai
ramuan menjadi masak/matang/mendidih dan air menyusut sampai
tinggal separo atau setengahnya.
6) Angkat pelan-pelan jangan sampai tumpah lalu diamkan sejenak
sampai tidak panas lagi / dingin.
7) Pindahkan hasil rebusan jamu yang telah dingin tersebut kedalam
botol bening, akan tetapi sbelum dipindahkan dari kuali ke dalam
botol, ramuan jamu telah disaring terlebih dahulu menggunakan
saringan / kain lembut. Jamu Pahitan sambiloto siap dihidangkan dan
diminum.
2.4 Manfaat Jamu Godog
Khasiat dan manfaat dari jamu godogan adalah sebagai berikut:
1) Untuk menambah nafsu makan
2) Untuk Mengatasi perut kembung
3) Untuk Mengobati Kencing manis
4) Untuk Menghilangkan bau badan

2
5) Untuk Menurunkan Kadar kolesterol
6) Untuk menghilangkan jerawat
7) Untuk mengatasi pegal pegal
8) Untuk Mengobati sakit kepala / pusing

2.5 Uji Pada Jamu Godog


a. Uji jamu secara umum
Secara umum analisis obat tradisional jamu dikelompokkan menjadi 2
macam analisis, yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis
kuantitatif berfungsi untuk mengidentifikasi jenis dari suatu zat atau
simplisia yang terdapat pada bahan bakunya, sedangkan analisis kuantitatif
yaitu penetapan kadar atau kemurnian dari zat atau simplisia yang akan
dianalisis.

b. Uji Jamu Secara Kualitatif


Pengujian secara kualitatif obat tradisional jamu biasanya digunakan
untuk mengidentifikasi atau menganalisis jenis bahan baku dari suatu
simplisia baik dari jenis tumbuhan maupun jenis hewan.
Didalam pemeriksaan kualitatif ini, meliputi analisis sebagai berikut :
1) Pengujian organoleptis, yaitu pengujian untuk mengetahui kekhususan
bau dan rasa dari simplisia yang diuji.
2) Pengujian makroskopis, yaitu pengujian yang dilakukan dengan
menggunakan kaca pembesar atau dengan indera. Fungsinya untuk
mencari kekhususan morfologi ukuran dan warna dari simplisia yang
diuji.
Pengujian mikroskopis, yaitu pengujian yang dilakukan dengan
menggunakan mikroskop dengan pembesaran tertentu yang
disesuaikan dengan keperluan simplisia yang diuji dapat berupa
sayatan melintang, membujur atau berupa serbuk. Fungsinya untuk
mengetahui unsur-unsur anatomi jaringan yang khas dari simplisia.
a) Pengujian histokimia.
b) Identifikasi kimia terhadap senyawa yang tersari.
c) Pengujian mikroskopis dan makroskopis dilakukan untuk
menentukan jenis simplisia.
d) Pengujian histokimia dan identifikasi kimia dilakukan untuk
mengetahui kelompok utama zat aktifnya.

3
Dari pengujian tersebut diatas dapat diketahui jenis
simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik untuk masing-
masing simplisia.
Penetapan secara kuantitatif meliputi :
1) Penentuan kadar kandungan, yaitu untuk mengetahui jumlah
kandungan yang terdapat pada simplisia yang diuji atau pada produk
jamu setengah jadi. Misalnya penentuan kadar tannin, alkaloida,
minyak atsiri, glukosida, flavonoida.
2) Penentuan kadar air, yaitu untuk mengetahui besarnya kandungan air
yang terdapat pada simplisia yang diuji.
3) Penentuan kadar abu.
4) Penentuan bahan organik asing.
Analisis kuantitatif ini dilakukan untuk menetapkan kemurnian dan
mutu simplisia nabati.
Pengujian secara organoleptis dan makroskopis. Cara ini dilakukan
untuk mecari morfologi ukuran dan warna simplisia. Sebagai contoh biji
kedawung atau Parkiae Semen memiliki bentuk bundar telur atau hampir
segitiha samapi bundar memanjang. Pipih, pada bidang yang pipih terdapat
garis yang melingkar pada jarak 2mm sampai 3mm dari tepi biji.
Permukaan luarnya licin dengan kulit biji yang keras dan padat. Inti biji
mempunyai lembaga yang sangat kecil, terdapat ditengah pada pertemuan
pangkal keping biji. Ukuran biji dengan panjang 10mm sampai 22mm
dengan lebar 8mm sampai 15mm. Tebal biji kurang kebih 8mm. Warna biji
hijau kecoklatan atau coklat tua kehitaman sampai hitam. Inti biji
berwarna hijau muda sampai hijau kecoklatan. Bau dan rasanya khas agak
pahit dengan permukaan biji berlendir.
Uji mikroskopis, uji mikroskopis dilakukan dengan menggunakan
mikroskop yang derajat pembesarannya disesuaikan dengan keperluan.
Simplisia yang diuji dapat berupa sayatan melintang, membujua atau
berupa serbuk. Pada uji mikroskopis dicari unsur-unsur anatomi yang khas.
Dari pengujian ini akan diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen
pengenal yang spesifik dari masing-masing simplisia. Untuk menyiapkan
sayatan simplisia direbus atau direndam dalam air agar dapat membengkak
kembali seperti pada saat masih segar. Untuk daun dan bunga direndam
dalam air, bila perlu direndam dalam air hangat. Untuk akar, kulit batang,

4
batang simplisia keras yang lain direndam dalam air panas, bila perlu
dididihkan. Untuk simplisia nabati yang mengandung getah, setelah
direndam dalam air, lalu direndam lagi dalam etanol sehingga cukup keras
ntuk disayat. Simplisia disayat dengan pisau silet. Sayatan dapat berbentuk
sayatan melintang atau mebujur sesuai dengan keperluan. Hasil sayatan
dimasukkan kedalam kaca arloji yang berisi air. Untuk membersihkan
sayatan, maka sayatan tersebut direndam dalam larutan kloral hidrat 70%
selama kurang lebih 20 menit, setelah jernih, sayatan dicuci dengan air dan
diberi warna. Pewarnaan dilakukan sesudah sayatan dicuci sayatan
dimasukan kedalam larutan hijau iodium LP selama 1 menit, irisan
kemudian dicuci dengan air beberapa kali sesudah itu dimasukkan
kedalam larutan tawas karmen selama 5 m3nit sampai 10 menit dan dicuci
dengan air. Irisan yang telah siap kemudian ditetesi air dan diperiksa
dibawah mikroskop. Dinding sel yang berlignin berwarna biru atau biru
kehijauan, sedangkan dinding sel yang terdiri dari selulosa berwarna
merah. Pada irisan yang telah dijernihkan dengan kloral hidrat dapat pula
ditambahkan beberapa tetes larutan Ploroglucin HCl, jaringan yang
berlignin berwarna merah. Untuk uji simplisia yang berupa serbuk,
simplisia serbuk tersebut diletakkan sedikit diatas kaca objek serbuk
tersebut ditetesi dengan kloral hidrat, kemudian di fixasi dan dijaga jangan
sampai kering. Kemudian diamati dibawah mikroskop.
Uji Histokimia, uji ini dilakukan untuk mengetahui berbagai macam
zat kandungan yang terdapat dalam jaringan tanaman. Dengan pereaksi
yang spesifik zat-zat dalam kandungan itu akan memberikan warna yang
spesifik pula. Langkah uji histokimia adalah sebagai berikut ini : simplisia
dididihkan didalam larutan natrium klorida P atau natrium sulfat LP
sampai simplisia cukup keras untuk disyat. Sayatan yang diperoleh
diletakan diatas kaca onjek atau kaca arloji kemudian ditetesi dengan
pereaksi yang cocok dan dilihat dibawah mikroskop. Jaringan atau sel
yang mengandung zat-zat yang terdeteksi terlihat jelas dan dapat
dibedakan dengan jaringan atau sel yang lain. Data tersebut digunakan
untuk melengkapi data uji mikroskpis. Untuk uji histokimia serbuk adalah
sebagai berikut : serbuk yang diperiksa diletakkan diatas kaca objek,

5
kemudian ditetesi dengan pereaksi yang cocok. Sediaan kemudian dicuci
seperti halnya pada sayatan simplisia. Beberapa kelompok zat yang
kandungan yang penting dapat ditetesi dengan bantuan pereaksi yang
menghasilkan warna.

Identifikasi kandungan kimia. Kandungan kimia zat nabati pada


umumnya dapat dikelompokan sebagai berikut : minyak atsiri, karotenoid,
steroid, triterpenoid, alkaloida, asam lemak, senyawa fenolik yang meliputi
fenol-fenol, asam fenolat, fenil propanoid, flavonoid, antrakinon, antosian
serta xanton, asam organik, glikosida, saponin, tannin, karbohidrat, dan
lain sebagainya. Simplisia nabati yang diuji adalah simplisia tunggal yang
berupa rajangan, serbuk, ekstrak, atau dalam bentuk sediaan. Mula-mula
serbuk simplisia disari secara berturut-turut dengan larutan penyari yang
berbeda-beda polaritasnya. Masing-masing pelarut secara selektif akan
memisahkan kelompok kandungan kimia tersebut. Terhadap hasil
penyarian tersebut kemudian dilakukan identifikasi dengan cara yang
cocok. Simplisia nabati yang dijadikan serbuk dengan derajad halus 22 dan
kadar air kurang dari atau sama dengan 10% atau seperti yang disebutkan
dalam masing-masing monografi simplisia. Mula-mula disari dengan
pelarut yang bersifat nonpolar, kemudian disari dengan pelarut yang
kurang polar dan terakhir dengan pelarut polar. Penyarian dilakukan
dengan penggojokan berkali-kali sehingga hasil penggojokan terakhir bila
diuapkan tidak meninggalkan sisa, atau dengan alat soklet. Untuk cara
penggojokan dianjurkan untuk melakukan perendaman awal dengan cairan
penyari selama satu malam. Penggunaan alat soklet hanya dianjurkan
untuk penyarian kandungan kimia yang telah diketahui stabil. Penggunaan
eter sebagai cairan penyari tidak dianjurkan mengingat sifatnya yang
mudah terbakar.
c. Uji evaluasi jamu godogan
Uji mikrobiologi jamu godogan
1) Pembuatan Sampel
a) Disiapkan sampel jamu

6
b) Dilakukan 3x pengenceran untuk masing-masing sampel dengan
penambahan akuades steril
c) Diinokulasi untuk sampel dengan pengenceran 10-3
d) Dibuat 2x pengulangan masing-masing jaamu setiaap medium
e) Diinkubasi pada suhu kamar
2) Persiapan jamu
Diambil 1 ml jamu godog kemudian diencerkan dengan 9 mlakuades
steril kemudian divortex

3) Pengamatan
a) Masing-masing petridish diamati setiap hari selama 4 hari
b) Dihitung jumlah pertumbuhan bakteri dan jamur masing-masing
medium
c) Dicatat dan dibandingkan dengan kontrol
d) Hasil uji mikrobiologi pada jamu godog
Jamu godog kontaminan mikroorganismenya rendah, hal ini
dikarenakan pada jamu godog sebelumditanam ke dalam medium
dilakukan proses penggodogan, ini juga dapatmengurangi kontaminan.
Kelayakan konsumsi jamu tradisional dapat dikendalikan
denganmemperhatikan faktor risiko yang secara langsung berhubungan
denganterjadinya kontaminasi E. coli, yaitu dengan menekankan pada
kebersihan /sanitasi empon-empon dan air. Untuk empon-empon,
sebelum diolah sebaiknyadikupas dan dicuci menggunakan air matang.
Apabila bahan baku mengalamipenyimpanan sebaiknya disimpan
dalam tempat yang terbuat dari kaca, kalengatau plastik dan jangan
dalam tempat yang terbuat dari kayu atau kantongkertas agar bahan
baku tidak mudah terganggu oleh hama di tempatpenyimpanan
(serangga, tikus dll). Tempat penyimpanan hendaknya juga dijagaagar
keadaannya tetap bersih, beratap tidak bocor, kedap tikus dan
hamalainnya, Dalam penyimpanan bahan baku pemakaian insektisida
dalam pembrantasan hama dan fungisida untuk melenyapkan jamur
hendaknyadihindari. Air yang digunakan sebagai bahan baku
seharusnya memenuhipersyaratan air minum yang memenuhi
persyaratan Permenkes RI. No416/MenKes/Per/IX/1990, antara lain
tidak mengandung cemaran bakteri E.coli.Untuk itu pemanasan harus
dilakukan hingga benar-benar mendidih. Untukmenekan

7
perkembangbiakan mikroba pada produk dapat ditambahkan
asam jawa sampai pH sekitar 5,0. Selain dapat mempertahankan
keawetan produk(tidak cepat mengalami pembusukan) juga berasa
lebih segar. Selain itupengetahuan para pengolah jamu gendong perlu
ditingkatkan terutamamengenai kebersihan diri seperti memperhatikan
kebersihan diri sepertimemotong kuku pendek, sering mencuci tangan,
memakai pakaian yang bersih,memakai tutup kepala,sanitasi produksi
dan penyakit tular air, serta Prosespenyajian yang diamati meliputi air
yang digunakan untuk mencuci gelas, botol,serbet dan higiene penjual,
sehingga perilaku memproduksi jamu gendongmenjadi lebih baik
untuk menghindari kontaminasi silang.
2.6 Contoh Produk Jamu godogan
a. Jamu godog musna karang

Keterangan :
Komposisi 100% alami dedaunan berkhasiat pilihan:
1) Daun saga dikenal sebagai anti bakteri (antibiotik alami)
2) Kembang bugang (keji beling) di percaya mampu menghancurkan batu
ginjal
3) Daun sendok sebagai pelancar buang air
4) Temulawak fungsinya untuk anti inflamasi (peradangan) nyeri dan
demam
5) Daun kumis kucing Mengobati kencing batu (menghancurkan batu-batu
ginjal) dan sakit pinggang dll.

b. Jamu godog diabetes

8
Keterangan:
Diabetes Mellitus(DM) pd dasarnya merupakan penyakit kelainan
metabolisme yg di sebabkan menurunnya produksi hormon insulin yang
dihasilkan kelenjar pankreas. Kondisi tersebut mengakibatkan seluruh gula (dalam
bentuk glukosa) yang di konsumsi tubuh tidak dapat diproses secara sempurna,
sehingga kadar gula dalam darah akan meningkat. Gula yang meliputi :
polisakarida, oligosakarida, disakarida, dan monosakarida merupakan sumber
tenaga yang akan menunjang seluruh aktifitas manusia. Seluruh gula ini akan di
proses menjadi tenaga dengan adanya hormon insulin tersebut.
Gejala :
1) Lesu kurang tenaga
2) Selalu merasa haus
3) Sering buang air kecil
4) Bila terjadi luka sulit kering dan mudah terinfeksi
Apabila kadar gula terlalu tinggi, akan terjadi ateroma sebagai
penyebab awal penyakit jantung koroner. Jangan panik ramuan kami
insyaallah dapat membantu mengatasinya. Dengan resep tradisional a.l
daun insulin, pegagan, sambiloto, dll kami padukan secara tepat dan
terkomposisi untuk penderita diabetes. Ramuan Jamu Godok
Diabetes/Kencing Manis diracik dari bahan-bahan rempah tradisonal jawa.
Sangat aman, berkhasiat, dan tanpa efek samping. Sangat ampuh
menyembuhkan diabetes/kencing manis yang disertai gatal-gatal yang
disebabkan gula darah yang tidak normal.

9
Aturan Pakai:
- Satu bungkus jamu di cuci kemudian direbus dengan 2liter air.
- Setelah mendidih, saring dan biarkan air mendingin.
- Minum rutin 3x sehari 1 gelas
- Ramuan jamu godok ini bisa direbus selama 1minggu/6hari

c. Jamu godogan gatal-gatal

Keterangan:
Khasiat dan kegunaan
1. Membantu meredakan pegal linu dan encok
2. Nyeri lambung
3. Perut mulas
4. Muka pucat
5. Kesemutan
6. Kanker
7. Asam urat
8. Darah tinggi / hipertensi
9. Amandel
10. Sakit ginjal
11. Maag
12. Kencing mnis / diabetes
13. Membantu memulihkan otot-otot yang terasa putus
14. Membantu melancarkan peredaran darah
15. Menambah nafsu makan
16. Membantu menyembuhkan penyakit gatalgatal pada kulit

KOMPOSISI
1. Andrographidis Folium 40 gram

10
2. Curcumae rhizoma 30 gram
3. Sappan lignum 50 gram
4. Mellaleuca folium 60 gram
5. Myristicae fragans 20 gram.

2.7 Izin Edar jamu godogan

Nomor Izin Edar, atau disingkat NIE, merupakan nomor yang


dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia
(Badan POM RI). Saya beberapa hari lalu mendapatkan brosur dari Badan
POM RI tentang Nomor Izin Edar ini. Berikut saya rangkum isi brosur
tersebut, yang dapat digunakan sebagai informasi bagi kita semua.

Mengapa kita perlu melihat kode BPOM ini dulu sebelum memakan
obat atau pangan olahan? Sebagai produsen, sebelum produsen tersebut bisa
mencantumkan NIE, maka ia harus memenuhi dahulu persyaratan yang
ditetapkan oleh BPOM. Dengan demikian tujuan utamanya dari NIE ini
adalah untuk melindungi konsumen. Dengan adanya ketentuan NIE dari
BPOM ini maka perusahaan tidak dapat seenaknya memproduksi sesuatu,
apalagi yang mengandung bahan yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan
tubuh.

a) Kode izin edar obat tradisional


Terdiri dari kode huruf dan 9 digit kode angka
Arti kode huruf:
TR : Obat tradisional local
TI : Obat tradisional Impor

11
TL : Obat tradisional Lisensi
FF : Fitofarmaka
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Digit 1, Menunjukkan tahun mulai produk tersebut terdaftar pada
2 Departemen Kesehatan dan/atauBadanPOM
Misal 1976 ditulis 76
1982 ditulis 82
2003 ditulis 03
Digit 3 Menunjukkan bentuk perusahaan
Angka 1 : menunjukkan pabrik Farmasi
Angka 2 : menunjukkan Pabrik Jamu (IOT)
Angka 3 : menunjukkan Perusahaan Jamu (IKOT/UJR)
Digit 4 Menunjukkan bentuk sediaan
Angka 1 = bentuk rajangan
Angka 2 = bentuk serbuk
Angka 3 = bentuk kapsul
Angka 4 = bentuk pil, granul, boli, pastiles, jenang
Angka 5 = bentuk dodol, majun, tablet, kaplet
Angka 6 = bentuk cairan
Angka 7 = bentuk salep, cream
Angka 8 = bentuk plaster, koyok
Angka 9 = bentuk lain, dupa, ratus, mangir, permen
Digit Menunjukkan nomor urut jenis produk yang terdaftar
5,6,7,8
Digit 9 Menunjukkan jenis macam kemasan yang keberapa, misal
:
1 15 ml
2 30 ml
3 45 ml
b) Kode izin edar jamu godogan
Contoh: TR 16 2 1 2233 2

12
13