You are on page 1of 7

Menunda mungkin memang bukan sebuah dosa atau sesuatu yang sangat memalukan dan

membuat hidup kita tercela di mata orang lain. Namun, jika kita selalu melakukannya dan
mengulanginya kembali dengan baik, maka ini bisa menjadi sebuah kebiasaan buruk yang
akan sangat sulit untuk dihilangkan dari dalam diri kita, meskipun kita sangat berharap
untuk bisa mengubahnya.1

Baca juga : Ingatlah Jangan Pernah Menilai Sesuatu Hanya Dari Luarnya Saja
Menunda pekerjaan serta berbagai hal lainnya di dalam kehidupan kita adalah sebuah hal
yang sangat sering kita lakukan, bahkan meski itu seringkali menimbulkan berbagai
masalah bagi diri kita sendiri. Kita begitu senang melakukan hal ini, mengulangnya lagi, dan
melakukannya kembali, sehingga kebiasaan ini bisa saja menjadi bagian dari diri kita dan
bahkan menjadi karakter yang melekat sedemikian rupa. Ini bukanlah sebuah kebiasaan
yang baik, bahkan meski hanya terjadi sesekali saja, kebiasaan ini akan sangat merugikan
diri kita sendiri.

Menundah Sebagai Hambatan bagi masa


depan
Kebiasaan menunda nunda pekerjaan tentu menjadi hal yang cukup merepotkan,
terutama jika ternyata kita memiliki kebiasaan untuk menyelesaikan segala sesuatunya di
saat-saat terakhir. Bayangkan, bagaimana sebuah pekerjaan harus diselesaikan dalam
waktu yang mendesak dan terburu-buru, sudah tentu hasilnya tidak akan sempurna dan
mungkin saja memiliki banyak kekurangan. Ini tentu sangat merugikan, bukan?

Jika kita membiarkan kebiasaan ini selalu terjadi di dalam kehidupan kita, maka akan ada
banyak sekali kesempatan baik yang terbuang dengan percuma. Bila menjadi seorang
pebisnis yang suka menunda nunda pekerjaan, maka bisa dipastikan sejumlah peluang
bisnis akan terlewatkan dengan sia-sia akibat kebiasaan menunda nunda. Di saat orang
lain telah selesai mempresentasikan bisnisnya, kita baru saja akan menyusun bahan untuk
kegiatan tersebut di dalam bisnis kita. Sudah bisa dipastikan, kita akan terpuruk dan
tertinggal jauh di belakang pesaing-pesaing lainnya.

Bahkan meski hanya menjadi seorang pekerja kantoran sekalipun, kebiasaan menunda ini
akan menjadi sebuah hambatan besar di dalam karir kita. Perusahaan akan selalu melihat
ketangkasan dan juga kecerdasan seseorang yang akan mereka promosikan, bukan
seseorang yang selalu keteteran dengan sejumlah jadwal dan juga pekerjaan yang
tertunda. Kesempatan untuk memiliki karir yang cemerlang, akan menjadi sebuah hal yang
mustahil jika kita memiliki kebiasaan menunda nunda pekerjaan.

Berubah untuk masa depan yang lebih


cerah
Meninggalkan sebuah kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan1, tentu bukan
sebuah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan niat dan juga kerja keras untuk bisa mengubah
kebiasaan menunda nunda yang kita miliki. Mulailah menghargai setiap waktu yang kita
miliki, sehingga kita bisa menggunakannya untuk berbagai hal yang berguna di dalam
kehidupan kita. Miliki motivasi yang kuat untuk berubah, sebab jika tidak sekarang, kapan
lagi kita akan melakukannya?
Jangan malas untuk mendisiplinkan diri, meskipun ini akan terasa sangat sulit untuk
dilakukan. Dengan disiplin yang tinggi di dalam diri kita sendiri, maka kebiasaan menunda
nunda yang kita lakukan selama ini perlahan akan hilang dan tergantikan dengan kebiasaan
disiplin dan tepat waktu. Kita akan terbiasa dengan kehidupan yang lebih teratur dan
terjadwal, sehingga berbagai urusan dan pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik dan
tepat waktu.

Cintai pekerjaan yang kita miliki saat ini, sehingga kita akan memiliki rasa tanggung jawab
yang besar serta keinginan untuk berhasil di bidang tersebut. Jika kita memiliki keinginan
untuk maju dan berhasil di masa depan, maka lakukan hal tersebut dari sekarang,
berhentilah menunda nunda pekerjaan dan juga kesuksesan.
Cerita motivasi kata yang menakutkan itu adalah kapan, kenapa? Pertanyaannya adalah
Kapan ? Kapan lulus? , Kapan menikah? , Kapan punya anak?

Kata ini menjadi salah satu momok yang paling tidak ingin didengar oleh banyak orang,
bahkan bagi sebagian orang kapan adalah kata yang menakutkan. Meski tidak semuanya,
namun setidaknya sebagian besar dari kita, barangkali kamu juga menjadi salah satu
merasakannya.

Rentetan kata kapan ini terasa tidak ada habisnya, bahkan meski kita telah melakukan
berbagai kapan yang kita dengar sebelumnya, namun akan selalu ada kapan berikutnya.
Begitu terus, dan seolah tak pernah habis untuk didengar. Lalu, haruskah kita selalu merasa
jengkel setiap kali mendengar kata kapan tersebut terlontar dari mulut seseorang yang ada
di sekitar kita?

Menghindar bukan pilihan yang


tepat
Saat kita begitu jengkel atau tidak menyukai suatu hal, maka reaksi paling alami dan sering
kita lakukan adalah menghindarinya. Hal tersebut tentu sangat manusiawi, sebab tak
seorangpun ingin berada di sebuah tempat yang salah, bukan?

Hal yang sama juga akan selalu kita lakukan untuk menghindari kata kapan yang mungkin
saja telah terlalu sering kita dengar. Bukan hanya dari teman saja, namun kata ini bisa saja
selalu terlontar dari mereka yang begitu dekat dengan kita, keluarga dan kerabat misalnya.
Enggan dan tidak ingin selalu tersudut dengan pertanyaan yang sama dari mereka, maka
kita akan seringkali menghindari untuk bertemu dengan mereka di dalam berbagai
kesempatan.

Jika kita melakukan hal ini terlalu sering, maka lama kelamaan kita akan lebih berani dan
memilih untuk tidak hanya sekedar menghindari kontak di sebuah pertemuan saja. Namun,
bisa saja kita malah menjadi sangat jarang mendatangi sebuah acara, meski itu merupakan
sebuah acara yang penting bagi keluarga. Kita akan mencari berbagai alasan untuk tidak
menghadirinya, bahkan meski alasan tersebut juga terkadang terlalu mangada-ada, namun
kita akan tetap melakukannya.

Berhentilah untuk melakukan hal-hal seperti ini, sebab kita akan banyak kehilangan
momen berharga dengan orang-orang yang kita cintai. Bayangkan, bagaimana kecewanya
seorang sepupu dekat yang tidak kita hadiri acara pernikahannya, atau bagaimana
kecewanya salah seorang kerabat dekat kita yang sangat menantikan kehadiran kita di
pesta ulang tahun putrinya. Orang-orang yang mengundang kita mungkin bukan yang
sedang kita hindari, namun kerabat lainnya yang akan hadir di tempat yang sama pada
acara tersebutlah yang sedang kita hindari. Lalu, apa salah mereka yang telah mengundang
kita ke acara tersebut?

Ini tentang diri sendiri, bukan


mereka
Jangan selalu berupaya kabur dari kenyataan, bahkan dengan selalu menghindari kata
kapan yang telah begitu lekat pada pendengaran. Jika seseorang selalu menanyakan hal
tersebut kepada kita, maka anggap saja itu sebagai sebuah bentuk perhatiannya atas apa
yang sedang kita lalui dan alami saat ini. Tidak perlu tersinggung atau marah ketika
mengahadapi berbagai pertanyaan ini, apalagi jika ternyata kita memang berada pada
kondisi yang seperti itu adanya, misalnya: belum lulus hingga tahun ke delapan, atau
bahkan belum memiliki pasangan di usia yang hampir menginjak empat puluhan.

Artikel Cerita Lainnya :


Menunda, Sebuah Kata Sederhana Yang Dapat Menentukan Masa Depan Anda

Ingatlah Jangan Pernah Menilai Sesuatu Hanya Dari Luarnya Saja

Jangan Memaksa, Sesekali Kamu Akan Merasa Rapuh Juga

Tanggapi saja semua pertanyaan tersebut dengan santai dan jangan lupa minta agar
mereka mendoakan kita, terutama terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum
terwujud tersebut. Jika mereka begitu memiliki waktu yang banyak untuk menanyakan hal
tersebut setiap kali ada kesempatan, maka sangat mungkin mereka juga tidak akan
keberatan untuk sekedar mendoakan kita di setiap kesempatan yang mereka punya,
bukan?
Semoga artikel ini bermanfaat, Jangan lupa juga untuk terus membaca cerita motivasi
lainnya hanya di sipolos.com
Ini bukan sebuah cerita belaka, namun sebagain dari kita memang mengalami hal seperti ini di
dalam kehidupan ini. Kita seolah tidak memiliki gairah yang besar untuk sebuah keberhasilan, dan
seakan-akan hanya menjadi seorang penggembira saja di berbagai kesempatan baik yang kita
temukan di dalam kehidupan kita.

Di saat sebagian orang berpacu untuk meraih dan mengejar mimpi-mimpi mereka akan masa depan
yang cerah, beberapa yang lainnya justru hanya berada di titik yang sama untuk beberapa waktu
yang cukup panjang. Mereka tetap hidup dan menjalani hidup sebagaimana yang lainnya, namun
mereka tidak pernah beranjak dan selalu berada pada titik yang sama, meskipun mereka memiliki
kesempatan yang luas untuk melakukannya. Lalu, apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?

Tidak menerima kenyataan dengan hati lapang


Ada banyak orang yang mengalami kegagalan, bahkan meski pada akhirnya mereka berhasil dalam
sebuah bidang, namun mungkin saja mereka telah mengalami berbagai kegagalan sebelum meraih
keberhasilan tersebut di dalam genggaman. Hal ini bisa dialami siapa saja, bahkan oleh kita juga.
Namun yang kemudian menjadi pembeda adalah bagaimana kita menyikapi dan menerima
kegagalan tersebut sebagai sebuah hal yang positif untuk kehidupan kita saat ini, atau bahkan
untuk kehidupan kita di masa yang akan datang.

Baca juga : Kita Akan Menjadi Apa Yang Kita Percayai

Meski menyadari kegagalan yang telah terjadi, sebagian dari kita memilih untuk tetap berada di
sana dan tidak beranjak ke mana-mana. Membiarkan diri selalu terpuruk dan seolah berupaya
untuk mengingkari kegagalan yang telah terjadi, itulah hal yang sering kita lakukan. Bersikap seolah
semuanya baik-baik saja, dan menyamankan diri pada kegagalan-kegagalan yang sama. Kita tidak
pernah benar-benar bangkit dan memberi kesempatan diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik
lagi. Ini tentu sebuah tindakan yang salah, bahkan sangat fatal.

Belajarlah untuk menerima kenyataan dan kegagalan yang mungkin saja pernah kita alami di masa
lalu. Jangan selalu menyalahkan diri atas hal tersebut, sebab ini akan selalu membuat kita marah
dan tidak pernah tenang dalam menjalani kehidupan. Cobalah untuk memaafkan diri sendiri dan
berdamai dengan semua masa lalu yang telah terjadi, bahkan berbagai hal terburuk sekalipun yang
pernah kita alami.

Tataplah masa depan dengan berani dan rasa percaya


diri yang tinggi
Jangan menghukum diri sendiri atas berbagai masalah yang pernah terjadi, sebab hal ini akan
membuat kita selalu hidup di bawah bayang-bayang masa lalu yang kelam. Hidup hanya sekali maka
tataplah masa depan, karena sangat mubazir jika dilewatkan dengan meratapi masa lalu, bukan?

Nikmati saja apa yanga ada sekarang dan milikilah sebuah harapan untuk masa yang akan datang.
Beranjak dan meninggalkan masa lalu adalah sebuah pilihan yang tepat, jika kita memiliki keinginan
untuk berubah dan menjadi seseorang yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Mulailah untuk memberikan diri sendiri sebuah kesempatan yang lain, agar kita bisa memulai
sebuah lembaran baru di dalam hidup kita. Rasa percaya diri yang kita miliki akan sangat
membantu untuk bisa bangkit dan memperbaiki berbagai hal buruk dan juga kegagalan yang kita
alami di masa silam. Hiduplah di masa sekarang dan bukan di masa lalu yang gagal dan selalu penuh
dengan berbagai hambatan. Bahkan meski di masa lalu kita teramat sangat gagal, namun akan tetap
selalu ada kesempatan di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Baca juga : Jadilah Pemenang, Jangan Menyerah dan Berjuanglah Hingga Akhir
Baca juga : Putus Asa atau Berusaha, Mana Pilihan Kamu?

Artikel berjudul tataplah masa depan, hiduplah sekarang dan bukan di masa lalu ini mengajarkan
kita untuk tidak terpaku di masa lalu karena yang terpenting adalah masa depan. Jangan pikirkan
masa lalu yang penuh kegagalan, llihat masa lalu hanya untuk belajar agar di masa depan tidak
terulang kesalahan yang pernah terjadi. Tataplah masa depanmu dengan penuh keyakinan dan hal
hal yang positif. Jangan lupa baca kisah inspiratif lainnya hanya di sipolos.