You are on page 1of 16

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN JUMLAH

PERFORASI KEMASAN TERHADAP KARAKTERISTIK


JAMUR CHAMPIGNON (Agaricus bisporus) YANG DISIMPAN
PADA SUHU RENDAH

ARTIKEL

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Sidang Sarjana Teknik


Program Studi Teknologi Pangan

Oleh :
Erla Widianty
11.30.20.037

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2015
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN JUMLAH


PERFORASI KEMASAN TERHADAP KARAKTERISTIK
JAMUR CHAMPIGNON (Agaricus bisporus) YANG DISIMPAN
PADA SUHU RENDAH
Erla Widianty 113020037 *)
Ir. H. Thomas Gozali, M.P. **) Ir. Hj. Ina Siti Nurminabari, M.P. ***)
*)Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Pasundan
**)Pembimbing Utama, ***)Pembimbing Pendamping

ABSTRACT

The purpose of the research to find out the packaging and the number of perforations that
provide the most excellent influence on the quality of champignon mushrooms. The benefits of this
research is expected to provide information about the role of packaging type and number of
perforations in the quality control of fresh produce, especially mushrooms champignon.
The preliminary study was conducted to determine the best temperature storage
champignon mushroom , namely at a temperature of 10 C and 15 C were then observed on day
7 and 14. Treatment is selected from preliminary research champignon mushrooms stored at 10C.
The main research using randomized block design (RAK) consisting of two factors. The first
factor is the type of packaging that consists of two levels ie packaging with PVC
(Polyvinylchloride) and PEDR (Low Density Polyethylene). The second factor is the number of
perforations consisting of 3 levels, namely 5, 10, and 15. The experiment was repeated four times
so that the experiment consists of 24 units of the experiment. Data were analyzed with ANOVA and
Duncan test followed by 5 % . The interaction between the type of packaging and the amount of
packaging perforations affect the response of the storage protein content of day 7, whereas the
type of Kamasan influence on the response to the protein content storage 14. Storage use PVC
packaging as a treatment chosen because it has the highest protein content . The amount of
packaging 9 hole perforations provide only the best influences on organoleptic response in terms
of texture . Selected treatment by scoring test with the highest value 21 contained in champignon
mushrooms stored using PVC packaging 9 holes.

Keyword: Perforation, Champignon, PVC, LDPE

PENDAHULUAN Jamur champignon atau yang lebih


dikenal jamur kancing adalah salah satu
Latar Belakang
jenis jamur yang sering dikonsumsi oleh
Jamur merupakan fungi yang
masyarakat luas. Jamur champignon
mempunyai bentuk tubuh buah seperti
sangat diminati baik oleh para konsumen
payung. Struktur reproduksinya berbentuk
maupun pelaku usaha. Akan tetapi jamur
bilah (gills) yang terletak pada permukaan
ini memiliki umur simpan yang pendek
bawah dari payung atau tudung. Jamur
atau cepat mengalami kerusakan. Hal ini
tidak berklorofil dan merupakan golongan
menjadi permasalahan pada penyediaan
tanaman tingkat rendah yang dapat
jamur champignon segar dengan kondisi
dikonsumsi.
yang masih bagus.
Produksi jamur pangan tahun 2013
Menurut Chang (1978), untuk
sebesar 10.093,483 ton dengan luas panen
mendapatkan kualitas yang baik, jamur
tahun 2013 sebesar 12.077 m2. Dan pada
harus memenuhi kriteria antara lain
tahun 2014, terjadi kenaikan produksi
berada dalam tahap pertumbuhan kancing
sebesar 16.748,563 ton (65,93%).
atau tubuh buah belum terbuka, diameter
Kenaikan ini disebabkan kenaikan luas
2,5 3,5 cm, berwarna putih, berbentuk
panen sebesar 27.965 m2 (131,56%)
bulat atau oval, dan masih dalam keadaan
(Badan Pusat Statistik, 2014).
segar. Sedangkan menurut Cho, et al

1
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

(1982), perubahan pasca panen jamur Pengaruh utama kehilangan air adalah
yang dapat terjadi adalah pengerutan, susut berat yang memperlihatkan ciri fisik
pemekaran tudung, pencoklatan yaitu terjadinya pelayuan dan pengerutan.
(browning), berair, kehilangan air, Aktivitas ini tidak dapat dihentikan akan
perubahan tekstur, aroma dan flavor. tetapi dapat diperlambat hingga batas
Perubahan-perubahan tersebut dapat waktu tertentu.
terjadi karena proses metabolisme, reaksi- Aktivitas metabolisme dicirikan
reaksi kimia, atau pertumbuhan dengan adanya proses respirasi yang terus
mikroorganisme kontaminan yang terus terjadi, pada jamur setelah panen akan
berlangsung dalam jaringan selama mengakibatkan mekarnya tudung.
penyimpanan pasca panen. Perubahan Pemekaran tudung akan menyebabkan
tersebut didahului oleh peningkatan laju peningkatan kadar protein dan lemak serta
respirasi, dan penghentian suplai nutrien penurunan nilai energi. Pemekaran tudung
yang akan mempercepat sejumlah reaksi pada jamur merang adalah hal yang harus
yang irreversibel sehingga akan dihindari, karena dapat menurunkan mutu.
menyebabkan kerusakan pada jamur. Penyimpangan bau pada jamur
Prinsip respirasi pada produk menjadi salah satu indikator kemunduran
setelah dipanen adalah produksi CO 2, H2O mutu. Oksidasi lemak dapat terjadi karena
dan energi dengan mengambil O2 dari kehadiran asam lemak tak jenuh pada
lingkungan. jamur, yang menyebabkan penyimpangan
Respirasi merupakan metabolisme bau. Hal yang sama juga dapat
penting yang harus diperhatikan pada diakibatkan oleh oksidasi protein dan
jamur segar, karena akan terus berkembangnya mikroorganisme
berlangsung setelah pemanenan. Pada pembusuk (Cho et al., 1982).
respirasi, terjadi perubahan-perubahan Perubahan warna pada jamur adalah
pada kandungan nutrisi jamur yang akan salah satu parameter yang paling
mengakibatkan perubahan fisiknya pula. menentukan mutu. Perubahan warna
Respirasi adalah pemecahan senyawa dapat disebabkan akibat reaksi
kompleks, terutama pati menjadi molekul pencoklatan enzimatis atau pertumbuhan
sederhana seperti karbondioksida, air, dan bakteri pembusuk seperti Pseudomonas
energi, serta terjadinya kehilangan tolasii (Julianti, 1997). Proses
substrat. Laju respirasi produk segar pengupasan, pencucian, adanya kerusakan
merupakan indikator yang baik terhadap mekanis, dan senesensi juga
aktivitas metabolisme jaringan dan mempengaruhi perubahan warna pada
merupakan pedoman potensi masa simpan jamur.
produk segar (Pantastico, 1993). Makin Jamur champignon masih sulit
cepat laju respirasinya berarti makin cepat dibudidayakan, karena hanya bisa hidup
pula terjadi pemecahan senyawa di daerah bersuhu rendah berkisar 17-
kompleks yang menandakan semakin 20 C. Di Indonesia, budidaya
cepat terjadi penurunan mutu jamur. champignon terdapat di dataran Tinggi
Jamur champignon dalam keadaan Dieng, Purwokerto, Probolinggo,
segar umumnya memiliki umur simpan Bumiayu (Jateng), Malang (Jatim) dan
yang pendek karena memiliki kandungan Pangalengan (Jabar) (Putri, 2011).
air yang tinggi yaitu sekitar 87,7%. Laju Jamur champignon yang lebih di
respirasi yang cepat akan menyebabkan kenal oleh sebagian masyarakat dengan
kehilangan air yang banyak pula. Laju jamur kancing paling mirip dengan jamur
kehilangan air tergantung pada struktur merang, namun jamur champignon
dan kondisi jamur, suhu dan lingkungan memiliki tudung berwarna putih bersih
serta gerakan udara dan tekanan udara. hingga coklat muda, sedangkan jamur
Evaporasi terjadi lebih lambat pada fase merang berwarna cokelat gelap hingga
kancing, kemudian meningkat pada fase abu-abu. Pada jamur champignon terdapat
berikutnya dan paling cepat pada saat bentuk yang menyerupai sebuah cincin
pemekaran tudung (Cho et al., 1982).

2
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

dibagian bawah payung, sedangkan pada dilakukan pengemasan dalam kantung


jamur merang tidak ada. plastik. Namun, kemasan tersebut harus
Pengelolaan suhu merupakan faktor dilubangi untuk mencegah terjadinya
utama dalam upaya menunda proses reaksi anaerob yang menimbulkan bau
perusakan produk pasca panen. yang tidak enak (off odor) (Devi, 2014).
Pendinginan cepat dan mempertahankan
Identifikasi Masalah
suhu yang cocok merupakan bagian
Berdasarkan latar belakang
penting dari sistem pengelolaan suhu.
penelitian tadi maka dapat diidentifikasi
Terdapat beberapa jenis komoditi yang
masalah sebagai berikut :
tahan terhadap perlakuan suhu dingin,
1. Bagaimana pengaruh jenis kemasan
namun beberapa lainnya sangat peka.
terhadap perubahan mutu jamur
Titik beku komoditi sangat dipengaruhi
champignon segar selama
oleh kandungan bahan padatan dan
penyimpanan ?
sekaligus kandungan air bahan. Bagi jenis
2. Bagaimana pengaruh jumlah perforasi
atau komoditi yang peka terhadap suhu
terhadap perubahan mutu jamur
yang sangat rendah akan mengalami luka
champignon segar selama
atau chilling injury. Biasanya hal ini
penyimpanan ?
terjadi bilamana penyimpanan dalam
3. Bagaimana pengaruh interaksi antara
kondisi di bawah titik beku (Santoso,
jenis kemasan dan jumlah perforasi
2006).
terhadap perubahan mutu jamur
Pengemasan adalah salah satu cara
champignon segar ?
yang banyak digunakan dikalangan
masyarakat dalam menjaga mutu Tujuan Penelitian
kesegaran dan umur simpan produk Tujuan penelitian ini adalah untuk
makanan. Menurut Syarief (2002), pada memperoleh jenis kemasan dan jumlah
pengawetan bahan hasil pertanian perforasi yang memberikan pengaruh
pengemasan memegang peranan penting paling baik terhadap mutu jamur
yang dapat mencegah atau mengurangi champignon segar.
dampak kerusakan yaitu dengan cara Manfaat Penelitian
melindungi bahan pangan yang ada di Manfaat dari penelitian ini , antara
dalamnya. Selain itu peranan pengemasan lain :
juga sebagai pelindung bahan pangan dari 1. Dari aspek pengembangan ilmu, hasil
bahaya pencemaran serta gangguan fisik. penelitian ini diharapkan dapat
Ketahanan plastik terhadap memberikan sumbangan bagi
penyerapan uap air sangat menentukan pengembangan sains dan teknologi
daya simpan produk pangan yang khususnya dalam bidang teknologi
dikemasnya. Semakin rendah pasca panen serta informasi tentang
permeabilitas plastik maka semakin lama peran jenis kemasan dan jumlah
perforasi dalam pengendalian mutu
daya simpan produk pangan yang produk segar, khususnya jamur
dikemasnya. Semakin besar pertambahan champignon.
berat maka semakin besar pula daya 2. Dari aspek guna laksana, hasil
permeabilitasnya yang berarti semakin penelitian ini diharapkan dapat
mudah untuk melewatkan gas termasuk mengetahui metode penanganan pasca
panen yang baik serta dapat dijadikan
uap air, produk pun akan semakin cepat
sebagai upaya alternatif dalam
rusak. melakukan penyimpanan sayuran buah
Pengemasan dalam kemasan bagi petani jamur champignon
berlubang (Perforasi) pada sayuran yang sehingga dapat tersedia dengan mutu
disimpan di dalam pendingin akan yang baik.
menghambat penyusutan. Untuk
Kerangka Pemikiran
menghambat laju penyusutan maka perlu

3
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

Menurut Martine et al (2000), salah satu pemicu penurunan bobot.


jamur yang disimpan pada suhu kamar Karena pada saat respirasi berlangsung
memiliki daya simpan 3 sampai 4 hari terjadi pembakaran gula atau bahan lain
lebih rendah dibanding sayuran lainnya seperti lemak dan protein yang diubah
karena jamur tidak mempunyai kutikula menjadi gas CO2, uap air, serta energi,
untuk melindungi dirinya dari serangan sedangkan hasil respirasi berupa gas
fisik dan mikrobiologi serta penguapan hilang menguap (Handayani, 2008).
(water loss). Cahya (2014), diketahui bahwa
Menurut Singer (1986), penyimpanan jamur tiram putih segar
menyebutkan bahwa jamur merang hanya pada suhu rendah relatif lebih baik dalam
dilindungi oleh struktur epidermal yang mempertahankan waktu simpan
tipis dan porous. Lapisan epidermal ini dibandingkan penyimpanan pada suhu
tidak mampu mencegah dehidrasi ruang. Jika waktu simpan jamur tiram
permukaan yang dapat menyebabkan putih pada suhu ruang tanpa kemasan
penurunan mutu. Penurunan mutu atau hanya dapat bertahan 1 hari dan pada
kerusakan jamur juga disebabkan oleh suhu rendah bertahan selama 3 hari.
tingginya aktivitas metabolik dari jamur Penyimpanan dalam kemasan pada
itu sendiri, laju respirasi dan dehidrasi. suhu ruang membuat jamur tiram
Proses utama yang sangat berpengaruh putih dapat bertahan selama 5 hari
terhadap kehilangan mutu sensori jamur baik menggunakan plastik ukuran kecil,
adalah pencoklatan dan perubahan tekstur. sedang, maupun besar. Dan
Seiring bertambahnya waktu penyimpanan dalam kemasan pada suhu
penyimpanan waktu buah menjadi sedikit rendah dapat mempertahankan jamur
lunak berair dan ringan, pelunakan selama tiram putih segar selama 14 hari.
penyimpanan oleh penurunan sifat Kegunaan suhu rendah pada tempat
permeabilitas dinding sel yang penyimpanan sebagian besar karena
menyebabkan hilangnya kemampuan pengaruhnya dalam menurunkan kerja
mengelembung sel. Penyimpanan buah (aktivitas) enzim-enzim respirasi dengan
yang terlalu lama menyebabkan terjadinya enzim lain pada jaringan tumbuhan
pelunakan tekstur sebagai akibat tingkat tinggi, bakteri, dan cendawan.
perombakan molekul glukosa. Akibat lain Hubungan antara suhu dan respirasi
ini dari kehilangan permeabilitas ini serupa dengan hubungan antara suhu dan
adalah cairan sel dapat terlepas ke reaksi kimiawi lainnya pada kisaran
ruangan ekstra seluler dan jaringan tertentu laju respirasi meningkat dua atau
pembuluh (Deulis, 2012). tiga kali lipat dengan setiap kenaikan suhu
Jamur tiram putih segar yang 10C sampai suhu diatas 37,8 C.
disimpan tanpa perlakuan mengalami (Citrosomo, 1984).
penurunan bobot sekitar 71% pada suhu Cara agar kesegaran jamur tiram
ruang dan penurunan bobot sekitar yang baru dipanen dapat dipertahankan
25,74% pada suhu rendah. Jamur tiram adalah dengan menyimpannya pada suhu
putih segar dalam kemasan mengalami dingin (5oC 15oC). Dengan kondisi
penurunan bobot sekitar 2,02% pada suhu seperti itu umur jamur tiram akan dapat
ruang dan penurunan bobot sekitar 0,76% diperpanjang minimal 4 hari sampai 5 hari
pada suhu rendah. Jamur tiram dalam (Sumardi, 2014).
kemasan yang disimpan pada suhu ruang Penelitian tentang pengemasan
(27 C) dapat bertahan hingga 5 hari dan jamur tiram dalam kantung plastik pernah
14 hari pada suhu rendah (10 C) dilakukan Handayani (2008),
(Handayani, 2008). menunjukkan desain kemasan terbaik ada
Penyimpanan menggunakan plastik pada jamur yang dikemas menggunakan
kemasan memiliki pengaruh plastik PP dengan 4 lubang berdiameter
dibandingkan tanpa kemasan terhadap 5mm yang disimpan pada suhu 5C dapat
perubahan bobot jamur tiram putih. mempertahankan kualitas jamur tiram
Adanya respirasi dan transpirasi termasuk putih hingga 12 hari. Dalam penelitian ini

4
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

hanya membandingkan jumlah dan plastik wrapping sebagai kemasan primer


ukuran lubang pada kemasan plastik PP. pada produk pangan yang sensitif uap air
Kemasan plastik berperan dalam dan gas lebih tepat dibandingkan
jalannya transpirasi buah dan sayuran menggunakan PP (Abdullah, 2013).
dalam kemasan, sehingga dapat Jamur tiram dikemas plastik tanpa
mempertahankan perubahan bobot. perforasi memiliki perubahan bau jamur
Plastik sebagai kemasan juga merupakan yang lebih bervariasi. Setelah satu hari
alat yang baik untuk melindungi produk penyimpanan bau jamur berubah
dari dehidrasi yang tinggi melalui beraroma masam akan tetapi jamur tiram
kelembaban atmosfer sekitar produk yang dikemas plastik PP berperforasi
dalam kemasan dan kemasan plastik masih berbau khas jamur. Pada hari kedua
cukup efektif mengurangi kehilangan air penyimpanan jamur tiram yang dikemas
(Arianto dkk, 2013). plastik PP berperforasi tercium bau busuk
Penyimpanan jamur tiram dikemas sedangkan pada jamur tiram yang
plastik PP tanpa perforasi teksturnya dikemas plastik PP tanpa perforasi masih
menjadi sangat lembek dan kenaikan berbau asam. Hingga hari ketiga dan
bobot saat awal penyimpanan dapat keempat penyimpanan semua jamur
terjadi karena tekstur jamur tiram yang berbau busuk.
seperti spons sehingga uap air yang Pantastico (1993), menjelaskan
menempel pada dinding plastik kemasan pelubangan pada plastik untuk
hasil proses respirasi terserap kembali menghindarkan kemungkinan kerusakan
oleh jamur (Arianto dkk, 2013). akibat akumulasi CO2 dan penyusutan O2
Menuru hasil penelitian Abdullah atau kemungkinan timbulnya rasa dan
(2013), plastik PEDR memiliki nilai aroma yang tidak diinginkan karena
permeabilitas yang lebih rendah, itu dalam kemasan yang rapat semua oksigen
sebabnya plastik PEDR lebih sering bebas akan terpakai habis dalam waktu
digunakan untuk membungkus komoditas singkat respirasi menjadi anaerob dan
pertanian yang peka terhadap oksigen terbentuklah zat-zat menguap seperti
dibandingkan dengan menggunakan alkohol dan CO2.
plastik PP yang memiliki permeabilitas Film kemasan yang baik untuk
yang lebih tinggi. penyimpanan produk segar buah dan
Peremeabilitas terhadap gas dan sayuran adalah film kemasan yang
uap air yang banyak digunakan dalam mempunyai permeabilitas terhadap CO2
teknologi pengemasan didefinisikan lebih tinggi dibanding permeabilitas
sebagai gram air per hari per 100 in 2 terhadap O2, hingga akumulasi CO2 akibat
permukaan kemasan, untuk ketebalan dan respirasi lebih sedikit dari pada
temperatur tertentu, dan kelembaban penyusutan O2 (Suhelmi, 2007).
relatif di satu sisi 0% dan pada sisi Pengemasan sayuran segar dapat
lainnya 95%. Metode yang umum mengurangi kehilangan kandungan air
digunakan untuk mengukur permeabilitas sehingga dapat mencegah terjadinya
uap ialah metode gravimetri (Abdullah, dehidrasi, terutama bila digunakan bahan
2013). penghalang kedap uap air (Muchtadi,
Sebagian dari plastik memiliki 2000).
permeabilitas yang baik terhadap uap air Menurut Natipulu et al. (1992)
dan jenis lainnya memiliki permeabilitas penggunaan plastik polietilen 0,03 mm
yang baik terhadap gas. Kenaikan maupun yang diberi lubang ventilasi dapat
penurunan berat tiap harinya, dikarenakan memperpanjang umur simpan kubis
adanya gas maupun uap air yang masuk bunga selama 12 hari.
dan keluar dari lingkungan. berdasarkan Penggunaan plastik polietilen
pada hasil perhitungan diperoleh data banyak digunakan untuk pengemas
permeabilitas plastik wrapping sebesar produk hortikultura. PEDR 0,04 mm yang
0.0102, sedangkan plastik PP sebesar diberi lubang kecil (perforasi) telah
0.0109. Menunjukkan bahwa penggunaan banyak digunakan, karena akumulasi

5
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

atmosfir yang tidak diinginkan di Menurut Ares et al (2006),


dalamnya tidak terjadi selama konsentrasi CO2 dibawah 10%
penyimpanan suhu dingin maupun suhu menyebabkan kerusakan fisiologis pada
kamar. Penggunaan plastik polietilen jamur, namun sebaliknya menurut
untuk pembungkusan secara individu Minamide et al (1980), atmosfir dengan
dapat langsung dimanfaatkan oleh kandungan CO2 40% merupakan kondisi
konsumen akhir. Polietilen memiliki optimum untuk penyimpanan jamur
lapisan yang elastis, fleksibel, transparan shiitake dengan sistem CAS (controlled
dan permeabilitasnya cukup terhadap CO2 atmosphere storage). Perbedaan
dan O2. Permeabilitas polietilen konsentrasi CO2 ini menurut Ares et al
tergantung pada ketebalannya (Natipulu (2006), kemungkinan karena perbedaan
et al., 1992). tahap perkembangan (stadia) pada
Umumnya untuk mengemas masing-masing jamur yang disimpan. Hal
holtikultura perlu dilubangi supaya dapat ini diperkuat oleh pendapat Fonsesca et al
terjadi ventilasi sehingga dapat membantu (2002), bahwa tahap perkembangan
mempertahankan mutunya bila digunakan (stadia) jamur berpengaruh besar terhadap
bersamaan dengan pendinginan. Perforasi bagaimana jamur tersebut merespon
dengan lubang lubang jarum yang tingginya konsentrasi CO2. Tokimoto
banyak akan memungkinkan masuknya (2005), menyatakan bahwa jamur shiitake
O2 yang cukup dan menghindarkan di Jepang pada umumnya dipanen pada
kerusakan karena CO2 (Hall et al., 1997). tahap akhir dari perkembangan jamur
Menurut hasil penelitian tersebut.
Firmansyah (2014), Jumlah perforasi 11 Menurut Pratama dkk (2013), nilai
lubang pada pengamasan brokoli segar skor kesegaran tertinggi terdapat pada
dengan menggunakan PEDR memberikan jamur tiram yang dikemas dengan
pengaruh terbaik hanya pada respons kemasan plastik PEDR. Hal ini
kekerasan pada hari ke-10 dan hari ke-15 disebabkan dibandingkan dengan
penyimpanan. kemasan yang lainnya, plastik PEDR
Jumlah perforasi yang terbaik untuk memiliki daya tembus yang paling rendah
kemasan tomat yaitu dengan 6 lubang- terhadap gas dibandingkan plastik yang
lubang perforasi karena tomat memiliki lainnya.
kecepatan respirasi yang rendah. Setiap komoditi memiliki kecepatan
Sedangkan jumlah perforasi yang terbaik respirasi yang berbeda-beda. Jika produk
untuk kemasan buncis yaitu dengan memiliki kecepatan respirasi yang rendah,
jumlah lubang-lubang perforasi yang hal ini berarti bahwa produk tersebut tidak
lebih banyak dibandingkan tomat yaitu 8 terlalu banyak membutuhkan oksigen.
lubang karena buncis memiliki kecepatan Sehingga jumlah lubang-lubang perforasi
respirasi yang tinggi dan sensitif terhadap yang digunakan pun sedikit.
kerusakan anaerob. Walaupun kecepatan
Hipotesis Penelitian
respirasinya tinggi, tetapi jika jumlah
Berdasarkan kerangka berpikir yang
lubang perforasinya berlebihan misalnya
telah dipaparkan dapat diambil hipotesis
12 lubang, maka akan mengakibatkan
bahwa jenis kemasan, jumlah perforasi
kebusukan pada buncis tersebut
kemasan serta interaksi antara jenis
(Ariestiani, 2012).
kemasan dan jumalah perforasi kemasan
Menurut hasil penelitan Adiandri
diduga berpengaruh terhadap karakteristik
dkk (2012), tingkat kesukaan panelis
dari jamur champignon.
terhadap aroma jamur merang untuk
semua perlakuan cenderung menurun Waktu dan Tempat Penelitian
dengan bertambahnya waktu Penelitian dilaksanakan di
penyimpanan. Hal ini kemungkinan Laboratorium Penelitian Teknologi
karena terjadinya off flavor akibat Pangan Fakultas Teknik Universitas
terjadinya respirasi anaerob di dalam Pasundan , Jl. Dr. Setiabudi No. 193,
kemasan jamur merang.

6
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

Bandung. Waktu Penelitian dimulai dari memberikan pengaruh terbaik akan


bulan Agustus 2015. ditetapkan sebagai suhu penyimpanan
pada penelitian utama.
BAHAN, ALAT, DAN METODE
Penelitian Utama
PENELITIAN
Penelitian utama merupakan
lanjutan dari penelitian pendahuluan.
Bahan dan Alat Penelitian
Penelitian utama bertujuan untuk
Bahan yang Digunakan mengetahui pengaruh jenis kemasan
Bahan baku utama yang digunakan (PVC dan PEDR) dan jumlah perforasi
dalam penelitian ini adalah jamur kemasan (5, 9, dan 13 lubang) terhadap
champignon lokal yang dipanen dalam karakteristik jamur champignon yang
kondisi tudung yang belum mekar disimpan pada suhu rendah. Setalah
sebanyak 10 kg. penyimpanan hari ke 14 dilakukan uji
Bahan lain yang penting dalam organoleptik, kadar protein (metode
percobaan, antara lain air pencuci untuk kjeldahl) dan perhitungan susut bobot.
mencuci bahan, plastik Polivinilklorida Selanjutnya data yang dihasilkan diolah
(PVC) dengan jenis mika berukuran 12 x dengan menggunakan Rancangan Acak
12 x 4 cm, plastik Polietilen Densitas Kelompok (RAK).
Rendah (PEDR) dengan jenis wrapping
Deskripsi Percobaan
film dengan ketebalan 10 , dan baki
Bahan baku jamur champignon
styrofoam berukuran 12 x 12 x 4 cm.
dibersihkan dengan cara manual, yaitu
Bahan yang digunakan untuk
dengan membuang kotoran seperti sisa
analisis secara kimia adalah larutan
serbuk kayu yang melekat dan
Na2SO4, HgO, H2SO4 pekat, aquadest,
sebagainya. Selanjutnya sortasi dilakukan
NaOH 50%, H3BO3, HCl 0,02N, dan
terhadap jamur champignon dengan
Na2S2O3.
memisahkan bagian yang rusak dan cacat
Alat yang Digunakan yang diakibatkan pengangkutan seperti
Alat yang digunakan dalam memar, layu, timbulnya noda, dan berair.
penelitian antara lain refrigerator, baskom Setelah itu untuk membersihkan jamur
plastik, dan rak tempat penyimpanan champignon dari kotoran dan bahan asing
bahan, neraca digital, dan pisau. lainnya dilakukan perendaman. Kemudian
Alat yang digunakan untuk analisis jamur champignon ditiriskan untuk
kimia antara lain mortar, neraca digital, menghilangkan air yang menempel pada
erlenmeyer, gelas kimia, buret, pipet permukaan bahan. Lalu jamur
volumetrik, dan corong. champignon ditimbang sebanyak 100
Metode Penelitian gram untuk masing-masing satuan
Penelitian ini terbagi menjadi dua percobaan. Bahan disimpan diatas baki
bagian yaitu penelitian pendahuluan dan Styrofoam kemudian dikemas dengan
penelitian utama. kemasan yang berbeda, yaitu PVC
(Polivinilklorida) dan PEDR (Polietilen
Penelitian Pendahuluan Densitas Rendah) dengan jumlah
Penelitian pendahuluan bertujuan perforasi yang berbeda sesuai perlakuan
untuk mengetahui suhu yang terbaik kemasan dengan jumlah perforasi 5, 9,
untuk penyimpanan jamur champignon. dan 13. Jamur champignon yang telah
Dilakukan dengan mengevaluasi mutu dikemas disimpan pada refrigerator
fisik jamur champignon yang disimpan dengan suhu 10C dari hasil penelitian
pada suhu 10oC dan 15oC selama 14 hari pendahuluan dan disimpan selama 14
dengan menggunakan kemasan plastik hari.
PEDR dan baki styrofoam dengan jumlah
perforasi 9 lubang. Pengamatan dilakukan HASIL DAN PEMBAHASAN
sebanyak dua kali yaitu pada hari ke 7 dan
Penelitian Pendahuluan
hari ke 14, selanjutnya suhu yang

7
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

Berdasarkan hasil pengujian yang terhadap kadar protein jamur champignon


dilakukan dengan pengamatan selama 14 dapat dilihat pada Tabel 1.
hari, pemilihan perlakuan yang terbaik
Tabel 1. Pengaruh Interaksi antara Jenis
menurut pengamatan terhadap warna,
Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan
aroma dan tekstur adalah perlakuan jamur
(AB) Terhadap Kadar Protein (%) Jamur
champignon dengan suhu penyimpanan
Champignon Penyimpanan Hari ke 7
10C.
Jenis Jumlah Perforasi
Hasil dari penelitian pendahuluan Kemasan b1 (5) b2 (9) b3 (13)
ini selanjutnya akan digunakan pada 2.748 2.753
penelitian utama. Hasil pengamatan 2.585 a
a1 (PVC) a a
terhadap warna, aroma, dan tekstur jamur A
A B
champignon 2.698 2.580 2.545
a2 (PEDR) a a a
1. Warna
A A A
Hasil pengamatan dari atribut Keterangan : Setiap kolom dengan huruf besar yang sama
warna menunjukan bahwa jamur menunjukan tidak berbeda nyata pada taraf 5%, dan setiap
champignon dengan suhu penyimpanan baris dengan huruf kecil yang sama menunjukan tidak
berbeda nyata pada taraf 5%. Notasi huruf kecil dibaca
10C pada penyimpanan hari ke 7 dan ke horizontal, sedangkan notasi huruf besar dibaca vertikal.
14 memiliki kenampakan warna yang
lebih baik dibandingkan jamur Hasil analisis statistik ANAVA pada
champignon dengan suhu penyimpanan hari 14 menunjukkan bahwa jenis
15C. kemasan (A) berpengaruh nyata pada
kadar protein jamur champignon,
2. Aroma sedangkan jumlah perforasi kemasan (B),
Hasil pengamatan dari atribut dan interaksi jenis kemasan dan jumlah
Aroma menunjukan bahwa jamur perforasi kemasan (AB) tidak
champignon dengan suhu penyimpanan berpengaruh nyata sehingga tidak perlu
10C pada penyimpanan hari ke 7 dan ke dilakukan uji lanjut Duncan. Hasil uji
14 memiliki aroma yang lebih baik lanjut Duncan untuk jenis kemasan (A)
dibandingkan jamur champignon dengan terhadap kadar protein jamur champignon
suhu penyimpanan 15C. dapat dilihat pada Tabel 2.
3. Tekstur Tabel 2. Pengaruh Perlakuan Jenis
Hasil pengamatan dari atribut Kemasan (A) Terhadap Kadar Protein (%)
tekstur menunjukan bahwa jamur Jamur Champignon Penyimpanan Hari ke
champignon dengan suhu penyimpanan 14
10C pada penyimpanan hari ke 7 dan ke Jenis Kemasan Rata-rata Hari ke 14
14 memiliki tekstur yang lebih baik
a1 (PVC) 9.153 b
dibandingkan jamur champignon dengan
suhu penyimpanan 15C. a2 (PEDR) 8.603 a
Keterangan: Rata-rata diikuti huruf yang sama tidak
Penelitian Utama berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan taraf
1. Kadar Protein 5%.
Hasil analisis statistik ANAVA pada
Semakin lama penyimpanan maka
hari 7 menunjukkan bahwa terjadi
perubahan kadar proteinnya semakin
interaksi diantara jenis kemasan dan
terlihat. Maka dari itu kesimpulan yang
jumlah perforasi kemasan (AB) terhadap
dapat diperoleh dari Tabel 2,
kadar protein jamur champignon.
penyimpanan menggunakan kemasan
sedangkan jenis kemasan (A), dan jumlah
PVC sebagai perlakuan terpilih karena
perforasi kemasan (B) tidak berpengaruh
memiliki kadar protein yang paling tinggi.
nyata sehingga tidak perlu dilakukan uji
lanjut Duncan. Hasil uji lanjut Duncan 2. Susut Bobot
untuk interaksi diantara jenis kemasan Hasil analisis statistik ANAVA pada
dan jumlah perforasi kemasan (AB) penyimpana hari ke 7 dan 14
menunjukkan bahwa jenis kemasan (A),

8
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

jumlah perforasi kemasan (B) dan perubahannya. Handayani (2008)


interaksi jenis kemasan dan jumlah menyatakan, selama penyimpanan jamur
perforasi kemasan (AB) tidak akan mengalami perubahan warna.
berpengaruh nyata terhadap susut bobot Perlakuan pada kemasan mempengaruhi
jamur champignon sehingga tidak perlu kenampakan warna jamur dimana
dilakukan uji lanjut Duncan. semakin banyak lubang perforasi maka
Menurut Finger (1999), kecepatan semakin cepat kerusakan pada warna
susut bobot pada sayuran sangat jamur oksigen yang dibutuhkan dalam
dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban metabolisme tersedia dengan cepat.
udara pada kamar penyimpanan. Semakin Ketika buah dan sayur disimpan
tinggi suhu dan rendahnya kelembaban pada suhu rendah maka buah akan terjadi
udara maka laju respirasi akan semakin perubahan warna karena mengalami
tinggi sehingga menurunkan bobot dari kesetimbangan akibat kekurangan O2
bahan tersebut. sehingga terjadi perubahan proses kimia
Susut bobot jamur champignon yaitu fermentasi yang menyebabkan buah
pada perlakuan suhu penyimpanan yang dan sayur mengeluarkan air dalam
rendah dan dikemas bisa mempertahankan tubuhnya sehingga cahaya memantul
kesegaran karena proses laju respirasi karena adanya lapisan air pada permukaan
terhambat dan sebaliknya jika pada suhu buah dan sayur. Selain itu perubahan
penyimpanan yang tinggi, maka susut warna dapat terjadi akibat perlakuan suhu
bobot jamur champignon akan semakin rendah (Askar, 2005).
menurun sehingga kesegaran ikut
2. Aroma
menurun. Menurut Syarif dan Halid
Pegujian organoleptik terhadap
(1993), bahan pengemas dan suhu rendah
jamur champignon dengan metode
dapat menekan laju respirasi serta
hedonik atribut aroma dilakukan pada hari
mempertahankan kesegaran. Proses
ke 14 penyimpanan. Berdasarkan hasil
transpirasi menyebabkan kehilangan susut
analisis statistik ANAVA menunjukkan
bobot bahan, sehingga hasil-hasil
bahwa jenis kemasan (A), jumlah
pertanian menjadi layu. Menurut Suhelmi
perforasi kemasan (B) dan interaksi jenis
(2007), transpirasi adalah proses
kemasan dan jumlah perforasi kemasan
penguapan dari tanaman yang
(AB) tidak berpengaruh nyata terhadap
mengakibatkan produk kehilangan air.
aroma jamur champignon.
Menurut Handayani (2008), salah
Respon Organoleptik
satu penyebab perubahan aroma jamur
1. Warna
adalah tumbuhnya kapang pada tangkai
Pegujian organoleptik terhadap
jamur. Pantastico (1993) menjelaskan,
jamur champignon dengan metode
pelubangan pada kemasan untuk
hedonik atribut warna dilakukan pada hari
menghindarkan kemungkinan kerusakan
ke 14 penyimpanan. Berdasarkan hasil
akibat akumulasi CO2 dan penyusutan O2
analisis statistik ANAVA menunjukkan
kemungkinan timbulnya rasa dan aroma
bahwa jenis kemasan (A), jumlah
yang tidak diinginkan karena dalam
perforasi kemasan (B) dan interaksi jenis
kemasan yang rapat semua oksigen bebas
kemasan dan jumlah perforasi kemasan
akan terpakai habis dalam waktu singkat,
(AB) tidak berpengaruh nyata terhadap
respirasi menjadi anaerob dan
warna jamur champignon.
terbentuklah zat-zat menguap seperti
Hal ini disebabkan perubahan alkohol dan CO2..
warna terjadi seiring dengan penurunan Beberapa sayuran (misalnya jamur)
mutu akibat proses metabolisme sehingga mengalami penyimpangan aroma akibat
mempengaruhi kenampakan jamur selama terjadinya oksidasi. Kebanyakan sayuran
penyimpanan. dan buah memiliki kandungan lemak
Kanampakan warna adalah salah yang sedikit, tetapi oksidasi asam lemak
satu yang paling dapat dilihat tak jenuh menghasilkan hidroperoksida

9
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

yang bereaksi lebih lanjut dengan hidupnya sehingga menyebabkan tekstur


polimerisasi, dehidrasi atau oksidasi yang jamur melunak (Handayani, 2008).
menghasilkan keton, aldehid, dan asam Menurut Pantastico (1993),
yang menyebabkan ketengikan dan aroma kekerasan sayuran disebabkan oleh
yang tidak enak. tekanan isi sel pada dinding sel dan
bergantung pada konsentrasi zat-zat
osmotik aktif yang bergerak dari daerah
3. Tekstur dengan energi kinetik tinggi ke daerah
Pegujian organoleptik terhadap energi yang lebih rendah. Cairan sel
jamur champignon dengan metode mempunyai jenjang energi lebih rendah
hedonik atribut aroma dilakukan pada hari karena zat-zat yang terlarut didalamnya
ke 14 penyimpanan. Hasil analisis sebagai akibatnya air berdifusi ke dalam
statistik ANAVA menunjukkan bahwa sel. Difusi terus menerus meningkatkan
jumlah perforasi kemasan (B) jenjang energi sel dan berakibat naiknya
berpengaruh nyata terhadap tekstur jamur tekanan yang mendorong sitoplasma ke
champignon, sedangkan jenis kemasan dinding sel menyebabkan sel menjadi
(A), dan interaksi jenis kemasan dan tegang. Menurut Saltveit (1996),
jumlah perforasi kemasan (AB) tidak komoditas dengan laju respirasi tinggi
berpengaruh nyata sehingga tidak perlu (seperti jamur) akan memiliki umur
dilakukan uji lanjut Duncan. Hasil uji simpan lebih pendek dibanding dengan
lanjut Duncan untuk jumlah perforasi yang memiliki laju respirasi rendah
kemasan (B) terhadap tekstur jamur yang akan berpengaruh terhadap
champignon dapat dilihat pada Tabel 3. kekerasan dan ketegaran.
Tabel 3 dibawah menunjukan Setiap komoditi memiliki kecepatan
bahwa jumlah perforasi kemasan 9 respirasi yang berbeda-beda. Jika produk
lubang berbeda nyata dengan jumlah memiliki kecepatan respirasi yang rendah,
perforasi kemasan 5 lubang dan 13 lubang hal ini berarti bahwa produk tersebut tidak
terhadap tekstur jamur champignon, terlalu banyak membutuhkan oksigen.
sedangkan untuk jumlah perforasi Sehingga jumlah lubang-lubang perforasi
kemasan 5 lubang dan 13 lubang tidak yang digunakan pun sedikit.
berbeda nyata terhadap tekstur jamur
champignon. KESIMPULAN DAN SARAN
Tabel 3. Pengaruh Perlakuan Jumlah Kesimpulan
Perforasi Kemasan (B) Terhadap Tekstur Berdasarkan hasil penelitian yang
Jamur Champignon Penyimpanan Hari 14 telah dilakukan, maka dapat diambil
Nilai Taraf kesimpulan sebagai berikut:
Perlakuan
Kesukaan Nyata 5% 1. Perlakuan terpilih dari penelitian
Jumlah pendahuluan adalah jamur champignon
Perforasi yang disimpan pada suhu 10C.
3.43 a
b1 (5) 2. Interaksi antara jenis kemasan dan
4.17 b
b2 (9) jumlah perforasi kemasan berpengaruh
3.55 a
b3 (13) terhadap respon kadar protein
Keterangan: Rata-rata diikuti huruf yang sama tidak
berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan taraf
penyimpanan hari ke 7, sedangkan
5%. jenis kamasan memberikan pengaruh
terhadap respon kadar protein
Perubahan tekstur dipengaruhi
penyimpanan hari ke 14.
karena adanya metabolisme seperti
3. Penyimpanan menggunakan kemasan
respirasi dan pemecahan substrat dalam
PVC sebagai perlakuan terpilih karena
jamur sehingga menyebabkan kerusakan
memiliki kadar protein yang paling
sel atau jaringan sehingga menurunkan
tinggi.
kekerasan dan mikroorganisme yang
4. Jumlah perforasi kemasan 9 lubang
tumbuh mengeluarkan enzim untuk
memberikan pengaruh terbaik hanya
merusak struktur sel demi kemangsungan

10
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

pada respon organoleptik dalam hal Volume I, Published by AOAC


tekstur. International, Arlinton, USA
5. Perlakuan terpilih berdasarkan uji Ares, G., Parentelli, C., Gambaro, A.,
skoring dengan nilai tertinggi 21 Lareo, C., Lema, P. 2006. Sensory
terdapat pada perlakuan a1b2 yaitu shelf life of shitake mushrooms
jamur champignon yang disimpan stored under passive modified
menggunakan kemasan PVC dengan atmosphere. Postharvest Biology
jumlah perforasi kemasan 9 lubang. and Technology
Ares, G., Claudia, L., Patricia, L. 2007.
Saran
Modified atmosphere packaging
Dari evaluasi yang telah dilakukan,
for postharvest storage of
ada beberapa saran yang perlu
mushroom. A Review. Fresh
diperhatikan, antara lain:
produce, Global Science Books.
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
Ariestiani. 2012. Perubahan
mengenai suhu yang tepat untuk
Karakteristik Sayur dan Buah
penyimpanan jamur champignon selain
yang Dikemas dengan Kemasan
dari suhu yang digunakan pada
Plastik Pada Berbagai Kondisi
penelitian pendahuluan.
Penyimpanan. [Skripsi] Fakultas
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
Teknologi Industri Pangan.
mengenai pengukuran laju respirasi
Universitas Padjadjaran. Bandung.
pada jamur champignon sehingga
Arsyad, Azhar. 2011. Media
dapat menduga umur simpan jamur
Pembelajaran. cetakan ke-15.
champignon.
Jakarta: Rajawalli .Pers
DAFTAR PUSTAKA Ashari, S. 2006. Hortikultura Aspek
Budidaya. UI Press.Jakarta.
Abdullah, I. 2013. Permeabilitas Uap Astawan, M. 2008. Fungsi Kemasan.
Air Terhadap Bahan Kemasan. http://www.puslitbang.com. Diakses
Fakultas Pertanian, Universitas : 24 April 2015
Mulawarman. Buckle, K.A., Edwards, R.A., Fleet, G.H,
Adiandri, M. 2012. Karakteristik Mutu Wooton, M. 1987. Ilmu Pangan.
Fisikokimia Jamur Merang Diterjemahkan oleh H. Purnomo
(Volvarella volvacea) Selama dan Adiono. Jakarta : Universitas
Penyimpanan Dalam Berbagai Indonesia Press.
Jenis Larutan Dan Kemasan. Cahyono, B. 2001. Kubis Bunga dan
Balai Besar Penelitian dan Broccoli. Yogyakarta: Kanisius.
Pengembangan Pascapanen Cho, K. Y., Yung, K. H., and Chang, S. T.
Pertanian, Bogor. 1982. Preservation of cultivated
Ahmad., Hafizullah. 2011. Divinil mushroom, Tropical Mushrooms
Benzena dan Dikumil Peroksida. Biological Nature and Cultivation
http://ahmadhafizullahritonga.blog. Methods. The Chinese University
usu.ac.id/2011/02/18/divenil- Press. Hongkong.
benzena/. Diakses : 24 April 2015 Citrosomo, S. S. 1984. Botani Umum 2.
Askar, S. Dan Sugiarto. 2005. Uji Angkasa. Bandung.
Kimiawi dan Organoleptik Deman, John, M. 1997. Kimia Makanan.
sebagai Uji MutuYoghurt. Bogor : Bandung : Institut Teknologi
Prosiding Temu Teknis Nasional Bandung.
Tenaga Fungsional Pertanian. Devi. 2014. Penanganan Kacang Kapri
Alexs, M. 2011. Untung Besar Budi Segar.
Daya Aneka Jamur. Pustaka Baru: http://devitasari74.wordpress.com/2
Press.Yokyakarta. 013/01/08/penanganan-kacang-
AOAC. 1995. Official Methods of kapri-segar/. Diakses : 18 April
Analysis of The Association of 2015.
Official Analitycal Chemists.

11
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Handayani, R. T. 2008. Pengemasan


RI. 1981. Kandungan Zat Gizi atmosfer termodifikasi jamur
Brokoli dalam 100g Bahan. tiram putih (Pleurotus ostreatus).
Direktorat Gizi Departemen [Skripsi]. Departemen Teknologi
Kesehatan RI. Jakarta. Industri Pertanian Fakultas
Deulis, A. 2012. Pengaruh Jenis Teknologi Pertanian Institut
Kemasan dan Penyimpanan Pertanian Bogor
Pangan Sayur dan Buah. [Skripsi] Hapsari, R. 2009. Apa Itu PVC.
Fakultas Teknologi Industri Pangan. http://www.ririnhapsari.blohspot.co
Universitas Padjadjaran. Bandung. m. Diakses : 27 April 2015
Dewi, K. 2007. Teknik Atmosfir Julianti, E. dan M. Nurminah. 2006.
Termodifikasi Dalam Buku Ajar Teknologi
Penanganan Buah dan Sayur Pengemasan. Departemen
Segar. [Skripsi] FMIPA. UNNES. Teknologi Pertanian Fakultas
Firmansyah. 2014. Pengaruh Suhu Pertanian Universitas Sumatera
Penyimpanan dan Jumlah Utara, Medan.
Perforasi Terhadap Karakteristik Kartasapoetra, A.G. 1994. Teknologi
Brokoli (Brassica oleracea var. Penanganan Pasca Panen.
royal G.) Fresh-cut. [Skripsi] Jakarta : Rineka cipta.
Fakultas Teknik. Jurusan Teknologi Kuo, M. 2004. Agaricus Bisporus The
Pangan. Universitas Pasundan. Butoon Mushroom.
Bandung. http://ww.MushroomExpert.com.
Finger, Fernando, L. 1999. Journal. Diakses : 24 April 2015
Physiological Changes During Lopez-Briones, G., Varoquaux, P., Yves,
Postharvest Senescence of C., Bouquant, J., Bureau, G.,
Broccoli. Brazil. Vol.2 , No.2. Pascat, B. 1992. Storage of
Fonseca, S.C., Oliveira, A. R., Brecht, J. common mushroom under
K. 2002. Modelling repiration controlled atmospheres.
rate of fresh fruit and vegetable International Journal of Food
for modified atmosphere package. Science and Technology.
A. review. Journal of Food Made, S.U. 2009. Pascapanen Produk
Engineering. Segar. Fakultas Teknologi
Frazier, W.C. (1986). Food Pertanian, Universitas Udayana.
Microbiology. New Delhi : Tata Bali.
Mc Graw-Hill Publishing Company. Mardiah. 1996. Penentuan aktivitas dan
Gaspersz, V. 1995. Metode Perancangan inhibisi enzim polifenol oksidase
Percobaan untuk Ilmu-Ilmu dari apel (Pyrus malus Linn).
Pertanian, Ilmu-Ilmu Teknik, Jurnal Kimia Andalas
dan Biologi. Bandung: Armico. Martine, B., Gaelle, L. P., Ronan, G.
Gembong, Tjitrosoepomo. 2005. 2000. Post-harvest treatment with
Morfologi Tumbuhan. Universitas citric acid or hydrogen peroxide
Gadjah Mada. Yogyakarta to extend the shelf life of fresh
Hall, C. W., Hardenburg, R. E., sliced mushroom. Lebensmittel-
Pantastico, E. R. B. 1997. Bag. II Wissenchaft und-Technologie. Hal :
Pengemasan untuk Konsumen 285-289.
dengan Plastik. Dalam: Er. B. Minimade, T., Nishikawa, T., Ogata, K.
Pantastico. 1997. Postharvest 1980. Influence of CO2 and O2 on
Phsiology, Handling and the keeping freshness of shiitake
utilization of Tropical and (Lentinus edodes) after harvest.
Subtropical Fruits and Nippon Shokukin Kogyo
Vegetables. Penerjemah: Gakkaishi.
Kamariyani. Gadjah Mada Muchtadi, T. R. 2000. Sayur-Sayuran
University Press: Yogyakarta Sumber Serat dan Antioksidan:

12
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

Mencegah Penyakit Degeneratif. Minimally Processed Fruits And


Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Vegetables. In: Phytochemistry Of
Bogor: FATETA. IPB. Fruit And Vegetables. FA Tomas-
Natipulu, B., Sabari, J., Rajagukguk dan Barberan (ed) Oxford univ. Press.
A. Dwijaya. 1992. Pengaruh Saputra, Jagad. 2014. Kenali Jamur
Modifikasi Atmosfer (MA) dan Beracun. http://www.asiksaja.com.
Suhu Terhadap Mutu Kubis Diakses : 6 Oktober 2015
Bunga Selama Sembiring, N. N. 2009. Pengaruh Jenis
Penyimpanan.http://www.pustaka.l Bahan Pengemas Terhadap
itbang.deptan.go.id/bptpi/lengkap/I Kualitas Produk Cabai Merah
PTANA/fullteks/Puslitbanghort/199 (Capsicum annum L.) Segar
2/pros04.pdf . Diakses: 20 Aplil Kemasan Selama Penyimpanan
2015 Dingin. [Tesis]. Universitas
Pantastisco, E. R. B. 1993. Fisiologi Sumatera Utara. Medan
Pasca Panen (Penanganan dan Singer, R. 1986. The Agaricales in
Pemanfaatan Buah-Buahan dan Modern taxonomy. Koeltz
Sayur-sayuran Tropika dan Scienctific Book, Koeningstein.
Subtropika). Gadjah Mada Siswadi. 2007. Penanganan Pasca
University Press. Yogyakarta. Panen Buah Buahan dan
Parentelli, C., Ares, G., Corona, M., Sayuran. Unisri. Vol 6. No. 1
Lareo, C., Gambaro, A,, Soubes, Soekarto, S. T. 1990. Dasar-dasar
M., Lema, P. 2007. Sensory and Pengawasan dan Standarisasi
microbiological quality of shitake Mutu Pangan. Pusat Antar
mushrooms in modified Universitas. Pangan dan Gizi.
atmosphere packages. Journal of UGM. Yogyakarta.
the Science of Food and Agriculture Srilaong, V., S. Kanlayanarat, dan Y.
86 Tatsumi. 2002. Changes in
Putri, F. 2011. Bududaya Jamur Comercial Quality of Rong-Rien
Kancing (Agaricus bisporus). Rambutan in Modified
http://www.febhriaputrio8.blogsopt. Atmosphere Packaging. Food
com. Diakses : 24 April 2015 Science Technology.
Rafli, Rusdi. 2008. Karakteristik Sugiarto, M. 2005. Penentuan
Matriks Termoplastik Polietilena Komposisi Atmosfer Untuk
Terplastisasi Poligliserol Asetat. Penyimpanan Bawang Daun
[Tesis]. Program Pascasarjana USU. Rajangan. Jurnal Teknik Industri
Medan. Pertanian 15(3): 79-84.
Rahardi, F., R. Pulungkun, A. Budiarti. Suharjo, Usman. 2011. Penuntun
L994. Agribisnis Tanaman Sayur. Praktikum Dasar Dasar
Penebar Swadaya. Jakarta. Fisiologi Tumbuhan Tanaman.
Rahmawati. 2008. Pengaruh vitamin C Jurusan Budidaya Tanaman UNIB :
terhadap aktivitas polifenol Bengkulu
oksidase buah Apel merah (Pyrus Suhelmi, M. 2007. Pengaruh Kemasan
malus) secara in vitro. [skripsi]. Polypropylene Rigid Kedap Udara
Surakarta: Universitas Terhadap Perubahan Mutu
Muhammadiyah Surakarta. Sayuran Segar Terolah Minimal
Rukmana, R. 1994. Budidaya Kubis Selama Penyimpanan. [Skripsi].
Bunga Dan Broccoli. Kanisus. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Yogyakarta. Sukardi. 1992. Penanganan Pasca Panen
Santoso. 2006. Teknologi pengawetan Buah dan Sayuran, PAV Pangan
bahan segar. Laboraturium Kimia dan Gizi, UGM. Yogyakarta.
Pangan Fakultas UWIGA Malang. Supriyadi, A. 1999. Budidaya,
Saltveit, M.E. 1996. Physical And Pengolahan dan Prospek Pisang.
Physiological Change In Penebar Swadaya, Jakarta.

13
Erla Widianty ( 11.30.20.037 )
Pengaruh Jenis Kemasan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Jamur Champignon

Susanto, T. 1994. Fisiologi dan Tjahjadi, C dan H. Marta. 2011.


Teknologi Pasca Panen. Pengantar Teknologi Pangan.
Akademika. Yogyakarta. Universitas Padjajaran, Bandung.
Susanto, T. dan B. Suneto, 1994. Tokimoto, K. 2005. Mushroom Growers
Teknologi Pengolahan Hasil Handbook. Mushworld, Japan.
Pertanian. Bina Ilmu Offset, Wijaya, N. A. 2011. Proses Produksi
Surabaya. Jamur Kancing.
Suyitno. 1990. Bahan-bahan Pengemas. http://www.scribd.com. Diakses :
PAU. UGM. Yogyakarta 26 April 2015
Syarief, R., H. Halid. 1993. Teknologi Winarno, F.G. 1992. Kimia Pangan dan
Penyimpanan Pangan. Arcan, Gizi. Jakarta : PT. Gramedia
Jakarta. Pustaka Utama.
Syarief, R., S. Sassya. 1993. Petunjuk Winarno, F. G., M. Aman. 1991. Fisiologi
Laboratorium Teknologi Lepas Panen. Jakarta: Sastra
Pengemasan. Pusat Antar Hudaya.
Universitas Pangan dan Gizi. IPB. Zainal, M., Tawali, A. B.
Bogor. 2004.Perubahan Mutu Buah
Tawali, A. B., M. Zainal. 2004. Pengaruh Anggur Impor (Vitis vinivera)
Suhu Penyimpanan Terhadap Pada Berbagai Suhu
Mutu Buahbuahan Impor Yang Penyimpanan. Jurnal Sains dan
Dipasarkan Di Sulawesi Selatan. Teknologi, 8 (4), Vol 4, hal 67-90.
Jurnal Jurusan Teknologi Pertanian
Fapertahut UNHAS.

14