You are on page 1of 7

Rekonsiliasi, Jeda Cinta Yang Menepi

Dia, kata Ammar bin Yasir kepada Utsman bin Affan, Berwasiat agar engkau tidak menshalatkannya. Kalimat menyesakkan
tentang akhir kisah Abdullah bin Masud itu ditulis dalam kitab Ansabul Asyraf jilid V halaman 36.
Ini tentang cinta manusia-manusia utama yang berjeda. Manusia-manusia yang belajar di sekolah rabbani bersama murabbi
qurani. Manusia-manusia yang telah mendapat keridhaan Allah dan keadilannya diakui. Cinta di antara manusia-manusia ini begitu
dalam dan senantiasa dinaungi keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan, begitu indah.
Meski di antara manusia-manusia pilihan ini cinta dan ukhuwah telah menjadi napas kehidupannya, bukan berarti mereka
senantiasa seiya sekata dalam urusan kehidupannya. Mereka adalah manusia seutuhnya dengan perbedaan karakter, pemikiran,
dan pandangan. Oleh karena itu, kadangkala, di antara mereka pun muncul perselisihan dan perbedaan pendapat. Saat itulah,
sang murabbi, Rasulullah Muhammad, akan memutuskan perkara mereka dengan keputusan langit ataupun pendapat hukumnya
sendiri.
Itu terjadi tatkala Rasulullah masih berada di tengah-tengah mereka. Saat Rasulullah meninggalkan mereka menuju Rabbnya dan
wahyu berhenti, perselisihan di antara mereka pun diselesaikan dengan dua pegangan utama mereka, Al Quran dan As Sunnah.
Jika permasalahannya tidak didapati di kedua pegangan itu, mereka pun menyelesaikannya secara bersama-sama.
Tatkala fitnah mulai merambah bumi Islam seperti deburan angin yang membawa debu dan membawa gelapnya malam, peristiwa-
peristiwa memilukan pun terjadi. Ini tentang salah seorang sahabat Rasulullah yang dimuliakan dan membuat malaikat malu
kepadanya, Utsman bin Affan. Dialah manusia yang menurut Rasulullah adalah umatnya yang paling pemalu.
Di masa jabatannya sebagai khalifah, ia mengangkat beberapa orang kerabatnya dan orang-orang yang dekat dengannya sebagai
pejabat pemerintahan. Di antaranya adalah Al Walid bin Uqbah. Dia adalah salah seorang Bani Aslam yang dibebaskan pada
peristiwa Fathu Makkah. Rasulullah pernah mengangkatnya sebagai petugas pengumpul zakat dari Bani Musthaliq. Ayahnya
adalah Uqbah bin Abdi Muith yang sangat berperan menyiksa kaum mustadhafin dan menyakiti Rasulullah di Makkah. Uqbah
adalah salah seorang tawanan Perang Badar yang dihukum mati.
Tahukah kalian atas apa yang dilakukan orang ini kepadaku? kata Rasulullah setelah memutuskan hukuman mengenai Uqbah ini
sebagaimana dicatat dalam Al Bidayah wa An Nihayah. Saat aku sujud di belakang Maqam Ibrahim, dia datang lalu menginjakkan
kakinya ke leherku. Aku mencubitnya, tetapi kakinya tidak juga diangkat. Aku merasa seolah-olah kedua mataku akan keluar.
Pada kali lain, lanjutnya, Dia membawa kotoran domba, lalu melemparkannya ke kepalaku saat aku sujud. Kemudian datanglah
Fathimah yang membersihkannya dari kepalaku.
Sementara itu, sebagaimana ditulis dalam Thabaqat Ibnu Sad, ibunda Al Walid bin Uqbah adalah Arwa binti Kuraiz bin Rabiah,
yang tidak lain adalah ibunda Utsman bin Affan. Jadi, Al Walid bin Uqbah adalah saudara seibu dengan Utsman bin Affan.
Pasca pembebasan kota Makkah, Al Walid bin Uqbah menjadi seorang muslim yang baik dan taat. Oleh karena itu, suatu kali
Rasulullah memilihnya sebagai petugas pengumpul zakat mal dari Bani Musthaliq. Maka, berangkatlah Al Walid sebagai petugas
zakat. Di dekat perkampungan Bani Musthaliq, ia melihat kumpulan orang bersenjata. Dia pun mengkhawatirkan keselamatan
dirinya dan mengira bahwa mereka bermaksud jahat kepadanya. Bani Musthaliq, katanya setelah kembali kepada Rasulullah,
Menolak membayar zakat mal. Bahkan mereka hendak membunuhku.
Ucapan Al Walid pun menyebar di kalangan kaum muslimin. Mereka bersiaga untuk memerangi Bani Musthaliq. Rasulullah pun
mengeluarkan instruksi supaya mengadakan persiapan untuk memerangi mereka. Beliau mengutus Khalid bin Al Walid untuk
memimpin pasukan kavaleri guna mengetahui peristiwa sebenarnya ke perkampungan Bani Musthaliq. Dia menjumpai Bani
Musthaliq sebagai pemeluk Islam. Mereka semua keluar rumah untuk menyambut utusan Rasulullah. Melihat kondisi demikian,
Khalid pun kembali pulang.
Lalu, Allah menurunkan firmannya tentang peristiwa ini dalam Surat Hujurat ayat 6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang
kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada
suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Yang dimaksud orang fasik dalam ayat tersebut adalah Al Walid bin Uqbah. Namun, pada masa Khalifah Abu Bakar, Al Walid
sempat diberi tugas menjadi petugas pengumpul zakat Bani Quzhaah dan pasukan jihad di Irak. Pada masa pemerintahan Amirul
Muminin Umar bin Khathab, Al Walid diangkat sebagai gubernur Arab Jazirah. Namun, setelah itu muncul perpecahan di kalangan
masyarakat luas yang mengakibatkan Al Walid bersikap keras terhadap rakyat yang dipimpinnya. Sebagian di antara mereka kabur
ke wilayah Romawi. Umar pun meminta dilakukan pengembalian pelarian. Heraklius memenuhi permintaan Umar. Setelah itu,
sekelompok orang datang ke Madinah dan mengadukan Al Walid bin Uqbah kepada amirul mukminin. Umar pun memutuskan untuk
memecat Al Walid untuk memulihkan keamanan dan menetapkan stabilitas di wilayah mereka. Setelah itu, ia hanya tinggal di
rumah dan tidak mengikuti perang atau tugas untuk mengurusi kaum muslimin.
Pada masa Utsman bin Affan, Al Walid diangkat menjadi gubernur Kufah dengan terlebih dulu memecat Saad bin Abi Waqqash.
Ketika Saad bertemu Al Walid yang datang ke Kufah sebagai gubernur, ia berkata, Demi Allah, aku tidak tahu, apakah keadaan
menjadi semakin baik setelah kami ataukah semakin buruk sesudah kamu.
Janganlah mencemaskan Abu Ishaq (Umar bin Khathab), kata Al Walid seperti ditulis dalam Al Istiab fi Marifatil Ashhab, Sebab
dia adalah raja yang makan paginya dijamu oleh suatu kaum dan makan malamnya dijamu oleh kaum yang lain.
Demi Allah, kata Saad bin Abi Waqqash menimpali, Aku melihat kalian akan menjadikan Kufah sebagai kerajaan.
Sementara itu, Abdullah bin Masud yang menjabat sebagai bendahara dan mufti di Kufah sangat kaget melihat kedatangan Al
Walid bin Uqbah ke kantor pemerintahan. Ada apa?
Demi Allah, aku datang sebagai gubernur, jawab Al Walid.
Abdullah bin Masud terheran-heran dengan adanya perubahan mendadak yang menimpa umat Islam pasca kematian Umar bin
Khathab. Oleh karena itu, dia berkata, Aku tidak tahu apakah setelah kami menjadi baik ataukah manusia menjadi rusak.
Setelah memecat penguasa Azerbaijan, Utbah bin Farqad As Sulami, dan mengirimkan pasukan bantuan ke Syam, Al Walid tinggal
di Kufah layaknya seorang raja. Ia tidak mau mengurusi rakyatnya, meninggalkan kegiatan memperdalam agama, semakin sibuk
dengan taman-taman dan mata air yang melimpahi diri dan orang-orang sekitarnya. Hingga pada suatu hari terjadi suatu peristiwa
yang memalukan. Ia mengimami shalat subuh dengan makmum penduduk Kufah. Ia melakukan shalat subuh dengan empat rakaat.
Rupanya malam harinya ia dalam keadaan mabuk. Kemudian ia berpaling kepada mereka dan berkata, Apakah aku melebihinya?
Sejak sekarang, kata Abdullah bin Masud, Kami senantiasa menambah rakaat selama kami bermakmum kepadamu.
Akhirnya kabar ini sampai ke telinga Utsman. Setelah dilakukan penyelidikan, hukuman had pun dijatuhkan kepada Al Walid dan ia
pun dipecat dari jabatannya sebagai gubernur Kufah.
Pada masa sebelum dipecat, Al Walid meminjam uang dari kas negara. Saat itu bendahara Baitul Mal kota Kufah adalah Abdullah
bin Masud. Setelah jatuh tempo dan Al Walid tidak mengembalikan pinjamannya, Abdullah bin Masud pun menagih utang itu.
Namun, Al Walid tidak juga segera membayar utangnya ke Baitul Mal. Al Walid pun terusik oleh tugas Ibnu Masud. Ia pun menulis
surat kepada Khalifah Utsman bin Affan. Dia mengadukan Ibnu Masud yang mendesak menagih pinjamannya dari Baitul Mal.
Kamu, tulis Utsman pada Ibnu Masud, Hanyalah juru kunci gudang buat kami. Karena itu, janganlah mengganggu Al Walid
karena harta yang telah diambilnya.
Saya mengira bahwa diriku sebagai penjaga gudang kekayaan milik kaum muslimin. Namun, jika aku menjadi penjaga gudang
kekayaanmu, aku tidak memiliki kepentingan sedikit pun atas hal itu, kata Ibnu Masud sambil melemparkan kunci Baitul Mal.
Untuk sekian waktu, Ibnu Masud tetap tinggal di Kufah. Namun, keberadaan Ibnu Masud di dekat di dekatnya membuat Al Walid
gerah. Ia menulis surat pada Utsman yang menerangkan bahwa Ibnu Masud telah menjelek-jelekkan Utsman dan mencelanya.
Maka, Utsman memerintahkan Al Walid untuk menyuruh Ibnu Masud pulang ke Madinah. Penduduk Kufah pun berkumpul di rumah
Ibnu Masud. Mereka hendak menolak perintah itu. Tetaplah tinggal di sini. Kami akan menjagamu dari perkara yang dapat
mengganggumu.
Aku wajib patuh kepada Utsman, kata Ibnu Masud, Aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu fitnah.
Berangkatlah Ibnu Masud meninggalkan Kufah menuju Madinah. Ketika tiba di Madinah, ia masuk ke Masjid Nabi. Saat itu, Utsman
tengah berpidato di atas mimbar Rasulullah. Tatkala Utsman melihatnya, ia berkata, Ketahuilah, telah datang kepada kalian
serangga kecil yang jahat..!
Aku bukanlah orang yang seperti itu, kata Ibnu Masud, Namun, aku adalah orang yang menyertai Rasulullah dalam Perang
Badar dan Baiatur Ridhwan,
Aisyah yang berada di biliknya turut pula mendengar perkataan Utsman bin Affan itu. Hai Utsman, Aisyah berseru, Mengapa
kamu berkata demikian kepada sahabat Rasulullah? Namun, Utsman seakan tidak mempedulikan semua itu. Ia menyuruh
Abdullah bin Masud keluar dari Masjid Nabi dan mengusirnya dengan sengit.
Ali bin Abi Thalib yang berada di tempat itu pun unjuk wicara. Hai Utsman, mengapa kamu berbuat demikian kepada sahabat
Rasulullah hanya karena pengaduan Al Walid bin Uqbah?
Aku berbuat demikian bukan karena pengaduan Al Walid, sahut Utsman, Tapi berdasarkan laporan Zubaid bin Ash Shalt Al Kindi
yang aku suruh ke Kufah. Dia melaporkan bahwa Ibnu Masud pernah berkata mengenaiku, Darah Utsman itu halal!
Apakah kehalalan darahmu itu hanya berdasarkan atas laporan Zubaid tanpa didukung bukti yang kuat? tanya Ali membela Ibnu
Masud. Lalu Ali bermaksud untuk menyelesaikan masalah Ibnu Masud. Dibawanya Ibnu Masud ke rumahnya. Ia menyuruhnya
untuk tinggal di Madinah. Dan Utsman pun ternyata tidak mengizinkan Ibnu Masud untuk pergi ke mana pun. Dia ingin pergi
berperang menjadi mujahid, tapi Utsman tidak mengizinkannya pergi berjihad.
Ibnu Masud telah menghancurkan Irak-mu, kata Marwan bin Al Hakam memantapkan Utsman, Apakah engkau ingin agar dia
juga menghancurkan Syam-mu? Marwan tidak menghendaki Ibnu Masud pergi berjihad. Dan sejarah pun mencatat bahwa Ibnu
Masud tidak pernah meninggalkan kota Madinah lagi.
Ketika Ibnu Masud sakit, Utsman datang menjenguknya. Sakit yang dideritanya adalah sakit yang membawanya ke hadapan maut.
Apa yang kamu keluhkan?
Dosa-dosaku.
Apa yang kamu inginkan?
Rahmat Tuhanku.
Maukah aku panggilkan tabib?
Tabib itu akan membuatku tambah sakit.
Bolehkah aku menyuruh orang untuk membawakan hadiah bagimu?
Dulu ketika aku memerlukannya, kamu menolaknya. Sekarang, ketika aku tidak membutuhkannya, kamu memberinya.
Kalau begitu untuk anak-anakmu.
Allah yang akan memberi rezeki kepada mereka.
Hai Abu Abdurrahman, pinta Utsman, Mintakanlah ampunan untukku.
Aku memohon kepada Allah kiranya Dia memberikan hakku yang ada padamu.
Dua lelaki yang pernah saling mencinta itu berada di jeda cintanya. Pergulatan fitnah yang demikian hebat menimpa keduanya dan
menyeret mereka pada perselisihan. Hati mereka retak dan memberikan ruang kosong, lubang hati yang perih dan berlinang
airmata. Lantas muncul pula lubang yang sama di hati kita tentang dua lelaki utama itu, kepedihan dan kesedihan.
Jeda cinta mereka tidak benar-benar menepi. Abdullah bin Masud memberikan wasiat agar jenazahnya dishalatkan oleh Ammar bin
Yasir dan jangan dishalatkan oleh Utsman bin Affan. Maka, tatkala Abdullah bin Masud menyusul kekasih terkasihnya, Ammar bin
Yasir lah yang menshalatkannya. Ia kemudian dikuburkan di kompleks pemakaman Baqi menemani sahabat-sahabatnya yang
telah mendahuluinya di taman-taman cinta.
Tatkala Utsman bin Affan mengetahui hal itu, ia sangat marah dan berkata keras, Kalian telah mendahuluiku! Ammar bin Yasir pun
memberikan alasan, Dia berwasiat agar engkau tidak menshalatkannya.
Ya Allah Jika kekayaan bisa membeli cinta, tentu orang-orang akan rela mengeluarkannya untuk menebus cinta mereka yang
menjeda. dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua
(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan
hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.
Ada pula jeda cinta yang menepi. Ini terjadi di masa kelam itu, masa fitnah yang demikian gelap. Pasca wafatnya Utsman di tangan
para pemberontak secara zhalim, beberapa sahabat utama menuntut balas darah. Mereka adalah Thalhah bin Ubaidillah, Zubair
bin Al Awwam dan Aisyah. Bersama sejumlah besar pasukan bersenjata, mereka menuju ibukota pemerintahan yang baru di
Kufah, menuntut Ali untuk menyerahkan para pembunuh Utsman yang sebagian besar kini menjadi pendukung pemerintahan Ali.
Dalam Perang Berunta, Waqatul Jamal, yang dipimpin oleh Ummul Muminin Aisyah, Ali mengundang dua sahabatnya yang kini
berada di front perang yang berlawanan dengannya, Thalhah dan Zubair. Di kamp Ali, mereka bertiga bersua. Berpelukan
melepaskan rasa permusuhan. Ketiganya berada di situ dengan niat melakukan perbaikan dan perdamaian, hanya caranya yang
berbeda. Bahkan kini suasananya pun berbeda. Dulu mereka sama-sama mengayunkan pedang ke arah kaum kafir musyrik,
namun kini pedang mereka saling terhunus ke jantung sesamanya.
Sesudah menyeka air mata, tulis Salim A Fillah dalam Sebuah Kenangan Atas Cinta, Ali menggenggam jemari Thalhah dan
menatap dalam ke wajahnya. Dengan menghela nafas, Ali mencoba menyusun kata. Ingatkah engkau hai Thalhah, mengapa Allah
turunkan ayat tentang hijab bagi istri Nabi dan mengapa Dia melarang kita untuk menikahi janda beliau?
Thalhah terisak. Dadanya bergemuruh oleh malu dan sesal. Bahu kekarnya bergeletar. Ali menepuk bahu Thalhah. Ya, katanya
sambil mengalihkan pandangan, tak sanggup melihat tercabiknya batin Thalhah oleh kata-katanya. Tapi demi perdamaian dan
persatuan kembali kaum Muslimin, Ali mau tak mau harus mengatakan ini. Ia menguatkan hati. Ayat itu turun karena maksud hati
dan ucapanmu untuk menikahi Aisyah.
Ali meraba reaksi Thalhah. Lalu Ia melanjutkan sambil menatap tajam pada sahabatnya itu. Dan kini sesudah beliau shallallaahu
alaihi wa sallam benar-benar wafat, mengapa engkau justru membawa Aisyah keluar dari hijabnya dan mengajaknya mengendarai
unta dan berperang di sisimu?
Kemudian Ali berpaling kepada Zubair. Hai Zubair, aku minta kau jawab karena Allah. Tidakkah engkau ingat, suatu hari Rasulullah
lewat di depanmu. Sedang saat itu kita sedang berada di rumah Fulan. Beliau berkata kepadamu, Wahai Zubair, tidakkah engkau
mencintai Ali?
Maka, jawabmu, Masa aku tidak cinta pada saudara sepupuku, anak bibi dan anak pamanku, serta orang yang seagama
denganku? kata Ali melanjutkan. Waktu itu beliau berkata lagi, Hai Zubair, demi Allah, bila engkau memeranginya, jelas engkau
berlaku zhalim kepadanya.
Ya! sahut Zubair, Sekarang aku ingat. Hampir saja aku melupakannya. Demi Allah, aku tak akan memerangimu.
Maka tiga lelaki yang saling mencinta itu bersepakat untuk berdamai. Menepikan jeda cinta yang menyapa jalan hidup mereka, jeda
cinta yang terlalu berdarah dan bertajam pedang terhunus. Hari itu, Thalhah dan Zubair mengundurkan diri dari peperangan.
Mereka berdua meninggalkan kamp pasukan Ali dengan jiwa yang lapang penuh cinta. Mereka memang tidak perlu membayar cinta
yang menjeda itu dengan harta yang banyak, tapi mereka membayarnya dengan sesuatu yang lain: nyawa. Zubair bin Al Awwam
dibunuh oleh Amr bin Jarmuz saat ia sedang shalat. Sedangkan Thalhah bin Ubaidillah pun meregang nyawa ditembus panah
Marwan bin Al Hakam, sebagaimana ditulis Khalid Muhammad Khalid dalam Rijal Haular Rasul.
Sewaktu Ali meninjau orang-orang yang syahid dalam peperangan ini di medan laga, semua dishalatkannya, baik yang berada di
pihaknya ataupun yang menentangnya, maka ia berdiri di pusara Thalhah dan Zubair. Sesungguhnya, kata Ali, Aku sangat
berharap agar aku bersama Thalhah, Zubair, dan Utsman, termasuk di antara orang-orang yang difirmankan Allah, Dan Kami
lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di
atas dipan-dipan. (Al Hijr: 47)
Kemudian disapunya pusara keduanya dengan pandangan kasih sayang, persaudaraan, dan cinta. Kedua telingaku ini telah
mendengar sendiri Rasulullah bersabda bahwa Thalhah dan Zubair menjadi tetanggaku di surga. Jeda cinta Thalhah, Zubair, dan
Ali telah menepi. Meski dibayar dengan nyawa, tapi bayaran itu sepadan dengan surga yang dijanjikan, dan kedekatan cinta
mereka: bertetangga di surga.
Masih tentang Ali bin Abi Thalib. Kali ini setelah perseteruannya dengan Muawiyah bin Abi Sufyan. Kala itu, Ali bin Abi Thalib telah
menemui Rabb-nya dengan syahid dibunuh oleh para pembangkang. Bukan dari pihak Muawiyah, tapi dari mantan pendukungnya
sendiri setelah kecewa dengan keputusan Ali melakukan dan menerima tahkim dengan Muawiyah.
Suatu hari Dharar bin Hamrah menjumpai Muawiyah bin Abi Sufyan. Muawiyah berkata kepadanya, Sifatilah Ali untukku! Ia
berkata, Maafkanlah aku untuk ini.
Ia berkata, Tidak! Engkau harus menyifatinya! Dharar berkata, Semoga Allah merahmati Ali. Ketika berada di antara kami, ia
bagaikan salah seorang dari kami dan ketika kami datang menjumpainya, ia mendekatkan kami ke sisinya. Apabila kami bertanya,
ia menjawab dan manakala kami menziarahinya, ia menerima kami dan tidak ada penghalang atau hijab di antara kami. Walaupun
beliau menerima kami di sisinya, kami tidak berani berbicara karena saking berwibawanya beliau. Ia bagaikan mutiara yang teratur.
Muawiyah berkata, Lanjutkan lagi! Dharar berkata, Semoga Allah merahmati Ali. Demi Allah, malam harinya beliau banyak
terjaga dan tidurnya sedikit. Siang dan malam, beliau membaca Al Quran. Beliau memasrahkan hatinya kepada Allah dan dengan
cucuran air mata, beliau kembali kepada Allah. Tidak ada tirai antara dirinya dengan Allah dan beliau tidak pernah mencegah kami
untuk menemuinya. Dalam pertemuan-pertemuan, beliau sangat enggan menyandarkan diri ke sandaran yang nyaman dan untuk
tidak bersandar begitu, adalah mudah bagi beliau.
Wahai Muawiyah, lanjutnya, Seandainya engkau menyaksikan Ali di kegelapan malam, ketika beliau memegang janggutnya, dan
seperti orang yang digigit ular, berputar, menangis dan berkata, Wahai dunia, engkau mengejarku! Aku tidak memerlukan dirimu
dan aku menalaq-mu tiga kali. Setelah itu, beliau mengatakan, O, perjalanan yang jauh dan sedikitnya bekal serta sulitnya
perjalanan.
Ashbagh bin Nabatah, salah seorang perawi, berkata, Di saat itu, Muawiyah menangis dan berkata, Cukup. Wahai Dhirar, demi
Tuhan, Ali memang seperti itu. Semoga Tuhan merahmati Abal Hasan.
Riwayat ini tercantum dalam Biharul Anwar jilid 41 dengan status dhaif. Ashbagh bin Nabatah adalah seorang yang ditinggalkan.
Namun, kita tetap dapat mengambil hikmah dari kisah perseteruan dua orang yang pernah berseteru itu, saat cinta mereka
menjeda: Muawiyah versus Ali. Meskipun Ali telah meninggal, dan merupakan rival politik Muawiyah, ia tetap mengakui keutamaan
Ali. Bahkan ia sangat sedih tatkala mendengar berita kematian Ali.
Ketika Muawiyah sedang tidur bersama istrinya dan mendengar berita terbunuhnya Ali, ia terus bangun dan berkata, Inna lillahi wa
inna ilaihi rajiun.
Muawiyah pun menangis. Sang istri yang saat itu berada di sampingnya sangat heran.Kemarin engkau menyalahkannya dan hari
ini engkau menangis untuknya?
Wahai istriku, kata Muawiyah, Aku menangis mengenang manusia akan kehilangan sikap penyantunnya, ilmunya, kelebihannya,
awalnya dia dalam Islam dan juga kebaikannya
Begitulah terkadang jalan kisah cinta manusia. Ali dan Muawiyah adalah dua orang yang sama-sama merupakan penulis wahyu
Rasulullah. Keduanya pun memiliki kelebihan masing-masing. Ali kuat beragama, sedangkan Muawiyah adalah politikus yang
ulung. Perseteruan mereka merenggangkan hati mereka. Ketika keduanya belum sempat merekonsiliasikan hati mereka,
menepikan jeda cinta mereka, Ali terburu menyusul khalifah sebelumnya, Umar bin Khathab, yang syahid di tangan para
pembunuh.
Perselisihan. Perdamaian. Perbaikan. Rekonsiliasi, menepikan cinta yang menjeda. Sebuah pilihan sadar untuk melakukan
perbaikan atas cinta yang retak, atau bahkan cinta yang bertransformasi menjadi kebencian. Terlalu bodoh jika seseorang tidak
menginginkan kebaikan dalam hidupnya, membiarkan dirinya tenggelam dalam jeda cinta yang pastinya sakit dan menyakitkan.
Dan sungguh zhalim bagi seseorang yang menghalangi para pecinta untuk menepikan jeda cinta mereka. Meski bukan hal mudah,
memilih rekonsiliasi adalah keputusan besar dengan segala konsekuensinya. Kadang nyawa menjadi taruhannya, seperti Thalhah
dan Zubair. Atau kadang penyesalan atas keterlambatan, seperti Muawiyah. Atau bahkan jika tidak memilih rekonsiliasi apapun.
Terkubur bersama kematian. Namun, sejarah akan mencatatnya dan mengabarkannya pada masa depan.
Lelaki ini takut, takut jika kita seperti Utsman dan Ibnu Masud. Sangat takut. Lelaki ini ingin menepikan jeda cinta itu. Lelaki ini
ingin, setidaknya bertetangga di surga, seperti yang dulu pernah diikrarkannya. Perlahan dibacanya ayat ilahi itu. Surat Hud ayat
88. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku
melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali.
(hdn)

Di Suatu Senja Dzulhijjah


Di setiap memasuki bulan Dzulhijah, kita akan kembali teringat atau diingatkan pada sosok manusia-manusia pilihan Allah di mana
Dia menjadikan ritual haji dan qurban sarat berbagai pelajaran berharga.
Diantara gema takbir yang berkumandang malam ini, saya jadi teringat akan peristiwa beberapa waktu lalu yang membuat diri ini
sangat malu padaNya ketika menyelami keindahan pribadi nabi Ibrahim beserta isterinya ibunda Hajar dan tentu saja puteranya
yang shaleh, nabi Ismail.
Tetapi tulisan ini tidak akan mengurai ketiga sosok teladan tersebut melainkan satu episode kekeliruan yang pernah terjadi dalam
hidup saya di saat belajar menjadi orang tua.
Harapan dapat mendidik anak menjadi pribadi yang shaleh adalah sebuah asa kami yang saya yakini pasti setiap orangtua
mengharapkannya tersemat dalam pribadi putra-putri mereka. Namun dalam perjalanan meretas asa tersebut, bukan suatu hal
mustahil jika kita sebagai orangtua terjerembab dalam kealpaan.
Sebuah kekeliruan sikap yang tidak saya sadari sebelumnya dan sepertinya tidak akan pernah saya sadari saat belajar
mewujudkan harapan itu bila bukan karena sifat Maha Pengasih dan PenyayangNya, Allah mengingatkan saya melalui suatu
kejadian di sebuah senja bergerimis.
***
Senja itu hujan belum juga berhenti hingga adzan maghrib berkumandang. Saya lihat ada ragu tersirat di wajah suami. Kebiasaan
shalat di masjid tiap kali adzan berkumandang, sepertinya saat itu tidak akan dilakukannya dan hampir saja ia memutuskan untuk
berjamaah di rumah.
Ayah, ayo kita berangkat ke masjid! dengan suara riang penuh semangat putri kecilku menarik tangan ayahnya.
Kita shalat di rumah aja ya sayang! ucap saya karena melihat suamiku masih terlihat menimbang-nimbang kemungkinan
menerabas hujan untuk bisa berjamaah di masjid.
Tapi, aku pingin shalat di masjid! putriku masih bertahan dengan keinginannya.
Lihat, hujannya masih turun, Nak! Kalau kehujanan bisa terkena pilek, kuungkapkan kekhawatiranku dengan intonasi yang lebih
ditekan sambil membuka pintu memperlihatkan masih berderainya hujan, berharap putriku mengerti kenapa keinginannya shalat
berjamaah di masjid saat itu tak dapat dilakukan.
Sesaat putriku terdiam, matanya memandang ke luar pintu, rinai hujan lebih terdengarsepertinya ia akan menuruti perkataan
saya, namun tiba-tiba ia tersenyum dan segera berbalik ke kamar. Tak lama kemudian ia mengacungkan jaket hujan miliknya.
Aku pakai jaket ini biar bisa ke masjid! seraya tersenyum senang ia meminta tolong saya untuk memasangkan jaket itu di atas
mukena yang telah membalutnya.
Ayahnya memberi isyarat padaku untuk mengikuti apa yang diinginkannya, sambil berkata Ayo, kita jadi berangkat!.
Tak ayal ajakan tersebut membuat si putri kecil dan kakaknya berjingkrak riang dan bergegas menyusul ayahnya. Tinggal saya
termangu menatap mereka menerabas gerimis hujan menaiki sepeda motor menuju masjid.
Usai melaksanakan shalat maghrib, saya terpekur mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Ada lintasan perasaan bersalah
melingkupi hati. Ketegasan sikap putriku atas keinginannya melakukan suatu kebaikan, menyentak kesadaran diri bahwa ada
kekeliruan yang tengah saya lukis dalam kanvas bersih hatinya.
Saya mengatakan hal ini sebuah kekeliruan karena di tengah semangatnya melakukan kebaikan yang tertahan suatu kendala, saya
bukan mencari solusi agar niat itu dapat terlaksana, malah mengungkapkan kekhawatiran yang saya jadikan alasan menahan
keingiannya. Bukankah hal ini justeru dapat mematahkan semangatnya? Dan, tanpa saya sadari sebenarnya sikap saya tersebut
dapat menumbuhkan dalam dirinya sikap mudah menyerah ketika niat baik berhadapan dengan suatu atau beberapa rintangan.
Deru motor memasuki halaman rumah disusul suara riang anak-anak mengucap salam, memutus doa dan permintaan maaf yang
sedang kupanjatkan padaNya. Putriku segera menghambur dalam pelukan sambil bertutur jenaka tetap dengan keriangan khas
anak kecil, Bunda lihat, mukaku basah kena hujan! senyumnya mengembang menutupi mukanya yang putih pucat kedinginan.
Saya peluk tubuh mungilnya dalam haru yang sangat, lalu saya ucapkan maaf dan terimakasih padanya atas sebuah pelajaran
yang saya dapatkan senja itu.
Ketika memeluk dan menatap kejora di mata putriku, serasa membaca ketegaran bunda Hajar saat ditinggalkan Nabi Ibrahim di
tengah padang tandus hanya berbekal keimanan padaNya. Keyakinan bahwa apa yang terjadi pada dirinya adalah karena semata
perintah Allah terhadap suaminya menyebabkan ia tak mudah menyerah pada keadaan. Ia berlari bolak-balik sampai 7 kali di jalan
yang sama demi mencari solusi untuk menghentikan tangis bayi Ismail yang didera kehausan. Hal yang menjadikan Allah kemudian
menurunkan air zam-zam dari hentakan tumit kaki bayi Ismail yang mengalir hingga kini.
***
Senja itu, sebuah pelajaran kembali saya dapatkan dari anak-anak diantara sekian banyak pelajaran yang telah ditorehkan mereka
selama lima tahun kebersamaan saya membesarkannya. Ya, dari mereka ternyata saya banyak mendapat lautan ilmu terutama
dalam hal ketulusan memaafkan sebagaimana sifat anak-anak yang tak pernah mendendam, keramahan dengan sifatnya yang
selalu tersenyum tulus dan ceria, kedermawanan dengan sifat mudah dan selalu berbagi apa yang mereka miliki, kreatif dan satu
hal tadi, pantang menyerah. Kebersamaan dengan mereka, mengajarkan pula pada diri saya akan makna pengorbanan, keikhlasan
dan kesabaran dalam membimbing tumbuh kembang mereka.
Sekalipun sangat jauh dibandingkan dengan pribadi mulia bunda Hajar, tetap tercanang dalam hati semoga interaksiku dengan
anak-anak mengantarkan diri saya memiliki kepribadian seindah pribadi bunda Hajar. Amiin.

Buah Tarbiyah Ailiyah


Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman
di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka
jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka
bersyukur. (Q.S. Ibrahim 37)
Dalam sebuah perjalanan, dan saat jauh meninggalkan keluarga dalam beberapa hari, tiba-tiba seorang aktivis dakwah begitu
orang lain menyebut status dirinya- mendapatkan informasi dari rumah bahwa anak pertamanya memerlukan biaya tambahan untuk
sekolah, anak kedua, ketiga, dan keempat jatuh sakit, bahkan istri dan pembantunya pun juga jatuh sakit, sehingga uang
pengaman yang ditinggalkannya semasa ia berangkat pergi menjadi sangat jauh berkurang, sebab, ia hanya meninggalkan
sejumlah uang yang sekiranya mencukupi kebutuhan normal keluarganya selama ia tinggalkan. Begitu cerita yang saya dapatkan.
Saat mendengar cerita seperti ini, kontan saja saya teringat kepada kisah keluarga nabiyullh Ibrhm alaihis-salm- saat ia harus
meninggalkan seorang istri dan putranya yang masih bayi dengan tanpa meninggalkan pengaman apapun, baik berupa makanan,
air minum, uang belanja, keuarga besar yang bisa dimintai pertolongan saat terjepit, atau tetangga yang sangat mungkit dapat
membantu meringankan beban, atau bentuk-bentuk pengaman lainnya.
Saya membayangkan, sebagai seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab, dan pasti sangat bertanggung jawab, nabiyullh
Ibrhm alaihis-salm- tentulah sangat ingin meninggalkan dan membekali istri dan putra yang masih bayi itu dengan berbagai
pengaman, akan tetapi, apa daya, semua tamnt (pengaman) itu memang benar-benar tidak ada. Dan sebagai seorang kepala
keluarga yang saleh, dan sudah pasti ia berada pada shaf terdepan barisan orang-orang saleh (Q.S. Al-Baqarah: 130), ia merasa
berat meninggalkan seorang wanita dan seorang bayi di sebuah lembah yang sangat panas, tiada air, tiada tanaman dan
pepohonan, tiada binatang dan tiada manusia, bahasa Al-Qurn-nya: f wdin ghaira dz zarin, karenanya, saat ia meninggalkan
seorang wanita dan bayi itu, ia tidak berani menoleh, dan ngeloyor begitu saja, tanpa pamit, tanpa salam, tanpa bicara, atau
istilah arabnya: l salm, wal kalm, sebab, bisa jadi wallhu alam- jika ia menoleh, ada kemungkinan ia menjadi tidak tega
meninggalkan istri dan bayinya dalam keadaan seperti itu dan di sebuah tempat yang tidak ada sedikitpun tamnt (pengaman) di
sana.
Saya pun membayangkan, mungkinkah saya memiliki kemampuan untuk berbuat seperti itu? Tegakah saya berbuat seperti itu,
sanggupkah istri saya saya sikapi seperti itu, tidakkah anak saya, pembantu saya dan orang-orang dekat saya akan menuntut hak-
hak mereka saat saya pergi negloyor begitu saja? Ini bayangan saya.
Akan tetapi, apa yang saya baca tentang kisah keluarga nabiyullh Ibrhm alaihis-salm- adalah sebuah kenyataan, realita,
bukan karangan dan bukan fiksi, kisah nabiyullh Ibrhm alaihis-salm- adalah fakta sejarah yang dicatat dalam sebuah kitab
yang l yathi al-bthilu baina yadaihi wal min khalfihi, kitab yang datang dari Allh Rabb al-lamn dan dipertegas oleh wahyu
kedua, yaitu sunnah Rasulullh shallallhu alaihi wa sallam-
Lalu, kita pun bertanya-tanya, apa rahasia yang membuat nabiyullh Ibrhm alaihis-salm- memiliki ketahanan seperti itu? Dan
apa pula yang menjadikan istri dan bayinya juga memiliki ketahanan yang sepadan dengan yang dia miliki?

Mendidik Anak Cara Nabi Ibrahim


1
dakwatuna.com Kawinilah wanita yang kamu cintai lagi subur (banyak melahirkan) karena aku akan bangga dengan banyaknya
kamu terhadap umat lainnya. [HR. Al-Hakim]
Begitulah anjuran Rasulullah saw kepada umatnya untuk memiliki anak keturunan.
Sehingga lahirnya anak bukan saja penantian kedua orang tuanya, tetapi suatu hal yang dinanti oleh Rasulullah saw. Dan tentu saja
anak yang dinanti adalah anak yang akan menjadi umatnya Muhammad saw. Berarti, ada satu amanah yang dipikul oleh kedua
orang tua, yaitu bagaimana menjadikan atau mentarbiyah anakyang titipan Allah itumenjadi bagian dari umat Muhammad saw.
Untuk menjadi bagian dari umat Muhammad saw. harus memiliki karakteristik yang disebutkan oleh Allah swt.:
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi
berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda
mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,
yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu Kuat lalu menjadi besarlah dia dan
tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati
orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. [QS. Al-Fath, 48: 29]
Jadi karakteristik umat Muhammad saw adalah: [1] keras terhadap orang Kafir, keras dalam prinsip, [2] berkasih sayang terhadap
sesama umat Muhammad, [3] mendirikan shalat, [4] terdapat dampak positif dari aktivitas shalatnya, sehingga orang-orang yang
lurus, yang hanif menyukainya dan tentu saja orang-orang yang turut serta mentarbiyahnya.
Untuk mentarbiyah anak yang akan menjadi bagian dari Umat Muhammad saw. bisa kita mengambil dari caranya Nabi Ibrahim,
yang Allah ceritakan dari isi doanya Nabi Ibrahim dalam surat Ibrahim berikut ini:
Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman
di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka
jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka
bersyukur.
Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada
sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.
Segala puji bagi Allah yang Telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-
benar Maha mendengar (memperkenankan) doa.
Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari
kiamat). [Ibrahim: 37-41]
Dari doanya itu kita bisa melihat bagaimana cara Nabi Ibrahim mendidik anak, keluarga dan keturunannya yang hasilnya sudah bisa
kita ketahui, kedua anaknyaIsmail dan Ishaqmenjadi manusia pilihan Allah:
Cara pertama mentarbiyah anak adalah mencari, membentuk biah yang shalihah. Representasi biah, lingkungan yang shalihah bagi
Nabi Ibrahim Baitullah [rumah Allah], dan kalau kita adalah masjid [rumah Allah]. Maka, kita bertempat tinggal dekat dengan masjid
atau anak-anak kita lebih sering ke masjid, mereka mencintai masjid. Bukankah salah satu golongan yang mendapat naungan Allah
di saat tidak ada lagi naungan adalah pemuda yang hatinya cenderung kepada masjid.
Kendala yang mungkin kita akan temukan adalah teladanpadahal belajar yang paling mudah itu adalah menirudari ayah yang
berangkat kerjanya bada subuh yang mungkin tidak sempat ke masjid dan pulangnya sampai rumah bada Isya, praktis anak tidak
melihat contoh shalat di masjid dari orang tuanya. Selain itu, kendala yang sering kita hadapi adalah mencari masjid yang ramah
anak, para pengurus masjid dan jamaahnya terlihat kurang suka melihat anak dan khawatir terganggu kekhusuannya, dan ini
dipengaruhi oleh pengalamannya selama ini bahwa anak-anak sulit untuk tertib di masjid.
Cara kedua adalah mentarbiyah anak agar mendirikan shalat. Mendirikan shalat ini merupakan karakter umat Muhammad saw
sebagaimana yang uraian di atas. Nabi Ibrahim bahkan lebih khusus di ayat yang ke-40 dari surat Ibrahim berdoa agar anak
keturunannya tetap mendirikan shalat. Shalat merupakan salah satu pembeda antara umat Muhammad saw dengan selainnya.
Shalat merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat Rasulullah saw memberikan arahan tentang keharusan pembelajaran
shalat kepada anak: suruhlah anak shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah bila tidak shalat pada usia 10 tahun. Rasulullah saw
membolehkan memukul anak di usia 10 tahun kalau dia tidak melakukan shalat dari pertama kali disuruh di usia 7 tahun. Ini artinya
ada masa 3 tahun, orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk shalat. Dan waktu yang cukup untuk melakukan pendidikan
shalat.
Proses tarbiyah anak dalam melakukan shalat, sering mengalami gangguan dari berbagai kalangan dan lingkungan. Dari
pendisiplinan formal di sekolah dan di rumah, kadang membuat kegiatan [baca: pendidikan] shalat menjadi kurang mulus dan
bahkan fatal, terutama cara membangun citra shalat dalam pandangan anak. Baru-baru ini, ada seorang suami yang diadukan oleh
istrinya tidak pernah shalat kepada ustadzahnya, ketika ditanya penyebabnya, ternyata dia trauma dengan perintah shalat. Setiap
mendengar perintah shalat maka terbayang mesti tidur di luar rumah, karena ketika kecil bila tidak shalat harus keluar rumah.
Sehingga kesan yang terbentuk di kepala anak kegiatan shalat itu tidak enak, tidak menyenangkan, dan bahkan menyebalkan.
Kalau hal ini terbentuk bertahun-tahun tanpa ada koreksi, maka sudah bisa dibayangkan hasilnya, terbentuknya seorang anak
[muslim] yang tidak shalat.
Cara keempat adalah mentarbiyah anak agar disenangi banyak orang. Orang senang bergaul dengan anak kita, seperti yang
diperintahkan oleh Rasulullah saw: Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik. [HR. Bukhari]. Anak kita diberikan
cerita tentang Rasulullah saw, supaya muncul kebanggaan dan kekaguman kepada nabinya, yang pada gilirannya menjadi
Rasulullah menjadi teladannya. Kalau anak kita dapat meneladani Rasulullah saw berarti mereka sudah memiliki akhlaq yang baik
karenasebagaimana kita ketahuiRasulullah memiliki akhlaq yang baik seperti pujian Allah di dalam al-Quran: Sesungguhnya
engkau [Muhammad] berakhlaq yang agung. [Al-Qalam, 68: 4]
Cara ketiga adalah mentarbiyah anak agar dapat menjemput rezki yang Allah telah siapkan bagi setiap orang. Anak ditarbiyah untuk
memiliki life skill [keterampilan hidup] dan skill to life [keterampilan untuk hidup]. Rezki yang telah Allah siapkan Setelah itu anak
diajarkan untuk bersyukur.
Cara keempat adalah mentarbiyah anak dengan mempertebal terus keimanan, sampai harus merasakan kebersamaan dan
pengawasan Allah kepada mereka.
Cara kelima adalah mentarbiyah anak agar tetap memperhatikan orang-orang yang berjasasekalipun sekadar doadan peduli
terhadap orang-orang yang beriman yang ada di sekitarnya baik yang ada sekarang maupun yang telah mendahuluinya.

Tingkatkan Taat di 10 Awal Dzulhijjah


Tak terasa, kita sekarang sudah memasuki bulan mulia, bulan di dalamnya ada lebaran haji dan kurban, yaitu bulan Dzulhijjah.
Dan sepuluh hari di awal bulan ini adalah merupakan jenak-jenak waktu yang sangat berharga bagi siapa saja yang menghendaki
rahmat Allah swt., karena hari-hari ini lebih afdhol dibandingkan hari-hari setahun lainnya secara mutlak.
Allah swt. dalam Al Quran telah bersumpah dengan malam-malam sepuluh hari awal bulan ini, hal ini membuktikan bahwa waktu
ini sangatlah istimewa, memiliki keutamaan yang besar di sisi Allah swt, adalah hari-hari untuk meningkatkan amal shaleh, dan
karena itu mendapatkan apresiasi yang besar dan balasan yanng melimpah dari sisi Allah swt. Allah berfirman:
Demi fajar. Dan malam yang sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil. Al Fajr:1-3.
Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. : Puasa hari Asyura, Puasa 1-8 zulhijjah, 3 hari tiap bulan dan dua
rakaat sebelum fajar. Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasai.
Dari Ibni Abbas ra bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada amal yang lebih dicintai Allah dari hari ini, (yaitu 10 hari bulan
Zulhijjah). Mereka bertanya, Ya Rasulullah saw., dibandingkan dengan jihad fi sabilillah? . Meskipun dibandingkan dengan jihad
fi sabililllah.Riwayat Jamaah kecuali Muslim dan Nasai.
Pada hari-hari ini ada momentum yang sangat berharga, yaitu hari Arafah, siapa yang melaksanakan shaum sunnah pada waktu
tersebut, maka dosanya akan diampuni satu tahun yang telah lewat dan satu tahun yang akan datang.


Rasulullah saw. ditanya tentang shaum hari Arafah, beliau menjawab: Shaum Arafah menghapus dosa satu tahun yang telah
lewat dan satu tahun yang akan datang. Imam Muslim dalam sahihnya.
Hari-hari ini merupakan puncak prosesi ibadah haji, waktu-waktu mahal bagi seseorang yang melaksanakan ibadah ke tanah suci.
Rasulullah saw. bersabda:



Haji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga. Dan dua umrah atau antara umrah satu dengan umrah berikutnya, menghapus
kesalahan antara keduanya. Imam Ahmad dalam musnadnya.
Di antara hari-hari inilah ada yang disebut dengan Al Hajjul Akbar, yaitu hari penyembelihan, penyembelihan hewan kurban yang
hukumnya sunnah muakkadah, sunnah yanng sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw. dilaksanakan setelah shalat Idul Adha
pada tanggal 10 Dzulhijjah dan dilanjutkan pada hari ketiga berikutnya, 11,12, dan 13 Dzulhijjah, yang dikenal dengan ayyamun
nahr -hari-hari penyembelihan-.
Barangsiapa memiliki kelapangan riski, namun tidak menyembelih hewan kurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat
kami. Imam Ahmad dan Ibnu Majah. Allahu alam