You are on page 1of 8

DIARE AKUT

Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3x dalam 24jam dengan konsistensi cair dan

berlangsung kurang dari 1 minggu.

Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari. Diare akut yaitu buang air

besar dengan frekuensi yang meningkat dan konsistensi tinja yang lembek atau cair dan

bersifat mendadak datangnya dan berlangsung dalam waktu kurang dari 1 minggu. Menurut

Depkes (2002), diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari tanpa diselang-

seling berhenti lebih dari 2 hari. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dari tubuh

penderita, tipe diare akut dapat dibedakan dalam empat kategori, yaitu:

Diare tanpa dehidrasi, apabila cairan yang hilang tidak lebih dari 2-5% berat

badan,
Diare dengan dehidrasi sedang, apabila cairan yang hilang berkisar 5-8% dari

berat badan,
Diare dengan dehidrasi berat, apabila cairan yang hilang lebih dari 8-10%.

Diagnosis
A. Anamnesis
Lama diare berlangsung, frekuensi diare sehari, warna dan konsentrasi tinja,

lendir dan / darah dalam tinja.


Muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun, buamg air kecil

terakhir, demam, sesak kejang, kembung.


Jumlah cairan yng masuk selama diare.
Jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare, mengonsumsi

makanan yang tidak biasa.


Penderita diare di sekitarnya dan sumber air minum (Simadibrata, 2006).

B. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum, kesadaran, dan tanda vital.
Tanda utama: keadaan umum gelisah/cengeng atau lemah/latergi/koma, rasa

haus, turgor kulit abdomen menurun.


Tanda tambahan: ubun-ubun besar, kelopak mata, air mata, mukosa bibir, mulut

dan lidah.
Berat badan
Tanda gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, seperti nafas cepat dan

dalam (asidosis metabolik), kembung (hipokalemi), kejang (hipo/hipernatremi)

(Juffrie, 2010).

Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara: objektif

yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum dan selama diare dan secara

subyektif dengan menggunakan kriteria WHO (Juffrie, 2010).


Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan <5% berat badan) :

o Tidak ditemukan tanda utama dan tanda tambahan


o Keadaaan umum baik
o Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, mukosa mulut dan bibir

basah
o Turgor baik
o Akral hangat
Dehidrasi ringan-sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan) :
o Terdapat 2 tanda utama ditambah 2 atau lebih tanda tambahan
o Keadaan umum gelisah atau cengeng
o Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, mukosa mulut dan

bibir kering
o Turgor berkurang
o Akral hangat
Dehidrasi berat (kehilangan cairan >10% berat badan) :
- Terdapat 2 tanda utama ditambah dengan 2 atau lebih tanda tambahan
- Keadaan umum lemah, letargi, atau koma
- Ubun-ubun sangat cekung, maata sangat cekung, mukosa mulut dan bibir

sangat kering
- Turgor berkurang
- Akral dingin
Tata Laksana

Menurut Kemenkes RI (2011), prinsip tatalaksana diare pada balita adalah LINTAS

DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung oleh Ikatan Dokter Anak

Indonesia dengan rekomendasi WHO. Rehidrasi bukan satu-satunya cara untuk

mengatasi diare tetapi memperbaiki kondisi usus serta mempercepat

penyembuhan/menghentikan diare dan mencegah anak kekurangan gizi akibat diare

juga menjadi cara untuk mengobati diare. Adapun program LINTAS DIARE yaitu:

1. Rehidrasi menggunakan Oralit osmolalitas rendah


2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
3. Teruskan pemberian ASI dan makanan
4. Antibiotik selektif
5. Nasihat kepada orang tua/pengasuh

a) Rencana Terapi A (tanpa dehidrasi)


- Cairan rehidrasi oralit dengan menggunakan NEW ORALIT diberikan 5-10

mL/kgBB setiap diare cair atau berdasarkan usia, yaitu umur < 1 tahun
sebanyak 50-100 mL, umur 1-5 tahun sebanyak 100-200 mL, dan umur di atas 5

tahun semaunya. Dapat diberikan cairan rumah tangga sesuai kemauan

anak.ASI harus terus diberikan.


- Pasien dapat dirawat di rumah, kecuali apabila terdapat komplikasi lain (tidak

mau minum, muntah terus menerus, diare frekuen dan profus)

b) Rencana Terapi B (dehidrasi ringan-sedang)


- Cairan rehidrasi oral (CRO) hipoosmolar diberikan sebanyak 75 mL/kgBB

dalam 3 jam untuk mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi dan sebanyak

5-10 mL/kgBB setiap diare cair.


- Rehidrasi parenteral (intravena) diberikan bila anak muntah setiap diberi minum

walaupun telah diberikan dengan cara sedikit demi sedikit atau melalui pipa

nasogastrik. Cairan intravena yang diberikan adalah ringer laktat atau KaEN 3B

atau NaCl dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan berat badan. Status

hidrasi dievaluasi secara berkala.


o Berat badan 3-10 kg : 200 mL/kgBB/hari
o Berat badan 10-15 kg : 175 mL/kgBB/hari
o Berat badan > 15 kg : 135 mL/kgBB/hari
- Pasien dipantau di Puskesmas/Rumah Sakit selama proses rehidrasi sambil

memberi edukasi tentang melakukan rehidrasi kepada orang tua.

Rencana Terapi C (dehidrasi berat)


- Diberikan cairan rehidrasi parenteral dengan ringer laktat atau ringer asetat

100 mL/kgBB dengan cara pemberian:


- Umur kurang dari 12 bulan: 30 mL/kgBB dalam 1 jam pertama, dilanjutkan

70 mL/kgBB dalam 5 jam berikutnya


- Umur di atas 12 bulan: 30 mL/kgBB dalam jam pertama, dilanjutkan 70

mL/kgBB dalam 2,5 jam berikutnya


- Masukan cairan peroral diberikan bila pasien sudah mau dan dapat minum,

dimulai dengan 5 mL/kgBB selama proses rehidrasi

Maintenance Cairan
Pada prinsipnya apabila keadaan dehidrasi sudah teratasi, pemberian cairan tetap

dilanjutkan sebagai lanjutan agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi. Sesuai dengan

formula Holliday-Segar, kebutuhan cairan maintenance adalah sebagai berikut.

Maintenance Cairan Formula Holliday-Segar

a) Oralit
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga

dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan

rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang. Oralit saat ini yang beredar di

pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat

mengurangi rasa mual dan muntah. Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi

penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang. Bila penderita tidak bisa minum

harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan

melalui infus. Pemberian oralit didasarkan pada derajat dehidrasi (Kemenkes RI,

2011).
Diare tanpa dehidrasi
- Umur < 1 tahun : - gelas setiap kali anak mencret
- Umur 1 4 tahun : - 1 gelas setiap kali anak mencret
- Umur diatas 5 Tahun : 1 1 gelas setiap kali anak mencret
Diare dengan dehidrasi ringan sedang
Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya

diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.

Diare dengan dehidrasi berat


Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk

di infus (Kemenkes RI, 2011).


Kebutuhan Oralit per Kelompok Umur

Untuk anak dibawah umur 2 tahun cairan harus diberikan dengan sendok dengan

cara 1 sendok setiap 1 sampai 2 menit. Pemberian dengan botol tidak boleh

dilakukan. Anak yang lebih besar dapat minum langsung dari gelas. Bila terjadi

muntah hentikan dulu selama 10 menit kemudian mulai lagi perlahan-lahan misalnya

1 sendok setiap 2-3 menit. Pemberian cairan ini dilanjutkan sampai dengan diare

berhenti (Juffrie, 2010).

b) Zinc
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat

menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim

ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga

berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan

fungsi selama kejadian diare (Kemenkes RI, 2011).

Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat

keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja,

serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Berdasarkan

bukti ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak mengalami diare.

Dosis pemberian Zinc pada balita antara lain:


- Umur < 6 bulan : tablet (10 mg) per hari selama 10 hari
- Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari selama 10 hari.
Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti. Cara pemberian

tablet zinc : Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, sesudah

larut berikan pada anak diare (Kemenkes RI, 2011).

c) Pemberian ASI/makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita

terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat

badan. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering di beri ASI. Anak yang

minum susu formula juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan

atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan

makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih sedikit dan lebih sering.

Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk

membantu pemulihan berat badan (Kemenkes RI, 2011).

d) Pemberian antibiotika hanya atas indikasi


Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare pada

balita yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita

diare dengan darah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera (Kemenkes RI,

2011).
Pilihan antibiotik berdasarkan penyebab.
e. Edukasi

Orangtua diminta untuk membawa kembali anaknya ke pusat pelayanan kesehatan


bila ditemukan hal sebagai berikut : demam, tinja berdarah, makan/minum sedikit, sangat
haus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari. Orang tua dan pengasuh
diajarkan cara menyiapkan oralit secara benar.

Langkah promotif/preventif : 1. ASI tetap diberikan

2. kebersihan perorangan, cuci tangan sebelum makan.

3. kebersihan lingkungan, BAB di jamban

4. imunisasi campak

5. memberikan makanan penyapihan yang benar

6. penyedian air minum bersih

7. selalu memasak makanan