You are on page 1of 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semua individu mempunyai kebutuhan dasar untuk menjalin hubungan dengan


orang lain dalam menjalani hidupnya. Komunikasi merupakan upaya individu
dalam menjaga dan mempertahankan individu untuk tetap berinteraksi dengan
orang lain. Komunikasi seseorang adalah suatu proses yang melibatkan perilaku
dan interaksi antar indifidu dalam berhubungan dengan yang lain.

Komunikasi merupakan komponen penting dalam praktik keperawatan.


Mendengarkan perasaan klien dan menjelaskan prosedur tindakan keperawatan
adalah contoh tehnik-tehnik komunikasi yang dilakukan oleh perawat selama
praktik.

Komunikasi merupakan proses yang dilakukan perawat dalam menjaga kerjasama


yang baik dengan klien dalam membantu memenuhi kebutuhan kesehatan klien,
maupun dengan tenaga kesehatan lain dalam rangka membantu mengatasi
masalah klien.

Kelemahan dalam berkomunikasi merupakan masalah yang serius baik bagi


perawat maupun klien. Perawat yang enggan berkomunikasi dengan menunjukan
raut wajah yang tegang akan berdampak serius bagi klien. Klien akan merasa
tidak nyaman bahkan terancam dengan sikap perawat atau tenaga kesehatan
lainnya. Kondisi ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap proses
penyembuhan klien.

Komunikasi yang efektif merupakan sukses perawat dalam membantu mengatasi


masalah klien. Perawat tidak dapat lepas dari proses komunikasi karena dalam
menjalankan perannya perawat perlu berkolaborasi dengan tim kesehatan yang
lain.

1
B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, masalah yang dapat kami kaji dalam makalah ini
diantaranya:

1. Bagaimana mengaplikasikan konsep komunikasi umum dalam dunia


keperawatan?
2. Bagaimana cara mengaplikasikan konsep komunikasi terapeutik dalam
dunia keperawatan?

C. Tujuan Penulisan

Dalam pembuatan tugas ini, ada tujuan yang hendak dicapai penulis yaitu:

1. Mengetahui pengaplikasian konsep komunikasi umum dalam


keperawatan.
2. Mengetahui cara mengaplikasikan konsep komunikasi terapeutik dalam
keperawatan.

BAB II

2
PEMBAHASAN

A. KOMUNIKASI UMUM

Komunikasi umum adalah penyampaian informasi dari satu orang kepada


orang lain baik verbal maupun nonverbal. Komunikasi umum biasanya dilakukan
secara umum dengan topik yang umum, artinya komunikasi umum dapat
dilakukan oleh siapa saja tanpa kecuali. Dan komunikasi umum juga bertujuan
untuk sosialisasi, bertukar pikiran atau informasi, menyampaikan informasi dan
atau pesan. Informasi yang disampaikan dapat berupa simbol-simbol atau kalimat,
bisa secara lisan atau pun tulisan dan bisa secara langsung atau tidak langsung.
Komunikasi umum dapat disampaikan dalam bentuk verbal maupun nonverbal.

Teori-teori komunikasi:

a. Proses pertukaran informasi atau proses yg menimbulkan dan meneruskan


makna atau arti(Taylor C,Lilis C,LC.Mone,93)
b. Proses penyampaian informasi, makna, arti/pemahaman dr pengirim pesan
kpd penerima pesan ( Burgess, 93)
c. Kegiatan mengajukan pengertian yg diinginkan dr pengirim informasi kpd
penerima informasi & menimbulkan tingkah laku yg diinginkan, dr
penerima pesan (Yuwono, 1985)
d. Proses pengoperan lambang-lambang yg mengandung arti ( Dr.Phil Astrid
Susanto)
e. Suatu proses dua arah yang meliputi pengiriman dan penerimaan pesan
(Kozier, 2000)
f. Berbagi pengalaman dan berbagi perasaan dan emosi (Sherman, 1994)

Tujuan komunikasi umum

Supaya pesan yang disampaikan dapat dimengerti orang lain


Memahami orang lain
Supaya gagasan / ide dapat dimengerti dan diterima orang lain
Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu.

Manfaat Komunikasi

3
a. Informasi,
pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, penyebaran berita, gambar,
fakta, pesan, opini agar dapat dimengerti orang lain & dapat bereaksi
secara jelas.
b. Sosialisasi
Dengan komunikasi, sesuatu yang ingin disampaikan dapat disebarkan ke
masyarakat luas.
c. Motivasi
Proses komunikasi yg dilakukan secara persuasive & argumentative dapat
berfungsi sebagai penggerak semangat, pendorong bago seseorang untuk
melakukan sesuatu yang diinginkan komunikator
d. Perdebatan & diskusi
e. Pendidikan
Proses pengalihan IPTEK untuk perkembangan intelektual, watak &
ketrampilan dapat dilakukan melalui komunikasi yang baik & efektif.
f. Memajukan kehidupan
Komunikasi melalui leaflet, booklet,dll tentang cara hidup sehat, budaya
dll.
g. Hiburan
Dunia entertainment telah banyak muncul dari produk komunikasi. Misal :
lawak, menyanyi, drama, sastra,seni dll
h. Integrasi
Dengan berkomunikasi dapat mempengaruhi seseorang dalam bersikap,
berperilaku & berpola pikir serta sebagai sarana untuk menghargai &
memahami pandangan orang lain.
Komponen Komunikasi
Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa
berlangsung dengan baik.Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi
adalah:
1. Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan
kepada pihak lain.
2. Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak
kepada pihak lain.

4
3. Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan.
dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang
mengalirkan getaran nada/suara.
4. Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari
pihak lain.
5. Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan.

Hambatan komunikasi
Gangguan atau hambatan itu secara umum dapat dikelompokkan menjadi
hambatan internal dan hambatan eksternal , yaitu:

a. Hambatan internal, adalah hambatan yang berasal dari dalam diri individu
yang terkait kondisi fisik dan psikologis. Contohnya, jika seorang
mengalami gangguan pendengaran maka ia akan mengalami hambatan
komunikasi. Demikian pula seseorang yang sedang tertekan (depresi) tidak
akan dapat melakukan komunikasi dengan baik.

b. Hambatan eksternal, adalah hambatan yang berasal dari luar individu yang
terkait dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya. Contohnya,
suara gaduh dari lingkungan sekitar dapat menyebabkan komunikasi tidak
berjalan lancar. Contoh lainnya, perbedaan latar belakang sosial budaya
dapat menyebabkan salah pengertian.

Menurut Prof. Onong Uchjana Effendy, MA dalam bukunya Ilmu, Teori, dan
Filasafat Komunikasi. Ada 4 jenis hambatan komunikasi, yaitu:

a. Gangguan

Ada 2 jenis gangguan terhadap jalannya komunikasi yang menurut sifatnya dapat
diklasifikasikan sebagai gangguan mekanik dan semantic.
- Gangguan mekanik : Gangguan yang disebabkan oleh saluran komunikasi atau
kegaduhan yang bersifat fisik.

5
- Gangguan semantic : Gangguan jenis ini bersangkutan dengan pesan komunikasi
yang pengertiannya menjadi rusak. Gangguan semantic tersaring ke dalam pesan
melalui penggunaan bahasa. Lebih banyak kekacauan mengenai pengertian suatu
istilah atau konsep yang terdapat pada komunikator, akan lebih banyak gangguan
semantic dalam pesannya. Gangguan ini terjadi dalam salah pengertian.

b. Kepentingan

Kepentingan akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau


menghayati suatu pesan.

c. Motivasi terpendam

Motivasi akan mendorong seseorang berbuat sesuatu yang sesuai benar dengan
keinginan, kebutuhan, dan kekurangannya. Semakin sesuai komunikasi dengan
motivasi seseorang semakin besar kemungkinan komunikasi itu dapat diterima
dengan baik oleh pihak yang bersangkutan. Sebaliknya, komunikan akan
mengabaikan suatu komunikasi yang tak sesuai dengan motivasinya.

d. Prasangka

Prasangka merupakan salah satu rintangan atau hambatan berat bagi suatu
kegiatan komunikasi oleh karena orang yang mempunyai prasangka belum apa-
apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang hendak melancarkan
komunikasi.

CONTOH KASUS DAN PENERAPAN KOMUNIKASI UMUM KETIKA


MELAKUKAN PENYULUHAN TENTANG KEPERAWATAN DI
MASYARAKAT:

A. PENGANTAR

Materi : Penyakit Diabetes Melitus


Pokok Bahasan : Perawatan dan Pencegahan Diabetes Melitus

6
Hari/tanggal : Jumat, 19 Mei 2006

Waktu pertemuan : 35 menit


Tempat : RS. Kardinah / R. Lavender
Sasaran : Pasien dan Keluarga pasien

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti pendidikan kesehatan keluarga Ny. Tt dapat melakukan
perawatan pada penyakit DM
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan selama 1x45 menit, Tn St dan
keluarga dapat menjelaskan kembali tentang :
a. Pengertian DM
b. Penyebab DM
c. Klasifikasi DM
d. Tanda dan gejala DM
e. Pengelolaan DM
f. Pemeriksaan penunjang
g. Makanan yang di pantang dan juga yang diperbolehkan.

C. MATERI

DIABETES MELITUS

A. PENGERTIAN
Diabetes Melitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa di
dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat menghasilkan atau
menggunakan insulin secara efektif.
Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pancreas, yang
bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang normal.
Insulin memasukkan gula kedalam sel sehingga bias menghasilkan energy
atau disimpan sebagai cadangan energi.

B. PENYEBAB

7
1. Keturunan
2. Usia
3. Kegemukan
4. Kurang gerak
5. Kehilangan insulin
6. Alkoholisme
7. Obat-obatan

C. TANDA DAN GEJALA


1. Sering merasa haus
2. Sering kencing terutama malam hari
3. Pandangan menjadi kabur
4. Sering merasa lelah tanpa sebab yang jelas dan mengantuk
5. Penurunan berat badan
6. Kulit terasa kering
7. Sering menderita sariawan atau infeksi (misalnya bisul) yang sulit
sembuh
8. Mati rasa atau kesemutan di kaki dan tangan
9. Mual dan muntah

D. PENGELOLAAN DM
Perawatan DM dirumah saat ini sangat dianjurkan karena
pengobatan dan perawatan DM membutuhkan waktu yang lama.
Cara Perawatan Pasien DM di Rumah adalah dengan jalan :
1. Minum obat secara teratur sesuai program
2. Diet yang tepat
3. Olahraga yang teratur
4. Kontrol GD teratur
5. Pencegahan komplikasi

E. MAKANAN YANG DIPANTANG DAN DIPERBOLEHKAN


Proporsi diet/ makanan harian yang benar bagi penderita DM :
Berdasarkan anjuran dari PERKENI ( perkumpulan Endokrinologi
Indonesia ) diet harian penderita DM disusun sebagai berikut:
a. Karbohidrat : 60-70 %

b. Protein : 10-15%

8
c. Lemak : 20-25%

Jenis Makanan yang Harus diKonsumsi yang dikonsumsi oleh penderita


DM diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Jenis Makanan yang TIDAK BOLEH dikonsumsi :
1. Manisan Buah

2. Gula pasir

3. Susu Kental Manis

4. Madu

5. Abon

6. Kecap

7. Sirup

8. Es Krim

b. Jenis makanan Yang BOLEH DIMAKAN TETAPI HARUS


DIBATASI ;
1. Nasi

2. Singkong

3. Roti

4. Telur

5. Tempe

6. Tahu

7. Kacang Hijau

9
8. Kacang Tanah

9. Ikan

c. Jenis Makanan YANG DIANJURKAN UNTUK DIMAKAN :


1. Kol
2. Tomat
3. Kangkung
4. Oyong
5. Bayam
6. Kacang Panjang
7. Pepaya
8. Jeruk
9. Pisang
10. Labu Siam

F. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi bila penderita DM tidak dirawat dengan
baik sehingga gula darah selalu tinggi adalah :
1. Ginjal : Gagal Ginjal, Infeksi
2. Jantung : Hipertensi, Gagal Jantung
3. Mata : Glaukoma, Katarak, Retinopati
4. Syaraf : Neuropati, mati rasa
5. Kulit : Luka lama, gangren
6. Hipoglikemi
7. Ketoasidosis

Untuk mencegah komplikasi sebaiknya yang dilakukan adalah :


1. Diet dengan benar
2. Minum obat teratur
3. Kontrol gula darah teratur
4. Olahraga ( jalan kaki, senam, sepeda santai, dsb)
5. Bila saat aktifitas kemudian PUSING,KERINGAT DINGIN maka
cepat MINUM TEH MANIS
6. Mencegah kulit terluka : pakai alas kaki, lingkungan rumah tidak licin,
tangga ( undak-undakan tidak tinggi)

10
7. Cegah Kegemukan

Cara mencegah atau menghindari agar tidak terjadi luka pada kaki pada
penderita DM :
1. Hindari terlalu sering merendam kaki

2. Hindari penggunaan botol panas/penghangat kaki dari listrik

3. Hindari penggunaan pisau/silet untuk memotong kuku atau


menghilangkan kalus

4. hindari kaos kaki / sepatu yang terlalu sempit

5. Hindari Rokok

Mengapa pengidap DM beresiko terhadap Ulkus Diabetik


1. Sirkulasi darah kaki kurang baik

2. Indera rasa kedua kaki berkurang sehingga kaki mudah terluka

3. Daya Tahan tubuh terhadap infeksi menurun

Tindakan yang bisa dilakukan bila kaki terluka:


1. Bila luka kecil : bersihkan dengan antiseptik, tutup luka dengan kasa
steril dan bila dalam waktu dua hari tidak sembuh segera periksa ke
dokter

2. Bila luka cukup besar / kaki mengalami kelainan segera pergi ke


dokter.

Perawatan kaki Diabetik :


1. Saat mandi bersihkan dengan sabun, bila perlu gunakan batu apung /
sikat halus

11
2. Keringkan dengan handuk terutama sela-sela jari

3. Periksa kaki kemungkinan adanya perubahan warna


( pucat,kemerahan ),bentuk (pecah-pecah,lepuh,kalus,luka),Suhu
(dingin,lebih panas)

4. Bila kaki kering,olesi dengan lotion

5. Potong kuku / kikir tiap 2 hari,jangan terlalu pendek. Bila kuku terlalu
keras kaki direndam dahulu dalam air hangat ( 37,5C ) selama 5
menit.

6. Gunakan kaos kaki yang terbuat dari katun / wol

7. Pakailah alas kaki, periksa alas kaki sebelum dipakai, mungkin ada
sesuatu didalamnya. Lepas alas kaki setiap 4-6 jam dan gerakkan
pergelangan kaki dan jari-jari kaki agar sirkulasi darah lancar

8. Lakukan senam kaki

9. Jangan biarkan luka sekcil apapun

Cara Memilih Sepatu yang baik bagi penderita DM :


1. Ukuran : Jangan terlalu sempit/ longgar kurang lebih inchi lebih
panjang dari kaki

2. Bentuk : Ujung sepatu jangan runcing,tinggi tumit < 2 inchi

3. Bahan sepatu terbuat dari bahan yang lembut

4. Insole terbuat dari bahan yang tidak licin

D. MEDIA
Materi SAP

12
Leafleat
LCD

E. METODE
Ceramah
Tanya jawab
Diskusi

F. KEGIATAN PENYULUHAN

No Kegiatan Penyuluh Respon Peserta Waktu

1 Pembukaan 5 menit
Memberi salam Menjawab salam
Memberi pertanyaan apersepsi Memberi salam
Menjelaskan tujuan penyuluhan
Menyebutkan materi/pokok Menyimak
bahasan yang akan disampaikan
2 Pelaksanaan 20 menit
Menjelaskan materi penyuluhan secara Menyimak dan
berurutan dan teratur. Memperhatikan
Materi :
Pengertian DM
Penyebab DM
Klasifikasi DM
Tanda dan gejala DM
Pengelolaan DM
3 Evaluasi 5 menit
Menyimpulkan inti penyuluhan
Menyampaikan secara singkat Memperhatikan
materi penyuluhan menjawab
Memberi kesempatan kepada ibu-
ibu untuk bertanya
Memberi kesempatan kepada ibu-
ibu untuk menjawab pertanyaan

13
yang dilontarkan

4 Penutup :
Menyimpulkan materi penyuluhan Menyimak dan 5 menit
yang telah disampaikan Mendengarkan
Menyampaikan terima kasih atas Menjawab
perhatian dan waktu yang telah di
berikan kepada peserta
Mengucapkan salam
Menjawab salam

B. KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan atau dirancang


untuk tujuan terapi. Seorang penolong atau perawat dapat membantu klien
mengatasi masalah yang dihadapinya melalui komunikasi, (Suryani 2005).
Menurut Purwanto yang dikutip oleh (Mundakir 2006), komunikasi terapeutik
adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya
dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik
merupakan komunikasi professional yang mengarah pada tujuan yaitu
penyembuhan pasien, (Siti Fatmawati 2010).

14
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar,
bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien, Indrawati, dalam
Siti Fatmawati, (2010).
Menurut (Stuart 1998) komunikasi terapeutik adalah merupakan hubungan
interpersonal antara perawat dan klien, dalam hal ini perawat dan klien
memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman
emosional klien. Menurut (Potter-Perry 2000), proses dimana perawat
menggunakan pendekatan terencana dalam mempelajari klien.
Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa komunikasi terapeutik
adalah komunikasi yang dilakukan seorang perawat dengan teknik-teknik tertentu
yang mempunyai efek penyembuhan. Komunikasi terapeutik merupakan salah
satu cara untuk membina hubungan saling percaya terhadap pasien dan pemberian
informasi yang akurat kepada pasien, sehingga diharapkan dapat berdampak pada
perubahan yang lebih baik pada pasien dalam menjalanakan terapi dan membantu
pasien dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan.

2. Tujuan dan Manfaat Komunikasi Terapeutik


Tujuan komunikasi terapeutik (Purwanto, 1994) adalah:
1. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan
dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada
bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang
efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
3. Memengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan dirinya sendiri.

Komunikasi terapeutik bertujuan untuk mengembangkan pribadi klien kearah


yang lebih positif atau adaptif dan diarahkan pada pertumbuhan klien yang
meliputi:

15
Pertama, realisasi diri, penerimaan diri, dan peningkatan penghormatan
diri. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan dalam diri klien.
Klien yang tadinya tidak biasa menerima apa adanya atau merasa rendah diri,
setelah berkomunikasi terapeutik dengan perawat akan mampu menerima dirinya.
Kedua, kemampuan membina hubungan interpersonal dan saling
bergantung dengan orang lain. Melalui komunikasi terapeutik, klien belajar
bagaimana menerima dan diterima orang lain. Dengan komunikasi yang terbuka,
jujur dan menerima klien apa adanya, perawat akan dapat meningkatkan
kemampuan klien dalam membina hubungan saling percaya .
Ketiga, peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan
serta mencapai tujuan yang realistis. Terkadang klien menetapkan ideal diri atau
tujuan yang terlalu tinggi tanpa mengukur kemampuannya.
Keempat, rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.
Identitas personal disini termasuk status, peran, dan jenis kelamin. Klien yang
mengalami gangguan identitas personal biasanya tidak mempunyai rasa percaya
diri dan mengalami harga diri rendah. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan
perawat dapat membantu klien meningkatkan integritas dirinya dan identitas diri
yang jelas. Dalam hal ini perawat berusaha menggali semua aspek kehidupan
klien di masa sekarang dan masa lalu. Kemudian perawat membantu
meningkatkan integritas diri klien melalui komunikasinya dengan klien, (Suryani
2005).
Manfaat komuniaksi terapeutik (Christina, dkk, 2003) adalah:
1. Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dengan pasien
melalui hubungan perawat klien.
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan perasaan, dan mengkaji masalah dan
mengevaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat.

3. Perbedaan Komunikasi Umum dan Komunikasi Terapeutik

Komunikasi terapeutik biasanya dilakukan oleh perawat namun tidak menutup


kemungkinan juga dilakukan oleh tenaga kesehatan lain. Komunikasi terapeutik

16
memang lebih banyak dilakukan oleh perawat karena perawatlah yang lebih
sering bertemu dan lebih dekat dengan pasien. Berbeda dengan komunikasi
umum, komunikasi umum dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak hanya oleh
tenaga kesehatan namun juga dapat dilakukan oleh semua orang dari bayi sampai
lansia. Hal ini terjadi karena komunikasi umum bertujuan untuk memberikan
informasi atau bertukar informasi, sedangkan komunikasi terapeutik semata-mata
bertujuan untuk kesembuhan pasien.

Komunikasi umum adalah penyampaian informasi dari satu orang kepada


orang lain baik verbal maupun nonverbal. Komunikasi umum biasanya dilakukan
secara umum dengan topik yang umum, artinya komunikasi umum dapat
dilakukan oleh siapa saja tanpa kecuali. Dan komunikasi umum juga bertujuan
untuk sosialisasi, bertukar pikiran atau informasi, menyampaikan informasi dan
atau pesan. Informasi yang disampaikan dapat berupa simbol-simbol atau kalimat,
bisa secara lisan atau pun tulisan dan bisa secara langsung atau tidak langsung.
Komunikasi umum dapat disampaikan dalam bentuk verbal maupun nonverbal.
Komunikasi terapeutik adalah bentuk keterampilan menyampaikan informasi
dan wawancara yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam rangka mengajak
pasien dan keluarga bertukar pikiran, melakukan tindakan investasi keperawatan,
dan bertujuan semata-mata untuk penyembuhan pasien. Komunikasin terapeutik
dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan dan lebih sering dilakukan oleh perawat
dan pasien, komunikasi ini jika dilihat dari tujuannya, tidak dapat dilakukan oleh
sembarang orang, karena tujuannya kususnya adalah untuk kesembuhan pasien.
Tujuan komunikasi terapeutik secara umum bertujuan untuk memperjelas dan
mengurangi keresahan pikiran dan perasaan pasien, mengurangi keraguan dan
membantu pasien menentukan pilihan, mempererat hubungan pasien dengan
tenaga kesehatan. fungsi dari komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan
menganjurkan kerjasama antar perawat dan pasien, membina hubungan
interpersonal pasien, meningkatkan kesejahteraan pasien dengan memenuhi
kebutuhan pasien.

17
Dapat disimpulkan bahwa komunikasi umum dan komunikasi terapeutik
sangat berbeda. Perbedaannya terletak pada tujuan, pelaku, dan topik dalam
komunikasi. Pada kumunikasi umum tujuan komunikasinya untuk sosialisasi,
dengan topik yang masih umum dan dengan pelaku yang umum dari bayi sampai
lansia. Komunikasi terapeutik, bertujuan untuk kesembuhan pasien, dengan topik
yang khusus sesuai dengan keadaan pasien, dan dengan pelaku yang khusus pula,
yaitu perawat, tenaga kesehatan lainnya dan pasien.
Perbedaan komunikasi terapeutik dengan komunikasi sosial (Purwanta, 1994)
adalah:
Komunikasi Terapeutik:
1. Terjadi antara perawat dengan pasien atau anggota tim kesehatan
lainnya.
2. Komunikasi ini umumnya lebih akrab karena mempunyai tujuan,
berfokus kepada pasien yang membutuhkan bantuan.
3. Perawat secara aktif mendengarkan dan memberi respon kepada pasien
dengan cara menunjukkan sikap mau menerima dan mau memahami sehingga
dapat mendorong pasien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya. Selain
itu membantu pasien untuk melihat dan memperhatikan apa yang tidak
disadari sebelumnya.

Komunikasi Umum:
1. Terjadi setiap hari antar-orang per orang baik dalam pergaulan maupun
lingkungan kerja.
2. Komunikasi bersifat dangkal karena tidak mempunyai tujuan.
3. Lebih banyak terjadi dalam pekerjaan, aktivitas social, dan lain-lain.
4. Pembicara tidak mempunyai fokus tertentu tetapi lebih mengarah
kebersamaan dan rasa senang.
5. Dapat direncanakan tetapi dapat juga tidak diencanakan.

18
Prinsip-prinsip Komunikasi Terapeutik
Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl
Rogers (dalam Purwanto, 1994) adalah:
1. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati, saling percaya
memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut.
2. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan
saling menghargai.
3. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien biak fisik maupun
mental.
4. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas
berkembang tanpa rasa takut.
5. Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki
motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap, tingkah lakunya sehingga tumbuh
makin matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
6. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk
mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keberhasilan maupun
frustasi.
7. Mampu menetukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan
konsistensinya.
8. Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya
simpati bukan tindakan yang terapeutik.
9. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik.
10. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan
orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahankan suatu
keadaan sehat fisik mental,spiritual, dan gaya hidup.
11. Disarankan untuk mengekpresikan perasaan bila dianggap menggagu.
12. Altuisme unutk mendapatakan kepuasan dengan menolong orang lain secara
manusiawi.
13. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil
keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia.

19
14. Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri
atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.

Sikap Komunikasi Terapeutik


Egan (dalam Keliat, 1992), mengidentifikasi lima sikap atau cara untuk
menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik,
yaitu:
a. Berhadapan;
Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda.
b. Mempertahankan kontak mata;
Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan
keinginan untuk tetap berkomunikasi.
c. Membungkuk kearah klien;
Posisi ini menunjukkan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu.
d. Memperlihatkan sikap terbuka;
Tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi
dan siap membantu.
e. Tetap rileks;
Tetap dapat mengendalikan kesimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam
memberikan respons kepada pasien, meskipun dalam situasi yang kurang
menyenangkan.

Teknik-teknik Komunikasi Terapeutik


Beberapa teknik komunikasi terapeutik menurut Wilson dan Kneist (1992)
serta Stuartdan Sundeen (1998) antara lain:
1. Mendengarkan dengan penuh perhatian.
Mendengar ada dua macam:
a. Mendengar pasif.
b. Mendengar aktif.
2. Menunjukkan Penerimaan.

20
3. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan.
4. Pertanyaan terbuka (Open-Ended Question).
5. Mengulang ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri.
6. Mengklarifikasi.
7. Memfokuskan.
8. Menyatakan hasil observasi.
9. Menawarkan informasi.
10. Diam (Memelihara Ketenangan).
11. Meringakas.
12. Memberikan penghargaan.
13. Menawarkan diri.
14. Memberikan kesempatan pada klien untuk memulai pembicaraan.
15. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan.
16. Menempatkan kejadian secara berurutan.
17. Memberikan kesempatan kepada klien untuk menguraikan persepsinya.
18. Refleksi.
19. Assertive.
20. Humor.

Hambatan Dalam Proses Komunikasi Terapeutik.


2.1 Resistens
Resistens merupakan upaya klien untuk tidak menyadari aspek dari
penyebab cemas atau kegelisahan yang dialami. Ini juga merupakan keengganan
alamiah atau penghindaran secara verbal yang dipelajari. Klien yang resisten
biasanya menunjukkan ambivalensi antara menghargai tetapi juga menghindari
pengalaman yang menimbulkan cemas padahal hal ini merupakan bagian normal
dalam proses terapeutik. Resisten ini sering akibat dari ketidaksesuaian klien
untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan. Perilaku resisten
biasanya diperlihatkan oleh klien pada fase kerja, karena pada fase ini sangat
banyak berisi proses penyelesaiaan masalah (Stuart danSundeen dalam Intan.
2005).

21
Beberapa bentuk resistensi (Stuart dan Sundeen , 1995)
a. Supresi dan represi informasi yang terkait
b. Intensifikasi gejala
c. Devaluasi diri serta pandangan dan keputusasaan tentang masa depan
d. Dorongan untuk sehat, yang terjadi secara tiba-tiba tetapi hanya kesembuhan
yang bersifat sementara
e. Hambatan intelektual yang mungkin tampak ketika klien mengatakan ia tidak
mempunyai pikiran apapun atau tidak mampu memikirkan masalahnya, saat ia
tidak memenuhi janji untuk pertemuan atau tiba terlambat untuk suatu sesi, lupa,
diam, atau mengantuk
f. Pembicaraan yang bersifat permukaan/ dangkal
g. Penghayatan intelektual dimana klien memverbalisasi pemahaman dirinya
dengan menggunakan istilah yang tepat namun tetap berprilaku maladaptive, atau
menggunakan mekanisme pertahanan intelektualisasi tanpa diikuti penghayatan
h. Muak terhadap normalitas yang terlihat ketika klien telah mempunyai
penghayatan tetap menolak memikul tanggung jawab untuk berubahdengan alas
an bahwa normalitas adalah hal yang tidak penting
i. Reaksi transference (respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan
sakit terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dengan
kehidupan yang dulu)
j. Perilaku amuk atau tidak rasional

2.2 Transference
Transference merupakan respon tak sadar berupa perasaan atau perilaku
terhadap perawat yang sebetulnya berawal dari berhubungan dengan orang-orang
tertentu yang bermakna baginya pada waktu dia masih kecil
(Stuart dan Sundeen , 1995)

22
Reaksi transference membahayakan untuk proses terapeutik hanya bila hal ini
diabaikan dan tidak ditelaah oleh perawat. Ada dua jenis utama
reaksi transference yaitu reksi bermusuhan dan tergantung.

Contoh reaksi transference bermusuhan (Intan, 2005) :


Bungkus (15 tahun) adalah klien yanag dirawat dirumah sakit karena demam
berdarah. Tanpa sebab yang jelas klien ini marah-marah kepada perawat Gengki.
Setelah dikaji, ternyata Gengki ini mirip pacar si Bungkus yang pernah menyakiti
hatinya. Hal ini dikarenakan klien mengalami perasaan dan sikap terhadap
perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh kehidupan yang lalu.

Contoh reaksi transference tergantung ( Intan, 2005) :


Seorang klien, Sinchan (18 tahun), dirawat oleh perawat bidadari. Perawat itu
mempunyai wajah dan suara mirip Ibu klien, sehingga dalam setiap tindakan
keperawatan yang harus dilakukan selalu meminta perawat bidadari yang
melakukannya.

2.3 Coutertransference
Coutertrasference merupakan kebutuhan terapeutik yang di buat oleh
perawat dan bukan oleh klien. Hal ini dapat mempengaruhi hubungan perawat-
klien.
Beberapa bentuk countransference ( Stuart dan Sundeen dalamIntan, 2005):
a. Ketidakmampuan berempati terhadap klien dalam masalah tertentu.
b. Menekan perasaan selama atau sesudah sesi.
c. Kecerobohan dalam mengimplementasikan kontrak dengan datang terlambat,
atau melampaui waktu yang telah ditentukan.
d. Mengantuk selama sesi.
e. Perasaan marah atau tidak sabar karena ketidak inginan klien untuk berubah.
f. Dorongan terhadap ketergantungan, pujian atau efeksi klien.
g. Berdebat dengan klien atau kecendrungan untuk memaksa klien sebelum ia
siap.

23
h. Mencoba untuk menolong klien dalam segala hal tidak berhubungan dengan
tujuan keperawatan yang telah diidentifikasi.
i. Keterlibatan dengan klien dalam tingkat personal dan sosial.
j. Melamunkan atau memikirkan klien.
k. Fantasi seksual atau agresi yang diarahkan kepada klien.
l. Perasaan cemas, gelisah atau persaan bersalah terhadap kien
m. Kecendrungan untuk memusatkan secara berulang hanya pada satu aspek atau
cara memandang pada informasi yang di berikan klien.
n. Kebutuhan untuk mempertahankan intervensi keperawatan dengan klien.

Reaksi coutrtrasference biasanya dalam tiga bentuk ( Stuart danSundeen dalam


Intan, 2005):
a. Reaksi sangat mencintai atau caring.
Perawat Dono melakukan perawatan pada klien dini dengan cara yang
berlebih-lebihan yaitu dengan cara ,masih berlama-lama mengobrol dengan klien
tersebut padahal masih banyak klien yang perlu di tangani.perawat Dono juga
mencoba menolong klien dengan segala hal yang tidak berhubungan dengan
tujuan yang telah diidentifikasi.
b. Reaksi sangat bermusuhan.
Perawat Dora mempunyai klien yang sangat Menjenkelkan.Derry (25 tahun)
Derry ini selalu marah-marah dan menjengkelkan perawat Dora sangat dendam
pada klienini dan selalumengacuhkan Derry meskipun dia membutuhkan
pertolongan
c. Reaksi sangat cemas sering kali di gunakan sebagai respon terhadap resistensi.

Lima cara mengidentifikasikan terjadi countertransference


(StuartG.Wdalam Suryani,2006):
a. Perawat harus mempunyai standaryang sama terhadap dirinya sendiriatas apa
yang di harapkan kepada kliennya.
b. Perawat harus menguji diri sendiri melalui latihan menjalin hubungan,
terutama ketika klien menentang atau mengeritik.

24
c. Perawat harus dapat menemukan sumber masalahnya.
d. Ketika countertrasference terjadi, perawat harus dapat melatih diri untuk
mengontrolnya.
e. Jika perawat membutuhkan pertolongan dalam
mengatasicountertransference, pengawasan secara individumaupun kelompok
dapat lebih membantu.

2.4 Pelanggaran batas.


Perawat perlu membatasi hubungannya dengan klien. Batas hubungan
perawat-klien adalah bahwa hubungan yang di bina adalah hubungan
terapeutik,dalam hubungan ini perawat berperan sebagai penolong dan klien
berperan sebagai yang di tolong. Baik perawat maupun klien harus menyadari
batas tersebut (Suryani, 2006).
Pelanggaran batas terjadi jika perawat melampaui batas hubungan yang
terapeutik dan membina hubungan sosial, ekonomi, atau personal dengan klien.
Beberapa batas hubungan perawat dank lien (stuart dansundeen,
dalam Intan, 2005)
a. Batas peran
Masalah batas peran ini memerlukan wawasan dan pengetahuan yang luas dari
perawat serta penentuan secara tegas mengenai batas-batas terapeutik perawat dan
klien.
b. Batas waktu
Penetapan waktu perlu dilakukan dimana perawat mengadakan hubungan
terapeutiknya dengan klien. Waktu pengobatan atau hubungan terapeutik yang
tidak wajar dan tidak mempunyai tujuan terapeutik harus dievaluasi kembali
untuk mencegah terjadinya pelanggaran batas.
c. Batas tempat dan ruang
Misalnya wawancara dimana? Kapan dan berapa lama?
Batas ini biasanya berhubungan dengan perawatan yang dilakukan . Pemanfaatan
terapeutik diluar kebiasaan misalnya dimobil atau dirumah klien, harus dengan
tindakan terapeutik yang rasional dan mempunyai tujuan yang jelas. Perawat tidak

25
di perbolehkan t dalam melakukan tindakan dikamar klien kadang perlu
menghormati batas-batas tertentu misanya pintu terbuka atau ada pegawai yang
lain.
d. Batas uang
Batas ini berhubungan dengan penghargaan klien dengan perawat berupa uang.
Disini juga perluadanya perhatian mengenai tawar-menawar terhadap klien miskin
tentang biaya pengobatan untuk mencegah timbulnya pelanggaran batas.
e. Batas pemberian hadiah dan pelayanan
Masalah ini controversial dalam keperawatan, namun yang pasti hal ini melanggar
batas.
f. Batas pakaian
Batas ini berhubungan dengan kebutuhan perawat dalam berpakaian secara tepat
dalam hubungan terapeutik perawat dank lien. Dimana perawat tidak
diperbolehkan memakai pakaian yang tidak sopan.
g. Batas bahasa ;
Perawat perlu memperhatikan nada bicara dan pilihan kata ketika komunikasi
dengan klien. Tidak terlalu akrab, mengarah sikap seksul dan memberikan
pendapat dengan nada menggurui merupakan pelanggaran batas.

h. Batas pengungkapan diri secara personal;


Mengungkapkan diri secara personal dari perawat yang tidak berhubungan
dengan tujuan terapeutik dapat mengarah kepada pelanggaran batas.
i. Batas kontak fisik;
Semua kontak fisik dengan klien harus dievaluasi untuk melihat apakah
melanggar batas atau tidak. Beberapa jenis kontak fisik/ seksual terhadap kien
yang tidak pernah tercangkup dalam hubungan terpeutik antara perawat dengan
klien.

Untuk mencegah terjadinya pelanggaran batas dalam berhubungan dengan


klien, perawat sejak awal interkasi perlu menjelaskan atau membuat kesepakatan
bersama klien tentang hubungan yang mereka jalin. Kemudian selama berinteraksi

26
perawat harus berhati-hatidalam berbicara agar tidak banyak terlibat dalam
komunikasi sosial. Dengan selalu berfokus pada tujuan interaksi, perawat bisa
terhindar daripelanggaran terhadap batas-batas dalam berhubungan dengan
klien.selalu mengingatkan kontrak dan tujuan interaksi setiap kali bertemu dengan
klien juga dapat menghindari pelanggaran batas ini.(Suryani 2006).
Contoh pelagggaran batas yaitu (Intan 2005):
- Klien mengajak makan perawat siang atau maka malam di luar.
- Klien memperkenalkan perawat pada keluarganya.
- Perawat menerimah pemberian hadiah dari bisis klien.
- Perawat menghadiri acara-acara sosial.
- Klien member perawat hadiah.
- Perawat secara rutin memeluk dan memegang klien.
- Perawat menjalankan bisnis atau memesan pelayanan dari klien.
- Perawat secara teratur memberi informasi personal kepada klien.
- Hubungan professional berubah menjadi hubungan sosial.
- Perawat menghadiri undangan klien.

2.5 Pemberian hadiah


Pemberian hadia merupakan masalah yang kontroversial dalam
keperawatan. Disatu pihak ada yang menyatakan bahwa pemberian hadiah dapat
membantu dalam mencapai tujuan terapeutik, tapi dipihak lain ada yang
menyatakan bahwa pemberian hadiah bisa merusak hubungan terapeutik.
Hadiah dapat dalam berbagai bentuk misalnya yang nyata seperti sekotak permen,
rangkaian bunga, rajutan atau lukisan. Sedangkan yang tidak nyata bisa berupa
ekspresi ucapan terima kasih dari klien kepada perawat sebagai orang yang akan
meninggalkan rumah sakit atau dari anggota keluarga yang lega dan berterima
kasih atas bantuan perawat dalam meringankan beban emosional klien.

27
CONTOH KASUS DALAM PENERAPAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK
OLEH PERAWAT TERHADAP PASIEN

Contoh 1

Tahap Pre-Interaksi

Mengumpulkan data tentang klien : Ditinjau dari catatan medis/catatan


keperawatan

Kondisi klien adalah post operasi caesar

Diagnosa Keperawatan gangguan rasa nyama nyeri

Tujuan khusus adalah setelah dilakukan perawatan nyeri berkurang

Tindakan keperawatannya adalah perawatan luka post partum

DS : klien mengatakan lemas

Klien mengatakan nyeri pada luka operasinya

DO: Klien tampak lemas

Perban tampak lembab

Luka tampak basah, dan terdapat kemerahan

TTV: suhu: 375 oC

Nadi: 74x/menit

TD : 120/70 mmhg

(Mengeskplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan

Saya siap berinteraksi dengan klien (Ny. X) dengan tindakan perawatan luka post

Operasi Caesar)

28
Membuat rencana pertemuan dengan klien

Saya telah membuat kontrak untuk melakukan perawatan luka hari ini pukul 8
pagi

Tahap Orientasi

(dialog)

Perawat : Assalamualaikum ibu/selamat pagi

Klien : Walaikum salam/pagi juga suster

Perawat : Saya Ners Mia , apakah benar ini dengan ibu X ?

Klien : iya suster

Perawat : Ibu X, ibu lebih suka saya panggil apa ibu?

Klien : ibu Ibet saja supaya lebih akrab suster

Perawat : baik ibu Ibet, saya Mia, hari ini saya yg akan merawat

ibu dari pukul 07.00 -14.00 siang nanti bu, jadi kalau
ada masalah atau keluhan ibu dapat
menginformasikannya kepada saya

29
Klien : Oke baik suster Mia

Perawat : Baiklah, ibu bagaimana keadaannya hari ini setelah

operasi caesar kemarin?

Klien : Alhamdulillah suster saya senang sekali dengan

kelahiran anak peratama saya, Tapi saya masih


merasa sakit pada luka operasinya dan sulit bergerak

Perawat : alhamdulillah saya turut senang atas kelahiran anak

pertama ibu, karna ibu caesar jd wajar kalau ibu sakit


dan sulit bergerak karna ada luka operasi yg masih
rentan, apakah ada keluhan lain yang di rasakan?

Klien : oh begitu ya suster, tidak suster hanya nyeri dan sulit

bergerak saja

Perawat : baik bu, sesuai dengan perjanjian kita kemarin, saya

akan mengganti perban luka ibu, supaya tidak terjadi


infeksi dan supaya ibu bisa segara beraktivitas
kembali

30
Klien : baik suster, berapa lama?

Perawat : hanya sekitar 15 menit ibu Ibet

Klien : iya suster

Tahap kerja

(dialog)

Perawat : baiklah bu, sebelumnya ada yang ingin ibu tanyakan?

Klien : apakah perawatan luka ini penting sus? dan berapa frekuensi

penggantian perbannya?

Perawat : iya ibu, perawatan luka ini sangat penting karna jika luka

kotor akan menimbulkan infeksi dan dapat menyebabkan


kematian, perban itu harus diganti minimal 1x sehari bu.

Klien : baik suster

Perawat : oke ibu Ibet, pertama maaf ibu bajunya saya buka ya bu,

31
nanti jika sudah dirumah atau saat ibu sudah merasa tidak
nyaman. Ibu atau dengan bantuan keluarga dapat
melakukan secara mandiri.

Klien : alat-alatnya apa saja suster?

Perawat : sarung tangan, pinset, gunting, plester, kasa steril, cairan

pembersih. Ibu dapat menggunakan NaCl,,

Klien : lalu caranya bagaimana sus?

Perawat : pertama-tama kita buka balutan yang lama namun jangan

memegang dengan tangan telanjang, kita harus memakai


sarung tangan, lalu kita bersihkan luka dengan NaCl yang
dicelupkan ke kasa dan dikeringkan dengan kasa kering.

Klien : apakah kasa tidak boleh dipakai berulang-ulang sus?

Perawat : benar sekali ibu, setiap kali kita membersihkannya kita

tukar dengan kasa yang baru dan jangan lupa ibu kita harus
membersihkan luka dari daerah yang bersih kedaerah yang
kotor.

32
Klien : lalu apa lagi sus ?

Perawat : lalu bu, kita tutup luka dengan kasa steril , dan direkatkan

dengan plester, lalu ditutup dengan pakaian ibu kembali


dan semua bekas balutan dibuang ketempat sampah
medis.

Klien : saya rasa saya sudah bisa melakukannya sus.

Tahap terminasi

(dialog)

Perawat : baik ibu Ibet, perawatan lukanya sudah selesai dan ibu pun

sudah mengerti bagaimana cara melakukan perawatan luka.


Sekarang bagaimana rasannya bu, apakah sudah lebih
nyaman sekarang ?

Klien : iya suster sudah lebih nyaman,

Perawat : baik ibu kalau begitu, besok saya akan ganti lagi lukanya

ya .

33
Klien : iyah suster, terimakasih,

Perawat : iyah ibu Ibet, apakah ada yang ingin ibu tanyakan?

Klien : tidak sus,saya rasa cukup dan saya sudah paham

pentingnya mengganti luka

Perawat : baik ibu sekarang ibu dapat beristirahat kembali

Klien : iyah suster, terimakasih ya sus,,

Perawat : sama-sama ibu Ibet, semoga rasa sakitnya terus berkurang.

Contoh 2

khususnya pasien yang mengalami hipertensi. Dialog kami sajikan dari fase
persiapan atau fase pra interaksi, tahap perkenalan, tahap kerja, sampai pada tahap
akhir yakni tahap terminasi. Berikut penjelasan dan contoh dialognya:

1. Fase Pra Interaksi (Fase Persiapan)

Sebelum berjumpa dengan pasien sebaik nya perawat mengetahui terlebih dahulu
berbagai hal diantaranya: indentitas, alamat, pekerjaan dan penyakit yang saat ini

34
sedang diderita oleh pasien, sehingga perawat pada tahap ini secara tidak langsung
sudah berkenalan dengan pasien.

2. Tahap Orientasi (Tahap Perkenalan)

Pada tahap ini perawat sudah datang dan bertatap langsung dengan pasien dengan
melihat kondisinya secara langsung. Fase ini disebut juga dengan fase perkenalan.
Adapun contoh dialognya adalah sebagai berikut:

Perawat : Selamat pagi ibu.

Pasien : Pagi ..

Perawat : Apa ini benar dengan ibu Yani .?

Pasien : Ia benar na ..

Perawat : Perkenal kan bu saya perawat Agus. Saya yang akan memeriksa ibu

pagi hari menggantikan piketnya perawat Nining yang biasa

memeriksa ibu. (senyum lalu bertanya) Bagaimana keadaan ibu hari


ini ?

Pasien : Oh iya., keadaan saya hari ini udah sedikit mendingan dari yang

kemarin

perawat : syukur deh bu. berarti itu tanda nya ibu akan segera pulih kembali

35
Pada tahap ini walaupun kita telah mengetahui nama pasien akan tetapi agar lebih
dekat sebaiknya kita kembali menanyakan nama pasien, inilah titik awal kerja
sama antar perawat dengan pasien.

3. Tahap Kerja

Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari komunikasi terapeutik. Pada tahap ini
sudah masuk pada rencana apa yang akan kita berikan sebagai seorang perawat.

Perawat : Apakah saya bisa mula memeriksa ibu

Pasien : iya bisa na Agus

Perawat : Saya akan memulai dengan memeriksa tekanan darah ibu

Bisa kah ibu menjulur kan tangan ibu..

Pasien : Oh iya bisa na.

Perawat : tekanan darah ibu saat ini 120/80 MmHg .. lebih baik dari kemarin

yang saya lihat di catatan darah ibu 140/90 MmHg..

Pasien : oohh iya .? akan tetapi saya sedikit takut karna kepala saya

sampai saat ini masih terasa pusing seperti beputar putar .

Apakah itu tak mengapa ?

Perawat : ooohhh ngga kok bu itu adalah hal yang wajar akan tetapi seiring

36
dengan waktu rasa pusing yang ibu rasa kan akan perlahanlahan hilang.

Pasien : Apakah sebaik nya itu tidak diberikan obat saja oleh dokter na
Agus. ?

Perawat : Oohh ngga perlu di berikan obat itu bu karna ditakutkan jika ibu
banyak

mengonsumsi obat bukan malah sembuh penyakit ibu akan tetapi lebih
parah.

Pasien : Ohh ya na ? baik lah . Jika begitu terima kasih untuk saran nya .

Perawat : Sama sama ibu .

4. Tahap Terminasi

Tahapan Ini merupakan akhir dari pertemuan, dimana seorang perawat harus
berpisah dengan seorang pasien.

Perawat : Apakah ibu masih ingin bertanya .

Pasien : Tidak na Agus.

Perawat : baiklah, jika ibu sudah tidak ingin bertanya lagi maka saya izin permisi
ya ibu,

nanti saya akan sering-sering melihat perkembangan ibu.

Pasien : Baik na .

Perawat : Permisi ibu, selamat pagi.

Pasien : Selamat pagi.

37
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

38
Berdasarkan tinjauan teori diatas maka penyusun dapat menyimpulkan bahwa
salah satu unsur yang penting dalam aktivitas manajer keperawatan adalah
komunikasi. Komunikasi adalah suatu seni untuk dapat menyusun dan
menghantarkan suatu pesan dengan cara yag mudah sehingga orang lain dapat
mengerti dan menerima.
Dalam manajer keperawatan, komunikasi harus diperhatikan sesuai dengan
konsepnya (komponen, proses, prinsip dan model) agar mendapatkan komunikasi
yang efektif tanpa adanya hambatan
. Kemampuan menerapkan teknik komunikasi terapeutik memerlukan latihan dan
kepekaan serta ketajaman perasaan, karena komunikasi terjadi tidak dalam
kemampuan tetapi dalam dimensi nilai, waktu dan ruang yang turut
mempengaruhi keberhasilan komunikasi yang terlihat melalui dampak
terapeutiknya bagi klien dan juga kepuasan bagi perawat.
Komunikasi juga akan memberikan dampak terapeutik bila dalam
penggunaanya diperhatikan sikap dan tehnik komunikasi terapeutik. Hal lain yang
cukup penting diperhatikan adalah dimensi hubungan. Dimensi ini merupakan
factor penunjang yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan kemampuan
berhubungan terapeutik.

Saran
Berdasarkan kesimpulan yang ada maka penyusun dapat memberikan saran
yang kiranya dapat bermanfaat bagi pembaca maupun penulis sendiri yaitu agar
lebih memahami mengenai konsep manajemen dan kepemimpinan keperawatan
terkhususnya pada makalah ini yaitu mengenai komunikasi, demi mewujudkan
kualitas pelayanan yang baik dengan komunikasi yang baik dalam
pengaplikasiannya di bidang keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/8571268/SATUAN_ACARA_PENYULUHAN_SAP_
DIABETES_MELITUS_DM_

39
http://makalahlistavanny.blogspot.co.id/2015/09/komunikasi-dalam-manajemen-
keperawatan.html

http://runizone.blogspot.co.id/2013/03/makalah-komunikasi-umum.html

https://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/komunikasi-terapeutik/

http://juwandi18.blogspot.co.id/2013/12/komunikasi-terapeutik.html

40