You are on page 1of 14

TUGAS

MATA KULIAH INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN

PENGARUH OBAT TERHADAP KEBUTUHAN GIZI

Dosen Pengajar : Sajiman, S.KM, M.Gizi

Oleh :
Kelompok 5 :

Milhannah
Noor Khalwati Afdhaliya
Syarifah Sofia Nur Huda
Vivi Indria Wulandari

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANJARMASIN


DIPLOMA 1V JURUSAN GIZI
Semester VI
2017

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................................. ii

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Tujuan ....................................................................................... 2
II. PEMBAHASAN
2.1 Interaksi Obat dan Makanan..................................................... 3
2.2 Kebutuhan Gizi ........................................................................ 3
2.3 Pengaruh Obat Terhadap Kebutuhan Zat Gizi.......................... 3
2.4 Obat obat yang Mengubah Nafsu Makan .............................. 8
2.5 Obat obat yang menyebabkan perubahan dalam pengecapan dan
penciuman................................................................................. 10
2.6 Obat obat yang menyebabkan malbasorbsi atau peningkatan
ekskresi zat zat gizi................................................................ 10

III. PENUTUP............................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengobatan dengan obat obatan dapat memberikan pengaruh
terhadap status gizi seseorang dengan mempengaruhi makanan yang

2
masuk atau absorpsi, metabolism dan ekskresi dari zat zat gizi sehingga
dapat menyebabkan terjadinya peningkatkan atau penurunan kebutuhan
gizi dalam tubuh (Moore, 1994). Kebutuhan gizi adalah jumlah zat gizi
minimal yg diperlukan seseorang untuk hidup sehat. Interaksi antara obat
dengan kebutuhan gizi dapat berdampak pada berbagai macam hal.
Misalnya penggunaan obat tertentu, maka akan mengurangi nutrisi dalam
tubuh sehingga regulasi tubuh akan menurun, Kebutuhan gizi atau nutrisi
yang paling berpengaruh terhadap obat adalah vitamin dan mineral.
Beberapa tipe individu mempunyai resiko terhadap interaksi obat
dan makanan. Individu individu ini adalah orang dengan pemasukan
gizi yang tidak cukup atau terbatas, orang dengan kebutuhan gizi yang
meningkat akibat penyakit katabolic (contoh: kanker), baru dioperasi atau
infeksi, mereka yang mengalami gangguan kemampuan untuk
mengabsorpsi , memetabolisme atau mengekskresikan obat dan zat zat
gizi (contohnya individu dengan penyakit gagal ginjal kronis, atau
penyakit saluran pencernaan, lanjut usia) dan individu yang memerlukan
pengobatan jangka panjang (contohnya individu dengan transplantasi
organ, hipertensi, atau artritis rheumatoid). (Moore, 1997).
Obat dapat meningkatkan atau menurunkan bioavailabilitas zat gizi
makanan. Perubahan status zat gizi seseorang dapat mempengaruhi
intake makanan, absorpsi, metabolisme, ekskresi dari zat gizi makanan.
Beberapa zat gizi yang dapat dipengaruhi obat antara lain folat,
piridoksin, Vitamin C, Vitamin D, Vitamin A, kalsium, dan seng. Obat
seperti aspirin, babiturat, primidon, etinil estradiol, sikloserin, metotreksat
berpengaruh terhadap metabolisme folat fenitoin sehingga dapat
menyebabkan defisiensi folat dan anemia megaloblastik. Hal yang patut
diwaspadai adalah efek perubahan zat gizi akibat penggunaan obat pada
lansia, bayi, anak-anak, wanita hamil dan menyusui (Swandari, 2014).
Kewaspadaan akan potensi terjadinya interkasi ini dapat membantu
mencegah kekurangan zat gizi dan mengurangi atau memperkuat efek
obat.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh obat terhadap kebutuhan zat gizi

3
1.2.2 Tujuan Khusus
Mengetahui berbagai jenis obat yang dapat mempengaruhi
kebutuhan zat gizi (makro dan mikro)

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Interkasi Antara Obat dan Makanan
Secara singkat dikatakan interaksi obat terjadi jika suatu obat
mengubah efek obat yang lainnya. Kerja obat yang diubah dapat menjadi
lebih atau kurang efektif (Harknoss, 1989). Untuk mendapatkan efek obat
harus berinteraksi dengan reseptor tetapi adakalanya obat berinteraksi
dengan faktor lain yang dapat meningkatkan atau mengurangi efek dari

4
obat tersebut, antara lain: faktor lingkungan, kondisi fisiologi tubuh,
metabolisme tubuh, farmakodinamik, farmakokinetik, dan makanan.

2.2 Kebutuhan Gizi


Kebutuhan gizi adalah jumlah zat gizi minimal yg diperlukan seseorang
untuk hidup sehat. Interaksi antara obat dengan kebutuhan gizi dapat
berdampak pada berbagai macam hal. Misalnya penggunaan obat
tertentu, maka akan mengurangi nutrisi dalam tubuh sehingga regulasi
tubuh akan menurun, Kebutuhan gizi atau nutrisi yang paling
berpengaruh terhadap obat adalah vitamin dan mineral.

2.3 Pengaruh Obat terhadap Kebutuhan Gizi


Makanan dan obat dapat berinteraksi dalam banyak cara yang
berbeda. Zat tertentu di dalam makanan dapat memberikan efek berupa
enzim. Salah satu cara yang paling umum makanan mempengaruhi efek
obat adalah dengan memetabolisme banyak obat. Jika makanan
mempercepat enzim, obat akan lebih singkat berada di dalam tubuh dan
dapat menjadi kurang efektif dan jika makanan memperlambat enzim,
obat akan berada lebih lama dalam tubuh dan dapat menyebabkan efek
samping yang tidak dikehendaki,. Akibatnya kebutuhan akan zat gizi
tertentu di dalam tubuh dapat berubah dari kebutuhan biasanya agar
mampu menstabilkan kondisi atau status gizi tubuh seseorang.
Menurut Stanfield dan Hui (2010), obat-obatan tertentu
menginduksi sistem enzim yang memerlukan kofaktor vitamin. Hal ini
dapat meningkatkan kebutuhan vitamin. Beberapa obat bersaing dengan
vitamin untuk suatu tindakan. Selain itu, beberapa obat mengurangi
sintesis zat gizi endogen. antibiotik secara luas dapat mengganggu
sintesis vitamin K oleh mikroorganisme yang biasanya hadir dalam usus
besar. intinya, obat dan vitamin akan bersaing untuk dapat diserap oleh
tubuh.
Obat-obatan yang dikenal luas dapat mempengaruhi absorbsi zat
gizi adalah obat-obatan yang memiliki efek merusak terhadap mukosa
usus. Antineoplastik, antiretroviral, NSAID dan sejumlah antibiotik
diketahui memiliki efek tersebut. Mekanisme penghambatan absorbsi

5
tersebut meliputi: pengikatan antara obat dan zat gizi (drug-nutrient
binding) contohnya Fe, Mg, Zn, dapat berikatan dengan beberapa jenis
antibiotik; mengubah keasaman lambung seperti pada antacid dan
antiulcer sehingga dapat mengganggu penyerapan B12, folat dan besi;
serta dengan cara penghambatan langsung pada metabolisme atau
perpindahan saat masuk ke dinding usus (Lulukria, 2010).
2.3.1 Pengaruh antasid terhadap kebutuhan zat gizi
Antasida adalah obat yang digunakan untuk menetralkan
asam lambung atau mengikatnya. Ada beberapa jenis antasida
yaitu:
a. Senyawa aluminium dan senyawa magnesium: merupakan
antasida yang paling sering dipakai pada saat ini, karena
masa kerjanya lama.
b. Natrium bikarbonat: jenis antasida yang kerjanya cepat tapi
efeknya juga cepat hilang. Obat ini menyebabkan timbulnya
gas di dalam lambung. Antasida jenis ini tidak dianjurkan
untuk penderita hipertensi, gagal jantung, dan gangguan
ginjal.
c. Obat kombinasi: kombinasi antasida dengan obat
penghilang kembung seperti simetikon

Umumnya antasida tidak menimbulkan efek samping bila


diminum sesuai anjuran. Antasida dengan aluminium dapat
menyebabkan susah buang air besar tapi efek samping ini akan
menghilang bila dikombinasi dengan magnesium.
Aluminium juga dapat menyebabkan hipofosfatemia
(kekurangan fosfat) bila digunakan dalam jangka lama. Untuk itu
bagi penderita yang menggunakan antasida dalam jangka lama
disarankan untuk mengonsumsi makanan yang banyak
mengandung fosfat seperti hati, telur, keju, dan susu.
Segala jenis alumunium hidroksida dapat menurunkan
absorpsi zat besi akibat kenaikan pH lambung dan menurunkan
absorpsi fosfat sehingga kebutuhan akan zat besi harus
ditingkatkan dalam tubuh

2.3.2 Efek antibiotik/anti jamur/ obat anti tuberculosa

6
Antibiotik merupakan substansi yang dihasilkan oleh
mikroorganisme yang dalam konsentrasi rendah mampu
menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain.
Sejumlah antibiotik diketahui memiliki efek dalam
penghambatan absorbsi zat gizi. Mekanisme penghambatan
absorbsi tersebut meliputi: pengikatan antara obat dan zat gizi
(drug-nutrient binding) contohnya Fe, Mg, Zn, dapat berikatan
dengan beberapa jenis antibiotik; mengubah keasaman lambung
seperti pada antacid dan antiulcer sehingga dapat mengganggu
penyerapan B12, folat dan besi; serta dengan cara penghambatan
langsung pada metabolisme atau perpindahan saat masuk ke
dinding usus (Lulukria, 2010).
Berikut ini beberapa jenis obat yang tergolong
Antibiotik/Anti jamur/ Obat Antituberkulosa yang dapat
memberikan pengaruh terhadap zat gizi di dalam tubuh.
a. Amfoterisin B
Amfoterisin B merupakan obat anti jamur yang secara
farmakokinetik diabsorbsi sangat sedikit melalui saluran cerna
dan selanjutnya diekskresikan melalui ginjal dengan sangat
lambat. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya peningkatan
ekskresi magnesium di urin. Peningkatan ekskresi magnesium
dapat menyebabkan defisiensi kalsium yang dapat berbahaya.
Selain itu amfoterisin B juga dapat menyebabkan hipokalemia
(Kadar kalium darah rendah) sehingga saat pemberian obat
amfoterisin B, dokter sering memberikan suplemen kalium
bersamaan dengan obat-obatan ini.
b. Kloramfenikol
Kloramfenikol adalah antibiotik berspektrum luas yang
mempunyai aktifitas bakteriostatik, dan pada dosis tinggi
bersifat bakterisid. bila kadar kloramfenikol dalam serum
melampaui 25 g/ml maka akan terlihat reaksi toksik dengan
manfestasi depresi sumsum tulang belakang. Kelainan ini
berhubungan dengan dosis, progresif dan pulih bila pengobatan

7
dihentikan. Kelainan darah yang terlihat anemia,
retikulositopenia, peningkatan serum iron, dan iron binding
capacity serta vakuolisasi seri eritrosit muda.
Dalam kondisi tertentu kloramfenikol dapat
menurunkan sintesis Hb (mengganggu respons pengobatan
zat besi, asam folat, atau vitamin B12). Untuk menghindari
permasalahan lain, dalam pengobatan ini sangat dianjurkan
untuk konsumsi berbagai jenis makanan yang mengandung
tinggi zat besi.
c. Sikloserin
Sikloserin merupakan antibiotika yang bekerja menghambat
sintesis dinding sel kuman yang dapat menyebabkan
menurunnya kadar serum dari vitamin b12. B6, dan asam folat.
d. Gentasimin
Gentamisin dapat menyebabkan terjadinya peningkatan
ekskresi magnesium, K+, Ca di urin > (10 g dosis kumulatif)
e. Isoniazid, dapat menyebabkan kurangnya B6, sehingga perlu
diberikan suplemen
f. Neomisin dapat menyebabkan diare dan luka pada mukosa;
menurunnya absorpsi lemak, laktosa, protein, vitamin A, D, K
B12, Ca, Fe, K+
g. Asam para-amino salisilat dapat menyebabkan menurunnya
absorpsi lemak, folasin, dan vitamin B12
2.3.3 Anti-konvulsan
a. Fenitoin dapat menyebabkan menurunnya absorpsi kalsium
b. Fenobarbital dapat menyebabkan menurunnya absorpsi
kalsium
c. Primidon dapat menyebabkan menurunnya absorpsi kalsium
2.3.4 Obat anti Diare
a. ulfasalazin dapat menyebabkan menurunnya absorpsi asam
folat, anemia megaloblastik.
2.3.5 Obat-obat anti hipertensi diantaranya adalah :
a. Mengkonsumsi diazoksid dapat menyebabkan hiperglikemia
b. Mengkonsumsi hidralazin dapat menyebabkan meningkatnya
ekskresi itamin B6
c. Mengkonsumsi Nitropusid dapat menyebabkan menurunnya
vitamin B12 serum
2.3.6 Obat-obat anti inflamasi diantaranya adalah :

8
a. Mengkonsumsi Aspirin dapat menyebabkan meningkatnya
kehilangan vitamin C di urin ; difisensi zat besi akibat
kehilangan darah di saluran pencernaan .
b. Mengkonsumsi Kolkisin dapat menyebabkan menurunnya
absorpsi vitamin B12 , lemak, karoten, laktosa,protein,Na,K
c. Mengkonsumsi Indometasin dapat menyebabkan
meningkatnya kehilangan vitamin C di urin ; difisensi zat besi
akibat kehilangan darah di saluran pencernaan .
2.3.7 Penghambat karbonik anhidrase diantara nya adalah :
a. Mengkonsumsi semua jenis karbonik anhidrase dapat
menyebabkan hiperglikemia dan dapat menyebabkan
meningkatnya ekskresi K
2.3.8 Obat-obat jantung diantara nya adalah :
a. Mengkonsumsi Digitalis , Digoksin , Digitoksin, dsb , dapat
menyebabkan diare, malabsorbsi semua zat gizi
2.3.9 Obat kelasi diantara nya adalah :
a. Mengkonsumsi penisilamin dapat menyebabkan
meningkatnya absorpsi Cu,Zn, dan Fe
2.3.10 Kortikosteroid diantaranya adalah :
a. Mengkonsumsi semua jenis kortikosteroid dapat menyebabkan
meningkatnya katabolisme protein ; menurunnya sintesis
protein , hiperglikemia ; meningkatnya trigliserida dan koletrol
serum; menurunnya absorpsi Ca,P, K; menaikan kebutuhan
akan vitamin C,B6,D,Asam Folat,Zn; Osteoponia
2.3.11 Diuretik
a. Mengkonsumsi semua dapat menyebabkan meningkatnya
ekskresi Mg, Zn, K di urin (beberapa lebih besar dari yang
lainnya)
b. Mengkonsumsi asam etakrinat dapat menyebabkan
meningkatnya hipomagnesemia , kopokalemia; meningkatkan
kehilangan Ca di urin .
c. Mengkonsumsi forusemin dapat menyebabkan menurunnya
toleransi glukosa ; hiperglikemia; mengkatkan kehilangan Ca
di urin.
d. Mengkonsumsi tiazid dapat menyebabkan menurunnya
toleransi glukosa; hiperglikemia; hipokalemia .
2.3.12 Antagonis reseptor H2

9
a. Semua (simetidin, famotidin, nizatidin, ranitidin) dapat
menyebabkan menurunnya absorpsi Fe dan Ca akibat
meningkatnya pH lambung
2.3.13 Hipokolesterolemik
a. Kolstiramin dapat menyebabkan menurunnya absorpsi lemak,
vitamin A, d, E, K, B12 dan Fe
b. Klofibrat daoat menyebabkan absorpsi karoten, Fe, vitamin
B12, lemak
c. Kolestipol dapat menyebabkan menurunnya absorpsi lemak,
vitamin A, D, E, K
2.3.14 Laksatif
a. Katartik (contohnya senna, cascara, fenolftalein) dapat
menyebabkan meningkatnya Ca dan K + melalui feses (secara
klinis bermakna pada penyalahgunaan laksatif)
b. Minyak mineral dapat menyebabkan potensial untuk
menurunnkan absorpsi dari vitamin A, D, E, K, Ca 2+ ; bukti
terakhir menyatakan bahwa efek pada absorpsi vitamin secara
klinis tidak bermakna
c. Levodopa dapat menyebabkan meningkatkan kebutuhan akan
vitamin B6
d. Emulsi lemak dapat menyebabkan meingkatnya kebutuhan
akan vitamin E
2.3.15 Opiat
Heroin dapat menyebabkan menurunnya toleransi glukosa;
menurunnya K+
2.3.16 Obat kontrasepsi oral dapat menyebabkan Menurunnya vitamin C
serum; kemungkinan menurunnya vitamin B12, B6, B2, asam
folat, Mg, Zn serum; meningkatkan Ht, Hb, Fe serum, Cu,
Vitamin A, E
2.3.17 Obat parasimpatolitik
Atropin dapat menyebabkan menurunnya absorpsi zat besi akibat
meningkatnya pH lambung
2.3.18 Suplemen kalium dapat menyenbabkan menurunnya absorpsi
vitamin B12
2.3.19 Sedatif-hipnotik
Glutetimid dapat menyebabkan menurunnya absorpsi Ca
2.3.20 Obat urikosurik dapat menyebabkan meningkatnya ekskresi Ca,
Mg, Na, K+, p, Cl, Vit B12, Asam amino
2.3.21 Antiseptik saluran kencing

10
Nitrofurantoin dpat menyebabkan menurunnya asam amino
serum; anemia megaloblastik
2.4 Obat Obatan yang Mengubah Nafsu Makan
Bila ada riwayat dari 0bat obat yang meningkatkan atau menurunkan
nafsu makan, maka dokter dapat memilih obat lainnya yang memberikan
efek lebih sedikit terhadap nafsu makan. Pada beberapa kasus, adalah
mungkin dan diinginkan untuk menghentikan obat secara periodik sehingga
memperbaiki kecukupan zat gizi yang masuk, Contohnya :metilfenidat
(ritalin) digunakan pada anak dengan gangguan perhatian, dimana obat ini
akana menekan nafsu makan dan pertumbuhan. Metilfenidat biasanya hanya
hanya diberikan pada saat sekolah,dimana kontrol dari gangguan ini sangat
penting.Pada saat libur sekolah, musim panas obat dihentikan, nafsu makan
membaik dan terjadi pengejaran terhadap pertumbuhan.
Obat obat perangsang nafsu makan terkadang digunakan bila
menggunakan obat obatan yang menekan nafsu makansecara teratur.
Siproheptadin (Periactin) adalah perangsang nafsu makan yang paling
umum dan sering digunakan. Obat ini terkadang diberikan pada pasien yang
mengalami anoreksia akibat pengobatan dengan obat - obat antineoplasia.
2.5 Obat Obatan yang Menyebabkan Malabsorpsi atau Peningkatan
dalam Pengecapan dan Penciuman
Pada beberapa kasus, disgeusia atau hipogeusia terjadi karena obat
menyebabkan malabsorbsi atau meningkatkan sekresi dari seng.
Peningkatan pemasukan seng atau suplementasi seng dapat memperbaiki
perasaan suka makan akan makanan.
2.6 Obat obatan yang menyebabakan Malabsorbsi atau peningkatan
ekskresi zat zat Gizi
Bila kehilangan zat gizi secara Klinis bermakna, rencanakan diet dan
ajari pasien atau keluarganya untuk memasukkan zat zat gizi tersebut
sebanyak mungkin. Sebagai contoh, individu yang menerima diuretik tiazid
memerlukan beberapa sajian dari makanan yang kaya akan kalium: daging,
buah dan sayuran segar (pisang, jeruk, melon, tomat, squash, wortel dan
sayuran berdaun hijau).
Suplemen harus digunakan bila diet tidak cukup untuk mengganti
kehilangan yang disebabkan obat obatan.

11
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Suatu interaksi obat terjadi jika suatu obat mengubah efek obat yang
lainnya, termasuk di dalamnya adalah makanan. Beberapa jenis obat yang
berinteraksi dengan makanan di dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai efek

12
terhadap kebutuhan zat gizi tubuh diantaranya adalah bat-obatan yang dikenal luas
dapat mempengaruhi absorbsi zat gizi adalah obat-obatan yang memiliki efek
merusak terhadap mukosa usus. Antineoplastik, antiretroviral, NSAID dan
sejumlah antibiotik diketahui memiliki efek tersebut. Mekanisme penghambatan
absorbsi tersebut meliputi: pengikatan antara obat dan zat gizi (drug-nutrient
binding) contohnya Fe, Mg, Zn, dapat berikatan dengan beberapa jenis antibiotik;
mengubah keasaman lambung seperti pada antacid dan antiulcer sehingga dapat
mengganggu penyerapan B12, folat dan besi; serta dengan cara penghambatan
langsung pada metabolisme atau perpindahan saat masuk ke dinding usus
(Lulukria, 2010).

DAFTAR PUSTAKA

Devianty,dkk.Pengaruh interaksi obat dan makanan.ppt.


https://www.scribd.com/document_downloads/direct/309617414?
extension=ppt&ft=1488963470&lt=1488967080&user_id=127848490&uahk=X1
Bceux/aYTDQnijjKvrwDjXXjM. Diakses pada tanggal 8 Maret 2017 jam 23.47

13
DIREKTORAT BINA FARMASI KOMUNITAS DAN KLINIK DIREKTORAT
JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
DEPARTEMEN KESEHATAN RI.2005. Pharmaceutical Care Untuk
Penyakit Tuberkulosis
https://s3.amazonaws.com/ppt.download/farmakologiinteraksiobatdenganmakana
n-140328130028-phpapp02.docx?response-content-
disposition=attachment&Signature=9IddHrIxRUx
%2FNdcMBuAZfMDXWH8%3D&Expires=1488969552&AWSAccessKey
Id=AKIAJ6D6SEMXSASXHDAQ. Diakses pada tanggal 8 Maret 2017 jam
23.47
Masrizal.2007.Studi Literatur Anemia Zat Besi. Staf Pengajar Program Studi Ilmu
Kesehatan Masyarakat FK Unand
Moore, CM. 1994. Terapi Diet dan Nutrisi Edisi II. Perpustakaan Nasional :
Katalog Dalam Terbitan (KDT) : Jakarta.

14