Вы находитесь на странице: 1из 16

TUGAS KELOMPOOK

KEPERAWATAN ANAK
KONSEP BERMAIN

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 7

1. Cinta Mulia Hati (153110244)


2. Fitra Regina (153110249)
3. Messy Mayrisa (153110255)
4. Moly Mery Yenti (153110256)
5. Mutiara Karisama (153110259)
6. Novianti Eka Putri (153110261)

Kelas II C

Dosen Pembimbing :

Ns. Zolla Amely Ilda, S.kep, M.kep

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG


PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG
TAHUN AJARAN 2016/2017

KONSEP BARMAIN

A. Pengertian Bermain Menurut Para Ahli


Menurut Piaget, 1951 bermain merupakan kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi
kesenangan (Piaget, 1951).

Secara lebih umum dalam term psikologi, Joan Freeman dan Utami Munandar (1996)
mendefinisikan bermain sebagai suatu aktivitas yang membantu anak mencapai
perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional.

Bermain menurut pendapat Elizabeth Hurlock (1987:320) adalah setiap kegiatan yang
dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya tanpa mempertimbangkan hasil akhir.

Menurut Hughes (1999), seorang ahli perkembangan anak dalam bukunya Children, Play,
and Development, mengatakan bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan
bekerja. Suatu kegiatan yang disebut bermain harus ada lima unsur didalamnya, yaitu:

1. Mempunyai tujuan yaitu permainan itu sendiri untuk mendapat kepuasan .

2. Memilih dengan bebas dan tas kehendak sendiri, tidak ada yang menyuruh ataupun
memaksa.

3. Menyenangkan dan dapat menikmati.

4. Mengkhayal untuk mengembangkan daya imaginatif dan kreativitas

5. Melakukan secara aktif dan sadar (DWP, 2005).

Friedrich Froebel ( 1782- 1852 ) menjelaskan bahwa konsep bermain merupakan proses
belajar bagi anak usia dini. Anak diajak bekerja di kebun, bermain dengan pimpinan,
bernyanyi, pekerjaan tangan atau keterampilan, bersosialisasi, berfantasi, adalah
merupakan proses belajar sambil bekerja.

Menurut Karl Buhler dan Schenk Danziger, bermain adalah kegiatan yang menimbulkan
kenikmatan. Dan kenikmatan itu menjadi rangsangan bagi perilaku lainnya.
Andang Ismail (2009: 26) menuturkan bahwa permainan ada dua pengertian. Pertama,
permainan adalah sebuah aktifitas bermain yang murni mencari kesenangan tanpa
mencari menang atau kalah. Kedua, permainan diartikan sebagai aktifitas bermain yang
dilakukan dalam rangka mencari kesenangan dan kepuasan, namun ditandai pencarian
menang-kalah.

Menurut Kimpraswil (dalam Asadi Muhammad, 2009: 26) mengatakan bahwa definisi
bermain adalah usaha olah diri (olah pikiran dan olah fisik) yang sangat bermanfaat bagi
peningkatan dan pengembangan motivasi, kinerja, dan prestasi dalam melaksanakan
tugas dan kepentingan organisasi dengan lebih baik.

Menurut Hans Daeng (dalam Andang Ismail, 2009: 17) bermain adalah bagian mutlak
dari kehidupan anak dan permainan merupakan bagian integral dari proses pembentukan
kepribadian anak.

Bermain menurut Mulyadi (2004), secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-
anak yang dilakukan secara spontan. Terdapat lima pengertian bermain:

1. Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak

2. Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik

3. Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak

4. Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak

5. Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti
kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya

Berdasarkan beberapa pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan


keseluruhan aktivitas yang dilakukan oleh individu yang sifatnya menyenangkan, yang berfungsi
untuk membantu individu mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial,
moral dan emosional.
B. Fungsi dan Manfaat Bermain bagi Anak Usia Dini

Manfaat Bermain
Menurut buku Games Therapy untuk Kecerdasan Bayi dan Balita yang ditulis oleh
Psikolog Effiana Yuriastien, dkk ada 9 manfaat bermain bagi anak

1. Memahami diri sendiri dan mengembangkan harga diri :

Ketika bermain, anak akan menentukan pilihan-pilihan. Mereka harus memilih


apa yang akan dimainkan. Anak juga memilih di mana dan dengan siapa mereka bermain.
Semua pilihan itu akan membantu terbentuknya gambaran tentang diri mereka dan
membuatnya merasa mampu mengendalikan diri. Permainan memotong kertas, mengatur
letak atau mewarnai misalnya dapat dilakukan dalam beragam bentuk. Tidak ada batasan
yang harus diikuti. Identitas dan kepercayaan diri dapat berkembang tanpa rasa ketakutan
akan kalah atau gagal. Pada saat anak menjadi semakin dewasa dan identitasnya telah
terbentuk dengan lebih baik, mereka akan semakin mampu menghadapi tantangan
permainan yang terstruktur, bertujuan dan lebih dibatasi oleh aturan-aturan.

2. Menemukan apa yang dapat mereka lakukan dan mengembangkan kepercayaan diri :

Permainan mendorong berkembangnya keterampilan, fisik, sosial dan intelektual.


Misalnya perkembangan keterampilan sosial dapat terlihat dari cara anak mendekati dan
bersama dengan orang lain, berkompromi serta bernegosiasi. Apabila anak mengalami
kegagalan saat melakukan suatu permainan, hal itu akan membantu mereka menghadapi
kegagalan dalam arti sebenarnya dan mengelolanya pada saat mereka benar-benar harus
bertanggungjawab.

3. Melatih mental anak :

Ketika bermain, anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di


dalam dirinya. Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki sekaligus
mendapatkan pengetahuan baru. Orangtua akan dapat semakin mengenal anak dengan
mengamati saat bermain. Bahkan, lewat permainan (terutama bermain pura-pura)
orangtua juga dapat menemukan kesan-kesan dan harapan anak terhadap orangtua serta
keluarganya.

4. Meningkatkan daya kreativitas dan membebaskan anak dari stress :

Kreativitas anak akan berkembang melalui permainan. Ide-ide yang orisinil akan
keluar dari pikiran mereka, walaupun kadang terasa abstrak untuk orangtua. Bermain
juga dapat membantu anak untuk lepas dari stres kehidupan sehari-hari. Stres pada anak
biasanya disebabkan oleh rutinitas harian yang membosankan.

5. Mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak:

Dalam permainan kelompok, anak belajar tentang sosialisasi. Anak mempelajari


nilai keberhasilan pribadi ketika berhasil memasuki suatu kelompok. Ketika anak
memainkan peran baik dan jahat, hal ini membuat mereka kaya akan pengalaman
emosi. Anak akan memahami perasaan yang terkait dari ketakutan dan penolakan dari
situasi yang dia hadapi.

6. Melatih motorik dan mengasah daya analisa anak :

Melalui permainan, anak dapat belajar banyak gal. Di antaranya melatih


kemampuan menyeimbangkan antara motorik halus dan kasar. Hal ini sangat
mepengaruhi perkembangan psikologisnya. Permainan akan memberi kesempatan anak
untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus memecahkan masalah.
Anak-anak akan berusaha menganalisa dan memahami persoalan yang terdapat dalam
setiap permainan.

7. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan anak :

Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain, seringkali
dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin
dalam kehidupan nyata, mungkin akan memperlohen pemenuhan keinginan itu dengan
menjadi pemimpin tentara saat bermain.
8. Standar moral :

Walaupun anak belajar di rumah dan sekolah tentang apa yang dianggap baik dan
buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral selain dalam kelompok
bermain.

9. Mengembangkan otak kanan anak:

Bermain memiliki aspek-aspek yang menyenangkan dan membuka kesempatan


untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman sebaya serta
mengembangkan perasaan realistis akan dirinya. Dengan begitu, bermain memberi
kesempatan pada anak untuk mengembangkan otak kanan, kemampuan yang mungkin
kurang terasah baik di sekolah maupun di rumah.

Fungsi Bermain
Fungsi bermain pada anak memang begitu beragam. Anak akan menemukan
perkembangan fisik serta mental yang ia miliki. Melalui permainan pula, seorang anak
akan mampu mempelajari begitu banyak hal bahkan anak mendapatkan sistem
pemecahan masalah yang jauh lebih baik daripada anak-anak yang tidak banyak bermain.
Dunia anak adalah dunia bermain, jadi jangan paksakan anak untuk terus belajar dan
melakukan latihan banyak soal setiap harinya. Biarkan anak bermain karena fungsi
bermain pada anak begitu banyak seperti yang akan dijabarkan berikut ini.

Melatih perkembangan sensorik serta motorik:

Melalui permainan, anak akan menjadi terlatih ketika melakukan beragam


aktivitas sensorik serta motorik. Permainan aktif melatih panca indera sang anak karena
dengan permainan maka semua anggota panca indera anak akan tergerak untuk
melakukan sesuatu. Sebagai hasilnya, organ sensorik dan motorik akan semakin baik.

Mengasah memori otak:


Anak kecil mempunyai organ memori yang belum banyak terisi oleh beragam hal.
Oleh karena itu, melalui bermain anak bisa mengembangkan kemampuan memori yang ia
miliki. Anak akan mengekplorasi serta melihat benda yang ada di sekitarnya. Ia terus
mempelajarinya dan kemudian mengenal benda-benda dengan warna yang berbeda
secara sempurna. Semakin anak bermain, maka otaknya akan semakin terasah dan ia
mampu mendapatkan perkembangan memori yang jauh lebih baik.

Mengembangkan etika:

Ketika anak bermain, maka ia melakukan banyak hal bersama teman-temannya. Ia


mempelajari banyak aturan, mempunyai tingkat sportivitas, dan tentu saja belajar
bagaimana membangun etika yang benar. Anak tidak mudah curang ketika berhadapan
dengan aturan pada dunia yang sebenarnya, karena ia telah terlatih untuk melakukan
banyak hal dengan baik.

Meningkatkan kreativitas anak:

Di dalam melakukan permainan, anak-anak dapat mengeksplorasi dan menerapkan


banyak ide yang terkait dengan sistem permainan. Semakin banyak media dan jenis
permainan yang mereka mainkan, maka akan semakin banyak ide bermunculan. Ketika
kreatifitas tersebut terus diasah, maka anak bisa menemukan ide-ide cemerlang pada
masa yang akan datang.

C. KLASIFIKASI BERMAIN

Bermain dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu berdasarkan isi permainan dan
berdasarkan klasifikasi sosialnya.

1. Menurut Isi Permainan, Bermain Dibagi Menjadi Enam Jenis Yaitu


a. Social of Affective Play
Sosial affective play : hub interpersonal yg menyenangkan antara anak dgn orla
(EX : ciluk Baa. Dalam permainan ini, anak belajar memberi respon terhadap
stimulus yang diberikan olehlingkungan
Contoh : Orang tua mengajak bermain ciluk baa, maka anak memberi respon
tertawa,tersenyum.
b. Sense of Pleasure Play
Sense of pleasure play : permaianan yg sifatnya memberikan kesenangan pada
anak (EX : main air dan pasir. Anak memberi perhatian, menstimulasi indera
mereka dan memperoleh kesenangan dari objek yang ada di sekitarnya. Objek
tersebut seperti : cahaya, warna, rasa, aroma, tekstur, dan konsistensi dari suatu
benda. Kesenangan tersebut dapat diperoleh dengan memegang objek
tersebut.Contoh : anak bermain boneka yang mengeluarkan suara apabila di
goyang.
c. Skill Play
Skiil play : permainan yg sifatnya memberikan keterampilan pada anak (EX: naik
sepeda).
Permainan ini memberi kesempatan pada anak untuk belajar keterampilan tertentu
dan anak akan belajar secara berulang-ulang. Contoh : anak belajar memegang
sendok berukuran kecil.
d. Unoccupied behaviour
Unoccupied behaviour: anak tidak memainkan alat permainan tertentu, tapi situasi
atauobjek yang ada disekelilingnya , yg digunakan sebagai alat permainan (EX :
jinjitjinjit, bungkuk- bungkuk, memainkan kursi, meja dsb).Anak tidak bermain
scara penuh, namun hanya berfokus sebentar pada hal-hal yang menarik
perhatiannya.Contoh : anak memukul-mukul meja atau kursi yang dilewatinya.
e. Dramatic Play
Dramatik Role play : anak bermain imajinasi/fantasi (EX : dokter dan perawat)
Anak berfantasi dengan menjalankan peran tertentu yang mereka lihat dalam
kesehariannya. Contoh : anak bermain sebagi dokter, atau bermain dagang-
dagangan.
f. Games
Games : permaianan yg menggunakan alat tertentu yg menggunakan perhitungan /
skor (EX : ular tangga). Anak memilih jenis permainan apakah permainan yang
melibatkan orang lain atau anak bermain sndiri. Contoh : anak bermain puzzel
gambar atau menyusun lego.

2. Klasifikasi Bermain Menurut Sosial


a. Onlooker Play
Onlooker play : anak hanya mengamati temannya yg sedang bermain, tanpa ada
inisiatif utk ikut berpartisifasi dlm permainan(EX : Congklak).
Anak hanya mengamati hal yang menarik perhatiannya tanpa mau terlibat atau
anak hanya menjadi penonton yang aktif. Contoh : anak mengamati anak-anak
lain bermain sepeda.
b. Solitary Play
Solitary play : anak tampak berada dlm klp permaianan, tetapi anak bermain
sendiri dgn alat permainan yg dimilikinya. Anak asyik bermain sendirian, namun
terdapat anak lain dengan mainan yang berbeda tetapi dalam area yang sama.
c. Parallel Play
Parallel play : anak menggunakan alat permaianan yg sama, tetapi antara satu
anak dgn anak lain tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga antara anak satu
dgn lainya tida ada sosialisasi. Jenis permainan ini biasanya dilakuan oleh toddler
atau balita, dimana masing-masing anak memiliki mainan yang sama, berada
dalam satu area, namun tidak ada interaksi dan tidak saling bergantung pada anak.
Contoh : anak mengamati anak-anak lain bermain sepeda.
d. Assosiative Play
Associative play : permeianna ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dgn
anak lain, tetapi tidak terorganisasi, tidak ada pemimpin.
Merupakan tipe bermain dimana anak bermain dalam kelompok, dengan aktivitas
yang sama, dapat saling meminjamkan mainan, tetapi belum teorganisir dengan
baik. Anak bermain sesuai keinginan masing-masing. Contoh : anak bermain
robot-robotan, mobil-mobilan, anak bermain masak-masakan.
e. Cooperatif Play
Cooperative play : aturan permainan dlm klp tampak lebih jelas pada permaiann
jenis ini, dan punya tujuan serta pemimpin (EX : main sepak bola). Merupakan
tipe bermain dimana anak bermain dalam kelompok dengan permainan yang
terorganisir, terencana dan ada aturan tertentu. Contoh : anak bermain petak
umpet.

Menurut karakter Sosial Permainan:


Interaksi permainan pada masa bayi adalah antara anak dan orang dewasa.
Selanjutnya interaksi dengan teman sebaya menjadi hal yang penting dalam sosialisasi.
Bayi yang egosentris dan toddler (usia 1-3 tahun) tidak menoleransi penolakan atau
penundaan, serta campur tangan.anak usia 5-6 tahun, mampu kompromi dan panengah
perselisihan. Tipe-tipe permainannya yaitu:
a. Permainan pengamat
Anak memperhatikan aktifitas dan interaksi anak lain dengan minat aktif tampa
terlibat dan berpartisipasi.
b. Permainan tunggal
Anak bermain sendiri dengan mainan yang berbeda dengan anak yang lain
ditempat yang sama. Mereka asik sendiri tampa berniat mendekati atau berbicara
dengan anak yang lain.
c. Permainan parallel
Anak bermain secara mandiri diantara anak-anak lain dengan mainan yang sama.
Mereka tampak kimpak, tetapi tidak saling mempengaruhi, t idak ada assosiasi
kelompok, dan tidak bermain bersama
d. Permianan assosiatif
Anak bermain bersama, mengerjakan aktifitas serupa dan sama, tetapi tidak ada
organisasi, pembagian kerja, penetapan pemimpin, atau tujuan bersama. Anak
meminjam dan meminjami material permainan, saling mengikuti dengan
mengendarai wangon, dan sepeda roda tiga. Kadang mengontrol siapa yang boleh
bergabung dan siapa yang tidak boleh bergabung dalam kelompok itu.
e. Permainan cooperative
Anak bermain secara berkelompok, mendiskusikan dan merencanakan aktifitas
untuk pencapaian akhir. Terdapat rasa saling memiliki dan tidak memiliki yang
nyata. Tujuan dan pencapaiannya memerlukan pengorganisaian aktifitas,
pembagian kerja dan peran bermian.

D. Karakteristik Bermain Sesuai Tahap Tumbuh Kembang Anak


1. Anak usia bayi
Bayi usia 0-3 bulan.seperti yang disinggung pada uraian sebelumnya karakteristik
khas permainan bagi usia bayi adalah adanya interaksi social yang menyenangkan antara
bayi dan orang tua dan atau orang dewasa sekitarnya. Selain itu, perasaan senang juga
menjadi cirri khas dan permainan untuk bayi usia ini. Alat permainan yang biasa
digunakan misalnya mainan gantung yang berwarna terang dan bunyi music yang
menarik. Bayi usia 4-6 bulan. Untuk menstimulasi penglihatan dapat dilakukan
permainan seperti mengajak bayi menonton TV, member mainan yang mudah
dipeganggnya dan berwarna terang, serrta dapat pula dengan cara member cermin dan
meletakkan bayi di depannya sehingga memungkinkan bayi dapat melihat bayangan di
cermin.stimulasi pendengaran dapat dilakukan dengan cara selalu membiasakan
memanggil namaya. Untuk stimulasi taktil berikan mainan yang dapat digenggamnya
lembut dan lentur, atau pada saat memandikan biar bayi bermain air di dalam bak mandi.
Bayi usia 7-9 bulan. Untuk stimulasi penglihatan dapat dilakukan dengan memberikan
mainan yang berwarna terang atau berikan kepadanya kertas dan alat tulis biarkan ia
mencoret-coret sesuai keinginannya.
2. Anak usia toddler(>1 tahun-3tahun)
Anak usia toddler kegiatan belajar menunjukan karakteristik yang khas yaitu
banyak bergerak, tidak bias diam, dan mulai mengembangkan otonomi dan
kemampuannya untuk dapat mandiri.jenis permainan yang tepat dipilih untuk anak usia
toddler adalah solitary play dan parallel play.
3. Anak usia pra sekolah (>3 tahun-6 tahun)
Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangannya, anak usia prasekolah
mempunyai kemampuan motorik kasar dan halus yang lebih matang daripada anak usia
toddler.anak sudah lebih aktif, kreatif dan imajinatif. Demikian juga kemampuan
berbicara dan berhubungan social dengan temannya semakin meningkat. Oleh karena itu
jenis permainan yang sesuai adalah associative play, dramatic play, dan skill play.
4. Anak usia sekolah(6-12tahun)
Karakteristik permainan untuk anak usia sekolah dibedakan menurut jenis
kelaminnya. Anak laki-laki tepat jika diberikan mainan jenis mekanik yang akan
menstimulasi kemampuan kreativitasnya dalam berkreasi sebagai seorang laki-laki
misalnya mobil-mobilan. Ank perempuan lebih tepat diberikan permainan yang dapt
menstimulasi untuk mengembangkan perasaan, pikiran, dan sikapnya dalam menjalankan
peran sebagai seorang perempuan, misalnya alat untuk memasak dan boneka.
5. Anak usia remaja (13-18 tahun)
Melihat karakteristik ank remaja demikian, mereka perlu mengisi kegiatan yang
konstruktif, misalnya dengan melakukan permainan berbagai macam olahraga,
mendengar, dan atau bermain music serta melakukan kegiatan organisasi remaja yang
positif serta kelompok basket, sepak bola, karang taruna dan lain-lain.prinsipnya,
kegiatan bermain bagi anak remaja tidak hanya sekedar mencari kesenagan dan
meningkatkan perkembangan fisiemosional, tetapi juga lebih kearah menyalurkan minat.
Bakat, aspirasi, serta membantu remaja untuk menemukan identitas pribadinya. Untuk itu
alat permainan yang tepat bias berupa berbagai macam alat olahraga, alat music, dan alat
gambar atau lukis.

E. Alat Permainan Edukatif (APE)

Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan
perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta
berguna untuk :

1. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau


merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus.
Contoh alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali,
dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.
2. Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar.
Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape, TV, dll.
3. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk. Warna,
dll.
Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna,
radio, dll.
4. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu dan
anak, keluarga dan masyarakat.
Contoh alat permainan : alat permainan yang dapat dipakai bersama, misal kotak pasir,
bola, tali, dll.

F. Faktor Yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain


faktor yang mempengaruhi aktivitas bermain pada anak yaitu tahap pertumbuhan
dan perkembangan anak, status kesehatan anak, jenis kelamin anak, lingkungan yang
mendukung, serta alat dan jenis permainan yang cocok atau sesuai bagi anak.
1. Tahap perkembangan anak
Aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak, yaitu sesuai dengan tahapan
pertumbuhan dan perkembangan anak. Tentunya permainan anak usia bayi tidak lagi
efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah. Permainan adalah
stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan demikian, orang tua dan
perawat harus mengetahui dan memberikan jenis permainan yang tepat untuk setiap
tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak.
2. Status kesehatan anak
Untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energy. Walaupun demikian,
bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat sedang sakit. Kebutuhan bermain pada
anak sama halnya dengan kebutuhan bekerja pada orang dewasa. Yang terpenting pada
saat kondisi anak sedang menurun atau anak terkena sakit bahkan dirawat di rumah sakit
orang tua dan perawat harus jeli memilihkan permainan yang dapat dilakukan anak sesuai
dengan prinsip bermain pada anak yang sedang di rawat di rumah sakit.
3. Jenis kelamin anak
Ada beberapa pandangan tentang konsep gender dlm kaitannya dengan permainan
anak. Dalam melaksanakan aktivitas bermain tidak membedakan jenis kelamin laki-laki
atau perempuan.untuk mengembangkan daya piker, imajinatif, kreativitas, dan
kemampuan social anak. Akan tetapi ada pendapat lain yang meyakini bahwa permainan
adalah salah satu untuk membantu anak mengenal identitas diri sehingga sebagian alat
permainan anak perempuan tidak dianjurkan untuk digunakan oleh anak laki-laki.
4. Lingkungan yang mendukung
Terselenggaranya aktivitas bermain yang baik untuk perkembangan anak salah
satunya dipengaruhi oleh nilai moral, budaya dan lingkungan fisik rumah. Lingkungan
rumah yang cukup luas untuk bermain memungkinkan anak mempunyai cukup ruang
gerak untuk bermain, berjalan, mondar-mandir, berlari, melompat, dan bermain dengan
teman sekelompoknya.
5. Alat dan jenis permainan yang cocok
Orang tua harus bijaksana dalam memberikan alat permainan untuk anak. Label
yang tertera pada permainan harus di baca terlebih dahulu sebelum membelinya, apakah
mainan tersebut sesuai dengan usia anak. Alat permainan tidak selalu harus yang dibeli di
took atau mainan jadi, tetapi lebih diutamakan yang dapat menstimulasi imajinasi dan
kreativitas anak, bahkan sering kali disekitar kehidupan anak , akan lebih merangsang
anak untuk kreatif. Alat permainan yang harus didorong, ditarik, dan dimanipulasi, akan
mengajarkan anak untuk dapat mengembangkan kemampuan koordinasi alat gerak.
Permainan membantu anak untuk meningkatkan kemampuan dalam mengenal norma dan
aturan serta interkasi social dengan orang lain.
Menurut Hurlock (1995: 327) faktor- faktor yang mempengaruhi permainan pada anak
adalah :
1) Intelegensi
Pada setiap usia,anak yang pandai lebih aktif ketimbang yang kurang pandai, dan
permainan mereka lebih menunjukan kecerdikan. Dengan bertambahnya usia, mereka
lebih menunjukan perhatian dalam permaian kecerdasan, dramatik, konstruksi, dan
membaca. Anak yang pandai menunjukan keseimbangan perhatian bermain yang lebih
besar., termasuk upaya menyeimbangkan faktor fisik dan intelektual yang nyata.
2) Status sosio ekonomi
Anak dari kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi lebih menyukai kegiatan
yang mahal, seperti lomba atletik, bermain sepatu roda, sedangkan mereka dari kalangan
bawah terlihat dalam kegiatan yang tidak mahal sepertu bermain bola dan berenang.
Kelas sosial mempengaruhi buku yang dibaca dan film yang ditonton anak, jenis
kelompok rekreasi yang dimilikinya dan supervisi terhadap mereka.

c) Jumlah waktu bebas


Jumlah waktu bermain terutama tergantung pada ststus ekonomi keluarga.
Apabila tugas rumah tangga atau pekerjaan menghabiskan waktu luang mereka, anak
terlalu lelah untuk melakukan kegiatan yang membutukan tenaga yang lebih.

G. Bermain Terapeutik dan Terapi Bermain


Permainan yang teraupetik didasari oleh pandangan bahwa bermain bagi anak
merupakan aktivitas yang sehat dan diperlukan untuk kelangsungan tumbuh kembang
anak dan memungkinkan untuk dapat menggali dan mengekspresikan perasaan dan
pikiran anak, mengalihkan parasaan nyeri, dan relaksasi. Dengan demikian, kegiatan
bermain harus menjadi bagian integral dan pelayanan kesehatan anak dirumah sakit
(Brennan, 1994).
Aktivitas bermain yang dilakukan perawat pada anak di rumah sakit akan memberikan
keuntungan sebagai berikut :
1. Meningkatkan hubungan antara klien (anak keluaarga) dan perawat karena dengan
melaksanakan kegiatan bermain, perawat mempunyai kesempatan untuk membina
hubungan yang baik dan menyenangkan dengan anak dan keluarganya. Bermain
merupakan alat komunikasi yang elektif antara perawat dank klien.
2. Perawatan dirumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk mandiri.
Aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak.
3. Permainan pada anak dirumah sakit tidak hanya akan memberikan rasa senang pada

anak, tetapi juga akan membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikiran
cemas, takut, sedih, tegang, dan nyeri. Pada beberapa anak yang belum dapat
mengekspresikan perasaan dan pikiran secara verbal dan/ atau pada anak yang
kurang dapat mengekspresikannya, permainan menggambar, mewarnai, atau
melukis akan membantunya mengekspresikan perasaan tersebut.
4. Permainan yang terupetik akan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk
mempunyai tingkah laku yang positif.
5. Permainan yang memberikan kesempatan pada beberapa anak untuk berkompetisi

secara sehat, akan dapat menurunkan ketegangan pada anak dan keluarganya.

Prinsip prinsip permainan pada anak di rumah sakit :


1. Permainan Tidak boleh bertentangan dengan terapi dan perawatan yang sedang

dijalankan pada anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih permainan
yang dapat dilakukan ditempat tidur dan anak tidak boleh diajak bermain dengan
kelompoknya ditempat bermain khusus yang ada diruang rawat.
Misalnya, sambil tiduran anak dapat dibacakan buku cerita atau diberikan buku
komik anak-anak, mobil-mobilan yang tidak pakai remote control, robot-robotan,
dan permainan lain yang dapat dimainkan anak dan orang tuanya sambil tiduran.
2. Tidak membutuhkan energy yang banyak, singkat dan sederhana. Pilih jenis

permainan yang tidak melelahkan anak, menggunakan alat permainan yang ada
pada anak dan/atau yang tersedia diruangan. Kalaupun akan membuat suatu alat
permainan, pilih yang sederhana, supaya tidak melelahkan anak (misalnya,
menggambar / mewarnai, bermain boneka dan membaca buku cerita).
3. Harus mempertimbangkan keamanan anak. Pilih alat permainan yang aman untuk

anak, tidak tajam, tidak merangsang anak untuk berlari lari dan bergerak secara
berlebihan.
4. Dilakukan pada kelompok umur yang sama. Apabila permainan dilakukan khusus

di kamar bermain secara berkelompok dirumah, permainan harus dilakukan pada


kelompok umur yang sama. Misalnya, permainan mewarnai pada kelompok usia
prasekolah.
5. Melibatkan orang tua. Orang tua mempunyai kewajiban untuk tetap
melangsungkan upaya stimulasi tumbuh kembang pada anak walaupun sedang
dirawat dirumah sakit termasuk dalam aktivitas bermain anaknya. Perawat hanya
bertindak sebagai fasilitator sehingga apabila permainan diinisiasi oleh perawat
orang tua harus terlibat secara aktif dan mendampingi anak dari awal permainan
sampai mengevaluasi permainan anak bersama dengan perawat dan orang tua
anak lainnya.