You are on page 1of 12

SOP MELAKUKAN SUNTIKAN SUBCUTAN

SOP
No. Dokumen :

No. Revisi :

Tgl Terbit :

Halaman :

PUSKESMAS RAWAT INAP TALANG JAWA


DARMAWAN, SKM,M,Kes
NIP. 197206031993021001
Pengertian Memasukkan obat kedalam jaringan
kulit dengan memakai jarum suntik

1. Mendapatkan reaksi setempat


2. Memberikan kekebalan, mis. BCG

Tujuan Sebagai acuan untuk melakukan tindakan suntikan


intracutan

Kejakan 1. Pelaksanaan dilakukan oleh petugas yang terampil


2. Penyuntikan dengan menggunakan spuit sekali pakai

Prosedur Persiapan Alat :

1. Bak instrumen
2. Sput steril 1cc
3. Obat Suntikan
4. Kapas Disenfektan
5. Bengkok
6. Alat tulis/ Buku suntikan

Prosedus :

1. Memberikan penjelasan tindakan pada asien /


keluarga pasien
2. Mencuci tangan
3. Mebama alat kepada pasien
4. Menyiapkan lingkungan
5. Mengatur posisi pasien
6. Menentukan dan menghapus

7. Menusukan jarum suntik dengan sudut 15 -20


Derajat
8. Menusukan obat secara erlahan lahan sampai
terjadi gelembung putih dalam kulit kemudian
jarum dicabut
9. Merapihkan pasien dan alat
10.Mendukumentasikan hasil tindakan

Hal-halyang diperlukan :

1. Daerah suntikan jangan dimasage


2. Jenis obat yang di berikan disesuikan dengan reaksi
suntikan
SOP PENATALAKSAAN LUKA BAKAR

SOP No. Dokumen :

No. Revisi :

Tgl Terbit :

Halaman :1/1
PUSKESMAS
RAWAT INAP
TALANG JAWA
DARMAWAN, SKM,M,Kes
NIP. 197206031993021001
Pengertian Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan

permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan

panas (misalnya : api, air panas, listrik) atau zat-zat yang

bersifat membakar (misalnya : asam kuat dan basa kuat)

Mencegah masukan kuman-kuman dan kotoran

kedalam luka.
Mencegah sekresi yang berlebihan
Mengurangi rasa sakit.
Mengistirahatkan bagian tubuh yang luka atau sakit .
Merawat semua derajat luka bakar sesuai dengan

kebutuhan

Tujuan Sebagai acuan dalam melakukan pengobatan

luka bakar

Kebijakan Perawat yang terampil


Alat-alat yang lengkap

Prosedur PERSIAPAN ALAT STERIL :

1. pinset anatomi 6. Kassa

2. Pinset chirurge 7. Kapas

3. Gunting 8. Hand scoen

4. bengkok 9. spuit

5. kom kecil 10. NaCl

BAKI/POLEY BERISI ALAT NON STERIL :

1. Gunting balutan 4. SSD (silver sulfa

diacin)

2. Plester 5. Tempat sampah


SOP PENATALAKSAAN NEBULIZER

No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO

Tgl Terbit :
Halaman :1/1
PUSKESMAS RAWAT
INAP TALANG JAWA

DARMAWAN, SKM,M,Kes
NIP. 197206031993021001

Pengertian Nebulaizer adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk

mengencerkan dahak dan melonggarkan jalan nafas

Tujuan
Sebagai acuan tindakan nebulaizer

Kebijakan Dibawah tanggung jawab dan pengawasan dokter

Peralatan nebulizer standar

Prosedur
PERSIAPAN ALAT :

1. Tabung O2
2. Obat untuk bronchodilator antara lain : ventolin,
dexamethasone.
Masker oksigen .
1. Nebulaizer

PERSIAPAN PASIEN :

1. Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang hal-hal yang

akan dilakukan.
2. Pasien diatur sesuai kebutuhan

PELAKSANAAN :

1. Perawat cuci tangan


2. Mengisi ventolin pada nebulezer Perawat cuci tangan .
3. Mengisi ventolin pada nebulezer .
4. Mengisi pada tempat humidifaier dengan bronchodilator

misalnya : ventolin (sabutamol) atau kadang diberi

dexamethasone pada status asmatikus.


5. Memasang masker pada pasien
6. Nebulaizer dinyalakan
7. Observasi pasien
8. Selesai dilakukan tindakan pasien dirapikan
9. Alat-alat dibereskan dan dikembalikan.
10. Perawat cuci tangan

Refrensi
http://sopkeperawatan.blogspot.co.id/2014/05/sop-

nebulizer.html
SOP / PROTAP PENANGANAN KETUBAN PECAH DINI

No. Dokumen :

No. Revisi :

SOP
Tgl Terbit :
Halaman :1/1
PUSKESMAS RAWAT DARMAWAN, SKM,M,Kes
INAP TALANG JAWA NIP. 197206031993021001

Definisi :
Umur kehamilan lebih dari 20 minggu

Keluar cairan jernih dari Vagina

Pada pemeriksaan fisik : suhu normal bila tidak infeksi

Pada pemeriksaan obstetrik bunyi jantung janin biasanya

normal.

Pemeriksaan inspekulo:

1. Terlihat cairan keluar dari ostium uteri


eksternum.
2. Kertas Nitrazin merah akan jadi biru.
Kriteria Diagnosa :
Fistula vesiko vaginal dengan kehamilan

Stress inkontinensia

Diagnosa Banding :
Pemeriksaan leukosit darah, bila > 15.000/mm mungkin ada

infeksi.

USG : membantu menentukan usia kehamilan, letak janin,

berat janin, letak plasenta, gradasi plasenta serta jumlah air

ketuban.

Nilai bunyi jantung janin dengan stetoskop Lacnee atau

dengan fetal phone atau dengan CTG. Bila ada infeksi intra

uteri atau peningkatan suhu bunyi jantung janin akan

meningkat

Pemeriksaan :Dokter Umum, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan

penunjang
Standar tenaga :Dokter umum atau dokter spesialis kebidanan dan kandungan
Perawatan RS :Harus dirawat di rumah sakit sampai air ketuban berhenti atau

setelah perawatan dari tindakan terminasi kehamilan selesai

A. Konservatif :

Rawat di RS

Antibiotika kalau ketuban pecah < 6 jam (ampisilin atau

eritromicin bila tidak tahan ampisilin).

Umur kehamilan < 32-34 minggu, dirawat selama air ketuban


masih keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.

Bila sudah 32-34 minggu masih keluar, maka pada usia

kehamilan 35 minggu pertimbangan untuk terminasi

kehamilan sangat tergantung pada kemampuan perawatan.

Pada usia kehamilan 34 minggu berikan steroid selama 7 hari,

untuk memacu kematangan paru janin dan kalau mungkin

diperiksakan kadar lesitin dan spingomeilin tiap minggu.

B.Aktif:

Kehamilan : 36 minggu, bila 6 jam belum terjadi persalinan

induksi dengan oksitosin,

bila gagal seksio sesarea.

Pada keadaan CPD, letak lintang seksio sesarea

Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi

dan persalinan diakhiri.

Bila pelvik skor < 5, diakhiri persalinan dengan seksio

sesarea.

Bila pelvik skor >5, induksi persalinan, partus per vaginam.

Terapi
Infeksi
Kematian janin, karena infeksi atau prematuritas.

Penyulit Untuk tindakan operatif perlu


Informed Consent
Konsultasi
Konservatif : Sangat tergantung pada usia kehamilan,

lamanya air ketuban keluar, keadaan umum pasien.

Aktif : partus per vaginam 3- 4 hari,

Seksio sesarca :7/ hari.

Lama Perawatan 3-5 hari

Masa Pemulihan 2 minggu

Output Sembuh total

PA -

Otopsi -

Referensi
1. Standar Pelayanan Medik, PB IDI, 2002

2. Cunninghan, Mac Donald, Cant. William Obstetrics.

Eighteenth Ed. P 750-752 Appleton & Lange, 1989.

3. Friedman, Acker, Sachs. Obstetrical Decision Making.

Second Ed. P 170 Manly, Graphig Asian Edition, 1988.

4. Kebijakan Pelayanan Obstetri & Ginekologi Lab/UPF

Kebidanan & kandungan FK Unair / RSUD Dr. Soetomo


Surabaya, 1982.