You are on page 1of 13

PENGARUH SEFT (SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TEHNIQUE)

TERHADAP DIMENSI KEBUTUHAN SPIRITUAL PADA PASIEN


STROKE
DI RSUD PANDAN ARANG
BOYOLALI
Ikhwan Rifky ', Setiyawan2, Erlina Windyastuti3

Abstrak
Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mempertahankan atau
mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama. Terapi Spiritual Freedom
Technique (SEFT) termasuk tehnik relaksasi, doa yang diafirmasikan oleh klien pada saat
akan dimulai hingga sesi terakhir SEFT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh SEFT terhadap dimensi kebutuhan spiritual pasien stroke.
Jenis penelitian ini kuantitatif. Populasi penelitian ini penderita stroke di RSUD
Pandan Arang Boyolali sebanyak 35 orang dengan sampel 35 responden menggunakan
tehnik total sampling serta alat pengambilan data kuisioner prepost. Analisis data
menggunakan distribusi paired sample test.
Hasil penelitian menunjukkan usia terbanyak 40-49 tahun yaitu 14 responden
(40%), pendidikan terbanyak SD yaitu 12 responden (34,3%), pekerjaan terbanyak petani
yaitu 13 responden (37,1%), jenis kelamin terbanyak laki-laki yaitu 19 responden (54,3%).
Dimensi kebutuhan religi berdoa untuk orang lain dan membaca buku keagamaan paling
banyak terjawab ya yaitu sebanyak 34 reponden (97,14%) Hasil penelitian kebutuhan
spiritual berdasarkan pre test yaitu mean 12,22. Setelah dilakukan intervensi SEFT hasil
kebutuhan spiritual berdasarkan post test yaitu mean 14,82. Hasil uji paired sample test
dengan nilai signifikasi (p-value) 0,00. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p- value (0,00
< 0,05) maka hasil penelitian ada pengaruh SEFT terhadap kebutuhan pasien stroke di
RSUD Pandan Arang Boyolali.

Kata Kunci : Kebutuhan spiritual, Stroke, SEFT Daftar


pustaka : 36 (2006-2013)
PENDAHULUAN seseorang dan rasa terhubung dengan sesuatu
Data stroke yang dikeluarkan oleh yang lebih tinggi, alami atau kepada beberapa
Yayasan Stroke Indonesia tahun 2010 tujuan yang lebih besar dari diri sendiri.
menyatakan bahwa penderita stroke di Spiritualitas merupakan faktor penting yang
Indonesia jumlahnya terus meningkat dari tahun membantu individu mencapai keseimbangan
ketahun. Pasien rawat inap di rumah sakit yang diperlukan untuk memelihara kesehatan
karena stroke jumlahnya sekitar 23.000 orang. dan kesejahteraan. Spiritual yang positif
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 memengaruhi dan meningkatkan kesehatan,
mendata kasus stroke di wilayah perkotaan di kualitas hidup, perilaku yang meningkatkan
33 provinsi dan 440 kabupaten mengumpulkan kesehatan dan kegiatan pencegahan penyakit
sebanyak 258.366 sampel rumah tangga (Perry & Potter, 2009). Spiritual merupakan
perkotaan dan 987.205 sampel anggota rumah sesuatu yang dipercayai oleh seseorang dalam
tangga untuk pengukuran berbagai variabel hubungannya dengan kekuatan yang lebih
kesehatan masyarakat, hasilnya adalah penyakit tinggi (Tuhan) yang menimbulkan suatu
stroke merupakan pembunuh nomor 1 dengan kebutuhan serta kecintaan terhadap adanya
jumlah mencapai 15,4 persen dari penyebab Tuhan dan permohonan maaf atas segala
kematian semua umur di Indonesia (Depkes RI, kesalahan yang pernah diperbuat (Hidayat,
2011) 2013)
Stroke didefinisikan sebagai defisit (gangguan) Banyak penyakit kronis yang mengancam
fungsi system saraf yang teijadi mendadak dan kebebasan sesorang yang menyebabkan
disebabkan oleh gangguan peredaran darah ketakutan, kecemasan, dan tekanan spiritual.
otak. Stroke terjadi akibat ganguan pembuluh Ketergantungan perawatan diri pada orang lain
darah di otak. Gangguan pembuluh darah otak akan menimbulkan perasaan tidak berdaya.
dapat berupa tersumbatnya pembuluh darah Pasien yang memiliki pemahaman
otak atau pecahnya pembuluh darah di otak. kesejahteraan spiritual, merasakan hubungan
Otak yang seharusnya mendapat pasokan dengan kekuatan tertinggi dan orang lain, dan
oksigen dan glukosa keotak akan terganggu. dapat menemukan arti dan tujuan hidup, akan
Kekurangan pasokan oksigen dan glukosa dapat beradaptasi lebih baik dengan penyakit
keotak akan memunculkan kematian sel saraf kronis yang dimilikinya, dimana membantu
(neuron). Gangguan fungsi otak ini akan mereka mencapai potensi dan peningkatan
memunculkan gejala stroke (Pinzon dan kualitas hidup mereka (Perry & Potter, 2009)
Asanti,2010) Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique
Kebutuhan Dasar Manusia pada pasien dengan (SEFT) termasuk tehnik relaksasi, merupakan
pasien stroke memperhatikan aspek fisik, salah satu bentuk mind-body therapy dari terapi
psikologis, sosiologi, budaya, dan komplementer dan alternatif keperawatan SEFT
perkembangan spiritual. Spiritual sering merupakan teknik penggabungan dari sistem
didefinisikan sebagai kesadaran dalam diri energi tubuh (energy medicine) dan terapi
spiritual dengan menggunakan tapping pada doa dengan kalimat tertentu ketika setiap titik-
titik-titik tertentu pada tubuh. Terapi SEFT titik meridian diketuk ringan selama tapping
bekerja dengan prinsip yang kurang lebih sama (Zainuddin, 2009).
dengan akupuntur dan akupresur. Ketiganya Sejauh ini banyak peneliti yang meneliti pasien
berusaha merangsang titik-titik kunci pada stroke dari kebutuhan seksual, kebutuhan fisik,
sepanjang 12 jalur energi (energy meridian) kebutuhan nutrisi. Belum ada peneliti yang
tubuh. Bedanya dibandingkan dengan metode berfokus untuk meneliti kebutuhan spiritual
akupuntur dan akupresur adalah teknik SEFT pada pasien stroke. Untuk itu peneliti tertarik
menggunakan unsur spiritual, cara yang untuk melakukan penelitian tentang, pengaruh
digunakan lebih aman, lebih mudah, lebih cepat SEFT (Spiritual Emotional Freedom
dan lebih sederhana, karena SEFT hanya Technique) terhadap dimensi kebutuhan
menggunakan ketukan tangan (tapping) spiritual pasien stroke.
(Zainuddin, 2009). Pada pasien stroke hampir semua mengalami
Teknik ini menggabungkan sistem energi tubuh perubahan mental dan dampak psikologis yang
(energy medicine) dan terapi spiritual yang luar biasa semua hal tersebut dapat
digunakan sebagai salah satu teknik terapi mempengaruhi kebutuhan spiritual pasien
untuk mengatasi masalah emosional dan fisik stroke. Marah, sedih, menyalahkan diri sendiri,
yaitu dengan melakukan ketukan ringan dan merasa tidak berdaya sering kali
(tapping) pada titik syaraf (meridian tubuh). menurunkan kebutuhan spirutual pasien stroke
Spiritual dalam SEFT adalah doa yang sehingga muncul dampak emosiaonal.
diafirmasikan oleh klien pada saat akan dimulai Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh
hingga sesi terapi berakhir, yaitu fase set-up, peneliti di RSUD Pandan Arang Boyolali,
tune-in, dan tapping. Pada fase set-up, klien melalui hasil wawancara peneliti dengan kepala
diminta untuk berdoa kepada Tuhan Yang ruang bangsal Granium kebutuhan spiritual
Maha Esa dengan penuh rasa khusyu, ikhlas pasien stroke dikaji mengenai aktivitas ibadah
menerima dan kita pasrahkan kesembuhannya selama dan sebelum sakit. Dengan hanya
pada Tuhan Yang Maha Esa. Pada fase tune-in, dilakukan pengkajian tentang aktivitas ibadah
dilakukan dengan cara merasakan rasa sakit selama dan sebelum sakit, aspek kebutuhan
yang dialami, lalu mengarahkan pikiran spiritual lain tidak terkaji seperti rasa percaya,
ketempat rasa sakit, dan secara bersamaan keyakinan, kemauan memberi maaf, menerima
dibarengi dengan hati dan mulut mengucapkan keadaan, serta keinginan untuk mendekatkan
doa. Bersamaan dengan tune-in ini dilakukan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika pasien
fase ketiga yaitu tapping. Pada proses ini (tune- hanya terkaji dari aktivitas ibadah selama dan
in yang dilakukan bersamaan dengan tapping), sebelum sakit maka keadaan emotional pasien
yang akan menetralisir emosi negatif atau rasa tidak stabil, tidak menerima keadaan (penyakit
sakit fisik. Klien juga diminta mengucapkan stroke), dan rasa percaya diri pasien menurun.
Di ruang Cempaka dan granium RSUD Pandan
Arang Boyolali jumlah pasien Stoke yaitu 47
Tabel 4.4 Distribusi Uebixtruliaii dimeiisi religi pada lcebu.tulT.aii spiritual pasien

strolce
Kebutiihail Religi PR2E POST
Ya F c%5 Tidak F ( <yy Ya F Tidak F- <<0

Berdoa dengan 34 97.14 2S 5 34 97.14 2,85


1 1
orang lain
Seseorang berdoa 34 97.14 2,8 5 33 94,28 5,71
1 2
untuk anda
Berdoa untuk diri 34 97.14 2S 5 33 94.28 5,71
1 2
sendiri
B eralilr dan 1S 5 1.42 17 4S.57 25 7 1.42 io 28.5 7
iiiendLekatkaii
dalam keagungan
aJk.au Icelia dir an
yang lebili tinggi
(keesa an3 T ulxan._
malaikat)
Berpartisipasi dalam 29 82.85 6 1 7.14 30 85.71 5 14,28
upacara
ke agamaan
Membaca ibolcn 30 85.71 5 14.28 34 97.14 2,S5
1
keagamaan

pasien pada 3 bulan terakhir yaitu bulan dilaksanakan di ruang penyakit dalam di RSUD
Februari, Maret, dan April 2016. Pandan Arang Boyolali bulan Mei - Juli Tahun
METODE PENELITIAN 2016 sebanyak 35 responden.
Rancangan penelitian yang digunakan HASIL PENELITIAN
dalam penelitian ini adalah rancangan rancangan Karakteristik Responden
Quasi - Eksperiment dengan menggunakan Usia
rancangan One Group Pra - Post Tes without Usia responden pada penelitian ini mayoritas
control Design yaitu penelitian yang mencoba usia 40-49 tahun sebanyak 14 responden (40%).
untuk membuktikan pengaruh tindakan pada Tingkat Pendidikan
satu kelompok subjek. Sampel yang digunakan Tingkat pendidikan terbanyak adalah pendidikan
dalam penelitian ini adalah total Sampling. SD sebanyak 12 responden (34,3%) dari total
Penelitian ini responden 35 orang.

Tabel 4.5 Distrintousi dimeiisi kedamaian pada Jkiebutolian spiritual pasien stroke

Kebutuhan TIRjE POST


Ya i' Tidak F Ya F (^5 Tidak F

Tins; gal 27 77,14 S 22,85 82,85 6 17,14


cl item pat yang
tenang dan
dam ad
Menemukan 27 77,14 S 22,85 28 SO 7 20
kedamaian
batm
Berbicata dengan 17 4 8,57 IS 5 1 ,42 22 62,85 13 37,14
orang
lain mengenai
ketalciLitan dan
kekl l awat ir an
Menyatu 1-4 40 21 60 23 65,71 12 34,28
C meinkin ati}
dengan
keindLalxan alam
Let>ila disayang 2,1 <50 1-4 40 30 85,71 5 14,28
orang lain
Pekerjaan terjawab ya yaitu sebanyak 30 (85.71 %)
Pekerjaan paling banyak adalah petani yaitu responden dari total 35 responden.
sebanyak 13 responden (37,1%). Berdasarkan tabel 4.6 dimensi kebutuhan
Distribusi Frekuensi Kebutuhan Spiritual eksistensi diri membuka aspek dalam kehidupan
Sebelum dan Sesudah dilakukan SEFT anda paling banyak terj awab ya pada pretest
yaitu sebanyak 22 (62,85 %) responden dari
Berdasarkan tabel 4.4 dimensi kebutuhan religi total 35 responden. Sedangkan pada posttest
berdoa untuk orang lain, seseorang berdoa untuk dimensi kebutuhan kebutuhan eksistensi diri
anda, berdoa untuk diri sendiri paling banyak membuka aspek dalam kehidupan anda paling
terjawab ya pada pretest yaitu sebanyak 34 banyak terjawab ya yaitu sebanyak 29 (82,85 %)
(97,14 %) responden dari total 35 responden. responden dari total 35 responden.
Sedangkan pada posttest dimensi kebutuhan
religi berdoa dengan orang lain, membaca buku Berdasarkan tabel 4.7 dimensi kebutuhan untuk
keagamaan paling banyak terjawab ya yaitu memberi beralih menjadi orang yang penuh
sebanyak 34 (97,14 %) responden dari total 35 cinta dan kasih dan memberi sesuatu untuk diri
responden. sendiri paling banyak terjawab ya pada pretest
Berdasarkan tabel 4.5 dimensi kebutuhan yaitu sebanyak 26 (74,28 %) responden dari
kedamaian tinggal ditempat yang damai dan total 35 responden. Sedangkan pada posttest
menemukan kedamaian batin paling banyak dimensi kebutuhan untuk memberi beralih
terjawab ya pada pretest yaitu sebanyak 27 menjadi orang yang penuh cinta dan kasih
(77,14 %) responden dari total 35 responden. paling banyak terjawab ya yaitu sebanyak 28
Sedangkan pada posttest dimensi kedamaian (80%) responden dari total 35 responden.
lebih disayang orang lain paling banyak
Tabel 4.7 Distribusi dimensi kebutuhan untuk memberi pada kebutuhan

spiritual pasien stroke


Kebutuhan untuk PRE POST
memberi Ya F (%) Tidak F (%) Ya F (%) Tidak F (%)
Beralih 26 74,28 9 25.71 28 80 7 20
menjadi orang
yang penuh
cinta dan kasili
Memberi sesuatu 26 74.28 15 42.85 26 74.28 9 25.71
untuk diri sendiii

Menjadi pelipur 57.14 15 42.85 62.85 13 37.14


20 22
lara
orang lain A ;1 :e
G n t n P C sefl
yang didapatkan penderita stroke terbanyak
Analisis pengaruh SEFT terhadap kebutuhan sebagai salah satu sifat karakteristik tentang
spiritual pasien stroke di RSUD Pandan Arang orang, dalam studi epidemiologi merupakan
Boyolali variabel yang cukup penting karena cukup
banyak penyakit yang ditemukan dengan
mea Std. T P value
n
Hasil uji paired sample test dengan nilai deviati

signifikansi (p-value) 0,000. Hasil uji statistik on


Pre 12.2 2.53 -6.014 0.000
menunjukkan nilai p-value (0,000 < 0,05) maka
2
hasil hitungan bermakna. Sehingga keputusan
Post 14.8 1.80
uji adalah Ha diterima dan Ho ditolak artinya
2
terdapat pengaruh SEFT terhadap kebutuhan
Spiritual pasien stroke di RSUD Pandan Arang berbagai variasi frekuensi yang disebabkan oleh
Boyolali. umur (Noor, 2008).

PEMBAHASAN Penelitian lain yang berhubungan


Usia dengan penelitian ini adalah penelitian (Puspita
Pembahasan tentang penelitian sesuai dengan dan Putro, 2008) yang menyatakan bahwa risiko
karakteristik responden berdasarkan usia teijadinya stroke pada kelompok umur > 55
menurut Depkes (2009) adalah masa dewasa tahun adalah 3,640 kali dibandingkan kelompok
akhir 36- 45 tahun, masa lansia awal 46- 55 umur 55 tahun. Stroke yang menyerang
tahun, masa lansia akhir 56 - 65 tahun, masa kelompok usia diatas 40 tahun adalah kelainan
manula 65 - sampai atas. Sesuai dengan hasil otak non-traumatik akibat proses patologi pada
pada usia 40-49 sebanyak 14 (40%). Umur sistem pembuluh darah otak (Muhammad
saifudin dalam Majalah Farmacia, 2009). keluarganya dalam mencari nafkah. Pekerjaan
Peningkatan frekuensi stroke seiring dengan yang dilakukan dapat menyebabkan salah satu
peningkatan umur berhubungan dengan proses faktor stres. Stres merupakan salah satu faktor
penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami resiko yang berada pada urutan terbawah
kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah sebagai faktor paling berpengaruh terhadap
otak. Pembuluh darah menjadi tidak elastis terjadinya stroke (Utami, 2009).
terutama bagian endotel yang mengalami Hasil studi dari berbagai penelitian
penebalan pada bagian intima, sehingga menunjukkan bahwa stres merupakan salah satu
mengakibatkan lumen pem-buluh darah faktor utama pemicu hipertensi, yang
semakin sempit dan berdampak pada penurunan merupakan faktor terbesar penyebab terjadinya
aliran darah otak (Kristiyawati dkk., 2009). serangan stroke (Herke, 2006). Fakta inilah
Pendidikan yang menjadi salah satu alasan bahwa stres
Tingkat pendidikan terbanyak pada hasil perlu mendapatkan perhatian khusus dari setiap
penelitian adalah pendidikan SD sebanyak 12 penderita stroke. Beberapa penelitian
responden (34,3%). Pendidikan, pada mengemukakan bahwa spiritual dapat
umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang meningkatkan koping, dukungan sosial,
semakin baik pula pengetahuannya khususnya optimism, harapan, mengurangi depresi dan
pada pengetahuan tentang Stroke (Hendra, kecemasan, serta mendukung perasaan relaksasi
2008). Tingkat pendidikan individu sangat (Hamid, 2006).
berperan dengan pengetahuan mereka tentang Analisis pengaruh SEFT terhadap kebutuhan
kesehatan, dimana pendidikan dapat spiritual pasien stroke di RSUD Pandan Arang
mempengaruhi pekeijaan dan pendapatan. Boyolali Hasil uji paired sample test dengan
Rendahnya tingkatan pendidikan akan nilai signifikansi (p-value) 0,000. Hasil uji
menyebabkan kurangnya informasi kesehatan statistik menunjukkan nilai p-value (0,000 <
yang akan didapatkan, sehingga menyebabkan 0,05) maka hasil hitungan bermakna. Sehingga
pengetahuan tentang kesehatan juga kurang. keputusan uji adalah Ha diterima dan Ho ditolak
Pada penelitian Kuper dkk (2007), ditemukan artinya terdapat pengaruh SEFT terhadap
bahwa ada perbedaan yang bermakna terutama kebutuhan Spiritual pasien stroke di RSUD
dalam tingkat pendidikan untuk terjadinya risiko Pandan Arang Boyolali.
stroke. Pengaruh SEFT terhadap kebutuhan
Pekerjaan spiritual pasien stroke dapat dilihat dari hasil uji
Pekerjaan paling banyak adalah petani yaitu paired sample test dengan nilai signifikansi (p-
sebanyak 13 responden (37,1%). Menurut teori value) 0,000. Hasil uji statistik menunjukkan
Wawan dan Dewi (2011), pekerjaan adalah nilai p-value (0,000 < 0,05) maka hasil hitungan
sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk bermakna. Sehingga keputusan uji adalah Ha
menunjang kehidupannya dan kehidupan diterima dan Ho ditolak artinya terdapat
pengaruh SEFT terhadap kebutuhan Spiritual tersebut.
pasien stroke.Terapi spiritual dapat SIMPULAN
memberikan ketenangan, mengurangi rasa takut 1. Karakteristik Responden menunjukkan usia
dan mendekatkan diri kepada Tuhan dan responden pada penelitian ini mayoritas
menguatkan keyakinan spiritual, keyakinan usia 40-49 sebanyak 14 (42,4%). Tingkat
kepada Tuhan untuk menyembuhkan pendidikan terbanyak adalah pendidikan
penyakitnya. Terapi spiritual menimbulkan SD sebanyak 12 responden (36,4%).
respon relaksasidan kesehatan, dapat Pekeijaan paling banyak adalah petani
menimbulkan keyakinan dalam perawatan diri, yaitu sebanyak 13 responden (39,4%).
dan bermanfaat terhadap kecemasan dan panik 2. Gambaran pre dan post kebutuhan spiritual
pada pasien terminal yang dapat menimbulkan pada pasien stroke adalah ada perbedaan
ketenangan (Syed, 2006). Menurut Kozier, kebutuhan spiritual sebelum dan sesudah
Berman, & Snyder (2010) keyakinan spiritual pemberian SEFT. Sebelum pemberian
ini akan memberikan rasa tenangdan harapan SEFT mean 12.22 dan setelah pemberian
positif bagi yang SEFT mean 14.82.
mengalami sakit, sehingga diharapkan dapat 3. Adanya pengaruh pengaruh SEFT (Spiritual
menurunkan kecemasannya. Keadaan psikologis Emotional Freedom Technique) terhadap
yang tenang akan mempengaruhi sistim limbik kebutuhan spiritual pasien stroke dengan
dan sarafotonom yang nilai p-value (0,000 < 0,05). SARAN
menimbulkan rileks, aman, dan menyenangkan 1. Bagi peneliti pengembangan ilmu
sehingga merangsang pelepasan zat kimia pengetahuan keperawatan adalah hasil
gamma amino butric acid, enchepalin dan beta penelitian ini dapat membantu peserta
endorfin yang akan mengeliminasi didik keperawatan untuk belajar
neurotranmiter rasa nyeri maupun kecemasan memahami tentang kesejahteraan
sehingga menciptakan ketenangan dan spiritual pasien yang dapat dijadikan
memperbaiki suasana hati (mood ) pasien. Hasil sebagai sumber belajar. Selanjutnya
penelitian lain juga mengemukakan bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
spiritual berpengaruh terhadap stress pada mengenai kesejahteraan spiritual
pasien penyakit kronis dan berpengaruh sesudah program pengobatan rumah
terhadap ketenangan psikologis (Rowe & Allen sakit, dan melihat tingkat kesejahteraan
2006). Pemenuhan kebutuhan spiritual sangat spiritual saat perawatan dirumah
penting ketika sedang mengalami sakit fisik. 2. Bagi Institusi Pendidikan
Ketika kondisi fisik terganggu ada kemungkinan Dapat memberikan dan memperkaya
mengalami perubahan emosi pada. Pada kondisi ilmu keperawatan khususnya intervensi
tersebut, komponen spiritual seseorang sangat keperawatan dalam pemenuhan pada
penting untuk mengatasi perubahan emosi kebutuhan spiritual pasien stroke
3. Bagi Rumah Sakit Backer J, U, Bandera C.R. (2006) Stroke
Bagi praktik keperawatan di ruangan Iskemik. Emedicine Journal Vol: 35.
perawatan pasien Stroke di RSUD
Pandan Arang Boyolali, hasil penelitian Bussing, A., Balzat, H.,& Heuseer. P. (2010).
ini dapat dijadikan untuk membuat Spiritual Needs Of Patiens With
Standar Operasional Prosedur (SOP) Chronic Pain Diseases And Cancer-
mengenai kesejahteraan spiritual stroke, Validation Of The Spiritual Needs
sehingga perawat dapat memberikan Questionnaire. Eur J Med Res. 2010,
pendampingan pemenuhan dan 15, 226-273.
peningkatan spiritual, motivasi dan
penguatan spiritual pasien Stroke. Bustan. (2007). Epidemiologi Penyakit Tidak
4. Bagi Peneliti Lain Menular. Jakarta: Rineka Cipta
Dapat melaksanakan penelitian lebih
lanjut mengenai intervensi Depkes. (2011). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta.
keperawatan yang berkaitan dengan
kebutuhan spiritual pasien stroke. Dewanto G, Suwono, W.J. Riyanto. B. Turune.
DAFTAR PUSTAKA Y. (2009). Panduan Praktis Diagnosa
Adegbola M. (2006). Spirituality and Quality of Dan Tatalaksana Penyakit Saraf.
Life in Chronic Illness, J Theory Jakarta:EGC
Construction & Testing. Vol 10.Issue
2.p42. Dokter , P, A. , Perry, A.G. (2009).
Fundamental Keperawatan. Jakarta:
American Heart Association. 2010. Heart Salemba Medika.
Disease and Stroke Stastics_2010
Update: A Report From the American Fisher, J. W. (2009). Assesing & Nurturing
Heart association. Available from: Spiritual Well-Being via Educationb
http://circ.ahaj ournals.org (pp. 1-266). Ballarat
./cgi/full/12
1/7/e46. (Accessed 12 March 2011) Giyer. Jones D & Gomez. (2009). Stroke A
Protical Approach. Philadelphia:
Aston Universitys Chaplaincy Team. (2014). Williams & Wilkns, A Wolter kluiner
Spiritual Wellbeing. Retrieved 31 Juli Bussiness Page: 15
2014, from Groleau, D., Whitley, R., Lesperance, F., &
http://www.aston.ac.uk/staff/hr/wellb Kirmayer, L. J. (2010). Spiritual
reconfigurations of self after a
eing/psychological
myocardial infarction: Influence of
wellbeing/spiritualwellbeing/.
culture and place. Health & place, pencegahan, dan Pengobatan.
16(5),853-60. Jakarta: PT Bhuana Ilmu,
doi:10.1016/j .healthplace.2010.04.0
Kuper H, Adami HO, Theorell T,Weiderpass E.
Hamid. (2009). Bunga Rmapai Asuhan The sociocomic gradient in the
Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta incidence of stroke: a prospective
: EGC study in middle-aged women in
Swedan. PubMedcen. 2007
Harsono. (2009). Kapita Selekta Neurologi.
Cetakan Ke 7. Yokyakarta: Gadjah Lumongga, Fitriani. (2007). Aterosklerosis .
Mada University Press Medan: Universits Sumatera Utara
Majalah Farmacia. 2009. Lebih Baik
Hendra (2008). Pengetahuan. http:// Dicegah Daripada Sekadar Momok.
ajangberkarya. wordpress. http: //www .maj alah-
com/2008/06/07/ konsep- farmacia.com/rubrik/one_news_print
pengetahuan/. Diakses pada tanggal .asp?IDNew s=1245
10 Agustus 2016.
Miscbach, J. (2007) Pandangan Umum
Herke, J.O. (2006). Karakteristik dan Faktor Mengenai Stroke. Jakarta: EGC
Berhubungan dengan Hipertensi.
Jakarta. 10 (2), 78 - 88. Noor, N.N. 2008. Epidemiologi Edisi Revisi.
Jakarta: Penerbit Rineka Citra.
Hidayat A,A. (2013). Pengantar Kebutuhan
Dasar Manusia.1. Aplikasi Konsep Pinzon R, Asanti. (2010). Awas Stroke!
Dan Proses Keperawatan. Jakarta: Pengertian, Gejala, Tindakan,
Salemba Medika. Perawatan, Dan Pencegahan.
Yogyakarta: EGC.
Hidayat, A. Y. (201)3. Psikologi Kematian;
Mengubah Kematian menjadi Price, C. (2006) Stroke Associated Infection And
Optimieme. Yogyakarta: Arcan. The Stroke Induced
Israr Y. (2008). Stroke Karya Tulis Ilmiyah. Immunodepression Syndrome.
Fakultas Kedokteran Universitas ACNR; 8(4)
Riau. Pekanbaru: Rumah sakit Umum
Arifin Azmas. Pudjonarko Dwi. (2011). The Role of DWI and
PWI for Early Diagnosis of Stroke ed
Junaidi, I. 2010. Hipertensi/Pengenalan, Abdul Gofir. Dalam Proceeding
National Scientific Metting Stroke, Yogiantoro M. (2006). Hipertensi Esensial
Neurosonology, Neuroimaging, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Neurointervention, and Indonesia Dalam Edisi IV. Jakarta
neurology Assosiation ASEAN Stroke
Advisory panel Meeting 2010. Zainuddin A.F. (2009). SEFT For Healing,
Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press Success, Heappiness, Greatness.
Puspita, M dan Putro, G. 2008. Hubungan Jakarta: Afzan Publishing.
Gaya Hidup terha-dap Kejadian
Stroke di Rumah Sakit Umum daerah
Gambiran Kediri, Buletin Penelitian
Sis-tem Kesehatan, Volume 11 (3),
hal 263-269.

Rahmawati, Ita. (2009). Faktor Risiko Kejadian


Stroke Pada Penderita Diabetes
Melitus Dengan Komplikasi. Skripsi:
UNAIR.

Sugiono, 2015. Metode Penelitian Pendidikan;


Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
Dan R&D. Bandung :Alfabeta.

Utami, P. (2009). Solusi Sehat Mengatasi


Stroke. Jakarta : Agromedia Pustaka

Wahjoepramono, Eka J. (2005). Stoke Tata


Laksana Fase Akut. Jakarta:
Universitas Pelita Harapan

Wiratmoko, H. 2008. Deteksi Dini Serangan


dan Penanganan Stroke di Rumah,
Jurnal Infokes STIKES Insan Unggul,
hal. 37-44. http://isjd.pdii.lipi.
go.id/admin/jurnal/22103844_2085-
028X.pdf\