You are on page 1of 3

Hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat pada martabat manusia sebagai insan

ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan dalam UU No. 39 Tahun 1999 dinyatakan bahwa hak
asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (ketentuan Umum, pasal 1 sub 1).
Salah satu hak yang berhak dimilliki warga Indonesia yaitu hak kebebasan beragama.
Yangmana Indonesia sendiri terdiri atas beragam agama dan keyakinan. Akan tetapi Indonesia
merupakan negara yang menjunjung tinggi keberagaman warganya tersebut. Hal ini dibuktikan
dengan jaminan kebebasan beragama di dalam Pasal 29 ayat 2 UUD 1945 yang
berbunyi : Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Jadi, sudah
jelas bahwa hal mengenai kebebasan beragama ini sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, karena
telah diatur dalam konstitusi negara.
Akan tetapi, kenyataan yang terjadi di masyarakat adalah masih adanya aksi atau
tindakan yang dilakukan beberapa masyarakat atau ormas yang mencerminkan
ketidaktoleransian antar umat beragama. Bahkan tindakan mereka itu menimbulkan kerugian
materiil dan inmateriil bagi orang lain. Terlebih korban jiwapun juga berjatuhan terkait aksi
tersebut.
Contoh nyata yang terjadi akhir-akhir ini adalah kasus penyerangan warga penganut
aliran Syiah oleh kelompok masyarakat yang dikenal Sunni di Madura. Pengrusakan dan
penyerangan tersebut terjadi karena perbedaan pemahaman antara salah satu anggota aliran
tersebut, yang kebetulan juga berstatus sebagai saudara kakak adik. Bahkan, dalam kasus
tersebut telah menelan korban jiwa dan juga kerugian materiil warga Syiah. Akan tetapi,
pemerintah dinilai lambat dalam upaya mencegah kasus yang menelan korban tersebut.
Harusnya, berdasarkan undang-undang tentang kebebasan beragama, pemerintah mampu
mengatasi terlebih mencegah kejadian seperti di atas. Supaya hak-hak yang dimiliki setiap warga
negara dalam menjalankan agama dan keyakinannya dapat berjalan baik dan damai.
Bahkan, kasus tersebut tidak terjadi satu atau dua kali. Ada juga kasus-kasus lain yang
sama seperti, kasus penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik, yang bahkan tempat
beribadah mereka juga dirusak. Selain itu, tragedi di Temanggung yang mengakibatkan sebuah
gereja dirusak oleh masyarakat tertentu. Selain itu akhir-akhir ini telah terjadi pertanyaan yang
tidak diduga-duga yaitu apakah pemelukan agama di Indonesia ini bebas? Lalu kenapa
pemerintahan disangkut pautkan dengan agama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut datang dari pemikiran kebanyakan masyarakat yang
melihat segala kontroversi negara disangkut pautkan dengan agama. Apalagi MUI selalu dengan
ringannya memberikan cap sesat pada suatu kelompok tertentu. Dan itu juga yang membuat
ormas-ormas itu seakan mendapati legimitasi untuk melakukan tindak anarkis.
Maka dengan demikian, semestinya pemerintah janganlah berlaku seolah-olah negara ini
adalah negara agama. Dan negara pun tidak usah terlalu mencampuri urusan agama. Karena jika
negara terlalu mengintervensi agama, di khawatirkan negara itu akan menganggu agama itu
sendiri. Oleh karena itu, tindakan yang berorientasikan anarkisme semacam itu haruslah kita
cegah, karena dapat merugikan pihak lain. Supaya, hak asasi manusia (HAM) di Indonesia tetap
terjaga.