You are on page 1of 15

Fungsi Organ Keseimbangan pada Manusia

Fridolyn Edgar
(102014063)
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510
Metal.lungs666@gmail.com

Abstrak

Organ tubuh yang bertugas mengatur keseimbangan ialah otak kecil dan telinga. Cerebellum
terletak pada belakang kepala dan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu vestibulocerebellum,
spinocerebellum dan cerebrocerebellum. Vestibulocerebellum-lah yang menjadi pusat
keseimbangan dalam cerebellum. Tersusun atas sel stellata, sel basket dan sel purkinye. Telinga
dibagi lagi menjadi 3 bagian, yang terdiri dari telinga luar yang bertugas untuk mengumpulkan
dan menyalurkan gelombang suara ke telinga tengah. Telinga tengah yang bertugas untuk
memindahkan getaran membran timpani ke cairan di koklea.

Kata Kunci: keseimbangan, otak kecil, telinga, aparatus vestibularis

Abstract

Organ that is responsible for managing the balance of the brain and ear. The cerebellum is
located at the back of the head and is divided into 3 parts, namely vestibulocerebellum,
spinocerebellum and cerebrocerebellum. Vestibulocerebellum who became the center of balance
in the cerebellum. Composed of stellate cells, cells and cell purkinye basketball. Ear subdivided
into three parts, consisting of outer ear collects sound waves and funnel to the middle ear.
Middle ear which served to move the tympanic membrane vibrations to the fluid in the cochlea.

Keywords: balance, the cerebellum, the ear, the vestibular apparatus


Pendahuluan

Sistem saraf manusia adalah suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan
saling berhubungan satu dengan yang lain. Sistem saraf mengkoordinasi, menafsirkan dan
mengontrol interaksi antar individu dengan lingkungan sekitarnya. Sistem tubuh yang penting ini
juga mengatur kebanyakan aktivitas sistem-sistem tubuh lainnya. Karena pengaturan saraf
tersebut maka terjalin komunikasi antara berbagai sistem tubuh hingga menyebabkan tubuh
berfungsi sebagai unit yang harmonis. Dalam sistem inilah berasal segala fenomena termasuk
gerakan. Sebagai contoh, seorang pemain sirkus yang melakukan gerakan memutar juga
membutuhkan keseimbangan agar gerak yang dilakukan teratur.
Keseimbangan bergantung pada empat sistem berbeda yang tidak saling tergantung.
Pertama, sistem vestibular yang menangkap gerakan akselerasi dan persepsi gravitasi. Rangsang
proprioseptif dari sensasi posisi sendi serta tonus otot memberi informasi menyangkut hubungan
antara kepala dan bagian tubuh lainnya. Yang ketiga, penglihatan memberi persepsi dari sensasi
posisi, kecepatan, dan orientasi. Yang terakhir, semua sensasi ini diintegrasikan pada batang otak
dan serebelum.1

Sistem Saraf

Sistem saraf adalah suatu struktur yang terdiri dari komponen-komponen sel saraf
(neuron). Fungsi sistem saraf adalah mengkoordinasi seluruh kegiatan organ di seluruh tubuh
seperti denyut jantung, pernafasan, pergerakan, sekresi kelenjar dan lain-lain. Sistem saraf dibagi
menjadi sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf perifer. Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan
medula spinalis sedangkan sistem saraf perifer terdiri atas saraf somatik dan saraf otonom yang
dibedakan atas saraf simpatik dan saraf parasimpatik. Sel saraf mempunyai kemampuan dalam
konduksi impuls atau melakukan impuls. Fungsi impuls adalah sebagai pembawa informasi
yakni tentang perubahan-perubahan yang terjadi dilingkungan, misalnya perubahan temperatur
dari panas ke dingin, perubahan cahaya dari gelap ke terang. Jaringan saraf dapat dikelompokkan
secara anatomis dan fungsional (fisiologis).

Secara anatomis jaringan saraf dibagi menjadi 2 yaitu:2


1 Susunan Saraf Pusat (SSP) yaitu jaringan saraf yang dilindungi oleh tulang tengkorak dan
vertebra. Susunan saraf pusat ini terdiri atas otak dan medulla spinalis.

2 Susunan Saraf Tepi (SST) yaitu seluruh jaringan saraf di luar SSP (selain otak dan
medulla spinalis), ganglia dan reseptor. Susunan saraf tepi terdiri atas 31 pasang saraf
spinal dan 12 saraf kranial serta sistem saraf autonom.

Sebuah serabut saraf mempunyai kemampuan konduktivitas (penghantar) dan


exsitabilitas (dapat dirangsang). Serabut saraf berkemampuan memberikan reaksi atas
rangsangan dari sumber luar, seperti, rangsangan mekanik, elektrik, kimiawi atau fisik; yang
menimbulkan impuls yang dihantarkan melalui serabut saraf. Sebuah impuls saraf selalu
dihantarkan melalui dendrit ke sel, lantas dari sel ke axon. Proses demikian disebut dalil
penghantaran maju. Dengan cara yang sama, sebuah impuls dapat juga melintasi sejumlah
neuron.2
Untuk menanggapi rangsangan, ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh sistem saraf,
yaitu:3
1 Reseptor, adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang bertindak
sebagai reseptor adalah organ indera.
2 Penghantar impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri. Saraf tersusun dari berkas serabut
penghubung (akson). Pada serabut penghubung terdapat sel-sel khusus yang
memanjang dan meluas. Sel saraf disebut neuron.
3 Efektor, adalah bagian yang menanggapi rangsangan yang telah diantarkan oleh
penghantar impuls. Efektor yang paling penting pada manusia adalah otot dan kelenjar.

Jenis-jenis saraf berdasarkan fungsinya:3


a Sensorik/aferen
Berfungsi menghantarkan impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak
(ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensorik
berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet).
b Motorik/eferen
Berfungsi mengirimkan impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya
berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel saraf motor berada di sistem
saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan akson saraf asosiasi,
sedangkan aksonnya dapat sangat panjang.
c Asosiasi/intermediet
Sel saraf intermediet disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam
sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori
atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel saraf
intermediet menerima impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi lainnya.

Cerebellum (Otak Kecil)

Merupakan bagian otak yang terletak di bagian belakang otak besar. Berfungsi sebagai
pusat pengaturan koordinasi gerakan yang disadari dan keseimbangan tubuh serta posisi tubuh.
Terdapat 2 bagian belahan yaitu belahan cerebellum bagian kiri dan belahan cerebellum bagian
kanan yang dihubungkan dengan jembatan varoli yang berfungsi untuk menghantarkan impuls
dari otot-otot belahan kiri dan kanan.4
Cerebellum terdiri dari tiga bagian yang secara fungsional berbeda, yang diperkirakan
terbentuk secara berurutan selama evolusi. Bagian-bagian ini memiliki sendiri rangkaian
masukan dan keluaran dan, dengan demikian, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.5
1. Vestibuloserebelum, penting untuk mempertahankan keseimbangan dan mengontrol
gerakan mata.
2. Spinoserebelum mengatur tonus otot dan gerakan volunter yang terampil dan
terkoordinasi. Sewaktu daerah-daerah motorik korteks mengirim pesan ke otot-otot untuk
melaksanakan gerakan tertentu, spinoserebelum juga diberi informasi mengenai perintah
motorik yang diinginkan. Selain itu, daerah ini menerima masukan dari reseptor-reseptor
perifer yang memberitahu apa yang sebenarnya terjadi berkaitan dengan gerakan dan
posisi tubuh. Spinoserebelum pada dasarnya bertindak sebagai manajemen menengah,
membandingkan keinginan atau perintah dari pusat-pusat yang lebih tinggi dengan
kinerja otot-otot dan kemudian mengoreksi setiap kesalahan atau penyimpangan dari
gerakan yang diinginkan. Spinoserebelum bahkan tampaknya mampu memperkirakan
posisi bagian tubuh dalam sepersekian detik kemudian dan melakukan penyesuaian-
penyesuaian yang diperlukan. Penyesuaian-penyesuaian sambil jalan ini, yang
memastikan agar gerakan terarah, tepat, dan mulus, terutama penting untuk aktivitas-
aktivitas yang cepat berubah (fasik).
3. Serebroserebelum berperan dalam perencanaan dan inisiasi aktivitas volunter dengan
memberikan masukan ke daerah-daerah motorik korteks. Bagian ini juga merupakan
daerah cerebellum yang terlibat dalam ingatan prosedural.

Gambar 1. Serebelum (a) Struktur makroskopik Cerebellum. (b) Cerebellum yang dibuka. (c)
Struktur internal Cerebellum.4

Mikroskopik Cerebellum

Secara mikroskopik cerebellum memiliki sel-sel seperti sel sellata, sel basket dan sel
purkinya. Sel purkinye adalah contoh neouron proyeksi yang memiliki akson panjang yang turun
ke dalam substansia putih yang berjalan ke sel sasaran jauh di dalam cerebellum arau batang
otak.5
Gambar 2. Lapisan Cerebellum.

Telinga

Telinga merupakan organ reseptor pendengaran dan keseimbangan. N.


vestibulocochlearis/N. VIII disebut juga nervus stato-acusticus. Sistem Pendengaran terdiri dari
auris externa (telinga luar), auris media (telinga tengah), dan auris interna (telinga dalam).
Bagian luar dan tengah telinga menyalurkan gelombang suara dari udara ke telinga dalam yang
berisi cairan, untuk memperkuat energi suara dalam proses tersebut.6,7
Telinga dalam berisi dua sistem sensorik yang berbeda: koklea, yang mengandung
reseptor-reseptor untuk mengubah gelombang suara menjadi impuls-impuls saraf, sehingga kita
dapat mendengar; dan aparatus vestibularis, yang penting untuk sensasi keseimbangan.6
Aparatus vestibularis mendeteksi perubahan posisi dan gerakan kepala. Seperti di koklea,
semua komponen aparatus vestibularis mengandung endolimfe dan dikelilingi oleh perilimfe.
Juga, komponen vestibuler masing-masing mengandung sel-sel rambut yang berespons terhadap
perubahan bentuk mekanis yang dicetuskan oleh gerakan-gerakan spesifik endolimfe. Seperti
sel-sel rambut auditorius, reseptor vestibularis juga dapat mengalami depolarisasi atau
hiperpolarisasi, bergantung pada arah gerakan cairan.6
Kanalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselerasi anguler atau rotasional
kepala, misalnya ketika memulai atau berhenti berputar, berjungkir balik, atau memutar kepala.6
Tiap-tiap telinga memiliki tiga kanalis semisirkularis yang secara tiga dimensi tersusun
dalam bidang-bidang yang tegak lurus satu sama lain. Sel-sel rambut reseptif di setiap kanalis
semisirkularis terletak di atas suatu bubungan (ridge) yang terletak di ampula, suatu pembesaran
di pangkal kanalis. Rambut-rambut terbenam dalam suatu lapisan gelatinosa seperti topi
diatasnya, yaitu kupula, yang menonjol ke dalam endolimfe di dalam ampula. Kupula bergoyang
sesuai arah cairan, seperti ganggang laut yang mengikuti arah gelombang air.6

Gambar 3. Aparatus Vestibularis (a) Anatimi umum. (b) Unit sel reseptor di ampula kanalis
semiirkularis. (c) Gambar skemarik rambut-rambut pada sel rambut sensorik kanalis
semisirkularis.6

Ketika kepala mulai bergerak, saluran tulang dan bubungan sel rambut yang terbenam
dalam kupula bergerak mengikuti gerakan kepala. Namun, cairan di dalam kanalis, yang tidak
melekat ke tengkorak, mula-mula tidak ikut bergerak sesuai arah rotasi, tetapi tertinggal di
belakang karena adanya inersia (kelembaman). Ketika endolimfe tertinggal saat kepala mulai
berputar, endolimfe yang terletak sebidang dengan gerakan kepala pada dasarnya bergeser
dengan arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala. Gerakan cairan ini menyebabkan
kupula condong ke arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala, membengkokkan rambut-
rambut sensoris yang terbenam di dalamnya. Apabila gerakan kepala berlanjut dalam arah dan
kecepatan yang sama, endolimfe akan menyusul dan bergerak bersama dengan kepala, sehingga
rambut-rambut kembali ke posisi tegak mereka. Ketika kepala melambat dan berhenti, keadaan
yang sebaliknya terjadi. Endolimfe secara singkat melanjutkan diri bergerak searah dengan rotasi
kepala sementara kepala melambat untuk berhenti. Akibatnya kupula dan rambut-rambutnya
secara sementara membengkok sesuai dengan arah rotasi semula, yaitu berlawanan dengan arah
mereka membengkok ketika akselerasi. Pada saat endolimfe secara bertahap berhenti, rambut-
rambut kembali tegak. Dengan demikian, kanalis semisirkularis mendeteksi perubahan kecepatan
gerakan rotasi kepala. Kanalis tidak berespons jika kepala tidak bergerak atau ketika bergerak
secara sirkuler dengan kecepatan tetap.6
Sementara kanalis semisirkularis memberikan informasi mengenai perubahan rotasional
gerakan kepala kepada SSP, organ otolit memberikan informasi mengenai posisi kepala relatif
terhadap gravitasi dan juga mendeteksi perubahan dalam kecepatan gerakan linier.6
Utrikulus dan sakulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga
tulang yang terdapat di antara kanalis semisirkularis dan koklea. Rambut-rambut pada sel-sel
rambut reseptif di organ-organ ini juga menonjol ke dalam suatu lembar gelatinosa di atasnya,
yang gerakannya menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial
di sel rambut. Terdapat banyak kristal halus kalsium karbonatotolit (batu telinga)yang
terbenam dalam lapisan gelatinosa, sehingga lapisan tersebut lebih berat dan lebih lembam
daripada cairan di sekitarnya. Ketika seseorang berada dalam posisi tegak, rambut-rambut di
dalam utrikulus berorientasi secara vertikal dan rambut-rambut sakulus berjajar secara
horizontal.6
Sakulus memiliki fungsi serupa dengan utrikulus, kecuali bahwa ia berspons secara
selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal (misalnya bangun dari tempat
tidur) dan terhadap akselerasi atau deselerasi liner vertikal (misalnya meloncat-loncat atau
berada dalam elevator).6
Sinyal-sinyal yang berasal dari berbagai komponen aparatus vestibularis dibawa melalui
saraf vestibulokoklearis ke nukleus vestibularis, suatu kelompok badan sel saraf di batang otak,
dan ke cerebellum. Disini informasi vestibuler diintegrasikan dengan masukan dari permukaan
kulit, mata, sendi, dan otot untuk: (1) mempertahankan keseimbangan dan postur yang
diinginkan; (2) mengontrol otot mata eksternal, sehingga mata tetap terfiksasi ke titik yang sama
walaupun kepala bergerak; dan (3) mempersepsikan gerakan dan orientasi.6
Gambar 4. Unit Reseptor di Utrikulus.6

Fungsi Organ Keseimbangan

Berikut ini adalah fungsi dari komponen-komponen utama telinga:

a. Telinga luar : mengumpulkan dan menyalurkan gelombang suara ke telinga tengah.


- Pinna (daun telinga): mengumpulkan gelombang suara dan menyalurkannya ke
saluran telinga; berperan menentukan lokasi suara.
- Meatus akustikus eksternus (liang telinga): mengarahkan gelombang suara ke
membrane timpan; mengandung rambut penyaring dan mengeluarkan serumen untuk
menangkap partikel asing.
- Membran timpani (gendang telinga): bergertar secara sinkron dengan gelombang
suara yang mengenainya, menyebabkan tulang-tulang telinga tengah bergetar.
b. Telinga tengah : memindahkan getaran membran timpani ke cairan koklea.
- Maleus, inkus, stapes: bergetar secara sinkron dengan getaran membran timpani dan
memicu gerakan berbentuk gelombang di perilimfe koklea dengan frekuensi yang
sama.
- Jendela oval/membran fenestra ovalis bergetar bersama dengan gerakan stapes,
tempatnya ini melekat; gerakan jendela oval menyebabkan perilimfe koklea bergerak.
- Jendela bundar/membran fenestra rotundum bergetar bersama dengan gerakan cairan
di perilimfe untuk meredakan tekanan di koklea; tidak berperan dalam penerimaan
suara.
c. Telinga dalam : koklea mengandung sistem sensorik untuk mendengar.
- Skala vestibuli mengandung perilimfe yang digerakkan oleh gerakan jendela oval
yang ditimbulkan oleh getaran-getaran tulang tengah.
- Skala timpani mengandung perilimfe yang berhubungan dengan skala vestibuli.
- Duktus koklearis (skala media): mengandung endolimfe; berisi membran basilaris.
- Membran basilaris bergetar bersama dengan gerakan perilimfe; mengandung organ
Corti, organ indera untuk mendengar.
- Organ Corti mengandung sel rambut, reseptor untuk suara sel; sel rambut dalam
mengalami potensial reseptor ketika rambutnya menekuk akibat gerakan cairan di
koklea.
- Membran tektorium bagian stasioner sehingga rambut sel reseptor dibengkokkan dan
mengalami potensial aksi sewaktu membrane basilaris bergerak relative terhadap
membran yang menggantung ini.
d. Telinga dalam : aparatus vestibularis: mengandung sistem sensorik untuk keseimbangan
dan memberi masukan yang penting bagi pemeliharaan postur dan keseimbangan.
- Kanalis semisirkularis: mendeteksi percepatan dan perlambatan rotasional atau
angular.
- Utrikulus: mendeteksi perubahan posisi kepala menjauhi vertikal dan akselerasi dan
deselerasi linier dalam arah horizontal.
- Sakulus: mendeteksi perubahan posisi kepala menjauhi horizontal dan akselerasi dan
deselerasi liner dalam arah vertikal.8

Komunikasi Sinaps (Jalannya Impuls antar Neuron)

Ujung akson yang menghantarkan impuls disebut daerah prasinaps, sedangkan dendrit
atau badan sel yang menerima rangsang atau impuls dari ujung akson disebut pascasinaps. Jenis
sinaps ada 3, yaitu akso somatik (antara akson dengan badan sel), akso dendritik (antara akson
dengan dendrit), dan akso aksonik (antara akson dengan akson lain).
Jalannya komunikasi sinaps :7
Impuls saraf menjalar sepanjang membran sel terjadi depolarisasi kanal kalsium
terbuka ion kalsium masuk masuknya kalsium memicu eksositosis neurotransmiter yang
berada dalam vesikel neurotransmiter lepas dan kemudian bereaksi dengan reseptor yang
berada di daerah pascasinaps depolarisasi membran pascasinaps impuls tersampaikan
neurotransmiter yang lepas tadi dirombak melalui pemecahan enzimatis, difusi, atau endositosis.
Mekanisme Neurotransmiter 6

Apa yang terjadi apabila suatu potensial aksi mencapai ujung akson? Sebuah neuron
dapat berakhir di salah satu dari tiga struktur: otot, kelenjar, atau neuron lain. Taut antara dua
neuron disebut sinaps. Biasanya sinaps neuron-ke-neuron melibatkan suatu pertautan antara
sebuah terminal akson di satu neuron dan dendrit atau badan sel neuron yang lain. Sebagian
besar badan sel neuron dan dendrit-dendrit terkaitnya menerima ribuan masukan sinaptik, yaitu
terminal akson dari banyak neuron lain. Diperkirakan bahwa sebagian neuron di dalam susunan
saraf pusat menerima sampai sebanyak 100.000 masukan sinaptik (Gambar 4).

Gambar 4. Gambaran Skematik Masukan Prasinaps ke Sebuah Neuron.6

Anatomi satu dari ribuan sinaps diperlihatkan di Gambar 5. Terminal akson neuron
prasinaps, yang menghantarkan potensial aksi menuju ke sinaps berakhir di sebuah ujung yang
sedikit menggelembung, disebut kepala sinaps (synaptic knob). Kepala sinaps mengandung
vesikel sinaps, yang menyimpan zat kimiawi spesifik, suatu neurotransmiter, yang telah
disintesis dan dikemas oleh neuron prasinaps. Kepala sinaps berada sangat dekat, tetapi tidak
berkontak secara langsung, dengan neuron pascasinaps, yaitu neuron yang potensial aksinya
menjauhi sinaps. Bagian dari pascasinaps yang tepat berada dibawah kepala sinaps disebut
sebagai membran subsinaps.
Gambar 5. Gambaran Skematik Struktur dan Kejadian yang
Berlangsung di Sebuah Sinaps.6

Ketika suatu potensial aksi di neuron prasinaps telah merambat sampai ke terminal akson,
perubahan potensial ini akan mencetuskan pembukaan saluran-saluran Ca++ gerbang-voltase di
kepala sinaps (Langkah 1 dalam Gambar 5). Karena konsentrasi Ca ++ jauh lebih tinggi di CES,
ion ini akan mengalir ke dalam kepala sinaps (Langkah 2). Melalui proses eksositosis, ion
tersebut menginduksi pelepasan suatu neurotransmiter dari sebagian vesikel sinaps ke celah
sinaps (Langkah 3). Neurotransmiter yang dibebaskan akan berdifusi melintasi celah dan
berikatan dengan reseptor protein spesifik di membran subsinaps (Langkah 4). Pengikatan ini
mencetuskan pembukaan saluran-saluran ion spesifik di membran subsinaps, sehingga terjadi
perubahan permeabilitas neuron pascasinaps (Langkah 5). Ini adalah suatu contoh saluran
gerbang-perantara kimia, berbeda dengan saluran gerbang-voltase yang bertanggung jawab
terhadap potensial aksi dan influks Ca++ ke kepala sinaps. Karena hanya terminal prasinaps yang
dapat mengeluarkan neurotransmiter dan hanya membran subsinaps di neuron pascasinaps yang
memiliki reseptor untuk neurotransmiter, sinaps hanya dapat beroperasi dengan arah dari neuron
prasinaps ke pascasinaps.

Macam-macam Neurotransmiter

Seperti yang sudah dijelaskan, neurotransmiter merupakan zat kimia yang disintesis
dalam neuron dan disimpan dalam gelembung sinaptik pada ujung akson. Zat kimia ini
dilepaskan dari akson terminal melalui eksositosis dan juga direapsorbsi untuk daur ulang.
Neurotransmiter merupakan cara komunikasi antar neuron. Zat-zat kimia ini menyebabkan
perubahan permeabilitas sel neuron, sehingga neuron menjadi lebih kurang dapat menyalurkan
impuls, tergantung dari neuron dan transmiter tersebut. Macam-macam neuron transmiter, yaitu
asetilkolin, dopamine, epinephrine, norephinephrine, histaminergik, peptide opioid,
serotoninergik.7

Mekanisme Kerja Impuls Saraf

Impuls saraf dapat dihantarkan melalui beberapa cara, diantaranya melalui sel saraf dan
sinapsis.
1. Penghantaran Impuls Melalui Sel Saraf
Penghantaran impuls baik yang berupa rangsangan ataupun tanggapan melalui serabut
saraf (akson) dapat terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar
dan bagian dalam sel. Pada waktu sel saraf beristirahat, kutub positif terdapat di bagian
luar dan kutub negative terdapat di bagian dalam sel saraf. Diperkirakan bahwa
rangsangan (stimulus) pada indra menyebabkan terjadinya pembalikan perbedaan
potensial listrik sesaat. Perubahan potensial ini (depolarisasi) terjadi berurutan sepanjang
serabut saraf. Kecepatan hantaran tergantung pada diameter akson dan ada atau tidaknya
selubung myelin. Bila impuls telah lewat maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat
dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali seperti semula (potensial
istirahat). Energi yang digunakan berasal dari pernapasan sel yang dilakukan oleh
mitokondria dalam sel saraf. Simulasi yang kurang kuat atau dibawah ambang tidak akan
menghasilkan impuls yang dapat mengubah potensial listrik. Tetapi bila kekuatannya
diatas ambang maka impuls akam dihantarkan sampai ke ujung akson. Stimulasi yang
kuat dapat menimbulkan jumlah impuls yang lebih besar pada periode tertentu daripada
impuls yang melemah.7

2. Penghantaran Impuls Melalui Sinapsis


Titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain dinamakan
sinapsis. Setiap terminal aksin membengkak membentuk tonjolan sinapsis. Di dalam
sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi
neurotransmiter; yang disebut vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan
sinapsis disebut neuron pra-sinapsis. Membran ujung dendrit dari sel berikutnya yang
membentuk sinapsis disebut post-sinapsis. Bila impuls sampai pada ujung neuron, maka
vesikula bergerak dan melebur dengan membran pra-sinapsis. Kemudian vesikula akan
melepaskan neurotransmiter berupa asetilkolin. Neurotransmiter adalah suatu zat kimia
yang dapat menyeberangkan impuls dari neuron pra-sinapsis ke post-sinapsis.
Neurotransmiter ada bermacam-macam misalnya asetilkolin yang terdapat di seluruh
tubuh, noradrenalin terdapat di sistem saraf simpatik, dan dopamin serta serotonin yang
terdapat di otak. Asetilkolin kemudian berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel
pada reseptor yang terdapat pada membran post-sinapsis. Penempelan asetilkolin pada
reseptor menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya. Bila asetilkolin sudah
melaksanakan tugasnya maka akan diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase yang
dihasilkan oleh membran post-sinapsis.9

Kesimpulan

Otot dapat digerakkan karena adanya rangsangan dari saraf. Agar otot dapat bekerja
dengan normal, diperlukan juga sistem keseimbangan tubuh. Dalam keadaan abnormal,
seringkali otot tidak dapat berkontraksi ataupun terjadi gangguan keseimbangan tubuh. Hal ini
disebabkan karena gangguan atau kerusakan saraf tertentu.
Daftar Pustaka

1. Levine SC. Penyakit teliga dalam. Dalam: Adams GL, Boies LR, Higler PA. Buku ajar
penyakit THT. Alih bahasa, Wijaya C. Editor edisi Bahasa Indonesia, Effendi H. Jakarta:
EGC; 1997.h.134.

2. Jusuf AA, Antarianto RD. Aspek histologis dalam neurosains. Edisi 2009. Diunduh dari :
staff.ui.ac.id/NeurohistologiMODULNEUROSCIENCE-2009.doc, 24 April 2016.

3. Peta saraf manusia. Edisi 2011. Diunduh dari :


http://www.scribd.com/doc/6578595/Sistem-Saraf, 24 April 2016.
4. Sistem saraf manusia. Edisi 26 Mei 2008. Diunduh dari www.freewebs.com/.../SISTEM
%20SARAF%20MANUSIA,%20materi%203.doc, 24 April 2016
5. Bloom Fawcet. Buku ajar histologi. Edisi ke-12. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2002.h.295-398.
6. Sherwood L. Editor: Pendit BU. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-2. Jakarta:
EGC; 2001.
7. Mekanisme jalannya impuls. Edisi 2010. Diunduh dari :
http://www.scribd.com/doc/52471266, 24 April 2016.
8. Sherwood L. Human physiology: from cells to systems. 8th ed. Singapore: Cengage
Learning Asia Pte Ltd; 2014.h.240-6.
9. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Cetakan pertama. Pendit BU, ed. Bab III
fungsi sistem saraf. Jakarta : EGC ; 2008. h. 124-32.