You are on page 1of 26

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI

Hari/Tgl : Jumat, 31 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad


Yusril
Acara : Brachiopoda dan Mollusca NIM : D61116009

Keterangan:
1. Body whorl
2. Apex
3. Suture
4. Aperture
5. Columella

Ventral Dorsal Samping Foto

No. Peraga : 1959

Filum : Mollusca

Kelas : Gastropoda

Ordo : Sorbeoconcha

Family : Potamididae

Genus : Tympanotonos

Spesies : Tympanotonos margarifaceus (BROCCHI)

Proses Pemfosilan : Mineralisasi

Bentuk : Conical

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Miosen Bawah ( 15-22,5 Juta Tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut dangkal

Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 1959 ini berasal dari Filum Mollusca, Kelas

Gastropoda, Ordo Sorbeoconcha, Family Potamididae, Genus Tympanotonos, dan

dengan nama Spesies Tympanotonos margarifaceus (BROCCHI).


Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan berada

pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk. Kemudian

mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun angin. Selama

proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching (pencucian fosil) dan

pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang relatif stabil. Seiring

dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material

sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan. Lama kelamaan,

material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong sehingga material

semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi sesuai dengan

lingkungan pengendapannya yaitu dari material CaCO3. Pada saat fosil ini

tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni mineralisasi dimana

seluruh bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain yang lebih resisten/tahan

terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami litifikasi sehingga membentuk

lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu tektonik, lapisan

sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen yang cenderung

mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga akan nampak fosil.

Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, apex yaitu bagian ujung pada cangkang fosil, suture yaitu garis-garis putaran

kamar pada cangkang, body whorl yaitu kamar tempat tinggal organisme, aperture

yaitu tempat masuknya makanan, dan columella yaitu bagian padat yang terdapat

pada sumbu cangkang. Fosil ini memiliki bentuk conical yaitu menyerupai kerucut.

Fosil ini memiliki komposisi kimia CaCO3, dimana komposisi kimia dari fosil ini

dapat diketahui setelah ditetesi HCl 0,1 M kemudian terjadi reaksi. Dari komposisi

kimia fosil ini dapat diketahui lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal.

Berdasarkan waktu geologi, fosil ini berumur Miosen Bawah, yaitu sekitar 15-22,5

juta tahun.
Manfaat fosil ini digunakan penentu umur relatif batuan, untuk korelasi antar

batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.

Referensi :

Asisten Paleontologi 2016/2017. Penuntun Praktikum Paleontologi

2016/2017

Noor, Djauhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan

zipcodezoo.com
fossilworks.org
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Jumat, 31 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Brachiopoda dan Mollusca NIM : D61116009

Keterangan:
1. Test
2. Pedical opening
3. Beak
4. Pedical valve
5. Brachial valve
6. Commisure
7. Costae

Ventral Dorsal Foto

No. Peraga : 667

Filum : Brachiopoda

Kelas : Artikulata

Ordo : Terebratulida

Family : Tetrarhynchiidae

Genus : Goniorhynchia

Spesies : Goniorhynchia boueti (DAV.)

Proses Pemfosilan : Mineralisasi

Bentuk : Bikonveks

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Jura Tengah ( 160-176 Juta Tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut dangkal


Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 667 ini berasal dari Filum Brachiopoda, Kelas

Artikulata, Ordo Terebratulida, Family Tetrarhynchiidae, Genus Goniorhynchia,

dan dengan nama Spesies Goniorhynchia boueti (DAV.).

Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan berada

pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk. Kemudian

mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun angin. Selama

proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching (pencucian fosil) dan

pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang relatif stabil. Seiring

dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material

sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan. Lama kelamaan,

material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong sehingga material

semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi sesuai dengan

lingkungan pengendapannya yaitu dari material CaCO3. Pada saat fosil ini

tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni mineralisasi dimana

seluruh bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain yang lebih resisten/tahan

terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami litifikasi sehingga membentuk

lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu tektonik, lapisan

sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen yang cenderung

mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga akan nampak fosil.

Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, pedical opening yaitu pertangkapan kedua valve, beak yaitu bagian cembung

pada cangkang, pedical valve yaitu katup bagian atas fosil, brachial valve yaitu

katup bagian bawah fosil, commissure yaitu pertemuan kedua tepi cangkang dan

costae yaitu garis-garis vertikal pada fosil. Fosil ini memiliki bentuk bikonveks

yaitu bentuk yang memiliki dua sisi. Fosil ini memiliki komposisi kimia CaCO 3,
dimana komposisi kimia dari fosil ini dapat diketahui setelah ditetesi HCl 0,1 M

kemudian terjadi reaksi. Dari komposisi kimia fosil ini dapat diketahui lingkungan

pengendapannya adalah laut dangkal. Berdasarkan waktu geologi, fosil ini berumur

Jura Tengah, yaitu sekitar 160-176 juta tahun.

Manfaat fosil ini digunakan penentu umur relatif batuan, untuk korelasi antar

batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.

Referensi :

Asisten Paleontologi 2016/2017. Penuntun Praktikum Paleontologi

2016/2017

Noor, Djauhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan

zipcodezoo.com
fossilworks.org
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Jumat, 31 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Brachiopoda dan Mollusca NIM : D61116009

Keterangan:
1. Test
2. Pedical valve
3. Brachial valve
4. Commisure
5. Costae

Ventral Dorsal Foto

No. Peraga : 668

Filum : Brachiopoda

Kelas : Artikulata

Ordo : Terebratulida

Family : Epithyrisidae

Genus : Epithyris

Spesies : Epithyris maxillata PHILL.

Proses Pemfosilan : Mineralisasi

Bentuk : Bikonveks

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Jura Tengah ( 160-176 Juta Tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut dangkal


Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 668 ini berasal dari Filum Brachiopoda, Kelas

Artikulata, Ordo Terebratulida, Family Epithyrisidae, Genus Epithyris, dan dengan

nama Spesies Epithyris maxillata PHILL.

Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan berada

pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk. Kemudian

mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun angin. Selama

proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching (pencucian fosil) dan

pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang relatif stabil. Seiring

dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material

sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan. Lama kelamaan,

material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong sehingga material

semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi sesuai dengan

lingkungan pengendapannya yaitu dari material CaCO3. Pada saat fosil ini

tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni mineralisasi dimana

seluruh bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain yang lebih resisten/tahan

terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami litifikasi sehingga membentuk

lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu tektonik, lapisan

sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen yang cenderung

mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga akan nampak fosil.

Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, pedical valve yaitu katup bagian atas fosil, brachial valve yaitu katup bagian

bawah fosil, commissure yaitu pertemuan kedua tepi cangkang dan costae yaitu

garis-garis vertikal pada fosil. Fosil ini memiliki bentuk bikonveks yaitu bentuk

yang memiliki dua sisi. Fosil ini memiliki komposisi kimia CaCO3, dimana

komposisi kimia dari fosil ini dapat diketahui setelah ditetesi HCl 0,1 M kemudian
terjadi reaksi. Dari komposisi kimia fosil ini dapat diketahui lingkungan

pengendapannya adalah laut dangkal. Berdasarkan waktu geologi, fosil ini berumur

Jura Tengah, yaitu sekitar 160-176 juta tahun.

Manfaat fosil ini digunakan penentu umur relatif batuan, untuk korelasi antar

batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.

Referensi :

Asisten Paleontologi 2016/2017. Penuntun Praktikum Paleontologi

2016/2017

Noor, Djauhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan

zipcodezoo.com
fossilworks.org
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Jumat, 31 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Brachiopoda dan Mollusca NIM : D61116009

Keterangan:
1. Test
2. Pedical opening
3. Pedical valve
4. Brachial valve
5. Growth line
6. Costae

Ventral Dorsal Foto

No. Peraga : 904

Filum : Brachiopoda

Kelas : Artikulata

Ordo : Spiriferida

Family : Punctospiriferidae

Genus : Punctospirifer

Spesies : Punctospirifer cf. scrabicosta NORTH

Proses Pemfosilan : Permineralisasi

Bentuk : Bikonveks

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Karbon Bawah ( 318-345 Juta Tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut dangkal

Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 904 ini berasal dari Filum Brachiopoda, Kelas

Artikulata, Ordo Spiriferida, Family Punctospiriferidae, Genus Punctospirifer, dan

dengan nama Spesies Punctospirifer cf. scrabicosta NORTH.


Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan berada

pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk. Kemudian

mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun angin. Selama

proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching (pencucian fosil) dan

pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang relatif stabil. Seiring

dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material

sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan. Lama kelamaan,

material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong sehingga material

semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi sesuai dengan

lingkungan pengendapannya yaitu dari material CaCO3. Pada saat fosil ini

tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni permineralisasi

dimana sebagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain yang lebih resisten/tahan

terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami litifikasi sehingga membentuk

lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu tektonik, lapisan

sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen yang cenderung

mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga akan nampak fosil.

Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, pedical opening yaitu pertangkupan kedua valve, brachial valve yaitu katup

bagian bawah fosil, pedical valve yaitu katup bagian atas, growth line yaitu garis

pertumbuhan dan costae yaitu garis-garis vertikal pada fosil. Fosil ini memiliki

bentuk bikonveks yaitu bentuk yang memiliki dua sisi. Fosil ini memiliki

komposisi kimia CaCO3, dimana komposisi kimia dari fosil ini dapat diketahui

setelah ditetesi HCl 0,1 M kemudian terjadi reaksi. Dari komposisi kimia fosil ini

dapat diketahui lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal. Berdasarkan

waktu geologi, fosil ini berumur Karbon Bawah, yaitu sekitar 318-345 juta tahun.
Manfaat fosil ini digunakan penentu umur relatif batuan, untuk korelasi antar

batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.

Referensi :

Asisten Paleontologi 2016/2017. Penuntun Praktikum Paleontologi

2016/2017

Noor, Djauhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan

zipcodezoo.com
fossilworks.org
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Jumat, 31 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Brachiopoda dan Mollusca NIM : D61116009

Keterangan:
1. Test
2. Commisure

Ventral Dorsal Foto

No. Peraga : 1531

Filum : Mollusca

Kelas : Pelecypoda

Ordo : Eulamellibranchia

Family : Cardiidae

Genus : Protocardia

Spesies : Protocardia dissimile (SOW.)

Proses Pemfosilan : Cast

Bentuk : Bikonveks

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Jura Atas (135-180 juta tahun lalu)

Lingkungan Pengendapan : Laut dangkal

Keterangan :
Fosil dengan nomor peraga 1531 ini berasal dari Filum Mollusca, Kelas

Pelecypoda, Ordo Eulamellibranchia, Family Cardiidae, Genus Protocardia, dan

dengan nama Spesies Protocardia dissimile (SOW.).

Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan berada

pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk. Kemudian

mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun angin. Selama

proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching (pencucian fosil) dan

pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang relatif stabil. Seiring

dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material

sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan. Lama kelamaan,

material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong sehingga material

semakin padat atau terkompaksi. Fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni

cast dimana bagian dalam cangkang fosil dimasuki oleh material sekunder sehingga

terbentuk cetakan. Lalu fosil akan tersementasi sesuai dengan lingkungan

pengendapannya yaitu dari material CaCO3. Kemudian mengalami litifikasi

sehingga membentuk lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu

tektonik, lapisan sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen

yang cenderung mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga

akan nampak fosil. Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil dan commisure adalah pertemuan dua tepi cangkang. Fosil ini memiliki

bentuk bikonveks yaitu bentuk yang memiliki dua sisi. Fosil ini memiliki

komposisi kimia CaCO3, dimana komposisi kimia dari fosil ini dapat diketahui

setelah ditetesi HCl 0,1 M kemudian terjadi reaksi. Dari komposisi kimia fosil ini

dapat diketahui lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal. Berdasarkan

waktu geologi, fosil ini berumur Jura Atas, yaitu sekitar 135-180 juta tahun.
Manfaat fosil ini digunakan penentu umur relatif batuan, untuk korelasi antar

batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.

Referensi :

Asisten Paleontologi 2016/2017. Penuntun Praktikum Paleontologi

2016/2017

Noor, Djauhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan

zipcodezoo.com
fossilworks.org
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Jumat, 31 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Brachiopoda dan Mollusca NIM : D61116009

Keterangan:
1. Test
2. Sutur
3. Septa
4. Aperture
5. Umbilicus

Ventral Samping Foto

No. Peraga : 1613

Filum : Mollusca

Kelas : Cephalopoda

Ordo : Hildocerataceae

Family : Hildoceratidae

Genus : Pleydellia

Spesies : Pleydellia aalensis (ZIETEN)

Proses Pemfosilan : Mineralisasi

Bentuk : Sperical
Komposisi Kimia : SiO2

Umur : Jura Bawah ( 195-215 Juta Tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut Dalam

Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 1613 ini berasal dari Filum Mollusca, Kelas

Cephalopoda, Ordo Hildocerataceae, Family Hildoceratidae, Genus Pleydellia, dan

dengan nama Spesies Pleydellia aalensis (ZIETEN).

Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan berada

pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk. Kemudian

mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun angin. Selama

proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching (pencucian fosil) dan

pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang relatif stabil. Seiring

dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material

sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan. Lama kelamaan,

material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong sehingga material

semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi sesuai dengan

lingkungan pengendapannya yaitu dari material SiO2. Pada saat fosil ini

tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni mineralisasi dimana

seluruh bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain yang lebih resisten/tahan

terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami litifikasi sehingga membentuk

lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu tektonik, lapisan

sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen yang cenderung

mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga akan nampak fosil.

Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, suture yaitu garis pembatas antar kamar/septa, septa yaitu kamar pada

cangkang fosil, aperture yaitu tempat masuknya makanan dan umbilicus yaitu
kamar pertama yang terbentuk pada fosil. Fosil ini memiliki bentuk sperical yaitu

bentuk yang menyerupai cakram. Fosil ini memiliki komposisi kimia SiO2, dimana

komposisi kimia dari fosil ini dapat diketahui setelah ditetesi HCl 0,1 M kemudian

tidak terjadi reaksi. Dari komposisi kimia fosil ini dapat diketahui lingkungan

pengendapannya adalah laut dalam. Berdasarkan waktu geologi, fosil ini berumur

Jura Bawah, yaitu sekitar 195-215 juta tahun.

Manfaat fosil ini digunakan penentu umur relatif batuan, untuk korelasi antar

batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.

Referensi :

Asisten Paleontologi 2016/2017. Penuntun Praktikum Paleontologi

2016/2017

Noor, Djauhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan

zipcodezoo.com
fossilworks.org
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Jumat, 31 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Brachiopoda dan Mollusca NIM : D61116009

Keterangan:
1. Test
2. Pedical valve
3. Brachial valve
4. Pedical opening
5. Commisure
6. Sulcus
7. Costae

Ventral Dorsal Foto

No. Peraga : 423

Filum : Brachiopoda

Kelas : Artikulata

Ordo : Spiriferida

Family : Delthyrididae

Genus : Paraspirifer

Spesies : Paraspirifer laevicosta. (BRONN)


Proses Pemfosilan : Mineralisasi

Bentuk : Bikonveks

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Devon Tengah ( 360-370 Juta Tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut Dangkal

Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 423 ini berasal dari Filum Brachiopoda, Kelas

Artikulata, Ordo Spiriferida, Family Delthyrididae, Genus Paraspirifer, dan dengan

nama Spesies Paraspirifer laevicosta. (BRONN).

Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan berada

pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk. Kemudian

mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun angin. Selama

proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching (pencucian fosil) dan

pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang relatif stabil. Seiring

dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material

sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan. Lama kelamaan,

material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong sehingga material

semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi sesuai dengan

lingkungan pengendapannya yaitu dari material CaCO3. Pada saat fosil ini

tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni mineralisasi dimana

seluruh bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain yang lebih resisten/tahan

terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami litifikasi sehingga membentuk

lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu tektonik, lapisan

sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen yang cenderung

mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga akan nampak fosil.

Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.


Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, pedical opening yaitu pertangkapan kedua valve, sulcus yaitu lekukan pada

tengah cangkang, pedical valve yaitu katup bagian atas fosil, brachial valve yaitu

katup bagian bawah fosil, commissure yaitu pertemuan kedua tepi cangkang dan

costae yaitu garis-garis vertikal pada fosil. Fosil ini memiliki bentuk bikonveks

yaitu bentuk yang memiliki dua sisi. Fosil ini memiliki komposisi kimia CaCO3,

dimana komposisi kimia dari fosil ini dapat diketahui setelah ditetesi HCl 0,1 M

kemudian terjadi reaksi. Dari komposisi kimia fosil ini dapat diketahui lingkungan

pengendapannya adalah laut dangkal. Berdasarkan waktu geologi, fosil ini berumur

Devon Tengah, yaitu sekitar 360-370 juta tahun.

Manfaat fosil ini digunakan penentu umur relatif batuan, untuk korelasi antar

batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.

Referensi :

Asisten Paleontologi 2016/2017. Penuntun Praktikum Paleontologi

2016/2017

Noor, Djauhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan

zipcodezoo.com
fossilworks.org
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Jumat, 31 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Brachiopoda dan Mollusca NIM : D61116009

Keterangan:
1. Test
2. Commisure
3. Growth line

Ventral Foto

No. Peraga : 144

Filum : Mollusca

Kelas : Pelecypoda

Ordo : Taksodonta

Family : Ectillaenusidae

Genus : Ectillaenus
Spesies : Ectillaenus katzeri (BARR.)

Proses Pemfosilan : Mineralisasi

Bentuk : Konveks

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Ordovisium Tengah ( 435-500 Juta Tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut Dangkal

Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 1613 ini berasal dari Filum Mollusca, Kelas

Pelecypoda, Ordo Taksodonta, Family Ectillaenusidae, Genus Ectillaenus, dan

dengan nama Spesies Ectillaenus katzeri (BARR.).

Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan berada

pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk. Kemudian

mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun angin. Selama

proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching (pencucian fosil) dan

pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang relatif stabil. Seiring

dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material

sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan. Lama kelamaan,

material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong sehingga material

semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi sesuai dengan

lingkungan pengendapannya yaitu dari material CaCO3. Pada saat fosil ini

tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni mineralisasi dimana

seluruh bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain yang lebih resisten/tahan

terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami litifikasi sehingga membentuk

lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu tektonik, lapisan

sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen yang cenderung

mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga akan nampak fosil.

Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.


Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, commissure yaitu pertemuan dua tepi cangkang dan growth line yaitu garis

pertumbuhan. Fosil ini memiliki bentuk konveks yaitu bentuk yang memiliki satu

sisi. Fosil ini memiliki komposisi kimia CaCO3, dimana komposisi kimia dari fosil

ini dapat diketahui setelah ditetesi HCl 0,1 M kemudian terjadi reaksi. Dari

komposisi kimia fosil ini dapat diketahui lingkungan pengendapannya adalah laut

dalam. Berdasarkan waktu geologi, fosil ini berumur Ordovisium Tengah, yaitu

sekitar 435-500 juta tahun.

Manfaat fosil ini digunakan penentu umur relatif batuan, untuk korelasi antar

batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.

Referensi :

Asisten Paleontologi 2016/2017. Penuntun Praktikum Paleontologi

2016/2017

Noor, Djauhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan

zipcodezoo.com
fossilworks.org
ASISTEN PRAKTIKAN

( MUH. AFRISAL ARIF ) ( ANDI MUHAMMAD YUSRIL


)