You are on page 1of 35

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang


memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti strok untuk
otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan otot
jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan
masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di
dunia. Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di
negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000,
diperkirakan menjadi 1, 15 milyar kasus di tahun 2025. prediksi ini
didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan
penduduk saat ini ( Riqwana Miruddin, 2006).

Angka-angka prevalensi hipertensi di Indeonesia telah banyak


dikumpulkan dan menunjukkan, di daerah pedesaan masih banyak penderita
yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Baik dari segi case-finding
maupun pelaksanaan pengobatan jangkauanya masih sangat terbatas dan
sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan. Prevalensi
terbanyak berkisar antara 6 samppai dengan 15 % tetapi angka-angka ekstrim
rendah seperti di Ungaran, jawa tengah 1,8% ; Lembah Balim Pegunungan
Jaya Wijaya, Irian Jaya 0, 6 % ; dan Talang Sumatera Barat 17,8%. Nyata
disini, dua angka yang dilaporkan oleh kelompok yang sama pada 2 daerah
pedesaan di Sumatera Barat menunjukan angka yang tinggi.Oleh sebab itu
perlu diteliti lebih lanjut, demikian juga angka yang relatif sangat rendah.
2

Survei penyakit jantung pada usia lanjut yang dilaksanakan Boedhi


Darmojo, 2007 menemukan prevalensi tanpa atau dengan tanda penyakit

jantung hipertensi sebesar 33,3 % (81 orang dari 243 orang tua 50
tahun ke atas).

Wanita mempunyai prevalensi lebih tinggi daripada pria (P=0,005).


Dari kasus tadi ternyata 68,4 % termasuk hipertensi ringan ( diastolik 95/104
mmHg), 28,1 % hipertensi sedang (diastolik 105/129 mmHg) dan hanya 3,5
% dengan hipertensi berat (diastolik sama atau lebih besar dengan 130
mmHg).

Hipertensi pada penderita penyakit jantung iskemik ialah 16,1 % suatu


persentase yang rendah bila dibandingkan dengan prevalensi seluruh populasi
(33,3 %), jadi merupakan faktor resiko yang kurang penting. Juga kenaikan
prevalensi dengan naiknya umur tidak dijumpai. Oleh karena itu, negara
indonesia yang membangun di segala bidang perlu memperhatikan tindakan
mendidik untuk mencegah timbulnya penyakit seperti hipertensi,
kardiovaskular, penyakit degeneratif dan lain-lain, sehingga potensi bangsa
dapat lebih dimanfaatkan untuk proses pembangunan. Golongan umur 45
tahun ke atas memerlukan tindakan atau program pencegahan terarah. Tujuan
program penanggulangan penaykit kardiovaskuler adalah mencegah
peningkatan jumlah penderita risiko penyakit kardiovaskuler dalam
masyarakat dengan menghindari faktor penyebab seperti hipertensi, diabetes,
hiperlipidemia, merokko, stres dan lain-lain.
3

Hipertensi yang akan salah satu faktor risiko paling berpengaruh


sebagai penyebab penyakit kardivaskular di derita oleh lebih dari 800 juta
orang di seluruh dunia. Lebih kurang 10-30 persen penduduk di hampir
semua negara mengalami hipertensi (Elokdyah, 2007).

Hipertensi ini disebut sebagai pembunuh diam-diam karena


umumnya tidak merasakan tekanan darah tinggi selama seseorang ke organ-
organ yang bersangkutan.

Menurut Dr Hisyam Aptamimi ahli jantung dan pembuluh darah pada


RSU Kraton pekalongan menyatakan Hipertensi atau penyakit darah tinggo
merupakan penyebab terbesar dari penyakit jantung. bahkan, 75% penderita
hipertensi akan berujung pada penyakit jantung dan baru tersadari pada lanjut
usia, ketika jantung telah lelah bekerja untuk memompa darah dengan
tekanan yang berat (Siwono, 2003).

Hipertensi didefenisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang


menetap di atas batas normal yang disepakati, yaitu diastolik 90 mmHg atau
sistolik 140 mmHg. Sekitar 90% kasus hipertensi tidak diketahui
penyebabnya (hipertensi esensial). Awitan hipertensi esensial biasanya terjadi
antara usia 20 dan 50 tahun (Elokdyah, 2007).

Pada tahun 1995 Survei Kesehatan Rumah Tangga menunujukkan


prevalensi hipertensi di Inidonesia sudah mencapai 83 per 1.000 anggota
rumah tangga. Wanita lebih banyak yang terkena ketimbang pria.

Survei yang sama sebelumnya tahun 1986, hipertensi disebutkan


sebagai peneyebab utama kematian pada penderita jantung koroner di
Indonesia.

Jumlah kasusnya 42.8 per 1.00.000 kematia. Hipertensi yang sudah


mencapai tahap lanjut, artinya sudah terjadi bertahun-tahun, bisa dirasakan
gejalanya. Biasanya muncul; sakit kepala, napas pendek, pandangan mata
kabur dan gangguan tidur (Senio, 2005).
4

Tekanan darah sering meningkat terutama orang yang melakukan


aktivitas berat seperti olahraga dan stres. Peningkatan tekanan dan percepatan
sirkulasi ini normal karena aktivitas dan emosi ekstrak serta oksigen yang
cukup untuk disalurkan ke pembuluh darah.

Menurut Dr Sunarya Soeriatna SpJP dari RS jantung dan Pembuluh


Darah Harapan Kita, Jakarta, Hipertensi, panyakit jantung dan diabetes sangat
erat kaitannya satu dengan yang lainnya. Di negara ini, katanya ada
kecenderungan peningkatan jumlah penderita hipertensi maupun diabetes
melitus. Diabetes melitus menjadi epidemi di seluruh dunia , terutama Asia.
Dalam kurun waktu 10 tahun (200-2010) diperkirakan insiden diabetes
meningkat 57 persen. Dengan menekan resiko timbulnya diabetes melitus
pada hipertensi, maka jumlah penyakit kardiovaskuler dapat di tekan (wed,
2004).

WHO menyatakan hipertensi merupakan silent killer, karena banyak


masyarakat tak menaruh perhatian terhadap penyakit yang kadang dianggap
sepele oleh mereka, tanpa meyadari jika penyakit ini menjadi berbahaya dari
berbagai kelainan yang lebih fatal misalnya kelainan pembuluh darah, jantung
(kardiovaskuler) dan gangguan ginjal, bahkan pecahnya pembuluh darah
kapiler di otak atau yang lebih disebut dengan nama stroke (Nissonline,
2007).
5

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran umum tentang hipertensi yang terjadi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, serta
penatalaksanaan pada pasien penderita hipertensi.
b. Mengetahui penatalaksanaan dan asuhan keperawatan keluarga yang
seharusnya diberikan pada pasien penderita hipertensi
6

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. KELUARGA

1.Pengertian
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu
tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua


atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah
tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing
dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

2.Jenis
Ada beberapa jenis keluarga, yakni: keluarga inti yang terdiri dari
suami, istri, dan anak atau anak-anak, keluarga konjugal yang terdiri dari
pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak-anak mereka, di mana terdapat
interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua. Selain
itu terdapat juga keluarga luas yang ditarik atas dasar garis keturunan di
atas keluarga aslinya.Keluarga luas ini meliputi hubungan antara paman,
bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.

3.Peranan
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar
pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi
dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan
dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.

Berbagai peranan yang terdapat dalam keluarga adalah sebagai


berikut:
7

Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai


pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai
kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai
anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari
lingkungannya.Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai
peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik
anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya,
disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan
dalam keluarganya.Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai
dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.

4.Tugas
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut :
a. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
b. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
c. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan
kedudukannya masing-masing.
d. Sosialisasi antar anggota keluarga.
e. Pengaturan jumlah anggota keluarga.
f. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
g. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih
luas.
h. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.

5.Fungsi
a. Fungsi yang dijalankan keluarga adalah:
b. Fungsi Pendidikan dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan
menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa
depan anak.
c. Fungsi Sosialisasi anak dilihat dari bagaimana keluarga
mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
d. Fungsi Perlindungan dilihat dari bagaimana keluarga melindungi
anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
e. Fungsi Perasaan dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif
merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam
8

berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga.


Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan
keharmonisan dalam keluarga.
f. Fungsi Agama dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan
mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga
menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan
kehidupan lain setelah dunia.
g. Fungsi Ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari
penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat
memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
h. Fungsi Rekreatif dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang
menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama,
bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
i. Fungsi Biologis dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan
keturunan sebagai generasi selanjutnya.
j. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman di antara
keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.

B. HIPERTENSI

1. Definisi
Hipertensi adalah tekanan darah persistem dimana tekanan
sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg
(Smith Tom, 1995). Menurut WHO penyakit hipertensi merupakan
peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg
dan atau tekanan diastolik sama dengan atau lebih besar 95 mmHg.

Hipertensi dikatagorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara


95-104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105-
114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg
atau lebih (Smith Tom, 1995).

2. Etiologi
9

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi dua


golongan besar, yaitu(Lany Gunawan,2001)
a. Hipertensi Primer (Essensial), yaitu hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya.
b. Hipertensi Sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit
lain.

Hipertensi primer belum diketahui pasti penyebabnya, penelitian


sebelumnya menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan
hipertensi. Faktor-faktornya adalah sebagai berikut:

a. Faktor keturunan

Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki


kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang
tuanya adalah penderita hipertensi.

b. Ciri Perseorangan

Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah


umur, (jika umur bertambah maka tekanan darah meningkat), jenis
kelamin (laki-laki lebih tinggi daripada perempuan) dan ras (ras kulit
hitam lebih banyak daripada kulit putih).

c. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menimbulkan hipertensi adalah;
konsumsi garam yang tinggi (melebihi 30 gr), kegemukan atau
makan berlebihan, stress, dan pengaruh lain, misalnya merokok,
minum alkohol, minum obat-obatan (ephedrine,prednisone, dan
epinephrin).

3. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh
darah terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat
vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah
korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganlia simpatis
10

di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam


bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke
ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan
asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinephrin
mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsang vasokontriksi.

Individu dengan hipertensi sangat meskipun tidak diketahui dengan


jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana
sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon
rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokontriksi.

Medulla adrenal mensekresi epinephrine, yang menyebabkan


vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya,
yang dapat memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah.
Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan
angiotensin I yang kemudian di ubah menjadi angiotensin II, suatu
vasokontriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron
oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi Natrium dan air
oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vascular.
Semua factor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

Untuk pertimbangan gerontology, perubahan sruktural dan


fungsional pada sistem pembuluh perifer bertanggungjawab pada
perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan
tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan
penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada
gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh
darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya
11

dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung


(Volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan
peningkatan tahanan perifer (Brunner & Suddarth, 2002).

4. Tanda dan gejala


Tanda dan gejala pada hipertensi menurut Edward K Chung, 1995
adalah sebagai berikut :

a. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan


peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri. Hal ini
berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan
artei tidak terukur.

b. Gejala yang lazim

Sering dikatakan gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi


nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataan ini merupakan gejala
terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari
pertolongan. Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan
satu-satunya gejala .Bila demikian gejala baru muncul setelah terjadi
komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala lain yang
sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga
berdengung, berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang,
dan pusing.

5. Penatalaksanan
Deteksi dan tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan
risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang
berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan
sistolik di bawah 140 mmHg dan tekanan diastolik di bawah 90 mmHg
dan mengontrol faktor risiko. Hal ini dapat di capai melalui modifikasi
gaya hidup saja atau dengan obat antihipertensi.
12

a. Terapi tanpa Obat


1) Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
a) Penurunan konsumsi garam dari 10 gr/hari menjadi 5
gr/hari
b) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
c) Penurunan berat badan
d) Penurunan asupan etanol
2) Latihan fisik atau olahraga yang teratur dan terarah.
a) Olahraga yang dianjurkan seperti lari, jogging, bersepeda,
berenang, dan lain-lain.
b) Lamanya latihan berkisar antara 20-25 menit berada dalam
zona latihan.
i. Intensitas olahraga yang baik antara 60-80% dari kapasitas
aerobic atau 72-80% dari denyut nadi maksimal yang
disebut zona latihan.
c) Frekuensi latihan sebaiknya 3 kali/minggu dan lebih baik
lagi 5 kali/minggu.
3) Pendidikan kesehatan (penyuluhan)
Tujuan pendidikan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan
pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga
pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah
komplikasi lebih lanjut.

b. Terapi dengan Obat


Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan
darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat
hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pilihan obat untuk
penderita hipertensi adalah sebagai berikut :
1) Hipertensi tanpa komplikasi : diuretic, beta blocker.
2) Hipertensi dengan indikasi penyakit tertentu : inhibitor ACE,
penghambat reseptor angiotensin II, alfa blocker, alfa-beta-
blocker, beta blocker, antagonis Ca dan diuretic
3) Indikasi yang sesuai Diabetes Mellitus tipe I dengan proteinuria
diberikan inhibitor ACE.
4) Pada penderita dengan gagal jantung diberikan inhibitor ACE
dan diuretic.
13

5) Hipertensi sistolik terisolasi : diuretic, antagonis Ca


dihidropiridin kerja sama.
6) Penderita dengan infark miokard : beta blocker (non ISA),
inhibitor ACE (dengan disfungsi sistolik).

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Data Umum
a. Nama kepala keluarga : Tn. N
b. Alamat dan telepon : Kubang Buleud RT.01/RW.11
c. Pekerjaan kepala keluarga : Buruh
d. Pendidikan kepala keluarga : SMP
e. Komposisi keluarga : Suami dan Istri

No Nama JK Hub Umur Pendidika Status Imunisasi KET


Dengan n POLIO DPT HEPATITIS CAMPAK
Keluarg
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3
a
14

1 Tn. N L KK 36 SMP _ _ _ _ Dulu


belu
2 Ny. N P Istri 36 SMP _ _ _ _
m
3 An. A L Anak 13 SMP ada

imun
4 An. N P Anak 7 SD
isasi

5 An. R P Anak 4 -
15

2. Genogram
Keluarga laki-laki Keluarga Perempuan

Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan sasaran (Ny. N)

: Anak laki-laki (An. A)

: Anak perempuan (An. N)

: Anak perempuan (An. R)

--------- : Keluarga yang tinggal serumah

3. Tipe Keluarga
16

Keluarga dengan tipe keluarga Nuclear family dimana hanya ada


suami atau kepala keluarga yang mencari nafkah dengan istri yang diam
di rumah.

4. Suku Bangsa
Keluarga ini adalah sebuah keluarga dari Suku Sunda Bangsa
Indonesia.

5. Agama
Keluarga berasal dari kelompok etnis dan agama yang sama yaitu
Agama Islam.

6. Status Sosial Ekonomi Keluarga


Tn. N adalah seorang pekerja buruh sedangkan Ny. N adalah
seorang ibu rumah tangga jadi penghasilan keluarga mereka berasal dari
penghasilan Tn. N yang penghasilannya tidak menentu.

7. Aktifitas Rekreasi Keluarga


Kegiatan yang dilakukan keluarga untuk rekreasi adalah menonton
tv dan mendengarkan radio dirumah. Kadang-kadang berkumpul dengan
sanak saudara atau tetangga dekatnya.

B. RIWAYAT TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA

1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini


Saat ini keluarga Tn. N berada pada fase keluarga produktif,
dengan usia Ny. N yang 36 tahun.

2. Tahap Perkembangan Keluarga Yang Belum Terpenuhi


Semua kebutuhan dirasa sudah terpenuhi, jadi kebutuhannya pun
sudah sedikit. Dan selama ini kebutuhan mereka sudah terpenuhi.

3. Riwayat Keluarga Inti


17

Tn. N dan Ny. N tinggal berlima bersama suami dan ketiga


anaknya. Mereka mengatakan bahwa selama ini tidak ada
permasalahan /konflik yang berarti dalam keluarga mereka.

4. Riwayat keluarga sebelumnya


Dalam keluarga Tn. N tidak ada masalah hanya sakit batuk pilek
yang kadang-kadang terjadi dan tidak ada yang menderita penyakit serius
sampai harus dibawa kerumah sakit.

C. LINGKUNGAN

1. Karakteristik Rumah
Sebuah rumah permanen yang terdiri atas 1 ruang tamu, 2 kamar
tidur, 1 ruang keluarga, 1 dapur dan 1 kamar mandi, dan didepan ada
teras rumah. Bangunan rumah berbentuk segi empat. Lantai rumah
terbuat dari keramik dengan keadaan cukup bersih dan penataan
alat/perabot rumah tangga yang cukup rapi. Penerangan dan ventilasi
cukup. Sumber air menggunakan air sumur sedangkan air minum
menggunakan air dari aqua galon. Wc tidak menggunakan septik tank
melainkan sisa pembuangan dibuang ke sungai atau kolam.
Keluarga mengetahui pentingnya kebersihan lingkungannya. Pada
saat kunjungan rumah cukup dalam keadaan bersih.

Denah Rumah
18

Kamar

Kamar

2. Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW


Keluarga Tn. N hidup dilingkungan pedesaan. Sebagian besar dari
tetangga di lingkungan tempat tinggal keluarga Tn. N adalah penduduk
asli yang berpencaharian sebagai buruh. Dan interaksi antar warga
banyak dilakukan pada waktu sore hari dan malam hari, dikarenakan
pada pagi hari sampai siang hari pada umumnya warga bekerja.

3. Mobilitas Geografis Keluarga


Keluarga Tn. N menempati rumah yang ditempati sekarang dari
mulai punya anak pertama sampai sekarang, tempat tinggalnya
berdampingan dengan saudara lainnya.

4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat


Keluarga termasuk anggota masyarakat yang suka berinteraksi
dengan baik dengan sesama tetangganya. Begitu pula Ny. N yang
menderita penyakit hipertensi.

5. Sistem Pendukung Keluarga


19

Keluarga Tn. N ada lima orang, yang terdiri dari kepala keluarga
dan istri dan anaknya, yaitu Tn.N, Ny.N, An.A, An.N, An.R.

D. STRUKTUR KELUARGA

1. Pola Komunikasi Keluarga


Diantara anggota keluarga terbina hubungan yang harmonis.
Dalam menghadapi suatu permasalahan biasanya selalu dilakukan
dengan cara musyawarah keluarga sebelum diputuskan suatu
permasalahan. Komunikasi dilakukan dengan cara sangat terbuka.

2.Struktur Kekuatan Keluarga


Tn. N berperan memberikan nafkah sedangkan Ny. N mengatur
pengeluaran dalam rumah tangga.

3.Struktur Peran (Formal dan Informal)

a. Tn. N sebagai suami, dia sebagai pencari nafkah sekaligus pemimpin


dalam keluarga.

b. Ny.N sebagai istri, bertindak sebagai ibu rumah tangga yang


melakukan aktivitas sehari dalam rumah tangga seperti memasak,
menyuci, membersihkan rumah, berbelanja.

2. Nilai dan norma keluarga


Nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga sangat dipengaruhi
oleh agama dan norma di sekitar lingkungan tempat tinggal.

E. FUNGSI KELUARGA

1. Fungsi afektif
Keluarga cukup rukun dan perhatian dalam membina hubungan
rumah tangga.

2. Fungsi sosial
20

Keluarga selalu mengajarkan dan menanamkan perilaku sosial


yang baik, Keluarga cukup aktif bermasyarakat.

3. Fungsi perawat keluarga


Keluarga kurang mengetahui masalah kesehatan tentang penyakit
hipertensi, hal ini ditunjukan bahwa keluarga belum bisa menyadari
dampak masalah kesehatan dari penyakit hipertensi.

4. Fungsi reproduksi keluarga


Keluarga Tn. N termasuk kedalam keluarga produktif.

5. Fungsi ekonomi
Tn. N bekerja sebagai Buruh dan Ny. N sebagai ibu rumah
tangga. Tapi dikarenakan keluarga ini termasuk keluarga yang tidak
banyak pengeluaran sehingga kebutuhan keluarga dapat terpenuhi.

F. STRESS DAN KOPING KELUARGA

1. Stressor jangka pendek dan panjang


Stressor yang dirasakan oleh keluarga Tn. N adalah penyakit
hipertensi yang diderita oleh Ny. N.

2. Kemampuan keluarga dalam berespon terhadap situasi/stressor


Keluarga sudah dapat beradaptasi dengan penyakit yang diderita
oleh Ny. N karena sudah sering berobat ke puskesmas dan Ny. N
terlihat sabar dan pasrah terhadap penyakitnya.

3. Strategi koping yang digunakan


Keluarga biasanya berdiskusi dalam menghadapi masalah.
21

4.Strategi adaptasi disfungsi


Ny.N sejak dinyatakan menderita penyakit hipertensi merasakan
penyakitnya sampai saat ini tidak sembuh-sembuh.

G. PEMERIKSAAN FISIK

No Variabel Nama Anggota Keluarga


Tn. N Ny. N
1 Riwayat penyakit saat ini - Hipertensi
2 Keluhan yang dirasakan - Sering pusing

3 Tanda dan gejala Pusing, Mata


- berkunang-kunang,
Leher terasa kaku

Klien mempunyai
4 Riwayat penyakit sebelumnya penyakit Hipertens

5 Tanda-tanda vital TD : 120/80 TD : 150/100


mmHg mmHg
N : 79x/mnt N : 84x/mnt
R : 24x/mnt R : 24x/mnt
TB : 160 cm TB : 154 cm
BB : 55 kg BB : 70 kg

6 System kardiovaskuler Conjungtiva :


anemis, N :
84x/mnt, TD :
Normal
170/100 mmHg,
Tidak ada
pembesaran
jantung
22

7 System respirasi Keadaan hidung


bersih,bentuk
hidung simetris,
Normal polip tidak ada,
nyeri tidak ada,
pernapasan yang
digunakan adalah
pernapasan perut

8 System saluran pencernaan Mukosa bibir


Lembab, muluit
Normal terlihat bersih,
Nyeri telan tidak
ada

9 System persyarafan Tingkat kesadaran


compos mentis,
refleks normal
tidak ada kelainan
refleks, koordinasi
Normal gerak : klien dapat
bergerak bebas,
kejang : klien tidak
mengalami kejang

10 System muskuloskeletal Kemampuan


pergerakan sendi
lengan dan tungkai
Normal bebas tidak ada
fraktur, dislokasi,
kekuatan otot atas
23

5:5, bawah 5:5


11 System genitalia Jenis kelamin laki-
laki, payudara
Normal simetris tidak ada
benjolan, nyeri
tidak ada

No Variabel Nama Anggota Keluarga


An. A An. N
1 Riwayat penyakit saat ini - -
2 Keluhan yang dirasakan - -
3 Tanda dan gejala - -

4 Riwayat penyakit sebelumnya - -

5 Tanda-tanda vital TD : 120/80 TD : 120/80


mmHg mmHg
N : 79x/mnt N : 79x/mnt
R : 24x/mnt R : 24x/mnt
TB :160 cm TB :140 cm,
BB :50 kg BB :39 kg

6 System kardiovaskuler Normal Normal


7 System respirasi Normal Normal
8 System saluran pencernaan Normal Normal
9 System persyarafan Normal Normal
10 System muskuloskeletal Normal Normal
11 System genitalia Normal Normal
24

No Variabel Nama Anggota Keluarga


An. R

1 Riwayat penyakit saat ini -

2 Keluhan yang dirasakan -

3 Tanda dan Gejala -

4 Riwayat penyakit sebelumnya -

5 Tanda tanda vital N : 79x/mnt


R : 24x/mnt
TB :100cm
BB :15 kg
6 System kardiovascular Normal

7 System respirasi Normal

8 System saluran pencernaan Normal


9 System persyarafan Normal
10 System muskulosketel Normal
11 System genetalia Normal

G. HARAPAN KELUARGA
Keluarga berharap penyakit tekanan darah tinggi Ny. N bisa sembuh.

H. PENGKAJIAN KHUSUS BERDASARKAN 5 TUGAS KESEHATAN


KELUARGA

No Kriteria Pengkajian
1 Mengenai masalah kesehatan Tn. N mengatakan masalah yang
belum terselesaikan maka
keluarga akan minta bantuan
kepada anggota keluarga yang
25

lainnya dalam membantu


memecahkan masalah dan
merundingkan secara bersama
sama.
2 Mengambil keputusan yang tepat Apabila masalah tersebut belum
dapat terselesaikan maka Tn.N
merundingkan secara bersama
sama untuk memecahkan masalah
hingga mengambil keputusan
yang tepat.
3 Merawat anggota keluarga yang sakit Bila keluarga sakit periksa ke
puskesmas terdekat yaitu
puskesmas pembantu di Sukaratu
4 Memodifikasi lingkungan Keluarga mengetahui

pentingnya kebersihan
lingkungannya. Pada saat
kunjungan, rumah cukup dalam
keadaan bersih
5 Memanfaatkan sarana kesehatan yang ada Keluarga yang sakit segera
diperiksa ke puskesmas terdekat
dan meminum obat dari
puskesmas

I. DAFTAR MASALAH

No Data Masalah Etologi


1 Ds :
a.Tn.N sebagai Ketidakmampuan Ketidakmampuan
suami Ny. N keluarga merawat mengenal masalah
26

mengatakan anggota keluarga kesehatan.


tidak yang menderita
mengetahui tekanan darah tinggi
bagaimana
merawat
penderita
Hipertensi.
Do:
b.Ny.N terlihat
memegangi
kepalanya.
2 Ds :
a.Ny.N Kurangnya Kurang terpaparnya
Mengatakan bila pengetahuan informasi.
pusing diobati
dengan memakan
obat dari
puskesmas
Do :
b.Ny.N terlihat
tidak mengetahui
penyebab gejala
Hipertensi.

K. TIPOLOGI MASALAH

No Daftar Masalah Kesehatan


1 Ancaman
- Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita
tekanan darah tinggi b.d ketidakmampuan mengenal masalah kesehatan.
2 Defisit
27

- Kurangnya pengetahuan penyakit Hipertensi b.d kurang terpaparnya


informasi.

L. SKORING MASALAH
1. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita
tekanan darah tinggi b.d Ketidakmampuan mengenal masalah kesehatan.

Kriteria Bobot Pembenaran

Sifat Masalah 2/3 x 1 Merupakan ancaman


Ancaman karena dapat
menimbulkan berbagai
masalah kesehatan bagi
penderita karena kurang
mengenalnya keluarga
mengenai masalah
kesehatan tekanan darah
tinggi.
Kemungkinan Masalah x2 Masalah dapat diatasi
dapat Diubah. sebagian karena pasien
Sebagian sudah tau cara
mengobatinya.
Potensi masalah dapat 2/3 x 1 Saat ini Ny. N sudah
dicegah. pernah berobat ke
Cukup puskesmas jadi
kemungkinan masalah
cukup untuk dicegah.
Menonjolnya masalah. x1 Keluarga tidak menyadari
Ada tetapi tidak perlu bahwa pasien perlu
ditangani dukungan dari keluarga
untuk kesembuhannya.
28

2. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit Hipertensi b.d kurang terpaparnya


informasi.

Kriteria Bobot Pembenaran

Sifat masalah 2/3 x 1 Tekanan darah tinggi


Ancaman merupakan keadaan yang
tidak sehat dan dapat
menyebabkan pecahnya
pembuluh darah di otak
sehingga terjadi
perdarahan di otak.
Kemungkinan masalah x2 Masalah dapat diatasi
dapat diubah. sebagian karena keluarga
Sebagian kurang memiliki
pengetahuan tentang cara
merawat anggota
keluarga yang menderita
tekanan darah tinggi.
Potensi masalah untuk 2/3 x 1 Masalah dapat diubah
dicegah. karena penyakit
Cukup hipertensi merupakan
suatu penyakit yang
dapat diprtahankan
dengan menjaga
keseimbangan tekanan
darah. Kurangnya
pengetahuan tentang
penyakit Hipertensi b.d
terpaparnya informasi.
29

Menonjolnya masalah. x1 Keluarga tidak


Ada tetapi tidak perlu menyadari betapa
ditangani pentingnya menjaga
kestabilan tekanan darah
pada penderita
hipertensi.

M. RENCANA KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi


Keperawatan
1 Ketidakmampua - Menunjukan - Mengungkapkan - Kontrol
n keluarga penurunan tanda pengetahuan tekanan darah
merawat anggota dan gejala tentang tindakan karena
keluarga yang kerusakan terapetik. hipertensi
menderita jaringan. menyebabkan
tekanan darah sistem arteri
tinggi b.d bertekanan
Ketidakmampua tinggi yang
n mengenal merusak
masalah endotelium
kesehatan intima dan
membuat
lapisan tersebut
lebih termiabel
terhadap
30

penetrasi lipid
dan
pembentukan
plak.
2 Kurangnya -Mengembang -Mendiskusikan -Berikan waktu
pengetahuan kan hubungan dengan yang cukup
tentang penyakit saling percaya. perawatan tentang selama setiap
hipertensi b.d rasa takut dan kunjungan
kurang kekhawatiran untuk interaksi
terpaprnya tentang status orang perorang
informasi. kesehatan, lakukan
pengalaman mendengar
sebelumnya aktif.
dengan pemberi
perawatan
kesehatan dan
program
kesehatan.
31

N. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

No Tanggal/ No Diagnosa Tindakan Keperawatn Paraf


Pukul Keperawatan
1 06 Desember Ketidakmampuan - Membina hubungan
2012 keluarga merawat saling percaya dengan
10.00 WIB anggota keluarga yang klien.
menderita tekanan - Mengucapkankan
darah tinggi b.d salam.
Ketidakmampuan - Memperkenalkan diri
mengenal masalah dan menjelaskan
kesehatan tujuan.
- Mengkaji keluhan
nyeri kepala.
- Membiarkan klien
mengambil posisi yang
nyaman.
- Menganjurkan kepada
keluarga untuk
melakukan kontrol
32

secara teratur ke
puskesmas untuk
mengetahui tekanan
darah.
- Melakukan
penyuluhan dengan
topik tanda dan gejala
terjadinya peningkatan
tekanan darah.
- Melakukan
penyuluhan dengan
topik diet untuk
penderita tekanan
darah.

2 08 Desember Kurangnya - Mengkaji


2012 pengetahuan tentang pengetahuan klien
10.00 WIB penyakit hipertensi b.d tentang penyakitnya.
kurang terpapanya - Berikan penkes
informasi. tentang penyakit
Hipertensi.

O. EVALUASI

No No Diagnosa Evaluasi Paraf


Keperawatan
1 Ketidakmampuan S:
keluarga merawat Tn.N sebagai suami
anggota keluarga Ny.N mengatakan
yang menderita tidak mengetahui
tekanan darah tinggi bagaimana
b.d merawat penderita
33

Ketidakmampuan Hipertensi.
mengenal masalah O:
kesehatan -Ny.N terlihat tidak
mengetahui
penyebab gejala
Hipertensi.
-TD : 150/100
mmHg
- Nadi : 84x/mnt
- Respirasi :
24x/mnt
- Kaku leher (+)
A:
- Masalah sebagian
teratasi.
P:
-Lanjutkan
intervensi.
2 Kurangnya S:
pengetahuan tentang -Klien mengatakan
penyakit hipertensi sedikit tahu tentang
b.d kurang pengobatan
terpaparnya tradisional
informasi. Hipertensi yaitu
dengan cara Buah
ketimun dan buah
belimbing dicuci
bersih kupas
kulitnya dan
kemudian diparut,
disaring airnya
34

setelah disaring
kemudian diminum
airnya,lakukan
setiap hari 2x
minum.
- Klien mengerti
tentang penyakit,
bahaya, tanda dan
gejala, serta
pengobatannya.
O:
- Klien tampak
tidak mengalami
sakit kepala sampai
di bagian belakang
leher dan leher
tidak terasa kaku.
A:
-Masalah teratasi.
P:
-
35

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana


tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90
mmHg.( Smith Tom, 1995 ). Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan
diastoliknya antara 95 104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan
diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan
diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan
tekanan diastolik karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik
( Smith Tom, 1995 ).

B. SARAN
1. Bagi Institusi
Diharapkan meningkatkan sarana dan prasarana sebagai salah satu
penunjang kegiatan PKL Komunitas selanjutnya.
2. Bagi Penulis
Penulis sebagai calon tenaga kesehatan diharapkan dapat meningkatkan
pengetahuan serta keterampilan sehingga dapat memberikan asuhan
keperawatan keluarga yang sesuai dengan standar praktik keperawatan.
3. Bagi Puskesmas Sukalaksana
Penulis berharap petugas kesehatan yang ada di Puskesmas Sukaratu
dapat terus membimbing setiap keluarga yang ada di wilayah kerjanya
dalam penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat di keluarga.
4. Bagi Keluarga Asuhan
Penulis berharap semua anggota keluarga dapat berperan dalam
menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat.