Вы находитесь на странице: 1из 29

Laporan Kasus

OTITIS MEDIA EFUSI

Disusun oleh:
Aldika Alviani, S.Ked 04054821517125
Nyayu Balkis Humairoh, S.Ked 04011281320002
Puput Eka Sari, S.Ked 04011381320052

Pembimbing:
dr. Puspa Zuleika, Sp.T.H.T.K.L, M.Kes

BAGIAN ILMU KESEHATAN T.H.T.K.L FK UNSRI/


DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN T.H.T.K.L
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
2017
PENDAHULUAN
Otitis Media Efusi atau OME adalah peradangan telinga tengah yang di
tandai dengan adanya cairan efusi di rongga telinga tengah dengan membran
timpani utuh tanpa disertai dengan tanda-tanda infeksi akut. Kondisi ini dicirikan
dengan adanya akumulasi cairan non purulen. Cairan dapat bersifat kental dan
lengket atau bersifat serous dan tipis. Cairan bersifat semi-steril. Kondisi ini
biasanya ditemui pada anak usia sekolah.1,2
Apabila efusi tersebut encer disebut otitis media serosa dan apabila efusi
tersebut kental seperti lem disebut otitis media mukoid (glue ear). Otitis media
serosa terjadi terutama akibat adanya transudat atau plasma yang mengalir dari
pembuluh darah ke telinga tengah yang sebagian besar terjadi akibat adanya
perbedaan tekanan hidrostatik, sedangkan pada otitis media mukoid, cairan yang
ada di telinga tengah timbul akibat sekresi aktif dari kelenjar dan kista yang
terdapat di dalam mukosa telinga tengah, tuba eustachius dan rongga mastoid.
Faktor yang berperan utama adalah terganggunya fungsi tuba eustachius. Faktor
lain yang dapat berperan sebagai penyebab adalah adenoid hipertrofi,
adenoitis, cleft-palate), tumor di nasofaring, barotrauma, sinusitis, rinitis,
defisiensi imunologik atau metabolik. Keadaan alergik sering berperan sebagai
faktor tambahan dalam timbulnya cairan di telinga tengah.2,3
Adanya cairan di dalam telinga tengah mengakibatkan terjadinya
gangguan pendengaran. Orang tua mengeluhkan anak-anaknya mendengarkan
suara televisi dengan volume terlalu keras, sering menanyakan ulang atas jawaban
yang diberikan orang tuanya dan tidak segera mengacuhkan bila di panggil.
Beberapa anak mungkin tidak didapatkan keluhan. Cairan dalam telinga tengah
pada anak-anak bisa berbulan-bulan dan baru diketahui ketika diadakan
pemeriksaan rutin. OME adalah kondisi yang paling sering menyebabkan
hilangnya pendengaran pada anak. Gangguan pendengaran pada anak dapat
menimbulkan masalah dalam kemampuan bicara dan bahasa. Hal ini jika dialami
oleh anak pada usia perkembangan bicara akan memengaruhi prestasi belajar
anak.4,5
Di Amerika Serikat, infeksi telinga tengah adalah masalah kesehatan
utama yang ditemukan pada bayi dan anak. Suatu survei yang melakukan skrining
pada anak-anak yang sehat usia bayi sampai dengan 5 tahun menunjukkan
sebanyak 15-40% memiliki efusi pada telinga tengah. Studi lain, pada anak yang
diperiksa secara berkala selama 1 tahun, 50-60% peserta dan 25% anak usia
sekolah ditemukan efusi pada telinga tengah, dengan puncak insiden pada musim
dingin..4,5
Makalah ini akan membahas mengenai studi kasus seorang anak
perempuan usia 9 tahun yang berobat ke rumah sakit dr. Mohammad Hoesin
Palembang dengan diagnosis Otitis Media Efusi Dextra et Sinistra.

KEKERAPAN
Di Amerika Serikat, infeksi telinga tengah merupakan diagnosa utama
yang paling sering dijumpai pada anak-anak usia kurang dari 15 tahun yang
diperiksa di tempat praktek. Suatu survei yang melakukan skrining pada anak-
anak yang sehat usia bayi sampai dengan 5 tahun menunjukkan sebanyak 15-40%
memiliki efusi pada telinga tengah. Studi lain, pada anak yang diperiksa secara
berkala selama 1 tahun, 50-60% peserta dan 25% anak usia sekolah ditemukan
efusi pada telinga tengah, dengan puncak insiden pada musim dingin.5,6
Sekitar 80% anak-anak mengalami episode otitis media dengan efusi saat
berusia kurang dari 10 tahun. Lima persen dari anak-anak usia 2-4 tahun
mengalami hilangnya pendengaran karena efusi telinga tengah yang menetap
selama 4 bulan atau lebih. Prevalensi otitis media dengan efusi didapatkan paling
tinggi pada kelompok usia 2 tahun ke bawah dan menurun secara drastis pada
anak di atas 6 tahun. Dalam studi lain, 12,8 juta episode otitis media terjadi pada
anak-anak kurang dari 5 tahun. Dari anak-anak kurang dari 2 tahun, 17% memiliki
penyakit berulang. Karena setidaknya 30% sampai 45% dari anak-anak dengan
otitis media akut memiliki otitis media dengan efusi setelah 30 hari, dan 10%
memiliki otitis media dengan efusi setelah 90 hari, setidaknya 3.840.000 episode
otitis media dengan efusi terjadi pada tahun yang dipelajari, 1,28 juta episode
bertahan sampai 3 bulan.5,6
Dalam suatu penelitian dilaporkan prevalensi OME pada anak usia 0-14
tahun di Jakarta Timur sebanyak 1,3%. Belum ada data nasional baku di Indonesia
yang melaporkan kejadian OME. Tidak ada perbedaan dalam tingkat prevalensi
antara populasi berkulit putih dan hitam. Meskipun tidak ada perbedaan yang
signifikan antara jenis kelamin dalam hal insiden atau prevalensi, beberapa
temuan menunjukkan bahwa laki-laki mungkin memiliki frekuensi sedikit lebih
tinggi.5,6

ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA

Gambar 1. Gambaran telinga9

Telinga terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar, tengah, dan dalam.
Telinga luar (auris externa) memanjang dari daun telinga (aurikula), liang telinga
(meatus akustinus eksternus), hingga membran timpani. Daun telinga terdiri dari
tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka
tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan duapertiga bagian dalam
rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2 - 3 cm. Pada sepertiga
bagian luar liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar
keringat = kelenjar serumen) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh
kulit liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam sedikit dijumpai kelenjar
serumen.7,8
Gambar 2. Struktur anatomi
aurikula9

Membran timpani
berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik
terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida (membran
Shrapnell), sedangkan bagian bawah pars tensa (membran propria). Pars flaksida
hanya berlapis, dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga dan
bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran napas.
Pars tensa mempunyai satu lapis lagi di tengah, yaitu lapisan yang terdiri dari
serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar
dan sirkuler pada bagian dalam. Pada membran timpani, terdapat bayangan
penonjolan bagian bawah maleus yang disebut dengan umbo. Reflek cahaya
(cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membran timpani) bermula dari umbo ke
arah bawah yaitu pada pukul 7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk
membran timpani kanan. Membran timpani dibagi dalam empat kuadran yaitu
atas-depan, atas-belakang, bawah-depan, serta bawah-belakang untuk menyatakan
letak perforasi membran timpani.7,8
Gambar 3. Struktur anatomi membran timpani10

Telinga tengah terdiri dari tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari


luar ke dalam, yaitu maleus, inkus, dan stapes. Tulang-tulang pendengaran
tersebut saling berhubungan. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang
berhubungan dengan koklea. Pada pars flaksida terdapat daerah yang disebut atik
yang terdapat aditus ad antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah
dengan antrum mastoid. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang
menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah. Batas-batas telinga
tengah, antara lain batas luar adalah membran timpani, batas depan adalah tuba
eustachius, batas bawah adalah vena jugularis, batas belakang adalah aditus ad
antrum, kanalis fasialis pars vertikalis, batas atas adalah tegmen timpani dan batas
dalam berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal, kanalis
fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan
promontorium. 7,8
Gambar 4. Struktur anatomi telinga tengah11

Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah
lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari tiga buah kanalis semisirkularis. Kanalis
semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran
yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah
atas, skala timpani di sebelah bawah, dan skala media (duktus koklearis)
diantaranya. Skala vestibuli dan skala timapni berisi perilimfa, sedangkan skala
media berisi endolimfa.Hal ini penting untuk pendengaran.Dasar skala vestibuli
disebut sebagai membran vestibuli (Reissners membrane) sedangkan dasar skala
media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ Corti. Organ
corti mengandung mekanisme saraf perifer pendengaran. Pada skala media
terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria, dan pada
membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut
luar dan kanalis Corti, yang membentuk organ Corti. 7,8
Gambar 5. Struktur anatomi telinga dalam12

Fisiologi pendengaran diawali dengan ditangkapnya getaran suara oleh


daun telinga. Getaran dialirkan ke liang telinga dan mengenai membran timpani,
sehingga membran timpani bergetar. Getaran diteruskan ke tulang-tulang
pendengaran yang berhubungan satu sama lain yaitu maleus, incus, stapes. Stapes
menggerakkan foramen ovale yang juga menggerakkan perilimfe dalam skala
vestibuli. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang mendorong
endolimfe, sehingga menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan
membran tektoria. Proses ini menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel
rambut sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari
badan sel. Keadaan ini menimbulkan depolarisasi sel rambut, sehingga
melepaskan neurotransmitter ke dalam sinaps yang akan menimbulkan potensial
aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke
korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis. 7,8
Telinga tengah secara terus menerus menghasilkan sekret mukus yang
ditransportasi oleh silia melewati mukosa telinga tengah menuju tuba Eustachius
yang kemudian mukus tersebut akan tertelan. Aliran mukus ini dipertahankan
dengan tujuan mencegah bakteri dari daerah nasofaring masuk ke daerah telinga
tengah. Mukus ini juga berfungsi sebagai pelindung untuk mencegah adesi bakteri
ke epitel mukosa, namun apabila perlindungan ini gagal, mukosa telinga tengah
mempunyai kemampuan untuk menghasilkan sekret mukus yang mengandung
immunoglobulin, lysozyme, lactoferrin dan komponen komplemen sebagai
benteng pertahanan terakhir. Apabila gagal juga maka otitis media akut akan
terjadi.13
Tuba Eustachius berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada
kedua sisi membrana timpani. Tuba Eustachius memiliki tiga fungsi fisiologi
terhadap telinga yaitu ventilasi kavum timpani dan sel-sel udara mastoid di telinga
tengah, fungsi dari ventilasi adalah mengatur tekanan udara di telinga tengah agar
sama dengan tekanan udara luar dengan cara kontraksi dari otot tensor veli
palatini pada saat menelan yang menyebabkan tuba Eustachius terbuka secara
periodik, sehingga dapat mempertahankan tekanan udara di telinga tengah
mendekati normal. Fungsi ventilasi tuba Eustachius ini berkembang sesuai usia
dimana pada anak tidak sebaik pada orang dewasa. Fungsi fisiologi tuba
eustachius yang selanjutnya adalah drainase sekret telinga tengah. Terdapat dua
mekanisme drainase tuba eustachius, yaitu drainase mukosilia dan muskular.
Drainase mukosilia yaitu pergerakan silia bermula dari bagian telinga tengah
kemudian makin ke distal dan aktif menuju tuba Eustachius untuk membersihkan
sekresi di telinga tengah. Drainase muskular disebut aksi pompa yaitu
pemompaan drainase sekret dari telinga tengah ke nasofaring yang terjadi pada
saat tuba Eustachius menutup secara pasif. Proteksi infeksi juga merupakan
fungsi fisiologi dari tuba eustachius. Proteksi ini dapat terjadi yaitu melalui
anatomi fungsional tuba Eustachius-telinga tengah, pertahanan mukosiliar dari
lapisan membran mukosa dan pertahanan imunologi lokal. Sebagai contoh pada
saat kita mengunyah maka bagian akhir proksimal tuba Eustachius akan terbuka,
namun sekret yang berasal dari nasofaring tidak dapat masuk ke telinga tengah
karena terdapat ismus pada tuba Eustachius. Perlindungan telinga tengah mastoid
juga dilakukan oleh epitel respiratori lumen tuba Eustachius dengan cara
pertahanan imunologi lokal maupun pertahanan mukosilia, yaitu drainase.14,15
Berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan efusi di telinga tengah.
Teori pertama yaitu teori Vacuum. Teori ini menyatakan bahwa tekanan negatif di
telinga tengah adalah faktor patogen. Sebagai hasilnya, tekanan negatif yang
dihasilkan karena penyumbatan tabung eustachius karena berbagai sebab
menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah di mukosa ke telinga tengah.
Teori kedua ialah teori mengenai Alergi, otitis media sekretori dianggap oleh
beberapa penulis sebagai manifestasi alergi pada saluran pernapasan atas. Para
pendukung teori ini percaya bahwa karena kontinuitas anatomi dan embriologi
dasar, mukosa hidung, sinus paranasal dan nasofaring merespon terhadap stimulus
alergi yang mengakibatkan edema dan efusi di telinga tengah. Terdapat suatu
kesepakatan yang menyatakan bahwa sekretori otitis media merupakan
peradangan derajat rendah. Masih ada spekulasi agen penyebab, apakah bakteri
atau virus, dan faktor predisposisi. Disfungsi tuba eustachius telah terlibat sebagai
faktor predisposisi dan mungkin diakibatkan oleh hipertrofi adenoid, atau
karsinoma adenoid, penyakit mukosa hidung dan sinus paranasal (sinusitis), cleft
palate, deviasi septum, polip di hidung, pengobatan yang tidak sempurna dari
otitis akut media, hipogamaglobulinemia, radioterapi wilayah kepala dan leher
serta perokok pasif.16
OTITIS MEDIA EFUSI

Otitis media efusi adalah terdapatnya cairan di telinga tengah, tanpa tanda
dan gejala inflamasi akut dengan membran timpani yang utuh. Otitis media efusi
yang berlangsung lebih dari 3 bulan disebut otitis media efusi kronis. Ada dua
mekanisme utama yang menyebabkan OME yaitu kegagalan fungsi tuba
eustachius untuk pertukaran udara pada telinga tengah serta tidak dapat
mengalirkan cairan dan peningkatan produksi sekret dalam telinga tengah.1,2,14
Gangguan fungsi tuba eustachius merupakan penyebab utama. Gangguan
tersebut dapat terjadi disebabkan oleh hiperplasia adenoid, rhinitis kronik dan
sinusitis, tonsilitis kronik, tonsil yang membesar dapat mengganggu pergerakan
palatum molle dan mengganggu pembukaan fisiologis dari tuba eustachius. Lalu
tumor nasofaring dan defek dari palatum. Gangguan fungsi tuba eustachius juga
dapat terjadi pada kasus alergi. Alergi inhalans atau ingestan sering terjadi pada
anak-anak. Ini tidak hanya menyebabkan tersumbatnya tuba eustachius oleh
karena udem tetapi juga dapat mengarah kepada peningkatan produksi sekret pada
mukosa telinga tengah. Otitis media yang belum sembuh sempurna dapat
menyebabkan gangguan fungsi tuba eustachius. Terapi antibiotik yang tidak
adekuat pada OMSA dapat menonaktifkan infeksi tetapi tidak dapat
menyembuhkan secara sempurna akan menyisakan infeksi dengan grade yang
rendah. Proses ini dapat merangsang mukosa untuk menghasilkan cairan dalam
jumlah banyak. Jumlah sel goblet dan kelenjar mukus juga bertambah. Kasus
yang bisa menyebabkan gangguan fungsi tuba selanjutnya adalah infeksi virus.
Berbagai virus adeno dan rino pada saluran pernapasan atas dapat menginvasi
telinga tengah dan merangsang peningkatan produksi sekret.2,3
Berbagai kondisi terkait penyebab disfungsi tuba Eustachius yaitu
penurunan regulasi tekanan sebagai akibat dari obstruksi anatomi (mekanik) atau
kegagalan mekanisme pembukaan tuba (obstruksi fungsional) kemudian hilangnya
fungsi proteksi karena patensi abnormal tuba eustachius yaitu tuba terlalu pendek,
terlalu terbuka, tekanan gas abnormal antara telinga tengah dan nasofaring atau
telinga tengah dan mastoid tidak intak dan hilangnya fungsi drainase karena sistem
drainase mukosiliar dan aksi pompa terganggu. Obstruksi tuba eustachius dapat
disebabkan oleh berbagai keadaan termasuk peradangan, seperti nasofaringitis
atau adenoitis. Obstruksi juga disebabkan oleh tumor nasofaring. Bila suatu tumor
nasofaring menyumbat tuba eustachius,temuan klinis pertama dapat berupa cairan
dalam telinga tengah. Obstruksi dapat pula disebabkan oleh benda asing, misalnya
tampon posterior untuk pengobatan epistaksis, atau dapat juga disebakan trauma
mekanis akibat adenoidektomi yang terlalu agresif sehingga terbentuk parut dan
penutupan tuba.2,14
Otitis media serosa terjadi terutama akibat adanya transudat atau plasma
yang mengalir dari pembuluh darah ke telinga tengah yang sebagian besar terjadi
akibat adanya perbedaan tekanan hidrostatik, sedangkan pada otitis media
mukoid, cairan yang ada di telinga tengah timbul akibat sekresi aktif dari kelenjar
dan kista yang terdapat di dalam mukosa telinga tengah, tuba eustachius, dan
rongga mastoid. Faktor utama yang berperan disini adalah terganggunya fungsi
tuba eustachius. Jika tuba eustachius tersumbat, maka akan tercipta keadaan
vakum di dalam telinga tengah. Sumbatan yang lama dapat meningkatkan
produksi cairan yang semakin memperberat masalah. Gangguan pada tuba
eustachius yang membuat tuba eustachius tidak dapat membuka secara normal
antara lain berupa palatoskisis dan obstruksi tuba serta barotrauma. Palatoskisis
dapat menyebabkan disfungsi tuba eustachius akibat hilangya penambat otot
tensor veli palatini. Pada palastokisis yang tidak dikoreksi, otot menjadi terhambat
dalam kontraksinya membuka tuba eustachius pada saat menelan.
Ketidakmampuan untuk membuka tuba ini menyebabkan ventilasi telinga tengah
tidak memadai, dan selanjutnya terjadi peradangan.3,15
Barotrauma paling sering terjadi pada telinga tengah, hal ini terutama
karena rumitnya fungsi tuba eustakius. Barotrauma adalah keadaan dengan
terjadinya perubahan tekanan yang tiba-tiba di luar telinga tengah sewaktu di
pesawat terbang atau menyelam, yang menyebabkan tuba gagal untuk membuka.
Apabila perbedaan tekanan mencapai 90 cmHg, maka otot yang normal
aktivitasnya tidak mampu membuka tuba. Pada keadaan ini terjadi tekanan negatif
di rongga telinga tengah, sehingga cairan keluar dari pembuluh darah kapiler
mukosa dan kadang-kadang disertai dengan ruptur pembuluh darah, sehingga
cairan di telinga tengah dan rongga mastoid tercampur darah.3,15
Otitis media efusi dapat didahului dengan otitis media akut. Hal ini
disebabkan oleh sekresi cairan dari mukosa yang terinflamasi. Mukosa telinga
tengah tersensitisasi oleh paparan bakteri sebelumnya, dan melalui reaksi alergi
terus menerus memproduksi sekret. Pemberian antibiotik yang tidak inadekuat
dalam otitis media supuratif akut dapat menginaktifasi infeksi tapi gagal dalam
menyembuhkan sepenuhnya, sehingga infeksi derajat rendah tetap berlanjut.Otitis
media dengan efusi tidak harus selalu diawali dengan otitis media akut.5,15
Secara histologis mukosa telinga tengah pada OME menunjukkan
inflamasi. Keadaan inflamasi ini dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau
produk pecahannya, alergi, dan iritasi yang ditandai oleh proliferasi vaskular
dengan infiltrasi dari sel plasma dan limfosit. Epitel mukosa telinga tengah juga
mengalami metaplasia menjadi tipe sekresi dengan hiperplasia sel goblet dan
kelenjar mukus. Terjadinya penambahan jumlah sel sekresi pada OME secara
paralel akan mengurangi jumlah dan fungsi sel bersilia yang kemudian akan
mengganggu drainase. Mediator inflamasi yang dilepaskan menyebabkan
kerusakan silia dan peningkatan regulasi (upregulation) gen musin, kemudian
terjadi produksi efusi kaya musin. Efusi akan menetap karena kegagalan
mekanisme drainase yang melibatkan banyak faktor, meliputi disfungsi silia,
edema mukosa, hiperviskositas cairan efusi dan gradien tekanan yang tidak
menguntungkan sehingga terjadi akumulasi dan stagnasi mukus di telinga
tengah.13
Gambar 6. Patogenesis terjadi otitis media OMA-OME-OMSK3
Klasifikasi Otitis media efusi berdasarkan jenis sekretnya terbagi menjadi
otitis media serosa dan otitis media mukoid. Otitis media serosa terjadi akibat
transudat atau plasma yang mengalir dari pembuluh darah kapiler ke telinga
tengah yang terjadi akibat perbedaan tekanan hidrostatik. Otitis media mukoid
timbul akibat sekresi aktif dari kelenjar dan kista yang terdapat dalam mukosa
telinga tengah, tuba eustachius, dan rongga mastoid.3
Klasifikasi otitis media serosa berdasarkan onset terjadinya penyakit
terbagi menjadi otitis media serosa akut dan otitis media serosa kronis. Otitis
media serosa akut adalah keadaan terbentuknya sekret di telinga secara tiba-tiba
yang disebabkan oleh gangguan fungsi tuba. Keadaan akut ini dapat disebabkan
oleh sumbatan tuba, virus, alergi, dan idiopatik. Batasan antara kondisi otitis
media kronik hanya pada cara terbentuknya secret. Pada otitis media serosa akut
secret terjadi secara tiba-tiba di telinga tengah dengan disertai rasa nyeri pada
telinga, sedangkan pada keadaan kronis secret terbentuk secara bertahap tanpa
rasa nyeri dengan gejala-gejala pada telinga yang berlangsung lama. Otitis media
serosa kronik lebih sering terjadi pada anak-anak, sedangkan otitis media serosa
akut lebih sering terjadi pada orang dewasa. Otitis media serosa unilateral pada
orang dewasa tanpa penyebab yang jelas harus selalu dipikirkan kemungkinan
adanya karsinoma nasofaring. Sekret pada otitis media serosa kronik dapat kental
seperti lem, maka disebut glue ear. Otitis media serosa kronik dapat juga terjadi
sebagai gejala sisa dari otitis media akut (OMA) yang tidak sembuh sempurna.3

DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Diagnosis OME seringkali sulit ditegakkan karana prosesnya sendiri
yang kerap tidak bergejala (asimptomatik), atau dikenal dengan silent otitis media.
Dengan absennya gejala seperti nyeri telinga, demam, ataupun telinga berair,
OME sering tidak terdeteksi baik oleh orang tuanya, guru, bahkan oleh anaknya
sendiri. Pada anak-anak dengan OME dari anamnesis keluhan yang paling sering
adalah penurunan pendengaran dan kadang merasa telinga merasa penuh sampai
dengan merasa nyeri telinga. Pada anak-anak penderita OME biasanya sering
didapati riwayat batuk pilek dan nyeri tenggorokan berulang. Pada anak-anak
yang lebih besar biasanya mereka mengeluhkan kesulitan mendengarkan pelajaran
di sekolah, atau harus membesarkan volume saat menonton televisi di
rumah. Orang tua juga sering mendengarkan keluhan telinga anaknya terasa tidak
nyaman atau sering melihat anaknya menarik-narik daun telinganya. Penderita
OME jarang memberikan gejala sehingga pada anak-anak sering terlambat
diketahui.15,17

Gejala OME ditandai dengan rasa penuh dalam telinga, terdengar bunyi
berdengung yang hilang timbul atau terus menerus, gangguan pendengaran, dan
rasa nyeri yang ringan. Dizziness juga dirasakan penderita OME. Gejala kadang
bersifat asimtomatik sehingga adanya OME diketahui oleh orang yang dekat
dengan anak misalnya orang tua atau guru. Anak-anak dengan OME juga kadang-
kadang sering terlihat menarik-narik telinga mereka atau merasa seperti telinganya
tersumbat. Pada kasus yang lanjut sering ditemukan adanya gangguan bicara dan
perkembangan berbahasa. Kadang-kadang juga ditemui keadaan kesulitan dalam
berkomunikasi dan keterbelakangan dalam pelajaran.15,17
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan yaitu otoskopi dan tes penala.
Pemeriksaan otoskopi dilakukan untuk kondisi, warna, dan translusensi membrana
tempani. Pada pemeriksaan otoskopi menunjuk kecurigaan OME apabila
ditemukan tanda-tanda seperti membran timpani yang retraksi (tertarik ke dalam),
nyeri tumpul, dan opaque yang ditandai dengan hilangnya refleks cahaya, warna
membran timpani bisa merah muda cerah hingga biru gelap, processus brevis maleus
terlihat sangat menonjol dan processus longus
tertarik medial dari
membran timpani
dan adanya level
udara-cairan (air fluid
level) membuat diagnosis
lebih nyata.2,17

Gambar 7. Perbedaan telinga normal dengan otitis media efusi17

Gambar 8. Gambaran membran timpani dengan : a. air-fluid level, b. bubble


appearance10

Pada otitis media efusi yang sudah lama, membran timpani yang terlihat
pada otoskopi masih utuh tetapi suram, berwarna kuning kemerahan atau keabu-
abuan. Pada tes penala dapat ditemukan tuli konduktif pada pasien dengan otitis
media efusi, dengan tes Rinne negatif, tes Weber lateralisasi ke telinga yang sakit,
dan tes Schwabach memanjang pada telinga yang sakit.10,17

Gambar 9. Gambaran membran timpani pada


otitis media efusi kronis10

3. Pemeriksaan Penunjang
Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu
otoskop siegle, timpanometri, dan audiometri. Otoskop pneumatik dengan mudah
dapat mendeteksi adanya perforasi membrana timpani atau cairan dalam telinga
tengah. Otoskop pneunomatik (otoskop siegle) dilakukan untuk melihat gendang
telinga yang dilengkapi dengan pompa udara kecil untuk menilai respon gendang
telinga terhadap perubahan tekanan udara. Gerakan gendang telinga yang
berkurang atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini.
Apabila tekanan positif maka membrana timpani akan bergerak ke medial dan bila
diberi tekanan negatif maka membrana timpani akan bergerak ke lateral.15,18
Pemeriksaan penunjang selanjutnya adalah timpanometri, dengan
mengukur kompliens dari mekanisme transformer telinga tengah, timpanometri
menyediakan pemeriksaan objektif untuk status telinga tengah. Timpanometri
akan memperlihatkan sebuah puncak (misalnya pada kompliens maksimal) ketika
tekanan di kanalis akustik eksternal sama dengan di telinga tengah. Dengan
membedakan tekanan di telinga luar, apabila terdapat efusi maka kompliensnya
tidak akan bervariasi dengan perubahan tekanan telinga luar atau bisa terbentuk
flat timpanogram (tipe B). Jika tekanan telinga tengah sama atau mendekati
tekanan atmosfer, terbentuk timpanogram normal (tipe A). Jika tekanannya negatif
maka akan terbentuk puncak kompliens yang berada dibawah -99daPa (tipe C).
Pada penderita OME gambaran timpanogram yang sering didapati adalah tipe B.
Tipe B bentuknya relatif datar, hal ini menunjukan gerakan membrana timpani
terbatas karena adanya cairan atau pelekatan dalam kavum timpani. Timpanometri
juga digunakan untuk menentukan fungsi Tuba Eustachius dalam kasus membran
timpani intak atau
perforasi.15,19

Gambar 10. Timpanogram19

Audiometri juga merupakan salah satu pemeriksaan penunjang yang


dilakukan pada pasien otitis media efusi. Pasien dengan otitis media efusi
biasanya memiliki tuli konduktif yang ringan sampai moderat. Dapat ditemui tuli
konduksi sekitar 20-40 dB. Kadangkala, terdapat tuli sensorineural juga akibat
cairan yang menutup membran tingkap bundar. Audiometri menyediakan
pemeriksaan keparahan kehilangan pendengaran dan meskipun begitu sangat
penting pada monitoring progress dari kondisinya dan menyediakan informasi
yang berguna pada pengambilan keputusan untuk manajemen terapi.2,19

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding otitis media efusi adalah otitis media akut. Perbedaan
otitis media akut dan otitis media efusi dapat dinilai berdasarkan adanya episode
akut (kurang dari 48 jam), gejala inflamasi seperti nyeri telinga, gelisah, demam,
adanya sekret purulen yang sering terjadi pada otitis media akut.20

TATALAKSANA
Tujuan pengobatan pada OME adalah penghapusan cairan dan pencegahan
kekambuhannya. Tatalaksana medis yang diberikan pada pasien dengan otitis
media efusi adalah dekongestan topikal dalam bentuk tetes hidung, semprotan
atau dekongestan sistemik membantu meringankan edema tuba eustachius,
antihistamin atau kadang-kadang steroid dapat digunakan dalam kasus-kasus
alergi. Jika memungkinkan, alergen harus ditemukan dan desensitisasi dilakukan.
Antibiotik berguna dalam kasus infeksi saluran pernapasan atas atau OMA yang
belum terselesaikan. Tatalaksana selanjutnya adalah aerasi telinga tengah. Pasien
harus berulang kali melakukan manuver Valsava. Kadang-kadang, politzerisation
atau kateterisasi eustachius tube harus dilakukan. Ini membantu untuk ventilasi
telinga tengah dan mempromosikan drainase cairan. Anak-anak dapat diberikan
permen karet untuk mendorong menelan yang dapat membuka tuba.2,21

Bedah
Ketika cairan kental dan pengobatan nonfarmakologis sendiri tidak
membantu, cairan harus dikeluarkan dengan pembedahan. Beberapa pilihan untuk
tatalaksana bedah antara lain paracentesis, miringotomi, pemasangan tuba
timpanostomi, adenoidektomi. Satu-satunya pengobatan yang efektif pada pasien
dengan otitis media efusi adalah evakuasi cairan di telinga tengah dengan
pembedahan. Evakuasi dari efusi oleh paracentesis harus diikuti dengan upaya
untuk menjaga aperture paracentesis tetap terbuka untuk jangka waktu yang
relatif lama untuk memfasilitasi masuknya udara ke dalam telinga tengah dan
memungkinkan silia untuk mengevakuasi efusi melalui tabung eustachius. Aerasi
tersebut dapat dicapai dengan pemakaian tabung ventilasi ke dalam telinga tengah,
sehingga secara fisik mencegah penutupan. Meskipun penyisipan tabung ventilasi
adalah prosedur yang relatif kecil, tetapi memiliki dampak besar pada Otology
modern. Ditemukan bahwa penyisipan tabung ventilasi merupakan cara yang
paling efisien untuk menganginkan telinga dalam kasus otitis media efusi seperti
pada pasien otitis media efusi dengan atelektasis. Sebuah tabung ventilasi juga
membantu untuk meringankan gejala di episode berulang otitis media akut dan
mungkin mengurangi jumlah mereka. Ada dua mekanisme utama yang
menyebabkan OME yaitu kegagalan fungsi tuba eustachius untuk pertukaran
udara pada telinga tengah serta tidak dapat mengalirkan cairan dan peningkatan
produksi sekret dalam telinga tengah. 2,21
Tabung ventilasi ditoleransi biasanya dengan baik. Jika dimasukkan
dengan benar, biasanya akan menetap di tempat selama sekitar 6 bulan sebelum
terlepas keluar secara spontan pada saat mukosa sembuh dan tidak perlu ventilasi
lebih lanjut. Sesetengah pasien bisa mengalami rekuren, bagaimanapun, ini
memerlukan pemasangan tabung ventilasi kembali. Ttubes menetap di tempat
untuk waktu yang lama, tapi semakin lama mereka tetap dalam telinga, besar
kemungkinan terjadinya komplikasi lokal. Membran timpani yang terinfeksi di
sekitar tabung ventilasi dapat diobati dengan pembersihan lokal, biasanya
dilakukan dengan alat hisap. Ini merupakan cara yang terbaik dilengkapi dengan
penyemprotan lokal dengan asam borat. Pemberian antibiotik adalah tidak
berpengaruh. Setelah insisi dilakukan, tabung ventilasi bisa ditempatkan di
beberapa bagian membran timpani, tetapi harus waspada dalam menempatkan
tabung karena menempatkan tabung ventilasi pada kuadran posterosuperior
ditakuti merusak sendi Incudostapedial. Setelah tabung ditempatkan, aksi dari
sistem mukosiliar akan membersihkan efusi serosa, lendir, atau mucopus pada
telinga tengah melalui tabung eustachius. Setelah melakukan pemasangan tabung,
harus segera dilakukan aspirasi cairan untuk menghindari penyumbatan dari
tabung ventilasi. 2,21
Tindakan bedah yang bisa dilakukan pada pasien dengan otitis media efusi
adalah miringotomi dan aspirasi cairan, insersi Grommet, timpanostomi atau
mastoidektomi topikal dan pembedahan terkait dengan faktor penyebab. Pada
miringotomi dan aspirasi cairan, insisi dibuat pada membran timpani dan cairan
diaspirasi dengan suction. Cairan kental membutuhkan penggunaan salin atau
agen mukolitik seperti solusio kimotripsin untung mengencerkan mukus sebelum
diaspirasi, kadangkala, dua insisi dibuat pada membran timpani, satu di kuadran
antero-inferior dan yang lainnya pada kuadran antero-superior untuk mengaspirasi
cairan yang tebal dan seperti lem. Miringotomi hanya dilakukan pada kasus-kasus
khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi. Cairan yang
keluar kemudian harus dikultur. Jika miringotomi dan aspirasi dikombinasikan
dengan medikamentosa tidak membantu dan timbul cairan berulang. Tube
ventilasi (umumnya dikenal sebagai Grommets tube) diletakan di dalam bukaan
miringotomi jika masalah tetap ada setelah jangka waktu yang lama. Tuba
ventilasi ini dipasang sifatnya sementara, berlangsung 6 hingga 12 bulan di dalam
telinga hingga infeksi telinga bagian tengah membaik dan sampai tuba Eustachius
kembali normal. Selama masa penyembuhan ini, harus dijaga agar air tidak masuk
kedalam telinga karena akan menyebabkan infeksi lagi. Selain daripada itu, tuba
tidak akan menyebabkan masalah lagi, dan akan terlihat perkembangan yang
sangat baik pada pendengaran dan penurunan pada frekuensi infeksi telinga. 2,21

Gambar 11. Grommets Tube


21

Timpanostomi atau mastoidektomi kortikal


kadang-kadang diperlukan untuk penghapusan cairan
tebal terlokalisasi atau terkait patologi lainnya seperti granuloma kolesterol.
Adenoidektomi,tonsilektomi dan/atau pencucian antrum rahang atas mungkin
diperlukan. Hal ini biasanya dilakukan pada saat miringotomi. 2,21

KOMPLIKASI
Otitis media efusi yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi
berupa atelektasi membran timpani, adhesive otitis media, tympano/
myringosclerosis dan ankilosis tulang pendengaran yang bisa menyebabkan
pembentukan kolesteatoma.
PROGNOSIS
Anak-anak dengan otitis media efusi memiliki prognosis yang baik untuk
mencapai tahap resolusi sekitar 60% dalam 1 bulan dan 75% setelah 3 bulan.
Namun otitis media efusi memiliki 30-40% kemungkinan rekurensi kembali
setelah diobservasi beberapa tahun menurut sebuah penelitian.19
LAPORAN KASUS
Seorang anak perempuan berusia 9 tahun datang ke poliklinik THT-KL
RSMH pada tanggal 17 Maret 2017. Ayah pasien mengeluhkan bahwa pasien
pendengarannya kedua telinganya menurun (kurang mendengar) sudah sejak 1
tahun yang lalu, dan semakin menurun sekitar 2 bulan terakhir dilihat dari saat
dipanggil pasien kadang tidak menoleh baik dari arah kanan maupun arah kiri.
Pasien berbicara dengan lancar. Pasien mengeluh kedua telinganya terasa penuh,
tidak ada demam, tidak ada nyeri dan gatal pada telinga, dan tidak terdapat rasa
berdenging pada telinga. Pasien tidak mengeluh pusing kepala, ataupun sakit pada
pipi atau dahi, tidak ada nyeri telan maupun suara serak. Pasien tidak memiliki
riwayat keluar cairan dari telinga. Ayah pasien mengatakan pasien tidak memiliki
riwayat infeksi pada telinga sebelumnya, dan tidak ada riwayat gejala seperti ini
sebelumnya. Ayah pasien mengatakan bahwa pasien sering batuk pilek. Pasien
memiliki riwayat batuk dan pilek 2 bulan yang lalu disertai dahak putih. Pasien
tidak memiliki riwayat alergi dan tidak memiliki gejala bersin-bersin di pagi hari
atau pada saat terkena debu. Pasien tidak memiliki riwayat trauma pada kepala.
Tidak terdapat keluhan yang sama pada keluarga. Pasien memiliki anggota
keluarga yang merokok di rumah yaitu Uwak-nya (paman). Pasien sudah pernah
berobat sebelumnya ke puskesmas dan diberikan obat tetes telinga.
Pada pemeriksaan fisik umum didapati keadaan umum pasien tampak sakit
ringan, kesadaran compos mentis, keadaan gizi baik, tekanan darah 110/70, nadi
90x/menit, pernafasan 20x/menit, suhu 36,5oC. Jantung, paru-paru, abdomen dan
ekstremitas dalam batas normal. Pada pemeriksaan status lokalis telinga didapati
saluran telinga kiri dan kanan lapang tanpa disertai adanya sekret, membran
timpani tampak intak, berpendar, dan refleks cahaya positif. Pemeriksaan
rhinoskopi anterior pada hidung kanan dan kiri didapatkan cavum nasi cukup,
terdapat sekret, dan konka inferior hipertrofi. Dari pemeriksaan orofaring
didapatkan arcus faring simetris, uvula di tengah, Tonsil (T1-T1).
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa Timpanometri dan
didapatkan hasil timpanogram tipe B (terdapat cairan di cavum timpani). Dari
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan dapat
ditegakkan diagnosis Otitis Media Efusi.
Tatalaksana yang diberikan dapat berupa farmakologis dan/atau tindakan
bedah yaitu Parasintesis apabila pasien kooperatif. Obat yang dapat diberikan
ialah obat antibiotik cefadroxil kapsul 2 kali sehari, mukolitik ambroxol sirup 3
kali sehari satu sendok teh, dan obat dekongestan berupa Rhinos Junior sirup 3
kali sehari satu sendok teh. Edukasi yang dapat diberikan kepada pasien untuk
menjaga kebersihan telinga, mengedukasi pasien untuk tidak mengorek telinga
sendiri, menghindari asap rokok, makan makanan bergizi, minum obat secara
teratur sesuai petunjuk dokter, dan kontrol ulang.
DISKUSI
Dilaporkan suatu kasus otitis media efusi auris dextra et sinistra pada
anak perempuan berusia 9 tahun. Otitis media akut merupakan penyakit telinga
yang paling sering terjadi pada anak-anak. Di Amerika Serikat, otitis media efusi
merupakan diagnosa utama yang paling sering dijumpai pada anak-anak usia kurang dari
15 tahun yang diperiksa di tempat praktek dokter. Sekitar 80% anak-anak mengalami
episode otitis media dengan efusi saat berusia kurang dari 10 tahun. Dalam suatu
penelitian dilaporkan prevalensi OME pada anak usia 0-14 tahun di Jakarta Timur
sebanyak 1,3%.5,6
Pada kasus ini diagnosis otitis media efusi auricular dextra et sinistra
ditegakkan berdasarkan alloanamnesis, gejala klinis, pemeriksaan fisik pasien,
dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien datang
dengan keluhan penurunan pendengaran sejak 1 tahun yang lalu dan semakin
menurun sejak 2 bulan yang lalu dan telinga terasa penuh, tanpa adanya demam,
nyeri telinga, dan telinga berdenging, serta tidak ada riwayat keluar cairan dari
telinga. OME adalah peradangan telinga tengah yang di tandai dengan adanya
cairan efusi (gejala berupa penurunan pendengaran dan telinga terasa penuh) di
rongga telinga tengah dengan membran timpani utuh tanpa disertai dengan tanda-
tanda infeksi seperti demam, dan keluar cairan dari telinga.1
Pasien juga memiliki riwayat batuk dan pilek sejak 2 bulan yang lalu.
Infeksi saluran napas atas merupakan infeksi akut yang terjadi pada hidung, sinus
paranasal, faring, laring, trachea dan bronchi. Pada anak-anak penderita OME
biasanya sering didapati riwayat batuk pilek dan nyeri tenggorokan berulang Virus
adeno- dan rhinobirus yang menyebabkan ISPA dapat menginvasi telinga mukosa
telinga tengah dan meningkatkan aktifitas sekretori.2,15
Pasien juga memiliki anggota keluarga serumah yang merokok yaitu
uwak (paman) pasien, dimana asap rokok dapat mempengaruhi terjadinya efusi
telinga tengah pada anak, yaitu: (1) efek langsung dari iritasi asap rokok tembakau
pada mukosa telinga tengah dan tuba Eustachius; (2) efek tidak langsung dari
iritasi jaringan adenoid yang menyebabkan peningkatan pelepasan histamin yang
menyebabkan suatu efusi telinga tengah; (3) efek tidak langsung melalui sistem
pernapasan yaitu asap rokok dapat menyebabkan lebih sering terjadinya infeksi
pernapasan pada anak yang berakibat insiden yang lebih tinggi terhadap terjadinya
efusi telinga tengah.22
Pada pemeriksaan fisik umum didapati keadaan umum pasien tampak
sakit ringan, kesadaran compos mentis, keadaan gizi baik, tekanan darah 110/70,
nadi 90x/menit, pernafasan 20x/menit, suhu 36,5oC. Jantung, paru-paru, abdomen
dan ekstremitas dalam batas normal. Pada pemeriksaan status lokalis telinga
didapati saluran telinga kiri dan kanan lapang tanpa disertai adanya sekret,
membran timpani tampak intak, berpendar, dan refleks cahaya positif.
Pemeriksaan rhinoskopi anterior pada hidung kanan dan kiri didapatkan cavum
nasi cukup, terdapat sekret, dan konka inferior hipertrofi. Dari pemeriksaan
orofaring didapatkan arcus faring simetris, uvula di tengah, Tonsil (T1-T1). Dari
pemeriksaan otoskopi didapatkan membran timpani utuh tanpa adanya gejala
inflamasi akut. Pemeriksaan rhinoskopi anterior didapatkan konka inferior
hipertropi dan terdapat sekret menunjukkan bahwa kemungkinan pasien masih
pilek (ISPA) yang merupakan predisposisi terjadinya OME.
Perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis,
pemeriksaan yang dilakukan ialah pemeriksaan Timpanometri. Dari pemeriksaan
Timpanometri didapatkan hasil timpanogram tipe B (flat) yang menunjukkan
terdapat cairan di cavum timpani. Pada penderita OME gambaran timpanogram
yang sering didapati adalah tipe B. Tipe B bentuknya relatif datar, hal ini
menunjukan gerakan membrana timpani terbatas karena adanya cairan atau
pelekatan dalam kavum timpani.19
Dari alloanamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang
telah dilakukan dapat ditegakkan diagnosis berupa otitis media efusi dengan
diagnosis banding otitis media akut.20
Pada otitis media efusi pengobatannya dapat berupa tindakan bedah atau
secara konservatif saja (medikamentosa). Tindakan bedah yang dapat dilakukan
ialah paracentesis (apabila pasien kooperatif). Pada pasien ini terapi yang
diberikan berupa antibiotika spektrum luas yaitu cefadroxil kapsul 2 kali sehari
(karena anak sudah cukup besar), pemberian antibiotik dalam kasus yang
diakibatkan ISPA dan otitis media supuratif akut, diberikan juga mukolitik
ambroxol sirup 3 kali sehari satu sendok teh yang dimaksudkan untuk merubah
viskoelastisitas mukus telinga tengah untuk memperbaiki transport mukus dari
telinga tengah melalui TE ke nasofaring, dan obat dekongestan berupa Rhinos
Junior sirup 3 kali sehari satu sendok teh untuk mengatasi pilek. Dekongestan
topikal dalam bentuk tetes hidung, spray, atau dekongestan sistem membantu
mengurangi edema pada tuba eustachius. 2
Adapun edukasi yang dapat diberikan kepada pasien untuk menjaga
kebersihan telinga guna mencegah komplikasi penyakit menjadi lebih parah,
mengedukasi pasien untuk tidak mengorek telinga sendiri, menghindari asap
rokok, makan makanan bergizi, minum obat secara teratur sesuai petunjuk dokter
serta kontrol ulang (2 minggu). Apabila terdapat komplikasi seperti OMA,
sklerosis, dll maka dapat mengakibatkan gangguan pendengaran atau kehilangan
pendengaran yang dapat mempengaruhi perkembangan bahasa dan prilaku jika
dialami oleh anak-anak karena itu dibutuhkan diagnosis dini dan pengobatan yang
adekuat.
DAFTAR PUSTAKA

1. Rosenfeld RM and Bluestone CD. 1999. Evidence based media Stephen


Berman, MD eds. Canada BC Decker Inc.
2. Dhingra, PL. 2005. Otitis Media With Effusion. Disease of Ear, Nose, and
Throat. 4th Edition. New Delhi : Churchill Livingstone Pvt Ltd . Hal. 63-65

3. Djaafar ZA, Helmi, Restuti RD. 2007. Kelainan Telinga Tengah. In:
Soepardi EA, et all, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala dan Leher. 7th ed. Jakarta : Badan Penerbit FKUI. Hal.
57-69
4. Levenson, M. J. 2008. Fluids in The Middle Ear (Serous Otits Media)
in Ear Surgery Information Center. Diakses pada:
http://www.EarSurgeryInformationCenter-SerousOtitisMedia.mnt

5. American Academy of Pediatric. 2004. Otitis Media with Effusion. Office


Journal of The American Academy of Pediatrics. Volume 113 No 5. Hal.
1412-29.
6. Rizaldi R (2012). Proporsi Kepositifan Kadar Kotinin Urin pada Anak
Otitis Media Efusi Usia 0 14 Tahun di Kotamadya Jakarta Timur. Tesis
Akhir PPDS THT-KL. Bagian THT-KL FK UI RSCM. Jakarta.
7. Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran (Tuli).
Buku Ajar Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher.
Balai penerbit FKUI, Jakarta; 2012.
8. Snell, Richard S. Anatomi Klinik Edisi 6. Jakarta : EGC. 2006.p782-792
9. Kaneshiro, Neil K. Ear anatomy. Diakses pada:
https://medlineplus.gov/ency/imagepages/1092.htm
10. Probost R, Grevers G, Iro H. Middle ear. In: Probost R, Grevers G, Iro H,
editors. Basic Otorhinolaryngology. Stutgart : Thieme.; 2006. Hal. 228-
249
11. Health Life Media Team. Anatomy of Middle Ear. Diakses pada:
http://healthlifemedia.com/healthy/the-anatomy-of-the-human-ear-the-
middle-ear/.
12. Wiley, John. Anatomy of Inner Ear. Diakses pada:
http://www.jouefct.com/inner-ear-anatomy-for-inspiration-medice/inner-
ear-anatomy-for-inspiration-medice/
13. Kubba H, Pearson JP, Birchall JP.(2000) The aetiology of otitis media with
effusion: a review. Clin Otolaryngol. 25:181-94.
14. Bluestone CD, Klein JO. 2007. Physiology, Pathophysiology, and
Pathogenesis. In: Bluestone CD, ed Otitis Media in infant and children 4th
ed: BC Decker Inc. Hal. 87-94.
15. Paparella,MM., Adams, GL., Levine, SC. 1997. Penyakit telinga tengah
dan mastoid. Dalam: Adams, GL., Boies,LR., Higler, PA. BOIES Buku
Ajar Penyakit THT. Ed. 6. Jakarta :EGC. Hal. 88-118
16. Maqbool, Mohammad dan Suhail. 2007. Textbook of Ear, Nose, Throat
Diseases. 11th ed. Hal 77-78.
17. Rothschild, Michael. Pediatric Ear, Nose, and Throat. http://www.kids-
ent.com/pediatricent /ear_infections/
18. Efendi, Harjanto; Santoso Kuswidayati. Penyakit Telinga Tengah dan
Mastoid. Buku Ajar Penyakit THT, Ed.6. EGC, Jakarta, Indonesia. Hal.
97-98
19. Lalwani AK. 2008. Current Diagnosis and Treatment Otolaryngology,
Head and Neck Surgery. Second edition. 2008. McGraw Hill, New York.
20. Megantara, Imam. 2008. Informasi Kesehatan THT: Otitis Media Efusi.
http://www.perhati-kl.org/
21. Ramakrishnan, Kalyanakrishnan. 2007. American Family Physician.
http://www.aafp.org/ afp /AFPprinter/20071201/1650.html
22. Lee IW, Goh EK, Roh HJ. 2006. Histologic changes in the eustachian tube
mucosa of rats after short-term exposure to cigarette smoke. Otology &
Neurotology; 27:433-40.