You are on page 1of 7

ASUHAN KEPERAWATAN PADA By.Ny.

S DENGAN BBLSR DAN ASFIKSIA SEDANG


DI RUANG PERAWATAN BAYI BERESIKO TINGGI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT
Dr. KARIADI SEMARANG

Dosen Pembimbing : Ns. Zubaidah M.Kep.,Sp.Kep.An.


Pembimbing Klinik : Ns. Nur Hidayah, S.Kep

Oleh :
Roikhatul Masithoh
220201156210038

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS XXVII


DEPARTEMEN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG
2016

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lahirnya seorang individu yang sehat dari seorang ibu yang sehat merupakan
harapan setiap individu. Bayi lahir sehat artinya tidak mempunyai gejala sisa atau
tidak mempunyai kemungkinan mendapatkan gejala yang penyebabnya dapat dicegah
dengan pengawasan antenatal dan perinatal yang baik. Kelainan pada kehamilan dan
kelahiran dapat menyebabkan bayi baru lahir mengalami kondisi lahir kurang sehat
diantaranya lahir dengan berat badan rendah.
Bayi berat badan lahir rendah ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat
lahir kurang dari 2500 gram (WHO, 1961). Berat badan lahir rendah adalah bayi
dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir. (Huda dan Hardhi,
NANDA NIC-NOC, 2013). Tingginya morbiditas dan mortalitas bayi berat lahir
rendah masih menjadi masalah utama. Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya
kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR.
Bayi BBLR akan memiliki alat tubuh yang belum berfungsi dengan baik. Oleh
sebab itu ia akan mengalami kesulitan untuk hidup di luar uterus ibunya. Makin
pendek masa kehamilannya makin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam
tubuhnya, dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan makin tinggi angka
kematiannya.
Bayi Ny.R lahir dengan berat badan 1400 gram dengan asfiksia sedang setelah
empat hari perawatan di ruang perinatologi RSUP Dr. Karyadi Semarang terjadi
penurunan berat badan menjadi 1365 gram kondisi masih terpasang alat bantu napas
dan masih memerlukan pengawasan ketat.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami konsep dan asuhan keperawatan pada bayi baru lahir
dengan kondisi berat badan rendah.
2. Tujuan khusus
a. Mampu menjelaskan konsep dasar bayi berat lahir rendah, definisi, faktor yang
mempengaruhi, dan penatalaksanakanyang dibutuhkan dalam merawat bayi
dengan berat lahir rendah.
b. Mampu menjelaskan konsep asuhan keperawatan BBLR meliputi pengkajian,
intervensi, implementasi dan evaluasi.
c. Mampu melakukan asuhan keperawatan asuhan keperawatan BBLR meliputi
pengkajian, intervensi, implementasi dan evaluasi.
d. Mampu mendokumentasikan pelaksanaan asuhan keperawatan BBLR
BAB IV
PEMBAHASAN

BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500
gram (sampai dengan 2499 gram), berkaitan dengan penanganannya dan harapan
hidupnya berat badan lahir rendah dibedakan 3 tingkatan yaitu: bayi berat lahir
rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500 gram- 2500 gram, bayi berat lahir sangat
rendah (BBLSR) dengan berat lahir <1500 gram, bayi berat lahir ekstrim rendah
(BBLER) dengan berat lahir <1000 gram.
Pengkajian pada bayi Ny.R diketahui bahwa berat lahir 1400 gram berada
pada klasifikasi BBLSR dengan asfiksia sedang lahir pada usia kehamilan 33
minggu, Ny.R mengatakan selama hamil tidak memiliki riwayat penyakit kronis,
riwayat pemakaian obat-obatan yang membahayakan kehamilan, akan tetapi Ny.R
mengaku selama hamil nafsu makannya berkurang dan makanan yang dikonsumsi
tidak setiap hari memenui gizi yang disarankan, suhu tubuh bayi Ny.R selama
empat hari dirawat fluktuatif (naik-turun), terpasang alat bantu napas berupa
CPAP dengan PEEP 7, dan terjadi penurunan berat badan menjadi 1365 gram.
Bayi Ny.R lahir melalui persalinan SC dengan indikasi solutio plasenta
merupakan kondisi dimana lepasnya plasenta dari dinding rahim bagian dalam
sebelum proses persalinan, baik seluruhnya maupun sebagian, dan merupakan
komplikasi kehamilan yang serius namun jarang terjadi. Plasenta berfungsi
memberikan nutrisi serta oksigen pada janin yang dikandung, dan merupakan
organ yang tumbuh di dalam rahim selama masa kehamilan. Solusio plasenta bisa
membahayakan nyawa ibu dan bayi yang dikandung jika tidak segera ditangani.
Hal ini dikarenakan solusio plasenta bisa menyebabkan pendarahan hebat bagi
sang ibu, dan bayi yang dikandung bisa kekurangan asupan nutrisi serta oksigen.
Pelepasan plasenta dapat terjadi disebabkan oleh perubahan vaskularisasi
plasenta,trombosis dan perfusi plasenta yang kurang. Pelepasan plasenta dapat
terjadi secara parsial, total dan tersembunyi. Pada pelepasan sebagian dan total,
dapat didapatkan manifestasi perdarahan pervaginam merah terang, nyeri
punggung, nyeri tekan pada uterus, perut tegang dan kaku dan syok hipovolemik.
Apabila perdarahan yang terjadi banyak dan akut, maka kehamilan tidak dapat
dipertahankan, sehingga lebih dari separuh kematian neonatus yang lahirdari ibu
dengan solusio plasenta disebabkan oleh prematuritas.
Berdasarkan data dari pengkajian tersebut dapat diketahui bahwa klien
mengalami masalah keperawatan berupa ketidakefektifan pola napas,
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, dan resiko
ketidakseimbangan suhu tubuh sehingga diprlukan intervensi keperawatan yang
dapat dengan tepat mengatasi permasalahan klien.
Ketidakefektifan pola nafas diatasi dengan memberikan intervensi
keperawatan airways management, oxygen therapy dan kolaborasi koreksi
elektrolit yang dapat mempengeruhi respirasi. Menurut Allen (2009)
penatalaksanaan gangguan nafas diawali dengan membersihkan jalan nafas, jalan
nafas dibersihkan dari lendir atau sekret yang dapat menghalangi jalan nafas
selama diperlukan, serta memastikan pernafasan dan sirkulasi yang adekuat.
Monitoring saturasi oksigen dapat dilakukan dengan menggunakan pulse oxymetri
secara kontinyu untuk memutuskan kapan memulai intubasi dan ventilasi. Semua
bayi yang mengalami distress nafas dengan atau tanpa sianosis harus mendapatkan
tambahan oksigen. Oksigen yang diberikan sebaiknya oksigen lembab dan telah
dihangatkan. Klien mendapatkan blended oksigen berasal dari CPAP 6 lpm.
Monitoring temperatur merupakan hal yang penting dalam perawatan neonatus
yang mengalami distress pernafasan. Keadaan hipo maupun hipertermi harus
dihindari. Temperatur bayi harus dijaga dalam rentang 36,537,5 oC.
Keseimbangan elektrolit penting untuk diperhatikan, keadaan hipokalsemi,
hiponatremia dan hipokalsemia dapat memperberat gangguan penafasa, membuat
kontraksi otot pernafasan tidak adekuat untuk untuk melakukan usaha nafas,
sehingga pernafasan membutuhkan otot bantu pernafasan (retraksi dada). Evaluasi
ketidakefektifan pola nafas salah satunya dengan mengkaji downes score. Skor 0-
4 menunjukkan distress pernafasan ringan, diatasi dengan pemberian terapi
oksigen dengan mengunakan nasal canul atau headbox, 4-7 distress pernafasan
sedang membutuhkan CPAP dan lebih dari 7 menunjukkan distres pernafasan
berat membutuhkan intubasi. Berikut tabel panduan penilaian downes score.
Skor
Pemeriksaan
0 1 2

Frekuensi napas < 60 /menit 60-80 /menit > 80/menit

Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat

Sianosis Tidak ada sianosis Sianosis hilang Sianosis menetap


dengan 02 walaupun diberi O2

Air entry Udara masuk Penurunan ringan Tidak ada udara


udara masuk masuk

Merintih Tidak merintih Dapat didengar Dapat didengar


dengan stetoskop tanpa alat bantu

Skor > 6 : Ancaman g

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x8 jam masalah keperawatan


ketidakefektifan pola nafas tidak teratasi, masih terdapat retraksi dada ringan (subcostal dan
epigastrial.

Masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada klien diatasi
dengan melakukan pemasangan OGT, memberikan diet ASI/PASI setiap 3 jam sekali,
pemberian nutrisi parenteral berupa aminosteril dan ivelip, pemantauan berat badan dan
status nutrisi klien. pada masalah resiko ketidakseimbangan suhu tubuh klien dilakukan
pengontrolan suhu inkubator, pemenuhan nutrisi sesuai diet, pemantauan suhu tubuh klien
setiap 6 jam/hari.
BAB V

PENUTUP

1. Kesimpulan
By.Ny.R dengan diagnosa medis BBLSR dengan asfiksia sedang telah mendapatkan
penegakan diagnostik dan penatalaksaaan gangguan nafas sesuai dengan tatalaksana
asfiksia sedang BBLSR pada beberapa literatur, penalaksanaan suportif dan dan etilogik
dilakukan dengan tepat. Masalah keperawatan utama ketidakefektifan pola nafas tidak
teratasi, masih terdapat retraksi dada subcostal dan epigastrial, Masalah non respiratorik
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan resiko ketidakseimbangan
suhu tubuh juga belum teratasi.
2. Saran
a. Mahasiswa
Mahasiswa perlu meningkatan kemampuan untuk melakukan asuhan keperawatan pada
BBLR dengan asfiksia dari tahap pengkajian sampai dengan evaluasi serta menambah
wawasan tentang terapi atau tindakan untuk menjaga kepatenenan jalan nafas klien
sehingga ventilasi, difusi dan perfusi oksigen pasien dengan gangguan nafas dapat
optimal kembali.
b. Perawat
Perawat melakukan pengkajian downes score untuk menilai kemungkinan distress
pernafasan pada bayi sehingga dapat memberikan penatalaksaan yang cepat dan tepat.

Daftar Pustaka
Asbaugh, 2010. Pathophysiology Of Oxygen Delivery In Respiratory Failure. Chest.128:547-
553.

Deslidel, et al. 2011. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Dochtermant dan Gloria. 2008. NIC. Missouri :Mosby


Harslie, 2009. Respiratory Distress In The Newborn. Am Fam Physician. 76:987-94.
Herdman, T. Heather. 2015. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2015-2017.
Jakarta : EGC

Kosim Soleh, dkk. 2005. Panduan Manejemen Bayi Baru Lahir Untuk Dokter, Perawat,
Bidan di Rumah Sakit dan Rujukan Dasar. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Moorhead, et al. 2008. NOC. Missouri: Mosby

Nelson ,Waldoe. 2005. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Volume 3. Jakarta: EGC

Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC Jilid 1,2,3.Yogyakarta : Media Action

Surasmi, et al. 2009. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Suriadi. 2006. Online : hhtp://gangguannafaspadaneonatus dan anak. Diakses pada tanggal


8-05-2016 pukul 08.20 WIB

Wahyuni, Sari. 2011. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Wratney A, Chifetz I, Fortenberry J, Paden M. 2006. Disorders Of The Lung Parenchyma.


Philadelphia: Lippincott