You are on page 1of 24

MANAJEMEN NUTRISI PADA PASIEN DM

I. Pendahuluan

Diabetes Mellitus merupakan penyakit sillent killer yang ditandai dengan peningkatan
kadar glukosa darah dan kegagalan sekresi insulin atau penggunaan insulin dalam
metabolisme yang tidak adekuat. Diabetes Mellitus sering disebut sebagai the great imitator,
karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam
keluhan. Gejalanya sangat bervariasi, Diabetes mellitus (DM) dapat timbul secara perlahan-
lahan sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang menjadi
lebih banyak, buang air kecil ataupun berat badan yang menurun. Gejala-gejala tersebut dapat
berlangsung lama tanpa diperhatikan, sampai kemudian orang tersebut pergi kedokter dan
diperiksa kadar glukosa darahnya.

1
II. DIABETES MELITUS

A. Pengertian

Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dan bersifat


degeneratif yang dimanifestasikan oleh kehilangan toleransi karbohidrat dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya
dan merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sangat cepat peningkatannya
(American Diabetes Association [ADA] 1998 dalam Soegondo, 2007; Price & Wilson,
2006; Suyono dalam Sudoyo, 2006).

Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002 dalam www.ilmukeperawatan.com).

Diabetes Melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin
baik absolut maupun relatif (Noer, 2003 dalam www.trinoval.web.id).

Diabetes mellitus adalah penyakit dimana penderita tidak bisa mengontrol kadar gula
dalam tubuhnya. Tubuh akan selalu kekurangan ataupun kelebihan gula sehingga
mengganggu system kerja tubuh secara keseluruhan (FKUI, 2001 dalam
www.trinoval.web.id).

Diabetes mellitus adalah sekelompok kelainan yang ditandai oleh peningkatan kadar
glukosa darah (hiperglikemia). Mungkin terdapat penurunan dalam kemampuan tubuh untuk
berespon terhadap insulin dan atau penurunan atau tidak terdapatnya pembentukan insulin
oleh pancreas. Kondisi ini mengarah pada hiperglikemia, yang dapat menyebabkan terjadinya
komplikasi metabolic akut seperti ketoasidosis diabetic. Hiperglikema jangka panjang dapat
menunjang terjadinya komplikasi mikrovaskular kronis (penyakit ginjal dan mata) serta
komplikasi neuropati. Diabetes juga berkaitan dengan kejadian penyakit makrovaskuler,
termasuk infark miokard, stroke, dan penyakit vaskuler perifer.(brunner and suddarth,
2002: 109)

B. Jenis Diabetes Mellitus

1. Tipe 1: Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)

Diabetes ini dikenal sebagai tipe juvenile onset dan tipe dependen insulin, namun
kedua tipe ini dapat muncul pada sembarang usia. Insidens tipe 1 sebanyak 30.000 kasus baru
setiap tahunnya dan dapat dibagi dalam dua subtype yaitu autoimun akibat disfungsi
autoimun dengan kekurangan sel-sel beta dan idiopatik tanpa bukti adanya autoimun dan
tidak diketahui sumbernya. Sub tipe ini lebih sering timbul pada etnik keturunan Afrika-
Amerika dan Asia.Diabetes tipe 1 banyak ditemukan pada balita, anak-anak dan remaja.

Sampai saat ini, Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat di obati dengan pemberian
therapi insulin yang dilakukan secara terus menerus berkesinambungan. Riwayat keluarga,

2
diet dan faktor lingkungan sangat mempengaruhi perawatan penderita diabetes tipe 1. Pada
penderita diebetes tipe 1 haruslah diperhatikan pengontrolan dan memonitor kadar gula
darahnya, sebaiknya menggunakan alat test gula darah. Terutama pada anak-anak atau balita
yang mana mereka sangat mudah mengalami dehidrasi, sering muntah dan mudah terserang
berbagai penyakit.

2. Tipe 2: Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)

1) 90% sampai 95% penderita diabetic adalah tipe 2. Kondisi ini diakibatkan oleh
penurunan sensitivitas terhadap insulin (resisten insulin) atau akibat penurunan
jumlah pembentukan insulin
2) Pengobatan pertama adalah dengan diit dan olahraga; jika kenaikan kadar glukosa
darah menetap, suplemen dengan preparat hipoglikemia(suntikan insulin dibutuhkan
jika preparat oral tidak dapat mengontrol hiperglikemia)
3) Terjadi paling sering pada mereka yang berusia lebih dari 30 tahun dan pada mereka
yang obesitas.

3. Diabetes gestasional (GDM )

GDM dikenal pertama kali selama kehamilan dan mempengaruhi 4% dari semua
kehamilan. Faktor resiko terjadinya GDM adalah usia tua, etnik, obesitas, multiparitas,
riwayat keluarga, dan riwayat diabetes gestasional terdahulu. Karena tejadi peningkatan
sekresi berbagai hormone yang mempunyai efek metabolic terhadap toleransi glukosa, maka
kehamilan adalah suatu keadaan diabetogenik. Pasien-pasien yang mempunyai presdisposisi
diabetes secara genetic mungkin akan memperlihatkan intoleransi glukosa atau manifestasi
klinis diabetes pada kehamilan.

4. Diabetes Melitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya.

Dalam skala yang lebih kecil, ada beberapa kasus diabetes oleh syndrome genetic tertentu
( perubahan fungsi sel beta dan perubahan fungsi insulin secara genetis ), gangguan pada
pancreas yang didapati pada pecandu alcohol, dan penggunan obat ataupun zat kimia.
Beberapa kasus tersebut dapat memicu gejala yang sama dengan diabetes. ( Pearce, 2007 )

C. Etiologi

Sesuai dengan klasifikasi yang telah disebutkan sebelumnya maka penyebabnyapun pada
setiap jenis dari diabetes juga berbeda. Berikut ini merupakan beberapa penyebabdari
penyakit diabetes mellitus

1. Diabetes Melitus tipe 1 ( IDDM )

a. Faktor genetic

Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu
predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan
genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.

3
b. Faktor-faktor imunologi

Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada
jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya
seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan
insulin endogen.

c. Faktor lingkungan

Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
(Price,2005)

2. Diabetes Melitus tipe 2 ( NIDDM )

Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi
insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam
proses terjadinya resistensi insulin.

Faktor resiko:

1. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)

Sekitar 90% dari kasus diabetes yangdidapati adalah diabetes tipe 2. Pada awlanya, tipe 2
muncul seiring dengan bertambahnya usia dimana keadaan fisik mulai menurun.

2. Obesitas

Obesitas berkaitan dengan resistensi kegagalan toleransi glukosa yang menyebabkan diabetes
tipe 2. Hala ini jelas dikarenakan persediaan cadangan glukosa dalam tubuh mencapai level
yang tinggi. Selain itu kadar kolesterol dalam darah serta kerja jantung yang harus ekstra
keras memompa darah keseluruh tubuh menjadi pemicu obesitas. Pengurangan berat badan
sering kali dikaitkan dengan perbaikan dalam sensivitas insulin dan pemulihan toleransi
glukosa.

3. Riwayat keluarga

Indeks untuk diabetes tipe 2 pada kembar monozigot hamper 100%. Resiko berkembangnya
diabetes tipe 3 pada sausara kandubg mendekati 40% dan 33% untuk anak cucunya. Jika
orang tua menderita diabetes tipe 2, rasio diabetes dan nondiabetes pada anak adalah 1:1 dan
sekitar 90% pasti membawa carer diabetes tipe 2.( Martinus,2005)

3. Diabetes gestasional (GDM )

Pada DM dengan kehamilan, ada 2 kemungkinan yang dialami oleh si Ibu:

a. Ibu tersebut memang telah menderita DM sejak sebelum hamil

b. ibu mengalami/menderita DM saat hamil

Klasifikasi DM dengan Kehamilan menurut Pyke:

4
Klas I : Gestasional diabetes, yaitu diabetes yang timbul pada waktu hamil dan
menghilang setelah melahirkan.
Klas II : Pregestasional diabetes, yaitu diabetes mulai sejak sebelum hamil dan
berlanjut setelah hamil.
Klas III : Pregestasional diabetes yang disertai dengan komplikasi penyakit pembuluh
darah seperti retinopati, nefropati, penyakit pemburuh darah panggul dan pembuluh
darah perifer.

Pada saat seorang wanita hamil, ada beberapa hormon yang mengalami peningkatan
jumlah. Misalnya, hormon kortisol, estrogen, dan human placental lactogen (HPL). Ternyata,
saat hamil, peningkatan jumlah hormon-hormon tersebut mempunyai pengaruh terhadap
fungsi insulin dalam mengatur kadar gula darah (glukosa). Kondisi ini menyebabkan kondisi
yang kebal terhadap insulin yang disebut sebagai insulin resistance.Saat fungsi insulin dalam
mengendalikan kadar gula dalam darah terganggu, jumlah gula dalam darah pasti akan naik.
Hal inilah yang kemudian menyebabkan seorang wanita hamil menderita diabetes gestasional

4. Diabetes Melitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya

Kelainan genetic dalam sel beta.


Pada tipe ini memiliki prevalensi familial yang tinggi dan bermanifestasi sebelum usia
14 tahun. Pasien seringkali obesitas dan resisten terhadap insulin.
Kelainan genetic pada kerja insulin
sindrom resistensi insulin berat dan akantosis negrikan
Penyakit endokrin seperti sindrom Cushing dan akromegali
Obat-obat yang bersifat toksik terhadap sel-sel beta
Infeksi
D. Patofisiologi

Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek
utama akibat kurangnya insulin berikut:

Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel sel tubuh yang mengakibatkan naiknya
konsentrasi glukosa darah setinggi 300 1200 mg/dl.
Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan
terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol pada
dinding pembuluh darah.
Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh. Pasien pasien yang mengalami
defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang
normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yang parah yang melebihi
ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 180 mg/100 ml ),
akan timbul glikosuria karena tubulus tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali
semua glukosa.

Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai
kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi
dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami

5
keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi.
Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah
dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga
berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi. Hiperglikemia yang lama akan
menyebabkan arterosklerosis, penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer.
Ini akan memudahkan terjadinya gangren.

Gangren Kaki Diabetik

Ada dua teori utama mengenai terjadinya komplikasi kronik DM akibat hiperglikemia, yaitu
teori sorbitol dan teori glikosilasi.

a. Teori Sorbitol

Hiperglikemia akan menyebabkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan
tertentu dan dapat mentransport glukosa tanpa insulin. Glukosa yang berlebihan ini tidak
akan termetabolisasi habis secara normal melalui glikolisis, tetapi sebagian dengan
perantaraan enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol. Sorbitol akan tertumpuk
dalam sel / jaringan tersebut dan menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi.

b. Teori Glikosilasi

Akibat hiperglikemia akan menyebabkan terjadinya glikosilasi pada semua protein,


terutama yang mengandung senyawa lisin. Terjadinya proses glikosilasi pada protein
membran basal dapat menjelaskan semua komplikasi baik makro maupun mikro
vaskular.Terjadinya Kaki Diabetik (KD) sendiri disebabkan oleh faktor factor disebutkan
dalam etiologi. Faktor utama yang berperan timbulnya KD adalah angiopati, neuropati dan
infeksi. Neuropati merupakan faktor penting untuk terjadinya KD. Adanya neuropati perifer
akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. Gangguan sensorik akan
menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga akan mengalami
trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan motorik juga
akan mengakibatkan terjadinya atrofi otot kaki, sehingga merubah titik tumpu yang
menyebabkan ulsetrasi pada kaki pasien. Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran
darah ke kaki. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka
penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu.

Manifestasi gangguan

Pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin, nyeri kaki di
malam hari, denyut arteri hilang, kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Adanya angiopati
tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi, oksigen (zat asam ) serta
antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh ( Levin,1993). Infeksi sering merupakan
komplikasi yang menyertai KD akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati, sehingga
faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhdap penyembuhan atau pengobatan dari KD.

E. Tanda dan Gejala

6
Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis
yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula
dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis
yang mengandung gula (glucose), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut.

Penderita diabetes melitus umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah ini meskipun
tidak semua,dialami oleh penderita :

a. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria)


b. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia)
c. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia)
d. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria)
e. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
f. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki
g. Cepat lelah dan lemah setiap waktu
h. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba
i. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya
j. Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.

Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat menyebabkan seseorang tidak
sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma. Gejala diabetes melitus dapat berkembang
dengan cepat waktu ke waktu dalam hitungan minggu atau bulan, terutama pada seorang anak
yang menderita penyakit diabetes mellitus tipe 1.

Lain halnya pada penderita diabetes mellitus tipe 2, umumnya mereka tidak mengalami
berbagai gejala diatas. Bahkan mereka mungkin tidak mengetahui telah menderita kencing
manis.

Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan
adalah :

Katarak Infeksi jamur di Penyakit


Glaukoma kulit pembuluh darah
Retinopati Dermatopati perifer
Gatal seluruh Neuropati perifer Penyakit koroner
badan Neuropati visceral Penyakit
Pruritus Vulvae Amiotropi pembuluh darah
Infeksi bakteri Ulkus Neurotropik otak
kulit Penyakit ginjal Hipertensi

7
F. Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah, tidak dapat
ditegakkan hanya atas dasar adanya glukosuria saja. Dalam menegakkan diagnosis DM harus
diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk
diagnosis DM, pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara
enzimatik dengan bahan glukosa darah plasma vena. Saat ini banyak dipasarkan alat
pengukur kadar glukosa darah cara reagen kering yang umumnya sederhana dan mudah
dipakai.

Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah memakai alat-alat tersebut dapat dipercaya
sejauh kalibrasi dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan sesuai dengan cara standar yang
dianjurkan. Untuk memantau kadar glukosa darah dapat dipakai bahan darah kapiler. Ada
perbedaan antara uji diagnostic DM dan pemeriksaan penyaring. Uji diagnostic DM
dilakukan untuk mereka yang menunjukan gejala atau tanda DM. Sedangkan pemeriksaan
penyaring bertujuan untuk mengidenfikasi mereka yang tidak bergejala tetapi memilliki
resiko DM.

Pemeriksaan penyaring perlu dilakukan pada kelompok dengan salah satu faktor risiko untuk
DM, yaitu :

kelompok usia dewasa tua ( > 45 tahun )


kegemukan {BB (kg) > 120% BB idaman atau IMT > 27 (kg/m2)
tekanan darah tinggi (> 140/90 mmHg)
riwayat keluarga DM
riwayat kehamilan dengan BB lahir bayi > 4000 gram
riwayat DM pada kehamilan
dislipidemia (HDL < 35 mg/dl dan atau Trigliserida > 250 mg/dl
pernah TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) atau GDPT (Glukosa Darah Puasa
Terganggu)

Pemeriksaan penyaring yang dapat dilakukan:

1. Glukosa darah sewaktu

2. Kadar Glukosa darah puasa

3. Tes Toleransi Glukosa

G. Pengobatan Diabetes Mellitus

Tujuan utama terapi diabetes adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan
kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta
neuropatik. Tujuan teraupetik pada setiap jenis diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah
normal tanpa terjadinya hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas klien.
Ada lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes:

a. Diet
b. Latihan
c. Pemantauan
d. Terapi
e. Pendidikan

(keperawatan medical bedah, brunner and suddarth, 2002: 1226)

a) Penatalaksanaan Diet/Perencanaan Makanan(Meal planning)

Pada consensus perkumpulan endokrinologi Indonesia(PERKENI) telah ditetapkan


bahwa standar yang dianjurkan adalah santapan dengan komposisi seimbang berupa
karbohidrat(60-70%), protein (10-15%), lemak (20-25%),. Apabila diperlukan santapan
dengan komposisi karbohidrat sampai 70-75% juga memberikan hasil yang baik, terutama
untuk golongan ekonomi rendah. Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi,
umur, stress akut, dan kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Jumlah kandungan
kolestrol <300mg/hari. Jumlah kandungan serat kurang lebih 25 g/hari, diutamakan jenis
serat larut. Konsumsi garam dibatasi bila terdapat hipertensi. Pemanis dapat digunakan
secukupnya.

Cara menghitung kalori pada pasien DM

Tentukan terlebih dahulu berat badan ideal untuk mengetahui jumlah kalori basal pasien DM.
Cara termudah adalah perhitungan menurut Bocca :

BB ideal=(TB dalam cm 100)x 1 kg

Kemudian hitung jumlah kalori yang dibutuhkan. Ada beberapa cara untuk menentukan
jumlah kalori yang dibutuhkan seorang pasien DM.

1) Menghitung kebutuhan basal dengan cara mengalihkan berat badan ideal dengan 30
untuk laki-laki dan 25 untuk wanita. Kebutuhan kalori sebenarnya harus ditambah lagi sesuai
dengan kegiatan sehari-hari

2) Kebutuhan basal dihitung seperti , tetapi ditambah kalori berdasarkan persentase kalori
basal.

Kerja ringan, ditambah 10% dari kalori basal


Kerja sedang, ditambah 20% dari kalori basal
Kerja berat, ditambah 40-100% dari kalori basal
Pasien kurus, masih tumbuh kembang, terdapat infeksi, sedang hamil atau menyusui,
ditambah 20-30%

3) Suatu pegangan kasar dapat dibuat sebagai berikut:

a) Pasien kurus = 2300-2500 kkal


b) Pasien normal =1700-2100 kkal

c) Pasien gemuk =1300-1500 kkal

b) Latihan Jasmani

Dianjurkan latihan jasmani teratur, 3-4 kali tiap minggu selama kurang lebih 0,5 jam yang
sifatnya sesuai CRIPE (continous, Rhtmical, Interval, Progresiv, endurance training). Latihan
dilakukan terus menerus tanpa berhenti, otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur,
selang seling antara gerak cepat dan lambat, berangsur angsur dari sedikit ke latihan yang
lebih berat secara bertahap dan bertahan dalam waktu tertentu. Latihan yang dapat dijadikan
pilihan adlah jalan kaki, jogging, lari, renang, bersepeda, dan mendayung.Sedapat mungkin
mencapai zona sasaran atau zona latihan, yaitu 75%-85% denyut nadi maksimal.Hal yang
perlu diperhatikan dalam latihan jasmani ini adalah jangan memulai olahraga sebelum makan,
memakai sepatu yang pas, harus didampingi orang yang tahu mengatasi serangan
hipoglikemia, harus selalu membawa permen, dan memeriksa kaki setelah berolahraga.

c) Obat berkhasiat hipoglikemik

Jika pasien telah melakukan pengaturan makan dan kegiatan jasmani yang teratur tapi
kadar glukosa darah masih belum baik, dipertimbangkan pemakaian obat berkhasiat
hipoglikemik (oral/suntikan)

Obat Hipoglikemik Oral (OHO)

1) Sulfonylurea

Obat golongan sulfonylurea bekerja dengan cara :

Menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan


Menurunkan ambang sekresi insulin
Meningkatkan rangsangan insulin sebagai akibat rangsangan glukosa

2) Biguanid

Biguanid menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai dibawah normal. Preparat
yang ada dan normal adalah metformin. Obat ini dianjurkan untuk pasien gemuk(IMT>30)
sebagai obat tunggal. Pada pasien dengan berat lebih (IMT 27-30), dapat dikombinasi dengan
obat golongan sulfonylurea.

3) Inhibitor glukosidase

Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim glukosidase di dalam
saluran cerna, sehingga menurunkan penyerapan glukos.
4) Insulin sensitizing agent

Thoazolidinediones adalah golongan obat baru yang mempunyai efek farmakologi


meningkatkan sensitifitas insulin, sehingga bias mengatasi masalah resistensi insulin tanpa
menyebabkan hipoglikemia. Obat ini belum beredar di Indonesia.

Insulin

Indikasi penggunaan insulin pada NIDDM adalah:

1) DM dengan berat badan menurun cepat/kurus

2) Ketoasidosis, asidosis laktat, dan koma hiperosmolar

3) DM yang mengalami stress berat

4) Dm dengan kehamilan

5) DM yang tidak berhasil dikelola dengan obat hipoglikemik oral dosis maksimal atau
kontraindikasi obat tersebut.

Dosis insulin oral atau suntikan dimulai dengan dosis rendah, lalu dinaikkan perlahan-
lahan sesuai dengan hasil glukosa darah apsien. Jika pasien sudah diberikan sulfonylurea dan
metformin sampai dosis maksimal namun kadar glukosa darah belum mencapai sasaran
dianjurkan penggunaan kombinasi sulfonylurea dengan metformin. Jika cara ini tidak
berhasil juga, dipakai kombinasi sulfonilaria dan metformin

H. Komplikasi Diabetes Mellitus

Komplikasi yang berkaitan dengan kedua tipe diabetes digolongkan sebagai akut dan kronis

1. Komplikasi Akut

Komplikasi akut terjadi sebagai akibat dari ketidakseimbangan jangka pendek dalam
glukosa darah.Ada tiga komplikasi akut pada diabetes yang penting dan berhubungan dengan
gangguan keseimbangan kadar glukosa darah jangka pendek. Ketiga komplikasi tersebut
adalah: Hipoglikemia, ketoasidosis diabetic, dan sindrom HHNK(juga disebut koma
hiperglikemik hiperosmolar nonketotik)

a. Hipoglikemia terjadi kalau kadar glukosa darah turun di bawah 50 60 mg/dl. Keadaan
ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi
makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Hipoglikemia dapat
terjadi setiap saat pada siang atau malam hari. Kejadian ini bias dijumpai sebelum makan,
khususnya jika waktu makan tertunda atau bila pasien lupa makan camilan.

Gejala hipoglikemia dapat dikelompokkan menjadi dua kategori: Gejala adrenergic dan
gejala system saraf pusat.
Pada hipoglikemia ringan, ketika kadar glukosa darah menurun, system saraf simpatik
akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala seperti
tremor, takikardi, palpitasi, dan kegelisahan dan rasa lapar.
Pada hipoglikemia sedang, Penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel otak
tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda
gangguan fungsi pada system saraf pusat mencakupi ketidakmampuan konsentrasi,
sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, patirasa di daerah bibir serta
lidah, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang
tidak rasional, pengluhatan ganda, dan perasaan ingin pingsan.
Pada hipoglikea berat, fungsi system saraf pusat mengalami gangguan yang sangat
berat sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi
hipoglikemia yang dideritanya. Gejala dapat mencakup perilaku yang mengalami
disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan dari tidur, atau bahkan kehilangan
kesadaran.

Penanganan harus segera diberikan bila terjadi hipoglikemia. Rekomendasi biasanya


pemberian 10 15 gram gula yang bekerja cepat per oral:

2-4 tablet glukosa yang dapat dibeli di apotik


Teh yang manis
6-10 butir permen
2-3 sendok the sirup atau madu

b. Diabetes Ketoasidosis

1) Patofisiologi

Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya
jumlah insulin yang nyata. Keadaan ini menyebabkan gangguan pada metabolism
karbohidrat, protein, dan lemak. Ada tiga gambaran klinis yang penting pada diabetes
ketoasidosis:

a) Dehidrasi

b) Kehilangan elektrolit

c) Asidosis

Apabila jumlah insulin berkurang, jumlah glukosa yang memasuki sel akan berkurang
pula. Di samping itu produksi gula hati menjadi tidak terkendali pula. Kedua factor ini
menimbulkan hiperglikemia.Dalam upaya untuk menghilangkan glukosa yang berlebihan
dari dalam tubuh, ginjal akan mengekskresikan glukosa bersama-sama air dan
elektrolit(seperti natrium dan kalium). Diuresis osmotic yang ditandai dengan oleh urinasi
berlebihan(poliuria) ini akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit.

Akibat defisiensi insulin yang lain dalah pemecahan lemak(lipolisis) menjadi asam-
asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak bebas akan diubah menjadi badan keton oleh
hati. Pada ketoasidosis diabetic terjadi produksi badan keton yang berlebihan sebagai akibat
dari kekurangan insulin yang secara normal akan mencegah keadaan tersebut. Badan keton
bersifat asam, dan bila bertumpuk di sirkulasi darah, badan keton akan menimbulkan asidosis
metabolic.

2) Manifestasi Klinik

a) Hiperglikemia pada ketoasidosis diabetic akan menimbulkan poliuria dan polidipsi. Di


samping itu pasien juga mengalami penglihatan kabur, kelemahan, dan sakit kepala. Pasien
dangan penurunan volume intravaskuler yang nyata mungkin juga mengalami hipotensi
ortostatik

b) Ketosis dan asidosis yang merupakan cirri dkhas diabetes asidosis mengalami gejala
gastrointestinal seperti anoreksia, mual, muntah, dan nyeri abdomen. Nyeri abdomen dan
gejala-gejala fisik pada pemeriksaan dapat begitu berat sihingga tampaknya terjadi proses
intraabdominal yang memerlukan tindakan pembedahan. Napas pasien mungkin berbau
aseton sebagai akibat meningkatnya badan keton. Selain itu hiperventilasi dapat terjadi.
Pernapasan kusmaul ini menggambarkan upaya tubuh untuk mengurangi asidosis guna
melawan efek dari pembentukan badan keton.

c) Perubahan mental pada ketoasidosis diabetic bervariasi, antara pasien yang satu dan
lainnya. Pasien dapat terlihat sadar, mengantuk, atau koma.

3) Nilai laboratorium

Kadar glukosa darah dapat bervariasi dari 300-800mg/dl. Bukti adanya ketoasidosis
ditandai oleh kadar bikarbonat serum rendah (0 hingga 15 mEq/L) dan pH yang rendah(6,8-
7,3). Tingkat pCO2 yang rendah(10-30mmHg) mencerminkan kompensasi respiratorik
terhadap asidosis metabolic.

4) Terapi

Terapi diabetic ketoasidosis diarahkan pada perbaikan tiga permasalahan utama:


dehidrasi, kehilangan elektrolit, dan asidosis

Dehidrasi diatasi dengan rehidrasi untuk mempertahankan perfusi jaringan.


Disamping itu penggantian cairan akan menggalakkan ekskresi glukosa yang berlebihan
melalui ginjal. Pasien mungkin membutuhkan 6 hingga 10 liter cairan infuse untuk
menggantikan kehilangan cairan akibat poliuria, hiperventilasi, diare, dan muntah.

c. Sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar Nonketotik

1) Patofisiologi

Sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik merupakan keadaan yang didominasi


oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran. Pada saat
yang sama tidak ada atau sedikit terjadi ketosis ringan. Kelainan dasar biokimia pada sindrom
ini berupa kekurangan insulin efektif. Keadaan hiperglikemik persisten menyebabkan dieresis
osmotic sehingga terjadi kekurangan cairan dan elektrolit. Untuk mempertahankan
keseimbangan osmotic, cairan akan berpindah dari ruang intrasel ke dalam ruang ekstrasel.
Dengan adanya glukosuria dan dehidrasi, akan dijumpai keadaan hipernatremia dan
peningkatan osmolaritas.

2) Manifestasi klinik

Terdiri atas gejala hipotensi, dehidrasi berat, takikardi, dan tanda-tanda neurologis yang
bervariasi.

3) Penatalaksanaan

Penatalaksanaan HHNK serupa dengan DKA, yaitu: cairan, elektrolit, dan insulin.

2. Kompilkasi Kronis

Komplikasi jangka panjang diabetes dapat menyerang semua system organ dalam
tubuh. Kategori diabetes yang lazim digunakan adalah

a. Komplikasi Makrovaskuler

1) Penyakit arteri Koroner

Perubahan ateroskerotik dalam pembuluh darah besar sering terjadi peda diabetes.
Perunahan aterosklerotik dalam pembuluh arteri koroner menyebabkan peningkatan insidens
infark miokard pada penderita. Salah satu ciri unik pada penyakit arteri koroner yang diderita
oleh pasien-pasien diabetes adalah tidak terdapatnya gejala iskemik yang khas. Jadi, pasien
mungkin tidak memperlihatkan tanda-tanda awal penurunan aliran darah koroner dan dapat
mengalami infark miokard asimptomatik ini hanya dijumpai melalui pemeriksaan EKG.
Kurangnya gejala iskemik ini disebabkan oleh neuropati otonom

2) Penyakit Serebrovaskuler

Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah serebral atau pembentukan embolus


di tempat lain dalam system pembuluh darah yang kemudian terbawa aliran darah sehingga
terjepit dalam pembuluh darah serebral dapat menimbulkan serangan iskemia sepintas dan
stroke. Gejala penyakit serebrovaskuler ini dapat menyerupai gejala pada komplikasi akut
diabetes. Gejala tersebut mencakup keluhan pusing atau vertigo, gangguan penglihatan,
bicara pelo dan kelemahan.

3) Penyakit Vaskuler Perifer

Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar pada ekstermitas bawah


merupakan penyebab meningkatnya insidens penyakit oklusif arteri perifer pada pasien-
pasien diabetes. Bentuk penyakit oklusif arteri yang parah pada ekstermitas bawah ini
merupakan utama meningkatnya insidens gangrene dan amputasi pada pasien-pasien
diabetes.

Para peneliti diabetes masih terus menyelidiki hubungan antara diabetes dan penyakit
makrovaskuler. Ada factor-faktor resiko tertentu yang berkaitan dengan percepatan
ateroslerosis. Faktor-faktor ini mencakup kenaikan kadar lemak darah, hipertensi, kebiasaan
merokok, obesitas, kurangnya latihan dan riwayat keturunan.Diet merupakan terapi penting
dalam menangani obesitas, hipertensi dan hiperlipidemia. Latihan teratur merupakan terapi
yang sangat penting pula.

Apabila komplikasi makrovaskuler terjadi, penanganannya sama dengan penanganan


pada pasien nondiabetik. Disamping itu pengendalian kadar glukosa darah juga harus
diperhatikan.

b. Komplikasi Mikrovaskuler

Penyakit mikroangiopati ditandai oleh penebalan membrane basalis pembuluh kapiler.


Membran basalis mengelilingi sel-sel endotel kapiler. Ada dua tempat dimana gangguan
fungsi kapiler dapat berakibat serius; kedua tempat tersebut adalah mikrosirkulasi retina mata
dan ginjal. Retinopati diabetic yang diakibatkan oleh mikroangiopati merupakan penyebab
kebutaan yang utama pada individu yang berusia antara 20 hingga 74 tahun di Amerika
Serikat.

1) Retinopati Diabetik

Kelainan patologis mata yang disebut retinopati diabetic disebabkan oleh perubahan
dalam pembuluh-pembuluh darah kecil disekitar retina. Retina merupakan bagian mata yang
menerima bayangan dan mengirimkan informasi tentang bayangan tersebut ke otak. Bagian
ini mengandung banyak sekali pembuluh darah arteri serta vena kecil, arteriol, venula, dan
kapiler.Ada tiga stadium utama retinopati diabetic; retinopati nonproliferatif, retinopati
praproliferatif, dan retinopati proliferative.Komplikasi oftalmologi lain yang dapat terjadi
pada pasien diabetes mellitus adalah katarak, glaucoma, dan perubahan lensa.

2) Nefropati

Bukti menunjukkan bahwa segera sesudah terkena diabetes, khususnya bila kadar
glukosa darah meninggi, maka mekanisme filtrasi ginjal akan mengalami stress yang
menyebabkan kebocoran protein darah ke dalam urin. Sebagai akibatnya, tekanan dalam
pembuluh darah ginjal meningkat. Kenaikan tersebut diperkirakan berperan sebagai stimulus
untuk terjadinya nefropati.

c. Neuropati Diabetes

Neuropati pada diabetes mengacu kepada sekelompok penyakit yang menyerang


semua tipe saraf, termasuk saraf perifer, otonom dan spinal. Kelainan tersebut tampak
beragam secara klinis dan bergantung pada lokasi sel saraf yang terkena.
Patogenesis neuropati dalam diabetes dapat dikaitkan dengan mekanisme vaskuler atau
metabolic atau keduanya, meskipun perannya yang yang berhubungan mekanisme ini masih
belum berhasil ditentukan. Penebalan membrane basalis kapiler dan penutupan kapiler dapat
dijumpai. Disamping itu mungkin terdapat demielinisasi saraf yang diperkirakan
berhubungan dengan hiperglikemia. Hantaran saraf akan terganggu apabila terdapat kelainan
pada selubung myelin.

I. Diagnosa Keperawatan

a. Diagnosa keperawatan pada pasien dengan Diabetes mellitus (Doenges, 1999) adalah :

1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik, kehilangan gastrik,


berlebihan diare, mual, muntah, masukan dibatasi, kacau mental.

2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral : anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri
abdomen, perubahan kesadaran : status hipermetabolisme, pelepasan hormon stress.

3) Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer,
perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.

4) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik, perubahan kimia


darah, insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan energi, status hipermetabolisme/infeksi.

5) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan salah interpretasi informasi / tidak mengenal sumber informasi.
III. MANAJMEN NUTRISI PASIEN DM

A.Peran Nutrisi

Nutrisi juga dapat menunjukkan peranannya dalam terjadinya Diabetes Mellitus dalam
dua arah yang berlawanan. Nutrisi lebih yang merupakan petunjuk umum peningkatan taraf
kesejahteraan perorangan, memperbesar kemungkinan manifestasi DM, terutama pada
mereka yang memang dilahirkan dengan bakat tersebut. Pada keadaan yang demikian gejala
DM dapat di atasi dengan pengaturan kembali keseimbangan metabolisme zat gizi dalam
tubuh dengan masukan zat gizi melalui makanan. Belum adanya pedoman yang nyata akan
taraf gizi yang dianggap optimal membuka peluang terjadinya gizi lebih dan yang diketahui
cenderung lebih mudah jatuh dalam diabetes mellitus. Disamping itu, usaha diversifikasi
menu makanan rakyat, perlu diimbangi dengan kegiatan-kegiatan lain untuk membebaskan
bahan makanan yang potensial untuk dimakan dari racun yang dapat merugikan pertumbuhan
jaringan dalam tubuh manusia

B.Metabolisme Zat-Zat Gizi Pada Diabetes Mellitus.

Metabolisme basal pada Diabetes Mellitus biasanya tidak banyak berbeda dari orang
normal, kecuali pada keadaan yang parah dan tak terkendali. Pada keadaan puasa kadar
glucose darah yang normal adalah 70 90/100 ml. Pada diabetes yang berat angka tersebut
dapat mencapai 400 mg/100 ml atau lebih. Sintesa asam lemak pada penderita DM akan
menurun, sebaliknya oksidasi akan meningkat. Hasil metabolisme asam lemak yang
berlebihan akan meningkatkan kadar acetone heta hydroxylic acid dan acetoacetic acid yang
selanjutnya menimbulkan keadaan yang dikenal sebagai acidosis. Sebagai akibat ketidak
normalan metabolisme hidrat arang, protein akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
zat gizi tubuh melalui proses deaminasi asam amino. Pemecahan protein tersebut akan
menyebabkan peningkatan glucosa darah dan pembakaran asam lemak yang tidak lengkap.
C.Kebutuhan Zat Gizi Pada Penderita Diabetes Melitus

1. Protein.

Ada pada saat ini menganjurkan mengkonsumsi 10% sampai 20% energi dari protein
total. Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia kebutuhan protein untuk orang
dengan diabetes adalah 1015% energi. Perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kg
perhari atau 10% dari kebutuhan energi dengan timbulnya nefropati pada orang dewasa dan
65% hendaknya bernilai biologi tinggi.

2. Total Lemak.

Asupan lemak dianjurkan < 10% energi dari lemak jenuh dan tidak lebih 10% energi
dari lemak tidak jenuh ganda, sedangkan selebihnya yaitu 60 70% total energi dari lemak
tidak jenuh tunggak dan karbohidrat. Anjuran persentase energi dari lemak tergantung dari
hasil pemeriksaan glukosa, lipid, dan berat badan yang diinginkan. Untuk individu yang
mempunyai kadar lipid normal dan dapat mempertahankan berat badan yang memadai (dan
untuk pertumbuhan dan perkembangan normal pada anak dan remaja) dapat dianjurkan tidak
lebih dari 30% asupan energi dari lemak total dan < 10% energy dari lemak jenuh. Dalam hal
ini anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20 25% energi. Apabila peningkatan LDL
merupakan masalah utama, dapat diikuti anjuran diet dislipidemia tahap II yaitu < 7% energi
total dari lemaj jenuh, tidak lebih dari 30% energi dari lemak total dan kandungan kolesterol
200 mg/hari. Apabila peningkatan trigliserida dan VLDL merupakan masalah utama,
pendekatan yang mungkin menguntungkan selain menurunkan berat badan dan peningkatan
aktivitas adalah peningkatan sedang asupan lemak tidak jenuh tunggal 20% energi dengan <
10% masing energi masing-masing dari lemak jenuh dan tidak jenuh ganda sedangkan asupan
karbohidrat lebih rendah.

3. Lemak Jenuh dan Kolesterol.

Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolestrol adalah untuk
menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler. Oleh karena itu < 10% asupan energi sehari
seharusnya dari lemak jenuh dan asupan makanan kolesterol makanan hendaknya dibatasi
tidak lebih dari 300 mg perhari.

4. Karbohidrat dan Pemanis.


Rekomendasi tahun 1994 lebih menfokuskan pada jumlah total karbohidrat dari
padajenisnya. Buah dan susu sudah terbukti mempunyai respon glikemik menyerupai roti,
nasi dan kentang. Walaupun berbagai tepung-tepungan mempunyai respon glikemik yang
berbeda, prioritas hendaknya lebih pada jumlah total karbohidrat yang dikonsumsi dari pada
sumber karbohidrat. Anjuran konsumsi karbohidrat untuk orang dengan diabetes di Indonesia
adalah 60 70% energi

5. Sukrosa.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai bagian dari


perencanaan makan tidak memperburuk kontrol glukosa darah pada individu dengan diabetes
tipe 1 dan 2. Sukrosa dan makanan yang mengandung sukrosa harus diperhitungkan sebagai
pengganti karbohidrat makanan lain dan tidak hanya dengan menambahkannya pada
perencanaan makan.

6. Pemanis.

Fruktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil dari pada sukrosa dan kebanyakannya
karbohidrat jenis tepung-tepungan. Dalam hal ini fruktosa dapat memberikan
keuntungan sebagai bahan pemanis pada diet diabetes. Namun demikian, karena
pengaruh penggunaan dalam jumlah besar (20% energi) yang potensial merugikan
pada kolesterol dan LDL, fruktosa tidak seluruhnya menguntungkan sebagai bahan
pemanis untuk orang dengan diabetes.

Sorbitol, mannitol dan xylitol adalah gula alkohol biasa (polyols) yang menghasilkan
respon glikemik lebih rendah dari pada sukrosa dan karbohidrat lain. Penggunaan
pemanis tersebut secra berlebihan dapat mempunyai pengaruh laxatif.

Sakarin, aspartam, acesulfame adalah pemanis tak bergizi yang dapat diterima sebagai
pemanis pada semua penderita DM.

7. Serat.

Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang
yang tidak diabetes. Dianjurkan mengkonsumsi 20 35 gr serat makanan dari berbagai
sumber bahan makanan. Di Indonesia anjurannya adalah kira-kira 25 g/hari dengan
mengutamakan serat larut.
8. Natrium.

Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu tidak
lebih dari 3000 mg, sedangkan bagi yang menderita hipertensi ringan sampai sedang,
dianjurkan 2400 mg natrium perhari.

D.Tujuan Penyusunan Gizi Penderita Dm Adalah :

Menormalkan (mendekati normal) kadar glukosa darah dengan menyeimbangkan


asupan makanan dengan insulin dengan obat penurun glukosa oral dan aktifitas fisik.
Mencegah terjadinya dislipidemia
Mencegah terjadinya komplikasi
Mencapai berat badan yang diinginkan.
Meningkatkan derajat kesehatan menyeluruh melalui gizi optimal.

Pengaturan makan harus disertai dengan perubahan pola makan dan pola aktifitas fisik.
Dengan olahraga teratur sel organ lebih sensitif terhadap insulin yaitu glukosa masih bisa
masuk ke dalam sel walaupun insulin rendah.

E.Syarat Diet Penyakit Diabetes Melitus Adalah :

Energi cukup untuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal. Kebutuhan
energi ditentukan dengan memperhitungkan kebutuhan untuk metabolisme basal sebesar 25-
30 kkal/kgBB normal, ditambah kebutuhan untuk aktifitas fisik dan keadaan khusus misalnya
kehamilan atau laktasi serta ada tidaknya komplikasi. Makanan dibagi dalam tiga porsi besar,
yaitu makan pagi (20%), siang (30%), sore (25%), serta 2-3 porsi kecil untuk makanan
selingan (masing-masing 10-15%).Kebutuhan protein normal, yaitu 10-15% dari kebutuhan
energi total.Kebutuhan lemak sedang, yaitu 20-25% dari kebutuhan energi total. Kolesterol
300 mg/hari.Karbohidrat 60-70%, terutama karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik
yang rendah.

Penggunaan gula murni dalam minuman dan makanan tidak diperbolehkan kecuali
sedikit sebagai bumbu masakan. Bila kadar gula darah terkendali diperbolehkan
mengkonsumsi gula murni sampai 5% dari kebutuhan energi total.Penggunaan gula
alternative (selain sakarosa) dalam jumlah terbatas. Ada dua jenis ngula alternative yaitu
yang bergizi (fruktosa, gula alcohol berupa sorbitol, manitol, dan silitol)

gula alternative tidak bergizi (aspartame dan sakarin).

Asupan serat 25-50 g/hari dengan mengutamakan serat larut air.Asupan natrim pada
penderita DM tanpa hiprtensi yaitu1-3 g/hari, tetapi bila terdapat hipertensi asupan natrium
dikurangi.Cukup vitamin dan mineral.

F.Nutrisi Pada Pasien Dm Tipe 1 Dan Dm Tipe 2

a. DM tipe 1

Diet pada DM tipe 1 dilakukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah, yang mencakup
hal-hal sebagai berikut:

Makan 5 6 kali setiap hari pada waktu yang kurang lebih sama dengan interval
sekitar 3 jam dan terdiri atas 3 kali makanan pokok serta 3 kali camilan. Saat makan harus
disesuaikan dengan saat penyuntikan insulin hingga kadar puncak insulin dengan plasma
sama dengan kadar gula darah tertinggi sesudah makan.Usahakan minum minuman yang
bebas gula dan kaya serat, seperti agar-agar, rumput laut, gelatin, kolang-kaling.Pilihlah
camilan yang rendah lemak dan rendah indeks glikemknya tetapi dengan indeks kekenyangan
yang cukup tinggi seperti sayuran rebus serta buah segar yang berserat dan tidak begitu
manis, pisang rebus, roti bekatul, kacang hijau serta kacang kacangan lainnya, cracker dan
makanan camilan tanpa kalori seperti agar-agar, kolang-kaling, rumput laut dll.Biasakan
memakan sereal tinggi serat seperti havermut sebagai sarapan (> 6 gram) setiap pagi: hindari
makan sereal yanaag banyak mengandung gula.Biasakan makan buah-buahan segar,
khususnya buah yang biasa dimakan bersama kulitnya seperti apel, peach, belimbing, jambu,
tomat.Hindari kebiasan makan buah-buahan kaleng atau manisan yang direndam dalam
sirup.Minum susu rendah lemak (<1%) seperti susu krim, susu kedelai sebagai pengganti
susu fullcream untuk mengurangi asupaan lemak.Lakukan olahraga sebagai bagian dari
kegiatan sehari-hari. Olahraga tidak boleh dilakukan bila kadar gula darah tidak terkontrol
(>250 mg%) atau bila terdapat keton bodies dalam urine ( karena bahaya
ketoasidosis).Lakukan pemantauan kadar gula darah paling tidak satu kali perhari. Riset
membuktikan bahwa pengendalian gula darah dengan melakukan diet, olahraga yang teratur
dan terafi insulin serta pemantauan gula darah di rumah akan mengurangi perawatan di
rumah sakit bagi penyandang DM tipe 1.

b. DM Tipe 2

Tujuan utama diet pada DM tipe 2 adalah menurunkan dan/atau mengendalikan berat
badan di samping mengendalikan kadar gula dan kolesterol yang mencakup:

Makan 3 kali makanan utama dan 2-3 kali camilan per hari dengan interval waktu
sekitar 3 jam.Makan camilan yang rendah kalori dengan indeks glikemik yang rendah dan
indeks kekenyangan yang tinggi, seperti kolang-kaling, cincau, agar-agar, rumput laut, pisang
rebus, kacang hijau serta kacang-kacangan lainnya, sayuran rendah kalori dan buah-buahan
yang tidak manis (apel, belimbing, jambu) serta alpukat.Hindari kebiasaan minum sari buah
secara berlebihan, khususnya pada pagi hari dan gantikan dengan minuman yang berserat dari
kelompok sayuran yang rendah kalori seperti blender tomat, ketimun, dan labu siam yang
sudah direbus.Sertakan rebusan buncis dan sayuran lain yang dapat membantu
mengendalikan glukosa darah dlam menu sayuran sedikitnya dua kali sehari. Buncis, bawang
dan beberapa sayuran lunak lain (pare, terong, gambas, labu siam) dianggap dapat membantu
mengendalikan kadar glukosa darah karena kandungan seratnya.Biasakan sarapan dengan
sereal tinggi serat, seperti havermout kacang hijau, jagung rebus, atau roti bekatul (whole
wheat bread) setiap hari.Makanan pokok bisa bervariasi antara nasi (sebaiknya nasi beras
merah/beras tumbuk), kentang, roti (sebaiknya roti bekatul/whole wheat bread) dan jagung.
Jangan menggabungkan dua atau lebih makanan pokok seperti nasi dengan lauk mi goring
dan perkedel kentang ( karena ketiganya memiliki indeks glisemik yang tinggi).Hindari
penambahan gula pasir pada minuman (kopi, teh) dan makanan sereal.Makanan camilan dan
minuman bebas gula yang tersedia di pasaran. Penyandang diabetes yang gemar memasak
dapat membuat kue-kue basah seperti wafel yang terdiri atas tepung gandum utuh,
havermout, putih telur, susu skim dan sedikit buah-buahan dengan aroma yang mengundang
selera misalnya pisang, stroberi, nanas.Biasakan membuang lemak/gaji dari daging sebelum
memasaknya. Kurangi konsumsi daging merah yang dapat diganti dengan daging putih
seperti daging ayam atau ikan.Gunakan minyak goreng dalam jumloah terbatas (kurang lebih
setengah sendok makan untuk sekali makan). Biasakan memasak dengan cara menumis,
merebus, memepes, memanggang serta menanak, dan hindari kebiasaan menggoreng
makanan dengan banyak minyak.Biasakan makan makanan vegetarian pada waktu santap
malam.Dalam membuat menu yang menggunakan telur, setiap merah telur dapat diganti
dengan dua buah putih telur, santan dapat diganti dengan susu skim, dan minyak diganti
dengan saus apel. Untuk menu yang memmerlukan kecap, gunakan kecap diet dalam jumlah
terbatas.Nasihat diet lainnya dapt dimintakan dari ahli gizi/diet.Biasakan berjalan sedikitnya
3 kali seminggu selama >30 menit.

G. Contoh Menu Makan Pasien Dm

1. Menu pagi
100 gr nasi merah
100 gr sayur rebus
1 butir telur balado
alpokat
2. Menu makan siang
150 gr nasi merah
1 mangkuk sup ayam
50 gr ikan asam manis
1 potong tahu
1 buah jeruk
3. Menu makan malam
100 gr nasi merah /4 potong roti tawar
1-2 potong terong panggang
50 gr ayam panggang usahakan bagian dada
1 buah pir
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association [ADA] 1998 dalam Soegondo, 2007; Price & Wilson, 2006;
Suyono dalam Sudoyo, 2006

Arjatmo, 2002 dalam www.ilmukeperawatan.com

Noer, 2003 dalam www.trinoval.web.id.

FKUI, 2001 dalam www.trinoval.web.id

brunner and suddarth, 2002: 109

keperawatan medical bedah, brunner and suddarth, 2002: 1226

https://fitrirahayuyoga1979.wordpress.com/2010/12/28/manajemen-nutrisi-pada-pasien-
diabetes-melitus