You are on page 1of 13

SOP IUGR

(INTRA UTERINE GROWTH RESTRICTION)

No. Dokumen :

No. Revisi :

SOP Tgl Terbit :


Halaman :1/1
PUSKESMAS DARMAWAN, SKM,M,Kes
RAWAT INAP NIP. 197206031993021001
TALANG JAWA

Pengertian Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) atau Intra Uterine Growth

Restriction adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan nutrisi dan

pertumbuhan janin yang mengakibatkan berat badan lahir dibawah

batasan tertentu dari usia kehamilannya.

1. PJT tipe I atau dikenal juga sebagai tipe simetris.

Klasifikasi 2. PJT tipe II atau dikenal juga sebagai tipe asimetris

3. PJT tipe III adalah kelainan diantara dua tipe diatas

Etiologi 1. Faktor Ibu

2. Faktor Anak

3. Faktor Plasenta
Prosedur 1. Tatalaksana umum : Tirah baring dengan posisi miring ke kiri,

Perbaiki nutrisi dengan menambah 300 kal perhari, Ibu

dianjurkan untuk berhenti merokok dan mengkonsumsi alkohol,

Menggunakan aspirin dalam jumlah kecil dapat membantu

dalam beberapa kasus IUGR Apabila istirahat di rumah tidak

dapat dilakukan maka harus segera dirawat di rumah sakit.

Pengawasan pada janin termasuk diantaranya adalah melihat

pergerakan janin serta pertumbuhan janin menggunakan USG

setiap 3-4minggu

2. Tatalaksana khusus : pada PJT yang terjadi jauh sebelum

waktunya dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan.

Apabila penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat

maka nutrisi harus diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat,

penggunaan narkotik dan alkohol, maka semuanya harus

dihentikan

3. Proses melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin

prematur. Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan

untuk mencegah komplikasi setelah melahirkan. Operasi caesar

dilakukan apabila terjadi distress janin serta perawatan

intensif neonatal caresegera setelah dilahirkan sebaiknya

dilakukan.
Refrensi Wikojosastro H, Abdul Bari. 1999. Buku Ajar Ilmu Kebidana edisi ke

5. Jakarta; Balai Penerbit FKUI.

Prawiroharjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina

Pustaka.
SOP Kegawatdaruratan Korban Tenggelam

No. Dokumen :

No. Revisi :

SOP Tgl Terbit :

Halaman :1/1
PUSKESMAS DARMAWAN, SKM,M,Kes
RAWAT INAP NIP. 197206031993021001
TALANG JAWA

Pengertian Tenggelam ( Drawning ) adalah kematian yang disebabkan

oleh aspirasi cairan ke dalam pernapasan akibat terbenamnya

seluruh atau sebagian tubuh ke dalam cairan.

Penatalaksanaan Prinsip pertolongan di air :

1) Raih ( dengan atau tanpa alat ).

2) Lempar ( alat apung ).

3) Dayung ( atau menggunakan perahu mendekati penderita ).

4) Renang ( upaya terakhir harus terlatih dan menggunakan alat

apung ).

Kebijakan Petugas yang terampil

Alat-alat yang lengkap


Prosedur Asuhan Keperawatan Pada Korban Tenggelam

Pengkajian

1) Kaji adanya respirasi spontan

2) Kaji tingkat kesadaran

3) Kaji suhu inti tubuh

Diagnosa Keperawatan

1) Gangguan pertukaran gas

2) Bersihan jalan nafas tidak efektif

3) Perubahan perfusi jaringan otak

4) Pola nafas tidak efektif

5) Penurunan curah jantung

6) Kelebihan volume cairan

7) Resiko tinggi cedera

8) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Intervensi Keperawatan

1) Buat dan pertahankan jalan napas yang paten.

a. Hisap dan jalan napas seperlunya

b. Pasang selang nasogastrik (untuk mencegah aspirasi muntahan)

2) Pantau dan catat respons anak terhadap terapi oksigen

a. Lakukan pengkajian pernapasan (frekuensinya tergantung pada

keadaan)

b. Pantau penggunaan ventilator dan alat respirasi lainnya.

c. Pantau tekanan vena sentral (CVP) dan jalur arteri

d. Pantau penggunaan pernapasan tekanan positif intermiten (IPPB)

atau tekanan akhir ekspiratori posisti (PEEP)


3) Pantau dan catat tingkat fungsi neurologik anak

a. Lakukan pengkajian neurologik (frekuensinya tergantung status)

b. Observasi dan catat tanda-tanda TIK (letargi,peningkatan tekanan

darah, penurunan frekuensi napas, peningkatan denyut apeks, pupil

dilatasi)

4) Pantau dan pertahankan keseimbangan cairan

a. Catat asupan dan haluaran

b. Jaga kepatenan dan lakukan perawatan kateter Foley

c. Pertahankan restriksi cairan dengan adanya edema serebri

5) Pantau dan pertahankan pengaturan suhu homeostatik (penurunan

dan kebutuhan oksigen)

a. Pantau suhu

b. Sediakan kasur pendingin (mencegah menggigil)

c. Berikan antipiretik

6) Berikan dan pertahankan asupan nutrisi yang adekuat

a. Kaji kemampuan anak untuk mendapatkan asupan nutrisi melalui

selang nasogastrik atau oral (NG po)

b. Kaji kapasitas anak untuk mentolerir makanan melalui selang

nasogastrik atau per-oral ( periksa adanya sisa dan muntah )

c. Naikkan jumlah dan jenis asupan nutrisi

7) Observasi dan catat tanda-tanda komplikasi

a. Pantau respons anak terhadap tata cara terapi fisik

b. Pantau respons terapeutik anak dan efek samping dari pengobatan


Refrensi http://nikomang-sugiartini.blogspot.com/2011/11/konsep-

kegawatdaruratan-pada-korban.html

www.scribed.com

http://www.medicinesia.com/harian/penanganan-kegawatdaruratan-

tenggelam/

SOP PENATALAKSAAN NEBULIZER

No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO
Tgl Terbit :
Halaman :1/1
PUSKESMAS RAWAT DARMAWAN, SKM,M,Kes
INAP TALANG JAWA NIP. 197206031993021001

Pengertian Nebulaizer adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk mengencerkan

dahak dan melonggarkan jalan nafas

Tujuan Sebagai acuan tindakan nebulaizer

Kebijakan Dibawah tanggung jawab dan pengawasan dokter

Peralatan nebulizer standar

Prosedur PERSIAPAN ALAT :


1. Tabung O2

2. Obat untuk bronchodilator antara lain : ventolin, dexamethasone.

3. Masker oksigen .

4. Nebulaizer

PERSIAPAN PASIEN :

1. Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan.

2. Pasien diatur sesuai kebutuhan

PELAKSANAAN :

1. Perawat cuci tangan

2. Mengisi ventolin pada nebulezer Perawat cuci tangan .

3. Mengisi ventolin pada nebulezer .

4. Mengisi pada tempat humidifaier dengan bronchodilator misalnya :

ventolin (sabutamol) atau kadang diberi dexamethasone pada status

asmatikus.

5. Memasang masker pada pasien

6. Nebulaizer dinyalakan

7. Observasi pasien

8. Selesai dilakukan tindakan pasien dirapikan

9. Alat-alat dibereskan dan dikembalikan.

10. Perawat cuci tangan

Refrensi http://sopkeperawatan.blogspot.co.id/2014/05/sop-nebulizer.html
SOP / PROTAP PENANGANAN KETUBAN PECAH DINI

No. Dokumen :

No. Revisi :

SOP
Tgl Terbit :
Halaman :1/1
PUSKESMAS RAWAT DARMAWAN, SKM,M,Kes
INAP TALANG JAWA NIP. 197206031993021001

Definisi : Umur kehamilan lebih dari 20 minggu

Keluar cairan jernih dari Vagina

Pada pemeriksaan fisik : suhu normal bila tidak infeksi

Pada pemeriksaan obstetrik bunyi jantung janin biasanya

normal.

Pemeriksaan inspekulo:

1. Terlihat cairan keluar dari ostium uteri


eksternum.

2. Kertas Nitrazin merah akan jadi biru.

Kriteria Diagnosa : Fistula vesiko vaginal dengan kehamilan

Stress inkontinensia

Diagnosa Banding : Pemeriksaan leukosit darah, bila > 15.000/mm mungkin ada

infeksi.

USG : membantu menentukan usia kehamilan, letak janin,

berat janin, letak plasenta, gradasi plasenta serta jumlah air

ketuban.

Nilai bunyi jantung janin dengan stetoskop Lacnee atau

dengan fetal phone atau dengan CTG. Bila ada infeksi intra

uteri atau peningkatan suhu bunyi jantung janin akan

meningkat

Pemeriksaan :Dokter Umum, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan

penunjang

Standar tenaga :Dokter umum atau dokter spesialis kebidanan dan kandungan

Perawatan RS :Harus dirawat di rumah sakit sampai air ketuban berhenti atau

setelah perawatan dari tindakan terminasi kehamilan selesai

A. Konservatif :

Rawat di RS

Antibiotika kalau ketuban pecah < 6 jam (ampisilin atau

eritromicin bila tidak tahan ampisilin).


Umur kehamilan < 32-34 minggu, dirawat selama air ketuban

masih keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.

Bila sudah 32-34 minggu masih keluar, maka pada usia

kehamilan 35 minggu pertimbangan untuk terminasi

kehamilan sangat tergantung pada kemampuan perawatan.

Pada usia kehamilan 34 minggu berikan steroid selama 7 hari,

untuk memacu kematangan paru janin dan kalau mungkin

diperiksakan kadar lesitin dan spingomeilin tiap minggu.

B.Aktif:

Kehamilan : 36 minggu, bila 6 jam belum terjadi persalinan

induksi dengan oksitosin,

bila gagal seksio sesarea.

Pada keadaan CPD, letak lintang seksio sesarea

Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi

dan persalinan diakhiri.

Bila pelvik skor < 5, diakhiri persalinan dengan seksio

sesarea.

Bila pelvik skor >5, induksi persalinan, partus per vaginam.

Terapi Infeksi

Kematian janin, karena infeksi atau prematuritas.

Penyulit Untuk tindakan operatif perlu

Informed Consent
Konsultasi Konservatif : Sangat tergantung pada usia kehamilan,

lamanya air ketuban keluar, keadaan umum pasien.

Aktif : partus per vaginam 3- 4 hari,

Seksio sesarca :7/ hari.

Lama Perawatan 3-5 hari

Masa Pemulihan 2 minggu

Output Sembuh total

PA -

Otopsi -

Referensi 1. Standar Pelayanan Medik, PB IDI, 2002

2. Cunninghan, Mac Donald, Cant. William Obstetrics.

Eighteenth Ed. P 750-752 Appleton & Lange, 1989.

3. Friedman, Acker, Sachs. Obstetrical Decision Making.

Second Ed. P 170 Manly, Graphig Asian Edition, 1988.

4. Kebijakan Pelayanan Obstetri & Ginekologi Lab/UPF

Kebidanan & kandungan FK Unair / RSUD Dr. Soetomo

Surabaya, 1982.