Вы находитесь на странице: 1из 10

Jurnal Lahan Suboptimal

ISSN: 2252-6188 (Print), ISSN: 2302-3015 (Online, www.jlsuboptimal.unsri.ac.id)


Vol. 2, No.1: 18-27, April 2013

Pertumbuhan dan Hasil Padi pada Inseptisol Asal Rawa Lebak yang
Diinokulasi Berbagai Konsorsium Bakteri Penyumbang Unsur Hara
Growth and Yield of Rice on Swamp Land Inceptisol Inoculated with Various Consorsium
of Nutrient Contributing Bacteria
Wuriesyliane1, Nuni Gofar2,3*, A Madjid2, Hary Widjajanti4, dan Ni Luh Putu SR5
1)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Tanaman Pascasarjana Universitas Sriwijaya.
2)
Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
3)
Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR PLSO)
Palembang.4)Jurusan Biologi Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
5)
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Sumatera Selatan.
*
Corresponding author: nigofar@yahoo.co.id

ABSTRACT
The aim of this research was to study the effect of multisynergism bacterial isolates
on growth of rice plants as well as to obtain best composition of endophytic bacterial
isolates, Azotobacter, Azospirilium and phosphate solubilizing bacteria in promoting
growth of rice plants. This research was conducted in October 2012 to February 2013. This
study arranged in a completely randomized design. The results showed that all treatments
of multiple bacterial isolates resulted in increase of soil N and P content. Multibacterial
isolates B (endophytic bacteria and Azospirillum) increased vegetative and generative
growth of rice plants. Treatment G (composition of endophytic bacterial isolates,
Azotobacter, Azospirilium and phosphate solubilizing bacteria) can increase rice yields.
Some soil N and P content increased in response to all treatments of multiple bacterial
isolates. Some multiple bacterial isolates improved N and P uptake of plants.
Key words: synergism, nitrogen-fixing bacteria, phosphate solubilizing bacteria

ABSTRACT
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh multisinergisme isolat bakteri
terhadap pertumbuhan padi dan mendapatkan komposisi terbaik dari isolat bakteri
endofitik, Azotobacter, Azospirilium dan bakteri pelarut fosfat dalam meningkatkan
pertumbuhan dan hasil tanaman padi di tanah asal rawa lebak. Penelitian dilaksanakan
pada bulan Oktober 2012 sampai Februari 2013. Penelitian disusun dalam rancangan acak
lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan isolat bakteri meningkatkan
kandungan N dan P tanah. Isolat multibakteri B (bakteri endofitik dan Azospirillum)
meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan generatif padi. Perlakuan G (kombinasi isolat
bakteri endofitik, Azotobacter, Azospirilium dan bakteri pelarut fosfat) dapat
meningkatkan hasil padi. Kombinasi isolat tertentu dapat meningkatkan serapan N dan P.
Kata kunci: sinergisme, bakteri penambat nitrogen, bakteri pelarut fosfat

PENDAHULUAN Indonesia mencapai 13,28 juta hektar,


terdiri dari rawa lebak dangkal seluas
Lahan lebak merupakan salah satu
4.166.000 ha, lebak tengahan seluas
sumberdaya lahan yang potensial untuk
6.076.000 ha, dan lebak dalam seluas
dikembangkan menjadi kawasan pertanian
3.039.000 ha (Rafieq, 2004). Dari luasan
di Indonesia pada tanaman pangan
tersebut antara lain terdapat di Sumatera
khusunya padi. Luasan lahan rawa lebak di
Jurnal Lahan Suboptimal, 2(1) April 2013 19

Selatan seluas 650.000 ha dan yang baru yang optimal dari rizobakteri yang
dimanfaatkan untuk pertanian seluas diberikan.
190.000 ha (Thamrin, 2010). Lahan rawa Berdasarkan hasil penelitian
lebak di Sumatera Selatan memiliki potensi mengenai interaksi antara tanaman dan
yang cukup besar untuk dikembangkan. mikroba didapat bahwa interaksi antar
Rendahnya produktivitas lahan rawa lebak tanaman dan mikroba berpengaruh terhadap
untuk budidaya tanaman selain dikarenakan pertumbuhan dan hasil produksi tanaman.
kendala fisik berupa genangan air, juga Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ainy
karena adanya kendala kimia seperti (2008) menunjukkan bahwa pupuk hayati
tingginya kemasaman tanah, keberadaan yang mengandung bakteri Azospirillum sp,
kation Al dan Fe yang mengikat fosfor dan Pseudomonas sp dan Bacillus sp mampu
miskin unsur hara. meningkatkan serapan hara, pertumbuhan
Efisiensi pemupukan yang rendah serta produktivitas tanaman padi. Hasil
menyebabkan jumlah pupuk yang diberikan penelitian Puspasari (2006) juga
oleh petani semakin meningkat sehingga menunjukkan bahwa campuran inokulan
berpotensi menurunkan produktivitas lahan Azotobacter dan BPF dapat mengurangi
khususnya pada tanah masam sehingga penggunaan pupuk kimia. Sedangkan
penggunaannya perlu dikurangi dengan Guntoro (2003) menyatakan bahwa
memanfaatkan pupuk hayati (Balai Besar inokulasi CMA dan Azospirillum dapat
dan Pengembangan Sumberdaya Lahan meningkatkan kandungan N dan serapan N
Pertanian, 2008). Pupuk hayati merupakan tajuk.
suatu bahan amandemen yang mengandung Penelitian Marlina et al. (2013) telah
mikroorganisme yang bermanfaat untuk menemukan isolat Azospirillum sp. dan
meningkatkan kesuburan tanah dan kualitas Azotobacter sp. terbaik untuk
hasil tanaman. Mikroba penambat N dan dikembangkan sebagai pupuk hayati pada
pelarut P yang berasal dari tanah/tanaman tanaman padi. Isolat bakteri endofitik yang
di lingkungan ekstrim dapat mendukung teridentifikasi sebagai Bukholderia
pertumbuhan tanaman dihabitatnya. pseudomallei dan bakteri pelarut fosfat
Penggunaan teknologi yang sederhana, (Bacillus firmus) yang terbukti
murah dan ramah lingkungan ini dapat meningkatkan ketersediaan P tanah lebak
dimanfaatkan untuk melakukan upaya (Gofar et al., 2012) terpilih sebagai isolat
perbaikan kondisi lahan yang sudah tidak yang akan diuji dalam penelitian ini.
atau kurang produktif menjadi lahan Berdasarkan penemuan terhadap bakteri-
produktif untuk usaha pertanian. bakteri unggulan asal tanah lebak tersebut
Dalam rangka pemanfaatan perlu dilakukan penelitian untuk menguji
mikroorganisme untuk membantu sinergisme isolat bakteri unggulan yang
peningkatan baik pertumbuhan maupun terdiri dari bakteri penambat N
produksi tanaman, telah banyak dilakukan (Azospirilium dan Azotobacter), bakteri
penelitian tentang mikroba tanah. Ketika endofitik pemacu tumbuh dan bakteri
mikroba diinokulasikan ke dalam rhizosfir pelarut fosfat serta menguji konsorsium
mereka dapat memberikan dampak positif bakteri-bakteri tersebut dalam
(mutualisme atau komensalisme), dampak meningkatkan pertumbuhan dan hasil
negatif (parasitisme, kompetisi atau tanaman padi di tanah asal rawa lebak.
amensalisme) atau tidak memberikan
pengaruh apa-apa (netralisme). Hindersah METODE PENELITIAN
dan Simarmata (2004), menyatakan bahwa
Konsorsium Bakteri
kesehatan biologis suatu tanah akan banyak
Penelitian ini dilaksanakan mulai
ditentukan oleh dominansi dari rizobakteri
bulan Oktober 2012 sampai Februari 2013.
yang diberikan atas mikroba tanah lainnnya
Isolat bakteri bakteri yang akan diuji terdiri
sehingga tanaman mendapatkan manfaat
dari bakteri endofitik (BE) yang
20 Wuriesyliane et al.: Pertumbuhan dan hasil padi yang diinokulasi konsorsium bakteri

teridentifikasi sebagai Bulkholderia Pikovskaya). Bakteri ditumbuhkan sampai


pseudomallei, Azospirillum, Azotobacter, kepadatan 108 sel/ml. Suspensi bakteri yang
dan bakteri pelarut fosfat (BPF) yang telah mencapai kepadatan 108 sel/ml
teridentifikasi sebagai Bacillus firmus kemudian dicampurkan untuk mendapatkan
dengan kombinasi perlakuan sebagai campuran suspensi sebanyak 100 ml. Untuk
berikut : Perlakuan A adalah konsorsium perlakuan konsorsium 2 isolat bakteri
bakteri Azospirillum dan Azotobacter, diambil masing-masing 50 ml suspensi
Perlakuan B adalah konsorsium bakteri bakteri, untuk perlakuan konsorsium 3
Azospirillum dan bakteri endofitik pemacu isolat bakteri diambil masing-masing 35 ml
tumbuh, Perlakuan C adalah konsorsium suspensi bakteri, dan untuk perlakuan
bakteri Azospirillum dan bakteri pelarut konsorsium 4 isolat bakteri diambil masing-
fosfat (BPF), Perlakuan D adalah masing suspensi bakteri. Suspensi bakteri
konsorsium bakteri Azotobacter dan BPF, yang telah tercampur lalu digunakan untuk
Perlakuan E adalah konsorsium bakteri menginokulasi benih padi.
Azotobacter dan bakteri endofitik pemacu
tumbuh, Perlakuan F adalah konsorsium Inokulasi
bakteri Azospirillum, Azotobacter dan BPF, Sebelum inokulasi benih padi
serta Perlakuan G adalah konsorsium disterilisasi dengan larutan HgCl2 0,1 %
bakteri Azospirillum, Azotobacter, BPF dan selama 3 menit, kemudian dicuci dengan
bakteri endofitik pemacu tumbuh. aquades steril 4 kali. Selanjutnya benih padi
yang sudah steril direndam dalam campuran
Persiapan Media Tanam suspensi bakteri sesuai perlakuan selama 24
Tanah yang digunakan merupakan jam.
tanah rawa lebak dari ordo inseptisol.
Tanah dikering anginkan kemudian Penanaman
ditumbuk dan diayak dengan saringan Benih padi yang telah direndam
berdiameter 2 mm lalu ditimbang sebanyak selama 24 jam dan diinokulasi dalam
3 kg (setara kering mutlak). Setelah itu suspensi bakteri kemudian ditanam dalam
tanah disterilisasi dengan autoklaf suhu 121 ember yang telah diisi tanah steril.
o
C dan tekanan 1 atm selama 15 menit dan
dimasukkan ke dalam ember. Panen
Penen berangkasan dilakukan pada
Persiapan Benih fase primordia, yaitu setelah tanaman
Agar diperoleh hasil maksimal dari mengalami bunting lebih dari 75 %.
benih padi yang akan ditanam, maka benih Pengambilan sampel tanaman dilakukan
yang digunakan diseleksi terlebih dahulu untuk pengamatan bobot kering tajuk dan
sebelum disemaikan. Benih diseleksi analisis kandungan N dan P tanaman.
dengan cara dibersihkan lebih dahulu dan Sedangkan panen hasil dilakukan setelah
direndam selama 24 jam dalam air. Benih lebih dari 75 % bulir padi masak pada
yang mengapung dibuang dan benih yang setiap anakan.
tenggelam diambil untuk diinokulasi isolat
bakteri. Pengamatan
Peubah yang diamati meliputi tinggi
Pembuatan Suspensi Bakteri tanaman (cm), jumlah anakan per rumpun
Suspensi bakteri dibuat dengan (batang), jumlah anakan produktif (batang),
menginokulasikan 1 lup biakan bakteri pada kadar N dan P tanah saat primordia, serapan
media tumbuhnya (Azospirillum pada N dan P tanaman, bobot 100 butir (g),
medium Okon, Azotobacter dan bakteri bobot gabah kering panen (g), jumlah gabah
endofitik pemacu tumbuh pada media per malai dan persentase gabah hampa (%).
Asbheys, dan bakteri pelarut P pada media
Jurnal Lahan Suboptimal, 2(1) April 2013 21

HASIL DAN PEMBAHASAN konsorsium Azotobacter dan BPF.


Berdasarkan tinggi tanaman padi,
Karakteristik Kimia Tanah
pemberian multi isolat bakteri mampu
Berdasarkan kriteria menurut Pusat
memacu tinggi tamanan padi dibandingkan
Penelitian Tanah (1983), tanah yang
kontrol (Gambar 1). Hal ini diduga karena
digunakan dalam penelitian ini tergolong
bakteri yang dikonsorsiumkan mempunyai
masam (pH 5.50), dengan kapasitas tukar
hubungan sinergisme sehingga dapat saling
kation (KTK) dan Na-dd yang tergolong
membantu meningkatkan tinggi tanaman
sedang (17.52 cmol/kg) dan (0.68 cmol/kg).
padi.
Sementara itu, nilai K-dd dan Mg-dd
Pengaruh multi isolat bakteri dalam
tergolong tinggi (0.77 cmol/kg dan 3.45
meningkatkan tinggi tanaman disebabkan
cmol/kg), Ca-dd tergolong sedang yaitu
karena efektifnya inokulasi yang diberikan
sebesar 10.58 cmol/kg serta N-total dan P-
sehingga nutrisi yang dibutuhkan oleh
tersedia yang tergolong rendah (0.13 g/kg
tanaman tercukupi. Bakteri - bakteri
dan 4.50 mg/kg). Kandungan C-organik
tersebut saling bersinergis, adanya bakteri
pada tanah ini juga tergolong sedang (1.27
penambat N tidak menggangu bakteri
g/kg).
pelarut fosfat (BPF), begitu juga
Tanah awal yang digunakan bereaksi
sebaliknya. Pemberian inokulasi multi
masam dengan kandungan hara yang
isolat sangat menunjang kemampuannya
rendah. Pemberian multi isolat bakteri
menyediakan unsur hara N dan P yang
penambat N dan BPF diharapkan mampu
dibutuhkan tanaman. Hindersah dan
bersinergis sehingga dapat meningkatkan
Simarmata (2004) mengemukakan bahwa
ketersediaan unsur hara N dan P yang
penginokulasian isolat Azotobacter ke
dibutuhkan tanaman padi. Nutrisi yang
dalam media tumbuh tomat dapat
tersedia bagi tanaman dapat menunjang
memperbaiki perkembangan tajuk, akar,
proses pertumbuhan dan peningkatan hasil
dan tinggi tanaman.
tanaman secara maksimal.
Jumlah Anakan Maksimum dan
Pertumbuhan Padi
Produktif Tanaman Padi
Salah satu peubah dari pertumbuhan
Jumlah anakan maksimum tanaman
tanaman padi yang diamati adalah tinggi
padi tercapai pada saat tanaman berumur 7
tanaman. Pengamatan tinggi tanaman
MST dan anakan produktif pada umur 8
dilakukan dengan selang waktu 7 hari,
MST. Jumlah anakan maksimum tanaman
diamati dari umur 1 sampai dengan 8 MST.
padi pada perlakuan B yang diinokulasi
Berdasarkan hasil pengamatan terlihat
dengan bakteri Azospirillum dan bakteri
bahwa tinggi tanaman mengalami
endofitik lebih tinggi dan berbeda nyata
perkembangan seiring dengan
terhadap kontrol dan perlakuan A
bertambahnya umur. Pada Gambar 1
(Azospirillum dan Azotobacter) serta D
terlihat adanya perbedaan tinggi tanaman
(Azotobacter dan BPF), namun tidak
antara tanaman dengan berbagai perlakuan
berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.
yang diuji terhadap kontrol. Pada
Jumlah rata-rata anakan maksimum pada
pengamatan 1 minggu setelah tanam (MST)
perlakuaan B (Azospirillum dan bakteri
hingga 6 MST tinggi tanaman tertinggi
endofitik) sebanyak 40.5 batang rumpun-1
diperoleh dari perlakuan G (konsorsium
(Tabel 1).
Azospirillum, Azotobacter, bakteri pelarut
Inokulasi bakteri Azospirillum dan
fosfat dan bakteri endofitik) yaitu berturut
bakteri endofitik pada perlakuan B
turut 16.3 cm, 30.9 cm, 49.4 cm, 62.9, 70.7
(Konsorsium Azospirillum dan bakteri
dan 73.7 cm.
endofitik) menghasilkan jumlah anakan
Dengan bertambahnya umur, tanaman
produktif paling tinggi yaitu sebesar 18.3
tertinggi pada 7 MST dan 8 MST terdapat
batang/rumpun, yang berbeda nyata
pada perlakuan D yang merupakan
22 Wuriesyliane et al.: Pertumbuhan dan hasil padi yang diinokulasi konsorsium bakteri

terhadap kontrol, perlakuan C (Azospirillum penginokulasian isolat Azotobacter ke


dan BPF), D (Azotobacter dan BPF) dan E dalam media tumbuh tomat dapat
(Azotobacter dan bakteri endofitik). memperbaiki perkembangan tajuk, akar,
Konsorsium bakteri penambat N, pelarut P dan tinggi tanaman. Penelitian Widawati et
dan pemacu tumbuh memberikan efek yang al. (2007) mengatakan bahwa perlakuan 4
baik terhadap pertumbuhan tanaman padi. isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus,
Hal ini diduga karena ketujuh konsorsium Klebsiella aerogenes, Chromobacterium
tersebut berasal dari tanah lebak dan lividum dan B. megaterium sebagai
diaplikasikan pada tanah dengan inokulan padat, mampu memacu
karakteristik yang sama. pertumbuhan tanaman caisin.
Hasil penelitian Syaiful et al. (2012)
menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati Kandungan N dan P Tanah pada Saat
dengan kombinasi pupuk N berpengaruh Primordia
sangat nyata terhadap jumlah anakan umur Dari hasil analisis laboratorium
50 HST, jumlah anakan produktif, bobot terlihat bahwa ada peningkatan kandungan
1000 biji dan produksi gabah kering panen. hara N sebelum diberi perlakuan dan
Hal ini disebabkan karena pupuk hayati setelah diberi perlakuan (Tabel 2).
yang digunakan mengandung Azotobacter Perlakuan yang mempunyai kadar N
dan Azospirillum, yang merupakan bakteri tertinggi adalah perlakuan G (konsorsium
non-simbiosis yang mampu meningkatkan Azospirillum, Azotobacter, bakteri pelarut
pertumbuhan tanaman. fosfat dan bakteri endofitik) yaitu sebesar
Berat Kering Tajuk dan Akar Tanaman 0.20 g/kg. Diduga bakteri penambat N yang
Padi dikonsorsium pada perlakuan ini dapat
Hasil uji beda menunjukkan bahwa saling bersinergis. Sedangkan kadar N
aplikasi bakteri Azospirillum dan bakteri terendah terdapat pada perlakuan kontrol
endofitik pada perlakuan B berbeda nyata yaitu sebesar 0.11 g/kg. Pada perlakuan ini
terhadap berat kering tajuk pada perlakuan terjadi penurunan kadar N dari awal sampai
kontrol (Tabel 1). Diduga pada perlakuan akhir penelitian (Tabel 2) ini dikarenakan
ini kedua bakteri yang dikonsorsiumkan pada perlakuan ini tidak diinokulasikan
mempunyai hubungan sinergisme sehingga bakteri penambat N sehingga N yang
dapat saling bekerja sama dalam tersedia tidak bertambah melainkan
menyediakan unsur hara untuk berkurang karena diserap oleh tanaman.
pertumbuhan tanaman padi dan Lain halnya dengan tanaman yang
pembentukan jaringan tanaman. Perlakuan diinokulasikan bakteri penambat N,
B (Azospirillum dan bakteri endofitik), tanaman akan mendapat pasokan N dari
perlakuan E (Azotobacter dan bakteri hasil penambatan N2 oleh konsorsium
endofitik) dan G (Azospirillum, bakteri penambat N.
Azotobacter, BPF dan bakteri endofitik) Pada Tabel 2 terlihat kadar P tertinggi
menghasilkan berat kering tajuk yang lebih ada pada perlakuan D (konsorsium
besar dan berbeda nyata terhadap kontrol. Azotobacter dan BPF) yaitu sebesar 21.15
Sedangkan hasil uji beda pada berat mg/kg, sedangkan kadar P terendah ada
kering akar, menunjukkan bahwa perlakuan pada perlakuan K (kontrol) yaitu sebesar
G (Azospirillum, Azotobacter, BPF dan 14.88 mg/kg. Aktivitas bakteri pelarut
bakteri endofitik) tidak berbeda nyata fosfat perlu dimanfaatkan untuk penyediaan
terhadap perlakuan C (Azospirillum dan unsur hara bagi pertumbuhan dan hasil
BPF) dan perlakuan A (Azospirillum dan tanaman yang optimal. Widawati (2006),
bakteri endofitik), namun berbeda nyata ternyata pemberian inokulan sebagai pupuk
dengan perlakuan lainnya. Berdasarkan hayati menaikkan populasi bakteri yang
hasil penelitian Hindersah dan Simarmata dapat melarutkan fosfat terikat dalam tanah
(2004) mengemukakan bahwa dan nitrogen dari udara dan tanah, sehingga
Jurnal Lahan Suboptimal, 2(1) April 2013 23

tersedia bagi tanaman. Pemberian inokulasi karena bakteri tersebut dapat menghasilkan
bakteri sebagai pupuk hayati menambahkan fitohormon, termasuk giberelin (Cassn et
populasi bakteri yang terkandung al. 2001). Dari beberapa hasil penelitian
didalamnya untuk dapat memperbaiki yang telah dilakukan diketahui bakteri
kesuburan tanah khususnya kandungan penambat N dan pelarut fosfat mampu
unsur P dan N yang tersedia bagi tanaman. meningkatkan serapan N dan P tanaman.
Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian
Serapan N dan P Tanaman ini yang menunjukkan bahwa perlakuan
Hasil uji beda pada Tabel 2 yang diinokulasikan dengan multi isolat
menunjukkan bahwa serapan N tanaman bakteri mampu menghasilkan serapan hara
padi terbaik terdapat pada perlakuan B yang lebih besar dibandingkan dengan
(Azospirillum dan bakteri endofitik). kontrol.
Serapan N tanaman padi pada perlakuan B
(Azospirillum dan bakteri endofitik) Persentase Gabah Hampa dan Jumlah
berbeda nyata dengan serapan N tanaman Gabah per Malai
padi terhadap perlakuan lainnya. Sedangkan Persentase gabah hampa terendah
untuk serapan P tanaman, pada Tabel 2 diperoleh pada perlakuan G (konsorsium
terlihat serapan P terbaik terdapat pada Azospirillum, Azotobacter, bakteri pelarut
perlakuan G (konsorsium Azospirillum, fosfat dan bakteri endofitik) yang berbeda
Azotobacter, bakteri pelarut fosfat dan nyata dengan kontrol dan tidak berbeda
bakteri endofitik) sangat berbeda nyata nyata dengan perlakuan A (konsorsium
dengan kontrol. Azospirillum dan Azotobacter) (Tabel 3).
Rata-rata serapan N tertinggi terdapat Banyak hal yang mempengaruhi hampanya
pada perlakuan B (konsorsium Azospirillum gabah. Rendahnya kandungan N akan
dan bakteri endofitik) sebesar 58.40 g menyebabkan besarnya persentase gabah
tanaman-1 dan serapan N terendah terdapat hampa. Dalam penelitian ini terlihat
pada perlakuan kontrol yaitu sebesar 36.63 perlakuan kontrol memiliki nilai terendah,
g tanaman-1. Untuk serapan P, rata-rata hal ini diduga karena pada perlakuan ini
tertinggi terdapat pada perlakuan G tidak diinokulasi bakteri sehingga tingginya
(konsorsium Azospirillum, Azotobacter, persentase gabah hampa.
bakteri pelarut fosfat dan bakteri endofitik) Pengaruh uji sinergis terhadap jumlah
sebesar 12.15 g/tanaman dan terndah gabah per malai dapat dilihat dari hasil uji
terdapat pada perlakuan kontrol yaitu beda yang menunjukkan bahwa uji sinergis
sebesar 6.29 g/tanaman. bakteri pada tanaman padi berpengaruh
Dari hasil uji beda menunjukkan nyata terhadap jumlah gabah per malai.
bahwa tanaman padi yang telah diberi Jumlah gabah per malai beragam pada tiap
perlakuan isolat bakteri penambat N dan perlakuan, yaitu dari 109 butir hingga 140
pelarut P mampu meningkatkan serapan N butir. Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa
dan serapan P tanaman padi. Menurut Gofar jumlah gabah permalai tertinggi terdapat
et al. (2008) bakteri endofitik penghasil pada perlakuan G yang merupakan
fitohormon IAA dan penambat N2 yang gabungan 4 isolat bakteri (Azospirillum,
diisolasi dari tanaman pangan asal rawa Azotobacter, bakteri pelarut fosfat dan
pasang surut Sumatera Selatan dan bakteri endofitik) yaitu sebesar 140 butir
diinokulasikan pada bibit padi dan jagung sedangkan perlakuan terendah terdapat pada
dapat meningkatkan kadar N jaringan perlakuan kontrol yaitu sebanyak 109 butir.
tanaman padi dan jagung. Sedangkan Menurut Nurman (2002) unsur hara N
bakteri Azospirillum merupakan bakteri membuat gabah menjadi lebih besar
yang dapat mendorong pertumbuhan sehingga bobot gabah yang dihasilkan lebih
berbagai jenis tanaman, dimana meningkat. Selain itu, unsur hara N pada
kemampuan yang menguntungkan ini tanaman padi membuat malai lebih panjang
24 Wuriesyliane et al.: Pertumbuhan dan hasil padi yang diinokulasi konsorsium bakteri

dan jumlah butiran gabah lebih banyak. fosfat dan bakteri endofitik) yaitu 2.85 g.
Tidak terpenuhinya kebutuhan N akan Berdasarkan hasil uji beda, perlakuan G
menyebabkan jumlah dan kualitas bulir (konsorsium Azospirillum, Azotobacter,
menurun. BPF dan bakteri endofitik) berbeda nyata
dengan kontrol, perlakuan D (Azotobacter
Bobot Gabah Kering Panen (BGKP) dan dan BPF) dan perlakuan F (Azospirillum,
Bobot 100 Butir Azotobacter dan BPF), namun tidak
Bobot gabah kering panen beragam berbeda nyata dengan perlakuan lainnya
antar perlakuan, yaitu dari 32.64 g/pot (Tabel 3). Konsorsium 4 isolat bakteri pada
hingga 58.13 g/pot. Hasil uji beda perlakuan G dapat meningkatkan hasil
menunjukkan bahwa perlakuan G tanaman padi lebih baik dibandingkan
(konsorsium Azospirillum, Azotobacter, dengan perlakuan lain.
bakteri pelarut fosfat dan bakteri endofitik) Hasil penelitian Syaiful et al. (2012)
menghasilkan bobot gabah kering panen menunjukkan bahwa Aplikasi pupuk hayati
yang berbeda nyata terhadap kontrol. Bobot dengan kombinasi pupuk N berpengaruh
gabah kering panen terendah terdapat pada sangat nyata terhadap jumlah anakan umur
perlakuan kontrol yaitu sebesar 32.63 g/pot 50 HST, jumlah anakan produktif, bobot
(Tabel 3). Penggunaan pupuk hayati yang 1000 biji dan produksi gabah kering panen.
terdiri dari campuran bakteri Azotobacter, Hal ini disebabkan karena pupuk hayati
Azospirillum, Pseudomonas, Bacillus dan yang digunakan mengandung Azotobacter
Rhizobium mampu meningkatkan produksi dan Azospirillum, yang merupakan bakteri
pada tanaman jagung, kacang tanah dan non-simbiosis yang mampu meningkatkan
caisin (Wibowo 2007). Dari hasil uji beda pertumbuhan tanaman. Sedangkan menurut
terlihat bahwa kombinasi antar bakteri Fitriatin et al. (2009), isolat campuran
penambat N dan pelarut fosfat yang ada pada (Pseudomonas sp. dan Penicillium sp.)
perlakuan G (konsorsium Azospirillum, mampu meningkatkan aktivitas fosfatase
Azotobacter, bakteri pelarut fosfat dan dan hasil panen tanaman padi gogo hingga.
bakteri endofitik) bisa bekerja sama dalam Dari beberapa hasil penelitian diketahui
menghasilkan unsur hara dan meningkatkan bahwa bakteri penambat N dan pelarut P
hasil tanaman padi. dapat meningkatkan hasil panen baik
Bobot 100 butir gabah tertinggi diaplikasikan secara tunggal maupun bila
didapat pada perlakuan G (konsorsium diaplikasikan secara bersama-sama.
Azospirillum, Azotobacter, bakteri pelarut

Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Tanaman Padi


Jurnal Lahan Suboptimal, 2(1) April 2013 25

Tabel 1. Pengaruh Uji Sinergis Bakteri terhadap Jumlah Anakan dan Berat Kering

Jumlah Anakan Berat Kering


Kode Perlakuan
Maksimum Produktif Tajuk Akar
A Azospirillum + Azotobacter 36.0 ab 16.3 bc 45.92 ab 27.70 b
B Azospirillum + B.Endofitik 40.5 c 18.3 c 51.41 c 23.31 a
C Azospirillum + BPF 38.5 bc 15.3 ab 45.78 ab 29.05 b
D Azotobacter + BPF 37.3 b 13.5 a 44.85 ab 22.82 a
E Azotobacter + B.Endofitik 38.5 bc 15.5 ab 47.64 bc 22.60 a
F Azospirillum + Azotobacter + BPF 37.5 bc 16.5 bc 46.24 ab 21.81 a
G Azospirillum + Azotobacter + BPF + B.Endofitik 39.0 bc 16.8 bc 50.07 c 30.38 b
K Kontrol 33.0 a 13.0 a 43.11 a 20.75 a
BNJ 0.05 3.20 2.53 3.77 3.26
Angka-angka dalam kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang berbeda berarti berbeda nyata pada taraf
pengujian 5%

Tabel 2. Kadar Hara Tanah dan Serapan Hara Tanaman


Kadar Hara Tanah Serapan Hara Tanaman
Kode Perlakuan
N (g kg-1) P (mg kg-1) N P
A Azospirillum + Azotobacter 0.16 15.60 43.13 ab 7.93 ab
B Azospirillum + B.Endofitik 0.17 15.30 58.40 c 7.07 a
C Azospirillum + BPF 0.16 17.85 51.27 abc 9.87 bc
D Azotobacter + BPF 0.17 21.15 48.36 abc 8.76 ab
E Azotobacter + B.Endofitik 0.12 16.80 47.66 abc 7.65 ab
F Azospirillum + Azotobacter + BPF 0.15 18.30 52.15 bc 10.25 ab
G Azospirillum + Azotobacter + BPF + B.Endofitik 0.20 17.85 50.71 abc 12.15 c
K Kontrol 0.11 14.88 36.63 a 6.29 a
BNJ 0.05 15.06 2.72
Angka-angka dalam kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang berbeda berarti berbeda nyata pada taraf
pengujian 5%

Tabel 3. Pengaruh Uji Sinergis Bakteri terhadap Hasil Gabah


Gabah Gabah per Bobot 100
Kode Perlakuan BGKP
Hampa Malai Butir
A Azospirillum + Azotobacter 3.15 a 126.3 ab 54.8 cd 2.66 bc
B Azospirillum + B.Endofitik 6.23 b 123.5 ab 52.1 cd 2.61 abc
C Azospirillum + BPF 5.20 ab 132.3 ab 52.8 cd 2.70 bc
D Azotobacter + BPF 4.88 ab 114.0 a 39.6 ab 2.46 ab
E Azotobacter + B.Endofitik 5.13 ab 126.8 ab 54.4 cd 2.66 bc
F Azospirillum + Azotobacter + BPF 4.90 ab 122.3 ab 48.1 bc 2.47 ab
G Azospirillum + Azotobacter + BPF + B.Endofitik 3.05 a 140.8 b 58.1 d 2.85 c
K Kontrol 6.43 b 109.0 a 32.6 a 2.40 a
BNJ 0.05 2.95 25.19 9.53 0.26
Angka-angka dalam kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang berbeda berarti berbeda nyata pada taraf
pengujian 5%

KESIMPULAN perlakuan G (konsorsium Azospirillum,


Azotobacter, bakteri pelarut fosfat dan
Dari hasil penelitian ini maka dapat
bakteri endofitik) memberikan hasil panen
ditarik kesimpulan, bahwa perlakuan B
tanaman padi terbaik pada Inseptisol asal
(Azospirillum dan bakteri endofitik) mampu
rawa lebak.
meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan
generatif tanaman padi, sedangkan
26 Wuriesyliane et al.: Pertumbuhan dan hasil padi yang diinokulasi konsorsium bakteri

UCAPAN TERIMA KASIH pasang surut serta kemampuannya


menyumbangkan fitohormon dan
Ucapan terima kasih disampaikan
nitrogen. J. Agritrop 27: 8793.
kepada Kemenristek yang telah mendanai
Guntoro D. 2003. Pemanfaatan cendawan
penelitian berjudul: Pengembangan
mikoriza arbuskula dan bakteri
Teknologi Pupuk Multiguna untuk
Azospirillum untuk meningkatkan
Meningkatkan Produktifitas Lahan Rawa
efisiensi pemupukan pada Turfgrass.
Lebak diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Nuni
Thesis pada Institut Pertanian Bogor
Gofar, M.S. yang menjadi sumber data
(tidak dipublikasikan), Bogor.
artikel ini.
Hindersah R dan T Simarmata. 2004.
Potensi rizobakteri Azotobacter dalam
DAFTAR PUSTAKA
meningkatkan kesehatan tanah. J.
Ainy ITE. 2008. Kombinasi antara pupuk Nature Indonesia. 5: 127133.
hayati dan sumber nutrisi dalam Marlina N, Silviana dan N Gofar. 2013.
memacu serapan hara, pertumbuhan, Seleksi bakteri penambat nitrogen
serta produktivitas jagung dan padi. (Azospirillum dan Azotobacter) asal
Thesis pada Institut Pertanian Bogor rhizosfer tanaman budidaya di lahan
(tidak dipublikasikan), Bogor. lebak untuk memacu pertumbuhan
Balai Besar dan Pengembangan tanaman padi. Prosiding Seminar
Sumberdaya Lahan Pertanian. 2008. Nasional dan Rapat Tahunan Bidang
Pemanfaatan biota tanah untuk Ilmu-ilmu Pertanian BKS-PTN
keberlanjutan produktivitas pertanian Wilayah Barat Tahun 2013 vol 1.
lahan kering masam. Pengembangan Pontianak 1920 Maret 2013.
Inovasi Pertanian. Balai Besar dan Nurman. 2002. Tanggapan padi varietas
Pengembangan Sumberdaya Lahan way apoburu terhadap pemupukan
Pertanian, Bogor. Hal. 157 163. urea dalam dua sistem olah tanah di
Cassn F, R Bottini, G Schneider and P Sabah Balau, Tanjung Bintang,
Piccoli. 2001. Azospirillum brasilense Lampung Selatan. Skripsi pada
and Azospirillum lipoferum hydrolyze Unversitas Lampung (tidak
conjugates of GA20 and metabolize dipublikasikan), Lampung.
the resultant aglycones to GA1 in Puspasari A. 2006. Pupuk hayati
seedlings of rice dwarf mutants. Plant Azotobacter dan mikroba pelarut
Physiol 125: 20532058. fosfat untuk meningkatkan
Fitriatin BN, et al. 2009. Pengaruh pertumbuhan jagung (Zea mays L.)
mikroorganisme pelarut fosfat dan pada ultisol darmaga. Skripsi pada
pupuk p terhadap p tersedia, aktivitas Institut Pertanian Bogor (tidak
fosfatase, populasi mikroorganisme dipublikasikan), Bogor.
pelarut fosfat, konsentrasi p tanaman Rafieq A. 2004. Sosial budaya dan
dan hasil padi gogo (Oryza sativa L.) teknologi kearifan lokal masyarakat
pada ultisols. J.Agrikultura 20(3). dalam pengembangan pertanian lahan
Gofar N, H Widjajanti dan NPS Ratmini. lebak di Kalimantan Selatan. Balai
2012. Uji kemampuan isolat bakteri Pengkajian dan Pengembangan
endofitik penghasil IAA dalam Teknologi Pertanian, Banjarbaru.
memacu pertumbuhan tanaman padi Syaiful SA, NS Sennang dan M Yasin.
pada lahan rawa lebak. Prosiding 2012. Pertumbuhan dan produksi padi
Online Insentif Riset SINas PG 293. hibrida pada pemberian pupuk hayati
Palembang, 2930 November 2012. dan jumlah bibit per lubang tanam. J.
Gofar N, MA Diha dan A Napoleon. 2008. Agrivigor 11 (2): 202213.
Keragaman populasi bakteri endofitik
asal jaringan tanaman padi lebak dan
Jurnal Lahan Suboptimal, 2(1) April 2013 27

Thamrin T. 2010. Laporan Akhir Uji Wibowo ST. 2007. Kandungan hormon
Multilokasi galurgalur harapan Padi IAA, serapan hara dan pertumbuhan
Sawah (Produktivitas > 8 ton/ha, beberapa tanaman budidaya sebagai
umur genjah < 90 hari, toleran Fe > respon terhadap aplikasi pupuk
25 ppm), Jagung (Produktivitas > 6 biologi. Thesis pada Institut Pertanian
ton/ha, toleran pH > 4,5), dan Kedelai Bogor (tidak dipublikasikan), Bogor.
(Produktivitas > 2 ton/ha, toleran pH Widawati S dan Suliasih. 2006. Augmentasi
> 5) di Sumatara Selatan. Balai bakteri pelarut fosfat (BPF) potensial
Pengkajian Teknologi Pertanian sebagai pemicu pertumbuhan caisin
Sumatera Selatan, Palembang. (Brassica caventis Ocd.) di tanah
marginal. Biodiversitas 7(1): 1014.