You are on page 1of 78

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Pengertian Psikologi Pendidikan

Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia belajar dalam
pendidikan pengaturan, efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi
sosial dari sekolah sebagai organisasi. Psikologi pendidikan berkaitan dengan bagaimana siswa
belajar dan berkembang, dan sering terfokus pada sub kelompok seperti berbakat anak-anak dan
mereka yang tunduk pada khusus penyandang cacat .

Menurut Muhibin Syah (2002), pengertian psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin
psikologi yang menyelidiki masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan. Sedangkan
menurut ensiklopedia amerika, Pengertian psikologi pendidikan adalah ilmu yang lebih
berprinsip dalam proses pengajaran yang terlibat dengan penemuan penemuan dan menerapkan
prinsip prinsip dan cara untuk meningkatkan keefisien di dalam pendidikan.

Sedangkan menurut Witherington, Pengertian Psikologi pendidikan adalah studi


sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan
manusia.

Tardif (dalam Syah, 1997: 13) juga mengatakan bahwa Pengertian Psikologi Pendidikan
adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku
manusia untuk usaha-usaha kependidikan.

Dari beberapa pendapat tentang psikologi pendidikan, kami mengambil kesimpulan


bahwa Pengertian Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku
manusia di dalam dunia pendidikan yang meliputi studi sistematis tentang proses-proses dan
faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia yang tujuannya untuk
mengembangkan dan meningkatkan keefisien di dalam pendidikan.

Read more: Pengertian Psikologi Pendidikan | belajarpsikologi.com


Pengertian Remaja Menurut Para Ahli

Pengertian Remaja Menurut Para Ahli


Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa.
Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental,
emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Pasa masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat
yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua.

Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja
menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status
dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa
remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan
semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa.

Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13
tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan pengertian remaja menurut Zakiah Darajat
(1990: 23) adalah: masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak
mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan
psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak,
tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.

Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa adolescene diartikan sebagai masa
perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis,
kognitif, dan sosial-emosional.

Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun.
Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 15 tahun = masa remaja
awal, 15 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 21 tahun = masa remaja akhir. Tetapi
Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-
remaja 10 12 tahun, masa remaja awal 12 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 18 tahun,
dan masa remaja akhir 18 21 tahun (Deswita, 2006: 192)

Read more: Pengertian Remaja Menurut Para Ahli | belajarpsikologi.com


Kenakalan RemajaKenakalan Remaja

Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana
yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di
sekitarnya.

Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada
usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang
untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transis.

Definisi kenakalan remaja menurut para ahli


Kartono, ilmuwan sosiologi Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal
dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang
disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan
bentuk perilaku yang menyimpang.

Santrock Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang
tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.

Sejak kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?

Masalah kenakalan mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya
peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.

Jenis-jenis kenakalan remaja

Penyalahgunaan narkoba

Seks bebas

Tawuran antara pelajar


Read more: Pengertian Kenakalan Remaja | Cara Mengatasi Kenakalan Remaja |
belajarpsikologi.com

Penyebab terjadinya kenakalan remaja

Perilaku nakal remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun
faktor dari luar (eksternal).

Faktor internal:

1. Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan
terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam
kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena
remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

2. Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah
laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku
nakal. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku
tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai
dengan pengetahuannya.

Faktor eksternal:

1. Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau
perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja.
Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak
memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi
penyebab terjadinya kenakalan remaja.

2. Teman sebaya yang kurang baik

3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Hal-hal yang bisa dilakukan/ cara mengatasi kenakalan remaja:

1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi
dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur
orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka
yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.

2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
3. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang
harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.

4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan
dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.

5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman
sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

Read more: Pengertian Kenakalan Remaja | Cara Mengatasi Kenakalan Remaja |


belajarpsikologi.com

Pengertian Interaksi Sosial


Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan
antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Tanpa
adanya interkasi sosial maka tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Proses sosial adalah
suatu interaksi atau hubungan timbal balik atau saling mempengaruhi antar manusia yang
berlangsung sepanjang hidupnya didalam amasyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, proses
sosial diartikan sebagai cara-cara berhubungan yang dapat dilihat jika individu dan kelompok-
kelompok sosial saling bertemu serta menentukan sistem dan bentuk hubungan sosial.

Pengertian Interaksi Sosial

Homans ( dalam Ali, 2004: 87) mendefinisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu
aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman
dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya.

Konsep yang dikemukakan oleh Homans ini mengandung pengertian bahwa interaksi adalah
suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam interaksi merupakan suatu stimulus bagi
tindakan individu lain yang menjadi pasangannya.

Sedangkan menurut Shaw, interaksi sosial adalah suatu pertukaran antarpribadi yang masing-
masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka, dan masing-
masing perilaku mempengaruhi satu sama lain. Hal senada juga dikemukan oleh Thibaut dan
Kelley bahwa interaksi sosial sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua
orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sam lain atau
berkomunikasi satu sama lain. Jadi dalam kasus interaksi, tindakan setiap orang bertujuan untuk
mempengaruhi individu lain.
Pengertian Interaksi sosial menurut Bonner ( dalam Ali, 2004) merupakan suatu hubungan
antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau
mempengaruhi individu lain atau sebaliknya.

Pengertian Interkasi sosial menurut beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, interaksi
adalah hubungan timbal balik anatara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang
terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif. Dalam interaksi juga lebih dari sekedar
terjadi hubungan antara pihak- pihak yang terlibat melainkan terjadi saling mempengaruhi.

Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Syarat terjadinya interaksi sosial terdiri atas kontak sosial dan komunikasi sosial. Kontak sosial
tidak hanya dengan bersentuhan fisik. Dengan perkembangan tehnologi manusia dapat
berhubungan tanpa bersentuhan, misalnya melalui telepon, telegrap dan lain-lain. Komunikasi
dapat diartikan jika seseorang dapat memberi arti pada perilaku orang lain atau perasaan-
perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.

Sumber-Sumber Interaksi Sosial


Proses interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat bersumber dari faktor imitasi, sugesti,
simpati, identifikasi dan empati.

1. Imitasi merupakan suatu tindakan sosial seseorang untuk meniru sikap,


tindakan, atau tingkah laku dan penampilan fisik seseorang.

2. Sugesti merupakan rangsangan, pengaruh, atau stimulus yang diberikan


seseorang kepada orang lain sehingga ia melaksanakan apa yang
disugestikan tanpa berfikir rasional.

3. Simpati merupakan suatu sikap seseorang yang merasa tertarik kepada


orang lain karena penampilan,kebijaksanaan atau pola pikirnya sesuai
dengan nilai-nilai yang dianut oleh orang yang menaruh simpati.

4. Identifikasi merupakan keinginan sama atau identik bahkan serupa


dengan orang lain yang ditiru (idolanya)

5. Empati merupakan proses ikut serta merasakan sesuatu yang dialami oleh
orang lain. Proses empati biasanya ikut serta merasakan penderitaan orang
lain.

Jika proses interaksi sosial tidak terjadi secara maksimal akan menyebabkan terjadinya
kehidupan yang terasing. Faktor yang menyebabkan kehidupan terasing misalnya sengaja
dikucilkan dari lingkungannya, mengalami cacat, pengaruh perbedaan ras dan perbedaan budaya.
Demikian ulasan tentang interaksi sosial, baik pengertian interaksi sosial, sumber interaksi
sosial, dan syarat interaksi sosial, mudah-mudahan dapat membantu.

Read more: INTERAKSI SOSIAL >> Pengertian Interaksi Sosial | belajarpsikologi.com

Psikologi Pendidikan, Pengertian Psikologi Dalam


Perspektif Pendidikan
Home Education Psikologi Pendidikan, Pengertian Psikologi Dalam Perspektif
Pendidikan

by Achmad Affandi

in Education

Psikologi Pendidikan, Pengertian Psikologi Dalam Perspektif Pendidikan Psikologi


Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia belajar dalam pendidikan,
pengaturan, efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi sosial dari
sekolah sebagai organisasi. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal
dari kata psyche yang berartijiwa atau nafas hidup, dan logos atau ilmu. Dilihat dari arti kata
tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Psikologi pendidikan berkaitan dengan bagaimana siswa belajar dan berkembang.
Pengertian Psikologi Pendidikan Menurut para Ahli:

Arthur S. Reber (Syah, 1997 / hal. 12)


Definisi Psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan
teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :

Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas


Pengembangan dan pembaharuan kurikulum
Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah
kognitif
Penyenggaraan pendidikan keguruan

Menurut Muhibbin Syah, Definisi psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi yang
terjadi dalam dunia pendidikan.

Barlow (Syah, 1997 / hal. 12)


Definisi Psikologi pendidikan adalah ... a body of knowledge grounded in psychological
research which provides a repertoire of resource to aid you in functioning more effectively in
teaching learning process.
Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan
serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru
dalam proses belajar mengajar secara efektif.

Tardif (Syah, 1997 / hal. 13)


Definisi Psikologi pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan
pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.

Witherington (Buchori dalam Syah, 1997 / hal. 13)


Psikologi pendidikan sebagai A systematic study of process and factors involved in the
education of human being.
Psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan pendidikan manusia.

Sementara menurut Ensiklopedia Amerika, psikologi pendidikan adalah ilmu yang lebih
berprinsip dalam proses pengajaran yang terlibat dengan penemuan-penemuan dan menerapkan
prisip-prinsip dan cara untuk meningkatkan keefesien dalam pendidikan.

Sementara itu menurut Psikologi pendidikan juga merupakan sub disiplin ilmu psikologi.
Psikologi pendidikan dideskripsikan oleh E. L. Thorndike pada tahun 1903 sebagai middlemen
mediating between the science of psychology and the art of teaching. Dalam banyak studi,
secara singkat, psikologi pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang mengaplikasikan ilmu
psikologi dalam dunia belajar dan guru.

Selain dari pada itu pemahaman Psikologi Pendidikan juga merupakan gabungan dari dua bidang
studi yang berbeda.

1. Pertama adalah psikologi yang mempelajari segala sesuatu tentang pikiran


dan perilaku manusia serta hubungannya dengan manusia. Tentu saja tidak
hanya mempelajari manusia dalam kesendiriannya, melainkan juga
mempelajari manusia dalam hubungannya dengan manusia lain.

2. Kedua adalah pendidikan itu sendiri atau lebih khusus adalah sekolah. Jadi,
sebagai sebuah subdisiplin ilmu sendiri dalam psikologi, psikologi pendidikan
memfokuskan diri pada pemahaman proses pengajaran dan belajar yang
mengambil tempat dalam lingkungan formal.

Psikologi pendidikan berminat pada teori belajar, metode pengajaran, motivasi, kognitif,
emosional, dan perkembangan moral serta hubungan orangtua anak. Selain itu psikologi
pendidikan juga mendalami sub-populasi yaitu anak-anak gifted dan yang dengan kebutuhan
khusus. Ahli lain menambahkan bahwa psikologi pendidikan berguna dalam penerapan prinsip-
prinsip belajar dalam kelas, pengembangan dan pembaruan kurikulum, ujian dan evaluasi bakat
dan kemampuan, sosialisasi proses dan interaksi proses itu dengan pendayagunaan kognitif dan
penyelenggaraan pendidikan keguruan. Karena berkecimpung di ranah sekolah, istilah psikologi
pendidikan dan psikologi sekolah sering dipertukarkan.

Teoris dan peneliti lebih diidentifikasi sebagai psikolog pendidikan, sementara praktisi di sekolah
lebih diidentifikasi sebagai psikolog sekolah. Psikologi pendidikan mengambil masalah-masalah
yang dialami oleh orang muda dalam pendidikan yang mencakup masalah kesulitan belajar atau
masalah emosi dan sosial. Mereka mengambil tugas untuk membantu proses belajar anak dan
memampukan guru menjadi lebih sadar akan faktor-faktor social yang berkatinan dengan
pengajaran dan belajar. Psikolog pendidikan biasa bekerja di lingkungan sekolah, perguruan
tinggi dan di lingkungan pendidikan anak, terutama bekerja dengan guru dan orang tua. Mereka
dapat bekerja secara langsung dengan anak (misal memeriksa perkembangan, memberikan
konseling) dan secara tidak langsung (dengan orang tua, guru dan profesional lainnya).

Karena harus bekerja dengan manusia, psikolog pendidikan haruslah familier dengan
pendekatan-pendekatan tradisional tentang studi perilaku, humanistik, kognitif dan psikoanalis.
Mereka juga harus sadar dengan teori dan riset yang muncul dari ranah tradisional psikologi
seperti perkembangan (Piaget, Erikson, Kohlberg, Freud), bahasa (Vygotsky dan Chomsky),
motivasi (Hull, Lewin, Maslow, McClelland), testing (intelegensi dan kepribadian) dan
interpretasi tesnya.
Psikolog pendidikan juga harus mengikuti perkembangan mendadak dari area menejemen kelas
dan desain instruksional, pengukuran dan penggunaan gaya dan strategi belajar, penelitian dalam
metakognitif, peningkatan aplikasi pendidikan jarak jauh, dan perluasan dari pengembangan dan
aplikasi teknologi untuk tujuan instruksional. Karena akan bekerja dengan pendidikan, seorang
yang mempelajari materi ini perlu memperhatikan hal-hal berikut.

Proses perkembangan siswa proses ini tentu saja harus disadari oleh
individu yang bekerja dalam pendidikan. Perkembangan siswa terlebih
dalam ranah cipta dengan segala variasi dan keunikannya merupakan
modal siswa untuk belajar, apapun halnya.

Cara belajar siswa dalam hal ini berkaitan pula dengan kesulitan-kesulitan
yang dialami siswa dalam belajar.

Cara menghubungkan belajar dan mengajar

Pengambilan keputusan untuk pengelolaan proses belajar mengajar.

Metode yang digunakan dalam psikologi pendidikan adalah

1. Metode eksperimen

Dalam psikologi pendidikan, metode ini digunakan untuk menguji keabsahan dan kecermatan
kesimpulan yang ditarik dari penelitian dengan menggunakan metode yang lain.

2. Metode kuisioner

3. Metode studi kasus

Digunakan untuk memperoleh gambaran rinci tentang aspek-aspek psikologi siswa atau
sekelompok siswa. Studi ini biasanya diikuti oleh studi lain yang berskala lebih besar untuk
mencapai generalisasi hasil tes. Mengapa demikian? Kesimpulan hasil studi kasus dihasilkan
dari penelitian terhadap sejumlah kecil subjek yang tentu saja akan sulit untuk dijadikan sampel
dari sebuah populasi yang besar. Lazimnya, fenomena yang diselidiki dengan metode ini diikuti
terus-menerus dalam kurun waktu tertentu. Bahkan, tak jarang diperlukan waktu bertahun-tahun
untuk menghimpun data.

4. Metode penyelidikan klinis

Hanya digunakan oleh ahli psikologi klinis atau psikiater pada mulanya. Namun, seiring dengan
perkembangan jaman, dimulai oleh Jean Piaget, metode ini digunakan dalam ranah pendidikan.
Sasaran utama penggunaan metode ini adalah untuk memastikan sebab-sebab kemunculan
ketidaknormalan perilaku siswa.
Itulah tadi beberapa pengertian Psikologi pendidikan dalam beberapa pendapat para ahli dan
juga tentunya dari beberapa sumber yang dirangkum menjadi satu artikel diu merahitam ini.
Semoga bermanfaat, wassalam.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

A. Pendahuluan

Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhub
pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tin
(Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pend
tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyeb
lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan
perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubu
tindakan belajar.

Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa meleka
didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka me
untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondis
memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

B. Mendorong Tindakan Belajar

Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berk
menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi
informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semak
mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.

Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahanka
pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek d
dan mengingat-ingat keseluruhan informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahu
adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang da
dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble
Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi u
dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjeja
pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup se

Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi penge
dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus d
dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-i
terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan b
seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi penengah di dalam perjumpaan antara subjek
himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.

Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengeta
dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perole
pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya m
sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketik
belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuha

Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bil
telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan di
menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai learning to be.

Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan
efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang ter
buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subje
upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator,
fasilitator dari seorang pendidik.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar

Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, m
perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-fa
dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :

1. Faktor Fisiologis

Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor ins
faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan
yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesu
pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajara
yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.

Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat per
dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padap
memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk,
juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.

Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolo
keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, a
buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, p
memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin de
pencapaian tujuan-tujuan belajar.

Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi ind
didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik
dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk mem
belajar.

2. Faktor Psikologis

Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar

jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara

terpisah.

Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang
hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan m

2.1. Perhatian

Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam
memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang meny
belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi
tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didi
material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran
debat dan sebagainya.

Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari
Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang
dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengeta
terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi
bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada p
disengaja.

2.2. Pengamatan

Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengar
pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke d
subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.

Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memaham


modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-un
pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikolog
menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pen
subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.

Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di da


material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran sub
peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.

2.3. Ingatan

Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerim
menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah in
didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.

Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah
mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.

Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di ant
pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan b
dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengemb
pembelajaran yang mendayagunakan titian ingatan juga lebih mengesankan bagi subjek didik, te
material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus
adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.

Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan
kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun
segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi.
dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban,
sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.

Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidika
harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi
dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk me
mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dila
pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.

Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah d
kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, ha
untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanya
dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.

Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberia
mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.

2.4. Berfikir

Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Boch
Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlan
proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang
pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah pro
dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-penge
penarikan kesimpulan.

Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan
dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikia
diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya me
Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang selengkapnya
material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Seb
pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau k
kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan be
Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuska
kesimpulannya secara mandiri.
2.5. Motif

Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan akt
tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila ses
menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tid
motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subje
membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.

Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang
keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirn
ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di a
maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlo
yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengara
hal yang negatif.

Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat self competition, yakni menghadirkan
individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuanny
sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat gra
didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang l

Psikologi pendidikan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa

Langsung ke: navigasi, cari

Psikologi pendidikan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara
memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan[1].

Daftar isi

[sembunyikan]

1 Latar belakang historis

o 1.1 William James


o 1.2 John Dewey

o 1.3 E. L. Thorndike

2 Seni dan ilmu pengetahuan dari mengajar

3 Cara mengajar yang efektif

4 Lihat pula

5 Rujukan

[sunting] Latar belakang historis

Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum abad ke-
20[1].

[sunting] William James

[sunting] John Dewey

Tokoh kedua yang berperan besar dalam membentuk psikologi pendidikan adalah John Dewey
(1859-1952)[2].

[sunting] E. L. Thorndike

Perintis ketiga adalah E. L. Thorndike (1874-1949)[3]. Teks tebal

[sunting] Seni dan ilmu pengetahuan dari mengajar

Keberhasilan seorang guru dalam mengajar sangat berkaitan dengan penguasaan sains serta seni
dan keahlian mengajarnya. [4].

Psikologi pendidikan merupakan sumbangsih dari ilmu pengetahuan psikologi terhadap dunia
pendidikan dalam kegiatan pendidikan pembelajaran, pengembangan kurikulum, proses belajar
mengajar, sistem evaluasi, dan layanan konseling merupakan serta beberapa kegiatan utama
dalam pendidikan terhadap peserta didik, pendidik, orang tua, masyarakat dan pemerintah agar
tujuan pendidikan dapat tercapai secara sempurna dan tepat guna[5].
Kontribusi Psikologi terhadap Pendidikan
Posted on 30 Januari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi
pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan
dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap
pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.

1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum.

Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan


terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar.
Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis
ini memberikan perhatian terhadap bagaimana in put, proses dan out pendidikan dapat berjalan
dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.

Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian, kajian psikologis
dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap
individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta
karakterisktik-karakteristik individu lainnya.

Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu


untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter
maupun metode penyampaiannya.

Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan
saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya menekankan pada upaya
pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam
kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus
menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.

Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis


terutama berkenaan dengan aspek-aspek: (1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam
berbagai konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar (learning outcomes), dan (4)
standarisasi kemampuan siswa

2. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran

Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem
pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti : teori classical
conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-
teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing
masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang
signifikan dalam proses pembelajaran.

Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang
melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas
prinsip dalam belajar, yakni :

1. Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan

2. Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya
dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.

3. Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan


berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.

4. Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.

5. Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.

6. Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.

7. Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun


termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.

8. Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.

9. Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar


dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.

10.Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering


mengejar tujuan-tujuan lain.

11.Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang


menyenangkan.

12.Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
13.Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.

3. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian

Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami
seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita dapat memahami
perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan
pendidikan atau pembelajaran tertentu.

Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran
potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya
berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian
individu lainnya.Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak digunakan
untuk mengukur potensi seorang individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial
Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur lainnya.

Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran
psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang
bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.

Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan guru dalam
melaksanakan tugas profesionalnya.

Download Instrumen Akreditasi Sekolah (SD, SMP, dan SMA)

Pendekatan dan Teknik Konseling

IQ, EQ dan SQ: Dari Kecerdasan Tunggal ke


Kecerdasan Majemuk
Posted on 11 Januari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Oleh : AKHMAD SUDRAJAT


Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT
kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan
makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan
meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir dan belajar
secara terus menerus.

Dalam pandangan psikologi, sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam
kapasitas yang sangat terbatas. Oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan
hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah). Berdasarkan temuan dalam bidang
antropologi, kita mengetahui bahwa jutaan tahun yang lalu di muka bumi ini pernah hidup
makhluk yang dinamakan Dinosaurus yaitu sejenis hewan yang secara fisik jauh lebih besar dan
kuat dibandingkan dengan manusia. Namun saat ini mereka telah punah dan kita hanya dapat
mengenali mereka dari fosil-fosilnya yang disimpan di musium-musium tertentu. Boleh jadi,
secara langsung maupun tidak langsung, kepunahan mereka salah satunya disebabkan oleh faktor
keterbatasan kecerdasan yang dimilikinya. Dalam hal ini, sudah sepantasnya manusia bersyukur,
meski secara fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga
saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan peradaban hidupnya.

Lantas, apa sesungguhnya kecerdasan itu ? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya
masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang kecerdasan.
Dalam hal ini, C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan
menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu,
Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga
pengertian, yaitu : (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh;
dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada
umumnya.

Memang, semula kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang bertautan
dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal,
sebagaimana yang dikembangkan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori Two Factor-nya,
atau Thurstone (1938) dengan teori Primary Mental Abilities-nya. Dari kajian ini,
menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk Inteligent
Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental
(mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan
kategori Ideot sampai dengan Genius (Weschler dalam Nana Syaodih, 2005). Istilah IQ mula-
mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20.
Kemudian, Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha membakukan tes IQ yang
dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi sehingga
selanjutnya dikenal sebagai tes Stanford-Binet.

Selama bertahun-tahun IQ telah diyakini menjadi ukuran standar kecerdasan, namun sejalan
dengan tantangan dan suasana kehidupan modern yang serba kompleks, ukuran standar IQ ini
memicu perdebatan sengit dan sekaligus menggairahkan di kalangan akademisi, pendidik,
praktisi bisnis dan bahkan publik awam, terutama apabila dihubungkan dengan tingkat
kesuksesan atau prestasi hidup seseorang.

Adalah Daniel Goleman (1999), salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia
lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi
seseorang, yakni Kecerdasan Emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan
Emotional Quotient (EQ). Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada
kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi
diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan
dengan orang lain.

Menurut hemat penulis sesungguhnya penggunaan istilah EQ ini tidaklah sepenuhnya tepat dan
terkesan sterotype (latah) mengikuti popularitas IQ yang lebih dulu dikenal orang. Penggunaan
konsep Quotient dalam EQ belum begitu jelas perumusannya. Berbeda dengan IQ, pengertian
Quotient disana sangat jelas menunjuk kepada hasil bagi antara usia mental (mental age) yang
dihasilkan melalui pengukuran psikologis yang ketat dengan usia kalender (chronological age).

Terlepas dari kesalahkaprahan penggunaan istilah tersebut, ada satu hal yang perlu
digarisbawahi dari para penggagas beserta pengikut kelompok kecerdasan emosional,
bahwasanya potensi individu dalam aspek-aspek non-intelektual yang berkaitan dengan sikap,
motivasi, sosiabilitas, serta aspek aspek emosional lainnya, merupakan faktor-faktor yang amat
penting bagi pencapaian kesuksesan seseorang.

Berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cenderung bersifat permanen, kecakapan
emosional (EQ) justru lebih mungkin untuk dipelajari dan dimodifikasi kapan saja dan oleh siapa
saja yang berkeinginan untuk meraih sukses atau prestasi hidup.

Pekembangan berikutnya dalam usaha untuk menguak rahasia kecerdasan manusia adalah
berkaitan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan. Kecerdasan intelelektual (IQ) dan
kecerdasan emosional (EQ) dipandang masih berdimensi horisontal-materialistik belaka
(manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial) dan belum menyentuh persoalan inti
kehidupan yang menyangkut fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (dimensi vertikal-spiritual).
Berangkat dari pandangan bahwa sehebat apapun manusia dengan kecerdasan intelektual
maupun kecerdasan emosionalnya. pada saat-saat tertentu, melalui pertimbangan fungsi afektif,
kognitif, dan konatifnya manusia akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar
dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya.
Penghayatan seperti itu menurut Zakiah Darajat (1970) disebut sebagai pengalaman keagamaan
(religious experience).

Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada
pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur
yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan
tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri
dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun
dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari (Abin Syamsuddin Makmun, 2003).

Temuan ilmiah yang digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, dan riset yang dilakukan oleh
Michael Persinger pada tahun 1990-an, serta riset yang dikembangkan oleh V.S. Ramachandran
pada tahun 1997 menemukan adanya God Spot dalam otak manusia, yang sudah secara built-in
merupakan pusat spiritual (spiritual centre), yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak.
Begitu juga hasil riset yang dilakukan oleh Wolf Singer menunjukkan adanya proses syaraf
dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna
dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan yang secara literal mengikat pengalaman kita
secara bersama untuk hidup lebih bermakna. Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah
manusia yang terdalam (Ari Ginanjar, 2001). Kajian tentang God Spot inilah pada gilirannya
melahirkan konsep Kecerdasan Spiritual, yakni suatu kemampuan manusia yang berkenaan
dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna. Dengan
istilah yang salah kaprahnya disebut Spiritual Quotient (SQ)

Jauh sebelum istilah Kecerdasan Spiritual atau SQ dipopulerkan, pada tahun 1938 Frankl telah
mengembangkan pemikiran tentang upaya pemaknaan hidup. Dikemukakannya, bahwa makna
atau logo hidup harus dicari oleh manusia, yang di dalamnya terkandung nilai-nilai : (1) nilai
kreatif; (2) nilai pengalaman dan (3) nilai sikap. Makna hidup yang diperoleh manusia akan
menjadikan dirinya menjadi seorang yang memiliki kebebasan rohani yakni suatu kebebasan
manusia dari godaan nafsu, keserakahan, dan lingkungan yang penuh persaingan dan konflik.
Untuk menunjang kebebasan rohani itu dituntut tanggung jawab terhadap Tuhan, diri dan
manusia lainnya. Menjadi manusia adalah kesadaran dan tanggung jawab (Sofyan S. Willis,
2005).

Di Indonesia, penulis mencatat ada dua orang yang berjasa besar dalam mengembangkan dan
mempopulerkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yaitu K.H. Abdullah Gymnastiar
atau dikenal AA Gym, dai kondang dari Pesantren Daarut Tauhiid Bandung dengan
Manajemen Qalbu-nya dan Ary Ginanjar, pengusaha muda yang banyak bergerak dalam bidang
pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Emotional Spritual Quotient (ESQ)-nya.

Dari pemikiran Ary Ginanjar Agustian melahirkan satu model pelatihan ESQ yang telah
memiliki hak patent tersendiri. Konsep pelatihan ESQ ala Ary Ginanjar Agustian menekankan
tentang : (1) Zero Mind Process; yakni suatu usaha untuk menjernihkan kembali pemikiran
menuju God Spot (fitrah), kembali kepada hati dan fikiran yang bersifat merdeka dan bebas dari
belenggu; (2) Mental Building; yaitu usaha untuk menciptakan format berfikir dan emosi
berdasarkan kesadaran diri (self awareness), serta sesuai dengan hati nurani dengan merujuk
pada Rukun Iman; (3) Mission Statement, Character Building, dan Self Controlling; yaitu usaha
untuk menghasilkan ketangguhan pribadi (personal strength) dengan merujuk pada Rukun Islam;
(4) Strategic Collaboration; usaha untuk melakukan aliansi atau sinergi dengan orang lain atau
dengan lingkungan sosialnya untuk mewujudkan tanggung jawab sosial individu; dan (5) Total
Action; yaitu suatu usaha untuk membangun ketangguhan sosial (Ari Ginanjar, 2001).

Berkembangnya pemikiran tentang kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ)
menjadikan rumusan dan makna tentang kecerdasan semakin lebih luas. Kecerdasan tidak lagi
ditafsirkan secara tunggal dalam batasan intelektual saja. Menurut Gardner bahwa salah besar
bila kita mengasumsikan bahwa IQ adalah suatu entitas tunggal yang tetap, yang bisa diukur
dengan tes menggunakan pensil dan kertas. Hasil pemikiran cerdasnya dituangkan dalam buku
Frames of Mind.. Dalam buku tersebut secara meyakinkan menawarkan penglihatan dan cara
pandang alternatif terhadap kecerdasan manusia, yang kemudian dikenal dengan istilah
Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) (Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, 2002) .

Berkat kecerdasan intelektualnya, memang manusia telah mampu menjelajah ke Bulan dan luar
angkasa lainnya, menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang menjadikan dunia terasa
lebih dekat dan semakin transparan, menciptakan bom nuklir, serta menciptakan alat-alat
teknologi lainnya yang super canggih. Namun bersamaan itu pula kerusakan yang menuju
kehancuran total sudah mulai nampak. Lingkungan alam merasa terusik dan tidak bersahabat
lagi. Lapisan ozon yang semakin menipis telah menyebabkan terjadinya pemanasan global,
banjir dan kekeringan pun terjadi di mana-mana Gunung-gunung menggeliat dan memuntahkan
awan dan lahar panasnya. Penyakit-penyakit ragawi yang sebelumnya tidak dikenal, mulai
bermunculan, seperti Flu Burung (Avian Influenza), AIDs serta jenis-jenis penyakit mematikan
lainnya. Bahkan, tatanan sosial-ekonomi menjadi kacau balau karena sikap dan perilaku manusia
yang mengabaikan kejujuran dan amanah (perilaku koruptif dan perilaku manipulatif).

Manusia telah berhasil menciptakan raksasa-raksasa teknologi yang dapat memberikan


manfaat bagi kepentingan hidup manusia itu sendiri. Namun dibalik itu, raksasa-raksasa
teknologi tersebut telah bersiap-siap untuk menerkam dan menghabisi manusia itu sendiri.
Kecerdasan intelektual yang tidak diiringi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan
spiritualnya, tampaknya hanya akan menghasilkan kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan
dirinya maupun umat manusia. Dengan demikian, apakah memang pada akhirnya kita pun harus
bernasib sama seperti Dinosaurus ?

Dengan tidak bermaksud mempertentangkan mana yang paling penting, apakah kecerdasan
intelektual, kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual, ada baiknya kita mengambil pilihan
eklektik dari ketiga pilihan tersebut. Dengan meminjam filosofi klasik masyarakat Jawa Barat,
yaitu cageur, bageur, bener tur pinter, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa dengan
kecerdasan intelektualnya (IQ) orang menjadi cageur dan pinter, dengan kecerdasan emosional
(EQ) orang menjadi bageur, dan dengan kecerdasan spiritualnya (SQ) orang menjadi bener.
Itulah agaknya pilihan yang bijak bagi kita sebagai pribadi maupun sebagai pendidik (calon
pendidik)!

Sebagai pribadi, salah satu tugas besar kita dalam hidup ini adalah berusaha mengembangkan
segenap potensi (fitrah) kemanusian yang kita miliki, melalui upaya belajar (learning to do,
learning to know (IQ), learning to be (SQ), dan learning to live together (EQ), serta berusaha
untuk memperbaiki kualitas diri-pribadi secara terus-menerus, hingga pada akhirnya dapat
diperoleh aktualisasi diri dan prestasi hidup yang sesungguhnya (real achievement).

Sebagai pendidik (calon pendidik), dalam mewujudkan diri sebagai pendidik yang profesional
dan bermakna, tugas kemanusiaan kita adalah berusaha membelajarkan para peserta didik untuk
dapat mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang dimilikinya, melalui
pendekatan dan proses pembelajaran yang bermakna (Meaningful Learning) (SQ),
menyenangkan (Joyful Learning) (EQ) dan menantang atau problematis (problematical
Learning) (IQ), sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan kualitas sumber daya manusia
Indonesia yang cageur, bageur, bener, tur pinter.

Sebagai penutup tulisan ini, mari kita renungkan ungkapan dari Howard Gardner bahwa :
BUKAN SEBERAPA CERDAS ANDA TETAPI BAGAIMANA ANDA MENJADI CERDAS !

Sumber Bacaan :

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda


Karya Remaja.

Akhmad Sudrajat. 2006. Psikologi Pendidikan. Kuningan : PE-AP Press

Ary Ginanjar Agustian. 2001. ESQ Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun
Islam; Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Sipritual. Jakarta :
Arga.

Basyar Isya. 2002. Menjadi Muslim Prestatif. Bandung : MQS Pustaka Grafika
Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl. 2002. Accelerated Learning for The 21st
Century (terj. Dedi Ahimsa). Bandung : Nuansa.

Daniel Goleman.1999. Working With Emotional Intelligence. (Terj. Alex Tri


Kancono Widodo), Jakarta : PT Gramedia.

E.Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep, Karakteristik dan


Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

Gendler, Margaret E. 1992. Learning & Instruction; Theory Into Practice. New
York: McMillan Publishing.

H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden
Terayon Press.

Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.


Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

Sofyan S. Willis. 2004. Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung :


Alfabeta

Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja..


Bandung: PT Rosda Karya Remaja.

Hakikat dan Pengertian Belajar


Posted on 31 Januari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan
penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005)
menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan
belajar. Lantas, apa sesungguhnya belajar itu? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian
belajar dari para ahli :

Moh. Surya (1997) : belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang
dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara
keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam
berinteraksi dengan lingkungannya.

Witherington (1952) : belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang


dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk
keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan.

Crow & Crow dan (1958) : belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan,


pengetahuan dan sikap baru.

Hilgard (1962) : belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul


perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu
situasi

Di Vesta dan Thompson (1970) : belajar adalah perubahan perilaku yang


relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman.

Gage & Berliner : belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang
muncul karena pengalaman

Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan
perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku,
yaitu :

1. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).

Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang
bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa
dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau
keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar.
Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari
bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah
belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan
perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan
dengan Psikologi Pendidikan.

2. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).

Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan


kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga,
pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi
pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa
telah belajar Psikologi Pendidikan tentang Hakekat Belajar. Ketika dia mengikuti perkuliahan
Strategi Belajar Mengajar, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang Hakikat
Belajar akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan Strategi Belajar
Mengajar.

3. Perubahan yang fungsional.

Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu
yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh :
seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan
keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan
mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku
para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.

4. Perubahan yang bersifat positif.

Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya,
seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam
dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual
atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti
pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip
prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak
menjadi guru.

5. Perubahan yang bersifat aktif.

Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan
perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi
pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-
buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan
sebagainya.

6. Perubahan yang bersifat pemanen.

Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian
yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka
penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam
diri mahasiswa tersebut.

7. Perubahan yang bertujuan dan terarah.

Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka
pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar
psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin
memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang
diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka
panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai
tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut.

8. Perubahan perilaku secara keseluruhan.

Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi
termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa
belajar tentang Teori-Teori Belajar, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan
tentang Teori-Teori Belajar, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru
menguasai Teori-Teori Belajar. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan
Teori-Teori Belajar.

Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil
belajar dapat berbentuk :

Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik


secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap
suatu benda, definisi, dan sebagainya.

Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan


interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol,
misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan
intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination),
memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan
ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan
pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran,
strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara cara
berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual
menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih
menekankan pada pada proses pemikiran.

Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk


memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap
adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan
vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya
terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan
untuk bertindak.

Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan


yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam:

Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari


kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga
akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.

Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya


motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang
teliti dan kesadaran yang tinggi.

Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti


rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga
peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.

Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu


dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.

Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-


dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti bagaimana
(how) dan mengapa (why).

Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara
baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan
pengetahuan dan keyakinan.

Inhibisi. menghindari hal yang mubazir.

Apresiasi, menghargai karya-karya bermutu.

Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut,


marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.
Sedangkan menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi
perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-
aspeknya.

Teori-Teori Belajar
Posted on 2 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

oleh : Akhmad Sudrajat

Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori


belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi.Di bawah ini akan dikemukakan empat jenis
teori belajar, yaitu: (A) teori behaviorisme; (B) teori belajar kognitif menurut Piaget; (C) teori
pemrosesan informasi dari Gagne, dan (D) teori belajar gestalt.

A.Teori Behaviorisme

Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi
fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme
tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar.
Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi
kebiasaan yang dikuasai individu.

Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :

1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.


Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukumbelajar,
diantaranya: /p>

Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka
hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek
yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus-
Respons.

Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa


kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar
(conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang
mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons


akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin
berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

2.Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov

Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum
belajar, diantaranya :

Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika


dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya
berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan
meningkat.

Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika


refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu
didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya
akan menurun.

3.Operant Conditioning menurut B.F. Skinner

Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung
merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan


stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah


diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat,
maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah
sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant
conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh
reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan
kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai
pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

4.Social Learning menurut Albert Bandura

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar
yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan
penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata
refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai
hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar
menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi
melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih
memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang
individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini,
seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan
teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold
method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The
Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

B.Teori Belajar Kognitif menurut Piaget

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran
konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan
untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan
individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1)
sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational.
Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan
akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah the process by which
a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the
evidence of their senses to make it fit dan akomodasi adalah the difference made to ones mind
or concepts by the process of assimilation

Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap
perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk
melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya
dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru.Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan
kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan
menemukan berbagai hal dari lingkungan.

Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :

1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu
guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara
berfikir anak.

2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan


dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan
lingkungan sebaik-baiknya.

3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak
asing.

4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara


dan diskusi dengan teman-temanya.

C.Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne

Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran.
Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk
kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan
informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal
individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai
hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah
rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2)
pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7)
perlakuan dan (8) umpan balik.

D. Teori Belajar Gestalt

Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai bentuk atau
konfigurasi. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan
dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada
tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :
1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu
menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure
(bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran,
potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang.
Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan
penafsiran antara latar dan figure.

2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik


waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai
satu bentuk tertentu.

3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung


akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.

4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan


yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu
figure atau bentuk tertentu.

5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang


pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung
membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan
keteraturan; dan

6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan


suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:

1. Perilaku Molar hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku


Molecular. Perilaku Molecular adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot
atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku Molar adalah perilaku dalam
keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah,
bermain sepakbola adalah beberapa perilaku Molar. Perilaku Molar lebih
mempunyai makna dibanding dengan perilaku Molecular.

2. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara


lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis
adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral
merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari
jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal
kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang
lebat (lingkungan geografis).

3. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu
bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau
peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti :
sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip
ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang
tertentu.
4. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan
suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis.
Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam
memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting


dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik
memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-
unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.

2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-


unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses
pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif
sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan
masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif
pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki
makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.

3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan.


Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada
keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses
pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang
ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai
arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami
tujuannya.

4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan
dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan
hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan
kehidupan peserta didik.

5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi


pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer
belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu
konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam
situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan
pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam
pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum
(generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah
menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan
generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam
situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik
untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Posted on 29 Januari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran


bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan
lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan
memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti
berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali
anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang

Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep


belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata siswa.

Info selengkapnya tentang pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual dalam


bentuk tayangan PowerPoint silahkan klik tautan di bawah ini:

Sekilas tentang Behaviorisme


Posted on 8 Juli 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang meyakini


bahwa untuk mengkaji perilaku individu harus dilakukan terhadap setiap aktivitas individu yang
dapat diamati, bukan pada peristiwa hipotetis yang terjadi dalam diri individu. Oleh karena itu,
penganut aliran behaviorisme menolak keras adanya aspek-aspek kesadaran atau mentalitas
dalam individu. Pandangan ini sebetulnya sudah berlangsung lama sejak jaman Yunani Kuno,
ketika psikologi masih dianggap bagian dari kajian filsafat. Namun kelahiran behaviorisme
sebagai aliran psikologi formal diawali oleh J.B. Watson pada tahun 1913 yang menganggap
psikologi sebagai bagian dari ilmu kealaman yang eksperimental dan obyektif, oleh sebab itu
psikologi harus menggunakan metode empiris, seperti : observasi, conditioning, testing, dan
verbal reports.

Teori utama dari Watson yaitu konsep stimulus dan respons (S-R) dalam psikologi. Stimulus
adalah segala sesuatu obyek yang bersumber dari lingkungan. Sedangkan respon adalah segala
aktivitas sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi.
Watson tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku dan perilaku
manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting. Pemikiran Watson
menjadi dasar bagi para penganut behaviorisme berikutnya.

Teori-teori yang dikembangkan oleh kelompok behaviorisme terutama banyak


dihasilkan melalui berbagai eksperimen terhadap binatang. Berikut ini disajikan
beberapa teori penting yang dihasilkan oleh kelompok behaviorisme:

1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.

Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-


hukum belajar, diantaranya:

Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang
memuaskan, maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat.
Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka
semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.

Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa


kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar
(conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang
mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons


akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin
berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov

Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan


hukum-hukum belajar, diantaranya :
Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika
dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya
berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan
meningkat.

Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika


refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu
didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya
akan menurun.

3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner

Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya
terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan


stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah


diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat,
maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant
adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan.
Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus,
melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada
dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah
respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya
seperti dalam classical conditioning.

4. Social Learning menurut Albert Bandura

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah
teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar
lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang
Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond),
melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan
dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini,
bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi
melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga
masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan
punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana
yang perlu dilakukan.

Sekilas Tentang Psikoanalisis


Posted on 23 Januari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Psikonaliasis disebut-sebut sebagai kekuatan pertama dalam aliran


psikologi. Aliran ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1890-an oleh Simund Freud,
seorang ahli neurologi yang berhasil menemukan cara-cara pengobatan yang efektif bagi pasien-
pasien yang mengalami gangguan gejala neurotik dan histeria melalui teknik pengobatan
eksperimental yang disebut abreaction, sebuah kombinasi antara teknik hipnotis dengan katarsis,
yang dia pelajari dari senior sekaligus sahabatnya, Dr. Josef Breuer. Bersama-sama dengan
Breuer, Freud menangani pasien-pasien dengan gangguan histeria yang menjadi bahan bagi
tulisannya, :Studies in Histeria. Kerjasamanya dengan Jean Martin Charcot, dokter syaraf
terkenal di Perancis, dia banyak menggali tentang gejala-gejala psikosomatik dari pasien-pasien
yang mengalami gangguan seksual.
Freud berhasil mengembangkan teori kepribadian yang membagi struktur mind ke dalam tiga
bagian yaitu : consciousness (alam sadar), preconsciousness (ambang sadar) dan
unconsciousness (alam bawah sadar). Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang
paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia (analoginya dengan
gunung es). Di dalam unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan
instink. Preconsciousness berperan sebagai jembatan antara conscious dan unconscious, berisi
ingatan atau ide yang dapat diakses kapan saja. Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind,
namun satu-satunya bagian yang memiliki kontak langsung dengan realitas. Freud
mengembangkan konsep struktur mind tersebut dengan mengembangkan mind apparatus,
yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting,
yaitu id, ego dan super ego. Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya
tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang
segera. Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan
mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia
mengerti nilai baik buruk dan moral. Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan
individu atas tuntuta moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan
menimbulkan rasa salah. Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego.
Apabila tuntutan ini tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah
kecemasan (anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego melakukan reaksi
defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang jenisnya bisa
bermacam-macam, seperti : identifikasi, proyeksi, fiksasi, agesi regresi, represi.

Pemikiran Psikoanalisis dari Freud semakin terus berkembang, Alfred Adler (1870-1937),
sebagai pengikut Freud yang berhasil mengembangkan teorinya sendiri yang disebut dengan
Individual Psychology. Konsep utama Adler adalah organ inferiority. Berangkat dari teorinya
tentang adanya inferiority karena kekurangan fisik yang berusaha diatasi manusia, ia memperluas
teorinya dengan menyatakan bahwa perasaan inferior adalah universal. Setiap manusia pasti
punya perasaan inferior karena kekurangannya dan berusaha melakukan kompensasi atas
perasaan ini. Kompensasi ini bisa dalam bentuk menyesuaikan diri ataupun membentuk
pertahanan yang memungkinkannya mengatasi kelemahan tersebut. Selanjutnya, Adler juga
membahas tentang striving for superiority, yaitu dorongan untuk mengatasi inferiority dengan
mencapai keunggulan. Dorongan ini sifatnya bawaan dan merupakan daya penggerak yang kuat
bagi individu sepanjang hidupnya. Adanya striving for superiority menyebabkan manusia selalu
berkembang ke arah kesempurnaan. Teorinya ini yang membuat Adler memiliki pandangan lebih
optimis dan positif terhadap manusia serta lebih berorientasi ke masa depan dibandingkan Freud
yang lebih berorientasi ke masa lalu.

Carl Gustav Jung (1875-1961), salah seorang murid Freud yang kemudian berhasil
mengembangkan teorinya sendiri yang disebut Analytical Psychology. Jung menekankan pada
aspek ketidakadaran dengan konsep utamanya, collective unconscious. Konsep ini sifatnya
transpersonal, ada pada seluruh manusia. Hal ini dapat dibuktikan melalui struktur otak manusia
yang tidak berubah. Collective unconscious terdiri dari jejak ingatan yang diturunkan dari
generasi terdahulu, cakupannya sampai pada masa pra-manusia. Misalnya, cinta pada orangtua,
takut pada binatang buas,dan lain-lain. Collective unconscious ini menjadi dasar kepribadian
manusia karena didalamnya terkandung nilai dan kebijaksanaan yang dianut manusia. Ide-ide
yang diturunkan atau primordial images disebut sebagai archetype, yang terbentuk dari
pengalaman yang berulang dalam kurun waktu yang lama. Ada beberapa archetype mendasar
pada manusia, yaitu persona, anima, shadow, self. Archetype inilah yang menjadi isi collective
unconsciousness. (Hana Panggabean, 2007, http://rumahbelajarpsikologi.com)

Hingga saat ini di Amerika Serikat tercatat sekitar 35 lembaga pelatihan Psikoanalisis yang telah
terakreditasi oleh American Psychoanalytic Association dan terdapat lebih dari 3.000 lulusannya
yang menjalankan praktik psikoanalisis. Pemikiran psikoanalisis tidak hanya berkembang di
Amerika di hampir seluruh belahan Eropa dan belahan dunia lainnya.

Beberapa teori yang dihasilkan dari kalangan psikoanalisis, diantaranya : (1) teori konflik; (2)
psikologi ego; (3) teori hubungan-hubungan objek; (4) teori struktural; dan sebagainya

Terlepas dari kontroversi yang menyertainya, psikoanalisis merupakan salah satu aliran psikologi
yang telah berhasil menguak sisi kehidupan manusia yang tidak bisa diamati secara inderawi.
Psikoanalisis telah mengantarkan pelopornya, yaitu Sigmund Freud sebagai salah satu tokoh
psikologi yang paling populer di Amerika pada abad ke-20.

Sumber:

Hana Panggabean, 2007, http://rumahbelajarpsikologi.com

Wikipedia. 2007. Psychoanalysis. http://en.wikipedia.org/

Sekilas tentang Psikologi Humanistik


Posted on 29 Januari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT
Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang
muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang
berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, seperti :
Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional
yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self
(diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan
sejenisnya.

Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan
behaviorisme serta dipandang sebagai kekuatan ketiga dalam aliran psikologi. Psikoanalisis
dianggap sebagai kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya datang dari
psikoanalisis ala Freud yang berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang
dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat.
Kelompok psikoanalis berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh
kekuatan tak sadar dari dalam diri.

Kekuatan psikologi yang kedua adalah behaviorisme yang dipelopori oleh Ivan Pavlov dengan
hasil pemikirannya tentang refleks yang terkondisikan. Kalangan Behavioristik meyakini bahwa
semua perilaku dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal dari lingkungan.

Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi


manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan
pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-
nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Dalam hal ini, James Bugental
(1964) mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu: (1)
keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen; (2) manusia memiliki
keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya; (3) manusia memiliki
kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain; (4) manusia memiliki
pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan (5) manusia memiliki
kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas.

Terdapat beberapa ahli psikologi yang telah memberikan sumbangan pemikirannya terhadap
perkembangan psikologi humanistik. Sumbangan Snyggs dan Combs (1949) dari kelompok
fenomenologi yang mengkaji tentang persepsi. Dia percaya bahwa seseorang akan berperilaku
sejalan dengan apa yang dipersepsinya. Menurutnya, bahwa realitas bukanlah sesuatu yang yang
melekat dari kejadian itu sendiri, melainkan dari persepsinya terhadap suatu kejadian.
Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang
potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami
tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah satu tujuan dalam
pendidikan humanistik. Morris (1954) meyakini bahwa manusia dapat memikirkan tentang
proses berfikirnya sendiri dan kemudian mempertanyakan dan mengoreksinya. Dia menyebutkan
pula bahwa setiap manusia dapat memikirkan tentang perasaan-persaannya dan juga memiliki
kesadaran akan dirinya. Dengan kesadaran dirinya, manusia dapat berusaha menjadi lebih baik.
Carl Rogers berjasa besar dalam mengantarkan psikologi humanistik untuk dapat diaplikasian
dalam pendidikan. Dia mengembangkan satu filosofi pendidikan yang menekankan pentingnya
pembentukan pemaknaan personal selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui
upaya menciptakan iklim emosional yang kondusif agar dapat membentuk pemaknaan personal
tersebut. Dia memfokuskan pada hubungan emosional antara guru dengan siswa

Berkenaan dengan epistemiloginya, teori-teori humanistik dikembangkan lebih berdasarkan pada


metode penelitian kualitatif yang menitik-beratkan pada pengalaman hidup manusia secara nyata
(Aanstoos, Serlin & Greening, 2000). Kalangan humanistik beranggapan bahwa usaha mengkaji
tentang mental dan perilaku manusia secara ilmiah melalui metode kuantitatif sebagai sesuatu
yang salah kaprah. Tentunya hal ini merupakan kritikan terhadap kalangan kognitivisme yang
mengaplikasikan metode ilmiah pendekatan kuantitatif dalam usaha mempelajari tentang
psikologi.

Sebaliknya, psikologi humanistik pun mendapat kritikan bahwa teori-teorinya tidak mungkin
dapat memfalsifikasi dan kurang memiliki kekuatan prediktif sehingga dianggap bukan sebagai
suatu ilmu (Popper, 1969, Chalmers, 1999).

Hasil pemikiran dari psikologi humanistik banyak dimanfaatkan untuk kepentingan konseling
dan terapi, salah satunya yang sangat populer adalah dari Carl Rogers dengan client-centered
therapy, yang memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat mengarahkan diri dan memahami
perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling menghargai dan tanpa
prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers
menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan
tugas konselor hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers,
teknik-teknik asesmen dan pendapat para konselor bukanlah hal yang penting dalam melakukan
treatment atau pemberian bantuan kepada klien.

Selain memberikan sumbangannya terhadap konseling dan terapi, psikologi humanistik juga
memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan
humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu
secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental,
dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik ini.
Sumber :

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.

Pembelajaran Tuntas (Mastery-Learning) dalam KTSP


Posted on 2 November 2009 by AKHMAD SUDRAJAT

A. Latar Belakang

Salah satu di antara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia


yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya
rata-rata prestasi belajar, khususnya peserta didik Sekolah Menengah Atas (SMA). Masalah lain
adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher
centered). Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai
subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam
berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh),
kreatif, objektif, dan logis, belum memanfaatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma
menarik dalam pembelajaran, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual.

Demikian juga proses pendidikan dalam sistem persekolahan kita, umumnya belum menerapkan
pembelajaran sampai peserta didik menguasai materi pembelajaran secara tuntas. Akibatnya,
banyak peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan
tamat dari sekolah. Tidak heran kalau mutu pendidikan secara nasional masih rendah.

Penerapan Standar Isi yang berbasis pendekatan kompetensi sebagai upaya perbaikan kondisi
pendidikan di tanah air ini memiliki beberapa alasan, di antaranya:

1. potensi peserta didik berbeda-beda, dan potensi tersebut akan berkembang


jika stimulusnya tepat;
2. mutu hasil pendidikan yang masih rendah serta mengabaikan aspek-aspek
moral, akhlak, budi pekerti, seni & olah raga, serta kecakapan hidup (life
skill);

3. persaingan global yang memungkinkan hanya mereka yang mampu akan


berhasil;

4. persaingan kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) produk lembaga


pendidikan;

5. persaingan yang terjadi pada lembaga pendidikan, sehingga perlu rumusan


yang jelas mengenai standar kompetensi lulusan.

Upaya-upaya dalam rangka perbaikan dan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi


meliputi: kewenangan pengembangan, pendekatan pembelajaran, penataan isi/konten, serta
model sosialisasi, lebih disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi serta era yang
terjadi saat ini. Pendekatan pembelajaran diarahkan pada upaya mengembangkan kemampuan
peserta didik dalam mengelola perolehan belajar (kompetensi) yang paling sesuai dengan kondisi
masing-masing. Dengan demikian proses pembelajaran lebih mengacu kepada bagaimana peserta
didik belajar dan bukan lagi pada apa yang dipelajari.

Sesuai dengan cita-cita dari tujuan pendidikan nasional, guru perlu memiliki beberapa prinsip
mengajar yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal peserta didik di dalam
merancang strategi dan melaksanakan pembelajaran. Peningkatan potensi internal itu misalnya
dengan menerapkan jenis-jenis strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mampu
mencapai kompetensi secara penuh, utuh dan kontekstual.

Berbicara tentang rendahnya daya serap atau prestasi belajar, atau belum terwujudnya
keterampilan proses dan pembelajaran yang menekankan pada peran aktif peserta didik, inti
persoalannya adalah pada masalah ketuntasan belajar yakni pencapaian taraf penguasaan
minimal yang ditetapkan bagi setiap kompetensi secara perorangan. Masalah ketuntasan belajar
merupakan masalah yang penting, sebab menyangkut masa depan peserta didik, terutama mereka
yang mengalami kesulitan belajar.

Pendekatan pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk
memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu.
Dengan menempatkan pembelajaran tuntas (mastery learning) sebagai salah satu prinsip utama
dalam mendukung pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, berarti pembelajaran tuntas
merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh
warga sekolah. Untuk itu perlu adanya panduan yang memberikan arah serta petunjuk bagi guru
dan warga sekolah tentang bagaimana pembelajaran tuntas seharusnya dilaksanakan.

B. Asumsi Dasar
Metode pembelajaran adalah cara untuk mempermudah peserta didik mencapai kompetensi
tertentu. Hal ini berlaku baik bagi guru (dalam pemilihan metode mengajar) maupun bagi peserta
didik (dalam memilih strategi belajar). Dengan demikian makin baik metode, akan makin efektif
pula pencapaian tujuan belajar (Winarno Surahmad, 1982). Langkah metode pembelajaran yang
dipilih memainkan peranan utama, yang berakhir pada semakin meningkatnya prestasi belajar
peserta didik.

Pembelajaran tuntas (mastery learning) dalam proses pembelajaran berbasis kompetensi


dimaksudkan adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik
menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran
tertentu. Dalam model yang paling sederhana, dikemukakan bahwa jika setiap peserta didik
diberikan waktu sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat penguasaan, dan
jika dia menghabiskan waktu yang diperlukan, maka besar kemungkinan peserta didik akan
mencapai tingkat penguasaan kompetensi. Tetapi jika peserta didik tidak diberi cukup waktu atau
dia tidak dapat menggunakan waktu yang diperlukan secara penuh, maka tingkat penguasaan
kompetensi peserta didik tersebut belum optimal. Block (1971) menyatakan tingkat penguasaan
kompetensi peserta didik sebagai berikut :

Model ini menggambarkan bahwa tingkat penguasaan kompetensi (degree of learning)


ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang benar-benar digunakan (time actually spent) untuk
belajar dibagi dengan waktu yang diperlukan (time needed) untuk menguasai kompetensi
tertentu.

Dalam pembelajaran konvensional, bakat (aptitude) peserta didik tersebar secara normal. Jika
kepada mereka diberikan pembelajaran yang sama dalam jumlah pembelajaran dan waktu yang
tersedia untuk belajar, maka hasil belajar yang dicapai akan tersebar secara normal pula. Dalam
hal ini dapat dikatakan bahwa hubungan antara bakat dan tingkat penguasaan adalah tinggi.
Secara skematis konsep tentang prestasi belajar sebagai dampak pembelajaran dengan
pendekatan konvensional dapat digambarkan sebagai berikut :

Sebaliknya, apabila bakat peserta didik tersebar secara normal, dan kepada mereka diberi
kesempatan belajar yang sama untuk setiap peserta didik, tetapi diberikan perlakuan yang
berbeda dalam kualitas pembelajarannya, maka besar kemungkinan bahwa peserta didik yang
dapat mencapai penguasaan akan bertambah banyak. Dalam hal ini hubungan antara bakat
dengan keberhasilan akan menjadi semakin kecil.

Secara skematis konsep prestasi belajar sebagai dampak pembelajaran dengan pendekatan
pembelajaran tuntas, dapat digambarkan sebagai berikut:

Dari konsep-konsep di atas, kiranya cukup jelas bahwa harapan dari proses pembelajaran dengan
pendekatan belajar tuntas adalah untuk mempertinggi rata-rata prestasi peserta didik dalam
belajar dengan memberikan kualitas pembelajaran yang lebih sesuai, bantuan, serta perhatian
khusus bagi peserta didik yang lambat agar menguasai standar kompetensi atau kompetensi
dasar. Dari konsep tersebut, dapat dikemukakan prinsip-prinsip utama pembelalaran tuntas
adalah:

1. Kompetensi yang harus dicapai peserta didik dirumuskan dengan urutan


yang hirarkis,

2. Evaluasi yang digunakan adalah penilaian acuan patokan, dan setiap


kompetensi harus diberikan feedback,

3. Pemberian pembelajaran remedial serta bimbingan yang diperlukan,

4. Pemberian program pengayaan bagi peserta didik yang mencapai ketuntasan


belajar lebih awal. (Gentile & Lalley: 2003)

C. Perbedaan antara Pembelajaran Tuntas dengan Pembelajaran Konvensional

Pembelajaran tuntas adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan secara
individual. Dalam hal pemberian kebebasan belajar, serta untuk mengurangi kegagalan peserta
didik dalam belajar, strategi belajar tuntas menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun
kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi mengakui dan
melayani perbedaan-perbedaan perorangan peserta didik sedemikiah rupa, sehingga dengan
penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta
didik secara optimal. Dasar pemikiran dari belajar tuntas dengan pendekatan individual ialah
adanya pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing peserta didik.

Untuk merealisasikan pengakuan dan pelayanan terhadap perbedaan individu, pembelajaran


harus menggunakan strategi pembelajaran yang berasaskan maju berkelanjutan (continuous
progress). Untuk itu, pendekatan sistem yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam
teknologi pembelajaran harus benar-benar dapat diimplementasikan. Salah satu caranya adalah
standar kompetensi dan kompetensi dasar harus dinyatakan secara jelas, dan pembelajaran
dipecah-pecah ke dalam satuan-satuan (cremental units). Peserta didik belajar selangkah demi
selangkah dan boleh mempelajari kompetensi dasar berikutnya setelah menguasai sejumlah
kompetensi dasar yang ditetapkan menurut kriteria tertentu. Dalam pola ini, seorang peserta
didik yang mempelajari unit satuan pembelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan
pembelajaran berikutnya jika peserta didik yang bersangkutan telah menguasai sekurang-
kurangnya 75% dari kompetensi dasar yang ditetapkan. Sedangkan pembelajaran konvensional
dalam kaitan ini diartikan sebagai pembelajaran dalam konteks klasikal yang sudah terbiasa
dilakukan, sifatnya berpusat pada guru, sehingga pelaksanaannya kurang memperhatikan
keseluruhan situasi belajar (non belajar tuntas).
Dengan memperhatikan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa perbedaan antara pembelajaran
tuntas dengan pembelajaran konvensional adalah bahwa pembelajaran tuntas dilakukan melalui
asas-asas ketuntasan belajar, sedangkan pembelajaran konvensional pada umumnya kurang
memperhatikan ketuntasan belajar khususnya ketuntasan peserta didik secara individual. Secara
kualitatif perbandingan ke dua pola tersebut dapat dicermati pada Tabel berikut,

Tabel 1: Perbandingan Kualitatif antara Pembelajaran Tuntas dengan Pembelajaran Konvensional

Pembelajaran Tuntas Pembelajaran Konvensional

A. Persiapan

Tingkat ketuntasan

Diukur dari performance


peserta didik dalam
setiap unit (satuan
kompetensi atau
kemampuan dasar

Satuan Acara Pembelajaran

Dibuat untuk satu minggu Dibuat untuk satu minggu pembelajaran,


pembelajaran, dan dan hanya dipakai sebagai pedoman guru
dipakai sebagai pedoman
guru serta diberikan
kepada peserta didik

Pandangan terhadap kemampuan peserta didik

Kemampuan peserta didik dianggap sama


B. Pelaksanaan pembelajaran
Bentuk pembelajaran

Dilaksanakan sepenuhnya melalui


pendekatan klasikal

Cara pembelajaran

Pembelajaran dilakukan Dilakukan melalui mendengarkan (lecture),


melalui penjelasan guru tanya jawab, dan membaca (tidak
(lecture), membaca terkontrol)
secara mandiri dan
terkontrol, berdiskusi, dan
belajar secara individual

Orientasi pembelajaran

Pada terminal Pada bahan pembelajaran


performance peserta
didik (kompetensi atau
kemampuan dasar)
secara individual

Peranan guru

Sebagai pengelola Sebagai pengelola pembelajaran untuk


pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan seluruh peserta didik
memenuhi kebutuhan dalam kelas
peserta didik secara
individual

Fokus kegiatan pembelajaran


Ditujukan kepada masing- Ditujukan kepada peserta didik dengan
masing peserta didik kemampuan menengah
secara individual

Penentuan keputusan mengenai satuan pembelajaran

Ditentukan oleh peserta Ditentukan sepenuhnya oleh guru


didik dengan bantuan
guru

C. Umpan Balik

Instrumen umpan balik

Menggunakan berbagai
jenis serta bentuk
tagihan secara
berkelanjutan

Cara membantu peserta didik

Menggunakan sistem Dilakukan oleh guru dalam bentuk tanya


tutor dalam diskusi jawab secara klasikal
kelompok (small-group
learning activities) dan
tutor yang dilakukan
secara individual

D. Indikator Pelaksanaan Pembelajaran Tuntas

1. Metode Pembelajaran

Strategi pembelajaran tuntas sebenarnya menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun
kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi juga mengakui dan
memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual peserta didik, sehingga
pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara
optimal.

Adapun langkah-langkahnya adalah :

mengidentifikasi prasyarat (prerequisite),

membuat tes untuk mengukur perkembangan dan pencapaian kompetensi,

mengukur pencapaian kompetensi peserta didik.

Metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran tuntas adalah pembelajaran
individual, pembelajaran dengan teman atau sejawat (peer instruction), dan bekerja dalam
kelompok kecil. Berbagai jenis metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk
kelas atau kelompok.

Pembelajaran tuntas sangat mengandalkan pada pendekatan tutorial dengan sesion-sesion


kelompok kecil, tutorial orang perorang, pembelajaran terprogram, buku-buku kerja, permainan
dan pembelajaran berbasis komputer (Kindsvatter, 1996)

2. Peran Guru

Strategi pembelajaran tuntas menekankan pada peran atau tanggung jawab guru dalam
mendorong keberhasilan peserta didik secara individual. Pendekatan yang digunakan mendekati
model Personalized System of Instruction (PSI) seperti dikembangkan oleh Keller, yang lebih
menekankan pada interaksi antara peserta didik dengan materi/objek belajar.

Peran guru harus intensif dalam hal-hal berikut:

Menjabarkan/memecah KD (Kompetensi Dasar) ke dalam satuan-satuan (unit-


unit) yang lebih kecil dengan memperhatikan pengetahuan prasyaratnya.

Mengembangkan indikator berdasarkan SK/KD.

Menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk yang bervariasi

Memonitor seluruh pekerjaan peserta didik

Menilai perkembangan peserta didik dalam pencapaian kompetensi (kognitif,


psikomotor, dan afektif)

Menggunakan teknik diagnostik

Menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi peserta didik


yang mengalami kesulitan
3. Peran Peserta didik

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memiliki pendekatan berbasis kompetensi sangat
menjunjung tinggi dan menempatkan peran peserta didik sebagai subjek didik. Fokus program
pembelajaran bukan pada Guru dan yang akan dikerjakannya melainkan pada Peserta didik
dan yang akan dikerjakannya. Oleh karena itu, pembelajaran tuntas memungkinkan peserta
didik lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang diperlukan. Artinya, peserta
didik diberi kebebasan dalam menetapkan kecepatan pencapaian kompetensinya. Kemajuan
peserta didik sangat bertumpu pada usaha serta ketekunannya secara individual.

4. Evaluasi

Penting untuk dicatat bahwa ketuntasan belajar dalam KTSP ditetapkan dengan penilaian acuan
patokan (criterion referenced) pada setiap kompetensi dasar dan tidak ditetapkan berdasarkan
norma (norm referenced). Dalam hal ini batas ketuntasan belajar harus ditetapkan oleh guru,
misalnya apakah peserta didik harus mencapai nilai 75, 65, 55, atau sampai nilai berapa seorang
peserta didik dinyatakatan mencapai ketuntasan dalam belajar.

Asumsi dasarnya adalah:

bahwa semua orang bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan
berbeda,

standar harus ditetapkan terlebih dahulu, dan hasil evaluasi adalah lulus atau
tidak lulus. (Gentile & Lalley: 2003)

Sistem evaluasi menggunakan penilaian berkelanjutan, yang ciri-cirinya adalah:

Ulangan dilaksanakan untuk melihat ketuntasan setiap Kompetensi Dasar

Ulangan dapat dilaksanakan terdiri atas satu atau lebih Kompetensi Dasar
(KD)

Hasil ulangan dianalisis dan ditindaklanjuti melalui program remedial dan


program pengayaan.

Ulangan mencakup aspek kognitif dan psikomotor

Aspek afektif diukur melalui kegiatan inventori afektif seperti pengamatan,


kuesioner, dsb.

Sistem penilaian mencakup jenis tagihan serta bentuk instrumen/soal. Dalam pembelajaran
tuntas tes diusahakan disusun berdasarkan indikator sebagai alat diagnosis terhadap program
pembelajaran. Dengan menggunakan tes diagnostik yang dirancang secara baik, peserta didik
dimungkinkan dapat menilai sendiri hasil tesnya, termasuk mengenali di mana ia mengalami
kesulitan dengan segera. Sedangkan penentuan batas pencapaian ketuntasan belajar, meskipun
umumnya disepakati pada skor/nilai 75 (75%) namun batas ketuntasan yang paling realistik atau
paling sesuai adalah ditetapkan oleh guru mata pelajaran, sehingga memungkinkan adanya
perbedaan dalam penentuan batas ketuntasan untuk setiap KD maupun pada setiap sekolah dan
atau daerah.

Mengingat kecepatan tiap-tiap peserta didik dalam pencapaian KD tidak sama, maka dalam
pembelajaran terjadi perbedaan kecepatan belajar antara peserta didik yang sangat pandai dan
pandai, dengan yang kurang pandai dalam pencapaian kompetensi. Sementara pembelajaran
berbasis kompetensi mengharuskan pencapaian ketuntasan dalam pencapaian kompetensi untuk
seluruh kompetensi dasar secara perorangan. Implikasi dari prinsip tersebut mengharuskan
dilaksanakannya program-program remedial dan pengayaan sebagai bagian tak terpisahkan dari
penerapan sistem pembelajaran tuntas.

Sumber:

Diambil dan Adaptasi dari :

Depdiknas. 2008. Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tuntas (Mastery-Learning) Jakarta:


Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Sekolah

Pengaruh Faktor Keturunan terhadap


Perkembangan Individu
Posted on 2 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap perkembangan individu


adalah faktor ketururan yang merupakan pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan,
seperti : konstitusi dan struktur fisik, kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). Berbeda
dengan faktor lingkungan, faktor keturunan pada umumnya cenderung bersifat kodrati yang sulit
untuk dimodifikasi.
Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki
oleh orang tuanya (ayah atau ibu).

Berdasarkan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih, Gregor
Mendel mengemukakan pandangannya, bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk hidup itu
dikendalikan oleh keturunan; (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk
alternatif sesamanya, dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar; dan
(3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin, pasangan faktor keturunan itu memisah, dan
tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan keturunan itu.

Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan
penting bagi perilaku dan pribadi individu. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan
memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua
kepada anaknya :

1.Asas Reproduksi

Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak
dapat diturunkan kepada anak-anaknya. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang
tua kepada anaknya hanyalah bersifat reproduksi, yaitu memunculkan kembali mengenai apa
yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja, dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua
yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya.

2.Asas Variasi

Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi, baik
mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini disebabkan karena pada waktu terjadinya
pembuahan komposisi gen berbeda-beda, baik yang berasal dari ayah maupun ibu. Oleh karena
itu, akan didapati beberapa perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang
bersaudara, walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama, sehingga mungkin saja kakaknya
lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak
menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya.

3.Asas Regresi Filial

Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan
oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya, sehingga akan didapati
sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. Sedangkan
perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung
kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut.

4.Asas Jenis Menyilang

Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-
anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. Seorang anak perempuan akan lebih banyak
memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya, sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak
memilki sifat pada ibunya.

5.Asas konformitas

Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan
ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya.Misalnya,
orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa
lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia.
Asas-asas di atas hanya sekedar gambaran untuk memahami kemungkinan-kemungkinan tentang
apa-apa yang diwariskan dari orang tua terhadap anaknya dan tidak bersifat mutlak

Materi Terkait:

Memahami Perilaku Individu

Memahami Emosi Individu

Pengaruh Lingkungan terhadap Individu


Posted on 7 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap


pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan
sosio-psikologis, termasuk didalamnya adalah belajar.
Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti
pengalaman, karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam
sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pengaruh lingkungan itu,
karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya.
Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu, dapat kita ikuti pada uraian berikut :

1. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial

Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-
manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi, sehingga kenyataannya
akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan
yang lainnya.

Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan


perkembangannya, akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia.
Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan
bertingkah laku dengan sesamanya.

Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari
pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja, walaupun diberinya cukup makanan
dan minuman, akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia, maka sudah dapat
dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa, canggung pemalu
dan lain-lain. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik, maka penyesuaian dirinya itu akan
berlangsung sangat lambat sekali.

2. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu

Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk
diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang,
karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba
terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya.
Lingkungan memiliki peranan bagi individu, sebagai :

1. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat
pergaulan sosial individu. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau
menjamu teman ketika berkunjung ke rumah.

2. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat


menundukkannya. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia
untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya.

3. Sesuatu yang diikuti individu. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa


memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan
mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya, apabila
dianggap sesuai dengan dirinya. Contoh : seorang anak yang senantiasa
bergaul dengan temannya yang rajin belajar, sedikit banyaknya sifat rajin
dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah
menjadi anak yang rajin.

4. Obyek penyesuaian diri bagi individu, baik secara alloplastis maupun


autoplastis. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk
merubah lingkungannya. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu
memasang kipas angin sehingga di kamarnya menjadi sejuk. Dalam hal ini,
individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk
memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan
dirinya. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis, penyesusian diri yang
dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Contoh :
seorang juru rawat di rumah sakit, pada awalnya dia merasa mual karena
bau obat-obatan, namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak
menjadi gangguan lagi, karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya.

Pola Hubungan Orangtua Anak


Posted on 15 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Oleh : Akhmad Sudrajat

Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi


perkembangan individu. Sejak kecil anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga.
Dalam hal ini, peranan orang tua menjadi amat sentral dan sangat besar pengaruhnya bagi
pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Slater (Elizabeth Hurlock 1974:353) mengungkapkan tentang empat pola dasar relasi orang tua-
anak yang bipolar beserta pengaruhnya terhadap kepribadian anak, yaitu :

1. tolerance-intolerance
Pengaruh yang mungkin dirasakan dari adanya sikap orang tua yang penuh toleransi,
memungkinkan anak untuk dapat memiliki ego yang kuat. Sebaliknya, sikap tidak toleran
cenderung akan menghasilkan ego yang lemah pada diri anak.

2. permissiveness strictness

Relasi orang tua-anak yang permisif dapat membentuk menunjang proses pembentukan kontrol
intelektual anak, namun sebaliknya kekerasan berdampak pada pembentukan pribadi anak yang
impulsif.

3. involvement detachment

Seorang anak cenderung akan menjadi ekstrovert, manakala orang tua dapat menunjukkan sikap
mau terlibat dan peduli . Sebaliknya, sikap orang tua yang terlalu membiarkan berdampak
terhadap pembentukan pribadi anak yang introvert.

4. warmth coldness

Relasi orang tua-anak yang diwarnai kehangatan memungkinkan anak memiliki kemampuan
untuk dapat melibatkan diri dengan lingkungan sosialnya. Sebaliknya, relasi orang tua-anak yang
dingin akan menyebabkan anak senantiasa menarik diri dari lingkungan sosialnya. Sikap dan
perlakuan orang tua yang toleran, permisif, turut terlibat dan penuh kehangatan merupakan
manifestasi dari penerimaan orang tua terhadap anak. Sedangkan sikap dan perlakuan orang tua
yang tidak toleran, keras, membiarkan dan dingin merupakan bentuk penolakan terhadap anak.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan harga diri anak, orang tua seyogyanya dapat memberikan
kesempatan kepada anak untuk belajar bertanggung jawab dan menentukan dirinya sendiri. Di
sini, orang tua hanya berperan sebagai fasilitator, yang berupaya untuk memberikan kesempatan
yang luas kepada anak dalam meraih harga dirinya melalui pengembangan minat dan
kecakapannya. Buss (1973) mengemukakan bahwa kasih sayang orang tua yang tulus
(unconditional parental love) merupakan faktor penting yang dapat membentuk inti (core) dari
harga diri anak. Berbagai studi yang dilakukan menunjukkan bahwa seorang anak menjadi anti
demokratis, prejudice, dan memiliki sikap permusuhan dari adanya sikap perlakuan orang tua
yang keras (Hoffman, 1960; Harris, Gough & Martin, 1950; Lyle & Levitt, 1955). Studi yang
dilakukan Radke (1946) menunjukkan bahwa anak merasa sedih, kurang bahagia, dan merasa
sakit dengan adanya perlakuan orang tua yang disertai hukuman fisik. Sementara itu, studi yang
dilakukan Symonds (1939) menyimpulkan bahwa : accepted children engaged
predominantly in society behaviors, whereas rejected children menifested a number
unacceptable behaviors.
Pola Hubungan Orangtua Anak
Posted on 15 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Oleh : Akhmad Sudrajat

Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi


perkembangan individu. Sejak kecil anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga.
Dalam hal ini, peranan orang tua menjadi amat sentral dan sangat besar pengaruhnya bagi
pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Slater (Elizabeth Hurlock 1974:353) mengungkapkan tentang empat pola dasar relasi orang tua-
anak yang bipolar beserta pengaruhnya terhadap kepribadian anak, yaitu :

1. tolerance-intolerance

Pengaruh yang mungkin dirasakan dari adanya sikap orang tua yang penuh toleransi,
memungkinkan anak untuk dapat memiliki ego yang kuat. Sebaliknya, sikap tidak toleran
cenderung akan menghasilkan ego yang lemah pada diri anak.

2. permissiveness strictness

Relasi orang tua-anak yang permisif dapat membentuk menunjang proses pembentukan kontrol
intelektual anak, namun sebaliknya kekerasan berdampak pada pembentukan pribadi anak yang
impulsif.

3. involvement detachment

Seorang anak cenderung akan menjadi ekstrovert, manakala orang tua dapat menunjukkan sikap
mau terlibat dan peduli . Sebaliknya, sikap orang tua yang terlalu membiarkan berdampak
terhadap pembentukan pribadi anak yang introvert.

4. warmth coldness
Relasi orang tua-anak yang diwarnai kehangatan memungkinkan anak memiliki kemampuan
untuk dapat melibatkan diri dengan lingkungan sosialnya. Sebaliknya, relasi orang tua-anak yang
dingin akan menyebabkan anak senantiasa menarik diri dari lingkungan sosialnya. Sikap dan
perlakuan orang tua yang toleran, permisif, turut terlibat dan penuh kehangatan merupakan
manifestasi dari penerimaan orang tua terhadap anak. Sedangkan sikap dan perlakuan orang tua
yang tidak toleran, keras, membiarkan dan dingin merupakan bentuk penolakan terhadap anak.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan harga diri anak, orang tua seyogyanya dapat memberikan
kesempatan kepada anak untuk belajar bertanggung jawab dan menentukan dirinya sendiri. Di
sini, orang tua hanya berperan sebagai fasilitator, yang berupaya untuk memberikan kesempatan
yang luas kepada anak dalam meraih harga dirinya melalui pengembangan minat dan
kecakapannya. Buss (1973) mengemukakan bahwa kasih sayang orang tua yang tulus
(unconditional parental love) merupakan faktor penting yang dapat membentuk inti (core) dari
harga diri anak. Berbagai studi yang dilakukan menunjukkan bahwa seorang anak menjadi anti
demokratis, prejudice, dan memiliki sikap permusuhan dari adanya sikap perlakuan orang tua
yang keras (Hoffman, 1960; Harris, Gough & Martin, 1950; Lyle & Levitt, 1955). Studi yang
dilakukan Radke (1946) menunjukkan bahwa anak merasa sedih, kurang bahagia, dan merasa
sakit dengan adanya perlakuan orang tua yang disertai hukuman fisik. Sementara itu, studi yang
dilakukan Symonds (1939) menyimpulkan bahwa : accepted children engaged
predominantly in society behaviors, whereas rejected children menifested a number
unacceptable behaviors.

Tujuh Prinsip Praktik Pembelajaran yang Baik


Posted on 30 September 2009 by AKHMAD SUDRAJAT
Dalam sebuah tulisannya, Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson
mengetengahkan tentang 7 (tujuh) prinsip praktik pembelajaran yang baik yang dapat dijadikan
sebagai panduan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, baik bagi guru, siswa,
kepala sekolah, pemerintah, maupun pihak lainnya yang terkait dengan pendidikan.

Di bawah ini disajikan esensi dari ketujuh prinsip tersebut dan untuk memudahkan Anda
mengingatnya, saya buatkan jembatan keledai dengan sebutan CRAFT HiT

1. Encourages Contact Between Students and Faculty

Frekuensi kontak antara guru dengan siswa, baik di dalam maupun di luar kelas merupakan
faktor yang amat penting untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam belajar.
Dengan seringnya kontak antara guru-siswa ini, guru dapat lebih meningkatkan kepedulian
terhadap siswanya. Guru dapat membantu siswa ketika melewati masa-masa sulitnya. Begitu
juga, guru dapat berusaha memelihara semangat belajar, meningkatkan komitmen intelektual
siswa, mendorong mereka untuk berpikir tentang nilai-nilai mereka sendiri serta membantu
menyusun rencana masa depannya.

2. Develops Reciprocity and Cooperation Among Students

Upaya meningkatkan belajar siswa lebih baik dilakukan secara tim dibandingkan melalui
perpacuan individual (solo race). Belajar yang baik tak ubahnya seperti bekerja yang baik, yakni
kolaboratif dan sosial, bukan kompetitif dan terisolasi. Melalui bekerja dengan orang lain, siswa
dapat meningkatkan keterlibatannya dalam belajar. Saling berbagi ide dan mereaksi atas
tanggapan orang lain dapat semakin mempertajam pemikiran dan memperdalam pemahamannya
tentang sesuatu.

3. Encourages Active Learning

Belajar bukanlah seperti sedang menonton olahraga atau pertunjukkan film. Siswa tidak hanya
sekedar duduk di kelas untuk mendengarkan penjelasan guru, menghafal paket materi yang telah
dikemas guru, atau menjawab pertanyaan guru. Tetapi mereka harus berbicara tentang apa yang
mereka pelajari dan dapat menuliskannya, mengaitkan dengan pengalaman masa lalu, serta
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka harus menjadikan apa yang
mereka pelajari sebagai bagian dari dirinya sendiri.
4. Gives Prompt Feedback

Siswa membutuhkan umpan balik yang tepat dan memadai atas kinerjanya sehingga mereka
dapat mengambil manfaat dari apa yang telah dipelajarinya. Ketika hendak memulai belajar,
siswa membutuhkan bantuan untuk menilai pengetahuan dan kompetensi yang ada. Di kelas,
siswa perlu sering diberi kesempatan tampil dan menerima saran agar terjadi perbaikan. Dan
pada bagian akhir, siswa perlu diberikan kesempatan untuk merefleksikan apa yang telah
dipelajari, apa yang masih perlu diketahui, dan bagaimana menilai dirinya sendiri.

5. Emphasizes Time on Task

Waktu + energi = belajar. Memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya merupakan sesuatu yang
sangat penting bagi siswa. Siswa membutuhkan bantuan dalam mengelola waktu efektif
belajarnya. Mengalokasikan jumlah waktu yang realistis artinya sama dengan belajar yang
efektif bagi siswa dan pengajaran yang efektif bagi guru. Sekolah seyogyanya dapat
mendefinisikan ekspektasi waktu bagi para siswa, guru, kepala sekolah, dan staf lainnya untuk
membangun kinerja yang tinggi bagi semuanya

6. Communicates High Expectations

Berharap lebih dan Anda akan mendapatkan lebih. Harapan yang tinggi merupakan hal penting
bagi semua orang. Mengharapkan para siswa berkinerja atau berprestasi baik pada gilirannya
akan mendorong guru maupun sekolah bekerja keras dan berusaha ekstra untuk dapat
memenuhinya

7. Respects Diverse Talents and Ways of Learning

Ada banyak jalan untuk belajar. Para siswa datang dengan membawa bakat dan gaya belajarnya
masing-masing Ada yang kuat dalam matematika, tetapi lemah dalam bahasa, ada yang mahir
dalam praktik tetapi lemah dalam teori, dan sebagainya. Dalam hal ini, siswa perlu diberi
kesempatan untuk menunjukkan bakatnya dan belajar dengan cara kerja mereka masing-masing.
Kemudian mereka didorong untuk belajar dengan cara-cara baru, yang mungkin ini bukanlah hal
mudah bagi guru untuk melakukannya.

Pada bagian lain, Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson mengatakan bahwa guru dan siswa
memegang peran dan tanggung jawab penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran, tetapi
mereka tetap membutuhkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak untuk membentuk sebuah
lingkungan belajar yang kondusif bagi praktik pembelajaran yang baik. Adapun yang dimaksud
dengan lingkungan tersebut meliputi: (a) adanya rasa tujuan bersama yang kuat; (b) dukungan
kongkrit dari kepala sekolah dan para administrator pendidikan untuk mencapai tujuan ; (c) dana
yang memadai sesuai dengan tujuan; (d) kebijakan dan prosedur yang konsisten dengan tujuan;
dan (e) evaluasi yang berkesinambungan tentang sejauhmana ketercapaian tujuan.

Adaptasi dan terjemahan bebas dari: Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson. Seven
Principles for Good Practice in Undergraduate Education

Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran


Posted on 2 Januari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT

A. Judul : Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran


B. Pengarang : Prof. DR. Mohamad Surya
C. Penerbit : Pustaka Bani Quraisy, Bandung
D. Tahun Terbit : 2004
E. Jumlah Halaman : 112

===================

BAB I PSIKOLOGI DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku


individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Perilaku yang dimaksud adalah, perilaku
motorik yaitu perilaku dalam bentuk gerakan. Perilaku kognitif ialah perilaku dalam bentuk
bagaimana individu mengenal alam dis ekitarnya. Perilaku konatif ialah perilaku yang berupa
dorongan dari dalam individu. Perilaku afektif ialah perilaku dalam bentuk perasaan atau emosi.

Pendekatan utama dalam psikologi yaitu:


Pendekatan behaviorisme, lebih mengutamakan hal-hal yang nampak dari individu. Perilaku
adalah segala sesuatu yang bisa di amati oleh alat indera sebagi hasil dari interaksi dengan
lingkungnnya. Pendekatan psikoanalisa, lebih mengutamakan hal-hal yang ada di bawah
kesadaran individu. Pendekatan kognitif, perilaku sebagai proses internal, yang merupakan suatu
proses input-output yaitu penerimaan dan pengolahan hasil dari informasi, untuk kemudian
menghasilkan keluaran. Pendekatan humanistik, bahwa manusia sudah awalnya mempunyai
dorongan untuk mewujudkan dirinya sebagai manusia di lingkungannya. Pendekatan
neurobiologi yang mengaitkan perilaku individu dengan kejadian di dalam otak dan syarafnya.
Psikologi pendidikan yaitu cabang psikologi secara khusus mengkaji berbagai perilaku inddividu
dalam kaitannya dengan pendidikan, tujuannya untuk menemukan fakta, generalisasi, dan teori
psikologis yang berkaitan dengan pendidikan untuk digunakan dalam upaya melaskanakan
proses pendidikan yang efektif.
Peranan psikologi dalam pembelajaran dan pengajaran yaitu : memahami siswa sebagai pelajar,
memahami prinsip dan teori pembelajaran, memilih metode-metode pengajaran, menetapkan
tujuan pembelajaran, menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif, memilih dan menetapkan
isi pengajaran, membantu siswa yang mendapat kesultan dalam pembelajaran, memilih alat
bantu pengajaran, menilai hasil pembelajaran, memaham kepribadian dan profesi guru,
membimgbing kepribadian siswa.

Komentar /refleksi:
Psikologi merupakan suatu ilmu pengetahuan karena psikologi menggunakan metode-metode
ilmiah. Psikologi pendidikan sangat penting untuk dipelajari, dipahami, dan ditelaah oleh
mahasiswa keguruan. Karena pendidikan merupakan kegiatan yang melibatkan individu yang
berperilaku yang ikut terlibat dalam pendidikan. Seyogyanya mereka yang terlibat dapat
menunjukkan perilaku yang seusai agar proses pendidikan dapat berlangsung secara efektif
sesuai dengan landasan dan tujuan yang akan dicapai.

BAB II PENGERTIAN PEMBELAJARAN

Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu
perubahanperilakuu yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Beberapa prinsip yang menjadi landasan
pengertian tersebut ialah :

1. Pembelajaran sebagai suatu usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip


ini bermakna bahwa prosees pembelajaran itu ialah adanya perubahan
perilaku dalam diri individu.

2. Hasil pembelajarn ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan.

3. Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ini mengandung makna


bahwa pembelajaran merupakan suatu aktifitas yang berkesinambungan.

4. Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada
sustu tujuan yang ingin dicapai.

5. Pembelajaran merupakan suatu pengalaman.


Komentar /refleksi:
Pembelajaran merupakan aktivitas paling utama dalam proses pendidikan di sekolah. Untuk itu
pemahaman seorang guru terhadap pengertian pembelajaran akan mempengaruhi cara guru itu
mengajar. Dalam bab ini dibahas tentang pengertian pembelajaran dan keterkaitan dengan
pengertian lain. Untuk itu bisa dijadikan acuan untuk mengetahhui arti pembelajaran agar
keberhasilsan pencapaian tujuan pendidikan bisa tercapai denggan efektif.

BAB III PROSES DAN HASIL PEMBELAJARAN

Proses pembelajaran ialah proses individu mengubah perilaku dalam upaya memenuhi
kebutuhannya. Halini berarti bahwa individu akan melakukan kegiatan belajar apabila ia
menghadapi situasi kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh insting atau kebiasaan.

Proses pembelajaran merupakan suatu aktivitas sebagai berikut :

1. Individu merasakan adanya kebutuhan dan melihat tujuan yang ingin dicapai.

2. Kesiapan (readiness) individu untuk mengetahui kebutuhan dan mencapai


tujuan.

3. Pemahaman situasi lingkungan.

4. Mentafsirkan situasi yaitu bagaimana individu melihat kaitan berbagai aspek


yang terdapat dalam situasi.

5. Tindak balas (respons)

6. Akibat (hasil) pembelajaran.

Hasil dari proses pembelajaran ialah perubahan perilaku individu. Individu akan memperoleh
perilaku yang baru, menetap, fungsional, positif, disadari, dsb. Perubahan perilaku sebagai hasil
pembelajaran ialah perilaku keseluruhan yang mencakup aspek kognitiif, konatif, afektif, dan
motorik.
Jenis-jenis pembelajaran berdasarkan dari aspek pembelajaran yang akan dicapai yaitu :
pembelajaran keterampilan, pembelajaran sikap, dan pembelajaran pengetahuan. Dari sifatnya
dibedakan antara pembelajaran formal, informal, dan non formal.

Komentar /refleksi:
Dalam bab III ini dibahas mengenai proses pembelajaran, yang bisa dipelajari bagaimana proses
pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin
dicapai. Hasildari proses pembelajaran ada dua kemungkinannya yaitu sukses atau gagal.
Apabila hasilnya sukses maka tercapai segala tujuannya dan akan memperoleh kepuasan dan
apabila gagal akan mersa kecewa. Disini guru diharapkan dapat membantu murid-murid yang
gagal agar mereka tidak berputus asa dan mampu belajar deengan baik.

BAB IV TEORI-TEORI PEMBELAJARAN (1)

Teori merupakan suatu perangkat prinssip-prinsip yang terorganisasi mengenai peristiwa-


peristiwa tertentu dalam lingkungan. Karakteristik suatu teori ialah memberikan kerangka kerja
konseptual untuk suatu iinformasi dan dapat prinsip yang dapat diuji. Fungsi teori pembelajaran
dalam pendidikan adalah:

1. Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pengajaran.

2. Menilai hasil-hasil yang telah dicapai untuk digunakan dalam ruang kelas.

3. Mendiagnosis masalah-masalah dalam ruang kelas.

4. Menilai hasil penelitian yang dilaksanakan berdasarrkan teori-teori tertentu.

Teori pembelajaran behaviorisme yang berpendapat bahwa perilaku terbentuk melelui perkaiatan
antara rangsangan (stimulus) dengan tindak balas (respon). Perubahan perilaku lebih banyak
karena pengaruh lingkungan. Teori behaviorisme dibedakan antara teori pelaziman klasik dan
teori pelaziman operan. Teori pelaziman klasik dipelopori oleh Ivan Pavlov, konsep atau prisip
pembelajaran yaitu:

1. Excitation (pergetaran) yaitu suatu rangsangan tak terazim atau alami dapat
membangkitkanreaksi sel-sel tertentu, sehingga dapat menghasilkan tindak
balas.

2. Irradiaton (penularan) yaitu terjadi reaksi dari sel-sel lain yang berbeda di
sekitar kawasann sl-sel yang bekenan debgan rangasangan tak terlazim.

3. Stimulus generalization (generalisasi rangsangan) yaitu keadaan dimana


individu memberika tindak balas yang sama terhadap ranggsangan tertentuu
yang memiliki kesamaan walaupun tidak serupa.

4. Extintion (penghapuan) yaitu suatu tidak balas akan hilang secarra perlahan-
lahan apabila makin berkurangnya keterkaitann dengan rangsangan tak
terlazim.

Teori pelaziman operan yang tokohnya yaitu Throndike, pada dasarnya poses pembelajaran
merupakan pembinaan hubungan antara rangsangan tertentu dengan perilaku tertentu. Semua
pembelajaran dilakukan melalui suatu prroses coba-salah (trial and error). Ada tiga hukum
pembelajaran yaitu hukum hasil (law of effect) menyatakan bahwa hubungan antara rangsangan
dan perilaku akan makin kukuh apabila ada kepuasan, dan akan makin diperlemah apabila terjadi
ketidakpuasaan, hukum latihan (law of exercise) menyatakan suatu rangsangan dan perilaku akan
makin kukuh apabila sering dilakukan latihan, dan hukum kesiapan (law of readiness)
menyatakan bahwa hubungan rangsangan dan perilaku akan semakin kukuh apabila disertai
dengan kesiapan individu.
Teori pembelajaran Gestalt, dalam pandangan ini pembelajaran merupakan suatu fenomena
kognitif yang melibatkan persepsi terhadap suatu benda, orang, atau peristiwa dalam cara-cara
yng berbeda. Beberapa aplikasi tori gestalt dalam proses pembelajaran adalah pengalaman tilikan
(insight), pembelajaran yang bermakna (meaningful learning), perilaku bertujuan (purposive
behavior), prinsip ruangg hidup (life space), dan transfer dalam pembelajaran.

Komentar /refleksi:
Pada dasarnya teoori-teori pembelajaran menurut para ahli serprti teori behaviorisme dengan
rangssangan dan stimulusnya dan Gestalt,k eduannya memiliki fingsi yang sama dalam proses
pendididkan

BAB V TEORI-TEORI PEMBELAJARAN (2)

Teori perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan mental yang bertujuan :
(1) memissahkan kenyataannya dengan fantasi, (2) menjelajah kenyataan dan menemukan
hukum-hukumnya, (3) memilih kenyataan-kenyataan yang berguna bagi kehidupan, (4)
menentukan kenyataan yang sesungguhnya di balik sesuatu yang nampak. Pekembangan kognitif
merupakan suatu proses di mana tujuan individu melalui suatu ranggkaian yang secara
kualittatiif beerbeda dengan berfikir. Perkembangan kgnitif merupakan pertumbuhan berfikir
logis dari masa bayi hingga dewasa, yang berrlangsung melali empat peringkat yaitu:

1. Peringkat sensori motor (0-1,5 tahun), aktivitas kognitip berpusat pada lat
indera (sensori) dan gerak (motor). Aktivitas ini terbentuk melalui proses
penyesuaian fisik sebagai hasil dari inteeraksi dengan liingkungan.

2. Peringkat pre-operational (1,5-6 tahun), aktivitas berfikirnya belum


mempunyai sistem yang terorganisir. Cara berfikir ini bersifat tidak
sistematis, tidak konsisten dan tidak logis.

3. Peringkat concrete operational (6-12 tahun), perkembangan kognitif pada


peringkat operasi kongkrit, memberikan kecakapan anak berkenaan dengan
konsep-konsep klasifikasi, hubungan dan kuantitas.

4. Peringkat formal operational (12 tahun ke atas), perkembangan kognitif


ditandai dengan kemmpuan individu untuk berfikir secara hipotetis dan
berbeda dengan fakta, memahami konsep abstrak.

Impilkasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pengajaran antara lain :


1. Bahasa dan cara fikir anak berbeda dengan orang dewasa oleh karena itu
dalam mengajar guru hendaknya menggnakan bahasa yan sesuai dengan ara
berfikir anak.

2. Anak-anak akan beajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dnan
baik. Guru harus membantu agar dapat berinteraksi dengan lingkungan
denggan bak.

3. Bahan yang akan dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak
asing.

4. Beri peluang agar anak mau belajar sesuai dengan peringkat


perkembangannya.

5. Di dalam kelas hendaknya anak-anak diberi peluang untuk saling berbicara


dan beriskusi dengan teman-temannya.

Teori pemrosesan informasi (Robert Gagne), hasil pembelajaran manusia pada dasarnya bersifat
kumulatif, yang berarti bahwa hasil dari pembelajaran yang dicapai individu adalah merupakan
kumpulan keseluruhan hasil-hail pembelajaran sebelunya yang saling terkait. Pembelajaran
terjadi proses penerimaan informasi untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran
dalam bentuk hasil pembelajaran. Peringkat dalam proses pembelajaran menurut teori Gagne
melalui fase : (1) motivasi, (2) pemahaman, (3) pemerolehan, (4) penahanan, (5) ingatan
kembali, (6) generalisasi, (7) perlakuan, (8) umpan balik. Dalam setiap fase terjadi pemrosesan
tertentu.

Dalam kaitan dengan pengajaran ada sembilan langkah pengajaran yaitu:

1. Melakukan tindakan untuk menarik perhatian siswa.

2. Memberikan infomasi kepada siswa mengenai tujuan pengajaran.

3. Merangsang siswa untuk melakukan aktivitas pembelajaran.

4. Menyampaikan isi yang akan di bahas sesuai dengan topik.

5. Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa.

6. Memberikan peneguhan kepada perilaku pembelajaran siswa.

7. Memberikan umppan balik terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa.

8. Melaksanakan penilaian proses dan hasil pembelajaran.

9. Memberkan kesempatan kepada siswa untuk mengingat dan menggunakan


hasil pembelajaran.
Teori pembelajaran sosial kognitif, disebut teori ini karena proses kognitif yang terjadi dalam
individu memegang peranan dalam pembelajaran, edangkan pembelajaran terjadi karena adanya
pengaruh lingkunggan sosial. Individu akan mengamati perilaku I lingkungannya sebagai model,
kemudian ditirunya sehingga menjadi perilaku miliknya. Dengan demikian teori ini disebut teori
pembelajaran melalui peniruan. Perilaku individu terbentuk melalui peniruan terhadap perilaku
di lingkuna,p embelajaran merupakan suatu proess bagaimana membuat peniruan sebaik
baiknya sehingga bersesuaian dengan keadaan dirinya dan tujuannya.

Komentar /refleksi:
Teori-teori pembelajaran yang haruus diketahui adalah beragam dan kesemuannya berperan
penting terhadap proses pembelajaran dan pengajaran. Seperti menurut teoriperkembangan
kognitif proses pembelajaran akan berhasil apabila disesuaikan dengan peringkat perkembangan
kognitif siswa. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan objek
fisik yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya, dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari
guru dan guru hendaknya banyak memberikan rrangsanan kepada siswa agar mu berinteraksii
dengan lingkunganya dan secara aktif mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungannya.
Menurut teori pembelajaran sosial kognitif yang menekankan pada peniruan bahwa dalam
pengajaran di dalam kelas guru hendaknya merupakan tokoh perilaku bagi siswa-siswanya.
Proses kognitif siswa hendaknya mendapat perhatian dari guru, kemudian hendaknya lingkungan
memberikan dukungan bagi proses pembelajaran, dan guru membantu siswa dalam
mengembangkan perilaku pembelajaran.

BAB VI ASPEK-ASPEK PSIKOLOGIS DALAM PROSES PEMBELAJARAN DAN


PENGAJARAN

Perilaku belajar siswa, dalam psikologi pendidikan, belajar diartikan sebagai suatu proses usaha
yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara
keseeluruhan sebagi hasil penglaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dalam hubungan dengan proses belajar ini, yang harus dikenal betuloleh para pengajar adalah
apa yang disebut dengan metakognisi dan persepsi sosial-psikologis pelajar. Yang dimaksd
dengan metakognisi adalah pengetahuan seorang individu proses dan hasil belajar yang terjadi
dalam dirinya serta hal-hal yang terkait. Hal ini mengandung arti bahwa, agar proses belajar
dapat berlangsung secara efektif, maka pelajar seharusnya mampu mengenal proses dan hasil
yang terjadi dalam dirinya. Untuk itu para pengajar hendaknya mamppu mengenal dan
membantu siswa. Yang dimaksud dengan persepsi sosio-psikologis adalah sampai seberapa jauh
pelajar mempersepsi proses belajar yang berlangsung beserta situasi-situasi yang berpengaruh.
Perilaku hasil belajar mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Para pengajar sangat
diharapkan mampu mengantisipasi aspek-aspek perubahan perilaku ini yang dimulai dengan
perencanaan kegiatan belajar-mengajar, dan mengembangkannya setelah kegiatan belajar
berakhir. Dengan perilaku belajar yang efektif disertai proses mengajar yang tepat, maka proses
belajar-mengajar diharapkan mampu menghasilkan manusia-manusia yang mempunyai
karakteristik sebagai: (1) pribadi yang mandiri, (2) pelajar yang efektif, (3) pekerja yang
produktif, (4) anggota masyarakat yang baik. Untuk mewujudkan kualitas manusia seperti itu,
maka ada empat kulitas belajar yang harus dikembangkan dalam diri pada siswa, yiatu: (1)
belajar untuk menjadi (learning to do), (2) belajar untuk belajar (learning to learn), (3) belajar
untuk berbuat (learning to do), (4) belajar untuk hidup bersama (learning to live together)
Perilaku mengajar guru, guru dituntut arus mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat
agar menjadi perilku belajar yang efektif dalam diri siwa. Guru juga di tuntut untuk menciptakan
situasi balajar-menajar yang kondusif. Guru tidak terbatas sebagai pengajar dalam arti
penyampai pengetahuan, akan tetapi lebih meningkat sebagai perancang pengajaran, manajer
pengajaran, pengevaluasi hasil belajar dan sebagai direktur belajar.
Dalam mewujudkan perilaku mengajar secara tept, karakteristik pengajar yang diharapkan
adalah:

1. Memiliki minat yang besar terhadap pelajaran dan mata pelaajaran yang
diajarkannya.

2. Memiliki kecakapan untuk memperkirakan kepribadian ddan suasana hati


secara tepat serta membuat kontak dengan kelompok secara tepat.

3. Memiliki kesabaran, keakraban, dan sensivitas yang diperlukan untuk


menumbuhkan semangat belajar.

4. Memiliki pemikiran yang imajinatif (konseptual) dan praktis dalam usaha


memberikan penjelasan kepada pesrta didik.

5. Memiliki kualifikasi yang memadai dalam bidangnya, baik isi maupun


metode.

6. Memiliki sikap terbuka, luwes, dan eksperimental dam metode dan teknik.

Pengajar akan mengajar dengan baik apabila memiliki sikap dasar yang benar, sasaran yang
benar, informasi faktual yang diperlukan, memahami macam-macam metoda dan teknik dan
mengetahui bagaimana memilihnya, membantu pelajar dalam merencanakan tindak lanjut
Perwujudan perilaku guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar akan nampk pada interaksi
antar keduanya. Dalam interaksi ini terjadi proses saling mempengaruhi sehingga terjadi
perubahan perilaku pada diri pelajar dalam bentuk tercapainya hasil belajar. Sekurang-kurangnya
ada tiga hal dalam interaksi pelajar-pengajar yaitu proses belaja, metode mengajar, dan pola-pola
interaksi.
Model pembelajaran yang dipandang cukup komprehensif yang dikembangkan oleh Ernest
Chang dan Don Simpson, The circle of learning: individual and Group Process menurut
model ini, pembeljaran dapat berlangsung tidak hanya tanggung jawab individual, akan tetapi
dapat dalam bentuk kolaboratif melalui proses kehidupan kelompok. Model ini mendasarkan atas
paradigma hubungan antara aktivitas dan orientasi. Dalam proses berlangsungnya pembelajaran
ada dua dimensi yaitu dimensi aktivitas pembelajaran dan dimensi orientasi proses. Hubungan
dua dimensi itu menghasilkan empat pola pembelajaran yaitu: (1) traditional lectures atau
ceramah tradisional, (2) self study atau belajar mandiri, (3) concurrent learning atau
pembelajaran bersama, (4) colaborative learning atau pembelajaran kolaboratif.

Komentar /refleksi:
Dalam bab ini kita dapat mengenal dan menerapkan bebgai aspek psikologis dalam keseluruhan
kegiatan pendidikan khususnya pada saat proses belajar-mengajar. Yang ibicarakn aspek
psikologis disini yaitu aspek perilaku individu yang terkit dengan proses belajar-mengajar.
Seperti kita ketahui dalam proses kegiatan ini melibatkan intraksi individu antara pelajar dan
pengajar aspek prilkunya berarti perilaku belajar siswa dan perilaku mengajar guru.
Dalam mewujudkan proses mengajar yang efektif dan efisien maka perilaku belajar siswa dan
perilaku mengajar guru dapat di dinamiskan secara baik. Pengajar (guru) hendaknya mampu
mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar mampu mewujudkan perilaku belajar siswa
melalui interaksi belajar-mengajar yang efektif dalam situasi belajar-mengajar yang kondusif.

BAB VII ASPEK-ASPEK PERILAKU PEMBELAJARAN

Motivasi dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan
untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu.
Perilaku belajar terjadi dalam situasi interaksi belajar-mengajar dalam mencapai tujuan dan hasil
belajar. Dalam berbagai teori penelitian, ternyata terdapat kaitan yng erat antara kepuasan yang
dicapai dalam elajar denga unjuk kerja dan motivasi. Kepuasan yang diperoleh siswa dari prosse
belajar dapat menunjukkan unjuk kerja yang dan dapat meningkatkan motivasi belajar. Unjuk
kerja yang dicapai seseorang dapat mendapatkan kepuasan dan kemudian dapat meningkatkan
motivasi, dalam kaitan ini hendaknya dapat ditimbulkan suasana belajar yang sedemikian rupa
sehingga dapat memberikan kepuasan agar dapat menghasilkan unjuk kerja yang baik. Faktor
yang mempengaruhi kepuasan siswa dalam belajar yaitu imbalan hasil belajar, rasa aman dalam
belajar, kondisi belajar yang memadai, kesempatan untuk memperluas diri, hubungan pribadi.
Ada beberapa prinsip motivasi yang dapat dijadikan acuan yaitu prinsip kompetisi, prinsip
pemacu, prinsipganjaran dan hukuman, kejelasan dan kedekatan tujuan, pemahaman hasil,
peengembangan minat, lingkungan yang kondusif, keteladanan.
Pengamatan dan perhatian merupakan aspek tingkah laku yang mempunyai peranan penting
dalam proese pembelajaran. Keefektipan suatu pross peembelajaran akan banyak dipengaruhi
oleh kulitas pengamatan dan perhatian yang diberikan. Pengamatan atau perception, merupakan
salah satu bentuk perilaku kognitif, yaitu suatu proses mengenal lingkungan dengan
menggunakan alat indera. Prosses pengmatn tejadi karena adanya rangsangan dari lingkungan
yang diterima oleh individu denan enggunaan alat indera. Rangsangan itu kemudian diteruskan
ke pusat kesadaran yaitu otak untuk kemudian diberika makna dan tafsiran. Dilihat dari proporsi
penggunaan alat indera ada beberapa gaya pengamatan yaitu: gaya pengamatan visual, gaya
auditif, gaya taktil, gaya kinestetik.
Perhatian dapat diartikan sebagai peningkatan aktivitas mental terhadap suatu rangsangan
tertentu. Perhatian dapat lebih memusatkan pengamatan individu kepada suatu rangsangan,
sehinnga pengamatan menjadi lebih efektif. Guru dapat membantu siswa dalam memusatkan
memelihara perhatan dalam proses pembelajaran dengan hal-hal sebagai berikut:

Isyarat, memberikan isyarat-isyarat tertentu kepada siswa pada saat


memulai pelajaran atau pada saat pergantian aktivitas.

Gerakan, senantiasa bergerak dan berkeliling ke seluruh kelas selama


menyajikan pelajaran.

Variasi,menggunakan gaya variasi dalam gaya mengajar.

Minat, memberikan minat siswa sebelum dan selama proes pengajaran.

Pertanyaan, mengajukan pertanyaan selama proses pengajaran berlangsung,


mendorong siswa untuk memberikan jawaban denga kata-kata sendiri.

Suatu proses pembelajaran akan berlangsung dengan efektif apabila informasi yang dipelajari
dapat diingat dengan baik dan terhindar dari lupa. Mengingat adalah merupakan proses
menerima, menyimpan, dan mengeluarkan kembali inforrmasi-informasi yang telah diterima
melalui pengamatan, kemudian disimpan dalam pusat kesadaran (otak) setelah diberikan tafsiran.
Yang dimaksud dengan transfer dalam pembelajaran ialah pemindahan hasil pembelajaran dari
suatu situasi kee situai lain. Tanfer akan terjadi apabla terdapat kesamaan antara pembelajaran
yang satu dengan situasi lainnya.
Dalam proses pembelajaran kebutuhan merupakan sumber timbulnya motivasi. Kebutuhan
(need) dapat diartikan sebagai suatu sitiasi kekurangan dalam diri inividu dan menunutut
pemuasan agar dapat berfungsi secara efektif. Kebutuhan merupakan sumber timbulnya motivasi
yang mendorong individu untuk berperilaku.

Komentar /refleksi:
Dalam bab ini dibahas mengenai beberapa aspek psikologi yang tekait dengan proses
pembelajaran dan pengajaran.dengan memperhatikan konsep psikologis diharapkan guru mampu
mengembangkan strategi pembelajaran yang seefektif mungkin . Aspek yang dibahas yaitu:

1. Motivasi,dalam hubungannya para guru mempunyai tanggungjawab dan


kewajiban untuk memotivasi dalam belajar dan membantu agar mereka
terhindar dari kemungkinan frustasi.

2. Pengamatan dan perhatian, dalam aktivitas di sekolah guru harus


mengusahakan agar siswa dapat melakukan pengamatan yang efektif agar
memperoleh hasil pembelajaran yang sebaik-baiknya. Dalam mengajar
hendaknya memberikan kesempatann epada siswa untmlakukan pengamtan
yang baik.
3. Mengingat dan lupa, tugas guru adalah membantu siswwa dalam proses
pembelajaran agar bahan-bahan yang dipelajari siswa dapat diingat dnga
baikdan terhindar dari lupa.

4. Transer dalam belajar.

5. Kebutuhan individu.

BAB VIII PSIKOLOGI MENGAJAR

Pendidikan diwujudkan melalui proses pengajaran. Proses pengajaran yang efektif terbentuk
melalui pengajaran yang meliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Berpusat pada siswa

2. Interaksi edukatif antara guru dengan siswa

3. Suasana demokratis

4. Variasi metode mengajar

5. Guru profesional

6. Bahan yang sesuai dan bermanfaat

7. Lingkungan yang kondusif

8. Sarana belajar yang menunjang

Model mengajar dikelompokkan dalam empat rumpun yaitu

1. Rumpun model pemrosesan informasi, model ini berorientasi pada kecakapan


siswa dam memproses informasi. terdiri atas: model berpikir induktif, model
latihan inkuri, inkuri ilmiah, penemuan konsep, pertumbuhan kognitif, model
penata lanjutan dan memori.

2. Rumpun model-model personal, model ini berorientasi kepada individu dan


perkembangan keakuan (selfhood), terdiri atas; pengajaran non-direktif,
latihan kesadaran, sinektik, sistem-sistem konseptual dan pertemuan kelas.

3. Rumpun model interaksi sosial, model ini menekankan hubungan individu


dengan orang lain atau masyarakat, terdiri dari; penentuan kelompok, inkuiri
(penemuan sosial), metode laboratori, jurisprudensial, bermain peran, model
penata lanjutan, dan simulasi sosial.

4. Rumpun model behavior (perilaku), model ini menekankan pada aspek


perubahan perilaku psikologis dan perilaku yang tidak dapat diamati, terdiri
dari: manajemen kontingensi, kontrol diri, relaksasi, pengurangan
ketegangan, latihan asertif desensitasi, latihan langsung.

Komentar /refleksi:
Dalam bab ini meliputi psikologi belajar yang di dalamnya terdapat proses pengajaran yang
efektif. Agar dapat terjadi proses pengajaran seperti itu maka guru harus mampu menciptakan
proses pengajaran dalam suasana pembelajaran yang baik. Selanjutnya yaitu mengenal model-
model mengajar, seperti kita ketahui bahwa mengajar merupakan tugas utama seorang guru,
dengan bahasan yang ada pada bab ini, dapat diharapkan ketika menjadi seorang guru dapat
mengenal model-model mengajar dan memilihnya secara tepat sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki serta keadaan lingkungannya.

BAB IX PSIKOLOGI GURU

Peranan (role) guru artinya keseluruhan perilaku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan
tugasnya sebagai guru. Di dalam keluarga guru perperan sebagai pendidik dalam keluarga atau
family educator, sedangkan di masyarakat, guru berperan sebagai pembina masyarakat (sosial
developer), pendorong (social motivator), penemu (sosial inovator) dan sebagai agen masyarakat
(social agent).

Beberapa faktor yang ikut mempengaruhi kinerja guru:

1. imbalan kerja

2. rasa aman dalam pekerjaan

3. kondisi kerja yang baik

4. kesempatan pengembangan diri

5. hubungan pribadi

Kompetensi guru adalah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus ada pada seseorang
agar dapat menunjukan perilakunya sebagai guru. Kompetensi guru meliputi kompetensi
personal, kompetensi profesional, kompetensi sosial, kompetensi intelektual dan kompetensi
spiritual. Guru profesional adalah guru yang memiliki keahlian, tanggung jawab dan rasa
kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yang kuat.
Kepribadian merupakan keseluruhan perilaku dalam berbagai aspek yang secara kualitatif akan
membentuk keunikan atau kekhasan seseorang dalam interkasi dengan lingkungan diberbagai
situasi dan kondisi. Dalam lingkup pendidikan, penampilan guru merupakan hal yang amat
penting untuk mewujudkan kineja secara tapat dan efektif. Dengan demikian sifat utama seorang
guru adalah kemampuannya dalam mewujudkan penampilan kualitas kepribadian dalam
interaksi pendidikan yang sebaik-baiknya agar kebutuhan dan tujuan tercapai secara efektif.
Komentar /refleksi:
Dalam keseluruhan proses pendidikan, khususnya di sekolah guru memegang peranan yang
paling utama, perilaku guru dalam proses pendidikan akan memberikan pengaruh bagi
pembinaan siswa. Dalam psikologi guru pada bab ini merupakan kajian psikologis terhadap
berbagai aspek perilaku guru khasnya dalam proses pendidikan di sekolah.

===================

Psikologi Pendidikan
Senin, 26 April 2010 19:47 WIB

Ilustrasi

Psikologi pendidikan adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi

yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Psikologi

pendidikan adalah bidang yang sangat luas sehingga dibutuhkan satu buah bahasan tersendiri untuk menjelaskannya.

Dalam buku Educational Psychology oleh W John Santrock pada tahun 2004, awal mula munculnya psikologi pendidikan

berawal dari tokoh pertama, William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah bertajuk Talks to Teachers. Dalam

kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. Ia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan

mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang

sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran

anak.
Tokoh kedua, John Dewey (1859-1952) merupakan motor penggerak pengaplikasian psikologi dalam tingkat praktis, sehingga

kemudian ia membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di Universitas Columbia Amerika Serikat (1894). Beberapa

kajian yang penting darinya adalah pertama, kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active

learning), dimana anak bukan pasif duduk diam menerima pelajaran tetapi juga aktif agar proses belajar anak akan lebih baik.

Kedua, pendidikan harus difokuskan pada anak secara keseluruhan dan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan

lingkungannya. Dewey percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak mendapatkan pelajaran akademik saja, tetapi juga harus

mempelajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan lingkungan luar sekolah, seperti mampu untuk memecahkan masalah

dengan baik. Ketiga, ia berpendapat bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya, mulai dari kaya dan

miskin, laki-laki dan perempuan, semua golongan etnis, sampai pada semua lapisan ekonomi-sosial.

Tokoh ketiga, E.L Thorndike (1874-1949) berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah

menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah.

Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran.

Mengajar : Antara Seni dan Ilmu Pengetahuan

Seberapa ilmiahkah pendekatan mengajar yang dipakai seorang guru? Baik sains maupun seni dan pengalaman keahlian

mengajar berperan penting bagi keberhasilan seorang guru. Bidang psikologi pendidikan banyak mengambil sumber teori dan

riset psikologi yang lebih luas. Misalnya, teori perkembangan kognitif dan bicara dalam rangka memberikan informasi bagi guru

tentang bagaimana mendidik anak.

Psikologi pendidikan juga banyak memanfaatkan teori dan riset yang disusun dan dilakukan langsung oleh para ahli psikologi

pendidikan dan dari pengalaman praktis para guru. Misalnya, motivasi, mengajar dan pembelajaran yang seharusnya diterapkan

dalam proses pendidikan. Ahli psikologi pendidikan juga mengakui bahwa mengajar terkadang harus mengabaikan saran-saran

ilmiah, tetapi menggunakan improvisasi dan spontanitas.

Sebagai sebuah ilmu, tujuan psikologi pendidikan adalah memberi kita pengetahuan riset yang dapat secara efektif di aplikasikan

untuk situasi mengajar. Tetapi, pengajaran kita tetap merupakan sebuah seni mengajar. Selain hal-hal yang bisa kita pelajari dari

riset, kita juga akan terus-menerus membuat penilaian penting di kelas berdasarkan keahlian dan pengalaman pribadi kita, dan

juga berdasarkan saran yang bijak dari guru-guru lain yang lebih berpengalaman.
Arwin Zoelfatas
A.Tujuan :
Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat :1.Mendefinisikan
psikologi dan psikologi pendidikan2.Mengidentifikasi kebutuhan-
kebutuhan individu, indikator-indikator motivasi, bentuk- bentuk konflik,
bentuk-bentuk perilaku salah-suai dan taksonomi perilaku
individu.3.Menjelaskan psikologi pendidikan sebagai ilmu, arti penting
psikologi pendidikan bagiguru, peranan dan pengaruh pendidikan terhadap
perubahan dan perkembangan perilakuindividu.4.Menguraikan mekanisme
pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik.
B.Pokok Bahasan
1.P engerti an Psikol ogi Pendidi kan. 2 . P e r i l a k u
I n d i v i d u . 3.Taksonomi P eril aku Indi vi du. 4.Pengaruh Pendidikan
terhadap Perubahan Perilaku dan Pribadi Individu.
C . I n t i s a r i B a c a a n Pengertian Psikologi Pendidikan
Secara etimologis, psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa
atau nafashidup, dan l ogos at au i l mu. Dili hat dari ar ti kat a
t ersebut seolah- ol ah psi kologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang
mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu padasalah satu syarat ilmu yakni
adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kitamengartikan psikologi
sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa
merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara
langsung.Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling
mungkin untuk diamati dandikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri
yakni dalam bentuk perilaku individudalam berinteraksi dengan
lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapatdiartikan
sebagai
suat u i l mu yang me mpel ajari t entang per ilaku individu
dal amberinteraksi dengan lingkungannya
.Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (
general phsychology
)yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang
mengkaji perilakuindividu dalam situasi khusus, diantaranya :
BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU