You are on page 1of 4

Artikel Edisi VIII

Maret 2017

ERGONOMI

Semakin meningkatnya kebutuhan manusia, maka tingkat produksi akan barang


dan jasa semakin meningkat. Produktivitas dibutuhkan agar pelaku industri dapat
memenuhi permintaan pasar, hal ini juga membuat para pengusaha secara hati-
hati merencanakan strategi bisnis mereka. Meskipun demikian, banyak yang masih
mengabaikan masalah penting seperti keselamatan, kesehatan dan kondisi kerja.
Ada beberapa pengusaha yang memang telah sadar akan pentingnya pencegahan
terjadinya bahaya resiko kecelakaan kerja. Menurut ILO, setiap tahun ada lebih
dari 250 juta kecelakaan di tempat kerja dan lebih dari 160 juta pekerja menjadi
sakit karena bahaya di tempat kerja. Terlebih lagi 1,2 juta pekerja meninggal akibat
kecelakaan dan sakit di tempat kerja. Angka menunjukkan, biaya manusia dan
sosial dari produksi terlalu tinggi (ILO, 2013).

Di Indonesia penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja mengacu pada


Peraturan Pemerintah (PP) nomor 50 tahun 2012 serta untuk peraturan
terbarunya adalah Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) Republik Indonesia
nomor 48 tahun 2016 tentang Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Perkantoran. Berdasarkan PP nomor 50 tahun 2012, pemantauan/pengukuran
lingkungan kerja meliputi faktor fisik, kimia, biologi, ergonomi, dan psikologi.
Sementara dalam PERMENKES nomor 48 tahun 2016, standar K3 perkantoran
meliputi: keselamatan kerja, kesehatan kerja, kesehatan lingkungan kerja
perkantoran, dan ergonomi perkantoran.

Seringkali ergonomi menjadi hal yang kurang diperhatikan dalam implementasi


Keselamatan dan Kesehatan Kerja, karena pekerja menganggap gangguan
kesehatan akibat ergonomi adalah hal yang sepele dan tidak berpengaruh besar
pada aktivitasnya. Menurut data dari Biro Statistik Departemen Tenaga Kerja
Amerika tahun 2001, pada periode tahun 1996-1998 terdapat 4.390.000 kasus
penyakit akibat kerja yang dilaporkan, sebanyak 64% diantaranya adalah gangguan
yang berhubungan dengan faktor fisik ergonomi. UK Health and Safety Executive
(HSE) memperkirakan sebanyak 5,7 juta hari kerja telah hilang di tahun 2001/2002
karena masalah nyeri punggung (back pain) dengan rata-rata setiap orang
menghabiskan 18,9 hari off dalam masa 12 bulan kerja. Mereka juga
memperkirakan sebanyak 4,1 juta hari kerja hilang di tahun 2001/2002 karena
gangguan pada otot dan rangka yang menyerang anggota gerak atas dan leher
dengan rata-rata setiap orang menghabiskan 17,8 hari off dalam masa 12 bulan
kerja (Astuti, 2013).

1
Artikel Edisi VIII Maret 2017

ERGONOMI

Menurut Osni (2012), ergonomi dapat diartikan sebagai suatu ilmu dan seni yang
mempelajari lingkungan kerja, peralatan, manusia serta hubungan kesesuaian
antara manusia, mesin, dan lingkungan kerja. Agar tercapainya keefesiensian dan
keselamatan dalam menjalankan aktivitas pekerjaannya maka ergonomi
merupakan aplikasi ilmu yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang
nyaman dan sesuai dengan pekerja sehingga dicapai produktivitas kerja yang
tinggi.

Pada umumnya penyakit akibat kerja yang berkaitan dengan ergonomi berada
pada aktivitas perkantoran. Aktivitas perkantoran pada umumnya memanfaatkan
komputer sebagai alat kerja dengan posisi kerja yang monoton/statis (duduk).
Posisi kerja yang monoton (duduk terlalu lama) diketahui beresiko besar
menyebabkan nyeri punggung. Duduk lama dalam posisi statis menyebabkan
kontraksi otot yang terus menerus serta pembuluh darah terjepit. Penyempitan
pembuluh darah menyebabkan aliran darah terhambat dan iskemia, jaringan
kekurangan oksigen dan nutrisi, sedangkan kontraksi otot yang lama akan
menyebabkan penumpukan asam laktat. Kedua hal tersebut menyebabkan nyeri
(Sumekar & Natalia, 2010).

Merangkum penelitian yang dilakukan oleh Sumekar & Natalia (2010) dan
Koesyanto (2013), berikut paparan yang dapat dijadikan referensi untuk bekerja
dengan komputer dan mencegah resiko nyeri punggung (ergonomi):
1) Pengaturan kontrol dan display. Fungsi yang sering digunakan diletakkan pada
lokasi yang mudah diakses posisi duduk, kemudahan untuk peralatan
komputer seperti mouse dan keyboard. Kursi yang digunakan didesain
mengikuti bentuk tubuh atau menyangga punggung dengan baik, serta dapat
diatur tinggi rendahnya.
2) Lingkungan fisik dari interaksi. Salah satu pertimbangan yang terkait dengan
lingkungan fisik adalah ukuran fisik pengguna. Sistem/komputer sebaiknya
mudah dijangkau oleh pengguna.
3) Isu Kesehatan seperti temperatur yang sesuai, pencahayaan,
suara/kebisingan, waktu mengakses/menggunakan
4) Penggunaan warna. Warna yang digunakan pada display harus dapat
dibedakan dan tidak mempengaruhi kontras

2
Sumber:

Modjo, I.A. R. 2013. Analisis Risiko Ergonomi dan faktor yang Berhubungan dengan Keluhan
Subyektif Muscoloskeletal Disorders pada pekerja Forklift di PT X Tahun 2013. Universitas
Indonesia, Depok.

International Labour Organization. 2013. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Tempat kerja-
Sarana untuk Produktivitas. ILO, Jakarta.

Koesyanto, H. (2013). Masa Kerja dan Sikap Kerja Duduk terhadap Nyeri Punggung. Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 9(1), 9-14.

Osni, M. (2012). Gambaran Faktor Resiko Ergonomi dan Keluhan Subjektif Terhadap Gangguan
Musculokeletal Disorders (MSDs) pada Penjahit Sektor Informal di Kawasan Home Industry RW
6, Kelurahan Cipadu, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang pada Tahun 2012.

Sumekar, D. W., & Natalia, D. (2010). Nyeri Punggung pada Operator Komputer Akibat Posisi
dan Lama Duduk. Majalah Kedokteran Bandung, 42(3), 123-127.

Peraturan Pemerintah nomor 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan
dan Keselamatan Kerja

Peraturan Menteri Kesehatan nomor 48 tahun 2016 tentang Standar Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Perkantoran

Contact Us
Neville Clarke Indonesia has a wide range of products such as training and consultancy
within Quality, Safety, Environment, Management and Leadership which already proven
among the clients from Manufacturing, Oil & Gas, Mining and Services industries.

PT Neville-Clarke Indonesia
Tlp : 62 21 29069400 | 62 21 29069401 | 62 21 29069402 | 62 21 29820058 |
62 21 29820060
| 62 21 29820059
| fax : 62 21 29069377 | National Hotline : 0804 1 900 000
a: Menara Bidakara 2 | Lantai 3 | Jl. Jendral Gatot Subroto Kav. 71-73
Komplek Bidakara, Pancoran. Jakarta Selatan 12820
www.nevilleclarke.com