You are on page 1of 22

UJIAN TENGAH SEMESTER AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Dosen: Prof.Dr. Abdul Halim, M.B.A, Akt

UJIAN TENGAH SEMESTER AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK Dosen: Prof.Dr. Abdul Halim, M.B.A, Akt ANISSA HAKIM PURWANTINI 371661

ANISSA HAKIM PURWANTINI

371661

AKUNTANSI MAGISTER SAINS DAN DOKTOR FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA

Soal 1

Jelaskan dengan baik dari sumber atau referensi yang memadai tentang pengertian

Akuntansi Sektor Publik (ASP) sehingga jelas bedanya dengan Akuntansi

Pemerintahan dan lebih jelas lagi bedanya dengan Akuntansi (sektor) Bisnis. Berikan

pendapat Anda jika digunakan istilah Akuntansi Publik!

Jawab:

Definisi akuntansi selalu terkait dengan entitas atau organisasi. Akuntansi selalu

berkaitan dan dipengaruhi oleh ruang lingkup dan karakteristik organisasi (entitas) yang

menerapkannya. Sebelum membahas pengertian Akuntansi Sektor Publik, perlu untuk

melihat kembali mengenai pengertian akuntansi itu sendiri. Definisi akuntansi oleh AAA

sebagaimana diungkapkan oleh Halim (2012:2):

Akuntansi adalah suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari suatu organisasi atau entitas yang dijadikan sebagai informasi dalam rangka mengambil keputusan ekonomi oleh pihak-pihak yang memerlukan (American Accounting Association, 1966).

Berdasarkan pengertian di atas, asumsi entitas akuntansi menetapkan bahwa semua

transaksi keuangan yang diakuntansikan adalah yang berkaitan dengan entitas (kesatuan

atau organisasi) yang dilaporkan (Halim, 2008). Dilihat dari tujuannya, organisasi dapat

digolongkan menjadi dua yaitu organisasi yang bertujuan mencari laba yang dikenal

dengan Akuntansi (sektor) Bisnis dan organisasi yang bertujuan selain mencari laba yang

dikenal sebagai Akuntansi Sektor Publik. Dengan demikian, pengertian Akuntansi Sektor

Publik (ASP) seperti yang dikemukakan oleh Halim (2012:3) adalah sebagai:

suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari suatu organisasi atau entitas publik seperti pemerintah,

LSM, dan lain-lain yang dijadikan sebagai informasi dalam rangka mengambil keputusan ekonomi oleh pihak-pihak yang memerlukan.

Sedangkan menurut Bastian (2006:3) mengemukakan bahwa definisi Akuntansi

Sektor Publik sebagai akuntansi dana masyarakat, yaitu mekanisme teknik dan analisis

akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat. Dari definisi tersebut, dana

masyarakat diartikan sebagai dana yang dimiliki oleh masyarakat, bukan individual, yang

biasanya dikelola oleh organisasi -organisasi sektor publik, dan juga pada proyek-proyek

kerjasama sektor publik dan swasta. Sehingga definisi Akuntansi Sektor Publik menurut

Bastian (2006:4) adalah sebagai:

………mekanisme teknik dan analisis akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat di lembaga-lembaga tinggi negara dan departemen-departemen di bawahnya, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, LSM dan yayasan sosial, maupun pada proyek-proyek kerjasama sektor publik dan swasta.

Beberapa pengertian tersebut di atas, dapat dipahami bahwa dalam konteks sektor

publik yang menjadi entitas akuntansinya adalah organisasi sektor publik. Akuntansi

sektor publik mempunyai perbedaan yang luas dibandingkan dengan akuntansi sektor

bisnis atau perusahaan. Hal ini berkaitan dengan perbedaan karakteristik lingkungan dan

organisasional dari keduanya. Organisasi sektor publik memiliki tujuan, karakteristik,

struktur dan proses, serta lingkungan yang khas yang membedakannya dengan sektor

bisnis (privat). Seperti yang disampaikan Mardiasmo (2002:8) yang mengemukakan

perbedaan sifat dan karakteristik organisasi sektor publik dengan sektor swasta sebagai

berikut:

Perbedaan Sektor Publik dan Sektor Swasta (Bisnis)

Perbedaan

Sektor Publik

 

Sektor Swasta

Tujuan Organisasi

Nonprofit motive

Profit motive

Sumber Pendanaan

Pajak, retribusi, utang, obligasi pemerintah, laba BUMN/BUMD, penjualan aset negara dsb.

Pembiayaan internal: Modal sendiri,laba ditahan, penjualan aktiva. Pembiayaan eksternal: utang bank obligasi, penerbitan saham.

Pertanggungjawaban

Pertanggungjawaban

kepada

Pertanggungjawaban kepada

masyarakat

(publik)

dan

pemegang saham dan kreditor

parlemen (DPR/DPRD)

 

Struktur Organisasi

Birokratis, kaku, dan hierarkis

Felksibel: datar, piramid, lintas

 

fungsional, dsb.

Karakteristik Anggaran

Terbuka untuk publik

 

Tertutup untuk publik

Sistem Akuntansi

Cash Accounting

Accrual accounting

Sumber: Mardiasmo (2002:8)

Organisasi sektor publik memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya dengan

organisasi bisnis atau perusahaan. Perbandingan lain dikemukakan oleh Kusufi dan

Wahyuningtyas dalam Halim (2012:13) seperti tabel berikut:

Variabel organisasi

Sektor Publik

Sektor Privat

Tujuan

Motif nonlaba

Motif laba

Karakteristik

Sangat kompleks, domain luas

Lebih spesifik

Multifungsional

Pembagian fungsi lebih jelas

Ketidakpastian tinggi

Controllable uncertainty

Struktur

Birokratis, kaku, hierarkis

Fleksibel

Proses

Penuh nuansa politis

Nuansa politis lebih tidak

 

sebesar sektor publik

Sumber dana

Publik

Pemilik,

kreditur,

 

investor(shareholders)

Tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi sektor publik berbeda dengan sektor

bisnis. Perbedaan yang menonjol adalah tujuan untuk memperoleh laba. Pada sektor bisnis,

tujuan jelas untuk mencapai laba atau profit maksimum sedangkan organisasi sektor publik

tidak berorientasi memaksimalkan laba tetapi penyediaan pelayanan publik seperti layanan

pendidikan, layanan kesehatan masyarakat, penegakan hukum, transportasi publik dan lain

sebagainya. Pertanggungjawaban manajemen sektor publik berbeda dengan sektor bisnis.

Manajemen pada sektor bisnis bertanggungjawab kepada pemilik perusahaan (pemegang

saham) dan kreditor atas dana yang diberikan. Pada sektor publik manajemen

bertanggungjawab kepada masyarakat karena sumber dana yang digunakan oleh organisasi

sektor publik dalam rangka pemberian pelayanan publik berasal dari masyarakat. Proses di

dalam organisasai antara sektor publik dan sektor bisnis pun berbeda. Organisasi sektor

publik lebih bernuansa politis dibandingkan dengan organisasi bisnis, sehingga pelaku di

dalam sektor publik dituntut memiliki kemampuan berpolitik selain kemampuan

profesionalitas seperti di sektor bisnis. Hal ini dikarenakan sifat dari lingkungan organisasi

dengan pemangku kepentingannya yang kompleks dan mengandung konflik kepentingan

yang besar dari organisasi sektor publik.

Selain berbeda dengan Akuntansi (sektor) Bisnis, Akuntansi Sektor Publik juga

berbeda dengan Akuntansi Pemerintahan. Sebelum membahas perbedaan diantara

keduanya, agar lebih jelas mengenai Akuntansi Pemerintahan, berikut adalah definisi

Akuntansi Pemerintahan yang dikutip dari Bastian(2006:19):

Akuntansi Pemerintahan didefinisikan lebih sebagai sistem pengukuran kinerja pemerintah. Dengan kata lain, akuntansi mendukung pemerintah dalam mempertanggungjawabkan terhadap keputusan sumber daya apa yang seharusnya dipenuhi untuk mencukupi kebutuhan militer(dan kebutuhan ekspor) serta kebutuhan kelompok sipil.

Halim (2012:5) mengemukakan bahwa ASP jauh lebih luas dari Akuntansi

Pemerintahan. ASP tidak sebatas hanya pada persoalan sektor publik dalam organisasi

pemerintah, tetapi juga organisasi lain seperti tempat ibadah, partai politik, LSM,

pendidikan dan lain sebagainya. Akuntansi Pemerintahan merupakan bagian dari

Akuntansi Sektor Publik. Seperti yang telah diungkapkan Bastian (2006:8) mengenai

bidang utama yang dicakup dalam Akuntansi Sektor Publik yaitu: Akuntansi Pemerintah

Pusat, Akuntansi Pemerintah Daerah, Akuntansi Partai Politik, Akuntansi LSM, Akuntansi

Yayasan, Akuntansi Pendidikan, Akuntansi Kesehatan, dan Akuntansi Tempat Peribadatan.

Berdasarkan paparan tersebut, menurut pendapat saya, lebih tepat jika digunakan istilah

Akuntansi Publik dibandingkan Akuntansi Sektor Publik. Dikarenakan penambahan kata

“Sektor” dirasa mempersempit makna dan ruang lingkup dari akuntansi publik. Istilah

Akuntansi Publik mempunyai makna cakupan yang lebih luas, karena arti publik itu sendiri

adalah hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat, tidak hanya pemerintah saja. Cakupan

Akuntansi Publik juga tidak hanya mengenai keuangan saja, tetapi juga mencakup

Akuntansi Manajemen Sektor Publik hingga Auditing Sektor Publik. Oleh karena itu,

penggunaan istilah Akuntansi Publik akan lebih tepat.

Soal 2

Gambarkan dan jelaskan dengan baik bagaimana Sistem Pemerintahan NKRI dan

jelaskan pula Sistem Pengelolaan Keuangan Negara berdasar UU Nomer 17 tahun

2003 tentang Keuangan Negara!

Jawab:

Sistem Pemerintahan NKRI Menurut UUD 1945 Pacsa Amandemen

UUD 1945 BPK Presiden DPR MPR DPD MA MK KY KPU Pemerintah Daerah Provinsi Gubernur DPRD
UUD 1945
BPK
Presiden
DPR
MPR
DPD
MA
MK
KY
KPU
Pemerintah Daerah
Provinsi
Gubernur
DPRD
Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota
Bupati/Walikota
DPRD

Menurut UUD 1945, bahwa sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia tidak

menganut sistem pemisahan kekuasaan atau separation of power (Trias Politica) murni

sebagaimana yang diajarkan Montesquieu, akan tetapi menganut sistem pembagian

kekuasaan (distribution of power). Sistem Pemerintahan NKRI berdasarkan UUD 1945

dibagi menjadi 7 azas:

1.

Negara Indonesia adalah negara Hukum (tercantum di dalam Pasal 1 ayat 3).

2.

Sistem Konstitusional, yaitu pemerintah berdasarkan atas hukum dasar, bahwa

cara pengendalian pemerintahan dibatasi oleh ketentuan hukum produk dari

3.

konstitusi. Kekuasaan negara tertinggi di tangan rakyat (pasal 1 ayat 2). Sebelum adanya

amandemen, kekuasaan tertinggi ada di MPR karena merupakan lembaga

tertinggi negara. Setelah amandemen MPR berkedudukan sejajar dengan DPR

4.

dan Presiden. Presiden ialah penyelenggara pemerintah Negara yang tertinggi dismaping DPR

5.

dan MPR. Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat

6. Menteri negara ialah pembantu Presiden, menteri negara tidak ber-

tanggungjawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

7.

Kekuasaan

Kepala

Negara

tidak

tak

terbatas.

Presiden sebagai kepala negara, kekuasaannya dibatasi oleh undang-undang.

Tidak berifat diktator dan harus mendengarkan suara DPR. Kebijakan Presiden

dibatasi pengawasan efektif DPR.

Sistem pemerintahan Republik Indonesia menurut UUD 1945, tidak menganut

suatu sistem negara manapun, tetapi adalah suatu sistem khas menurut kepribadian bangsa

indonesia, namun sistem ketatanegaraan Republik indonesia tidak terlepas dari ajaran

Trias Politica Montesquieu. Indonesia adalah negara demokrasi Pancasila, yaitu sistem

pemerintahan di mana kedaulatan berada di tangan rakyat. Sebagai negara demokrasi,

Indonesia menganut teori Trias Politica, yaitu:

  • 1. Legislatif, yaitu lembaga pembuat undang-undang. Dalam hal ini yang termasuk legislatif adalah MPR, DPR, DPD.

  • 2. Eksekutif, yaitu pelaksana undang-undang. Terdiri dari Presiden dan Wakil Presiden.

  • 3. Yudikatif, yaitu mempertahankan pelaksanaan undang-undang, mengawasi dan mengadili. Terdiri dari Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial.

Menurut UUD 1945 penyelenggaran negara pelaksanaannya diserahkan kepada

suatu alat perlengkapan negara seperti MPR, Presiden, DPR, Dewan Perwakilan Daerah

(DPD), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkmah Agung (MA), Mahkamah

Konstitusi (MK). Lembaga-lembaga negara merupakan lembaga kenegaraan yang berdiri

sendiri yang satu tidak merupakan bagian dari yang lain. Akan tetapi, dalam menjalankan

kekuasaan atau wewenangnya, lembaga Negara tidak terlepas atau terpisah secara mutlak

dengan lembaga negara lain, hal itu menunjukan bahwa UUD 1945 tidak menganut doktrin

pemisahan kekuasaan, dengan perkataan lain, UUD 1945 menganut asas pembagian

kekuasaan dengan menunjuk pada jumlah badan-badan kenegaraan yang diatur didalamnya

serta hubungan kekuasaan diantara badan-badan kenegaraan yang ada.

Setelah adanya amandemen UUD 1945, terdapat perubahan-perubahan baru dalam

sistem Pemerintahan Indonesia. Hal itu diperuntukan dalam memperbaiki Sistem

Presidensial yang lama. Perubahan baru tersebut, antara lain adanya pemilihan secara

langsung, sistem bikameral, mekanisme cheks and balance, dan pemberian kekuasaan

yang lebih besar kepada parlemen untuk melakukan pengawasan dan fungsi anggaran.

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara berdasar UU Nomor 17 tahun 2003 tentang

Keuangan Negara

Menurut Bastian (2006:54) adanaya UU Nomor 17 Tahun 2003 adalah tonggak

sejarah penting yang mengawali reformasi keuangan negara menuju pengelolaan keuangan

yang efisien dan modern. Beberapa hal penting yang diatur dalam undang-undang ini

adalah: Kekuasaan atas Pengelolaan Keuangan Negara, Penyusunan dan Penetapan APBD,

Penyusunan Penetapan APBN, Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah.

Pendelegasian Kekuasaan Atas Pengelolaan Keuangan Negara Berdasar UU No. 17 Tahun 2003

PRESIDEN

PEMEGANG KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

DIKUASAKAN

   
SELAKU PENGGUNA ANGGARAN/ PENGGUNA BARANG KEMENTRIAN NEGARA/ LEMBAGA YANG DIPIMPINNYA
 

SELAKU PENGGUNA

ANGGARAN/ PENGGUNA BARANG KEMENTRIAN NEGARA/ LEMBAGA YANG DIPIMPINNYA

langsung, sistem bikameral, mekanisme cheks and balance , dan pemberian kekuasaan yang lebih besar kepada parlemen

SELAKU PENGELOLA

FISKAL DAN WAKIL PEMERINTAH DALAM KEPEMILIKAN KEKAYAAN NEGARA YANG DIPISAHKAN

langsung, sistem bikameral, mekanisme cheks and balance , dan pemberian kekuasaan yang lebih besar kepada parlemen
langsung, sistem bikameral, mekanisme cheks and balance , dan pemberian kekuasaan yang lebih besar kepada parlemen

SELAKU KEPALA PEMDA UNTUKMENGELOLA KEUANGAN DAERAH DAN MEWAKILI PEMDA DALAM KEPEMILIKAN KEKAYAAN DAERAH YANG DIPISAHKAN

Kekuasaan atas Pengelolaan Keuangan Negara Sesuai dengan pasal 6 ayat (1) dinyatakan bahwa “Presiden selaku Kepala

Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian

dari kekuasaan pemerintahan. Untuk membantu presiden di dalam penyelenggaraan

kekuasaan yang dimaksud, sebagian kekuasaan tersebut diberikan kepada Menteri

Keuangan selaku Pengelola Fiskal dan Wakil Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan

negara yang dipisahkan, serta kepada menteri atau pimpinan lembaga yang dipimpinya.

pada kedudukan ini menteri keuangan bertindak sebagai Chief Financial Officer

sementara menteri berfungsi sebagai Chief Operational officer. Dalam rangka

pelaksanaan kekuasaan atas pengelolaan fiskal, Menteri Keuangan mempunyai tugas

sebagai berikut :

  • a. menyusun kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro;

  • b. menyusun rancangan APBN dan rancangan Perubahan APBN;

  • c. mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran;

  • d. melakukan perjanjian internasional di bidang keuangan;

  • e. melaksanakan pemungutan pendapatan negara yang telah ditetapkan dengan UU

  • f. melaksanakan fungsi bendahara umum negara;

  • g. menyusun laporan keuangan yang merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN;

  • h. melaksanakan tugas-tugas lain di bidang pengelolaan fiskal berdasarkan ketentuan undang-undang.

Penyusunan dan Penetapan APBN

Di dalam ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN maka ditegaskan

peran DPR dan pemerintah dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran,

pengintegrasian sistem akuntanbilitas kinerja dalam sistem penganggaran,

penyempurnaan klasifikasi anggaran, penyatuan anggaran dan penggunaan kerangka

pengeluaran jangka menengah dalam penyusunan anggaran. Menurut Dedi

Nordiawan, 2006 dalam Bastian (2006:54), undang-undang ini menjabarkan tahapan

penting dalam penyusunan APBN yang diawali penyampaian pokok-pokok kebijakan

fiskal dan kerangka ekonomi makro tahun anggaran berikutnya kepada DPR selambat-

lambatnya pertengahan Mei tahun berjalan. Dilanjutkan dengan pembahasan RUU

tentang APBN disertai nota keuangan pada bulan Agustus kepada DPR.

Penyusunan dan Penetapan APBD

 

Seperti

halnya

APBN,

undang-undang

ini

juga

menjabarkan

tahapan dalam

penyusunan APBD yang diawali penyampaian kebijakan umum APBD (KUA) sebagai

landasan penyusunan RAPBD kepada DPRD selambat-lambatnya pertengahan Juni

tahun berjalan. Berdasarkan kebijakan umum, APBD disepakati dengan DPRD,

Pemerintah Daerah bersama DPRD membahas prioritas dan plafon anggaran yang

dijadikan acuan bagi setiap SKPD, Bastian (2006:55).

 

Hubungan

keuanganan

antara

pemerintah

pusat

dengan

bank

sentral,

pemerintah daerah, pemerintah/lembaga asing

Hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan bank sentral ditegaskan bahwa

pemerintah pusat dan bank sentral saling berkoordinasi dalam penetapan dan

pelaksanaan kebijakan fiscal dan moneter. Sedangkan dalam hubungan dengan

pemerintah daerah, UU menegaskan kewajiban pemerintah pusat untuk

mengalokasikan dana perimbangan kepada pemerintah daerah berdasarkan UU

perimbangan keuangan pusat dan daerah. Serta Pemerintah Pusat dapat memberikan

pinjaman/hibah kepada pemerintah daerah setelah mendapat persetujuan DPR, Bastian

(2006:55).

Soal 3

Jelaskan dengan didasari teori dan referensi memadai atas topik-topik yang telah

dipresentasikan dan didiskusikan di kelas, tentang:

a. Sistem Penganggaran, Penganggaran APBN/D (Publik)

  • b. SPM Sektor Publik dan Aplikasinya di Pemerintahan Indonesia

Jawab:

  • a. Sistem Penganggaran, Penganggaran APBN/D (Publik)

Sistem Penganggaran Publik

Proses untuk mempersiapkan anggaran disebut dengan penganggaran

( Mardiasmo, 2009). Seperti yang dikemukakan Indrayeni dalam Halim (2012:48),

sistem penganggaran merupakan instrumen dari mekanisme birokrasi pada suatu

organisasi yang berfungsi sebagai alat untuk mengalokasikan sumber daya dalam

bentuk barang dan jasa yang ada ke dalam anggota organisasi. Sesuai

perkembangan sistem administrasi, sistem penganggaran mengalami

perkembangan. Perkembangan sistem anggaran tersebut terjadi selaras dengan

pengalokasian sumber daya yang makin lama semakin membaik dalam

mengakomodasi berbagai prinsip penganggaran publik, Bastian (2006:243).

Berbagai sistem penganggaran seperti yang disampaikan Bastian (2006)

adalah sebagai berikut:

1) Line Item Budgeting, penyusunan anggaran yang didasarkan kepada, dan, dari

mana dana berasal (pos-pos penerimaan), dan untuk apa dana tersebut

digunakan (pos-pos pengeluaran). Line Item Budgeting ini sangat popular

2)

penggunaannya karena dianggap mudah untuk dilaksanakan (Wildavsky, 2000). Incremental Budgeting, adalah sistem anggaran belanja dan pendapatan yang

memungkinkan revisi selama tahun berjalan sekaligus sebagai dasar penentuan

usulan anggaran periode tahun yang akan datang.

3) Planning Programming Budgeting System, suatu proses perencanaan,

pembuatan program, dan penganggaran yang terkait dalam suatu sistem sebagai

kesatuan yang bulat dan tidak terpisah-pisah, di dalamnya terkandung tujuan

4)

organisasi. Zero Based Budgeting, merupakan sistem anggaran yang didasarkan pada

perkiraan kegiatan, bukan pada yang telah dilakukan pada masa lalu. Setiap

5)

kegiatan akan dilakukan evaluasi secara terpisah. Performance Budgeting, sistem penganggaran yang berorientasi pada output

organisasi dan berkaitan dengan visi, misi, dan rencana strategis organisasi.

Performance Budgeting mengalokasikan sumber daya pada program, bukan

pada unit organisasi semata dan memakai output measurement sebagai indikator

kinerja organisasi. Tujuan penetapan output measurement adalah untuk

mengukur tingkat efisiensi dan efektifitas.

Penganggaran APBN

APBN merupakan inti pengurusan umum dan anggaran negara.

Anggaran

negara adalah rencana pengeluaran/belanja dan penerimaan/pembiayaan belanja

suatu negara selama periode tertentu (Halim, 2012;35). Tahapan penting dalam

penyusunan APBN yang diawali penyampaian pokok-pokok kebijakan fiskal dan

kerangka ekonomi makro tahun anggaran berikutnya kepada DPR selambat-

lambatnya pertengahan Mei tahun berjalan. Dilanjutkan dengan pembahasan RUU

tentang APBN disertai nota keuangan pada bulan Agustus kepada DPR. Bastian

(2006:54). Daur anggaran Negara Republik Indonesia secara umum terdiri atas

lima tahap, yaitu:

1)

Penyusunan dana pengajuan rancangan negara (RUU-APBN) oleh pemerintah

kepada DPR

2)

Pembahasan dan persetujuan DPR atas RUU-APBN dan penetapan UU APBN

3)

Pelaksanaan anggaran, akuntansi, dan pelaporan keuangan oleh pemerintah

4) Pemeriksaan pelaksanaan anggaran dan akuntansi oleh aparat pengawas

5)

fungsional. Pembahasan dan persetujuan DPR atas Perhitungan Anggaran Negara (PAN)

dan penetapan UU PAN. Penganggaran APBN dimulai dari pemaparan APBN oleh Presiden di depan

rapat paripurna DPR RI yang dilanjutkan dengan pengajuan angaran pemerintah.

Selanjutnya pemaparan program yang tercantum dalam RAPBN dan penjelasan

mengenai signifikansi alokasi belanja dan pembiayaan infrastruktur, Bastian

(2006:278). Terdapat enam unsur penting dalam penentuan volume APBN yang

harus diperhatikan ketika akan melakukan penganggaran APBN, yaitu: 1). Harga

minyak bumi di pasar internasional, 2). Kuota produksi minyak mentah oleh

OPEC, 3).pertumbuhan ekonomi, 4). Inflasi, 5).suku bunga dan 6). nilai tukar

rupiah terhadap US Dollar (Bastian, 2006:276).

Penganggaran APBD

APBD merupakan rencana operasional keuangan pemda, di mana pada satu

pihak menggambarkan perkiran pengeluaran setinggi-tingginya guna membiayai

kegiatan daerah selama satu tahun anggaran, (Dewi dan Kusufi dalam Halim,

2012:37).

Proses perencanaan dan penyusunan APBD, mengacu pada PP Nomor 58

Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, secara garis besar sebagai

berikut: (1) penyusunan rencana kerja pemerintah daerah; (2) penyusunan

rancangan kebijakan umum anggaran; (3) penetapan prioritas dan plafon anggaran

sementara; (4) penyusunan rencana kerja dan anggaran SKPD; (5) penyusunan

rancangan perda APBD; dan (6) penetapan APBD.

b. SPM Sektor Publik dan Aplikasinya di Pemerintahan Indonesia

Sistem Pengendalian Manajemen organisasi sektor publik berfokus pada bagaimana

strategi dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga tujuan organisasi dapat

tercapai (Mardiasmo, 2009). Pengukuran kinerja berkaitan dengan fungsi pengendalian

manajemen sektor publik. Seperti yang telah disampaikan Kusufi dalam Halim (2012:129)

bahwa sistem pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk

membantu manager publik menilai capaian suatu strategi melalui tolok ukur kinerja yang

ditetapkan. Mahmudii (2007:14) mengidentifikasi tujuan dilakukannya pengukuran

kinerja pada organisasi sektor publik, yaitu:

  • a. Mengetahui tingkat ketercapaian tujuan organisasi

  • b. Menyediakan sarana pembelajaran bagi pegawai

  • c. Memperbaiki kinerja untuk periode berikutnya

  • d. Memberikan pertimbangan dalam pembuatan keputusan reward dan punishment

  • e. Memotivasi pegawai

  • f. Menciptakan akuntabilitas publik Konsep Value for Money sering digunakan untuk mengukur kinerja di sektor

publik. Konsep ini mengukur ekonomi (hubungan antara pasar dan masukan),

efisiensi(rasio antara output dengan input), dan efektivitas (berhasil tidaknya suatu

organisasi mencapai tujuan). VFM juga mengandung arti sebagai penghargaan terhadap

nilai uang, hal ini berarti setiap rupiah harus dihargai secara layak dan digunakan sebagai

mestinya (Mahmudi, 2007).

Implementasi pengukuran kinerja di Pemerintahan

Perencanaan kinerja dimulai dengan tahap menentukan visi, misi, tujuan, sasaran,

dan target yang dituangkan dalam renstra. Renstra merupakan inisiatif dari pemerintah

yang merupakan penjabaran visi, misi kepala daerah. Renstra tersebut kemudian

diterjemahkan ke dalam rencana kerja. Renstra yang merupakan hasil dari pendekatan

bottom up merupakan hasil dari penjaringan aspirasi masyarakat yang diwujudkan dalam

bentuk pelayanan publik. Pelayanan publik tersebut distandarisasi dalam bentuk SPM.

Contoh implementasi SPM di bidang kesehatan

No

Urusan Wajib

Jenis

SPM

.

Pelayanan

Indikator Kinerja

Target 2011

1

Kesehatan

Pelayanan dasar kesehatan untuk

  • a. Cakupan kunjungan ibu hamil K4

90%

ibu dan anak

  • b. Cakupan pertolongan

85%

persalinan oleh bidan yang memiliki kompetensi ahli

  • c. Ibu hamil resiko tinggi yang dirujuk

100%

  • d. Cakupan kunjungan bayi

90%

Sumber: Halim (2012:140)

Soal 4

Carilah sebuah artikel (asing) dengan topik Akuntansi Publik. Bahaslah artikel

tersebut.

Jawab:

Title : Australian Public Sector Performance Management: Success or Stagnation?

Author : Lewis Hawke, University of Canberra, Canberra, Australia

Journal: Emerald, Vol. 61 No.3, 2012.

Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan “the key factors

yang memengaruhi kesuksesan implementasi public sector performance management

system di Australia.

Pendahuluan

Usaha untuk mengembangkan pengukuran dan penilaian sistem untuk kinerja

sektor publik menjadi perhatian selama beberapa dekade ini. Performance management

yang dimaksud dalam penelitian ini adalah interelasi strategi dan aktivitas untuk

meningkatkan kinerja individual, tim dan organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan

pencapaian tujuan dan outcome untuk pemerintah (Management Advisory Committee,

2001:14). Kerangka performance management Australia terdiri dari beberapa hal yang

diutamakan, yaitu budget planning, penyiapan dan pelaksanaan dasar outcomes dan

pengukuran kinerja yang jelas.

Kerangka Teoritis

Untuk melihat kesuksesan public sector performance management di Australia,

penelitian ini menguji pencapaian dari enam faktor yang dipertimbangkan akan mencakup

pengaruh utama dan kesuksesan. Keenam faktor tersebut adalah: eksternal, structural,

managerial, technical, cultural, dan behavioral factors. Elemen-elemen tersebut diambil

berdasarkan literatur dari public sector performance management untuk mengidentifikasi

elemen yang paling mendekati untuk mencapai kesuksesan di berbagai negara yang

diadopsi dari OECD, 2007; Bouckaert and Halligan, 2008; Arizti et al; 2010;Boyne et al,

2006; Van Dooren and Van de Walle, 2008).

External factors meliputi semua yang berpengaruh di luar operasi sektor publik

yang dapat berdampak terhadap performance management. Structural factors

berhubungan dengan hukum, aturan, struktur organisasional dan institusional di dalam

operasi performance management. Managerial factors mencakup peran dari government

dan agency manager dalam mengimplementasikan dan menggunakan framework.

Technical factors meliputi rancangan dari performance management, kapasitas dari public

officials untuk mengimplementasikan rencana, dan pencapaian dalam kualitas pengukuran,

pemeliharaan sistem dan pelaporan prosedur. Cultural factors mencakup bagaimana

operasi dan nilai yang melekat dalam sistem, termasuk institusional, operasional dan

budaya sosial. Behaviour yaitu perbedaan dari budaya yang mana berhubungan dengan

bagaimana respon terhadap sistem performance management dan hasil dari informasi

kinerja.

Metodologi

Penelitian ini menguji enam kunci yang mempengaruhi public sector performance

management dari literatur akademik dan praktisi dengan menggunakan data yang tersedia

dari dokumen kantor, reviews dan kinerja audit untuk mengidentifikasi dan menganalisis

faktor-faktor yang membentuk sistem di Australia. Peneliti menggunakan pendekatan

berdasarkan case study. Variabel dependen adalah performance management dan

variabel independennya ada enam yaitu external, structural, technical, managerial,

behavioural, dan cultural.

Hasil

Public sector performance management di Australia digambarkan dengan kuatnya

faktor eksternal (politik), struktural, dan tehnik. Faktor-faktor tersebut berpengaruh positif

dan merupakan hal yang utama dalam pencapaian sebuah sistem yang stabil dan modern.

External factors di mana pemerintah Australia berusaha melakukan perbaikan

performance management di setiap suksesi kepemimpinan mulai tahun 1984, namun upaya

perubahan sistem ini tidak serius karena perubahan di lingkungan eksternal. Perubahan

sistem performance management yang terpenting terjadi di tahun 2007 saat perubahan

pemerintahan dan adanya krisis keuangan global. Pemerintahan yang baru menerapkan

kebijakan untuk mengurangi pengeluaran pemerintah yang tidak penting dibandingkan

menyusun pengembangan informasi kinerja.

Kesimpulan

Australia melakukan perubahan dalam performance management arrangements

untuk meningkatkan informasi dan laporan kinerja. Perubahan tersebut berfokus pada

faktor teknik yaitu perbaikan outcome. Selain itu penelitian ini menekankan pengaruh

faktor political eksternal dalam membangun perbaikan sistem performance management.

Penelitian ini juga menjelaskan ada beberpa faktor kunci yang belum bisa

dimakstoimalkan oleh pemerintah Australia untuk mendongkrak perbaikan sistem. Agar

perubahan perbaikan dapat tercapai efektif, faktor management, behavior dan culture harus

ditingkatkan.

Practical Implication

Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi untuk perbaikan implementasi dan

kebijakan di Australia terkait performance management. Framework yang digunakan

dalam penelitian ini dapat dipakai untuk menganalisis lebih lanjut dalam penelitian

berikutnya terkait public sector performance management di Australia atau negara lain.

Referensi:

Bastian, Indra. 2006. Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar Pendekatan Siklus. Jakarta: Erlangga

Halim, Abdul. 2008. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta:

Salemba Empat

Halim, Abdul. 2012. Teori, Konsep, dan Aplikasi Akuntansi Sektor Publik. Jakarta:

Salemba Empat

Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945

http://akusuhendar.wordpress.com/2011/04/20/sistem-penyelenggaraan-pemerintahan-nkri/

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (Pasca Amandemen)

PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Edisi IV. Yogyakarta: ANDI

Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik.Yogyakarta: CV Andi Offset

Mahmudi. 2007. Manajemen Kinerja Sektor Publik, edisi revisi, Yogyakarta: UPP STIM YKPN.