You are on page 1of 12

50

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Gambar Umum Lokasi Penelitian
Puskesmas Rawat Inap kemiling bertempat di kelurahan sumberejo

Kemiling. Wilayah kerja Puskesmas Kemiling meliputi empat Kelurahan

dengan luas wilayah 718,2 Ha. Adapun batas wilayah kerja Puskesmas Rawat

Inap Kemiling adalah:


1) Sebelah Utara : Kelurahan Rajabasa dan Gunung Terang
2) Sebelah Selatan : Kelurahan Beringin Raya dan Langkapura
3) Sebelah Barat : Desa Negeri Sakti
4) Sebelah Timur : Kelurahan Langkapura
2. Gambaran Karakteristik Responden
Berdasarkan data hasil penelitian tentang gambaran karakteristik

balita yang menjadi sampel pada penelitian ini disajikan dalam tabel

yang dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

Tabel 4.1
Distribusi Statistik Responden Berdasarkan Umur Balita Dalam Bulan Pada Jenis
Kelamin laki-laki dan Perempuan di Puskesmas Rawat Inap Kemiling Tahun 2016

Standar 95%CI
Variabel Mean Min-Maks
Deviasi
Umur Balita
Dalam Bulan
30,72 14,923 3-58 26,48-34,96
Jenis Kelamin
Laki-laki
Umur Balita
Dalam Bulan
33,17 14,563 5-59 28,24-38,09
Jenis Kelamin
Perempuan
51

Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa rata-rata umur balita jenis

kelamin laki-laki 30,72 bulan (95% CI: 26,48-34,96), dengan standar

deviasi 14,923 bulan. umur terendah 3 bulan dan umur tertinggi 58 bulan.

Dan hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa

rata-rata umur balita jenis kelamin laki-laki antara 26,48 bulan sampai

dengan 34,96 bulan, dan diketahui bahwa rata-rata umur balita jenis kelamin

perempuan 33,17 bulan (95% CI: 28,24-38,09), dengan standar deviasi

14,563 bulan. umur terendah 5 bulan dan umur tertinggi 59 bulan. Dan hasil

estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa rata-rata

umur balita jenis kelamin laki-laki antara 28,24 bulan sampai dengan 38,09

bulan.

Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Balita di Puskesmas
Rawat Inap Kemiling Bandar Lampung Tahun 2016

Jenis kelamin Frekuensi Persentase (%)


Laki-Laki 50 58,1
Perempuan 36 41,9
Jumlah 86 100.0

Berdasarkan Tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa karateristik balita

berdasarkan jenis kelamin dari 86 balita yang berjenis kelamin laki-laki

lebih banyak dibandingkan dengan perempuan yaitu terdapat 50 balita

(58,1%).
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu Balita di Puskesmas
Rawat Inap Kemiling Bandar Lampung tahun 2016
52

Pendidikan Frekuensi Persentase (%)


Sekolah Dasar 31 36,1
SMP 26 30,2
SLTA 20 23,2
Diploma / PT 9 10,5
Jumlah 86 100,0

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa dari total 86 responden

diketahui pendidikan ibu balita paling banyak pada kategori sekolah dasar

yaitu terdapat 31 orang (36,1%).

B. Hasil Analisa Univariat dan Bivariat


Analisis data bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik setiap variabel penelitian. Variabel dependen dalam penelitian

ini adalah kejadian pneumonia pada balita sedangkan variabel independen

dalam penelitian ini adalah merokok di dalam rumah dan kepadatan hunian

rumah sebagai berikut:


1. Hasil Analisis Univariat
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Variabel Merokok Di Dalam Rumah Dan Tidak
Merokok Di Dalam Rumah Di Puskesmas Rawat Inap Kemiling 2016

Variabel Frekuensi Persentase (%)


Merokok di dalam rumah 42 48,8
Tidak merokok di dalam rumah 44 51,2
Jumlah 86 100,0

Berdasarkan pada tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa dari total

86 Balita di Puskesmas Kemiling tahun 2016 yang tinggal dengan

keluarga yang anggotanya tidak merokok di dalam rumah terdapat 44

orang (51,2%).
Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Variabel Kepadatan Rumah
di Puskesmas Kemiling 2016
53

Variabel Frekuensi Persentase (%)


Padat 41 47,7
Tidak Padat 45 52,3
Jumlah 86 100,0

Berdasarkan pada tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa dari total

86 Balita di Puskesmas Kemiling tahun 2016 yang tinggal dengan

kondisi rumah yang tidak padat terdapat 45 balita (52,3%),

2. Hasil Analisis Bivariat


Tabel 4.6
Hasil Analisis Pengaruh Merokok di Dalam Rumah dengan
Kejadian Pneumonia di Puskesmas Rawat Inap Kemiling
Tahun 2016

Kejadian Pneumonia
Merokok di dalam Total p- OR
Kasus Kontrol
rumah value 95%CI
n % N % N %
Merokok di dalam
28 65,1 14 32,6 42 48,8 0,005 3,87
rumah
Tidak merokok di dalam
15 34,9 29 67,4 44 51,2 2,09-9,45
rumah
Jumlah 43 100 43 100 86 100

Berdasarkan tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa dari total 43

balita pada kasus terdapat 28 (65,1%) balita yang tinggal dengan

keluarga yang merokok di dalam rumah, dan terdapat 15 (34,9%)

balita yang tinggal dengan anggota keluarga yang merokok yang tidak

merokok di dalam rumah. Sedangkan dari total 43 balita pada kontrol

terdapat 14 (32,6%) balita yang tinggal dengan anggota keluarga yang


54

merokok di dalam rumah dan terdapat 29 (67,4%) balita yang yang

tinggal dengan anggota keluarga yang tidak merokok di dalam rumah.


Hasil uji statistik chi-square menunjukkan p-value 0,005 (p-

value < 0,05) hasil uji diperoleh nilai odds rasio (OR) sebesar 3,87

(OR 95% CI 2,09-9,45) ada hubungan yang bermakna antara merokok

di dalam rumah dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas

Kemiling, artinya balita yang tidak tinggal dengan keluarga yang

anggotanya merokok di dalam rumah mempunyai risiko 3,87 kali

lebih tinggi untuk mengalami penyakit pneumonia dibandingkan

dengan balita yang tinggal dengan keluarga yang anggota keluarganya

tidak merokok di dalam rumah.

Tabel 4.7
Hasil Analisis Pengaruh Kepadatan Hunian Rumah dengan
Kejadian Pneumonia di Puskesmas Rawat Inap Kemiling
Tahun 2016

Kejadian Pneumonia
Kepadatan Hunian Total p- OR
Kasus Kontrol
Rumah value 95%CI
N % N % N %
Padat 26 60,5 15 34,9 41 47,7 0,031 2,85
Tidak Padat 17 39,5 28 65,1 45 52,3 1,89-6,54
Jumlah 43 100 43 100 96 100

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel di atas menunjukkan

bahwa dari total 43 balita pada kasus yang tinggal dengan hunian

rumahnya ada 26 (60,5%) dan yang tinggal di rumah dengan tingkat

hunian tidak padat ada 17 (39,5%). Sedangkan dari total 43 balita

pada kontrol yang tinggal dirumah dengan tingkat huniannya padat

ada 15 (34,9%) dan balita yang tinggal dirumah dengan tingkat

hunian tidak padat ada 31 (65,1%). Hasil uji statistik chi-square


55

menunjukkan dengan p-value 0,031(p-value <0,05) diperoleh nilai

odds rasio sebesar 2,85 (OR95% CI 1,89-6,54) ada hubungan yang

bermakna antara kepadatan hunian rumah dengan kejadian pneumonia

pada balita di Puskesmas Kemiling tahun 2015, yang artinya balita

yang tinggal dirumah dengan tingkat hunian rumahnya padat

mempunyai risiko 2,85 kali lebih tinggi untuk mengalami penyakit

pneumonia dibandingkan dengan balita yang tinggal di rumah dengan

tingkat hunian rumahnya tidak padat.

C. Pembahasan
1. Kebiasaan Merokok di Dalam Rumah dengan Kejadian Pneumonia

di Puskesmas Rawat Inap Kemiling Tahun 2016


Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa total 43 balita pada

kasus terdapat 28 (65,1%) balita yang tinggal dengan keluarga yang

merokok di dalam rumah, lebih tinggi bila dibandingkan dengan kontrol

terdapat 14 balita (32,6%). Sedangkan terdapat 15 (34,9%) balita pada

kasus yang tinggal dengan anggota keluarga tidak merokok lebih rendah

jika dibandingkan dengan kontrol terdapat 29 (67,4%). Hasil uji statistik

Chi-Square menunjukkan dengan p-value 0,00 < 0,05) dan diperoleh nilai

odds rasio (OR) sebesar 3,87 (OR 95% CI 2,09-9,45) ada hubungan yang

bermakna antara merokok di dalam rumah dengan kejadian pneumonia

pada balita di Puskesmas Kemiling, bahwa balita yang tinggal dirumah

dengan anggota keluarganya yang merokok mempunyai resiko mengalami

pneumonia 3,87 kali lebih besar dibandingkan balita yang tinggal di rumah

yang anggota keluarganya tidak merkok..


56

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ratna Sulistyowati

(2010) di Kabupaten Trenggalek yang menyatakan ada hubungan antara

prilaku merokok di dalam rumah terhadap kejadian pneumonia dilihat dari

nilai p value 0,001 < 0,005 dengan nilai OR yang diperoleh sebesar 4,4.
Prilaku hidup bersih dan sehat yang menjadi kebutuhan dasar derajat

kesehatan masyarakat, salah satu aspeknya adalah tidak ada anggota

keluarga yang merokok di dalam rumah. Merokok dapat menggangu

kesehatan dan kenyataan ini tidak dapat kita pungkiri. Banyak penykit

telah terbukti menjadi akibat buruk merokok, baik secara langsung

maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan

merugikan perokok, tetapi juga bagi orag disekitarnya. Efek dari asap

rokok dapat menimbulkan masalah kesehatan masyarakat terutama

keluarga yang merokok tidak hanya menghabiskan pendapatan keluarga

untuk membeli rokok, akan tetapi berakibat buruk bagi anggota keluarga

(balita dan wanita). Adanya bahaya dari secondhand-smoke, yaitu asap

rokok yang terhirup oleh orang-orang bukan perokok karena berada di

sekitar perokok, atau biasa disebut juga dengan perokok pasif yang

menyebabkan iritasi pada mata, hidung, tengorokan, dan paru.

Komponen gas asap rokok adalah karbon monoksida, amoniak, asam

hidrosianat, nitrogen oksida, dan formaldehid. Partikelnya berupa tar,

indol, nikotin, karbarzol, dan kresol ( Proverawati, Rahmawati, 2012).


Menurut Kemenkes (2012) Keadaan berdebu sebagai salah satu

bentuk terjadinya polusi udara dalam rumah (indoor air pollution).

Kondisi udara dalam rumah yang tercemar (mengalami polusi) perlu


57

dicegah dalam rangka menurunkan kejadian pneumonia pada balita.

Kondisi ini akan memudahkan terutama debu berukuran milikron dapat

masuk ke dalam alveoli paru yang dalam waktu lama dapat menyebabkan

peradangan terutama asap rokok adalah penyebab utama gangguan pada

saluran pernapasan yang kronik (bronchitis, pneumonia, dan emfisiema)


Menurut pendapat peneliti kebiasaan anggota keluarga ada yang

merokok di dalam rumah akan berdampak pada meningkatnya paparan

oleh asap rokok. Asap rokok merupakan salah satu pencemar udara yang

berbahaya bagi balita yang ada di sekitarnya. Efek dari asap rokok dapat

menimbulkan masalah kesehatan dalam masyarakat terutama keluarga

yang merokok tidak hanya menghabiskan pendapatan keluarga untuk

membeli rokok, tetapi berakibat buruk bagi kesehatan anggota keluarga

karena salah satunya dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan

yang dapat menjadi pneumonia.


Dari data karakteristik diketahui tingkat pendidikan ibu sebagai pola asuh

dari balita paling banyak pada kategori sekolah dasar (SD terdapat 31

orang (36,1%) rendahnya tingkat pendidikan juga mempengaruhi pola

pikir dan perilaku pada seseorang, Semakin rendah pendidikan maka akan

semakin berpengaruh pada perilaku, terutama di lingkungan keluarga

balita. Serta didapat sebagian besar di dalam rumah responden banyak

yang masih merokok di dalam rumah sebesar 48,8%.


Untuk menurunkan polusi udara dalam rumah karena asap rokok maka

baiknya terlebih dahulu para orang tua harus menanamkan kesadaran

kepada diri sendiri dan anggota keluarga akan bahaya dari rokok yang

dapat merusak kesehatan dan membuat kesepakatan dalam keluarga untuk


58

dilarang atau tidak merokok di dalam rumah apalagi berdekatan dengan

balita. Serta meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam tatanan

rumah tangga hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan

pengetahuan tentang kesehatan dan menjaga kebersihan diri sendiri,

keluarga dan lingkungan.

2. Kepadatan Hunian Rumah dengan Kejadian Pneumonia di

Puskesmas Rawat Inap Kemiling Tahun 2016


Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa balita pada kasus

yang tinggal dengan tingkat hunian rumahnya padat terdapat 26 (60,5%)

lebih tinggi jika dibandingkan dengan kontrol terdapat 15 (34,9%) yang

tingkat huniannya padat dan balita yang tinggal dirumah dengan tingkat

hunian tidak padat pada kasus terdapat 15 (34,9%) lebih rendah jika

dibandingkan dengan kontrol terdapat 31 (65,1%). Hasil uji statistik

menunjukkan dengan p-value 0,031 < 0,05 diperoleh nilai odds rasio

sebesar 2,85 (OR 95% CI 1,89-6,54) ada hubungan yang bermakna antara

kepadatan hunian rumah dengan kejadian pneumonia pada balita di

Puskesmas Kemiling tahun 2016, artinya balita yang tinggal dirumah

dengan tingkat hunian rumahnya padat mempunyai risiko 2,85 kali lebih

tinggi untuk mengalami penyakit pneumonia dibandingkan dengan balita

yang tinggal di rumah dengan tingkat hunian rumahnya tidak padat.


Hasil penelitian ini sejalan dengan Penelitian Susi Hartati (2011) di

RSUD Pasar Rebo menyatakan ada hubungan antara kepadatan hunian

dengan kejadian pneumoia dilihat dari nila p-value yaitu 0,037 dengan

nilai OR 2,20
59

Keberadaan rumah yang sehat, aman, serasi dan teratur sangat

diperlukan agar fungsi rumah terpenuhi dengan baik. Kesehatan

perumahan adalah kondisi fisik, kimia, dan biologik di lingkungan rumah

dan perumahan yang memungkinkan penghuni atau masyarakat

memperoleh derajat kesehatan yang optimal sesuai dengan peraturan

Menteri Kesehatan RI nomor : 829/Menkes/SK/VII/ tahun 1999 tentang

persyaratan kesehatan perumahan. Bangunan rumah yang sehat harus

cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan tersebut

harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak

sesuai dengan jumlah penghuninya menyebabkan over crowded sehingga

mengakibatkan kurangnya konsumsi oksigen. Apabila salah satu anggota

terkena penyakit infeksi misalnya infeksi saluran pernapasan akut akan

cepat menular ke anggota keluarga lain. (Kemenkes, 2012).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa risiko balita terkena

pneumonia akan meningkat jika tinggal di rumah dengan tingkat hunian

padat. Tingkat kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat disebabkan

karena luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah keluarga yang

menempati rumah. Luas rumah yang sempit dengan jumlah anggota

keluarga yang banyak menyebabkan rasio penghuni dengan luas rumah

tidak seimbang. Kepadatan hunian ini memungkinkan bakteri maupun virus

dapat menular melalui pernapasan dari penghuni rumah yang satu ke

penghuni rumah lainnya. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di

lapangan, responden banyak yang tinggal di rumah sangat sederhana dan

rumah sewa dimana ukuran rumah yang kecil dan berada di lingkungan yang
60

padat dengan jumlah penghuni yang relatif banyak dalam satu rumah, anak-

anak bermain di dalam rumah dan rumah saling berhimpitan antara satu

dengan yang lainnya. Keadaan ini memungkinkan sekali untuk terjadinya

penularan terhadap penyakit infeksi pernafasan.


Kondisi rumah yang padat tidak sebanding dengan penghuninya

tersebut maka anggota keluarga yang satu dengan lainnya akan lebih

sering kontak langsung dan dimungkin akan terjadi penularan lebih cepat

dari percikan air ludah (droplet infeksi). Penyakit yang ditularkan melalui

udara (air borne diases) terutama kondisi rumah yang tidak sehat

meningkatkan faktor risiko kesakitan (Candra B, 2012).


Menurut pendapat peneliti perlu adanya upaya untuk meningkatkan

pengetahuan keluarga tentang pentingnya rumah sehat sederhana yang

wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni rumah dari bahaya

atau gangguan kesehatan sehingga memungkinkan penghuni

memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Sanitasi lingkungan rumah

juga sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan di dalam

keluarga. Jumlah penghuni yang tidak sesuai dengan luas rumah

mempermudah penularan penyakit infeksi. Hal ini bila tidak

dimungkinkan untuk keluarga mengurangi penghuni di dalam rumah atau

memperluas bangunan rumah, maka prilaku hidup bersih dan sehat dalam

rumah tangga sangat membantu dalam pemeliharaan kesehatan seperti

menutup mulut dan pada waktu bersin, tidak membuang ludah sembarangan,

tidak merokok di dalam rumah serta menjaga kebersihan lingkungan rumah.


Didapat hasil penelitian menunjukan data kepadatan hunian di rumah balita

sebesar 47,7 % sebagian besar responden rumah yang ditinggali mayoritas


61

dalam kategori cukup padat, hal ini berdampak serta berpengaruh pada

sirkulasi udara. Dari hasil survey dan wawancara serta peninjauan terhadap

program Manajemen Terpadu Balita Sehat (MTBS) di puskesmas rawat inap

kemiling bahwa sistem tata pelaksanaan program, sudah cukup baik dan

sesuai target nasional, namun lingkungan serta gaya hidup masyarakat dapat

mempengaruhi tingkat kesehatan pada balita terutama pada pneumonia.

3. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu: mengenai faktor risiko

kejadian pneumonia dengan dua variabel dengan rentang waktu yang

singkat pada saat pengambilan data. Belum mampu mengambarkan

dengan jelas determinan utama kejadian pneumonia dan penderita yang

terpilih mempunyai derajat sakit yang berbeda-beda, sulitnya menemukan

kontrol yang sesuai dengan kasus serta sulit dalam pencatatan dan

pengalaman lampau.