You are on page 1of 58

Kinerja perawat dapat dipengaruhi oleh karakteristik individu dari perawat itu sendiri.

Setiap

orang mempunyai karakteristik masing-masing sehingga terdapat perbedaan yang mendasar seorang

dengan yang lain. Robbins (2008), menyatakan bahwa karakteristik individu seperti umur, masa kerja,

dan status pernikahan dapat mempengaruhi kinerja individu. Hasil penelitian Hanan, A.A (2009),

didapatkan faktor jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan dan lama kerja memiliki

hubungan dengan perawat. Penelitian Kanestren, D.R (2009), menyatakan bahwa variabel karakteristik

individu (umur, lama kerja dan tingkat motivasi kinerja pendidikan) memiliki hubungan bermakna

dengan kinerja perawat.


Salah satu faktor yang dapat meningkatkan produktifitas atau kinerja perawat adalah pendidikan

formal perawat. Keperawatan merupakan profesi sepanjang hayat; dengan demikian, perawat adalah

pelajar sejati. Artinya setiap perawat dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi dirinya, baik dari

segi kognitif, psikomotor, maupun afektif (Asmadi, 2008). Saat ini, praktik pelayanan keperawatan di

banyak Rumah Sakit Umum Daerah belum mencerminkan praktik pelayanan profesional. Mengingat

keterbatasan jumlah dan pendidikan sumber daya perawat di Indonesia (Efendi Fery, 2009).
Kateterisasi urin telah diketahui sebagai risiko utama infeksi nosocomial. Pada pasien dengan
kateter urin, 20 sampai 30% pasien akan mengalami bakteriuria (bakteri di urin). sekitar 2% dari
pasien yang mengalami bakteriuria akan mengalami bacteremia dan sekitar 22% akan
meninggal. Telah pula ditunjukkan bahwa risiko infeksi meninggal dengan semakin lamanya
penggunaan kateter. Oleh karena itu, jelas bahwa praktik keperawatan yang baik sangat
diperlukan untuk prosedur ini.

, Joyce James, Colin Baker, Helen Swain Prinsip-prinsip sains untuk keperawatan, Indonesia .
.Penerbit erlangga, 2008

Sep
23

Hubungan lamanya kateter terpasang dengan


kejadian infeksi saluran kemih pada pasien rawat
inap di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin
Banjarmasin Tahun 2013
Hubungan lamanya kateter terpasang dengan kejadian infeksi saluran kemih pada pasien rawat inap di Rumah
Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013
Karya Nopi Arisandy

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Infeksi nasokomial menjadi masalah yang cukup menarik terutama dikalangan medis. Infeksi nasokomial
merupakan infeksi yang terjadi berkaitan dengan proses perawatan pasien di rumah sakit (Darmadi 2008:1).
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah salah satu infeksi nasokomial yang paling sering terjadi yaitu sekitar 40%
dari seluruh infeksi yang terjadi di rumah sakit setiap tahunnya (BossMeyer et all 2004: 21).

Angka kejadian Infeksi Saluran Kemih di rumah sakit Eropa mencapai 727 kasus setiap tahunnya, sedangkan di
Amerika angka kejadian ISK sekitar 7-8 juta setiap tahunnya (Jurnal Penelitian Keperawatan Universitas
Sumatera Utara 2012: 1).
Infeksi saluran kemih diduga berhubungan dengan faktor risiko yaitu pemasangan kateter/kateterisasi
perkemihan. Kateterisasi perkemihan adalah tindakan memasukkan selang karet atau plastik melalui uretra ke
dalam kandung kemih untuk mengeluarkan air kemih yang terdapat di dalamnya. Pemasangan kateter biasanya
dilakukan sebagai tindakan untuk memenuhi kebutuhan eliminasi pada pasien yang tidak memiliki kemampuan
untuk mobilisasi seperti pasien pembedahan, pasien dengan kondisi kronis atau lemah yang membuatnya tidak
memiliki kemampuan untuk melakukan mobilisasi secara aktif. Tindakan ini dinilai berbahaya karena dapat
menyebabkan masuknya organisme ke dalam kandung kemih (Kozier et all 2009: 505).

Menurut Gruendemann dan Fernsebner (2006: 288) penyebab utama infeksi saluran kencing pada pasien yang
dirawat di rumah sakit adalah pemasangan kateter. Pendapat yang sama juga dikemukakan BossMeyer et all
(2004: 21) bahwa infeksi saluran kencing dapat disebabkan oleh pemasangan kateter indwelling (kateter yang
dipakai untuk beberapa hari atau minggu). Infeksi saluran kemih sering berkaitan dengan penggunaan kateter
urin yaitu penggunaan kateter memungkinkan jalur masuk mikroba kedalam saluran kemih sehingga semakin
lama kateter terpasang maka peluang kateter terkontaminasi oleh mikroba semakin besar dan peluang pasien
terkontaminasi mikroba juga semakin besar sebab kateter dapat mengiritasi lapisan kulit saluran kemih dan juga
merupakan jalur masuk yang menghubungkan antara dunia luar dengan bagian dalam saluran kemih Hal ini
yang menyebabkan mudahnya akses mikroba masuk kesaluran kemih.
Menurut Craven (2000), dalam Furqan (2003) infeksi setelah pemasangan kateter dapat terjadi karena kuman
dapat masuk kedalam kandung kemih dengan jalan berenang melalui lumen kateter.

Penelitian di rumah sakit yang ada di Indonesia seperti penelitian yang dilakukan oleh Afsah (2008) di RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta didapatkan angka kejadian ISK pada pasien yang dipasang kateter urin
sebanyak 20 % dari 30 pasien (Jurnal Penelitian Keperawatan Universitas Sumatera Utara, 2011: 1).

Penelitian yang dilakukan Janas, Satoto dan Punjabi (1992) berjudul Infeksi Nosokomial Saluran Kencing Di
Rumah Sakit Khusus Penyakit Menular Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus Infeksi
Nosokomial Saluran Kencing Di Rumah Sakit Khusus Penyakit Menular Jakarta adalah 21 kasus dengan
persentase 85.7% dari jumlah individu yang terpasang kateter.

Pengurangan lama pemakaian kateter dapat menurunkan terjadinya infeksi saluran kencing. Pemasangan kateter
akan menurunkan sebagian besar daya tahan pada saluran kemih bagian bawah dengan menyumbat saluran di
sekeliling uretra, mengiritasi mukosa kandung kemih dan menimbulkan jalur masuknya kuman ke dalam
kandung kemih. Pada pasien yang menggunakan kateter, mikroorganisme dapat menjangkau saluran kemih
melalui tiga lintasan utama: yaitu dari uretra ke dalam kandung kemih pada saat kateterisasi; melalui jalur
dalam lapisan tipis cairan uretra yang berada di luar kateter ketika kateter dan membran mukosa bersentuhan;
dan cara yang paling sering melalui migrasi ke dalam kandung kemih di sepanjang lumen internal kateter
setelah kateter terkontaminasi (Gruendemann dan Fernsebner 2006: 288).
Kolonisasi bakteri akan terjadi dalam waktu 2 minggu pada separuh dari pasien-pasien yang menggunakan
kateter urin, dan dalam waktu 4 hingga 6 minggu sesudah pemasangan kateter pada hampir semua pasien
(Brunner & Suddarth, 2000, dalam Jurnal Penelitian Keperawatan Universitas Sumatera Utara, 2011: 1).
Tingginya infeksi setelah pemasangan kateter sebagai akibat sulitnya pengontrolan dan perawatan serta
penggantian kateter pada penderita yang memerlukan pemasangan kateter yang lama (Furqan, 2003 dalam
Jurnal Penelitian Keperawatan Universitas Sumatera Utara, 2011: 1).

Hasil studi pendahuluan di RSUD Ulin Banjarmasin pada pasien rawat inap yang terpasang kateter perbulan
adalah 183 pasien dari jumlah tersebut 7 orang atau 3,8% mengalami infeksi saluran kemih. Rata rata lama
pemasangan kateter adalah 3-7 hari.

Mencermati permasalahan di atas terdapat dugaan bahwa lama pemasangan kateter dapat menjadi penyebab
infeksi saluran kemih pada pasien yang menjalani rawat inap sehingga peneliti memandang perlu untuk
melakukan penelitian tentang Hubungan lamanya kateter terpasang dengan kejadian infeksi saluran kemih
pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang fokuskan pada penelitian ini adalah : apakah
ada hubungan lamanya kateter terpasang dengan kejadian infeksi saluran kemih pada pasien rawat inap di
Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013?.

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Menganalisis hubungan lamanya kateter terpasang dengan kejadian infeksi saluran kemih pada pasien rawat
inap di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013.
1.3.2. Tujuan Khusus
.3.2.1. Mengidentifikasi lamanya kateter terpasang pada pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin
Banjarmasin Tahun 2013.
.3.2.2. Mengidentifikasi infeksi saluran kemih pada pasien yang terpasang kateter dirawat inap di Rumah Sakit Umum
Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013.
.3.2.3. Menganalisis hubungan lamanya kateter terpasang dengan kejadian infeksi saluran kemih pada pasien rawat
inap di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Bagi Pihak Rumah Sakit
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan bagi perawat dan tenaga kesehatan lain dalam menganalisis
faktor risiko terjadinya infeksi saluran kemih pada pasien rawat inap.
1.4.2. Bagi Pemerintah
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pihak Kementrian Kesehatan dalam membuat
kebijakan terkait upaya penanggulangan terhadap kejadian infeksi saluran kemih di tatanan rumah sakit.
1.4.3. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan peneliti tentang permasalahan infeksi saluran kemih dan dapat
dipergunakan sebagai bahan rujukan bagi peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian mengenai kejadian
infeksi saluran kemih di tatanan rumah sakit.
1.5. Penelitian Terkait
Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian ini adalah :
1.5.1. Penelitian yang dilakukan Janas, Satoto dan Punjabi (1992) berjudul Infeksi Nosokomial Saluran Kencing Di
Rumah Sakit Khusus Penyakit Menular Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus Infeksi
Nosokomial Saluran Kencing Di Rumah Sakit Khusus Penyakit Menular Jakarta adalah 21 kasus dengan
persentase 85.7% dari jumlah individu yang terpasang kateter.
1.5.2. Penelitian Esti Rostika , Rachmat Susanto , Iva Puspaneli (2009) Penerapan Standar Operasional Prosedur
Keperawatan Pemasangan Kateter Pria Di Rs Margono Soekardjo Purwokerto. Penelitian bertujuan untuk
mengetahui standar prosedur keperawatan pemasangan kateter di RS Margono Soekardjo Purwokerto. Metode
penelitian menggunakan penelitian jenis rancangan deskriptif. Hasil diperoleh dengan hasil rata-rata 60,20%
dengan kategori cukup baik.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada judul, variabel, tempat dan waktu
penelitian. Judul pada penelitian ini adalah hubungan lama pemasangan kateter dengan infeksi saluran kemih
pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin. Berdasarkan judul ini terdapat dua
variabel yaitu variabel bebas lamanya kateter terpasang pada pasien yang dirawat inap dan variabel terikat
adalah infeksi saluran kencing. Tempat penelitian di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Ulin Banjarmasin.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2013.

Diposkan 23rd September 2013 oleh alli wardana


0

Tambahkan komentar

Kumpulan Skripsi Keperawatan

Klasik

Kartu Lipat

Majalah
Mozaik

Bilah Sisi

Cuplikan

Kronologis

1.

Sep

24

Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyarakat


Mengenali Gejala Penyakit Diabetes Tipe 2 Di
Wilayah Banjarmasin Utara

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes adalah salah satu penyakit kronis yang paling sering ditemukan sekarang. Diabetes melitus
(DM) adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan
abnormalitas metabolisme karbohidrat,lemak, dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi
insulin atau penurunan sensitivitas insulin, atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis
mikrovaskular, makrovaskular, dan neuropati. Seseorang di diagnosa menderita DM jika dari hasil
pemeriksaan kadar gula darah ketika puasa 126 mg/dl, kadar gula darah sewaktu 200 mg/dl, atau
pada 2 jam setelah makan 200 mg/dl atau HbA1c 8%. Jika kadar gula darah 2 jam setelah makan >
140 mg/dl tetapi lebih kecil dari 200 mg/dl dinyatakan kadar gula darah toleransi lemah (Kusnandar,
2008).

Secara umum orang yang mengalami diabetes akan merasa lapar dan haus terus menerus. Merasa selalu
lelah, tidak berenergi dan gatal. Gejala yang lain antara lain pandangan kabur dan nyeri hebat di
lambung. Di Indonesia kebanyakan diabetes yang di derita adlah diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 sering
dijumpai pada laki-laki maupun wanita yang berusia di atas 40 tahun yang memiliki kelebihan berat
badan. Diabetes melitus tipe 2 dapat memicu kemunculan berbagai penyakit yang membahayakan jiwa.
Penyakit diabetes tipe 2 dapat berkembang secara bertahap dalam hitungan bulan ataupun tahun tanpa
disadari oleh penderitanya sampai benar-benar telah berkembang sempurna (D'Adamo, 2006).

Sebagian besar penderita penyakit diabetes tipe 2 diobati dengan menggunakan satu atau lebih obat oral.
Obat- obat diabetes dikelompokan berdasarkan golongan obatnya. Ada beberapa kategori obat oral
diabetes yaitu misalnya golongan sulfonilurea yang menurunkan kadar glukosa darah dengan cara
menstimulasi pankreas untuk melepaskan lebih banyak insulin. Golongan biguanid yang meningkatkan
fungsi insulin untuk menggerakan glukosa ke dalam sel-sel tubuh, khususnya ke hati. Diagnosis lebih
awal pada penyakit diabetes akan mengurangi resiko terjadinya komplikasi (D'Adamo, 2006)

Penelitian dilakukan di wilayah Banjarmasin Utara karena di wilayah ini banyak ditemui penderita
diabetes melitus. Dari penyakit diabetes yang di derita kebanyakan merupakan diabetes tipe 2. Dari studi
pendahuluan yang dilakukan tanggal 2 Maret 2013 di wilayah Banjarmasin Utara hanya 2 dari 10 orang
yang sudah mengetahui gejala penyakit diabetes, mengetahui perbedaan antara diabetes 2 dengan
diabetes tipe 1 serta beberapa obat diabetes. Dengan ini maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengn judul Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyarakat Mengenali Gejala Penyakit
Diabetes Tipe 2 Di Wilayah Banjarmasin Utara

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah di atas maka rumusan masalah dari penelitian ini yaitu Bagaimana gambaran
tingkat pengetahuan masyarakat dalam mengenali gejala penyakit diabetes tipe 2 di wilayah
Banjarmasin Utara?.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat dalam mengenali
gejala diabetes tipe 2 di wilayah Banjarmasin Utara.
1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan bacaan dan tambahan pengetahuan agar masyarakat lebih mengetahui tentang
penyakit diabetes dan tatalaksana terapi agar dapat mencegah terjadinya penyakit diabetes
mellitus dan bagi penderita diabetes agar dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

2. Bagi Pengetahuan
Dapat dijadikan bahan bacaan untuk menambah wawasan dan acuan bagi penelitian
selanjutnya untuk perkembangan teknologi maupun terapi pengobatan diabetes mellitus.

3. Bagi Peneliti
Dapat digunakan sebagai bahan masukan dan referensi untuk penelitian selanjutnya

Diposkan 24th September 2013 oleh alli wardana

Tambahkan komentar

2.

Sep

24

pengaruh terapi kompres hangat terhadap


reaksi inflamasi pasien flebitis di instalasi rawat
inap RSUD Brigjend H. Hasan Basri Kandangan
Tahun 2013
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam ruangan
yang berdekatan atau antara satu tempat tidur dengan tempat tidur lainnya. Di tempat ini pasien
mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh, dimana enam puluh persen pasien yang dirawat
di Rumah Sakit menggunakan infuse atau yang dikenal dengan terapi intravena. Terapi intravena terjadi
disemua lingkungan keperawatan kesehatan seperti perawatan akut, perawatan emergensi, perawatan
ambulatory dan perawatan kesehatan di rumah, (Scahffer, et all, 2006). Terapi intravena berisiko
menimbulkan komplikasi yang bersifat lokal yang salah satunya akan menyebabkan flebitis sebagai
kejadian terbanyak (Weinstein, 2012: 61)

Flebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik oleh iritasi kimia, faktor mekanik maupun agen
bakteri yang sering terjadi sebagai komplikasi dari terapi vena. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO)
mencatat kejadian infeksi nosokomial di institusi pelayanan kesehatan berkisar 3-21 persen. Perwakilan
dari WHO Jenewa sekaligus ketua program WHO First Global Patient Safety Challenge dalam acara
seminar nasional Global Patients Safety Challenges: Clean Care is safer Care di Hotel Shangri-la,
infeksi nosokomial ini biasanya mengalami peningkatan sampai 10 kali lipat di beberapa Negara
berkembang (Pittet, 2009).

Jumlah kejadian flebitis menurut distribusi penyakit sistem sirkulasi darah pasien rawat inap, Indonesia
Tahun 2010 berjumlah 744 orang (17,11%), (Depkes, RI, 2008). Angka kejadian plebitis di RSU
Mokopido Tolitoli pada tahun 2006 mencapai 42,4%, (Fitria, 2007). Penelitian lain yang dilakukan di
RS DR. Sarjito Yogyakarta ditemukan 27,19% kasus plebitis pasca pemasangan infus (Baticola, 2002).
Penelitian Widianto (2002) menemukan kasus plebitis sebanyak 18,8% di RSUD Purwokerto. Dan di
instalasi rawat inap RSUD Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten tahun 2002 diemukan kejadian plebitis
sebanyak 26,5% kasus, (Saryati, 2002). Dari laporan tahunan pengendalian infeksi nosokomial RSUD
Ulin Banjarmasin pada tahun 2008 -2012, didapatkan angka kejadian flebitis sebagai komplikasi
pemasangan terapi intra vena 0,41% atau 47% dari seluruh kejadian infeksi nosokomial.

Gejala flebitis dapat berupa nyeri, bengkak, kemerahan, indurasi dan teraba seperti kabel dibagian vena
yang terpasang kateter. Respon yang paling sering dirasakan oleh pasien flebitis adalah nyeri yang
mengganggu. Metode farmakologi yang digunakan untuk penatalaksanaan nyeri meliputi analgetika
narkotika dan analgetika non narkotika, sedangkan metode non farmakologi yang digunakan seperti
mengatur posisi dengan tepat, relaksasi, distraksi, massase dan stimulasi kulit berupa kompres dapat
dilakukan untuk penatalaksanaan nyeri (Weinstein, 2012: 61)

Metode non farmakologis seperti kompres merupakan tindakan mandiri dari perawat, ekonomis dan
tidak menimbulkan efek samping. (Potter, Perry, 2005). Menurut Doengos (2010: 519) kompres hangat
dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dan meningkatkan sirkulasi oksigen pada area hipoksia
sehingga dapat menurunkan intensitas nyeri. Pada inflamasi kompres hangat akan meningkatkan aliran
darah dan melunakkan eksudat (Kozier, et all, 2009: 433)

Penelitian yang dilakukan oleh Smriti Arora, Manju Vatsa, and Vatsla Dadhwal yaitu, kompres panas
dan dingin dan daun kubis efektif dalam mengurangi pembengkakan dan nyeri payudara pada ibu
postnatal (P 0,001) daun kol dingin dan kompres panas dan dingin berdua sama-sama efektif dalam
mengurangi pembengkakan payudara (P = 0,07. ), sedangkan kompres panas dan dingin yang ditemukan
lebih efektif daripada kubis dingin daun dalam meredakan nyeri akibat pembengkakan payudara (P
0,001) pada ibu setelah melahirkan (http://www.ncbi.nlm.nih.gov)

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan penulis di RSUD Brigjend H. Hasan Basri Kandangan, bahwa
kejadian flebitis dari Bulan Januari sampai Bulan Mei 2012 berjumlah 47 orang (18,5%) dari 254
pasien rawat inap. Hal ini belum lagi jika ditambah dengan kasus flebitis yang tidak terdokumentasikan.
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti melihat bahwa pasien pasien yang terpasang infus lama dalam
jangka waktu lebih dari 24 jam sebagian besar mengalami bengkak, kemerahan, panas dan nyeri. Hal ini
menunjukkan bahwa flebitis sering terjadi di rumah sakit tersebut.

Hasil dari wawancara pada 5 orang pasien yang mengalami flebitis, 4 orang pasien mengatakan
mengalami nyeri sedang dan 1 orang mengatakan mengalami nyeri ringan. Tampak kemerahan dan
bengkak. Pasien merasakan panas pada sekitar daerah yang terpasang intravena. Berdasarkan hasil
observasi di rumah sakit umum daerah Brigjend H Hasan Basri Kandangan Tahun 2013 belum ada SOP
dalam penanganan flibitis

Flebitis yang tidak diatasi sedini mungkin dapat mengakibatkan sepsis atau infeksi seluruh tubuh dan
respon yang paling dirasakan oleh pasien berupa nyeri. Kejadian flebitis di ruang perawatan seringkali
diabaikan oleh perawat. Perawat hanya mengganti area penusukan jarum infus, namun tidak
memberikan perawatan yang memadai untuk mengatasi gelaja flebitis pasien.

Teori kompres hangat merupakan salah satu metode keperawatan untuk menurunkan rasa nyeri pasien.
Berdasarkan gambaran tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti tentang : Pengaruh Terapi
Kompres Hangat terhadap Reaksi Inflamasi Pasien Flebitis di Instalasi Rawat Inap RSUD Brigjend H.
Hasan Basri Kandangan Tahun 2013

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah : Apakah ada pengaruh terapi kompres hangat terhadap reaksi inflamasi pasien flebitis di instalasi
rawat inap RSUD Brigjend H. Hasan Basri Kandangan Tahun 2013?

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh terapi kompres hangat terhadap reaksi inflamasi pasien flebitis di
instalasi rawat inap RSUD Brigjend H. Hasan Basri Kandangan Tahun 2013.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1. Mengidentifikasi pengaruh terapi kompres hangat terhadap reaksi kemerahan
(eritema) pasien flebitis di instalasi rawat inap RSUD Brigjend H. Hasan Basri
Kandangan Tahun 2013.
1.3.2.2. Mengidentifikasi pengaruh terapi kompres hangat terhadap reaksi
pembengkakan (edema) pasien flebitis di instalasi rawat inap RSUD Brigjend H.
Hasan Basri Kandangan Tahun 2013.
1.3.2.3. Menganalisis pengaruh terapi kompres hangat terhadap reaksi nyeri pasien
flebitis di instalasi rawat inap RSUD Brigjend H. Hasan Basri Kandangan Tahun
2013.

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Bagi Instansi
Sebagai masukan kepada petugas kesehatan bahwa pentingnya pemberian heath
education pada pasien yang terpasang infus serta bahan masukan kepada pihak rumah
sakit secara umum dan perawat ruangan secara khusus dalam upaya penanganan
keperawatan mandiri dalam mengurangi nyeri pada pasien yang terjadi flebitis.
1.4.2. Bagi Pasien
Sebagai bahan masukan kepada pasien yang terpasang infus dan mengalami flebitis agar
dapat mengetahui mengenai kejadian flebitis dan penanggulangan nyeri flebitis secara
mandiri.
1.4.3. Bagi Peneliti
Menambah ilmu pengetahuan serta menjadi bahan penerapan ilmu dan informasi yang
telah didapatkan peneliti di bangku perkuliahan.
1.4.4. Bagi Akademik
Sebagai bahan masukan dalam menambah khasanah Ilmu Keperawatan
1.5. Keaslian Penelitian
1.5.1. Pengaruh Kompres Hangat terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Siswi Kelas 1SMA
Muhammadiyah 1 Surabaya. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kompres
hangat terhadap penurunan intensitas nyeri menstruasi (dismenore) pada siswi kelas 1
SMA Muhammadiyah 1 Surabaya. Populasi pada penelitian berjumlah 22 orang, teknik
sampling yang digunakan adalah Simple Random Sampling, dengan jumlah sample 20
orang. Desain penelitiannya adalah Analitik Pra Ekperimental. Variabel independen pada
penelitian ini adalah kompres hangat dan variabel dependennya adalah penurunan
intensitas nyeri menstruasi (dismenore) pada siswi. Analisa data menggunakan uji
statistik wilcoxon signed rank test. Berdasarkan hasil analisa data dengan menggunakan
uji statistik wilcoxon signed rank test dengan nilai kemaknaan p=0.000 (<0.05)
menunjukkan bahwa hasil penelitian adalah H0 di tolak dan H1 di terima berarti ada
pengaruhnya antara pemberian kompres hangat dengan penurunan intensitas nyeri
menstruasi (dismenore).
1.5.2. Pengaruh Pemberian Kompres Hangat terhadap Waktu Flatus pada Pasien Post Operasi
Seksio Caesarae di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten 2008.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompres hangat terhadap
waktu flatus pasien post operasi bedah caesar. Penelitian ini bersifat asosiatif analitik
dengan rancangan quasi eksperiment (eksperimen semu). Penelitian dilakukan pada bulan
mei-juni 2008 dengan jumlah sampel sebesar 30 pasien. Teknik sampling yang digunakan
adalah purposive sampling. Hasilnya setelah dilakukan analisa data dengan menggunakan
uji statistik t test independent maka didapatkan hasil nilai t hitung = 6,504 dan nilai
signifikansi (r) 0,000, sehingga jika dibandingkan dengan t tabel = 1,83 dan = 1%,
maka t hitung > t tabel dan < 0,01, sehingga Ho ditolak. Kesimpulannya adalah ada
pengaruh pemberian kompres hangat terhadap waktu flatus pada pasien post operasi
caesar.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada judul, variable,
tempat dan waktu pelaksanaan penelitian.

Diposkan 24th September 2013 oleh alli wardana

Tambahkan komentar

3.
Sep

24

hubungan antara peran perawat sebagai


konselor dengan kecemasan pasien gagal ginjal
di ruang hemodialisa Rumah Sakit Umum
Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ginjal mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh,
karena ginjal adalah adalah salah satu organ vital dalam tubuh. Usia dari populasi penduduk dan adanya
peningkatan pravelensi penyakit yang menjadi penyebab penyakit ginjal kronik. Gagal ginjal dapat
menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin berkembang di masa depan.

Gagal ginjal adalah hilangnya fungsi ginjal ,apabila hanya 10% dari ginjal yang berfungsi pasien
dikatakan sudah sampai pada penyakit ginjal end-stage renal disease (ESRD) atau penyakit ginjal tahap
akhir (Baradero, 2008).

Gagal ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal tiba-tiba yang ditentukan dengan peningkatan kadar
BUN dan kreatinin plasma, Haluaran urine dapat kurang dari 40 ml per jam (oliguria), tetapi mungkin
juga jumlahnya normal atau kadand-kadang dapat meningkat (Siswandi, 2008).
Gagal ginjal kronik terjadi apabila kedua ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan dalam
yang cocok untuk kelangsungan hidup (Wilfrid, 2008).

Di Amerika Serikat, sekitar 5% dari pasien yang dirawat di rumah sakit mengalami Acute Renal Failure
(ARF) dan 30% dari pasien yang dirawat di unit perawatan intensif menderita ARF. Pada pasien ARF,
50% mengalami oliguria dan 80% pasien ini meningal. Dari kasus ARF instrinsik, 90% adalah nekrosis
tubular akut (Baradero, 2008).

Indonesia termasuk negara dengan tingkat penderita gagal ginjal yang cukup tinggi. Menurut data dari
Penetri (Persatuan Nefrologi Indonesia) di perkirakan ada 70 ribu penderita ginjal di Indonesia,
Indonesia termasuk negara dengan tingkat penderita gagal ginjal cukup tinggi. Namun yang terdeteksi
menderita gagal ginjal kronis tahap terminal dari mereka yang menjalani cuci darah (hemodialisa)
hanya sekitar 4 ribu sampai 5 ribu saja ini dari jumlah penderita ginjal yang mencapai 4500 orang.
Banyak penderita yang meninggal dunia akibat tidak mampu berobat dan cuci darah yang bianya sangat
mahal (Vita Health, 2008).

Hasil studi pendahuluan pada 5 Mei 2013, dari data rekam medik bagian hemodialisa pada tahun 2009
total tindakan hemodialisa sebanyak 14.402 tindakan dengan total pasien 230 orang. Pada tahun 2010
total tindakan hemodialisa sebanyak 15.077 tindakan dengan total pasien 227 orang. Pada tahun 2011
terdapat total tindakan hemodialisa sebanyak 15.358 tindakan dengan total pasien 240 orang. Sedangkan
pada tahun 2012 tindakan hemodialisa sebanyak 15.635 tindakan dengan total pasien 262 orang.

Dampak psikologis pasien gagal ginjal sangat bervariatif seperti contohnya kecemasan. Kecemasan
dalam istilah medisnya sering disebut dengan ansietas,yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan
tidak berdaya. Keadaan ini tidak memiliki objek yaang spesifik. Kondisi dialami secara subjektif dan
dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Murwani, 2009).
Perawat merupakan suatu profesi yang memberikan pelayanan langsung selama 24 jam kepada pasien
sehingga perawat dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi, salah satunya
mengemban beberapa peran saat mereka memberi asuhan kepada kliennya. Perawat sering menjalankan
peran ini secara bersamaan, tanpa membedakan satu peran dengan yang lain. Peran yang dibutuhkan
pada waktu tertentu bergantung pada kebutuhan klien dan aspek dalam lingkungan tertentu. Perawat
sebagai pemberi asuhan, komuikator, pendidik, advokat, konselor, agen pengubah, pemimpin, manejer,
manejer kasus, perluasan peran karier (Kozier, dkk, 2010).

Peran perawat sebagai konselor membantu klien mengenali dan menghadapi masalahmasalah
psikologis dan sosial serta untuk membina hubungan intrapersonal dan untuk meningkatkan
perkembangan personal (Kozier, dkk, 2010).

Perawat adalah profesi yang bersifat pekerjaan selalu berada dalam situasi yang menyangkut

hubungan antarmanusia, terjadi proses interaksi serta saling mempengaruhi dan dapat memberikan

dampak terhadap tiap-tiap individu yang bersangkutan. Keperawatan sebagai suatu pelayanan

profesional bertujuan untuk tercapainya kesejahteraan manusia. Sebagai suatu profesi, perawat

mempunyai kontrak sosial dengan masyarakat. Ini berarti masyarakat memberi kepercayaan bagi

perawat untuk terus-menerus memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan (Mimin,

2006).

Peran perawat sebagai konselor dilakukan dengan cara memberikan informasi kepada klien mengenai
hal hal yang perlu diketahuinya, membantu klien dalam mencari solusi dari problem yang dihadapinya,
membimbing klien dan lain lain. Peran ini apabila dilaksanakan dengan baik akan berpengaruh dalam
mengurangi kecemasan klien gagal ginjal

Hasil wawancara dengan pasien yang menjalani hemodialisa di ruang hemodialisa dengan 7 dari 8
pasien merasa cemas saat menjalani proses hemodialisa, baik dari segi tingkat kesembuhan dan apa yang
akan terjadi dalam dirinya.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan
antara peran perawat sebagai konselor dengan kecemasan pasien gagal ginjal di ruang hemodialisa
Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah yang akan diteliti adalah Apakah ada
hubungan antara peran perawat sebagai konselor dengan kecemasan pasien gagal ginjal diruang
hemodialisa Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum


Mengetahui hubungan peran perawat sebagai konselor dengan kecemasan pasien gagal
ginjal di ruang hemodialisa Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013.

1.3.2. Tujuan Khusus


1.3.2.1. Mengetahui peran perawat sebagai konselor pada pasien gagal ginjal di ruang
hemodialisa Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013.
1.3.2.2. Mengetahui kecemasan pasien gagal ginjal di ruang hemodialisa Rumah Sakit
Umum Daerah Ulin Banjarmasin Tahun 2013
1.3.2.3. Menganalisis hubungan antara peran perawat sebagai konselor dengan
kecemasan pasien gagal ginjal diruang hemodialisa Rumah Sakit Umum Daerah
Ulin Banjarmasin Tahun 2013

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Bagi Rumah Sakit


Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang dapat digunakan,memberikan
sumbangan pengetahuan dan menambah wawasan tentang hubungan peran perawat
sebagai konselor dengan aspek kecemasan pasien gagal ginjal di ruang hemosialisa
RSUD Ulin Banjarmasin dan dapat digunakan sebagai bahan dan data untuk penelitian
selanjutnya.
1.4.2. Bagi Perguruan Tinggi
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kepustakaan bagi seluruh mahasiswa
keperawatan
1.4.3. Bagi Peneliti lain
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi dan menjadi bahan referensi bagi
peneliti selanjutnya.

1.5. Penelitian Terkait

Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian ini namun berbeda dari segi judul, variabel,
tempat dan waktu penelitian adalah yang dilakukan oleh : Ayu Suhartini Hubungan Kecemasan
Terhadap Keteraturan Menstruasi Pada Remaja Di SMAN 1 Marabahan. Metode penelitian: jenis
penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Teknik sampling adalah purposive sampling. Besar
sampel 68 responden.

Hasil penelitian : tingkat kecemasan yang dialami responden paling banyak adalah kecemasan ringan
dengan jumlah 35 orang (51.5%). Sebagian besar responden teratur siklus menstruasinya berjumlah 45
orang (66.2%) namun terdapat 23 orang (33.8%) yang tidak teratur menstruasinya. Berdasarkan uji
statistik spearman rho Marabahan p 0.002 < 0.05 correlation coefficient 0.363 sehingga dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan yang positif antara tingkat kecemasan dengan keteraturan menstruasi
pada remaja putri di SMAN1 Marabahan. Nilai kekuatan hubungan adalah sedang.

Diposkan 24th September 2013 oleh alli wardana

Tambahkan komentar
4.

Sep

23

hubungan perilaku ibu menyusui dengan


produksi ASI pada saat menyusui di Wilayah
Puskesmas Tapin Utara Kabupaten.Tapin
Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2013

hubungan perilaku ibu menyusui dengan produksi ASI pada saat menyusui di Wilayah Puskesmas Tapin
Utara Kabupaten.Tapin Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

ASI eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa makanan dan minuman lain. Pemberian ASI
eksklusif dianjurkan sampai enam bulan pertama kehidupan bayi. Pada tahun 1999, setelah pengalaman
9 tahun, United Nations Children Fund (UNICEF) memberikan klarifikasi tentang rekomendasi jangka
waktu pemberian ASI eksklusif yaitu selama 6 bulan yang dituangkan dalam Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia dengan SK No.450/Menkes/SK/IV/2004 (Depkes RI, 2005).

Pemberian ASI eksklusif dapat menurunkan resiko bayi mengidap berbagai penyakit seperti radang
paru-paru, diare, infeksi/peradangan telinga, asma, kencing manis, overweight dan beberapa infeksi
lainnya yang disebabkan oleh kuman. Bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif mempunyai
kemungkinan lebih besar menderita kekurangan gizi, obesitas, kanker, jantung, hipertensi dan diabetes.
(Suradi dan Roesli, 2008)

Menyusui secara ekslusif pada dasarnya hanya dilakukan oleh sebagian ibu saja, dan masih banyak ibu
yang tidak menyusui secara ekslusif. Menurut WHO (2007) ibu yang menyusui secara ekslusif hanya
sekitar 60%. Diperkirakan sekitar 171 juta anak didunia tidak memiliki kesempatan disusui secara
ekslusif (www.savechildren.org. diakses tanggal 04 Januari 2013)

Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, terlihat adanya tendensi penurunan pemberian ASI. Di kota-
kota besar banyak ibu-ibu bekerja untuk mencari nafkah sehingga tidak dapat memberikan ASI nya
dengan baik dan teratur. Faktor lain, adalah pengaruh pemakaian pil Keluarga Berencana (KB), gengsi
agar kelihatan lebih modern dan karena pengaruh iklan. Alasan lain ibu tidak memberikan ASI adalah
penyakit seperti kanker payudara, dan kurangnya pasokan susu. (Proverawati dan Rahmawati, 2010)

Berdasarkan hasil Riskesdas (2010), pemberian ASI pada bayi di bawah 6 bulan belum memuaskan.
Pemberian ASI pada umur 0-1 bulan 45,4%, 2-3 bulan 38,3%, dan 4-5 bulan 31%. Secara keseluruhan
cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia tahun (2010) hanya 20% jauh dari target yang ditetapkan
yaitu 80%. Dari hasil Riskesdas, jenis makanan prelaktal yang paling banyak diberikan ialah susu
formula 71,3% (Riskesdas, 2010).

Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, ditemukan berbagai alasan ibu-
ibu menghentikan pemberian ASI eksklusif kepada bayinya, diantaranya produksi ASI kurang (32%),
ibu bekerja (16%), ingin dianggap modern (4%), masalah pada putting susu (28%), pengaruh iklan susu
formula (16%) dan pengaruh orang lain terutama suami (4%). (Depkes RI, 2005).

Produksi ASI yang kurang ternyata merupakan salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi ibu dalam
memberikan ASI Ekslusif, sehingga hal ini perlu diperhatikan. Produksi ASI yang kurang dapat terjadi
karena faktor seperti makanan yang kurang bergizi, kejiwaan seperti stres dan kecemasan dan
penggunaan kontrasepsi yang berisi hormon estrogen. (Arifin 2011).

Selain faktor di atas, peneliti beranggapan bahwa produksi ASI juga dapat dipengaruhi oleh faktor
perilaku ibu yang kurang baik dalam upaya peningkatan produksi ASI. Perilaku ibu dalam upaya
meningkatkan produksi ASI merupakan sesuatu yang penting untuk keberhasilan program ASI. Upaya
untuk meningkatkan produksi ASI yaitu dengan mengelola menu makan yang bergizi, meningkatkan
frekuensi menyusui, mengosongkan payudara setelah anak selesai menyusui, menjaga kondisi psikologi
ibu, rileks dan menghindari stres, hindari susu formula (memberikan ASI eksklusif), hindari dot, dan
melakukan perawatan payudara (Meidya, 2007).

Jika ibu tidak melakukan hal ini dengan baik maka ada kemungkinan ibu tersebut tidak dapat
memproduksi dalam jumlah yang banyak dan ASI pun menjadi tidak lancar.

Menurut Soetijiningsih et al (2010) apabila ibu tidak mengatur pola makannya dengan baik seperti tidak
makan makanan yang bergizi, sedikit minum,merokok, jarang menyusukan bayi, bayi sering
menggunakan empongan, ibu tidak menghindari kecemasan dan stress. Hal ini dapat menurunkan
produksi ASI.

Fenomena yang sering terjadi di tempat penelitian adalah bahwa pada umumnya masih banyak ibu yang
tidak tahu bagaimana cara meningkatkan produksi ASI. Kurangnya pengetahuan ini menyebabkan ibu
memiliki perilaku yang kurang baik dalam upaya meningkatkan produksi ASI dan hal ini dapat
menjadikan produksi ASI terganggu, ASI sedikit dan menjadi tidak lancar serta ibu tidak dapat menyusui
bayinya selama 6 bulan.

Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 23 November 2012 di Wilayah Puskesmas Tapin Utara
terhadap 12 ibu yang memberikan susu formula ditemukan 4 orang (33.3%) menyatakan bahwa hal
tersebut mereka lakukan karena produksi ASI tidak banyak, dan ASI tidak mau keluar. Ketika
ditanyakan apakah anaknya sering sakit selama diberikan susu formula. Ibu tersebut menyatakan kalau
anaknya kadang-kadang sakit selama diberikan susu formula. Ketika ditanyakan apakah sebelumya ibu
mengetahui tentang cara meningkatkan produksi ASI dan apakah pernah melakukan cara cara tersebut.
Ibu tersebut menyatakan tidak tahu dan tidak pernah melakukannya.

Berdasarkan pemaparan tersebut maka peneliti beranggapan bahwa ada hubungan antara perilaku ibu
menyusui dengan produksi ASI pada saat menyusui.

Berdasarkan anggapan dasar tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh pada penelitian
yang berjudul Hubungan perilaku ibu menyusui dengan produksi ASI pada saat menyusui di Wilayah
Puskesmas Tapin Utara Kabupaten.Tapin Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2013.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan di atas maka rumusan masalah penelitian ini adalah :

Apakah ada hubungan perilaku ibu menyusui dengan produksi ASI pada saat menyusui di Wilayah
Puskesmas Tapin Utara Kabupaten.Tapin Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2013?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum


Menganalisis hubungan perilaku ibu dengan peningkatan produksi ASI di Wilayah
Puskesmas Tapin Utara Kabupaten.Tapin Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2013
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1. Mengidentifikasi perilaku ibu dalam upaya meningkatkan produksi ASI di
Wilayah Puskesmas Tapin Utara Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan
Tahun 2013
1.3.2.2. Mengidentifikasi Produksi ASI di Wilayah Puskesmas Tapin Utara Kabupaten
Tapin Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2013
1.3.2.3. Menganalisis hubungan perilaku ibu dengan produksi ASI di Wilayah Puskesmas
Tapin Utara Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2013
1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Bagi Puskesmas


Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi petugas puskesmas
dalam upaya memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu menyusui yang ada
diwilayahnya berkenaan dengan tata cara meningkatkan produksi ASI.
1.4.2. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi masyarakat setempat
khususnya ibu hamil agar mampu melakukan upaya upaya yang dapat meningkatkan
produksi ASI.
1.4.3. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan oleh peneliti selanjutnya yang tertarik
meneliti permasalahan yang sama.

1.5. Keaslian Penelitian

Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.5.1. Hermaliana dengan judul Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI
Eksklusif, desain penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan
Cross Sectional. Hasil penelitian didapatkan dari 49 ibu menyusui yaitu 36 responden
(73.5%) tidak memberikan ASI Eksklusi dan 13 responden (26.5%) memberikan ASI
Eksklusif.
1.5.2. Rini Hermadayanti Gambaran Perilaku Ibu Tidak Memberikan ASI Eksklusif, desain
penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Hasil
penelitian didapatkan 35 responden (75.0%) sibuk bekerja dan 15 responden (25.0%) air
susu tidak keluar lagi.
1.5.3. Maya Lestari dengan judul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu Dalam Memberikan
ASI Eksklusif, desain penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan
Cross Sectional. Hasil penelitian didapatkan 30 responden (79,5%) air susunya cukup
dan 10 responden (20.5%) lebih mudah memberikannya.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada judul, variebel dan tempat
dilakukannya penelitian. Judul pada penelitian ini hubungan perilaku ibu menyusui dengan produksi
ASI pada saat menyusui di Wilayah Puskesmas Tapin Utara Kabupaten Tapin. Variabel yang diteliti
adalah perilaku ibu menyusui sebagai variabel bebas dan produksi ASI pada saat menyusui sebagai
variabel terikat. Tempat penelitian di Puskesmas Tapin Utara. Penelitian dilakukan pada tahun 2013.

Diposkan 23rd September 2013 oleh alli wardana


0

Tambahkan komentar

5.

Sep

23

Hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga


dengan Kepatuhan Minum Obat Akarbosa Pada
Penderita Diabetes Mellitus Di RSUD Ulin
Banjarmasin Kalimantan Selatan
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Gaya hidup masyarakat menjadi salah satu permasalahan yang membawa dampak besar pada kesehatan.
Banyak orang yang sekarang ini kurang memperhatikan gaya hidupnya seperti makan, minum, dan
beraktivitas. Masyarakat pada umumnya lebih suka makan makanan yang tinggi kadar gula atau lemak,
dan kurang beraktivitas, hal ini menyebabkan mereka mudah menderita penyakit yang salah satunya
adalah diabetes mellitus (Sukandar, 2009: 26 )

Diabetes mellitus (DM) adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai hiperglikemia akibat defek
pada; Kerja insulin (resistensi insulin) dihati (peningkatan produksi glukosa hepatik) dan di jaringan
perifer otot dan lemak, Sekresi insulin oleh sel beta pankreas, atau keduanya (Soegondo, 2008: 9)

Sekarang ini diabetes mellitus banyak diderita oleh masyarakat, kasus diabetes mellitus di seluruh dunia
selalu mengalami peningkatan pada tahun (2010) sebanyak 306 juta orang, sedangkan di negara-negara
Asia Tenggara terdapat sekitar 19,4 juta orang (www.library.upnvj.ac.id. diakses tanggal 3 April 2013).
Penyakit ini juga banyak terjadi di Indonesia. Pada tahun (2011) penderita diabetes mellitus di Indonesia
tidak kurang dari 5 juta orang, dimana baru 50% yang sadar mengidapnya, dan baru 30% di antara
mereka yang datang berobat secara teratur (http://etd.eprints.ums.ac.id Diakses tanggal 19 September
2012).

Di Provinsi Kalimantan Selatan, pasien penderita DM rawat jalan di seluruh rumah sakit, umur lebih
dari 65 tahun di Banjarmasin menduduki urutan ke-7 dari 20 penyakit terbanyak dengan jumlah
penderita 123 orang (6,45%) sedangkan untuk pasien rawat inap jumlah pasien yang berusia lebih dari
65 tahun menduduki urutan ke-6 dengan jumlah penderitanya 200 orang (4,46%). (Dinas Kesehatan
Provinsi Kalimantan Selatan, 2011).

Kasus diabetes mellitus di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin pada tahun bulan Mei 2013
untuk kunjungan pasien rawat jalan dengan diagnosa Diabetes Mellitus di Poliklinik Penyakit Dalam
berjumlah 589 pasien

Penderita DM umumnya berisiko mengalami peningkatan kadar gula darah setelah makan. Apalagi jika
makanan yang dikonsumsi mengandung karbohidrat tinggi, gula dan lemak sehingga tidak jarang
mereka mengalami hiperglikemia yang mengakibatkan berisko mengalami komplikasi. Komplikasi
akibat diabetes tersebut dapat diminimalkan dengan mengontrol kadar gula darah. Mengontrol kadar
gula darah dapat dilakukan dengan terapi misalnya patuh meminum obat diabetes. Sekarang ini masih
banyak penderita diabetes mellitus yang tidak mematuhi anjuran minum obat. Data yang ditemukan
ternyata tingkat kepatuhan terapi jangka panjang pada penderita DM hanya mencapai sekitar 50%
(Mosjab et al 2011: 4)

Menurut Niven (2009: 33) penyebab ketidakpatuhan adalah kurangnya pengetahuan penderita tentang
regimen pengobatan. Kurangnya dukungan dari keluarga.
Akarbosa merupakan salah satu golongan obat yang sering digunakan untuk terapi penderita diabetes
mellitus. Obat ini umumnya diberikan dengan dosis awal 50 mg dan dinaikkan secara bertahap sampai
150-600 mg/hari. Dianjurkan untuk mengkonsumsinya bersama segelas penuh air pada suap pertama
sarapan, diasup bersama makanan. Acarbose terutama sangat bermanfaat bagi pasien DM yang
cenderung meningkat kadar gula darahnya segera setelah makan (hiperglikemia postprandial), pasien
DM yang diterapi dengan insulin, umumnya akan menurun penggunaan insulinnya jika sudah
dikombinasi dengan akarbosa. Akarbosa bekerja dengan cara memperlambat proses pencernaan
karbohidrat menjadi glukosa dengan demikian kadar glukosa darah setelah makan tidak meningkat
tajam. Efek samping akarbosa adalah menyebabkan perut menjadi kembung, sering buang angin, diare,
dan sakit perut (Tobing et al 2011: 43).

Anjuran minum obat akarbosa harus dipatuhi yaitu saat makan atau ketika suapan pertama untuk
mendapatkan efek yang diharapkan yaitu untuk mencegah meningkatnya kadar gula darah setelah
makan, apabila diminum setelah makan maka tidak akan mendapatkan efek yang diharapkan. Masalah
yang ditemukan di tempat penelitian berdasarkan hasil studi pendahuluan pada Mei 2013 di RSUD Ulin
Banjarmasin, jumlah kunjungan pasien DM pada bulan Maret 2013 adalah 589 pasien. Berdasarkan
hasil pengamatan terhadap 10 pasien. 4 pasien (40%) terdapat indikasi terjadi peningkatan kadar gula
darah berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang tertera pada status pasien. Berdasarkan hasil
wawancara dengan 10 pasien diperoleh keterangan 7 pasien tidak mematuhi anjuran terapi pengobatan
yaitu 3 tidak minum sama sekali obat akarbosa yang dianjurkan, 4 pasien tidak mematuhi tata cara
penggunaan obat akarbosa seperti mengkonsumsi obat tersebut justru setelah makan kadang lebih dari
satu jam setelah makan, padahal obat tersebut harus dikonsumsi pada saat makan yaitu pada suapan
pertama. Ketidakpatuhan seperti ini dapat mengakibatkan penderita berisiko mengalami peningkatan
kadar gula darah, bagi yang mengonsumsi obat akarbosa setelah makan justru tidak mendapatkan efek
yang diharapkan sebab obat tersebut hanya mempengaruhi kadar gula darah pada waktu makan dan
tidak mempengaruhi setelah itu.

Ketidakpatuhan pasien DM minum obat disebabkan karena kurangnya pengetahuan, dan kurangnya
dukungan keluarga. Kurangnya pengetahuan mengenai regimen pengobatan, manfaat obat/terapi
menyebabkan pasien tidak patuh sepenuhnya melaksanakan anjuran pengobatan. Hal ini disebabkan
karena pengetahuan merupakan dasar bagi perilaku kesehatan. Pengetahuan yang baik mengenai
pengobatan akan menjadikan perilaku pengobatan baik, sebaliknya pengetahuan yang kurang dapat
menyebabkan perilaku pengobatan yang kurang baik pula. Hasil temuan wawancara dengan 10 pasien
Diabetes Melitus (30%) pasien yang tidak minum obat sama sekali disebabkan karena mereka tidak tahu
bahwa obat yang diberikan adalah untuk mengendalikan kadar gula darah. Sedangkan (40%) pasien
yang minum obat tidak sesuai waktu yang dianjurkan disebabkan karena mereka tidak tahu bahwa obat
acarbose diminum sewaktu makan, mereka tidak mengetahui bahwa apabila menggunakan obat ini
setelah makan justru tidak memperoleh efek yang diharapkan.

Dukungan keluarga seperti orang orang di sekitar pasien (suami, istri, anak) yang turut serta
memberikan informasi mengenai pentingnya minum obat, memotivasi, mengawasi pasien dalam minum
obat juga mempengaruhi kepatuhan pasien untuk minum obat. Kurangnya dukungan dapat mengurangi
kepatuhan minum obat. Dukungan keluarga terhadap pasien dalam minum obat merupakan faktor
penting yang harus diperhatikan sebab pasien dan keluarganya merupakan satu sistem yang saling
mempengaruhi sehingga apabila orang orang dalam keluarga mendukung dan memperhatikan pasien
dalam minum obat maka akan mengakibatkan pasien lebih patuh untuk minum obat, namun hal ini
seringkali tidak diperhatikan oleh keluarga pasien. Temuan hasil wawancara dengan 10 pasien diabetes
melitus diperoleh keterangan bahwa keluarga tidak memberikan informasi apa apa mengenai pengobatan
sebanyak (60%), dan tidak mengawasi pasien minum obat (40%). Keluarga pasien umumnya tidak tahu
menahu mengenai pengobatan dan dukungan yang mereka berikan pun kurang. Hal ini dapat menjadi
penyebab pasien menjadi tidak patuh dalam melaksanakan anjuran pengobatan.

Menelaah permasalahan di atas maka peneliti memandang perlu untuk melakukan penelitian tentang:
Hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat Akarbosa Pada
Penderita Diabetes Mellitus Di RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan Selatan

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini:

Apakah ada hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat akarbosa
pada pasien diabetes mellitus Di RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan Selatan?.
1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum


Mengetahui hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum
obat akarbosa pada pasien diabetes mellitus Di RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan
Selatan

1.3.2. Tujuan Khusus


1.3.2.1. Mengidentifikasi pengetahuan tentang obat akarbosa pada pasien diabetes melitus
di RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan Selatan
1.3.2.2. Mengidentifikasi dukungan keluarga pada pasien diabetes melitus dalam minum
obat di RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan Selatan
1.3.2.3. Mengidentifikasi kepatuhan minum obat akarbosa pada pasien diabetes melitus di
RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan Selatan
1.3.2.4. Menganalisis hubungan pengetahuan dengan kepatuhan minum obat akarbosa
pada pasien diabetes melitus di RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan Selatan
1.3.2.5. Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat
akarbosa pada pasien diabetes melitus di RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan
Selatan.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Bagi Petugas Kesehatan


Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi petugas kesehatan di RSUD
Ulin Banjarmasin Kalimantan Selatan dalam memberikan konseling kepada pasien yang
diberikan obat acarbose sebagai terapi
1.4.2. Bagi Profesi Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi penelitian keperawatan periode
selanjutnya dan dapat digunakan untuk membuat perencanaan tindakan pada pasien DM
yang menjalani terapi pengobatan
1.4.3. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan peneliti tentang perilaku pasien dalam
terapi pengobatan diabetes melitus.

1.5. Penelitian Terkait


Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian ini, namun judul, tempat, responden,
variabel dan waktu penelitian berbeda adalah sebagai berikut :

1.5.1. Zakiah (2006) Pengaruh pelaksanaan terhadap kepuasan tindakan discharge planing
pada pasien Diabetes Mellitus di ruang rawat inap kelas II dan III RSU PKU
Muhammadiyyah Yogyakarta. Penelitian tersebut menggunakan 30 responden yang
diambil secara aksidental sampel dengan metode penelitian desain one shot case study
dengan pendekatan cross sectional. Kesimpulan penelitian ini adalah ada pengaruh yang
signifikan antara pelaksanaan terhadap kepuasan tindakan discharge planing pada pasien
Diabetes Mellitus. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada
variable, tempat dan waktu penelitian. Variabel pada penelitian ini adalah pengetahuan,
dukungan keluarga sebagai variable bebas sedangkan kepatuhan minum obat akarbosa
pada pasien DM sebagai variable terikat. Tempat peneliti di Rumah Sakit Dr Moch
Ansari Saleh Banjarmasin tahun 2013. Persamaannya penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya terletak pada permasalahan penyakit yang diteliti yaitu diabetes melitus dan
rancangan penelitian yaitu dengan rancangan cross sectional
1.5.2. Hiswani & Rasmaliah. (2010). Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyakit Diabetes
Mellitus Tipe 2 Di Desa Sekip Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang.
Penelitian analitik korelasional dengan desain cross sectional. Tujuan penelitian untuk
mengetahui faktor yang berhubungan dengan penyakit DM tipe 2 di Desa Sekip
Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang tahun 2010. Perbedaan penelitian ini
dengan penelitian sebelumnya terletak pada variable, tempat dan waktu penelitian.
Variabel pada penelitian ini adalah pengetahuan, dukungan keluarga sebagai variable
bebas sedangkan kepatuhan minum obat akarbosa pada pasien DM sebagai variable
terikat. Tempat peneliti di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2013. Persamaannya penelitian
ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada permasalahan penyakit yang diteliti yaitu
diabetes melitus. Jenis dan rancangan penelitian yaitu analitik korelasional dengan
rancangan cross sectional

Diposkan 23rd September 2013 oleh alli wardana

Tambahkan komentar

6.
Sep

23

Faktor faktor yang berhubungan dengan


insomnia pada santriwati Madrasah Aliyah Al-
Falah Putri Banjarbaru

Faktor faktor yang berhubungan dengan insomnia pada santriwati Madrasah Aliyah Al-Falah Putri
Banjarbaru

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Insomnia merupakan gangguan tidur yang seringkali ditemukan pada masyarakat baik kelompok remaja,
dewasa ,maupun usia lanjut. Insomnia adalah gangguan tidur dimana seseorang secara terus menerus
mengalami kesulitan tidur atau bangun tidur terlalu cepat (Yustinus Semiun, 2006: 33). Seorang
pengidap insomnia biasanya sulit untuk tidur, namun sering bangun terlalu awal dipagi hari, sering
terbangun dimalam hari, seorang yang insomnia sering tidak merasa segar dan sulit berkonsentrasi
(Subandi 2008: 4)

Penderita insomnia tergolong cukup besar. Berdasarkan data di Amerika kasus insomnia mencapai 25 %
hingga 35 % dari populasi untuk insomnia jenis transient, sedang untuk insomnia kronis mencapai 10 %
hingga 15 %. Hasil survei Warwick Medical School dari Inggris terhadap Negara Negara di Afrika dan
Asia diperoleh sekitar 150 juta orang dewasa mengalami gangguan tidur. Rata rata 16,6 % kasus
insomnia diantara Negara Negara yang disurvei tersebut. Angka ini mendekati Negara Negara barat
yaitu sekitar 20% (http//detik.com diakses tanggal 12 Desember 2012)
Menurut Andreas (2009: 36) fakta tentang pola tidur dewasa muda(remaja) di Amerika Serikat (National
Sleep Foundation ) terdapat lebih dari sekitar 30% dewasa muda dilaporkan mengalami kesulitan untuk
bangun pagi dibandingkan dengan 20% pada usia 30-64 tahun dan 9% diatas usia 65 tahun

Survei yang melibatkan 4.005 orang di Taiwan baru-baru ini menemukan 21,8 persen penduduk Taiwan
memiliki masalah tidur akut."Persentase penderita insomnia di Taiwan lebih tinggi dibandingkan
persentase dunia, sekitar 10-15 persen," ujar Dokter Lee Hsin-Chien, seperti dikutip Strait Times.
Direktur Psikiatri di Rumah Sakit Shuang-Ho Taipei ini menyebutkan jumlah penderita insomnia di
Taiwan sepanjang 2009 meningkat drastis dibandingkan 2000 lalu yang mencapai 10 persen.(
http:dunia.vivanews.com diakses tanggal 17 mei.

Sementara sumber lain memperkirakan ada 28 juta penderita insomnia di Indonesia pada tahun 2010
untuk asumsi 10 % dan penderita insomnia setiap tahunnya terus meningkat. Insomnia merupakan
penyakit yang berdampak merugikan, Sebab bisa memicu turunnya produktivitas, kualitas hidup
maupun terjadinya kecelakaan kerja . Terlebih jumlah sekitar 28 juta bukanlah angka yang sedikit.
Sangat disayangkan hanya sedikit yang menyadari pengaruh penyakit ini.
(http;nationalgeographic.co.id di akses pda tanggal 17 mei 2012)

Beberapa dampak serius gangguan tidur (insomnia) adalah mengantuk berlebihan di siang hari,
gangguan atensi dan memori, mood depresi, sering terjatuh, penggunaan hipnotik yang tidak semestinya,
dan penurunan kualitas hidup. Angka kematian, angka sakit jantung dan kanker lebih tinggi pada
seseorang yang tidurnya kurang dari 6 jam per hari bila dibandingkan dengan seseorang yang lama
tidurnya antara 7-8 jam per hari (http://www.aipni-ainec.com diakses tanggal 18 Desember 2012)

Insomnia mengakibatkan banyak pengaruh buruk pada seseorang seperti mengantuk, kurang
konsentrasi, perasaan letih dan lemah karena kurang istirahat, ketahanan tubuh melawan penyakit
berkurang, ketidakstabilan emosional , terlihat pemarah, cerewet, gelisah, depresi dan lain sebagainya
http://digilib.fk.umy.ac.id/Galih Puspitasari, Warih Andan Puspitosari
Menurut Turana , dalam Lukman Junaidi (2007: 310) penderita insomnia potensial mengalami gangguan
memori, mudah lupa, juga ia tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan aktifitas kesehariannya bahkan
hingga yang paling sepele sekalipun, selain itu insomnia juga menyebabkan seseorang kehilangan
motivasi, tidak bersemangat dan malas bekerja

Insomnia merupakan penyakit tidur yang disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti stress, cemas,
lingkungan yang bising atau kurang nyaman, obat obatan, dan kebiasan mengonsumsi cafein

Menuut Rafiudin (2004: 58) penyebab insomnia antara lain adalah stress, kelainan kelainan kronis
seperti penyakit ginjal, diabetes, atrithis dll, pola makan yang buruk, seperti nikotin, cafein dan zat
stimulan, kurang olahraga, dan suasana ramai/berisik

Sejalan dengan hal tersebut menurut Junaidi (2007: 309) insomnia dapat tejadi karena faktor stres,
ketegangan, penggunaan obat obatan, cafein dan alkohol, lingkungan yang menggangu/bising/ribut,
suhu, dan suasana lingkungan tempat tidur yang kurang nyaman.

Fenomena sekarang ini insomnia juga dapat dialami oleh remaja sekolah, terutama mereka yang tinggal
di pondok pesantren. Pesantren merupakan tempat tinggal sekaligus tempat menuntut ilmu yang pada
umumnya menerapkan disiplin ketat sehingga kebebasan remaja yang tinggal disana menjadi berkurang.
Hal ini dapat menimbulkan stress yang berdampak pada insomnia. Selain itu lingkungan pesantrin juga
dapat menjadi faktor penyebab insomnia. Remaja yang tinggal dipesantren harus tidur berdekatan
dengan teman temannya yang lain sedangkan ruang tidur sempit. Hal ini dapat menimbulkan
ketidaknyaman yang dapat menganggu tidur, akibatnya insomnia.

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan disalah satu pesantren di Banjar Baru pada tanggal 10
Desember 2011. Berdasarkan hasil wawancara terhadap 10 santriwati Madrasah Aliyah Al-Falah Putri
Banjarbaru. Diperoleh keterangan bahwa 60% dari 10 santriwati mengalami gangguan tidur berupa sulit
tidur dan sering terbangun tengah malam. Berdasarkan hasil wawancara dengan 10 santriwati tersebut 4
orang yang mengalami kesulitan tidur menyatakan stress karena harus peraturan disiplin dan lingkungan
sekitar yang membuat mereka jenuh. Ketika peneliti melakukan observasi terhadap faktor lain yang
berpotensi menyebabkan santriwati mengalami gangguan tidur tampak suasana lingkungan tempat tidur
santri tidur berdamping dengan teman temannya, dan terkadang rebut. Santriwati juga sering minum the,
dan soft drink. Hasil pengamatan tersebut maka peneliti beranggapan bahwa terdapat beberapa faktor
yang dapat menyebabkan insomnia pada santri yaitu stress, kondisi lingkungan yang kurang nyaman,
dan konsumsi kafein

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut permasalahan ini
pada penelitian yang berjudul Faktor faktor yang berhubungan dengan insomnia pada santriwati
Madrasah Aliyah Al-Falah Putri Banjarbaru.

1.2.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah sajakah faktor
faktor yang berhubungan dengan insomnia pada santriwati Madrasah Aliyah Al-Falah Putri
Banjarbaru?.

1.3.Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Menganalisis faktor faktor yang berhubungan dengan insomnia pada santriwati Madrasah
Aliyah Al-Falah Putri Banjarbaru

1.3.2. Tujuan Khusus

1.3.2.1. Mengidentifikasi stress yang dialami santriwati Madrasah Aliyah Al-Falah Putri
Banjarbaru
1.3.2.2. Mengidentifikasi kondisi lingkungan sekitar tempat tidur santriwati Madrasah
Aliyah Al-Falah Putri Banjarbaru
1.3.2.3. Mengidentifikasi konsumsi kafein pada santriwati Madrasah Aliyah Al-Falah Putri
Banjarbaru
1.3.2.4. Menganalisis hubungan stress dengan insomnia pada santriwati Madrasah Aliyah
Al-Falah Putri Banjarbaru
1.3.2.5. Menganalisis hubungan kondisi lingkungan sekitar tempat tidur dengan insomnia
pada santriwati Madrasah Aliyah Al-Falah Putri Banjarbaru
1.3.2.6. Menganalisis hubungan konsumsi kafein dengan dengan insomnia pada santriwati
Madrasah Aliyah Al-Falah Putri Banjarbaru

1.4.Manfaat Penelitian

1.4.1. Bagi Tempat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi pengelola pesantren
untuk dapat memperhatikan aspek aspek yang dapat menyebabkan gangguan tidur pada
santriwatinya dan dapat dipakai sebagai bahan masukan bagi para santriwati untuk
melakukan upaya pencegahan terhadap insomnia

1.4.2. Bagi Bidang Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan pengembangan ilmu keperawatan dan
dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perawat untuk dapat terlibat dalam upaya
pencegahan insomnia pada santriwati yang berada dipesantren

1.4.3. Bagi Perguruan Tinggi

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan referensi bagi seluruh mahasiswa program studi
ilmu keperawatan

1.4.4. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat menambah wawasan peneliti dan dapat menjadi bahan pertimbangan
bagi peneliti selanjutnya yang berminat melakukan penelitian tentang gangguan tidur pada
santriwati di wilayah tersebut

1.5.Penelitian Terkait

Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian ini namun terdapat perbedaan pada judul,
variabel, tempat dan waktu penelitian antara lain adalah sebagai berikut:

1.5.1. Penelitian Siswandi (2012) berjudul Hubungan antara insomnia dengan terjadinya
hipertensi pada lansia dip anti sosial tresna werdha banjarbaru Kalimantan selatan.
Metode penelitian analitik kolerasi dengan menggunakan pendekatan cross section. Hasil
penelitian menunjukan adanya hubungan antara insomnia dengan terjadinya hipertensi
pada lansia di panti secial tresna werdha budi sejahtera banjarbaru Kalimantan selatan.
1.5.2. Penelitian Halifah (2012) berjudul Efektifitas teknik relaksasi progresif terhadap
berkurangnya keluhan insomnia pada lansia di pstw budi sejahtera. Metode penelitian
yang digunakan uasi eksperimen yang termasuk ke dalam pretest and posttest one group
design. Subjek penelitian adalah lansia yang mengalami insomnia. Hasil penelitian
terdapat perbedaan tingkat insomnia responden sebelum dan sesudah latihan relaksasi
otot progresif. Perbedaan di lihat tingkat keluhan insomnia dari insomnia sangat berat
sebanyak 3 orang menjadi insomnia ringan sebanyak 2 orang dan 1 orang sudah tidak
mengalami keluhan, insomnia berat sebanyak 10 orang menjadi insomnia ringan
sebanyak 8 orang dan 2 orang tidak mengalami keluhan insomnia ringan sebanyak 16
orang menjadi tidak ada keluhan.
1.5.3 Muhammad Yasar (2012) berjudul Hubungan antara frekuensi penggunaan fasilitas
jejaring sosial dengan kejadian insomnia pada mahasiswa S1 keperawatan semester IV di
STIKES muhammadiyah Banjarmasin Kalimantan selatan. Metode penelitian jenis ini
adalah survey analitik korelasional dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam
penelitian ini adalah mahasiswa S1 keperawatan semester IV di STIKES muhammadiyah
dengan jumlah sampel 80 orang responden dengan teknik simple random sampling.
Pengumpulan data dengan kuesoner, data yang di dapat di analisis dengan uji chi square
dengan =0.05. hasil penelitian : menunjukan sebagian besar responden yang pernah
menggunakan jejaring sosial (96,25 %), sebagian besar responden mengalami insomnia
(86,25 %), dapat di simpulkan bahwa hipotesis alternative (HI) di terima, ada hubungan
yang bermakna antara frekuensi pengguna fasilitas jejaring sosial dengan kejadian
insomnia pada mahasiswa. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya
terletak pada judul, variabel, tempat dan waktu penelitian. Judul pada penelitian ini
hubungan insomnia dengan konsentrasi kerja perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit
Umum Dr Moch Ansari Saleh Banjarmasin Provensi Kalimantan Selatan 2013 . Variabel
pada penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu insomnia pada perawat Inap Rumah
Sakit Umum Dr Moch Ansari Saleh Bamjarmasin. Penelitian dilaksanakan tahun 2013
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada judul, variabel,
tempat dan waktu penelitian. Judul pada penelitian ini faktor faktor yang berhubungan
dengan insomnia pada santriwati Madrasah Aliyah Al-Falah Putri Banjarbaru. Variabel
penelitian terdiri dari variabel bebas berupa stress, kondisi lingkungan, dan konsumsi
kafein sedangkan variabel terikatnya adalah insomnia pada santriwati, tempat penelitian
di Madrasah Aliyah Al Falah Putri Banjarbaru. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2013
Diposkan 23rd September 2013 oleh alli wardana

Tambahkan komentar

7.

Sep

23
hubungan kepatuhan perawat dalam
melaksanakan protap perawatan luka dengan
infeksi post section caesarea (SC) di Ruang
Cempaka RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2013

hubungan kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap perawatan luka dengan infeksi post section
caesarea (SC) di Ruang Cempaka RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2013

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Peran perawat adalah sebagai promotor dimana peran ini dilakukan untuk meningkatkan kesehatan dan
kemampuan keluarga dalam memilih pertolongan persalinan yang tepat untuk mencegah terjadinya
komplikasi serta mengurangi angka kematian ibu dan bayi (Depkes,2008)

Persalinan normal merupakan proses dari keluarnya bayi dari vagina dengan lama persalinan kurang dari
24 jam. Proses ini terkadang tidak berjalan secara semestinya dan janin tidak lahir secara normal karena
beberapa faktor yaitu komplikasi kehamilan, disproporsi sefalo pelvic, partus lama, rupture uteri, cairan
ketuban yang tidak normal, kepala panggul. Keadaan tersebut perlu tindakan medis berupa operasi
sectio caesarea (Sugiharta 2007)

Kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap perawatan luka dapat mengakibatkan infeksi pada
pasien pasca bedah caesarea. Jika perawat tidak mematuhi prosedur tetap perawatan luka seperti tidak
menjaga kebersihan tangan ketika merawat luka, tidak menggunakan peralatan yang steril,
menggunakan bahan bahan yang tercemar maka hal ini dapat berdampak pada meningkatnya risiko
infeksi pada pasien post operasi caesarea (Ismael, Iswandi (2008: 1)
Infeksi adalah proses masuknya penyakit kedalam tubuh dan menimbulkan gejala penyakit. Terdapat
dua jalan tempat infeksi dapat mencapai kulit yaitu, melalui internal dan eksternal. Internal melalui
berbagai jalan seperti aliran darah, dan eksternal dengan menembus barier kulit. Salah satu yang dapat
menyebabkan infeksi ialah bakteri. Invansi bakteri terjadi pada saat terjadi trauma pembedahan atau
setelah pembedahan. Gejala infeksi sering muncul 2-7 hari setelah pembedahan, gejala infeksi antara
lain adanya purulent, peningkatan drainase, nyeri, kemerahan dan bengkak disekeliling luka,
peningkatan suhu, dan peningkatan sel darah putih. (Patologi Umum dan Sistematik Vol 2)

Medical error sering dihubungkan dengan infeksi nasokomial, salah satunya adalah Infeksi Luka
Operasi (ILO). Infeksi tersebut menyerang pasien yang menjalani operasi/tindakan pembedahan baik di
bagian bedah maupun di bagian lain, termasuk bagian Kebidanan dan Kandungan. Infeksi sesudah
operasi sectio caesarea dapat mengakibatkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas ibu. Apabila
dikaitkan dengan factor penyebab ILO, adanya kasus ILO diduga akibat pekerjaan dari perawat di ruang
rawat yang tidak sesuai dengan evidence based dari Standard Operating Procedures (SOP) perawatan
luka yang ada (Ismael, Iswandi (2008: 1)

Sectio Caesarea atau persalinan sesaria adalah prosedur pembedahan untuk melahirkan janin melalui
sayatan perut dan dinding rahim. Operasi ini semakin meningkat sebagai tindakan akhir dari berbagai
kesulitan persalinan. Indikasi yang banyak dikemukakan adalah; persalinan lama sampai persalinan
macet, ruptura uteri iminens, gawat janin, janin besar, dan perdarahan antepartum. Namun sekarang
banyak operasi tidak pada indikasinya, kenyataannya banyak operasi saat ini dilakukan atas permintaan
pasien meskipun tanpa alasan medis. Mereka umumnya memilih melakukan operasi karena takut
kesakitan saat melahirkan secara normal. Alasan lain adalah mereka lebih mudah menentukan tanggal
dan waktu kelahiran bayinya. Selain itu, mereka juga ketakutan organ kelaminnya rusak setelah
persalinan normal. (Sugiharta, 2007)

Jumlah operasi Sectio Caesarea di dunia telah meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. WHO (2009)
memperkirakan angka persalinan dengan operasi adalah sekitar 10% sampai 15% dari semua proses
persalinan di negara-negara berkembang dibandingkan dengan Amerika Serikat sekitar 23% dan Kanada
21% pada tahun 2003. Sedangkan di Inggris angka kejadiannya relative stabil yaitu antara 11-12 %, di
Italia pada tahun 1980 sebesar 3,2% - 14,5%, pada tahun 1987 meningkat menjadi 17,5%. (Sugiharta,
2007)

Sementara itu di Indonesia terjadi peningkatan Sectio Caesarea dimana tahun 2000 sebesar 47.22%,
tahun 2001 sebesar 45.19%, tahun 2002 sebesar 47.13%, tahun 2003 sebesar 46.87%, tahun 2004
sebesar 53.22%, tahun 2005 sebesar 51.59 %, tahun 2006 sebesar 53.68%. (Himatusujanah, 2008)

Survei sederhana pernah dilakukan oleh Prof. Dr. Gulardi dan Dr. A Bassalomah terhadap 64 rumah
sakit di Indonesia hasilnya tercatat 18.665 kelahiran pada tahun 2009. dari angka kelahiran tersebut,
sebanyak 19.5%, 27.3% diantaranya merupakan operasi caesar karena danya komplikasi chepao pelvis
disprotion/CPO (ukuran lingkar pinggul ibu tidak sesuai tingkat kepala janin).

Berikutnya operasi caesar akibat pendarahan hebat yang terjadi selama persalinan sebanyak 11.8%-21%
dan kelahiran caesar karena janin sungsang berkisar 43%-81.7%. data lain yang didapat dari RSUP N.
Cipto mengunkusumo Jakarta. Tahun 2000-2009 menyebutkan bahwa dari jumlah persalinan sebanyak
404/bulan 30% diantaranya merupakan persalinan caesar, 52.5% adalah kelahiran spontan, sedangkan
sisanya dengan bantuan alat seperti occum dan forsep. Berdasarkan persentase kelahiran caesar tersebut,
13.7% disebabkan oleh gawat janin (denyut jantung janin lemah menjelang persalinan) dan 24% karena
ukuran janin terlalu besar sehingga tidak dapat melewti pinggul ibu. Sisanya sekitar 13.9% dilakukan
tanpa melakukan pertimbangan medis.

Bersamaan dengan hal tersebut, di Indonesia terjadi peningkatan kejadian infeksi luka post Sectio
Caesarea yaitu infeksi pada rahim/endometritis, alat-alat berkemih, usus, dan luka operasi. Sekitar 90%
dari morbiditas pasca operasi disebabkan oleh infeksi luka operasi. Tercatat RSUP dr. Sardjito tahun
2000 angka kejadian infeksi luka post Sectio Caesarea adalah 15% dan RSUD dr Soetomo Surabaya
tahun 2001 angka kejadian infeksi luka 20%. Utomo (1999) menyebutkan bahwa idealnya kejadian
infeksi luka operasi (ILO) rumah sakit antara 1,58% dengan infeksi luka post Sectio Caesarea
merupakan 14,6% dari seluruh infeksi post pembedahan (Himatusujanah, 2008)

Protap perawatan luka pada pasien sectio caesar merupakan salah satu hal yang penting untuk
dilaksanakan guna mencegah atau meminimalisir terjadinya infeksi pasca pembedahaan. Perawatan luka
pada dasarnya mencakup prosedur penggantian balutan, irigasi luka, dan mengangkat jahitan. Pergantian
balutan dilakukan setelah 2-3 hari setelah operasi. Pada prosedur pembersihan luka ketika mengganti
balutan digunakan larutan antiseptik atau larutan garam fisiologis, pegang kasa yang dibasahi dalam
larutan dengan pinset menggunakan sarung tangan steril satu kali pakai, gunakan satu kasa untuk setiap
kali usapan, bersihkan dari area yang kurang terkontaminasi ke area yang terkontaminasi. Gerakan
dalam tekanan progresif menjauh dari insisi atau ketepi luka, gunakan kasa baru untuk mengeringi luka.
Irigasi luka atau tindakan pembersihan luka secara mekanis dengan larutan isotonic atau pengangkatan
fisik pada jaringan debris, benda asing atau eksudat dengan kasa atau spuit. Prosedur pelaksanaannya
antara lain: posisikan klien larutan irigasi mengalir dari bagian atas tepi kebagian kom yang diletakkan
dibawah luka. Keringkan luka dengan kasa steril kemudian pasang balutan steril. Adapun mengenai
mengangkat jahitan harus dilakukan pada hari ke 5-7 tujuannya untuk mencegah terjadinya infeksi.
Prosedurnya antara lain: buka balutan dengan hati hati, mendesinfeksi luka operasi dengan alcohol 70%
dan mengolesi luka bekas operasi dengan bethadin solution 10%. Menutup luka dengan kasa steril dan
diplester (Ambarwati 2011: 226-229)

Hasil studi penduhuluan yang di lakukan pada tanggal 24-31 januari 2013 di Ruang Cempaka (ruang
nifas) RSUD Ulin Banjarmasin. Hasil observasi 5 orang perawat dalam melakukan dressing luka ada 3
(60%) perawat yang tidak mematuhi protap keperawatan yang ada di RSUD Ulin Banjarmasin, dan 2
(40%) orang sesuai protap yang ada. Kekeliruan dalam prosedur perawatan luka yang sering tampak
antara lain adalah pada alat yang digunakan terkadang alat di letakan di tempat yang tidak steril seperti
di atas meja, tangan ketika memegang luka, tangan tidak dicuci terlebih dahulu, sarung tangan
digunakan untuk lebih dari satu pasien, perawat terkadang membersihkan luka dengan kasa bolak balik
tidak satu arah

Hasil observasi terhadap 10 orang ibu post partum yang melahirkan dengan cara Sectio Caesarea , 7
(70%) di antara nya terjadi ILO di sekitar luka jahitan, diduga akibat pekerjaan dari perawat di ruangan
cempaka yang tidak sesuai dengan evidence based dari Standard Operating Procedures (SOP) perawatan
luka yang ada.

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang hubungan
kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap perawatan luka dengan infeksi pasca bedah caesarea
(SC) di Ruang Cempaka RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2013.

1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah ada hubungan
kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap perawatan luka dengan infeksi post section caesarea
(SC) di Ruang Cempaka RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2013.

1.3.Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Menganalisis hubungan kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap perawatan luka
dengan infeksi post section caesarea di Ruang Cemapaka (Ruang Nifas) RSUD Ulin
Banjarmasin Tahun 2013.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1. Mengidentifikasi kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap perawatan luka
pasien post section caesarea (SC) di Ruang Cempaka RSUD Ulin Banjarmasin
Tahun 2013.
1.3.2.2. Mengidentifikasi infeksi pada pasien post section caesarea (SC) di Ruang
Cemapak RSUD Ulin Banjarmasin.
1.3.2.3.Menganalisis hubungan kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap
perawatan luka dengan infeksi post section caesarea (SC) di Ruang Cemapaka
RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2013.

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi perawat yang
bekerja menangani pasien post sectio caesarea di Rumah Sakit.

1.4.2. Bagi pasien


Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan referensi bagi pasien agar memperhatikan hal
hal yang berkaitan dengan infeksi post sectio caesarea agar dapat melakukan pencegahan
terhadap permasalahan tersebut.
1.4.3. Bagi Bidang Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk pengembangan ilmu keperawatan dan dapat
dipakai untuk menambah wawasan perawat mengenai problem yang akan terjadi post
pembedahan.
1.4.4. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengalaman peneliti tentang masalah
yang diteliti serta dapat digunakan oleh peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian
mengenai infeksi pada post sectio caesarea.

1.5. Penelitian Terkait


Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian ini namun terdapat perbedaan pada
judul, variabel, tempat dan waktu penelitian antara lain adalah sebagai berikut:
1.5.1. Penelitian M. Ihsan Perdana Putera (2012), Hubungan Karakteristik Perawat Dengan
Tingkat Kepatuhan Perawat Dalam Pelaksanaan Protap Pemasangan Infus Di Ruang
Alexandri (anak) RS. DR. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmsin. Metode kolerasi dengan
rancangan cross sectional, dan pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan
observasi.
1.5.2. Penilitian Dina Meirisa (2012), Hubungan Karakteristik Perawat Dengan Tingkat
Kepatuhan Perawat Dalam Pelaksanaan Prosuder Tetap Pemasangan Infus Di Ruang
Rawat Inap RSUD Buntok Selatan Tahun 2012. Metode analitik dengan rancangan
cross sectional, dan pengumpulan data berupa obsevasi dengan analisis uji statistik chi
square & uji kolerasi spearman.
1.5.3. Penilitian Nooril Azmi (2010), Perbedaan Lama Penyembuhan pada Perawatan Luka
Pasca Bedah Open Reduction Internal Fixation (ORIF) Antara Penggunaan NACL
Dengan Iodin Povidon Di Ruangan Kenangan RSUD Banjarmasin. Metode dengan
rancangan cross sectional, dan pengumpulan data berupa obsevasi dengan analisis uji
statistic square & spearman.
Perbedaan penilitian ini dengan penilitian sebelumnya terletak pada judul, variabel,
tempat dan waktu penilitian. Judul pada penilitian ini apakah ada hubungan kepatuhan
perawat dalam melaksanakan protap perawatan luka dengan infeksi post section caesarea
(SC) di Ruang Cempaka RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2013. Variabel dalam
penilitian ini terdiri dari variabel bebas berupa kepatuhan perawat dalam melaksanakan
protap dan variabel terikatnya adalah infeksi post section caesarea (SC), tempat penilitian
di RSUD Ulin Banjarmasin. Penilitan dilaksanakan pada tahun 2013.

HUBUNGAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM MENERAPKAN PROTAP PERAWATAN


LUKA DENGAN INFEKSI LUKA PASCA BEDAH SECTIO CAESAREA

Diposkan 23rd September 2013 oleh alli wardana


0

Tambahkan komentar

8.

Sep

23

Gambaran persepsi individu tentang pengobatan


sendiri di Kelurahan Pemurus Luar wilayah
kerja Puskesmas Terminal Km 6 Kota Madya
Banjarmasin Tahun 2013.
Gambaran persepsi individu tentang pengobatan sendiri di Kelurahan Pemurus Luar wilayah kerja

Puskesmas Terminal Km 6 Kota Madya Banjarmasin Tahun 2013.

Karya : Heru Prasongko

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengobatan sendiri akhir-akhir ini menjadi salah satu tindakan yang sering dilakukan masyarakat

di berbagai belahan dunia. Menurut Badan POM (2004) masyarakat menjadi lebih aktif dalam

masalah kesehatannya, termasuk pengobatan sendiri sebagai contoh 59% dari survei di Amerika

Serikat mengatakan bahwa mereka lebih peduli dalam merawat kondisi kesehatan mereka sendiri

dibanding tahun lalu. 73% merasa lebih baik merawat diri mereka sendiri di rumah dari pada

menemui dokter.
Seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan pola hidup masyarakat yang cenderung

kurang memperhatikan kesehatan, maka berkembangnya penyakit di masyarakat tidak dapat


dielakkan lagi. Berkembangnya penyakit ini mendorong masyarakat untuk mencari alternatif

pengobatan yang efektif secara terapi tetapi juga efisien dalam hal biaya. Berkenaan dengan hal

tersebut, swamedikasi menjadi alternatif yang diambil oleh masyarakat. Pengobatan sendiri

merupakan kegiatan seleksi dan penggunaan obat oleh pasien secara mandiri untuk mengobati suatu

penyakit dan gejalannya (WHO, 2008).


Pengobatan sendiri juga dapat didefinisikan sebagai penggunaan obat untuk pengobatan terhadap

gejala-gelala yang muncul atau pengobatan yang intermiten atau kelanjutan dari obat yang

diresepkan untuk penyakit kronis atau kekambuhan suatu penyakit. Biasanya dilakukan untuk

mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat, seperti demam,

nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag, cacingan, diare, penyakit kulit dan lain-lain. Pengobatan

sendiri dipilih oleh masyarakat untuk mengobati gejala-gejala yang muncul tanpa berkonsultasi

dengan dokter (Depkes RI, 2006).


Di negara berkembang, banyak penyakit diobati secara pengobatan sendiri. Di negara

berkembang umumnya biaya pelayanan kesehatan relatif mahal dan tidak semua kasus penyakit

dapat ditanggulangi yang menyebabkan swamedikasi dipilih untuk menjaga kesehatan. WHO

mempromosikan praktek pengobatan diri yang efektif dan cepat relief gejala tanpa konsultasi medis

dan mengurangi beban pada layanan perawatan kesehatan, yang sering kali kekurangan dan dapat

diakses di perdesaan dan daerah terpencil (Phalke et al., 2006).


Seseorang bisa mengobati sendiri berawal dari dengan mendapatkan gambaran tentang

pengobatan dengan cara mendengar, melihat ataupun hasil membaca, sehingga menimbulkan minat

untuk pengobatan sendiri. Ketika seseorang sudah memutuskan untuk mulai pengobatan sendiri

maka dia sudah mengetahui akibat dari pengobatan sendiri. Walaupun sudah diketahui dampak dari

pengobatan apabila seseorang sudah jadi kebiasaan maka dalam dari pengobatan adalah biasa/tidak

berbahaya.
Proses mengamati dunia luar yang mencangkup perhatian, pemahaman, dan pengenalan objek-

objek atau peristiwa disebut dengan persepsi (Pieter dan Lubis, 2010). Persepsi seseoarang yang

lain bisa berbeda dan sama. Oleh karena itu presepsi seseorang tergantung dari individu itu sendiri

bagaimana ia memahami.
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat

berbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya (Sunaryo, 2004). Adanya perbedaan inilah

yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain

tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini tergantung bagaimana individu menanggapi

obyek tersebut dengan presepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan

penyesuaian ditentukan oleh presepsinya.


Laporan Kementrian Kesehatan RI Tahun 2012 menunjukkan 44.14% masyarakat Indonesia

kalau sakit atau keluarga sakit berusaha untuk mengobati sendiri. Menurut data yang didapatkan

dari Provinsi, Riskesdas tahun 2010 persentase terbesar di rumah tangga yang mengobati sendiri

bila sakit yaitu di daerah Gorontalo 86,7%, Nusa Tenggara Timur 81,4%, dan Kalimantan Selatan

77,6%.
Menurut Tan dan Rahardja (2006) pengobatan sendiri dapat berdampak pada individu tidak

mengenal keseriusan penyakit, dan penggunaan obat yang kurang tepat. Mengobati sendiri biasanya

dapat menyebabkan seseorang tidak mengenali tingkat keseriusan penyakit dan penggunaan obat

dari segi jenis obat, dosis, waktu maupun rute penggunaan obat dapat keliru. Hal ini dapat

membahayakan kesehatan, menyebabkan penyakit tambah parah atau justru memperpanjang masa

pengobatan. Adapun Keuntungan dari pengobatan sendiri yaitu praktis, ekonomis, mudah diperoleh,

efisien, aman apabila digunakan sesuai petunjuk. Kerugiannya yaitu kurangnya pengetahuan tentang

obat yang dapat menimbulkan efek samping dari obat (tidak mengetahui tidak memperhatikan

peringatan dan kontra indikasi, interaksi obat) salah diagnosa, salah memilih terapi.
Persepsi masyarakat terhadap pengobatan sendiri berbeda-beda ada yang memandang bahwa

pengobatan sendiri itu menguntungkan, dapat menyembuhkan dan kadang ada masyarakat yang

mempersepsikan pengobatan sendiri kurang menguntungkan dan bahkan merugikan (dapat

membahayakan kesehatan, menyebabkan penyakit tambah parah atau justru memperpanjang masa

pengobatan).
Berdasarkan data dari dinas kesehatan Banjarmasin, Puskesmas dengan tingkat kunjungan

terendah sebesar 79 % di Kota Banjarmasin adalah puskesmas terminal Km 6 Kota Madya

Banjarmasin. Hasil studi pendahuluan pada tanggal 4 juni 2013 melalui wawancara dengan 20
masyarakat di wilayah Kerja Puskesmas terminal Km 6 Kota Madya Banjarmasin diperoleh

keterangan dari 12 masyarakat bahwa ketika mereka sakit mereka mengobati penyakitnya sendiri.

Mereka mempersepsikan bahwa melakukan pengobatan sendiri lebih menguntungkan, hemat biaya

dan tidak merugikan serta tidak berbahaya, tapi sebenarnya pengobatan sendiri berisiko terjadinya

keracunan, keliru obat, dan tidak mengenal keseriusan penyakit. Wawancara dengan petugas

kesehatan diperoleh keterangan tentang Kasus individu yang mengalami keracunan obat dengan

keluhan mual serta muntah, dan diare.


Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik meneliti permasalahan ini pada

penelitian yang berjudul gambaran persepsi individu tentang pengobatan sendiri di Kelurahan

Pemurus Luar wilayah kerja Puskesmas Terminal Km 6 Kota Madya Banjarmasin Tahun 2013.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimanakah

gambaran persepsi individu tentang pengobatan sendiri di Kelurahan Pemurus Luar wilayah kerja

Puskesmas terminal Km 6 Kota Madya Banjarmasin Tahun 2013?

C. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran persepsi individu tentang pengobatan

sendiri di Kelurahan Pemurus Luar wilayah kerja Puskesmas Terminal Km 6 Kota Madya

Banjarmasin Tahun 2013.

D. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat antara lain :

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pihak puskesmas dalam melakukan

intervensi kepada masyarakat yang memiliki kebiasaan melakukan pengobatan sendiri.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini di harapkan memberi manfaat :

a. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan masukan bagi masyarakat dalam mengubah persepsinya tentang pengobatan

sendiri.
b. Bagi penulis
Merupakan sarana untuk menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah

diperoleh tentang presepsi individu terhadap sakit serta menambah pengalaman dan

keterampilan penulis dalam menyelesaikan permasalahan.


c. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan pustaka bagi dan juga dapat menjadi dasar

bagi institusi dalam melakukan penelitian selanjutnya.


E. Keaslian Penelitian
1. Penelitian ini dilakukan oleh Corina Nur Syeima (2009) Gambaran Tingkat Pengetahuan, Sikap

Dan Perilaku Masyarakat Rw 08 Kelurahan Pisangan Ciputat Tentang Self-Medication Terutama

Dalam Penggunaan Obat Anti Nyeri Secara Rasional.


Hasil penelitian : dari jumlah responden yang menangani nyeri dengan obat anti nyeri

sebanyak 56 orang, Pengetahuan tentang cara pemakaian obat anti nyeri didapatkan 49 orang

mengetahui cara yang tepat (87,5%), dan 7 orang tidak mengetahui cara yang tepat (12,5 %).

Yang mengetahui dosis pemakaian obat anti nyeri secara tepat sebanyak 44 orang (78,6 %), dan

yang tidak mengetahui sebanyak 12 orang (21,4 %). Dari pengetahuan tentang efek samping

obat anti nyeri didapatkan 16 orang yang mengetahui efek samping (28,6 %), dan yang tidak

mengetahui sebanyak 40 orang (71,4 %).


Persamaannya terletak pada topik yaitu pengobatan sendiri dan Jenis penelitian sama-

sama menggunakan jenis penelitian survey yang bersifat deskriptif.


Perbedaan penelitian yang akan peneliti lakukan dengan penelitian di atas adalah judul,

populasi, sampel, waktu, tempat, responden penelitian di atas adalah masyarakat di Kelurahan

Pisangan Ciputat sedangkan responden yang akan peneliti lakukan adalah seluruh kepala

keluarga yang ada di Kelurahan Pemurus Luar wilayah kerja Puskesmas Terminal Km 6 Kota

Madya Banjarmasin dan penelitian di atas menggunakan cara pengambilan sampel yaitu simple

random sampling sedangkan pengambilan sampel yang peneliti sekarang gunakan adalah

purposive sampling.
2. Penelitian Kartika US Manurung (2010) Pola Penggunaan Obat Dalam Upaya Pasien

Melakukan Pengobatan Sendiri Di beberapa Apotek.


Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Dari beberapa macam kelompok terapi obat

yang paling banyak digunakan oleh responden adalah kelompok terapi analgetika/antipiretika

(28,89%). Sebagian besar (87,77%) penggunaan obat dalam upaya pengobatan sendiri

merupakan golongan obat bebas dan obat bebas terbatas.


Persamaannya terletak pada topik yaitu pengobatan sendiri dan Jenis penelitian sama-

sama menggunakan jenis penelitian survey yang bersifat deskriptif.


Perbedaan penelitian yang akan peneliti lakukan dengan penelitian di atas adalah judul,

populasi, sampel, waktu, tempat, responden penelitian di atas adalah pasien yang melakukan

pengobatan di beberapa apotik sedangkan responden yang akan peneliti lakukan adalah seluruh

kepala keluarga yang ada di Kelurahan Pemurus Luar wilayah kerja Puskesmas Terminal Km 6

Kota Madya Banjarmasin RT 1-31.

Diposkan 23rd September 2013 oleh alli wardana

Lihat komentar

9.

Sep

23

hubungan konsep diri dengan kemampuan


interpersonal pasien rehabilitasi NAPZA di
Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum
Banjarmasin
hubungan konsep diri dengan kemampuan interpersonal pasien rehabilitasi NAPZA di Rumah Sakit Jiwa
Sambang Lihum Banjarmasin.

Karya Nurul Hidayah 2013


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyalahgunaan Narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lain (NAPZA) adalah salah satu kasus
yang banyak terjadi di masyarakat. Perserikatan Bangsa Bangsa untuk masalah kriminal dan obatan-
obatan terlarang meluncurkan laporan tahunan konsumsi narkotika dan obat-obatan terbaru. Menurut
laporan tersebut, satu persen dari pecandu NAPZA tewas akibat mengonsumsi zat-zat terlarang tersebut
setiap tahunnya. sekitar 5 persen dari total populasi dunia pernah mencoba NAPZA, dan kini ada sekitar
27 juta orang yang kecanduan dan mengalami masalah soal penggunaan NAPZA
(www.radioaustralia.net. Diakses tanggal 3 September 2012).

Menurut laporan Badan Narkotika Nasional (BNN) Tahun 2011 jumlah pengguna narkoba atau NAPZA
adalah 3, 81 juta (http://www.depdagri.go.id. Diakses tanggal 3 September 2012).

Sementara itu, di Indonesia sepanjang 2011 kepolisian berhasil mengungkapkan 23.531 kasus. Kasus-
kasus tersebut terdiri dari narkotika 15.948 kasus, psikotropika 949 kasus, dan bahan berbahaya
sebanyak 6.634 kasus (http://www.mediaindonesia.com diakses tanggal 3 September 2012).

Individu yang telah menggunakan NAPZA dan mengalami kecanduan hingga direhabilitasi pada
umumnya akan mengalami permasalahan terhadap konsep dirinya. Seseorang yang pernah
menggunakan dan kecanduan NAPZA akan mengalami perubahan pada konsep diri. Pada umumnya
berpeluang untuk mengalami gangguan konsep diri yang negatif hal ini disebabkan karena penyalahguna
NAPZA yang mengalami kecanduan hingga menjalani rehabilitasi mendapatkan stigma yang negatif
dari masyarakat. Berdasarkan norma budaya, hukum dan agama umumnya masyarakat memandang
perilaku tersebut sebagai tindakan yang negatif, sehingga penderita NAPZA yang terjebak pada perilaku
tersebut akan mengalami gangguan pada konsep dirinya.
Menurut Willoughby, King dan Polatajko (1996), dalam Wong (2009) mengemukakan bahwa konsep
diri adalah bagaimana individu menggambarkan dirinya sendiri. Istilah konsep diri mencakup konsep,
keyakinan, dan pendirian yang ada dalam pengetahuan seseorang tentang dirinya sendiri dan yang
mempengaruhi hubungan individu tersebut dengan orang lain.

Menurut Sunaryo (2004) mengemukakan lima komponen konsep diri, meliputi gambaran diri, ideal diri,
harga diri, peran diri, identitas diri.

Konsep diri mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku individu, yaitu individu akan
bertingkah laku sesuai dengan konsep diri yang dimiliki (Rahmat, 2000). Label yang diberikan pada
sebagai pecandu narkoba dapat dipersepsi negatif atau positif oleh individu yang bersangkutan. Label
yang dipersepsi negatif membuat individu menjadi terbebani, hal tersebut cenderung akan membawa
efek negatif terhadap perkembangan sisi psikologisnya.

Individu akan merasa gagal dan terbuang ketika tidak dapat memenuhi tuntutan lingkungan, serta
menjadi tidak percaya diri, merasa tidak berharga, dan rendah diri. Kondisi ini diperburuk dengan
adanya fenomena di masyarakat yang memandang negative pecandu NAPZA WB Ary 2009
http://eprints.undip.ac.id.

Menurut Nashori (2008) menemukan bahwa konsep diri berkorelasi positif dengan kompetensi
interpersonal. Orang yang konsep dirinya positif merasa dirinya setara dengan orang lain dan peka
terhadap kebutuhan orang lain. Salah satu faktor keberhasilan seseorang dalam menciptakan dan
membina hubungan interpersonal yang efektif ditentukan oleh kemampuan individu dalam menilai
dirinya secara positif dengan menerima dan menghargai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri.

Hubungan ini diperjelas oleh Stanley Coopersmith (1967) dalam penelitian Hartati (2011) yang
mengemukakan bahwa sikap-sikap positif dan harapan mengenai diri pada orang yang memiliki harga
diri yang tinggi akan membuat individu memiliki kemampuan sosial atau kemandirian sosial yang lebih
baik dan kreativitas yang dimilikinya akan membimbingnya untuk lebih tegas dan lebih giat dalam
melakukan tindakan sosial.

Konsep diri pengguna NAPZA yang negatif dapat berpengaruh terhadap sikapnya untuk bermasyarakat.
Sikap menerima, merasa mampu untuk bergaul dan bekerja sama dalam suatu masyarakat hanya dimiliki
oleh individu yang memiliki konsep diri yang positif. Pada individu yang memiliki konsep diri yang
negative, pernah memiliki pengalaman buruk, dan stigma negatif dari masyarakat, maka hal ini dapat
mempengaruhi sikapnya. Demikian halnya dengan pengguna napza yang menerima stigma buruk dari
masyarakat maka konsep dirinya dapat negatif dan mempengaruhi sikapnya untuk bergaul dengan
masyarakat.

Lebih jauh konsep diri dapat mempengaruhi kemampuan interpersonal seseorang. Kemampuan
interpersonal adalah kemampuan dalam menjalani suatu hubungan yang akrab, yang dialami
seseorang dengan individu lain, dimana dalam menjalin hubungan interpersonal tersebut terdapat
unsur saling memperhatikan (Pace dalam Sukmono, Djohan dan Ellyawati, 2000).

Berdasarkan data rekam medik Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin, jumlah
penyalahgunaan napza mengalami peningkatan pada tahun 2010 berjumlah 54, tahun 2011 berjumlah
136 dan tahun 2012 berjumlah 140.

Hasil studi pendahuluan di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin pada tanggal 2 Februari
2013. Jumlah pasien korban penyalahgunaan NAPZA yang menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit
Sambang Lihum Banjarmasin sebanyak 24 orang. Berdasarkan hasil wawancara dengan 10 pasien
ketergantungan NAPZA, 6 orang merasa rendah diri, kurang di hargai merasa kehilangan peran di
keluarga dan masyarakat karena harus menjalani masa rehabilitasi. Hasil pengamatan menunjukkan
bahwa dari 10 responden 5 orang tampak menyendiri, diam ketika disapa, cara berbicara kurang sopan
dan pemalu.

Dirumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin untuk pasien rehabilitasi napza menggunakan
model therapeutic community dan model pendekatan agama.
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang Hubungan
konsep diri dengan kemampuan interpersonal pasien rehabilitasi NAPZA di Rumah Sakit Jiwa
Sambang Lihum Banjarmasin Tahun 2013.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah ada
hubungan konsep diri dengan kemampuan interpersonal pasien rehabilitasi NAPZA di Rumah Sakit Jiwa
Sambang Lihum Banjarmasin?.

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum


Menganalisis hubungan konsep diri dengan kemampuan interpersonal pasien rehabilitasi
NAPZA di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1. Mengidentifikasi konsep diri pasien rehabilitasi NAPZA di Rumah Sakit Jiwa
Sambang Lihum Banjarmasin.
1.3.2.2. Mengidentifikasi kemampuan interpersonal pasien rehabilitasi NAPZA di Rumah
Sakit Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin.
1.3.2.3. Menganalisis hubungan konsep diri dengan kemampuan interpersonal pasien
rehabilitasi NAPZA di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Bagi Rumah Sakit


Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi petugas kesehatan
di rumah sakit dalam memberikan intervensi kepada pasien rehabilitasi NAPZA untuk
mengubah konsep diri pasien yang semula negatif menjadi positif agar dapat
meningkatkan kemampuan interpersonalnya.
1.4.2. Bagi Keluarga
Hasil penelitian ini menjadi bahan masukan bagi pihak keluarga pasien untuk dapat
terlibat dalam upaya mengubah konsep diri pasien yang semula negatif menjadi positif.
1.4.3. Bagi Profesi Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan bagi pengembangan ilmu dibidang keperawatan
terutama agar profesi keperawatan juga mempertimbangkan aspek konsep diri dalam
asuhan keperawatan pasien rehabilitasi NAPZA.

1.5. Penelitian Terkait

Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian ini antara lain:

1.5.1. Eka, Handayani (2011). Hubungan Lingkungan Dan Pola Asuh Orang Tua Terhadap
Remaja Pengguna NAPZA Pada Siswa Kelas XII SMKN 1 Simpang Empat Kabupaten
Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan. Skripsi, Program S1 Keperawatan Ners A
Stikes Muhammadiyah Banjarmasin. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan
lingkungan dan pola asuh orang tua terhadap remaja pengguna NAPZA pada siswa kelas
XII SMKN 1 Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan.
Rancangan penelitian ini menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross
sectional. Populasi penelitian sebanyak 294 responden. Besarnya sampel 179 responden.
Uji hipotesis dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara lingkungan terhadap remaja pengguna
NAPZA pada siswa kelas XII SMKN 1 Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu
Provinsi Kalimantan Selatan. Ada hubungan yang signifikan antara peran orang tua
terhadap remaja pengguna NAPZA pada siswa kelas XII SMKN 1 Simpang Empat
Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan.

1.5.2. Muhammad, Nizar. (2011). Peran Orang Tua Dalam Perlindungan Terhadap Bahaya
Mengkonsumsi Alkohol Pada Siswa Di SMPN Pantai Hambawang. Skripsi, Jurusan S1
Keperawatan Ners A, STIK Muhammadiyah Banjarmasin. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui gambaran peran orang tua dalam perlindungan terhadap bahaya
mengkonsumsi alkohol pada siswa di SMPN Pantai Hambawang. Metode penelitian ini
adalah descriptive. Teknik pengambilan sampel menggunakan strafied random sampling,
populasinya adalah semua siswa kelas VIII dan IX SMPN Pantai Hambawang, dengan
sampel sebanyak 72 responden. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data
adalah angket.

Perbedaan penelitian ini yaitu teletak pada variabel penelitian, tempat dan waktu
penelitian. Variabel pada penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu konsep diri pasien
rehabilitasi NAPZA, variabel terikat adalah kemampuan interpersonal pasien rehabilitasi
NAPZA. Tempat penelitian di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin Tahun
2013.

Diposkan 23rd September 2013 oleh alli wardana

Tambahkan komentar

10.

Sep

23

Hubungan antara pernikahan usia muda dengan


kemampuan ibu dalam melaksanakan peran
pengasuhan anak di wilayah Kerja Puskesmas
Pulau Telo Kabupaten Kapuas Tahun 2013

Hubungan antara pernikahan usia muda dengan kemampuan ibu dalam melaksanakan peran pengasuhan
anak di wilayah Kerja Puskesmas Pulau Telo Kabupaten Kapuas Tahun 2013

Karya Norkamariah

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Pernikahan usia muda banyak terjadi di seluruh dunia dengan berbagai latar belakang. Menikah
di usia kurang dari 18 tahun merupakan realita yang harus dihadapi sebagian anak di seluruh
dunia, terutama negara berkembang. Meskipun Deklarasi Hak Asasi Manusia di tahun 1954
secara eksplisit menentang pernikahan anak, namun ironisnya praktik pernikahan usia dini masih
berlangsung di berbagai belahan dunia dan hal ini merefleksikan perlindungan hak asasi
kelompok usia muda yang terabaikan.

Implementasi Undang-Undang pun seringkali tidak efektif dan terpatahkan oleh adat istiadat
serta tradisi yang mengatur norma sosial suatu kelompok masyarakat. Praktek pernikahan usia
dini paling banyak terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Di Asia Tenggara didapatkan data bahwa
sekitar 10 juta anak usia di bawah 18 tahun telah menikah, sedangkan di Afrika diperkirakan
42% dari populasi anak, menikah sebelum mereka berusia 18 tahun. Di Amerika Latin dan
Karibia, 29% wanita muda menikah saat mereka berusia 18 tahun. Prevalensi tinggi kasus
pernikahan usia dini tercatat di Nigeria (79%), Kongo (74%), Afganistan (54%), dan Bangladesh
(51%)

Secara umum, pernikahan anak lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak
laki-laki, sekitar 5% anak laki-laki menikah sebelum mereka berusia 19 tahun. Selain itu
didapatkan pula bahwa perempuan tiga kali lebih banyak menikah dini dibandingkan laki-laki.

Suatu studi literasi UNICEF menemukan bahwa interaksi berbagai faktor menyebabkan anak
berisiko menghadapi pernikahan di usia dini. Diketahui secara luas bahwa pernikahan anak
berkaitan dengan tradisi dan budaya, sehingga sulit untuk mengubah. Alasan ekonomi, harapan
mencapai keamanan sosial dan finansial setelah menikah menyebabkan banyak orangtua
mendorong anaknya untuk menikah di usia muda.

Komunitas internasional menyadari pula bahwa masalah pernikahan anak merupakan masalah
yang sangat serius. Implikasi secara umum bahwa kaum wanita dan anak yang akan menanggung
risiko dalam berbagai aspek, berkaitan dengan pernikahan yang tidak diinginkan, hubungan
seksual yang dipaksakan, kehamilan di usia yang sangat muda, selain juga meningkatnya risiko
penularan infeksi HIV, penyakit menular seksual lainnya, dan kanker leher rahim. 3-10
Konsekuensi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan tentunya merupakan hambatan dalam
mencapai Millennium Developmental Goal

Menikah pada usia muda, merupakan salah satu masalah keluarga yang belum terpecahkan dan
sampai saat ini angkanya cukup mengejutkan karena secara nasional ada 47 % penduduk
Indonesia yang menikah di bawah umur. Data menunjukkan dari angka rata-rata nasional ada 4,8
% penduduk yang menikah pada usia 10 - 15 tahun, sedangkan penduduk yang menikah pada
usia 15-20 tahun tercatat 42 %.

Berdasarkan riset kesehatan dasar angka perkawinan di Kalimantan Selatan yaitu usia 10-14
tahun sebanyak 4,8% , 15-19 tahun atau sebanyak 42%, umur 20-24 tahun 33,6%. Tampak disini
usia 15-19 menduduki angka tertinggi, padahal pada umur itu anak-anak masih harus berada
dibangku sekolah. Sedangkan untuk Kalimantan Tengah angka perkawinan usia muda di bawah
20 tahun berjumlah 80 pasangan dan terdapat 10 ibu yang sudah menjandi janda.

Idealnya, perkawinan seorang wanita dilakukan pada usia 20 tahun keatas untuk kesiapan mental
dan kedewasaan manusia di umur itu dinilai relatif cukup memadai. Salah satu faktor yang
memicu terjadinya kawin usia muda adalah kekhawatiran orang tua terhadap pergaulan anak-
anak saat ini."Apalagi berdasarkan riset dari kantor BKKBN dari 100 remaja wanita yang diteliti
50 orang diantaranya sudah tidak perawan. Selain juga faktor ekonomi

Perkawinan usia muda pada dasarnya dapat mempengaruhi kemampuan orang tua dalam
mengasuh anak. Orang tua yang menikah diusia muda pada umumnya diasumsikan tidak
memiliki kesiapan mental untuk menjalankan tugas sebagai orang tua. Menurut Supartini (2004:
36) usia pernikahan yang terlalu muda dapat mempengaruhi kemampuan orang tua dalam
menjalankan peran pengasuhan secara optimal. Hal ini disebabkan karena usia mempengaruhi
kesiapan fisik dan psikososial. Apabila secara fisik dan mental dan sosial, orang tua tidak
memiliki kemampuan untuk mengasuh anak maka peran ini tidak akan dapat dilaksanakan secara
optimal.

Fenomena yang banyak terjadi di tempat penelitian adalah semakin meningkatnya kasus
pernikahan usia muda sehingga kasus kehamilan usia muda pun cukup tinggi. Berdasarkan data
Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah tahun (2011) menyatakan Ibu hamil usia muda yang
umurnya di bawah 20 tahun ada 971 orang dan target ibu hamil tahun (2011) berjumlah 9178
orang (Dinkes Kalimantan Tengah, 2011).

Berdasarkan data Dinas Kabupaten Kapuas usia hamil dan tua muda berjumlah 7.079 dari 23
puskesmas yang tersebar di Kabupaten Kapuas. Puskesmas Pulau Telo merupakan puskesmas
tertinggi ibu hamil usia muda yaitu 87 orang (44.3%)

Orang tua yang menikah dan punya anak pada usia muda ini memiliki peluang untuk tidak
mampu melaksanakan peran pengasuhan anak dengan baik. Hal ini disebabkan karena usia
menjadi orang tua akan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalankan peran
pengasuhan.

Ketika wanita telah menikah dan memiliki anak, mereka pada dasarnya bertanggung jawab untuk
melaksanakan perannya sebagai ibu. Menurut Gunarsa (2006) ibu bertanggung jawab dalam
mendidik dan mengasuh anak. Menurut Zaidin Ali (2009) peran ibu antara lain pengurus rumah
tangga, pengasuh, pendidik anak anak, pelindung rumah tangga dan juga sebagai pencari nafkah
tambahan.
Jika wanita terlalu muda untuk menjadi ibu, maka hal ini dapat mengakibatkan dia tidak mampu
melaksanakan perannya dengan baik dalam mengasuh anak. Hal ini terjadi karena usia muda
pada umumnya tidak memiliki kematangan fisik dan mental.

Menurut Wong (2001) dalam Supartini (2004: 33) kemampuan orang tua dalam mengasuh anak
dipengaruhi oleh faktor usia. Usia yang terlalu muda akan mengakibatkan orang tua tidak mampu
melaksanakan peran pengasuhan secara optimal.

Hasil studi pendahuluan peneliti di Puskesmas Pulau Telo berdasarkan hasil observasi terdapat
68 ibu yang memiliki anak pada pernikahan diusia kurang dari 20 tahun. Berdasarkan hasil
wawancara terhadap 10 ibu yang sudah memiliki anak diusia kurang dari 20 tahun diperoleh
keterangan bahwa secara mental mereka merasa tidak siap dalam mengasuh anak, air susu tidak
keluar yang mengakibatkan kadang mereka merasa bingung, dan kadang mereka menyatakan
stress karena anak mereka rewel dan mereka tidak tahu cara mengatasinya. Mereka menyatakan
bahwa pada dasarnya pengetahuan mereka tentang cara mengasuh anak yang baik masih sangat
terbatas, sehingga hal ini kadang menimbulkan kebingungan.

Berdasarkan latar belakang di atas maka memilih dilakukan penelitian Hubungan antara
pernikahan usia muda dengan kemampuan ibu dalam melaksanakan peran pengasuhan anak di
wilayah Kerja Puskesmas Pulau Telo Kabupaten Kapuas Tahun 2013.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: apakah
ada hubungan antara pernikahan usia muda dengan kemampuan ibu dalam melaksanakan peran
pengasuhan anak di wilayah Kerja Puskesmas Pulau Telo Kabupaten Kapuas Tahun 2013?

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara pernikahan usia muda dengan kemampuan ibu dalam
melaksanakan peran pengasuhan anak di wilayah Kerja Puskesmas Pulau Telo Kabupaten
Kapuas.

1.3.2. Tujuan Khusus


1.3.2.1. Mengidentifikasi pernikahan usia muda di Wilayah Kerja Puskesmas Pulau Telo
Kabupaten Kapuas tahun 2013.
1.3.2.2. Mengidentifikasi kemampuan ibu dalam melaksanakan peran pengasuhan anak di
Wilayah Kerja Puskesmas Pulau Telo Kabupaten Kapuas tahun 2013.
1.3.2.3. Menganalisis hubungan antara pernikahan usia muda dengan kemampuan ibu
melaksanakan peran pengasuhan anak di wilayah Kerja Puskesmas Pulau Telo
Kabupaten Kapuas tahun 2013.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Pemerintah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam
melakukan evaluasi terhadap permasalahan yang terjadi dimasyarakat untuk segera
ditindaklanjuti.

1.4.2. Bagi Puskesmas


Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi puskesmas untuk
memberikan intervensi kepada ibu yang menikah diusia muda dan sudah memiliki anak
untuk membantu mereka mempersiapkan kemampuan dalam melaksanakan peran
pengasuhan sebagai orang tua.

1.4.3. Bagi bidang keperawatan


Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bagi pengembangan ilmu keperawatan
dan dapat dipergunakan sebagai tambahan referensi dalam memberikan asuhan
keperawatan keluarga pada ibu yang menikah diusia muda.

1.4.4. Bagi Perguruan Tinggi


Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi oleh seluruh mahasiswa Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin.

1.4.5. Bagi Peneliti


Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi peneliti yang dapat dijadikan
bekal untuk melakukan penelitian selanjutnya dan dapat dipakai oleh peneliti selanjutnya
yang tertarik meneliti permasalahan yang sama.

1.5. Penelitian Terkait


Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain:
1.5.1. Bachriah (2011), Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Risiko Kehamilan pada
Usia Muda di Puskesmas Rawat Inap Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara
tahun 2011. Metode penelitian diskriptif, populasi penelitian semua remaja putri yang
ada di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Danau Panggang. Hasil penelitian adalah
pengetahuan dengan katagori baik terhadap penundaan usia perkawinan yaitu baik 5
orang (1,9%), kategori sedang 64 orang (24,6 %) sedangkan kategori kurang 191 orang
(73,5%).

1.5.2. Sahriah (2012), Hubungan peran orang tua (ibu) dalam pencegahan campak
dengan kejadian campak pada anak di TK Raudatul Athfal Nurul Husna Alalak
Tengah Banjarmasin. Metode penelitian ini adalah analitik korelasional, populasinya
adalah orang tua murid Tk Islam Raudatul Athfal Nurul Husna dengan
mengunakan teknik cluster proporsional random sampling dan dianalisa mengunakan
uji statistiik chi-aquare. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menunjukan
bahwa peran orang tua (ibu) dalam pencegahan campak sebagian termasuk dalam
peran yang baik yaitu sebanyak 30 responden (62,5%) dan kejadian campak pada
anak cendrung negatif yaitu sebanyak 28 orang anak (58,3%) berdasarkan analisis
uji chiquare menunjukan nilai p 0,05 yaitu 0,000 0,05, sehingga dapat
dikatakan bahwa ho ditolak yaitu ada hubungan yang bermakna antara peran orang
tua (ibu) dalam pencegahan campak dengan kejadian campak pada anak.

1.5.3. Penelitian Alpiat (2012), hubungan peran ibu dalam pemenuhan asupan makanan
dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Gadang Hanyar Kota
Banjarmasin. Metode penelitian ini adalah analitik dengan rancangan cross
sectional. Popusi penelitian ini adalah semua ibu yang memenuhi suatu criteria
inklusi, ibu, pengambilan sampel mengunakan cara purposive sampling sebanyak
83 sampel. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan antara peran ibu dalam
pemenuhan asupan makanan dengan status gizi dengan r = 0,908 dan nilai p = (p
0,05).

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada variabel, tempat dan
waktu penelitian.Variabel pada penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu pernikahan
usia muda dan variabel terikat Kemampuan ibu dengan melaksanakan peran pengasuhan
anak di wilayah kerja puskesmas Pulau Telo Kabupaten Kapuas Tahun 2013