You are on page 1of 4

Defenisi perilaku

Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang
bersangkutan.
Skinner (1938) seorang ahli psikologi merumuskan bahwa perilaku merupakan respon
atau reaksi seseorang terhadap stimulus/rangsangan dari luar (Notoatmodjo, 2010).
2.2.2 Bentuk Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2010), bentuk perilaku terbagi dua yaitu: 1)Bentuk Pasif
(Cover Behavior) adalah respon internal yaitu terjadi di dalam diri manusia dan secara
langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sifat batin dan
pengetahuan. 2)Bentuk Aktif (Operant Behavior) adalah apabila perilaku itu jelas dapat
diobservasi secara langsung.
2.2.3 Perilaku Kesehatan
Menurut Skiner dalam Notoatmodjo (2014), perilaku kesehatan (Health Behavior)
adalah respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat dan sakit,
penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi sehat-sakit (kesehatan) seperti lingkungan,
makanan, minuman, dan pelayanan kesehatan. Dengan perkataan lain perilaku kesehatan
adalah semua aktivitas atau kegiatan seseorang baik yang dapat diamati (observable) maupun
yang tidak dapat diamati (unobservable) yang berkaitan dengan pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini mencakup mencegah atau melindungi diri
dari penyakit dan masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan dan mencari
penyembuhan apabila sakit atau terkena masalah kesehatan. Oleh sebab itu perilaku
kesehatan ini pada garis besarnya dikelompokkan menjadi dua, yakni: 1)Perilaku orang yang
sehat agar tetap sehat dan meningkat. Oleh sebab itu perilaku ini disebut perilaku sehat
(healthy behavior), yang mencakup perilaku-perilaku (overt dan covert behavior) dalam
mencegah dan menghindari dari penyakit dan penyebab penyakit atau masalah atau penyebab
masalah kesehatan (perilaku preventif), dan perilaku mengupayakan meningkatnya kesehatan
(perilaku promotif). 2)Perilaku orang yang sakit atau telah terkena masalah kesehatan untuk
memperoleh penyembuhan atau pemecahan masalahnya. Oleh sebab itu perilaku ini disebut
perilaku pencarian pelayanan kesehatan (health seeking behavior).Perilaku ini mencakup
tindakan-tindakan yang diambil seseorang atau anaknya bila sakit atau terkena masalah
kesehatan untuk memperoleh kesembuhan atau terlepasnya dari masalah kesehatan
tersebut.Tempat pencarian kesembuhan ini adalah tempat atau fasilitasi pelayanan kesehatan,
baik fasilitas atau pelayanan kesehatan tradisional, maupun modern atau profesional.
2.2.4 Perubahan Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2014), perilaku merupakan determinan kesehatan yang
menjadi sasaran dari pendidikan kesehatan. Dengan kata lain pendidikan kesehatan bertujuan
untuk mengubah perilaku (behavior change). Perubahan perilaku sebagai tujuan dari
pendidikan kesehatan, sekurang-kurangnya mempunyai tiga dimensi, yaitu: 1)Mengubah
perilaku negatif (tidak sehat) menjadi perilaku positif (sesuai dengan nilai-nilai kesehatan).
2)Mengembangkan perilaku positif (pembentukan atau pengembangan perilaku sehat).
3)Memeliharan perilaku yang sudah positif atau perilaku yang sudah sesuai dengan
norma/nilai kesehatan (perilaku sehat). Dengan perkataan lain mempertahankan perilaku
sehat yang sudah ada.
2.2.5 Bentuk Perubahan Perilaku
Menurut WHO dalam Notoatmodjo (2014), bentuk perubahan perilaku
dikelompokkan menjadi tiga yaitu: 1)Perubahan Alamiah (Natural Change) karena sebagian
perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi
suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial budaya dan ekonomi, maka anggota-anggota
masyarakat di dalamnya juga akan mengalami perubahan. 2)Perubahan Terencana (Planned
Change) karena perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh
subjek. 3)Kesediaan untuk Berubah (Readiness to Change) karena apabila terjadi suatu
inovasi atau program-program pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi
adalah sebagian orang sangat cepat untuk enerima inovasi atau perubahan tersebut (berubah
perilakunya), dan sebagian lagi orang sangat lambat untuk menerima inovasi atau perubahan
tersebut. Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai kesediaan untuk berubah (readiness to
change) yang berbeda-beda.
2.2.6 Ranah (Domain) Perilaku
Menurut Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2010), ranah atau domain
perilaku dibedakan dalam 3 area yakni kognitif (cognitive), afektif (affective), dan
psikomotor (psychomotor). Dalam perkembangan selanjutnya domain ini dibagi dalam 3
tingkat ranah perilaku sebagai berikut:
2.2.6.1 Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap
objek melalui indera yang dimilikinya.Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga
menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi
terhadap objek.Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran
dan indera penglihatan.Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau
tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan yakni:
1)Tahu (Know), yang diartikan sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu. 2)Memahami (Comprehension) karena memahami
suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekadar dapat menyebutkan,
tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar objek yang diketahui
tersebut. 3)Aplikasi (Application), yang diartikan apabila orang yang telah memahami objek
yang dimaksud dapat menggunakannya atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut
pada situasi yang lain. 4)Analisis (Analysis), yang merupakan kemampuan seseorang untuk
menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-
komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. 5)Sintesis
(Synthesis), yang menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan
dalam suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki.
Dengan kata lain sintesis merupakan kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang telah ada. 6)Evaluasi (Evaluation) yang berkaitan dengan
kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek
tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan
sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Pengetahuan Ibu tentang DBD,
dengan menggunakan skala Guttman, skala ini merupakan skala yang bersifat tegas dan
konsisten dengan memberikan jawaban yang tegas seperti jawaban dari pertanyaan: benar
dan salah, skala Guttman ini pada umumnya dibuat seperti checklist denan interpretasi
penilaian, apabila skor nilainya 1 dan apabila salah nilainya 0 dan analisisnya dapat dilakukan
seperti skala likert (Hidayat, 2011).
2.2.6.2 Sikap (Attitude)
Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah
melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan.Newcomb menyatakan bahwa
sikap adalah kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan
motif tertentu. Seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkat-tingkat
berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut : 1)Menerima (Receiving), yang diartikan bahwa
orang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek). 2)Menanggapi
(Responding), yang berarti memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau
objek yang dihadapi. 3)Menghargai (Valuing), yang berarti subjek atau seseorang
memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan
orang lain, bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons.
4)Bertanggung jawab (Responsible) yang merupakan sikap yang paling tinggi tingkatnya
adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah
mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil resiko bila
ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya resiko lain. Sikap ibu tentang DBD, dengan
menggunakan skala Likert. Skala ini dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat,
persepsiseseorang tentang gejala atau masalah yang ada dimasyarakat atau dialaminya,
kategori skala likert adalah sebagai berikut Sangat Setuju (SS) bernilai 5, Setuju (S) bernilai
4, Ragu-ragu (RR) bernilai 3, Tidak Setuju (TS) bernilai 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS)
bernilai 1 (Hidayat, 2011).
2.2.6.3 Tindakan atau Praktik (Practice)
Seperti telah disebutkan di atas bahwa sikap adalah kecenderungan untuk bertindak
(praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan
perlu faktor lain adanya fasilitas atau saran prasarana. Praktik atau tindakan ini dibedakan
menjadi 3 tingkatan menurut kualitasnya, yakni : 1)Praktik Terpimpin (Guided Response),
apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih tergantung pada tuntunan
atau menggunakan panduan. 2)Praktik Secara Mekanisme (Mechanism), apabila subjek atau
seseorang telah melakukan atau mempraktikkan sesuatu hal secara otomatis maka disebut
parktik atau tindakan mekanisme. 3)Adopsi (Adoption) yang berarti suatu tindakan atau
praktik yang sudah berkembang. Artinya, apa yang dilakukan tidak sekadar rutinitas atau
mekanisme saja, tetapi sudah dilakukan modifikasi, atau tindakan atau perilaku yang
berkualitas. Tindakan ibu tentang DBD, dengan menggunakan skala Guttman. skala ini
merupakan skala yang bersifat tegas dan konsisten dengan memberikan jawaban yang tegas
seperti jawaban dari pertanyaan: ya, dan tidak, skala Guttman ini pada umumnya dibuat
seperti checklist denan interpretasi penilaian, apabila skor nilainya 1 dan apabila salah
nilainya 0 dan analisisnya dapat dilakukan seperti skala likert (Hidayat, 2011).