Вы находитесь на странице: 1из 28

BAB III

OBJEK DAN METODE PENELITIAN

1. Objek Penelitian
1. Profil Puskesmas DTP Talaga Kabupaten Majalengka

Puskesmas DTP Talaga berdiri di atas tanah seluas 4.400 m2 dengan luas

bangunan puskesmas 2.200 m2. Kode puskesmas yang sudah terregistrasi di

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia untuk Puskesmas DTP Talaga yaitu

P3210040101. Wilayah kerja Puskesmas Talaga mencakup seluruh wilayah

Kecamatan Talaga yang terletak di wilayah bagian selatan Kabupaten

Majalengka, dengan luas wilayah 3.899,959 Hektar atau 39 kilometer

persegi (Km2), merupakan daerah dataran tinggi (pegunungan) dengan

ketinggian 460 meter di atas permukaan laut (dpl). Wilayah Kecamatan

Talaga terdiri dari 17 desa , 85 Rukun Warga (RW) dan 284 Rukun Tetangga

(RT).

Jarak antara ibukota Kecamatan ke ibukota Kabupaten 26 kilometer

bisa ditempuh melalui jalan darat yang dilapisi aspal hotmix dengan kendaraan

roda empat pada segala cuaca dengan waktu tempuh 1 jam, sarana transportasi

umum mudah didapat.

Berdasarkan rekapitulasi jumlah penduduk hasil pendataan keluarga tahun

2015 (sumber dari Kantor Camat Talaga), jumlah penduduk di Kecamatan

Talaga tahun 2015 tercatat sejumlah 47.367 jiwa (15.421 Kepala Keluarga

/KK), terdiri dari penduduk laki-laki 24.328 jiwa (51,36%) dan penduduk

perempuan 23.039 jiwa (48,64%), yang tersebar di 17 desa.

Puskesmas DTP Talaga Kab. Majalengka adalah salah satu dari empat

Puskesmas di Propinsi Jawa Barat yang sudah terakreditasi dengan kualififikasi

46
Utama. Sebagai puskesmas yang sudah terakreditasi Utama, Puskesmas DTP

Talaga menjalankan program peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien

dalam pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Seluruh kegiatan

pelayanan kesehatan yang dilakukan Puskesmas DTP Talaga diatur dalam Buku

Pedoman Standar Operasional Prosedur (SOP) sehingga di Puskesmas DTP Talaga

telah tercipta budaya keselamatan pasien.

Jenis-jenis pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas DTP Talaga yaitu:

1. Unit Rawat Jalan


2. Unit Rawat Inap, buka 24 jam
3. Unit Gawat Darurat, buka 24 jam
4. Unit PONED (Pelayanan Obstetri dan Neonatal Dasar), pelayanan untuk ibu

bersalin
5. Unit Laboratorium
6. Unit Rontgen

Tabel 3.1 Data Tenaga Kesehatan dan Non-Kesehatan Di Puskesmas DTP


Talaga Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jenis Kepegawaian 2015

Total
Jenis Kepegawaian
Tingkat
No.
Pendidikan
PNS PTT HONDA TKS
Jl Jl Jl Jl Jl
L P L P L P L P L P
h h h h h

1. 5 5 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 5 11
S1
DokterUmum 2 1 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 3

Dokter Gigi 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1

Sarjana.Sosial 2 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2

SarjanaKes.Masy 1 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2

0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
Sarjana Kep.Ners
0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
Sarjana Apoteker
0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1
Sarjana Informatika
2. 0 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3
D IV
0 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 3
Kebidanan

47
2 1 3
3. 7 27 0 7 7 3 3 6 3 3 6 46
D3 0 3 3

1 1
AKPER 5 5 10 0 0 0 3 3 5 3 3 6 21
1 0

APRO 1 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2

1 0 0 0 1
AKBID 0 10 0 7 7 0 1 1 0 18
0 8

AKZI 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1

Analis 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1

AKG 0 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3

4. 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
D1
Bidan 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1

Sanitarian 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

GIZI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

1 1 1
5. 9 19 0 0 1 0 1 0 0 1 20
SLTA 0 0 1

SPK 3 5 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 5 8

SPRG 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Analis 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

SMF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

SMA 6 5 11 0 0 0 1 0 1 0 0 1 7 5 12

6. SLTP 0 0 0 0 0 1 1 2 0 0 0 1 1 2

7. SD 1 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 2

2 3 3 5
JUMLAH 61 0 7 7 5 5 10 4 4 8 86
2 9 1 5

2 4 2 5
Tahun 2014 62 0 7 7 4 3 7 3 1 4 78
0 2 7 3

2 4 2 5
Tahun 2013 61 0 7 7 4 4 8 2 3 5 81
0 1 6 5

1 4 2 5
Tahun 2012 62 0 8 8 0 0 0 3 3 6 76
9 3 2 4

1 4 2 5
Tahun 2011 63 0 8 8 0 0 0 3 4 7 78
8 5 1 7

1 4 2 5
Tahun 2010 61 0 9 9 0 0 0 3 4 7 77
9 2 2 5

Sumber : Data Puskesmas Talaga 2016

2. Visi Misi Organisasi

48
Gambaran keadaan masyarakat Kecamatan Talaga Kabupaten

Majalengka di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan

kesehatan, diformulasikan dalam Visi Puskesmas Talaga, yaitu :

Masyarakat Kecamatan Talaga yang Sehat pada Tahun 2018 dalam Rangka

Mewujudkan Majalengka MAKMUR

Untuk mencapai Visi yang telah ditetapkan tersebut, dirumuskan beberapa Misi

Puskesmas DTP Talaga sebagai berikut :

1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan program-progarm kesehatan

masyarakat yang terakreditasi.

2. Meningkatkan profesionalisme manajemen puskesmas dan peningkatan

kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta pemenuhan kebutuhan sarana dan

prasarana secara bertahap dan berkesinambungan.

3. Menjamin keterjangkauan upaya pelayanan kesehatan yang bermutu dan

merata kepada seluruh masyarakat.

4. Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pembangunan kesehatan melalui

Desa Siaga.

5. Menjalin kemitraan untuk tercapainya peningkatan derajat kesehatan di

wilayah Kecamatan Talaga.

6. Mendorong pemerintahan Kecamatan Talaga dan pemerintahan desa untuk

mengembangkan Kecamatan Sehat dan Desa Sehat.

3. Struktur Organisasi

49
Gambar 3.1
Struktur Organisasi
Puskesmas DTP Talaga Kab. Majalengka Tahun 2015

Sumber ; Puskesmas DTP Talaga

4. Deskripsi Pekerjaan
1. Kepala Puskesmas DTP Talaga mempunyai tugas sebagai berikut:
1) Merencanakan kegiatan UPTD Puskesmas;
2) Mengkoordinir upaya Puskesmas baik promotif, preventif, kuratif dan

rehabilitatif;
3) Melaksanakan koordiansi dengan kecamatan dalam melaksanakan

teknis operasional bidang kesehatan di tingkat Kecamatan;


4) Menggerakan dan memantau penyelenggaraan pembangunan

berwawasan kesehatan berkoordinasi dengan lintas sektor di wilayah

kerjanya;
5) Menggerakan pemberdayaan di bidang kesehatan baik perorangan, keluarga

dan masyarakat dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya

sosial budaya masyarakat setempat;


6) Mengkoordinir pelaksanaan upaya kesehatan wajib yang meliputi upaya

promosi kesehatan, upaya kesehatan lingkungan, upaya kesehatan ibu dan

50
anak serta KB, upaya perbaikan gizi masyarakat, upaya pencegahan dan

pemberantasan penyakit menular, dan penunjangnya;


2. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Puskesmas DTP Talaga mempunyai tugas

sebagai berikut:
1) Melaksanakan pengelolaan tata usaha lingkup UPTD Puskesmas;
2) Melaksanakan pengelolaan keuangan lingkup UPTD Puskesmas;
3) Melaksanakan pengelolaan barang inventaris, baik barang habis pakai

maupun barang tidak habis pakai di lingkup UPTD Puskesmas;


4) Melaksanakan administrasi kepegawaian lingkup UPTD Puskesmas;
5) Mengkoordinir pelaksanaan upaya kesehatan pengembangan yaitu upaya

kesehatan sekolah, upaya kesehatan olah raga, upaya perawatan kesehatan

masyarakat, upaya kesehatan kerja, upaya kesehatan gigi dan mulut, upaya

kesehatan jiwa, upaya kesehatan mata,upaya kesehatan usia lanjut, upaya

pembinaan pengobatan tradisional;


6) Menghimpun, mengolah dan menganalisa dan serta penyajian data hasil

kegiatan urusan UPTD Puskesmas;


7) Menyusun bahan laporan akuntabilitas kinerja;
8) Membagi tugas kepada bawahan agar pelaksanaan tugas dapat berjalan

lancar sesuai dengan ketentuan yang berlaku;


9) Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan;
3. Bendahara Penerima dan Pengeluaran mempunyai tugas sebagai berikut:
1) Membuat rencana kerja kegiatan ke tugas bendahara di UPTD

Puskesmas DTP Talaga.


2) Menyusun rencana kelengkapan kerja tugas bendahara di UPTD

Puskesmas DTP Talaga.


3) Mengupayakan penerimaan uang sesuai dengan DIP dan sumber lain

yang ada.
4) Menyimpan uang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
5) Mengeluarkan uang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
6) Membuat pertanggung jawaban pengelolaan uang baik kepada Kepala

UPTD Puskesmas maupun pengawas / pemeriksa, sesuai dengan

ketentuan yang berlaku.


7) Membuat catatan dan laporan pengelolaan keuangan.
8) Melasanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala UPTD

Puskesmas.

51
4. Petugas Evaluasi dan Evaluasi mempunyai tugas sebagai berikut:
1) Melakukan koordinasi pengumpulan data laporan hasil kegiatan (SP3)

Bulanan UPTD Puskesmas


2) Merekap dan mendokumentasikan serta mengelola data juga

menyusun laporan hasil kegiatan (SP3) bulanan UPTD Puskesmas


3) Melakukan validasi data hasil laporan bulanan kegiatan program
4) Melakukan pengumpulan analisa data sertifikasi UPTD
5) Mendokumentasikan semua rencana hasil kegiatan UPTD

Puskesmas secara sistematis


6) Menyusun dan menganalisa daftar kebutuhan sarana prasarana dan

perbekalan kesehatan
7) Melakukan pendataan wilayah dan lingkungan ke unit pelayanan UPTD

Puksesmas
8) Melakukan koordinasi dengan progremer terkait demi kelancaran

laporan
2. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis

penelitian deskriptif dan verifikatif. Menurut Sugiyono (2015) penelitian

deskriptif adalah penelitian yang digunakan untuk menggambarkan atau

menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat

kesimpulan yang lebih luas. Sedangkan jenis penelitian verifikatif menurut

Mashuri (2009) yaitu memeriksa benar tidaknya apabila dijelaskan untuk

menguji suatu cara dengan atau tanpa perbaikan yang telah dilaksanakan di

tempat lain dengan mengatasi masalah yang serupa dengan kehidupan. Dalam

penelitian ini penelitian deskriptif bertujuan untuk memperoleh gambaran

tentang budaya keselamatan pasien dan mutu layanan di Puskesmas DTP

Talaga Kabupaten Majalengka. Tujuan penelitian verifikatif yaitu untuk

mengetahui hubungan budaya keselamatan pasien dan mutu layanan di

Puskesmas DTP Talaga Kabupaten Majalengka.


2. Metode Penelitian

52
Menurut Sugiyono (2015) metode penelitian pada dasarnya merupakan cara

ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode

penelitian dalam tesis ini yaitu metode studi kasus di Puskesmas DTP Talaga

Kabupaten Majalengka
3. Alur Pengambilan Data
Perngolahan data

Penyebaran dan Pengumpulan Data

Excel/ SPSS Di pisahkan

Uji Validitas dan Reliabilitas

Tidak valid dan


tidak reliabil

Analisa deskriptif

Uji Normalitas
Uji asumsi klasik

Uji heteroskedastisitas

Uji autokorelasi

Regresi Sederhana

Tabulasi data
(kusioner)

Uji t
Variabel

Kategori variabel

Deskriptif
Kategori indikator
Kesimpulan

Gambar. 3.2. Alur Pengolahan Data

53
4. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2015), terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas

data hasil penelitian yaitu kualitas instrument penelitian dan kualitas

pengumpulan data. Kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas

dan reabilitas instrument dan kualitas pengumpulan data berkenaan ketepatan

cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu

instrument yang teruji validitas dan reabilitasnya, belum tentu dapat

menghasilkan data yang valid dan reliabel apabila instrument tersebut tidak

digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya. Pengumpulan data dapat

dilakukan dalam berbagai setting, sumber dan cara. Dalam penelitian ini,

peneliti melakukan tehnik pengumpulan data dengan cara, yaitu:


1) Wawancara
Menurut Sugiyono (2015) wawancara merupakan teknik pengumpulan data

yang digunakan untuk lebih mendalami responden secara spesifik yang dapat

dilakukan dengan tatap muka ataupun komunikasi menggunakan alat bantu

komunikasi yang dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur.

Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara dengan pihak Puskesmas

DTP Talaga (Kepala Puskesmas, Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Dokter,

Dokter gigi, Perawat, Bidan, Apoteker, Analis Laboratorium dan pasien/klien).


2) Kuesioner (angket)
Kuesioner (angket) merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada

responden untuk dijawabnya. (Sugiyono, 2015) Dalam penelitian ini, peneliti

membuat kusioner sebagai instrument untuk mengumpulkan data primer dari

pasien/klien.
3) Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila

dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Kalau

54
wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi

tidak terbatas pada orang, tetapi juga pada obyek-obyek alam yang lain

(Sugiyono, 2015). Dalam penelitian ini, peneliti melakukan observasi

terhadap para karyawan Puskesmas DTP Talaga untuk mengamati

bagaimana perilaku karyawan dalam bekerja, bagaimana semangat kerjanya,

bagaimana hubungan satu karyawan dengan karyawan lain dan bagaimana

hubungan manajemen puskesmas dengan karyawannya.


4) Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi adalah cara pengumulan data berdasarkan sumber

sekunder, yaitu merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data

kepada pengumpul data (Sugiyono, 2015). Dokumetasi adalah cacatan

peristiwa atau data yang sudah berlalu. Dokumentasi dalam penelitian ini yaitu

pengumpulan data sekunder terkait dengan objek penelitian (visi, misi,

struktur organisasi, deskripsi pekerjaan, spesifikasi pekerjaan).

5. Populasi dan Sampel


1) Populasi
Menurut Sugiyono (2015) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri

atas subyek/obyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Sedangkan menurut Ridwan (2005) mendefenisikan populasi sebagai objek

atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat

tertentu berkaitan dengan masalah penelitian. Populasi pada penelitian ini

yaitu seluruh pasien yang datang berobat di Unit Rawat Jalan, Rawat Inap dan

PONED Puskesmas DTP Talaga selama periode satu bulan yaitu dari tanggal

27 Januari 2017 sampai dengan 27 Februari 2017.


2) Sampel

55
Sampel menurut Sugiyono (2015) adalah bagian dari jumlah dan karakteristik

yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel untuk penelitian deskriptif adalah

10% dari populasi. (Gay dan Diehl, 1992).


Jadi sampel adalah contoh yang diambil dari sebagain populasi penelitian yang

dapat mewakili populasi. Walaupun yang diteliti adalah sampel, tetapi hasil

penelitian atau kesimpulan penelitian berlaku untuk populasi atau kesimpulan

penelitian digeneralisasikan terhadap populasi. Sampel pada penelitian ini

yaitu pasien laki-laki dan perempuan, berusia 17 tahun ke atas, dari dalam

wilayah kerja dan luar wilayah kerja Puskesmas DTP Talaga, pasien BPJS

maupun pasien non-BPJS, kunjungan berobat minimal yang ke-2 kali untuk

pasien rawat jalan, diambil sebanyak 10% dari rata-rata total kunjungan pasien

di Unit Rawat Jalan dan Unit Rawat Inap dan PONED Puskesmas DTP Talaga

dalam satu bulan. Berdasarkan data rata-rata kunjungan pasien selama tahun

2015 dalam satu bulan untuk pasien Unit Rawat Jalan yaitu 3.409, kemudian

untuk pasien Unit Rawat Inap 298 pasien dan terakhir kunjungan pasien

PONED sebanyak 44. Jumlah total rata-rata kunjungan pasien di Unit Rawat

Jalan dan Unit Rawat Inap dan PONED adalah 3.751 pasien, sehingga jumlah

sampel pada penelitian ini sebanyak 375 pasien.

3. Operasionalisasi Variabel
3.3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel penelitian pada dasarnya adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari

orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. (Sugiono,

2015). Variabel pada penelitian ini terdiri dari:

1. Variabel Independen

56
Menurut Sugiyono (2015), variabel ini sering disebut sebagai variable stimulus,

predictor, antecedent. Dalam Bahasa Indonesia sering disebut sebagai variable

bebas. Variabel bebas adalah merupakan variable yang mempengaruhi atau

menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variable dependen (terikat).

Variabel independen dalam penelitian ini adalah budaya keselamatan pasien

(X).

2. Variabel Dependen

Variabel ini sering disebut sebagai variable output, variable kriteria atau

variable konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variable

terikat. Variabel terikat merupakan variable yang dipengaruhi atau menjadi

akibat karena adanya variabel bebas. (Sugiyono, 2015). Variabel dependen

dalam penelitian ini adalah mutu layanan (Y).

57
3.3.2 Operasionalisasi Variabel

Tabel 3.2 Definisi Operasional Budaya Keselamatan Pasien dan Mutu Layanan Kesehatan

Skala
Variabel Konsep (Definisi) Indikator Ukuran
Pengukuran
-Budaya adalah suatu keluaran dari nilai 1. Keterbukaan Komunikasi 1. Tingkat keterbukaan dokter/dokter Ordinal
Keselamatan individu dan kelompok, Staf bebas berbicara bila gigi/ perawat/bidan dalam
Pasien perilaku, kompetensi dan pola melihats esuatu yang dapat berkomunikasi dengan pasien
serta kebiasaan yang berdampak negative pada mengenai diagnosis jenis penyakit
mencerminkan komitmen dan pasien, yang diderita oleh pasien
gaya serta kecakapan dari 2. Tingkat keterbukaan dokter/doker
manajemen organisasi dan gigi / perawat/bidan dalam
keselamatan pasien. (Sorra, J., berkomunikasi dengan pasien
Nieva, V., AHRQ, 2004 : 1) mengenai pengobatan yang
diberikan.
2.Kerja sama tim dalam unit 1. Tingkat kerja sama antara Ordinal
Staf saling mendukung, saling dokter/dokter gigi dengan
menghargai dan bekerja perawat/bidan dalam memberikan
sebagai sebuah tim untuk pelayanan kepada pasien
memberikan pelayanan terbaik 2. Tingkat kerja sama antara
kepada pasien perawat/bidan dengan perawat/bidan
dalam memberikan pelayanan
kepada pasien
3.Kerja sama tim antar unit 1. Tingkat kerja sama antara petugas Ordinal
Unit-unit di RS bekerja sama pendaftaran dengan dokter/dokter
dan berkoordinasi satu sama gigi/ perawat/bidan dalam
lain untuk menghasilkan

57
pelayanan yang terbaik bagi memberikan pelayanan kepada pasien
pasien
4.Persepsi keseluruhan tentang 1. Tingkat perhatian dokter/dokter gigi Ordinal
Keselamatan Pasien tentang pentingnya keselamatan
Persepsi staf terhadap prosedur pasien
dan system dalam mencegah 2. Tingkat perhatian perawat/bidan
terjadinya kesalahan dan tentang pentingnya keselamatan
mengurangi masalah pasien
keselamatan pasien
5.Dukungan manajemen 1. Tingkat ketersediaan mobil ambulan Ordinal
terhadap keselamatan pasien untuk mendukung pelayanan kepada
Manajemen RS menyediakan pasien
iklim kerja yang 2. Tingkat ketersediaan sarana air
mempromosikan keselamatan bersih untuk mendukung pelayanan
pasien dan menunjukkan kepada pasien
bahwa keselamatan pasien
adalah prioritas utama
6. Penataan staf 1. Tingkat ketersediaan jumlah Ordinal
Terdapat jumlah staf yang dokter/dokter gigi yang mencukupi
cukup untuk menangani beban dalam memberikan pelayanan pasien
kerja dan jumlah jam kerja 2. Tingkat ketersediaan jumlah
yang sesuai untuk perawat/bidan yang mencukupi
menyediakan pelayanan terbaik dalam memberikan pelayanan pasien
bagi pasien
7.Respon tidak menghukum 1. Tngkat empati dokter/dokter gigi Ordinal
terhadap kesalaahan terhadap kesalahan yang dilakukan
Staf merasa bahwa kesalahan oleh perawat/bidan
dan laporan kejadian tidak
dipakai untuk menyalahkan

58
mereka tapi digunakan untuk
perbaikan pelayanan kepada
pasien
8. Frekuensi pelaporan 1. Tingkat perhatian dokter/dokter Ordinal
kejadian gigi jika terjadi hal-hal yang
Tipe kesalahan yang membahayakan keselamatan pasien
dilaporkan: 1) Kesalahan 2. Tingkat perhatian perawat/bidan
ditemukan dan dikoreksi jika terjadi hal-hal yang
sebelum mempengaruhi pasien; membahayakan keselamatan pasien
2) Kesalahan tanpa potensi
mencederai pasien; 3)
Kesalahan yang dapat
mencederai pasien namun tidak
terjadi cedera

9.Serah terima dan transisi 1. Tingkat kualitas komunikasi antara Ordinal


Informasi penting tentang dokter dengan dokter saat serah
asuhan pasien disampaikan terima penanganan pasien
pada saat transfer pasien antar 2. Tingkat kualitas komunikasi antara
satu unit ke unit lain dan atau perawat/bidan dengan perawat/bidan
selama komunikasi pergantian saat serah terima penanganan
shift pasien

10. Umpan balik dan 1. Tingkat perhatian dokter/dokter Ordinal


komunikasi tentang gigi pada saat pasien
kesalahan menyampaikan keluhan tentang
Staf diinformasikan tentang pelayanan kesehatan yang
kesalahan yang terjadi, diterimanya
diberikan umpan balik tentang 2. Tingkat perhatian perawat/bidan

59
implementasi perubahan dan pada saat pasien menyampaikan
mendiskusikan cara untuk keluhan tentang pelayanan
mencegah kesalahan untuk kesehatan yang diterimanya
perbaikan pelayanan kepada
pasien
11. Pembelajaran organisasi 1. Tingkat perubahan perbaikan Ordinal
dan perbaikan pelayanan dari dokter/dokter gigi
berkelanjutan pada saat memberikan pelayanan
Terdapat budaya belajar di kesehatan kepada pasien
mana kesalahan membawa 2. Tingkat perubahan perbaikan
perubahan positif dan pelayanan dari perawat/bidan
dilakukan evaluasi terhadap pada saat memberikan pelayanan
efektivitas perubahan untuk kesehatan kepada pasien
perbaikan pelayanan kepada
pasien
12. Harapan staf dan tindakan 1. Tingkat keseriusan upaya yang Ordinal
supervisor/ manajer dalam dilakukan oleh manajemen
promosi keselamatan puskesmas dalam memfasilitasi
pasien keselamatan pasien
Sikap positif atau negatif dari
supervisor/ manajer terhadap
upaya keselamatan pasien

-Mutu Pelayanan kesehatan yang 1. Ketersediaan (Availability) 1. Tingkat ketersediaan dokter/dokter Ordinal
Layanan diarahkan untuk mencegah, gigi pada saat jam pelayannan
Kesehatan mempromosikan, memelihara kesehatan di puskesmas
dan meningkatkan status 2. Tingkat ketersediaan perawat/bidan
kesehatan masyarakat yang pada saat jam pelayannan kesehatan
di puskesmas

60
harus memenuhi kriteria- 2.Kelayakan (Appropriatenes) 1. Tingkat kelayakan sarana dan Ordinal
kriteria sebagai berikut yaitu prasarana yang dimiliki
ketersediaan (availability), puskesmas dalam menunjang
kelayakan (appropriateness), pelayanan kesehatan
kontinyuitas-keberlanjutan
(continuity-sustainability), 3. Kontinyuitas-Keberlanjutan 1. Tingkat keberlanjutan pelayanan Ordinal
akseptabilitas (acceptability), (Continuity-Sustainability) kesehatan yang diberikan oleh
terjangkau (affordable), efisien dokter/dokter gigi/ perawat/bidan
(efficient) dan mutu (quality). sampai tuntasnya penanganan
(Muninjaya A.A.Gde. : 2015 : suatu penyakit.
22),
4. Akseptabilitas 1. Tingkat penerimaan masyarakat Ordinal
(Acceptability) secara sosial, ekonomi dan budaya
tentang pelayanan kesehatan yang
diberikan oleh puskesmas

5. Terjangkau (Affordable) 1. Tingkat keterjangkauan masyarakat Ordinal


atas tarif puskesmas dalam
pelayanan rawat jalan /rawat
inap /persalinan /laboratorium/
rontgen
6. Efisien (Efficient) 1. Tingkat kecepatan layanan Ordinal
kesehatan yang diberikan oleh
dokter/dokter gigi dalam
penanganan suatu penyakit
2. Tingkat kecepatan layanan
kesehatan yang diberikan oleh
perawat/bidan dalam penanganan

61
suatu penyakit
7. Mutu (Quakity) 1. Tingkat kualitas layanan kesehatan Ordinal
yang diberikan oleh dokter/dokter
gigi/ perawat/bidan dalam
penanganan suatu penyakit

62
3.4 Pengukuran Variabel

Pengukuran variabel dalam penelitian ini bersifat kualitatif

sehingga untuk dapat menjadi kuantitatif digunakan jenis skala Likert

untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok

orang tentang kejadian atau gejala sosial. Setiap jawaban dihubungkan

dengan bentuk pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapkan dengan

kata-kata sebagai berikut: (Ridwan, 2005)

Pernyataan positif
Sangat Baik : (5)
Baik : (4)
Cukup : (3)
Buruk : (2)
Sangat Buruk : (1)
3.5 Rancangan Analisis Data
3.5.1 Pengujian Validitas
Uji validasi yang dimaksud adalah untuk mengukur kualitas alat ukur

yaitu, untuk mengetahui sejauhmana ketepatan dan tingkat akurasinya.

Pengujian dilakukan untuk mengetahui instrumen penelitian dalam

mengukur apa yang diukur, sehingga instrumen alat ukur dikatakan

mempunyai validasi yang tinggi bila dapat menjalankan fungsinya.


Pengujian validasi dilakukan dengan mengkorelasikan masing-

masing item skor dengan total skor. Teknik analisis yang digunakan adalah

koofesien korelasi product-moment pearson, sebagai berikut :

63
X


Y

2
n Y

n X 2.


n XY X Y
r=

Uji validitas dalam penelitian ini diambil 45 orang sampel, untuk

megetahui arti koofesien korelasi r valid atau tidak valid akan digunakan

nilai validitas sebesar 0.312. Bila lebih besar dari 0.312 maka item

pernyataan dikatakan valid dan bila lebih kecil dari 0.312 dikatakan tidak

valid (Sugiono, 2010: 47). Hasil uji validitas didapatkan semua pertanyaan

rhitung > rtabel sehingga dapat dikatakan bahwa semua pertanyaannya valid.

3.5.2 Pengujiaan Reliabilitas


Analisis reliabilitas merupakan salah satu ciri utama instrumen

pengukuran yang baik. Reliabilitas sering disebut juga sebagai

keterpercayaan, keandalan, keajegan, konsisten dan sebagainya, namun ide

pokok dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran

dapat dipercaya.
Tinggi rendahnya reliabilitas secara empiris ditujukan oleh suatu

angka yang disebut koefesien reliabilitas, walaupun secara teoritis besarnya

koefisien berkisar antara 0,00-1,00 dan juga dapat bertanda positif (+)

maupuan negatif (-). Dalam hal reliabilitas, koefesien yang besarnya kurang

dari nol (0,00) tidak ada artinya karena interpretasi reliabilitas selalu

mengacu pada koefisien yang positif.

64
Pada penelitian ini digunakan metode pengukuran reliabilitas Alpha

Cronbach, dengan kriteria besarnya koefisien reliabilitas minimal harus

dipenuhi oleh suatu alat ukur adalah 0.989 yang berarti bahwa secara

keseluruhan alat ukur telah memiliki konsistensi internal yang dapat

diandalkan.
Metode uji reliabilitas yang digunakan adalah dengan nilai atau

cronbachs alpha dengan rumus :

2
k S i
r 1
i k 1
St
2

Dimana r = Nilai Reliabilitas


2
S
i
k = jumlah item
= jumlah item

St2 = varian total

2 2
2 Xt ( Xt )
Si
2

Jki JKs

St n 2
n 2
n n

Sedangkan rumus

untuk varian total dari varian item adalah :

Keterangan Jki= Jumlah kuadran seluruh skor item

JKs= Jumlah kuadran subyek

65
3.5.3 Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui suatu distribusi

sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal, yakni distribusi

data dengan bentuk loncengan dan distribusi data tersebut tidak

melenceng ke kiri atau melenceng ke kanan. Uji normalitas dilakukan

dengan menggunakan pendekatan Kolmogorv Sminorv. Dengan

menggunakan tingkat signifikan 5% (0,05) maka jika nilai Asymp. Sig.

(2- tailed) di atas nilai signifikan 5% artinya variabel residual

berdistribusi normal (Situmorang, 2008:55).


2. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam

model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu

pengamatan ke pengamatan lain. Jika variance dari residual satu

pengamatan ke pengamatan lain tetap maka disebut Homoskedastisitas

dan jika berbeda maka disebut Heteroskedastisitas. Dengan uji Glejser

yaitu meregresi nilai absolut residual terhadap variabel independen. Hal

ini bisa dilihat dari probabilitas signifikannya di atas tingkat kepercayaan

5%. Jika hal tersebut terjadi, maka dapat disimpulkan model regresi

tidak mengandung adanya heteroskedastisitas (Hadi dan Widyarini,

2009:58).

3. Uji Autokorelasi
Digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan

asumsi klasik autokorelasi, yaitu adanya korelasi antar anggota sampel

yang diurutkan berdasar waktu. Penyimpangan asumsi ini biasanya

66
terjadi pada pada observasi yang menggunakan data time series

(Algifari,2010: 88).

3.5.4 Analisis Data


1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif bertujuan untuk melakukan deskripsi

mengenai budaya keselamatan pasien. Variabel independennya yaitu

budaya keselamatan pasien (X) dan variabel dependen yaitu mutu

layanan (Y) yang akan diklasifikasikan kedalam 5 kategori yaitu

kategori sangat baik, baik, cukup baik, buruk, dan sangat buruk.
Untuk mengklasifikasikan kedalam kategori tersebut maka

terlebih dahulu dibuat kategori berdasarkan distribusi frekuensi dari

tabulasi data hasil kusioner.


Berikut adalah langkah untuk menyusun klarifikasi berdasarkan

distribusi frekuensi yaitu:


1) Menentukan batas kelas:
Rentang Kelas = X maksimal - X minimal
2) Menetukan jumlah kelas:
K = 5 (klasifikasi)
1 = sangat buruk
2= buruk
3 = cukup baik
4 = baik
5 = sangat baik
3) Menentukan kelas interval:
CI = R kelas/ Kelas
4) Mendistribusikan data kedalam kelas-kelas yang sudah tersusun di

dalam 5 kelas dalam 2 tahapan


2. Analisis Verifikatif

Analisa verifikatif dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi

sederhana Analisis regresi dilakukan untuk mengetahui bentuk hubungan

dua variabel. Untuk keeratan hubungan dapat diketahui dengan analisis

67
korelasi. Analisis regresi dipergunakan untuk menelaah hubungan antara

dua variabel atau lebih, terutama untuk menelusuri pola hubungan yang

modelnya belum diketahui dengan sempurna, atau untuk mengetahui

bagaimana variasi dari beberapa variabel independen mempengaruhi

variabel dependen dalam suatu fenomena yang kompleks. Jika X adalah

variabel independen dan Y adalah variabel dependen, maka terdapat

hubungan fungsional antara X dan Y, di mana variasi dari X akan diiringi

pula oleh variasi dari Y. Secara matematika hubungan di atas dapat

dijabarkan sebagai berikut: Y = f(X,e), di mana : Y adalah variabel

dependen, X adalah variabel independen dan e adalah variabel residu

(disturbance term).

Berkaitan dengan analisis regresi ini, setidaknya ada empat empat

kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam analisis regresi yang dikemukakan

oleh M. Nazir (1983), diantaranya yaitu :

1. Mengadakan estimasi terhadap parameter berdasarkan data

empiris,

2. Menguji berapa besar variasi variabel dependen dapat

diterangkan oleh variasi variabel independen,

3. Menguji apakah estimasi parameter tersebut signifikan atau

tidak,

4. Melihat apakah tanda dan magnitud dari estimasi parameter

cocok dengan teori.

68
Berikut akan dijelaskan analisis data (1) regresi sederhana untuk

melakukan estimasi terhadap parameter berdasarkan data empiris dan

menguji berapa besar variasi variabel dependen dapat diterangkan oleh

variasi variabel independen. Selanjutnya akan dijelaskan (2) uji keberartian

regresi untuk menguji apakah estimasi parameter tersebut signifikan atau

tidak.

1. Regresi sederhana

Regresi sederhana, bertujuan untuk mempelajari hubungan antara dua

y a bx y
variabel. Model Regresi sederhana adalah , di mana,

adalah variabel tak bebas (terikat), X adalah variabel bebas, a adalah

penduga bagi intersap (), b adalah penduga bagi koefisien regresi (),

dan , adalah parameter yang nilainya tidak diketahui sehingga

diduga menggunakan statistik sampel.

a
Y b X Y bX
.N .
Rumus yang dapat digunakan untuk mencari a

dan b adalah:

N . X Y X Y
b
.N . X 2 X
2

69
Keterangan:

Xi
= Rata-rata skor variabel X

Yi
= Rata-rata skor variabel Y

2. Analisis Koefisien Korelasi


Analisis korelasi digunakan untuk mengukur kekuatan asosiasi

(hubungan) variabel antara dua variabel. Dalam hal ini untuk melihat

kekuatan hubungan antara budaya keselamatan pasien terhadap mutu

dan layanan di Puskesmas DTP Talaga.


3. Analisis Koefisien Diterminan
Analisis koefisien determinan atau R-Square digunakan untuk

mengetahui seberapa besar konstribusi pengaruh yang diberikan

variabel bebas terhadap terikat. Dalam hal ini untuk mengetahui

konstribusi pengaruh yang diberikan budaya keselamatan pasien

terhadap mutu dan layanan di Puskesmas DTP Talaga.

4. Uji Keberartian Regresi

Pemeriksaan keberartian regresi dilakukan melalui pengujian hipotesis

nol, bahwa koefisien regresi b sama dengan nol (tidak berarti)

melawan hipotesis tandingan bahwa koefisien arah regresi tidak sama

dengan nol.

Pengujian koefisien regresi dapat dilakukan dengan memperhatikan

langkah-langkah pengujian hipotesis berikut:

70
1) Menentukan rumusan hipotesis Ho dan H1.

Ho : = 0 : Tidak ada pengaruh variabel X terhadap

variabel Y.

H1 : 0 : Ada pengaruh variabel X terhadap variabel Y.

2) Menentukan uji statistika yang sesuai. Uji statistika yang

digunakan adalah uji F. Untuk menentukan nilai uji F dapat

mengikuti langkah-langkah berikut:

a) Menghitung jumlah kuadrat regresi (JK reg (a) ) dengan

rumus:

Y 2

JK reg ( a )
n

X . Y
JK reg ( b / a ) b. XY n

b) Menghitung jumlah

kuadrat regresi b|a (JK reg b|a), dengan rumus:

JK res Y 2 JK Re g ( b / a ) JK Re g ( a )
c) Menghitung

jumlah kuadrat residu (JK res) dengan rumus:

RJK reg ( a ) JK Re g ( a )
d) Menghitung rata-rata jumlah

kuadrat regresi a (RJK reg (a)) dengan rumus:

71
e) Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi b/a (RJK

) dengan rumus:
reg (a)

RJK reg (b / a ) JK Re g ( b / a )

f) Menghitung rata-rata jumlah kuadrat residu (RJK res )

dengan rumus:

JK Re s
RJK res
n2

g) Mengitung F, dengan rumus:

RJK Re g (b / a )
F
RJK Re s

3) Menentukan nilai kritis () atau nilai tabel F pada derajat

bebas dbreg b/a = 1 dan dbres = n 2.

4) Membandingkan nilai uji F dengan nilai tabel F, dengan

kriteria uji, Apabila nilai hitung F lebih besar atau sama

dengan () nilai tabel F, maka H0 ditolak.

5) Membuat kesimpulan

72