You are on page 1of 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian yaitu sila-sila pancasila yang setiap sila pada
hakikatnya merupakan suatu azaz sendiri, fungsi sendiri-sendiri namun secara keseluruhan
merupakan suatu kesatuan yang sistematis. Isi sila-sila Pancasila pada hakikatnya merupakan
suatu kesatuan dasar filsafat negara Indonesia yang terdiri atas lima sila, yaitu masing-masing
merupakan suatu asas peradaban. Namun demikian, sila-sila Pancasila merupakan suatu kesatuan
dan keutuhan. Setiap sila merupakan unsur (bagian yang mutlak) dari Pancasila. Maka Pancasila
merupakan suatu kesatuan yang majemuk-tunggal. Konsekuensinya setiap sila tidak dapat berdiri
sendiri-sendiri terlepas dari sila-sila lainnya serta di antara sila satu dan lainnya tidak saling
bertentangan.
Norma-norma yang berlaku di masyarakat dari dulu hingga sekarang merupakan bentuk
perwujudan aturan yang telah terbentuk dan berlaku di tengah kehidupan masyarakat itu sendiri.
Dalam proses pembuatan pancasila juga tidak terlepas dari ketatnya aturan norma. Norma-norma
yang berlaku di Indonesia dibedakan dari beberapa aspek tapi antara aspek yang satu dengan
yang lain saling berkaitan. Norma-norma tersebut terdiri dari norma agama, norma kesopanan,
norma kesusilaan dan norma hukum. Pada dasarnya norma sama dengan tata aturan perundangan
yang berlaku di Indonesia namun bedanya norma terbentuk dengan tidak tertulis dan yang paling
mengagumkan tetap menjadi batasan / aturan yang terus dijaga dan berlaku ditengah kehidupan
masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Realisai Pancasila yang Objektif


Pengamalan pancasila yang obyektif adalah pelaksanaan dalam bentuk realisasi
dalam setiap penyelengaraan negara, baik di bidang legislatif,eksekutif, maupun
yudikatif. Dan semua bidang kenegaraan terutama realisasinya dalam
bentuk peraturan perudang-undangan negara Indonesia antara lain sebagai
berikut :

2.1.1 Tafsiran UUD 1945, harus dapat dilihat dari sudut dasar filsafat negara
pancasila sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945
alenia IV

2.1.2 Pelaksanaan UUD 1945 dalam undang-undang harus mengingat dasar-


dasar pokok pikiran tercantum dalam dasar filsafat negara
Indonesia

2.1.3 Tanpa mengurangi sifat undang-undang yang tidak dapat diganggu


gugat, iterprestasi pelaksanaannya harus mengingat unsur-unsur
yang terkandung dalam dassaar filsafat negara.

2.1.4 Interprestasi pelaksanaan undang-undang harus lengkap dan


menyeluruh, meliputi seluruh perundang-undangan dibawah
undang- undang dan keputusan-keputusan administratif dari
tingkat penguasa penguasa negara, mulai dari pemerintah pusat
sampai dengan dengan alat-alat perlengkapan negara di daerah,
keputusan-keputusan pengadilan serta alat perlengkapnya,begitu juga
meliputi usaha kenegaraan dan termasuk rakyat.

2.1.5 Dengan demikian seluruh hidup kenegaraan dan tertip hukum Indonesia
didasarkan atas dan diliputi oleh asas filsafat, politik dan tujuan
negara didasarkan atas asas kerohanian Pancasila.

2.2 Realisasi Pancasila yang Subjektif

pengamalan pancasila pengamalan pancasila yang subyektif adalah pelaksanaan


dalam pribadi seseorang,warga negara, individu, penduduk, penguasa, dan orang
Indonesia. Pengamalan pancasila yang subyektif ini justru lebih penting dari pengamalan
yang karena pengamalan yang subyektif merupakan syarat pengamalan pancasila yang
obyektif (Notonegoro,1974;44). Dengan demikian pelaksanaan pancasila yang subyektif
ini berkaitan dengan kesadaran, ketaatan, serta kesiapan individu untuk mengamalkan
pancasila. Dalam pengertian inilah akan terwujud jika suatu keseimbangan kerohanian
yang mewujudkan suatu bentuk kehidupan dimana kesadaran wajib hukum telah
berpadu menjadi kesadaran wajib moral. Sehingga dengan demikian suatu perbuatan yang
tidak memenuhi wajib melaksanakan pancasila.

Dalam pengamalan pancasila yang subyektif ini bilamana nilai-nilai pancasila


telah dipahami,diresapi, dan dihayati oleh seseorang maka orang itu telah memiliki moral
pancasila dan jika berlansung terus menerus sehingga melekat dalam hati maka disebut
dengan kepribadian pancasila. Pengertian kepribadian bangsa Indonseia dapat
dikembalikan kepada hakikat manusia.Telah diketahui bahwa segala sesuatu itu memiliki
tiga macam hakikat yaitu :

2.2.1 Hakikat abstrak, yaitu terdiri atas unsur-unsur yang bersama-sama


menjadikan hal itu ada, dan menyebabkan sesuatu yang sama
jenis menjadi berbeda dengan jenis lain sehingga hakikat ini disebut
dengan hakikat universal. Contoh; jenis manusia, hewan, tumbuhan.

2.2.2 Hakikat pribadi yaitu ciri khusus yang melekat sehingga membedakan
dengan sesuatu yang lain. Bagi bangsa Indonesia hakikat pribadi
ini disebut dengan kepribadian.Dan hakikat pribadi ini merupakan
penjelmaan dari hakikat abstrak.

2.2.3 Hakikat kongkrit yaitu hakikat segala sesuatu dalam menyatakan


kongkrit, dan hakikat ini merupakan penjelmaan dari hakikat
abstrak dan hakikat kongkrit.

2.3 Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila

Pancasila sejatinya adalah dasar negara dan filosofi bangsa yang masih diakui
secara de jure dan de facto. Kekisruhan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara, menghenyakkan banyak pihak tentang kealpaan para
penyelenggara negara dalam pembudayaan Pancasila. Konflik komunal, anarkisme
massa, radikalisme, korupsi dan bahkan separatisme, setidaknya merupakan dampak
dari dimarginalkannya Pancasila dengan nilai-nilai dasarnya. Survei Badan Pusat
Statistik Tahun 2011 terhadap 12.056 responden di 181 kabupaten/kota menunjukkan
89 % responden menilai berbagai permasalahan bangsa yang terjadi, disebabkan
karena kurangnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari. Pada perspektif yang lain, survei sebuah lembaga kajian
menemukan 60,6 % responden berusia 40 tahun ke atas tidak lengkap menyebutkan
urutan sila Pancasila, dan kalangan anak-anak tidak bisa menyebutkan dengan lengkap
sila-sila Pancasila. Fenomena ini menegaskan bahwa nilai- nilai Pancasila
mengalami keterpinggiran dari kehidupan masyarakat.

Pembudayaan Pancasila dalam rangka Pembangunan Karakter Bangsa, yang


diadakan oleh Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada (PSP-UGM)
beberapa waktu lalu, mengemuka pemikiran bahwa bangsa Indonesia menghadapi
persoalan besar dalam era globalisasi, karena telah kehilangan karakter budaya bangsa,
yaitu Pancasila, sebagai modal sosial yang berperan strategis dalam mempertahankan
kesatuan bangsa dan negara. Sayangnya, dalam hal penghayatan dan pengamalan
mengalami penurunan tingkat pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila. Penurunan ini
selain dikarenakan tidak adanya materi Pancasila sebagai mata pelajaran yang
berdiri sendiri, juga disebabkan oleh lingkungan yang tidak mendukung. Pancasila
sejauh ini sudah dibudayakan lewat pendidikan formal, yaitu melalui PPKN
(Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Namun mata pelajaran PPKN dirasa
masih sangat kurang untuk penanaman nilai-nilai Pancasila lewat jalur pendidikan
formal. Lingkungan strategis bagi internalisasi nilai-nilai dasar Pancasila juga tidak
kondusif. Para penyelenggara negara terkena virus phobia Pancasila, sehingga
nilai-nilai Pancasila terdistorsi oleh nilai-nilai lain dalam tata kelola
penyelenggaraan negara.

2.4 Proses Pembentukan Kepribadian Pancasila

Bilamana kita rinci pemahaman dan aktualisasi Pancasila sampai pada


tingkat mentalitas, kepribadian dan ketahanan ideologis adalah sebagai
berikut :

1) Proses penghayatan diawali dengan memiliki pengetahuan yang lengkap.


Kemudian diserap dan dihayati.
2) Kemudian ditingkatkan ke dalam hati sampai adanya suatu ketaatan, yaitu suatu
kesediaan yang harus senantiasa ada untuk merealisasikan Pancasila.
3) Kemudian disusul dengan adanya kemampuan dan kebiasaan untuk melakukan
perbuatan mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
4) Kemudian ditingkatkan menjadi mentalitas, yaitu selalu terselenggaranya
kesatuan lahir batin, kesatuan akal, rasa, kehendak sikap dan perbuatan.

2.5 Sosialisasi dan Pembudayaan Pancasila

Epistemologi Realisasi Nilai-nilai Pancasila Jika kita ingin merealisasikan


atau mengamalkan Pancasila harus dipahami terlebih dahulu bahwa
Pancasila itu merupakan suatu sitem nilai, di mana kelima sila merupakan suatu
kesatuan yang sistematik. Oleh karena itu setiap sila tidak dapat dipisahkan
dengan sila lainnya. Fungsi pokok Pancasila adalah sebagai dasar filsafat
negara, sehingga konsekuensinya Negara Kesatuan Republik
Indonesia diatur dalam hukum dasar negara sebagai norma dasar dalam
penyelenggaraan negara yaitu Undang-Undang Dasar 1945. Sistem Epistemologi
dalam realisasi Pancasila adalah bahwa Pancasila sebagai suatu sitem
nilai, kemudian dijabarkan dalam norma dasar negara, yaitu UUD 1945.
Pancasila juga merupakan suatu filsafat bangsa Indonesia maka
Pancasila diistilahkan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Pancasila adalah pandangan hidup bangsa dan dasar negara Republik Indonesia.
Pancasila juga merupakan sumber kejiwaan masyarakat dan negara Republik
Indonesia. sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia dan fungsi lainnya,
memiliki realisasi yang diambil dari nilai-nilai pancasila itu sendiri, yang diangkat dari nilai-nilai
yang ada dalam kehidupan secara nyata bangsa Indonesia yang berupa nilai-nilai adat istiadat,
kebudayaan, serta nilainilai agama yang dimiliki oleh bangsa Indonesia
sendiri sebelum membentuk negara. Oleh karena itu, realisasi pancaisla sangat
penting karena pancasila sebagai dasar filsafat, pandangan hidup pada hakikatnya
merupakan suatu sistem nilai, yang pada giliranya untuk dijabarkan, direalisasikan
serta diamalkan dalam kehidupan secara konkrit dalam konteks bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.

Daftar Pustaka

Prof. Dr. Kaelan, M.S.,2014, Pendidikan Pancasila, Paradigma, Yogyakarta

https://mobile.facebook.com/notes/badan-intelijen-negara/pembudayaan-pancasila-perlu-
akselerasi/502990326391590/?_rdr

http://amikom.ac.id/research/index.php/DTI/article/download/6238/3901

http://www.fhumj.org/berita_info/berita_detail/16