You are on page 1of 12

Artikel kebutuhan gizi

Oleh dr. I Wayan Sujana, M.Kes


Tubuh manusia dibentuk dari berbagai jaringan tubuh antara lain tulang, gigi, otot skelet, hati, otot jantung,
darah, dan otak. Komposisi yang dikandung oleh semua jaringan tubuh tersebut terdiri dari protein, lemak,
karbohidrat, berbagai mineral, dan vitamin hampir sama dengan komposisi bahan makanan pada umumnya.
Dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, tubuh melakukan pemeliharaan dengan mengganti jaringan
yang sudah aus ataupun rusak, melakukan kegiatan, dan pertumbuhan sebelum mencapai usia dewasa. Agar
tubuh dapat menjalankan ketiga fungsi tersebut diperlukan sejumlah zat gizi setiap hari yang didapatkan melalui
makanan.

Makanan adalah salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu
sebagai sumber energi dan zat-zat gizi, agar tubuh dapat menjalankan fungsinya dengan optimal. Diperkirakan
ada lima puluh macam senyawa dan unsur yang harus diperoleh dari makanan dengan jumlah tertentu setiap
harinya.

Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi
normal tubuh. Sebaliknya, bila makanan tidak dipilih dengan baik, tubuh akan mengalami kekurangan zat-zat gizi
esensial tertentu. Zat gizi esensial adalah zat gizi yang harus didapatkan dari makanan. Bila dikelompokkan,
terdapat tiga fungsi zat gizi dalam tubuh, yaitu :

Memberi energi; zat gizi yang memberikan energi adalah karbohidrat, lemak, dan protein, sangat
diperlukan untuk mengahasilkan energi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan aktifitas/kegiatan,
ketiga zat gizi ini dinamakan zat pembakar.

Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh; protein, mineral, air adalah zat gizi yang digunakan
oleh tubuh untuk membentuk sel-sel baru, dan mengganti sel-sel yang rusak, dan dalam fungsi ini
ketiga zat gizi ini dinamakan zat pembangun.

*) Kepala Seksi Kesehatan Keluarga, Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan dan
Kessos, Kabupaten Jembrana.

Mengatur proses tubuh; protein, mineral, dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh seperti :
mengatur keseimbangan air, mengatur proses oksidasi, proses penuaan sel, dan mengatur proses
ekskresi sisa sisa oksidasi dalam tubuh, dalam fungsi ini zat-zat gizi ini dinamakan zat pengatur.

Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang, dimana status gizi baik atau status gizi optimal
terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat gizi yang digunakan secara efesien, sehingga memungkinkan
pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi
mungkin. Banyak faktor yang mempengaruhi gangguan dalam gizi seperti faktor primer (jumlah dan kwalitas
makanan yang tersedia) dan faktor sekunder (terjadi gangguan dalam sistem pencernaan yang diakibatkan oleh
kelaianan dan penyakit).

Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu yang cukup lama.
Kekurangan atau kelebihan dalam waktu tersebut akan berakibat buruk tehadap kesehatan. Kekurangan salah
satu zat gizi dapat menimbulkan konskuensi berupa penyakit defisiensi ataupun kekurangan hanya marginal
dapat menimbulkan gangguan yang sifatnya lebih ringan atau menurunnya kemampuan fungsi. Konsumsi yang
berlebihan dari salah satu zat gizi juga menimbulkan gangguan kesehatan mulai dari gangguan yang ringan
misalnya gangguan fungsi yang menurun bahkan sampai gangguan yang sangat berat atau sifatnya fatal.

Di beberapa bagian di dunia terjadi masalah gizi kurang atau gizi lebih secara epidemis. Negara-negara
berkembang seperti sebagian besar Asia, Afrika, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan pada umumnya
mempunyai masalah gizi kurang. Sebaliknya, negara-negara maju seperti Eropa Barat dan Amerika Serikat pada
umumnya mengalami masalah gizi lebih.
Oleh karena itu untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal, mutlak diperlukan sejumlah zat gizi yang harus
didapatkan dari makanan dalam jumlah yang sesuai dengan yang dianjurkan setiap harinya. Disinilah diperlukan
suatu standar yang digunakan sebagai acuan tentang kecukupan gizi seseorang dibandingkan dengan rata-rata
penduduk, dan disusunlah suatu patokan yakni angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Angka kecukupan gizi
yang dianjurkan digunakan sebagai standar guna mencapai status gizi optimal bagi penduduk.

KECUKUPAN GIZI

Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recommended Dietary Allowances (RDA) dalah taraf
konsumsi zat-zat gizi esensial, yang berdasarkan pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan
hampir semua orang sehat di suatu negara. Kecukupan gizi dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, aktivitas, berat
dan tinggi badan, genetika, serta keadaan hamil dan menyusui. Dalam perhitungan angka kecukupan gizi yang
dianjurkan sudah diperhitungkan faktor variasi kebutuhan individual, dimana kebutuhan yang dianjurkan sudah
mencakup hampir 97,5 % populasi, dan untuk ekcukupan beberapa zat gizi seperti vitamin, mineral sudah
diperhitungkan sampai cadangan zat gizi dalam tubuh. Sehingga perhitungan kecukupan zat gizi sudah
memperhitungkan penambahan sebesar dua kali simpang baku (standar deviasi) dari kebutuhan rata-rata
penduduk yang sehat.

Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan didasarkan pada patokan berat badan untuk masing-masing
kelompok umur, gender, dan aktifitas fisik. Dalam penggunaannya bila kelompok penduduk yang dihadapi
mempunyai rata-rata berat badan yang berbeda dengan patokan, maka perlu dilakukan penyesuaian. Bila berat
badan kelompok penduduk tersebut dinilai terlalu kurus, maka AKG dihitung berdasarkan berat badan idealnya.
AKG yang dianjurkan tidak dipergunakan untuk perorangan atau individu, namun lebih menggambarkan
kelompok penduduk/masyarakat.

Angka Kecukupan gizi dianjurkan digunakan untuk tujuan seperti :

1. Merencanakan dan menyediakan suplai pangan untuk penduduk atau kelompok penduduk; perlu
diketahui pola pangan dan distribusi penduduk

2. Menginterpretasikan data konsumsi makanan perorangan atau kelompok; perlu ditetapkan patokan
berat badan untuk masing-masing gender, dan bila menyimpang dari patokan berat badan dilakukan
penyesuaian

3. Perencanan pemberian makanan di institusi, seperti rumah sakit, sekolah, industri, asrama, dan lain-lain

4. Menetapkan standar bantuan pangan; misalnya dalam keadaan darurat, dan untuk kelompok penduduk
yang berisiko seperti balita, anak sekolah, ibu hamil

5. Menilai kecukupan persediaan pangan nasional

6. Merencanakan program penyuluhan gizi

7. Mengembangkan produk pangan baru di industri

8. Menetapkan pedoman untuk keperluan labeling gizi pangan

Langkah pertama dalam penyusunan AKG adalah menetapkan kebutuhan faali rata-rata penduduk yang sehat
dan mewakili tiap golongan umur dan gender menurut kriteria yang telah ditetapkan. Untuk itu, perlu diketahui
perbedaan-perbedaan di dalam tiap golongan yang memungkinkan perkiraan jumlah yang perlu ditambahkan
pada kebutuhan rata-rata untuk memenuhi kebutuhan sesungguhnya semua orang sehat. Karena alasan mahal
dan perlu waktu lama eksperimen tersebut tidak dilakukan, hanya digunakan perkiraan kebutuhan dan variasinya
berdasarkan informasi yang terbatas.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan AKG, seperti :

Adanya variasi individual masing-masing orang yang mempengaruhi utilisasi zat gizi oleh tubuh

Adanya perbedaan komposisi zat gizi yang terkandung dalam setiap sumber makanan

Adanya saling mempengaruhi antar zat gizi dalam tubuh


Adanya perubahan komposisi zat gizi akibat proses pemasakan, atau pengolahan sampai makanan
siap dikonsumsi.

KEBUTUHAN GIZI

Angka Kebutuhan Gizi atau Dietary Requirements adalah banyaknya zat-zat gizi minimal yang dibutuhkan
seseorang untuk mempertahankan status gizi yang adekuat. Kebutuhan tubuh akan zat gizi berbeda-beda
menurut kelompok umur, pada bayi dan anak merupakan kebutuhan zat gizi yang memungkinkan pertumbuhan
dan perkembangan yang memuaskan, sedangkan untuk orang dewasa merupakan jumlah yang dibutuhkan
untuk memelihara berat badan normal dan mencegah deplesi zat gizi dari tubuh yang diperkirakan melalui
penelitian keseimbangan serta pemeliharaan konsentrasi normal zat gizi didalam darah dan jaringan tubuh.
Untuk zat-zat gizi tertentu, kebutuhan mungkin didasarkan atas mulah yang diperlukan baik untuk mencegah
ketidakmampuan tubuh melakukan suatu fungsi khusus, yaitu jumlah yang mungkin sangat berbeda dengan
kebutuhan guna mempertahankan simpanan tubuh. Dengan demikian, penetapan kebutuhan setiap zat gizi
berbeda-beda sesuai dengan umur dan keadaan gizi seseorang.

Energi merupakan merupakan hasil katabolisme zat gizi yang terdapat dalam tubuh dan yang berasal dari
makanan yang dikonsumsi, dan digunakan sebagai sumber kalori untuk semua proses yang terjadi dalam tubuh.
Oleh karena itu istilah lebih sempit dari kebutuhan zat gizi juga lebih sering disebutkan sebagai kebutuhan
energi.

Zat gizi yang menghasilkan energi adalah karbohidrat, protein, dan lemak, sehingga untuk istilah kebutuhan
energi lebih banyak akan dibicarakan adalah kebutuhan ketiga zat gizi tersebut. Untuk perhitungan zat gizi yang
lain, seperti mineral, vitamin, dan zat gizi mikro kebutuhannya relatif konstan untuk masing-masing kelompok
umur, sehingga tidak banyak dibicarakan atau dibahas dalam kebutuhan zat gizi.

Kebutuhan energi orang sehat dapat diartikan sebagai tingkat asupan energi yang dimetabolisasi dari makanan
yang akan menyeimbangkan keluaran energi, ditambah dengan kebutuhan tambahan untuk pertumbuhan,
kehamilan dan menyusui yaitu energi makanan yang diperlukan untuk memelihara keadaan yang telah baik.
Kebutuhan energi dihitung dengan memerlukan beberapa komponen, yaitu :

Basal Metabolic Rate (BMR); merupakan pengekspresian sejumlah kalori (kilokalori) yang dikeluarkan
oleh tubuh per meter persegi luas permukaan tubuh setiap jam (kal/jam/m) untuk aktivitas vital tubuh
seperti denyut jantung, bernafas, transmisi elektrik pada otot, sirkulasi darah, peristaltik usus, tonus
otot, temparatur tubuh, kegiatan kelenjar, serta fungsi vegetatif lainnya.

Specific Dynamic Action (SDA)/Food Induced Thermogenesis (FIT); merupakan jumlah energi yang
dibutuhkan untuk mengolah makanan dalam tubuh, antara lain untuk proses pencernaan dan
penyeapan zat-zat gizi oleh usus, atau segala sesuatu yang tidak berbuhubungan dengan aktifitas otot.

Aktifitas Fisik; pengeluaran energi untuk aktifitas fisik harian yang ditentukan oleh jenis, intensitas, dan
lamanya akifitas fisik dan olah raga.

Faktor Pertumbuhan; pengeluaran energi untuk pertumbuhan tulang dan jaringan tubuh.

Formula (rumus) yang banyak digunakan dalam menghitung kebutuhan energi seseorang adalah :

Energi Requirement = BMR + SDA + Aktifitas Fisik + Faktor Pertumbuhan

Besarnya penggunaan energi untuk Basal Metabolisme Rate (BMR) dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :

Faktor Primer :

luas permukaan tubuh (tinggi dan berat badan)

umur, jenis kelamin


cuaca, ras

aktifitas hormonal

Faktor Sekunder :

status gizi

penyakit

aktifitas fisik

Beberapa cara untuk menentukan BMR seperti :

1. Rumus Harris Benedict :

Laki-laki = 66 + (13,7 BB) + (5 TB) (6,8 U)

Perempuan = 65,5 + (9,6 BB) + (1,8 TB) (4,7 U)

2. Cara Cepat I :

Laki-laki = 1 kkal x kgBB x 24 jam

Perempuan = 0,95 kkal x kgBBx 24 jam

3. Cara Cepat II :

Laki-laki = 30 kkal x kg BB

Perempuan = 25 kkal x kg BB

. 4. Cara FAO/WHO/UNU :

BMR (kkal/hari)

Kelompok Umur

Laki-laki Perempuan

03 60,9 BB- 54 61,0 BB 51

3 10 22,7 BB + 495 22,5 BB + 499

10 18 17,5 BB + 651 12,2 BB + 746

18 30 15,3 BB + 679 14,7 BB + 496

30 60 11,6 BB + 879 8,7 BB + 829

60 13,5 BB + 487 10,5 BB + 596


Specific Dynamic Action (SDA) diperkirakan besarnya 10 % dari BMR. Beberapa faktor yang mempengaruhi
besarnya SDA :

Suhu tubuh (panas atau demam)

Suhu lingkungan

Termik makanan

Jenis konsumsi makanan

Status gizi

Aktifitas tubuh (olehragawan)

Kegiatan Fisik diperhitungkan sesuai dengan berat ringannya pekerjaan karena makin berat maka penggunaan
energi akan lebih banyak, dan makin ringan pekerjaan penggunaan energi akan lebih sedikit. Sehingga kegiatan
fisik tersebut dapat dikategorikan sebagai :

o sangat ringan = 1,4 BMR

o ringan = 1,6 BMR

o sedang = 2,5 BMR

o berat = 6,0 BMR

WHO/FAO/UNU juga merekomendasikan pengelompokan kegiatan fisik menjadi :

o Kerja ringan = 20% BMR

o Kerja sedang = 30% BMR

o Kerja berat = 40% BMR

o Kerja sangat berat = 50% BMR

Kegiatan ringan contohnya : seorang profesional (guru, dokter, arsitek, pengacara, akuntan, dll), pekerja kantor,
penjaga toko, dan pengangguran. Kegiatan sedang contohnya : pekerja industri, pelajar, pemancing, polisi dalam
keadaan aman, tentara tidak dalam peperangan, pekerja bangunan. Kegiatan berat contohnya : pekerja kasar,
sebagian besar pekerjaan petani, pekerja tambang, atlet (pelari, pemain sepak bola, perenang), pekerja
kehutanan. Kegiatan sangat berat contohnya : pandai besi, penebang pohon, penarik becak/gerobak barang,
buruh bangunan, kuli pabrik, pekerja pembongkar muatan di pelabuhan.

Keperluan energi untuk faktor pertumbuhan diperhitungkan sesuai dengan golongan umur, karena faktor umur
menentukan sedang terjadinya pertumbuhan yang menyeluruh dari jaringan tubuh, seperti pertumbuhan tulang
baru, pertumbuhan organ baru seperti gigi, serta pertambahan volume cairan tubuh. Berdasarkan kelompok
umur, besar pertambahan energi untuk faktor pertumbuhan adalah :
10 14 tahun = 2 kkal/KgBB

15 tahun = 1 kkal/KgBB

16 18 tahun = 0,5 kkal/KgBB

DASAR PERHITUNGAN KEBUTUHAN DAN KECUKUPAN GIZI USIA TERTENTU (REMAJA)

Kecukupan gizi Remaja

Dasar perhitungan kecukupan gizi pada adalah :

1. Menetapkan berat badan patokan untuk masing-masing kelompok umur; sesuai dengan anjuran WHO
untuk kelompok umur remaja di Indonesia memakai patokan berat badan seperti berikut :

Pria :

10 12 tahun : 30 kg

13 15 tahun : 40 kg

16 19 tahun : 55 kg

Wanita :

10 12 tahun : 39 kg

13 15 tahun : 42 kg

16 19 tahun : 45 kg

2. Menggunakan rujukan WHO, FAO, dan Amerika Serikat; kecukupan masing-masing zat gizi disusun
berdasarkan kelompok umur, berat badan dan tinggi badan, dan untuk kelompok remaja seperti dalam tabel
berikut ini :

Ribo-
Tia- Nia Vit
Gol. Umur BB Energi Pro Ca P Fe Zn I Vit. A flav
min sin C
(tahun) kg (Kal) (g) mg mg mg mg g IU (mg)
(mg) mg mg
Pria

10-12 30 1.950 46 600 400 10 15 150 3.450 0,9 1,2 14 30

13-15 40 2.100 56 600 400 18 15 150 4.000 0,9 1,3 15 30

16-19 53 2.500 58 600 500 18 15 150 4.000 1,0 1,4 17 30

Wanita

10-12 32 1.750 49 600 350 10 15 150 3.500 0,9 1,1 11 30

13-15 42 1.900 56 600 400 18 15 150 3.500 0,8 1,2 13 30

16-19 45 1.950 46 600 450 24 15 150 3.500 0,8 1,1 13 30

Untuk melihat kecukupan gizi seorang remaja maka di buat catatan konsumsi harian makanan yang telah
dikonsumsi sehari sebelumnya (recall 24 hours), kemudian dihitung banyaknya masing-masing zat gizi yang
telah dikonsumsi, dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Kemudian dikonversikan
kedalam kalori, dan selanjutnya dibandingkan dengan angka kecukupan yang dianjurkan masing-masing zat
gizi. Untuk umur yang sudah tercantum, bila tidak sesuai dengan berat badan kenyataan, maka dilakukan
koreksi dengan berat badan patokan yang telah ditentukan.

Contoh :

Seorang remaja laki-laki, masih sekolah SMU umur 17 tahun, berat badan 54 kg, tinggi badan 156 cm. Untuk
mengetahui kecukupan zat gizi yang dikonsumsi oleh remaja tersebut dilakukan recall 24 hours, dan didapatkan
hasil pencatatan sebagai berikut :

Waktu Makanan Komposisi URT Gram


Pagi Nasi Bungkus Nasi putih prg 50

Telur ayam btr 15

Daging ayam ptg kcl 10

Daun sawi 4 helai 5

Kopi Gula 2 sdk teh 5

Siang Kue lapis Tepung beras 2 sdk mkn 20

Gula 2 sdk teh 5

Santan kelapa 1 sdk teh 10

Makan siang Nasi putih prg 100

Telur ayam 1 btr 30

Daging ayam 2 ptg kcl 20

Daun Bayam 3 sdk mkn 30

Sore Kue dadar Tepung beras 2 sdk mkn 20

Gula 1 sdk teh 2,5

Teh Gula 2 sdk teh 5

Malam Makan malam Nasi putih 1 prg 150

Ikan baker ptg 15

Udang 4 bj 20

Kerang 4 bj 5

Kangkung prng 10
Minyak sawit 7,5
3 sdk teh

Gula 5
Teh 2 sdk teh

Nasi putih 75
Nasi bungkus prg
Telur ayam 30
1 btr
Daging ayam 10
ptg

Pagi Tepung beras 10


Pisang goreng 1 sdk mkn
Minyak klp 10
1 sdk mkn

Gula 5
Teh manis 2 sdk teh

Bila dilihat dalam tabel kecukupan gizi yang dianjurkan per hari, maka kecukupan gizi remaja laki-laki ini adalah :

Energi : 2.500 kal Iodium : 150

Protein : 58 gr Vit. A : 4.000 IU

Calsium : 600 mg Thiamin : 1,0

Pospor : 500 mg Riboflavin : 1,4 mg

Fe : 18 mg Niasin : 17,0 mg

Zn : 15 mg Vit. C : 30 mg

Dari hasil perhitungan recall 24 hours, setelah dikonvesikan ke dalam DKBM maka didapatkan hasil konsumsi
zat gizi dari remaja diatas :
Energi : 1418 kal Vit A : 8360,5 IU

Protein : 37,62 gr Vit B1 : 0,289 mg

Calsium : 217,2 gr Vit C : 32,5 mg

Karbohidrat : 217,575 gr Fe : 8,045 mg

Lemak : 37,94 gr

Bila dibandingkan denganAKG maka kecukupan zat gizi remaja tersebut adalah:

Kecukupan Energi : 1418/2500 x 100% = 56,72% AKG

Kecukupan Karbohidrat : 60% x 2500 = 1500 kalori = 1500/4 =375 gram

217,575/375 x 100% = 58,02% AKG

Kecukupan Protein : 37,62/58 x 100% = 64,8% AKG

Kecukupan Lemak : 10% x 2500 kal = 250 kal = 250/9 = 27,7 gram

37,94/27,7 x 100% = 136,9% AKG

Kecukupan Calsium : 217,2/600 x 100% = 36% AKG

Kecukupan Vit A : 8360,5/4000 x 100% = 209%AKG

Kecukupan Vit B1 : 0,289/1,0 x 100% = 28,9% AKG

Kecukupan Fe : 8,045/18 x 100% = 44,7% AKG

Kecukupan Vit C : 32,5/30 x 100% = 108,3% AKG

Kesimpulan bila hasil recall 24 hours remaja tersebut benar maka kecukupan zat gizi yang dikonsumsi adalah
rata-rata belum memenuhi AKG, hanya kecukupan Lemak, Vit.A, dan Vit C sudah melebihi Angka Kecukupan
Gizi yang dianjurkan.

Kebutuhan Gizi Remaja

Cara ringkas untuk memperkirakan kebutuhan energi remaja :

1. Tentukan BMR dengan patokan yang digariskan oleh WHO/FAO, atau dengan menggunakan rumus
Harris-Benedict, Cara cepat I, atau Cara cepat II.

Berat badan yang digunakan dalam menghitung BMR adalah menggunakan Berat badan IMT(Indeks
Massa Tubuh)/BMI(Boddy Mass Indeks) normal

1. Tentukan perkiraan derajat kegiatan fisik

2. Tentukan SDA, biasanya 10% dari BMR

3. Perkiraan tambahan energi untuk pertumbuhan sesuai umur

Contoh :
Bila contoh remaja diatas dihitung kebutuhan gizi adalah seperti berikut ini :

Berat Badan = 54 Kg, Tinggi Badan = 156 cm, Umur 17 tahun, Aktifitas Ringan

IMT saat ini = BB(kg)/TB(m)

= 54/ (1,56)

= 22,18

Bila dilihat dari IMT saat ini maka remaja tersebut termasuk kategori normal, maka berat badan yang digunakan
untuk menghitung BMR adalah berat badan saat ini.

Perhitungan BMR dengan rumus Harris Benedict :

BMR = 66 + (13,7 BB) + (5 TB) (6,8 U)

= 66 + (13,7x54) + (5x156) (6,8x17)

= 66 + 739,8 + 780 115,6

= 1470,2 kkal/cm/24 jam

SDA dihitung 10 % dari BMR

= 10% x 1470,2

= 147,02 kkal

Remaja diatas beraktifitas ringan, maka faktor aktifitas akan menambah kebutuhan nergi sebesar 1,6 x BMR

= 1,6 x 1470,2 kkal

= 2352,32 kkal

Umur 17 tahun maka tambahan energi untuk pertumbuhan adalah sebanyak 0,5 kkal/Kg BB :

= 0,5 x 54 kkal

= 27 kkal

Untuk energi oleh raga, tidak diperhitungkan karena remaja diatas sangat jarang melakukan olah raga

Kebutuhan Energi Remaja diatas adalah :

= BMR + SDA + Aktifitas Fisik + Olah Raga + Pertumbuhan

= 1470,2 kkal + 147,02 kkal + 2352,32 kkal + 0 kkal + 27 kkal

= 3996,54 kkal

Kebutuhan Energi dari Karbohidrat ( 60 75 % energi total) :

= 60 % x 3996,54

= 2397,92 kkal
Kebutuhan karbohidrat dari makanan sebanyak (jumlah kalori/4):

= 2397,92/4 gram

= 599,48 gram

Kebutuhan Energi dari Protein ( 10 15 % energi total) :

= 15 % x 3996,54

= 599,48 kkal

Kebutuhan protein dari makanan sebanyak (jumlah kalori/4):

= 599,48/4 gram

= 149,87 gram

Kebutuhan Energi dari Lemak ( 10 25 % energi total):

= 25 % x 3996,54

= 999,14 kkal

Kebutuhan lemak dari makanan sebanyak (jumlah kalori/9):

= 999,14/9 gram

= 111,02 gram

DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Suhardjo, Clara M. Kusharto(1982), Prinsip-prinsip Ilmu Gizi, Penerbit Kanisius, Jakarta.

2. Darwin Karyadi, Muhilal(1985), Kecukupan Gizi Yang Danjurkan, Penerbit PT Gramedia, Jakarta.

3. Arisman ,MB, Dr.(2004), Gizi dalam Daur Kehidupan dalam Buku Ajar Ilmu Gizi, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.

4. Sunita Almatsier, M.Sc., DR.(2004), Penuntun Diet, Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo
dan Asosiasi Dietisien Indonesia, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

5. Sunita Almatsier (2005), Prinsip Dasar Ilmu Gizi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.