You are on page 1of 6

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK: KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN

PENERAPAN NPM DI SEKTOR PUBLIK

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK: KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PENERAPAN


NPM DI SEKTOR PUBLIK
Oleh: Didik Pramono
(penulis adalah praktisi akuntansi pemerintahan, dosen fak. ekonomi dan mahasiswa profesi akuntan)

1. Keunggulan Penerapan New Public Management (NPM)


J. Boston dalam bukunya Public Management: The New Zealand Model menjelaskan bahwa new
public management adalah sebuah filosofi manageria yang mulai dikembangkan dan digunakan
oleh pemerintah sejak tahun 1980 untuk memodernisasi sektor-sektor publik dalam menjalankan
perannya sebagai alat negara. Terutama dalam tugas pemerintah sebagai alat negara untuk
memberikan pelayanan terhadap masyarakat. kemudian lebih jauh, Boston juga menjelaskan
bahwa new public management adalah sebuah paradigma baru yang dikembangkan, untuk
mereformasi kinerja birokrasi dengan mengutamakan orientasi pasar dalam sebuah pelayanan
publik. Ia menjelaskan bahwa new public management adalah sebuah paradigma yang lahir
dengan sebuah tujuan untuk merubah kinerja sektor-sektor publik dengan penekanan pada
mekanisme pasar dalam sebuah proses pelayanan terhadap publik.
New public management sendiri secara umum dapat didefenisiskan sebagai sebuah paradigma
yang menawarkan sebuah pola kinerja birokrasi yang berbasis pada orientasi pasar. Gambaran
pola kinerja dengan berbasis pada oreintasi pasar itu seperti menjadi sebuah publik sektor yang
lebih banyak menghasilkan dari pada membelanjakan, yang mengutamakan efektivitas dan
efesiensi, menjalankan mekanisme pasar, berusaha mendapatkan keuntungan sebesarnya
ketimbang mengeluarkan berbagai dana. Kemudian lebih jauh berbagai gambaran ini terwujud
dalam sebuah pola dan prinsip kepemimpinan yang disebut entrepreneurship atau berjiwa
entrepreneurship bagi elemen-elemen birokrasi dalam menjalankan tugas dan perannya.
Pada tahun 1992, pemikiran ini mulai dikembangkan secara terperinci oleh David Osborne dan
Ted Gaebler. Pemikiran-pemikiran mereka yang terkenal ini, mereka tuangkan dalam buku
mereka yang terkenal berjudul Reinventing Government. Adapun berbagai pemikiran yang
dihasilkan adalah pengembangan dari berbagai pemikiran new public management yang
bertujuan untuk mengoreksi paradigma birokrasi model Weber yang masih bertahan dalam
sistem birokrasi hingga saat ini.
Kemudian secara umum pemikiran-pemikiran ini dapat digambarkan dalam sebuah kata
pemerintahan entrepreneur. Dalam model pemerintahan entrepreuneur, pemerintahan katalis,
dimana pemerintah dan birokrasi bertindak mengarahkan masyarakat dan tidak sekedar
mengurusi semua bidang kemasyarakatan (mengayuh); Melakukan pemberdayaan masyarakat
dan tidak hanya melayani masyarakat; Membuka kompetisi dan persaingan dalam sebuah proses
pemberian pelayanan yang terbaik dan bukan memonopoli usaha; Bekerja digerakkan oleh misi
dan bukan pada aturan-aturan yang dibuat oleh para birokrat; Pemerintahan wirausaha,
menghasilkan pendanaan dan tidak hanya menunggu anggaran dari negara untuk membiayai
pekerjaan-pekerjaan yang ada; Bekerja dikendalikan oleh warga negara pembayar pajak dan
bukan pada aturan sepihak birokrat (pemerintahan milik masyarakat); Pemerintahan yang
berorientasi pada hasil, membiayai hasil dan bukan pada masukan; Pemerintahan yang
antisipatif, menjalankan prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati permasalahan;
Melibatkan kerja dan pengawasan kelompok (peer group) dan bukan hanya pada kerja individu
atau pengawasan atasan; Kemudian lebih meperhatikan keinginan pasar (publik), ketimbang
keinginan organisasi yang ada (pemerintahan yang berorientasi pelanggan).
Lebih jauh berbagai pemikiran yang disarankan oleh David Osborne dan Ted Gaebler ini dapat
dirumuskan dalam tiga pikiran utama yakni:
Catalytic government: steering rather than rowing. Pemerintah sebagai katalis, lebih baik
menyetir daripada mendayung. Pemerintah dan birokrasinya disarankan untuk melepaskan
bidang-bidang atau pekerjaan yang sekiranya sudah dapat dikerjakan oleh masyarakat sendiri.
Community-owned government: empowering rather than serving. Pemerintah adalah milik
masyarakat: lebih baik memberdayakan daripada melayani. Pemerintah dipilih oleh wakil
masyarakat, karenanya menjadi milik masyarakat. Pemerintah akan bertindak lebih utama jika
memberikan pemberdayaan kepada masyarakat untuk mengurus masalahnya secara mandiri,
daripada menjadikan masyarakat tergantung terhadap pemerintah.
Competitive government: injecting competition into service delivery. Pemerintahan yang
kompetitif adalah pemerintahan yang memasukan semangat kompetisi di dalam birokrasinya.
Pemerintah perlu menjadikan birokrasinya saling bersaing, antar bagian dalam memberikan
pendampingan dan penyediaan regulasi dan barang-barang kebutuhan publik.

2. Kelemahan Penerapan New Public Management (NPM)


Setiap paradigma akan selalu punya kelebihan dan kekurangannya dalam memecahkan
perbagai permasalahan yang ada dalam birokrasi. Latar belakang lahirnya paradigma serta
kondisi dan konteks dimana paradigma tersebut sukses dilaksanakan sering jauh berbeda dengan
kondisi dimana paradigma diterapkan dan akan diterapkan. Karena itu sering terjadi bahwa
paradigma yang telah berhasil di tanah kelahirannya atau di daerah-daerah tertentu kadang tidak
mampu diterapkan dan menyelesaikan berbagai permasalahan birokrasi di daerah-daerah lainnya.
Karena yang sering terjadi adalah paradigma tersebut justru tidak membawa perubahan tetapi
sebaliknya justru semakin menambah kompleksitas permasalahan yang ada dalam birokrasi atau
pemerintahan.
Demikian juga dengan paradigma new public management yang diusung oleh Osborne
dan Gaebler dalam mereformasi kinerja birokrasi. Walaupun telah berhasil diterapkan di
beberapa negara termasuk di tanah kelahirannya, paradigma ini tetap memiliki beberapa
kekurangan serta kelemahan yang menjadikannya sulit untuk diterapkan dalam konteks birokrasi
Indonesia dan di tengah kondisi perekonomian masyarakat yang belum mapan secara merata.
Beberapa kelemahan dan kekurangan yang termuat dalam paradigma ini terlihat dalam konsep
mewirausahakan birokrasi. Konsep mewirausahakan birokrasi yang diusung oleh new public
management masih terkesan buat dirinya sendiri. Karena logika yang dibangun oleh new public
management adalah sebuah logika yang berorientasi pada pasar yang mengutamakan
keuntungan bagi dirinya dan bukan pada pelayanan publik.
Selain itu, berangkat dari logika yang ada dan berbagai tawaran struktural yang
ditawarkan oleh new public management jelas terungkap adanya sebuah upaya untuk
memasarkan birokrasi dengan menerapkan logika pasar. Dalam hal ini, masyarakat sebagai
obyek pelayanan akan sering dijadikan sebagai konsumen dan birokrasi sebagai pemberi
pelayanan menjadi produsen. Pola kerja birokrasi diubah dalam sebuah etika mekanisme pasar
dengan menjunjung tinggi keefektifan dan efesiensi. Pelayanan diibaratkan sebagai hasil
produksi yang harus dibeli oleh masyarakat dimana sebuah transaksi ekonomi tercipta yang
mana rakyat dilihat sebagai pembeli dan birokrasi sebagai produsen yang memberikan
pelayanan. Sehingga ,berangkat dari berbagai pola ini menjadi jelas bahwa masyarakat yang
kemudian tidak berdaya secara ekonomi, tidak akan mampu dan tidak akan mempunyai kekuatan
untuk mengakses berbagai pelayanan publik yang ada.
Oleh karena itu berangkat dari cita-cita mekanisme pasar yang diusung oleh paradigma
new public management diperlukan sebuah proses filterisasi terlebih dahulu bagi paradigma ini
sebelum diterapkan dalam konteks Indonesia. Karena berbagai mimpi tentang mekanisme pasar
yang coba diusung oleh new public management atau birokrasi pasar hanya akan bisa dan
mungkin berlaku dalam kondisi masyarakat yang telah mapan baik secara ekonomi maupun
secara politik. Jika mimpi new public management ini diterapkan dalam konteks Indonesia maka
kondisi yang tercipta adalah sebuah konteks pelayanan dimana uang sebagai parameter utama
pelayanan. Kemudian dalam posisi ini hanya mereka yang mempunyai kekuatan ekonomilah
yang akan mampu dan dengan mudah mengakses dan menerima berbagai pelayanan publik.
Sedangkan di pihak lain yakni pihak-pihak yang tidak mempunyai kekuatan modal akan
kesulitan mendapatkan pelayanan dan dinomorduakan dalam proses pemberian pelayanan.
Hal ini tentunya berlawanan dengan peran birokrasi sebagai lambang negara yang
bertugas untuk melayani masyarakat. Karena yang terjadi adalah negara hanya memperhatikan
mereka yang memiliki kapasitas ekonomi yang secara logis sudah hidup diatas kemapanan dan
yang miskin akan semakin terpinggirkan. Sehingga dengan demikian menjadi jelas bagaimana
sulitnya paradigma ini jika diterapkan dalam konteks Indonesia. Yang mana jika tetap berani
diterapkan akan bisa dipikirkan seberapa kompleks persoalan permasalah yang akan muncul
dalam dikemudian hari.
Berbagai pelaksanaan di berbagai negara berkembang termasuk di Indonesia, new public
management justru menghadapi berbagai permasalahan serupa seperti yang terlampir di atas.
Bahkan lebih jauh melihat berbagai fenomena yang terjadi dalam sistem birokrasi Indonesia
berkaitan dengan penerapan paradigma new public management. Kematian pemikiran ini
semakin tampak ketika penulis melihat adanya muatan neo-lib dalam berbagai penyelenggaran
kebijakan publik yang ditawarkan oleh paradigma new public management. Di mana semangat
kapitalis mulai merasuki berbagai kebijakan-kebijakan yang diambil dengan cara menjual
belikan aset-aset negara, yang secara mendasar memiliki peran paling penting dalam proses
pelayanan terhadap masyarakat. Kemudian yang terjadi adalah pasar mendominasi seluruh
berbagai kebijakan yang ada dan mekanisme pasar menjadi sebuah tuntutan paling utama dalam
proses pelayanan. Karena itu, berangkat dari berbagai hal ini penulis tetap berkesimpulan bahwa
sebaik apapun berbagai kebijakan yang ditawarkan oleh new public management, paradigma ini
tetap tidak dapat diterapkan dalam konteks dan kondisi Indonesia saat ini.
3. Kesimpulan
Sebagai salah satu paradigma yang bergulat dalam proses reformasi birokrasi, paradigma
new public management mampu menawarkan sebuah perubahan signifikan dalam merubah
sistem dan kinerja birokrasi Indonesia. Namun setiap paradigma selalu memiliki kelebihan dan
kekurangan. Paradigma new public management dalam konteks Indonesia sendiri tidak dapat
diterapkan secara utuh. Kondisi perekonomian masyarakat yang secara umum masih di bawah
standard dan keadaan perekonomian negara yang masih labil menyebabkan paradigma new
public management tidak dapat diterapkan secara utuh. Akan tetapi jiwa entrepreneurship yang
diusung oleh paradigma new public management adalah salah satu poin penting yang dapat
diadopsi oleh birokrasi Indonesia dalam mereformasi kinerja birokrasi Indonesia.

KONTRADIKSI DAN KONFLIK AKIBAT PENERAPAN NPM


Sejumlah kontradiksi dan konflik tatkala NPM coba diterapkan di daerah-daerah di Indonesia:
Pertama, dalam hal manajemen kontrak, DPRD dipandang belum mampu merumuskan
produk dan menetapkan standar kualitas bagi setiap instansi pemerintahan.
Pemerintahan daerah terdiri dari kepala daerah dan DPRD, keduanya merupakan lembaga
eksekutif dan legislatif yang sangat menentukan dalam pengambilan kebijakan dilevel
pemerintah daerah. Konsep NPM belum sepenuhnya dipahami oleh salah satu pihak ataupun
kedua belah pihak, sehingga seringkali terjadi kebijakan yang diambil belum mendukung
terhadap pelayanan publik yang sesuai dengan konsep NPM. Apalagi jika di beberapa daerah,
kekuatan dan pengaruh politik menyebabkan hubungan kedua lembaga ini kurang harmonis, hal
tersebut bisa mengganggu kinerja dalam pembahasan maupun pengambilan keputusan kebijakan
yang berkaitan dengan kepentingan publik.
Kedua, pola komando dalam bioraksi masih cukup kuat, di mana komunikasi lebih bersifat
atas-bawah ketimbang sebaliknya.
Pola top-down yang terbentuk dijajaran birokrasi masih begitu kental, sehingga partisipasi
bawahan kepada atasan dalam rangka pengambilan keputusan masih sangat minim. Padahal jika
hal tersebut dikaitkan dengan permasalahan pelayanan publik, seharusnya pola komunikasi lebih
seimbang baik dari atas ke bawah maupun sebaliknya. Top manajer seringkali tidak mengetahui
apa yang terjadi di lapangan karena kurangnya informasi dari bawahan, dilevel bawahanpun
komunikasi seringkali tidak dapat dilaksanakan dengan baik akibat ego sektoral maupun
koordinasi yang kurang baik.