You are on page 1of 2

Dia melejit perlahan, menahan nafas sejenak, mencoba menganalisa setiap detik yang

berlalu tanpa ketahuan oleh siapa pun di sisinya yang mampu membaca energi tersimpan
darinya. Hei, hentikan pandangan mematikanmu itu Hito! Aku sudah bosan menunggumu
mengulur waktu! Ya, Hito pun memiliki pandangan yang sama terhadap Osu, ia juga tidak
suka mengulur waktu, dan ia memang sedang tidak mengulur waktu. Diam kau Osu, atau
ujung pisau ini akan mengenai tepat di rongga kanan ruang jantungmu, jawab Hito dengan
tenang.

Usaha pencaharian hari itu belum menghasilkan apa pun dalam pandangan Osu, tetapi
lain halnya dengan Hito yang mampu menerjemahkan setiap detik berlalu dimana tetesan
keringat korban menjadi penanda mereka baru saja dibunuh. Ia tak bisa tinggal diam, ia tahu
siapa yang berbuat di balik itu semua. Namun, ia tidak mungkin bertindak bodoh dengan
menceritakannya pada Osu yang jiwanya masih dihantui dengan ledakan insting dan emosi
yang belum stabil di usia belianya, 8 tahun.

###

Hari itu hujan deras turun ditemani dengan alunan petir yang membentuk pola
berurutan. Entah bagaimana dan siapa yang mengatur itu semua, yang jelas pelakunya adalah
sosok yang luar biasa. Keinginan untuk keluar rumah pun diurungkan, meski penuh dengan
kebosanan Roku mencoba mencari kesibukan. Sempat ia membolak-balik beberapa buku-
buku beraliran kiri di rak bukunya, namun tak bertahan lama buku itu kembali ke
tempatnya semula. Roku pun membuka kembali catatan lamanya, dimana ia masih menjadi
seorang petarung sekaligus pembelajar yang tangguh dan mungkin lebih tepat disebut sebagai
seorang assasin.

Masih melekat dengan kuat dalam ingatannya wajah-wajah terakhir orang yang ia
regang nyawanya tanpa ampun. Salah satu yang paling terngiang adalah ucapan seorang
wanita yang sangat tenang saat terakhir kali Roku akan menghunuskan pisaunya tepat di sisi
kiri dadanya. Silahkan saja, kau pun akan merasakan hal yang sama nantinya, dan mungkin
itu lebih menyakitkan dari ini. Mendengar itu kedua mata Roku pun terbelalak, sempat ia
menjadi gentar dan menunda proses pemutusan kehidupan seseorang itu sejenak. Namun
karena memang itulah tugasnya sebagai seorang pembunuh bayaran, maka diselesaikan
dengan baik pula lah tugasnya. Ucapan terakhir wanita yang diketahui memiliki nama
Meme tersebut terus membekas disertai senyum yang lebar saat nyawanya sudah lenyap
seketika pisau menghunus jantung.
Roku pulang dengan tubuh lunglai. Baru kali ini ia mendapati kata-kata demikian dari
para pesanannya. Ia berjalan ke base camp dengan tatapan kosong hingga akhirnya
tubuhnya jatuh sebelum kakinya menyentuh halaman tempat tinggalnya.

###