You are on page 1of 10

Manajemen Kelas Efektif Dalam Pembelajaran di Kelas

Aldo Pramudya1, Getsi Novalin Takain2,


Pembimbing
Natalia Rosa Keliat

Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana

Email: Aldo.pramudya93@gmail.com

Abstrak
Manajemen berasal dari terjemahan kata management, yang dapat diartikan sebagai suatu proses
penggunaan berbagai sumber daya dan pengendalian terhadap semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan
suatu kebijakan agar tujuan dapat tercapai secara efektif. Tujuan dari manajemen kelas adalah
menciptakan kondisi kelas yang optimal bagi terselenggaranya pembelajaran. Kondisi yang optimal
tersebut ditandai dengan adanya suasana yang menyenangkan dan dapat memotivasi siswa untuk belajar
serta adanya rasa aman dengan dan mewujudkan kondisi sosial, dan emosional yang semaksimal
mungkin, serta menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interkasi
pembelajaran sehingga tercapainya tujuan. Manajemen kelas dapat mengatur kegiatan-kegiatan dalam
ruang lingkup yaitu Penataan Ruang Kelas dan Perlengkapan, Prosedur untuk Pengelolaan Pekerjaan
Siswa, Manfaat dan Kelemahan pemberian tugas, Merencanakan dan melaksanakan pembelajaran,
Penyusunan perangkat belajar, Ketrampilan Komunikasi untuk mengajar dan Mengelola kelompok
berkebutuhan khusus.

Kata Kunci: Manajemen kelas

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sampai saat ini masih ada keyakinan bahwa pendidikan merupakan instrumen untuk menuju
pencerahan dan demokratisasi dalam kehidupan masyarakat.Pendidikan dipercayai sebagai instrumen
mobilitas sosial. Hanya melalui pendidikan, generasi muda dipersiapkan untuk menghadapi masa depan
yang lebih maju. Apabila hal ini disadari oleh semua pihak, Maka sudah selayaknya apabila kita selalu
berupaya untuk menampilkan proses pendidikan yang berkualitas, Sihangga nantinya peserta didik benar-
benar memahami apa yang mereka terima dan dapat mengkomunikasikannya kepada masyarakat.(Sujati,
2015). Dalam dunia pendidikan pun diperlukan oknum-oknum pendidik yang memberikan kontribusi
besar untuk pendidikan yang berkualitas, Hal ini dapat dilakukan dalam berbagai cara salah satunya
dengan menciptakan manajemen kelas yang efektif dalam proses pembelajaran di kelas.
Istilah manajemen kelas dibangun dari dua kata dasar, yakni manajemen dan kelas.Kata
manajemen merupakan terjemahan langsung dari kata management. Manajemen diartikan sebagai suatu
proses penggunaan berbagai sumber daya dan pengendalian terhadap semua hal yang terlibat dalam
pelaksanaan suatu kebijakan agar tujuan dapat tercapai secara efektif.Tujuan dari manajemen kelas adalah
menciptakan kondisi kelas yang optimal bagi terselenggaranya pembelajaran. Kondisi yang optimal
tersebut ditandai dengan adanya suasana yang menyenangkan dan dapat memotivasi siswa untuk belajar
serta adanya rasa aman dengan dan mewujudkan kondisi sosial, dan emosional yang semaksimal
mungkin, serta menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interkasi
pembelajaran sehingga tercapainya tujuan. Dengan demikian kualitas dan kuantitas belajar peserta didik
sangat ditentukan oleh kondisi kelas (H Sujati, 2006)
Winataputra, 2003 mengemukakan dalam menjalankan setiap strategi untuk pembelajaran yang
optimal dalam kelas terdapat banyak kendala yang menggangu proses pembelajaran di dalam kelas
sehingga tidak efektif dan tidak mencapai proses pembelajaran yang menyenangkan. Maka dari itu dalam
memanjemen kelas sangat dibutuhkan untuk mencapai proses pembelajaran yang menyengangkan.

PEMBAHASAN

1. Penataan Ruang Kelas dan Perlengkapan


Dalam proses pembelajaran dikelas sangat penting dilakukan oleh seorang guru adalah
mengupayakan dan menciptakan kondisi belajar mengajar yang baik. Segala aspek pendidikan
pengajaran berproses, guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat-
sifat dan individualnya. Bagi seorang guru sangat berperan penting memiliki kemampuan menciptakan
kondisi belajar mengajar yang baik untuk mencapai tingkat yang optimal dalam kegiatan pembelajaran.
Hal ini didukung juga dengan melakukan penataan ruang kelas yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk
menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan
maksimal. Pengelolaan kelas ditekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan pembelajaran
yaitu berkaitan dengan pengaturan orang (siswa) dan barang/ fasilitas.
Adapun cara mengatur lingkungan fisik yang kondusif untuk siswa :
1.Pengaturan kelas
Aturlah ruang kelas supaya lebih nyaman. Ruang kelas harus memiliki jendela dan fentilasi yang
cukup sehingga terjadi pergantian udara secara bebas. Atur meja-kursi guru dan siswa agar tidak
berdesakan serta sesuai dengan jumlah meja-kursi dengan kapasitas ruangan.
2. Alat peraga dan sumber belajar
Beberapa hal yang terkait dengan pengelolaan alat peraga yaitu :
Alat peraga diletakkan pada tempat yang mudah dijangkau siswa dan tetap aman.
Alat peraga diupayakan sering digunakan disamping untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
juga meningkatkan apresiasi siswa terhadap alat peraga.
Aturan penggunaan alat peraga perlu dibuat dan ditaati
3.Menjaga kebersihan Kelas
Kelas harus dijaga kebersihannya oleh anggota kelas, sediakan tempat sampah diluar kelas.Secara
berkala siswa dapat membersihkan dan menjaga kelas secara bersama-sama.
4. Pengaturan dinding kelas
Atur dinding kelas agar terlihat indah, jangan biarkan dinding terlihat kosong, tetapi isi dengan berbagai
sumber belajar, media, kata-kata mutiara, dan hasil karya lainnya.
5. Pajangan kelas
Pajangan kelas dapat dikelola dengan memperhatikan hal sebagai berikut :
Pajangan dipasang pada tempat yang mudah dibaca oleh siswa
Pekerjaan anak hendaknya dipajangkan secara individual sehingga dapat dikenali dengan mudah
Yang dipajangkan hendaknya dalam keadaan bersih dan menarik
Materi yang dipajangkan dapat ditempelkan pada dinding
6. Sudut baca/perpustakaan
Buatlah perpustakaan kelas yang menjamin siswa untuk aktif membaca dan menelusuri informasi. Buku-
buku diperpustakaan tidak hanya buku pelajaran saja akan tetapi juga sebaiknya disediakan buku yang
menarik dan inspiratif.
7. Menghindari kebisingan
Kebisingan merupakan masalah yang dihadapi oleh sekolah-sekolah yang ada diperkotaan.Biasanya
dikota terdapat bangunan ruang kelas yang dekat dengan jalan raya.
8. Sediakan tempat bersosialisasi
Sekolah bukan hanya untuk tempat belajar tetapi juga tempat bersosialisasi.Oleh karena itu sekolah perlu
menyiapkan tempat untuk mereka yang bersosialisasi.
Cara mengatur lingkungan non fisik sebagai berikut :
a. Interaksi siswa dengan guru serta siswa dengan siswa lainnya
b. Membuat aturan, tata tertib, etika yang disepakati oleh semua siswa
c. Kenyamanan kelas sebagai tanggung jawab bersama
d. Menyeimbangkan pujian dan kritik
e. Membangun energi kelas
f. Disiplin kelas
g. Refleksi (Oeman,2012).

2. Prosedur untuk pengelolaan pekerjaan siswa


Prosedur Pengelolaan Tugas Siswa Adalah suatu cara bagaimana seorang guru dapat mengetahui serta
memahami siswanya didalam memberikan tugas kepadanya, atau secara jelasnya Prosedur Pengelolaan
Tugas Siswa adalah tatacara seorang guru dalam memberikan tugas kepada siswanya. Dan sangat penting
sekali bagi seorang guru untuk mengetahui tatacara pemberian tugas kepada muridnya, supaya guru di
dalam memberi-kan tugas kepada muridnya tidak sewena-wena.
System pertanggungjawaban guru sebaiknya mengarahkan guru dan peserta didik untuk memeriksa
pembelajaran meraka dan proses pembelajaran yang melibatkan mereka. Sehingga peserta didik
merasakan umpan balik terhadap tugas yang dikerjakan.
Djamarah (2006: 85) mengemukakan tentang langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan
metode pemberian tugas atau metode resitasi, yakni sebagai berikut:
1. Fase pemberian tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan:
Tujuan yang akan dicapai
Dalam artian usahakan tugas yang diberikan disadari benar manfaatnya oleh siswa guna menimbulkan
minat yang lebih besar.Upayakan agar siswa tahu tentang alat dan cara menilai hasil pekerjaan tersebut
sehingga akan mengurangi banyaknya kesalahan dan rendahnya nilai, dan Guru tidak sungkan
memberikan hadiah kepada mereka yang berhasil serta hukuman kepada mereka yang tidak
mengerjakannya dengan konsekuen.
Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut (tidak asal-
asalan dalam membuat soal).
Sesuai dengan kemampuan siswa)
Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.
Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut

2. Langkah pelaksanaan tugas


Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru
Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja
Diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain
Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik.

3. Fase mempertanggungjawabkan tugas


Hal yang harus dikerjakan pada fase ini :
Laporan siswa baik lisan/ tertulis dari apa yang telah dikerjakannya.
Ada Tanya jawab/diskusi kelas.
Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun nontes atau cara lainnya.

4. jenis-jenis tugas yang dapat diberikan kepada siswa yang dapat membantu berlangsungnya
proses belajar mengajar
Tugas membuat rangkuman
Tugas membuat makalah
Menyelesaikan soal
Tugas mengadakan observasi
Tugas mempraktekkan sesuatu
Tugas mendemonstrasikan observasi. (Djamarah, Syaiful Bahri danZain. 2006)
Dari pemebahasan di atas mengenai prosedur pekerjaan siswa kita dapat melihat bahwa pemberian
tugas kepada siswa perlu disediakan waktu yang cukup. Untuk itu pemberian tugas hendaknya
proporsional. Artinya, guru seyogyanya tidak memberikan tugas yang berlebihan Artinya terlalu
membebani kepada siswa. Perlu diingat bahwa dalam KTSP, ketentuan tugas yang dibebankan kepada
siswa maksimum hanya separuh dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang
bersangkutan.
Sehingga dalam memberikan tugas kepada siswa seyogyanya disesuaikan dengan kemampuan siswa
Oleh karena itu tantangan beban tugas kepada siswa hendaknya diberikan secara moderat. Artinya, dalam
memberikan tugas kepada siswa diusahakan tidak terlalu sulit atau justru terlalu mudah untuk dikerjakan
siswa.
Adapun Manfaat dan Kelemahan pemberian tugas yaitu:
Manfaat: Tugas tersebut merupakan pengulangan dan pemantapan pengertian murid pada pelajaran
yang diberikan, Dengan dasar learning by doing, Diharapkan kesan pada diri anak akan lebih mendalam
dan mudah diingat (Adanya penambahan frekuensi belajar. Dan memiliki tujuan agar siswa menghasilkan
hasil belajar yang lebih mnatap
Kelemahan:
1. Seringkali siswa tidak mengerjakan dengan kemampuan sendiri, Melainkan meniru/menyontek
ataupun ikut-ikutan dengan alasan kerjasama
2. Guru kurang konsekuen memeriksa dan menghargai pekerjaan murid
3. Bila pekerjaan terlalu sulit, Hal ini akan menimbulkan kekurang tenangan mental siswa, takut,
khawatir.
4. Pemberian tugas terlalu sering dan banyak, akan dapat menimbulkan keluhan siswa.
5. Sukar untuk memberikan tugas secara individual sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan
siswa sendiri.
6. Khusus tugas kelompok juga sulit untuk dinilai siapa yang aktif oleh guru. (Mohammad, 2013)
3. Merencanakan dan melaksanakan pembelajaran
A. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas,
perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujun pembelajaran.Manusia terlibat
dalam sistem pengajaran yang terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium.
Material, meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape.
Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruang kelas, perlengkapan audio visual, juga computer.Prosedur,
meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya.Sedangkan
menurut Darsono pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa,
sehingga tingkah laku siswa menjadi berubah ke arah yang lebih baik.
Ciri-ciri Pembelajaran menurut Hamalik bahwa ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem
pembelajaran yaitu:
a. Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur, yang merupakanunsur-unsur sistem
pembelajaran, dalam suatu rencana khusus.
b. Kesalingtergantungan (interdependence), antara unsur-unsur sistempembelajaran yang serasi
dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial, dan masing-masing memberikan
sumbangannya kepada sistem pembelajran.
c. Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai.Ciri ini menjadi
dasar perbedaaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dansistem yang alami (natural).
d. Tujuan utama sistem pembelajaran adalah agarsiswa belajar. Tugas seorang perancang sistem
ialah mengorganisasi tenaga,material, dan prosedur agar siswa belajar secara efisien dan efektif.

Ada beberapa ciri-ciri pembelajaran menurut Darsono yaitu sebagai berikut :


a. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.
b. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.
c. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantangbagi siswa.
d.Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat danmenyenangkan bagi siswa.
e. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran baik secara fisik maupun psikologis.
(Suparmi, 2012)
B. Perencanaan Pembelajaran
Proses pembelajaran membutuhkan interaksi positif antara guru dengan siswa, sehingga komunikasi
dua arah akan terwujud dalam suasana kondusif dan terjadi keseimbangan antara kebebasan siswa dalam
mengekspresikan perasaannya dengan kewibawaan guru. Dengan demikian ada asumsi yang menjadi
dasar dalam melaksanakan pembelajaran jika pembelajaran diorientasikan sebagai penciptaan lingkungan
belajar, atau pembelajaran dimaknai sebagai upaya guru dalam menciptakan lingkungan belajar.
Dalam kasus tertentu, seorang guru gagal dalam menciptakan lingkungan belajar. Guru hanya mampu
menjadi oase atau sumber belajar utama bagi siswa-siswanya. Hal tersebut tidak salah karena guru
merupakan sumber pengetahuan bagi siswa-siswanya. Tetapi akan lebih biijak jika guru mampu
mendorong dan memberi jalan bagaimana siswa mencari dan menemukan oase pengetahuan yang
dibutuhkan.
Namun demikian kebebasan tersebut harus didasarkan pada kesadaran yang muncul pada dirinya, dan
peran gurulah untuk memberi kesadaran, agar jiwa kebebasan dapat tersalurkan dengan baik. Guru harus
mampu membuat perencanaan atau desain dalam proses pembelajaran agar mampu memberi stumulus
positif untuk menciptakan lingkungan belajar.
Menurut Sudaryo dkk (1991) perencanaan pembelajaran atau desain instruksional merupakan usaha
untuk menentukan prosedur instruksional dan mensistematisasikan proses belajar mengajar dalam situasi
tertentu sedemikian rupa sehingga perubahan tingkah laku yang diharapkan pada diri siswa terjadi.
Perencanaan pembelajaran sangat penting karena seorang guru sejenius apapun punya keterbatasan.
Keterbatasan tersebut harus disadari sepenuhnya untuk diantisipasi agar ketika di tengah siswa-siswinya
mampu menjadi motivator dalam proses pembelajaran yang mencerdaskan.
Dalam wacana manajemen, perencanaan merupakan unsur utama tahapan manajemen.Fungsi
perencanaan jelas, yaitu sebagai penentu langkah berikutnya. Dalam proses pembelajaran perencanaan
juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Secara umum
perencanaan merupakan proses menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai
tujuan yang ditentukan. Perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka waktu
tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan.Perencanaan berlaku bagi seluruh aspek
kehidupan termasuk di bidang pendidikan khususnya pembelajaran.
Menururt Wina Sanjaya bahwa ada empat unsur perencanaann pembelajaran, yaitu
1) adanya tujuan yang harus dicapai
2) adanya strategi untuk mencapai tujuan
3) sumber daya yang dapat mendukung
4) implementasi setiap keputusan. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa perencanaan bukan
terbatas hanya satu tahap kegiatan, tetapi melalui tahapan sistematis yang harus ditempuh.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam menciptakan
lingkungan belajar untuk memiliki pengalaman belajar. Dengan kata lain pembelajaran adalah suatu cara
bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik. Penyampaian materi pelajaran kepada
siswa atau peserta didik yang lain membutuhkan serangkaian perencanaan dan pendekatan yang tepat
agar daya serap peserta didik dapat dimaksimalkan. Jika hal tersebut dapat dilaksanakan maka
pembelajaran akan berlangsung dengan baik. Dalam arti positif kegiatan pembelajaran akan membawa
pengalaman batin yang menyenangkan, khususnya bagi siswa dan memberi tambahan pengetahuan,
keterampilan sehingga akan terbentuk sikap yang diinginkan dalam kegiatan pembelajaran.
Penyusunan materi mengacu pada kurikulum yang telah ditetapkan oleh institusi yang menaunginya.
Media pengajaran disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Sedangkan pendekatan lebih
ditekankan pada aspek pemahaman pengajar dalam memahami materi yang akan disampaikan dan
karakteristik siswa baik secara individu maupun kelompok. Berdasarkan uraian di atas, konsep
perencanaan pembelajaran dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu:
1) Perencanaan pembelajaran sebagai teknologi, adalah suatu perencanaan yang mendorong
penggunaan teknik-teknik yang dapat mengembangkan tingkah laku kognitif dan teori-teori konstruktif
terhadap solusi dan problem-problem pembelajaran.
2) Perencanaan pembelajaran sebagai suatu sistem, adalah sebuah susunan dari sumber-sumber dan
prosedur-prosedur untuk menggerakkan pembelajaran. Pengembangan sistem pembelajaran melalui
proses yang sistemik selanjutnya diimplementasikan dengan mengacu pada sistem perencanaan itu.
3) Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah disiplin, adalah cabang dari pengetahuan yang
senantiasa memperhatikan hasil-hasil penelitian dan teori tentang strategi pembelajaran dan
implementasinya terhadap strategi tersebut.
4) Perencanaan pembelajaran sebagai sains, adalah mengkreasi secara detail spesifikasi dari
pengembangan, implementasi, evaluasi, dan pemeliharaan akan situasi maupun fasilitas pembelajaran
terhadap unit-unit yang luas maupun yang lebih sempit dari materi pelajaran dengan segala tingkatan
kompleksitasnya.
5) Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah proses, adalah pengembangan pembelajaran secara
sistemik yang digunakan secara khusus atas dasar teori-teori pembelajaran dan pengajaran untuk
menjamin kualitas pembelajaran. Dalam perencanaan ini dilakukan analisis kebutuhan dari proses belajar
dengan alur yang sistemik untuk mencapai tujuan pembelajaran, termasuk di dalamnya melakukan
evaluasi terhadap materi pelajaran dan aktivitas-aktivitas pengajaran.
6) Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah realitas, adalah ide pengajaran dikembangkan dengan
memberikan hubungan pengajaran dari waktu ke waktu dalam suatu proses yang dikerjakan perencanaan
dengan mengecek secara cermat semua kegiatan telah sesuai dengan tuntutan sains dan dilaksanakan
secara sistemik.
C. penyusunan perangkat pembelajaran
Wina Sanjaya memaparkan bahwa dalam prakteknya terdapat dua pandangan yang nampak dalam
proses mengajar, yaitu mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran, dan mengajar sebagai
proses mengatur lingkungan belajar. Sebagai proses penyampaian materi, mengajar mempunyai beberapa
karakteristik, yaitu: proses pengajaran berorientasi pada guru, siswa sebagai objek belajar, kegiatan
pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu, dan tujuan utama pengajaran adalah penguasaan
materi pelajaran. Pandangan tersebut hamper bertolak belakang dengan pandangan belajar sebagai proses
mengatur lingkungan. Sebagai sebagai proses mengatur lingkungan, mengajar menekankan pada
terjadinya perubahan perilaku pada siswa yang mempunyai beberapa karakteristik, yaitu mengajar
berpusat pada siswa, siswa sebagai subjek belajar, dan pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan.
Perbedaan antara mengajar sebagai proses penyampaian materi dengan mengajar sebagai pengatur
lingkungan secara fisik akan muncul pada saat proses belajar berlangsung. Seorang guru yang dominan
perannya pada saat proses pembelajaran tanpa memberi kesempatan murid untuk bertanya apalagi
memberi tanggapan dikatakan guru yang menempatkan siswa sebagai obyek, atau dia sedang
mempraktekkan mengajar sebagai proses penyampaian materi. Sebaliknya jika guru memberi kesempatan
murid untuk berkreasi secara bebas, dan dia hanya memfasilitasi, maka dia sedang mempraktekkan proses
mengajar sebagai menciptakan lingkungan belajar.
Secara akademis, guru dituntut untuk menguasai materi pelajaran agar mampu menyiapkan materi
secara rinci dan runtut, agar bahan yang disampaikan betul-betul dapat dinikmati siswa. Kemampuan guru
dalam menguasai materi pelajaran merupakan indikator keseriusan dan kesiapan guru dalam
menyongsong proses pembelajaran.
A. Silabus
Menurut Mulyasa bahwa silabus sebagai rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran
dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan
pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang
dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan, berdasarkan standar nasional pendidikan (SNP).
Guru dituntut mampu menyusun silabus dengan baik. Silabus harus disusun karena silabus
merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang implementasi kurikulum yang mencakup
kegiatan pembelajaran, pengelolaan kurikulum berbasis sekolah, kurikulum dan hasil belajar, serta
penilaian berbasis kelas. Silabus merupakan kerangka inti setiap kurikulum yang sedikitnya memuat tiga
komponen utama sebagai berikut:
a) Kompetensi yang ditanamkan kepada peserta didik melalui suatu kegiatan pembelajaran.
b) Kegiatan yang harus dilakukan untuk menanamkan/membentuk kompetensi tersebut.
c) Upaya yang harus dilakukan untuk mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dimiliki peserta
didik.
Menurut Mulyasa, pengembangan silabus dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu mengembangkan
silabus sendiri, menggunakan model silabus yang dikembangkan oleh BSNP, dan menggunakan atau
mencopy silabus dari sekolah lain. Idealnya Guru harus mampu mengembangan silabus sendiri dengan
memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan silabus, yaitu ilmiah (dapat dipertanggung jawabkan secara
ilmiah), relevan (cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian dalam silabus sesuai
dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial emosional, dan spiritual siswa), sistematis
(komponen yang ada saling berhubungan), konsistensi (tidak mudah mengalami perubahan), memadai
(menunjang kompetensi siswa), aktual dan kontekstual (sesuai dengan keadaan), fleksibel (dapat
mengakomodir keberagaman siswa), dan menyeluruh (mencakup ranah kognitif, psikomotorik, afektif)
Guru perlu memahami langkah-langkah pengembangan silabus. Mulyasa menyebutkan sedikitnya
terdapat lima langkah penting yang harus ditempuh guru dalam pengembangan silabus, yaitu
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, revisi, dan pengembangan silabus berkelanjutan. Dalam
pelaksanaannya, terdapat tujuh komponen yang harus ada dalam penyusunan silabus, yaitu: 1) stndar
kompetensi dan kompetensi dasar, 2) materi stndar, 3) kegiatan pembelajaran, 4) indikator, 5) penilaian,
6) alokasi waktu, dan 7) sumber belajar.
Silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, SK,
KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi
waktu, dan sumber belajar.Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI) dan
Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta panduanpenyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP).
B. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Menurut Masnur Muslich, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rancangan mata pelajaran
per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan RPP inilah seorang guru
diharapkan bisa menerapkan pembelajaran secara terprogram.Karena itu RPP harus mempunyai daya
terap (aplicable) yang tinggi.RPP mempunyai fungsi perencanaan dan fungsi pelaksanaan
pembelajaran.Sebagai fungsi perencanaan RPP mendorong guru lebih siap melakukan kegiatan
pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Dalam pelaksanaan, RPP berfungsi mengefektifkan
proses pembelajaran sesuai dengan apa yang direncanakan.
RPP berbasis kompetensi melalui pendekatan kontekstual dirancang oleh guru yang akan
melaksanakan pembelajaran di kelas yang berisi skenario tentang apa yang akan dilakukan siswanya
sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Pengembangan RPP ini berdasarkan paham
konstruktivisme yang menekankan pada tahap-tahap kegiatan yang mencerminkan proses pembelajaran
siswa dan media atau sumber pembelajaran yang dipakai. Secara teknis rencana pembelajaran minimal
mencakup komponen-komponen berikut, yaitu: 1)stndar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator
pencapaian hasil belajar, 2) tujuan pembelajaran, 3) materi pembelajaran, 4) pendekatan dan metode
pembelajaran, 5) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, 6) alat dan sumber belajar, dan 7) evaluasi
pembelajaran
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik IndonesiaNomor 41 tahun 2007, RPP disusun
untuk setiap KD yang dapat dilaksanakandalam satu kali pertemuan atau lebih.
A. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu perttemuanpembelajaran yang ditujukan
untuk membangkitkan motivasi danmemfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi
aktif dalamproses pembelajaran.
B. Inti
Kegiatan ini merupakan proses pembelajarn untuk mencapai KD.
C. Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitaspembelajaran yang dapat
dilakukan dalam bentuk rangkuman ataukesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik dan
tindak lanjut.

4. Ketrampilan Komunikasi untuk mengajar


Menurut Florez, mengemukakan terdapat bererapa strategi yang dapat digunakan oleh guru agar
dapat berbicara secara jelas pada saat proses pembelajaran berlangsung. Strategi yang dimaksud oleh
Florez adalah harus dilakukan dengan menggunakan tata bahasa yang benar, kosa kata yang dapat
dipahami dan tepat pada perkembangan anak, melakukan penekanan pada kata-kata kunci atau
dengan mengulang penjelasan, berbicara dengan tempo yang tepat, tidak menyampaikan hal-hal yang
kabur, dan menggunakan perencanaan dan pemikiran logis sebagai dasar berbicara secara jelas di
kelas.
Mengelola kelas secara efektif dapat lebih mudah dilakukan apabila guru dan siswa memiliki
keterampilan mendengar yang baik. Pendengar yang baik akan mendapatkan daya tarik bagi orang
lain untuk berkomunikasi. Pendengar yang baik akan mendengar secara aktif dan tidak sekedar
menyerap informasi secara pasif., mendengar aktif berarti memberi perhatian penuh pada pembicara,
memfokuskan diri pada isi intelektual dan emosional dari pesan. Seorang guru dapat menggunakan
strategi di bawah ini untuk berinteraksi dengan siswa dan melatihkan keterampilan siswa dalam
mendengar aktif:
1. Memberi perhatian cermat pada orang yang sedang berbicara, hal ini akan menunjukkan bahwa
anda tertarik pada hal yang sedang dibicarakan, gunakan kontak mata, isyarat condong badan
kepada orang yang sedang berbicara.
2. Melakukan parafrasa, menyatakan kembali kalimat yang baru saja dikatakan orang lain dengan
menggunakan kalimat sendiri.
3. Mensinstesiskan tema dan pola, meringkas tema utama dan perasaan pembicara yang
disampaikan dalam percakapan panjang.
4. Memberi umpan balik atau tanggapan dengan cara yang kompeten, dapat berupa tanggapan
verbal atau nonverbal yang membuat pembicara mengerti pencapaian target sasaran pesan.
(wiwiek,2013).

5. Mengelola kelompok berkebutuhan khusus


Untuk membantu pengelolan adanya kelompok berkebutuhan khusus diantaranya adalah
disediakan sekolah inklusif, sekolah inklusif merupakan sekolah yang menggabungkan layanan
pendidikan khusus dengan pendidikan reguler untuk mempertemukan kebutuhan individual anak
berkebutuhan khusus, adapun implikasi dari sekolah inklusif sebagai berikut:
1. Sekolah reguler menyediakan kondisi kelas yang hangat, ramah, menerima keanekaragaman dan
menghargai perbedaan.
2. Sekolah reguler harus siap mengelola kelas yang hiterogen dengan menerapkan kurikulum dan
pembelajaran yang bersifat individual.
3. Guru di kelas reguler harus menerapkan pembelajaran yang interaktif.
4. Guru pada sekolah inklusi dituntut melakukan kolaborasi dengan profesi atau sumberdaya lain
dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
5. Guru pada sekolah inklusi dituntut melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses
pendidikan.
Adapun strategi untuk mendidik anak berkebutuhan khusus sebagai berikut:
1. Bersikap baik dan positif
2. Menggunakan setting kelas yang sesuai
3. Berbicara dengan jelas dengan posisi wajah menghadap siswa
4. Mengutamakan dukungan teman sebaya
5. Memanfaatkan media yang sederhana
6. Menjelaskan kepada semua siswa tentang disabilitas (Winataputra, 2003)

KESIMPULAN
Manajemen Kelas Efektif Dalam pembelajaran di Kelas keberhasilan pendidikan sangat
ditentukan oleh output maupun inputnya. Hal ini akan membantu dalam pencapaiaan tujuan pembeljaran
sendiri. Pada kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang
memungkinkan berlangsungnya proses pembeljaran yang kondusif dan maksimal. Ditekankan sekali lagi
pada aspek pengaturan (Management) lingkungan pembelajaran yaitu berkaitan dengan pengaturan orang
(Siswa) dan barang/fasilitas.
Tujuan manajemen kelas yang efektif dalam pembelajaran harusnya menyediakan fasilatas
belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual didalam kleas. Ketrampilan dalam
pengelolaan kelas dapat bersifat preventif serta refresif dan tingkah laku. Namun dalam penerapannya
kadang terdapat masalah baik secara individu maupun kelompok yang timbul dikarenakan adanya
keanekaragaman perilaku siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Fatimah, siti. 2010. Hubungan antara perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dengan hasil belajar
siswa pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Probolinggo. Skripsi tahun 2010 Universitas
negeri malang fakultas ilmu sosial jurusan sejarah program studi pendidikan sejarah.
(https://www.academia.edu/1953406/Hubungan_antara_perencanaan_dan_pelaksanaan_pembel
ajaran_dengan_hasil_belajar_siswa_pada_mata_pelajaran_sejarah_di_SMA_Negeri_1_Proboli
nggo). Diakses pada 3 April 2017.
H Sujati,.2006. Manajemen Kelas yang Efektif dalam Pembelajaran.Majalah Ilmu Pendidikan Dinamika
Pendidikan.No. 1, Th. Mei 2006.ISSN.0853-151X. Fakultas Ilmu Pendidikan.Univeristas Negeri
Yogyakarta.
(http://eprints.uny.ac.id/4458/1/Dinamika_PendidikanManajemen_Kelas_yang_Efektif_dalam_P
embelajaran.pdf). Diakses pada 7 Februari 2017.
Imran, Mohammad. 2013. Prosedur pengelolaan tugas siswa.
(http://www.slideshare.net/busfaaja/prosedur-pengelolaan-tugas-siswa). Diakses pada tanggal 14
februari 2017.
Oeman, Wa. 2012.Ruang Kelas.(www.academia.edu/8835350/RUANG_KELAS). Diakses pada 6 Februari
2017.
Sholeh, Muh. 2007. Perencanaan pembelajaran mata pelajaran geografi tingkat sma dalam konteks ktsp.
Jurusan Geografi FIS UNNES, Jurnal Geografi, vol 4, No 2, juli 2017.
(http://download.portalgaruda.org/article.php?article=136591&val=5671).Diakses tanggal 12
maret 2017.
Suparmi. 2012. Pembelajaran kooperatif dalam pendidikan multikultural. SMA Negeri 1 Berau
Kalimantan Timur, Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, Vol 1, No 1, juni,
2012. (http://download.portalgaruda.org/article.php?article=6626&val=437). Diakses pada
tanggal 12 maret 2017.
Tamsyani, Wiwiek.2013Makalah model pembelajaran koeperatif.
(https://www.academia.edu/5934158/MAKALAH_MODEL_PEMBELAJARAN_KOOPERATIF
)
Winataputra, s, Udin. 2003. Srategi Belajar Mengajar. (http://digilib.uinsby.ac.id/8380/2/BAB%20II.pdf).
Diakses pada 6 Februari 2017.