You are on page 1of 22

TUGAS BAHASA INDONESIA

MAKALAH BUDAYA MASYARAKAT SULAWESI


TENGAH DAN KAITANYA DALAM KEHUTANAN

Oleh :

ANGGI NURHAFIZHAH ALANG

M1A1 16 146
KEHUTANAN D

PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN DAN ILMU LINGKUNGAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2016

1
PRAKATA

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu, yang penyusun
sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita.
Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang
datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh
kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa
Universitas Halu Oleo. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing
penyusun membuka diri demi perbaikan dalam pembuatan makalah yang telah
penyusun susun sebagaimana mestinya.

Kendari, November 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ..i

PRAKATA ... ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN .1

1.1 Latar Belakang . .1

1.2 Rumusan Masalah .2

1.3 Tujuan .. .2

BAB II PEMBAHASAN .3

2.1 Pengertian Budaya Dan Kebudayaan ..3

2.2 Perubahan Sosial Budaya .4

2.3 Hubungan Masyarakat Dan Hutan 6

BAB III PENUTUP 16

3.1 Kesimpulan 16

3.2 Saran 16

DAFTAR PUSTAKA ....17

LAMPIRAN 18

3
4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Beberapa ahli seperti Goodenough (1971), Spradley (1972), dan Geertz


(1973) mendefinisikan arti kebudayaan di mana kebudayaan merupakan suatu
sistem pengetahuan, gagasan dan ide yang dimiliki oleh suatu kelompok
masyarakat yang berfungsi sebagai landasan pijak dan pedoman bagi masyarakat
itu dalam bersikap dan berperilaku dalam lingkungan alam dan sosial di tempat
mereka berada (Sairin , 2002). Sebagai sistem pengetahuan dan gagasan,
kebudayaan yang dimiliki suatu masyarakat merupakan kekuatan yang tidak
tampak (invisble power), yang mampu menggiring dan mengarahkan manusia
pendukung kebudayaan itu untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan
pengetahuan dan gagasan yang menjadi milik masyarakat tersebut, baik di
bidang ekonomi, sosial, politik, kesenian dan sebagainya. Sebagai suatu sistem,
kebudayaan tidak diperoleh manusia dengan begitu saja secara ascribed, tetapi
melalui proses belajar yang berlangsung tanpa henti, sejak dari manusia itu
dilahirkan sampai dengan ajal menjemputnya. Proses belajar dalam konteks
kebudayaan bukan hanya dalam bentuk internalisasi dari sistem pengetahuan
yang diperoleh manusia melalui pewarisan atau transmisi dalam keluarga. Melalui
pewarisan kebudayaan dan internalisasi pada setiap individu, pendidikan hadir
dalam bentuk sosialisasi kebudayaan, berinteraksi dengan nilai -nilai masyarakat
setempat dan memelihara hubungan timbal balik yang menentukan proses
proses perubahan tatanan sosio-kultur masyarakat dalam rangka
mengembangkan kemajuan peradabannya.

Sebaliknya, dimensi-dimensi sosial yang senantiasa mengalami dinamika


perkembangan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
merupakan faktor dominan yang telah membentuk eksistensi pendidikan manusia.
Penggunaan alat dan sarana kebutuhan hidup yang modern telah
memungkinkan pola pikir dan sikap manusia untuk memproduk nilai-nilai baru
sesuai dengan intensitas pengaruh teknologi terhadap tatanan kehidupan sosial
budaya.

1
Berbicara tentang tatanan kehidupan sosial budaya, berbagai bidang kajian
banyak dilakukan, termasuk upaya untuk meneliti tentang keanekaragaman makhluk
manusia dan kebudayaannya di berbagai tempat di muka bumi, termasuk di
Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi yang memiliki
berbagai macam ragam kebudayaan yang unik dan menarik untuk diketahui. Wujud
dari keanekaragaman masyarakat itu di samping disebabkan oleh akibat dari
sejarah mereka masing-masing; juga karena pengaruh lingkungan alam dan
struktur internalnya. Oleh karenanya sesuatu unsur atau adat dalam suatu
kebudayaan, tidak dapat dinilai dari pandangan kebudayaan lain, melainkan harus
dari sistem nilai yang ada dalam kebudayaan itu sendiri (relativisme kebudayaan).

1.2. Rumusan Masalah

a. Bagaimana keberagaman kebudayaan di dalam suatu wilayah khususnya


Sulawesi Tengah.
b. Bagaimana hubungan sosial-budaya yang terjadi di dalam masyarakat di
wilayah Sulawesi Tengah.
c. Bagaimana hubungan sosial-budaya yang terjadi dengan lingkungan hidup
masyarakat di Sulawesi Tengah.

1.3. Tujuan

a. Untuk mengetahui bagaimana keberagaman kebudayaan di dalam suatu


wilayah khususnya Sulawesi Tengah.
b. Untuk mengetahui bagaimana hubungan sosial-budaya yang terjadi di dalam
masyarakat di wilayah Sulawesi Tengah.
c. Untuk mengetahui bagaimana hubungan sosial-budaya yang terjadi dengan
lingkungan hidup masyarakat di Sulawesi Tengah.

BAB II

2
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Budaya Dan Kebudayaan

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama
oleh sebuah kelompok orang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat
istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa,
sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia
sehingga banyak orang yang cenderung menganggapnya diwariskan secara
genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang
berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa
budaya itu di pelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat
abstrak, kompleks, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku
komunikatif. Unsur-unsur sosial-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan
sosial manusia. Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika
berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dari definisi budaya :
Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu
citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri. Citra yang
memaksa itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti
individualisme kasar di Amerika, keselarasan individu dengan alam di
Jepang dan kepatuhan kolektif di Cina. Citra budaya yang bersifat memaksa
tersebut membekali anggota anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku
yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam
anggota -anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat
dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyiapkan suatu kerangka yang


koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya
meramalkan perilaku orang lain. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan
masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan
bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan
yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah
Cultural -Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang

3
turun -temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut
sebagai superorganic.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian


nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta seluruh struktur-struktur
sosial, religius dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik
yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor,
kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya
terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana
hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.

Dari berbagai pengertian menurut para ahli di atas, maka dapat


disimpulkan bahwa pengertian dari kebudayaan adalah sesuatu yang akan
mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari
kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-
benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa
perilaku dan benda -benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku,
bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni dan lain-lain, yang
kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan
kehidupan bermasyarakat.

2.2. Perubahan Sosial Budaya

Masyarakat (manusia) di manapun tempatnya pasti mendambakan kemajuan


dan peningkatan kesejahteraan yang optimal. Kondisi masyarakat secara
obyektif merupakan hasil tali temali antara lingkungan alam, lingkungan sosial
serta karakteristik individu. Ketiga-tiganya selalu berhubungan antara satu sama
lain , sehingga membentuk sebuah bangunan masyarakat yang dapat dilihat sebagai
sebuah realitas sosial.

Perubahan sosial dapat dikatakan sebagai suatu perubahan dari gejala-


gejala sosial yang ada pada masyarakat, dari yang bersifat individual sampai
yang lebih kompleks. Perubahan sosial dapat dilihat dari segi terganggunya

4
kesinambungan diantara kesatuan sosial walaupun keadaannya relatif kecil.
Perubahan ini meliputi struktur, fungsi, nilai, norma, pranata, dan semua aspek
yang dihasilkan dari interaksi antarmanusia, organisasi atau komunitas, termasuk
perubahan dalam ha l budaya. Jadi, Perubahan sosial budaya adalah sebuah
gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat.
Apabila perubahan sosial dipahami sebagai suatu bentuk peradaban manusia
akibat adanya ekskalasi perubahan alam, biologis maupun kondisi fisik maka
pada dasarnya perubahan sosial merupakan sebuah keniscayaan yang terjadi
sepanjang hidup. Ruang gerak perubahan itupun juga berlapis-lapis, dimulai
dari kelompok terkecil seperti keluarga sampai pada kejadian yang paling lengkap
mencakup tarikan kekuatan kelembagaan dalam masyarakat. Perubahan sosial
sebagai cetak biru pemikiran, pada akhirnya akan memiliki manfaat untuk
memahami kehidupan manusia dalam kaitan dengan lingkungan kebudayaannya.
Kehidupan manusia adalah satuan sosial terkecil, dalam pola belajarnya akan
berhadapan dengan tiga sistem aktivitas. Menurut Peter Senge, 20 00 (dalam
Salim, 2002) bahwa manusia akan menjumpai 3 lingkungan yakni;

1. ruang kelas dalam sekolah: manusia akan belajar dalam lingkungan kelas
sehingga melibatkan unsur guru, orang tua dan murid.
2. Lingkungan sekolah: manusia akan belajar dalam lingkungan sekolah
sehingga melibatkan unsur kepala sekolah, kelompok pengajar, murid di
kelas lain dan pegawai administrasi.
3. Lingkungan komunitas masyarakat: manusia akan belajar dari lingkungan

komunitasnya sehingga mencakup peran serta masyarakat, kelompok-


kelompok belajar sepanjang hidup, birokrasi yang mendukung, sumber
informasi yang luas dan beragam dll. Dengan begitu kehidupan manusia tidak
dapat dilepas dari peran ketiga lingkungan sistem aktivitas belajar dan
mencermati dirinya, terbentuknya kesadaran, pengalaman yang menggelitas dan
keberanian untuk mulai menapak menggunakan potensi yang dimilikinya.
Perubahan Sosial budaya dapat terjadi bila sebuah kebudayaan melakukan kontak
dengan kebudayaan asing. Adanya perubahan sosial budaya secara langsung atau
tidak langsung akan memberikan dampak positif dan negatif.

5
Akibat Positif :

Perubahan dapat terjadi jika masyarakat dengan kebudayaan mampu


menyesuaikan diri dengan perubahan. Keadaan masyarakat yang memiliki
kemampuan dalam menyesuaikan diri disebut adjusment, sedangkan bentuk
penyesuaian dengan gerak perubahan disebut integrasi.

Akibat Negatif :

Akibat negatif terjadi apabila masyarakat dengan kebudayaannya tidak


mampu menyesuaikan diri dengan gerak perubahan. Ketidakmampuan dalam
menyesuaikan diri dengan perubahan disebut maladjusment. Maladjusment akan
menimbulkan disintegrasi. Penerimaan masyarakat terhadap perubahan sosial
budaya dapat dilihat dari perilaku masyarakat yang bersangkutan.

2.3 Hubungan Budaya Masyarakat dan Hutan

Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping
pimpinan pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetap kan hukum adat
dan denda berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya masyarakat yang
jujur dan ramah sering mengadakan upacara untuk menyambut para tamu
seperti persembahan ayam putih, beras, telur dan tuak yang difermentasikan
dan disimpan dalam bambu. Secara tradisional, masyarakat Sulawesi Tengah
memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu ivo (sejenis pohon
beringin) yang halus dan tinggi mutunya. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum
pria dan kaum wanita. Unsur -unsur adat dan budaya yang masih dimiliki antara
lain:

1. Pakaian adat terbuat dari kulit kayu ivo


2. Rumah adat yang disebut tambi
3. Upacara adat
4. Kesenian (Modero/ tari pesta menyambut panen, Vaino/ pembacaan syair-
syair yang dilagukan pada saat kedugaan, Dadendate, Kakula, Lumense dan
PeuleCinde/ tari untuk menyambut tamu terhormat, Mamosa/ tarian perang,
Morego/ tari menyambut pahlawan, Pajoge/ tarian dalam pelantikan raja/
pejabat dan Balia/ tarian yang berkaitan dengan kepercayaan animisme).

6
Selain mempunyai adat dan budaya yang merupakan ciri khas daerah, di
Sulawesi Tengah juga memiliki kerajinan-kerajinan yang unik juga yaitu:

1. Kerajinan kayu hitam (ebony)


2. Kerajinan anyaman
3. Kerajinan kain tenun Donggala dan
4. Kerajinan pakaian dari kulit ivo.

Keindahan, keunikan dan keanekaragaman pakaian tradisional yang ada di


setiap wilayah Indonesia sesungguhnya merupakan aset bangsa yang patut di
lestarikan. Mengingat hal tersebut merupakan warisan budaya nenek moyang.

Sebelum masuknya pengaruh Islam, Kristen, VOC, Inggris dan Jepang hingga
sekarang masyarakat di wilayah Kulawi dan Pandere telah memiliki praktik budaya
yang unik, yaitu mengenal dan mengembangkan kain untuk berbusana sehari-hari
yang berbahan dasar kulit kayu. Pakaian kulit kayu yang digunakan sehari-hari
umumnya lebih sederhana dibanding dengan yang digunakan pada upacara adat.
Pakaian kulit kayu yang digunakan sehari-hari untuk bekerja baik itu di sawah
maupun di ladang bagi petani di Kulawi maupun di Pandere sedikit agak kasar bila
dibanding dengan yang di gunakan pada pesta adat-adat. Pakaian ini di gunakan oleh
semua orang baik wanita maupun pria.

Pakaian kulit kayu adalah sejenis lembaran kertas yang terbuat dari kulit pohon
beringin dan kulit kayu ivo yang diproses secara tradisional sehingga menghasilkan
pakaian yang di gunakan sebagai pakaian sehari-hari, pakaian pesta dan
penggunaannya pada waktu upacara adat bagi masyarakat Kulawi, Pandere, lembah
Palu dan sekitarnya bahkan masyarakat Lore Kabupaten Poso. Usaha masyarakat
untuk membuat pakaian kulit kayu khususnya di daerah Sulawesi Tengah sudah
sejak zaman Neolitikum hingga sekarang. Pakaian kulit kayu merupakan kebutuhan
pokok (sandang) bagi sebagian masyarakat di Sulawesi Tengah sejak dahulu.

Kulit kayu dari pohon dikupas dengan hati-hati dengan mengambil bagian
seratnya, direndam dalam air, kemudian dipukul dengan kayu atau batu untuk di
jadikan sepotong kain yang akan di gunakan sebagai pakaian. Lalu sejalan dengan
bertambahnya pengetahuan, mereka menemukan bahwa pakaian dari kulit kayu
tersebut dapat diwarnai dengan cara dilukis atau dicap dengan sepotong bambu atau
kayu yang diukir.

7
Di dunia internasional, kain kulit kayu dari Indonesia dikenal dengan nama
fuya/vuya. Diambil dari kata wuyang, nama kain sarung wanita Minahasa, tulis
Raymond Kennedy dalam Journal of Polynesian Society volume 43 tahun 1934,
mengutip Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie terbitan tahun 1917.

Praktek budaya yang berlangsung sedemikian lama tersebut memposisikan


Sulawesi Tengah sebagai salah satu penghasil kerajinan kulit kayu yang utama selain
Papua, dan Kalimantan.

Fuya dari wilayah Sulawesi Tengah ini untuk pertama kalinya dibahas oleh
orang Eropa pada tahun 1657. Adalah Domingo Navarrete yang datang di Lembah
Palu, Sulawesi Tengah, yang sebulan kemudian menulis kisahnya.

Di wilayah polinesia ini, kain tapa (fuya) juga di pakai sebagai mas kawin.
dianggap barang berharga untuk kaum ningrat serta digunakan saat melakukan
upacara sacral. Ujar Fukumoto, seperti yang dikutip dalam catalog pameran Fuya &
Tapa : Tradisi kain kulit kayu di Indonesia dan oceania.

Pada masanya kerajinan fuya sangat mudah di jumpai di banyak tempat. Hampir
di setiap rumah memiliki peralatan untuk proses pembuatan fuya. Fuya menjadi satu-
satunya kain untuk berbagai kebutuhan, sandang, selimut ataupun pengikat kepala.
Praktis pada masa itu, nyaris tidak di jumpai kain-kain yang berbahan sutera, kapas,
dan bahan-bahan sintetis lainnya. Kalaupun ada hanya dimiliki terbatas pada
keluarga kerajaan dan kaum bangsawan saja.Saya terakhir memakai kain fuya saat
kelas tiga Sekolah Rakyat, kira-kira tahun 1951. Lembaran-lembaran fuya yang di
jadikan sebagai pakaian sebagai hasil daya cipta mereka menjadi suatu karya yang
unik dan mengagumkan, wallaupun dengan hanya menggunakan peralatan yang
sangat sederhana.

Tidak semua kayu bisa menjadi bahan dasar fuya. Hanya jenis-jenis kayu
tertentu yang kulitnya bisa dijadikan fuya. Penelitian yayasan jambata (1988)
mengidentifikasi hanya 18 jenis pohon yang bisa dijadikan bahan baku seperti yang
di di pergunakan di desa Pandere, mereka hanya memakai satu jenis pohon saja yaitu
kulit pohon ivo guna bahan baku fuya.

Harian Kompas yang terbit pada tanggal mencantumkan bahwa Direktoriat


Internalisasi dan Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia

8
menetapkan Pakaian Kulit Kayu (Fuya) sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Indonesia tahun 2014.

Lebih dari sekedar kerajinan kain kulit kayu, fuya adalah salah satu bentuk
ekspresi budaya dan kearifan tradisional komunitas adat di wilayah Sulawesi
Tengah. Kearifan tradisional ini lahir dan berkembang dari proses adaptasi
komunitas atas kondisi sosial, ekonomi, dan ekologi.

Fuya adalah simbol budaya dan bukti yang penting bahwa masyarakat pembuat
fuya sudah memiliki tradisi konservasi dan memegang teguh nilai-nilai
keseimbangan ekosistem, pelestarian alam dan keanekaragaman hayati. Tradisi fuya
mencerminkan interaksi harmonis antara masyarakat dengan alam. Kearifan
masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam nampak dalam proses
pengambilan bahan baku fuya. Mereka tidak mengambil bahan baku dengan cara
menebang pohon, tetapi dengan mengambil dahan-dahan tertentu saja.

Proses pembuatan tradisi fuya dari awal sampai benar-benar jadi di beberapa
wilayah desa di sekitar Taman Nasional Lore Lindu pada prinsipnya memiliki
kesamaan. Perbedaan di masing-masing kampung atau wilayah lebih bersifat teknis,
seperti proses pembuatan yang bervariasi, jenis bahan kayu yang di gunakan, jenis
hiasan kain, dan lain-lain. Ada beberapa kearifan lokal yang terdapat di beberapa
desa, Aragon (2008) mengungkapkan adanya pantangan yang harus di patuhi dalam
pencarian bahan baku dan dalam proses pengerjaan. Adapun proses pembuatan fuya
di Desa Pandere adalah sebagai berikut :

a. Menebang dahan pohon ivo (biasanya menebang dahan dengan ukuran diameter
10-15 cm, hal ini karena ukuran tersebut dahan pohon dianggap tidak tua, serta
tidak juga muda). Lalu batang kayu ivo di potong-potong menurut ukuran
tertentu. Biasanya menurut acuan jarak jengkal tangan si pemotong. Hal ini di
maksudkan agar batang yang nanti akan di kuliti memiliki panjang yang sama.

Gambar 3.2 Proses Pembuatan Fuya (1)

9
Sumber: lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id

b. Setelah batang pohon ivo di potong-potong dengan ukuran panjang yang


sama, lalu batang itu diuliti kulit luarnya. Dengan maksud untuk mengambil
kulit kayu pada lapisan kedua.

Gambar 3.3 Proses Pembuatan Fuya (2)

Sumber: lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id

Gambar 3.4 Proses Pembuatan Fuya (3)

Sumber: lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id

c. Merenggangkan kulit kayu agar nantinya memudahkan pengupasan kulit


terluarnya.

Gambar 3.5 Proses Pembuatan Fuya (4)

10
Sumber: lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id

d. Setelah batang pohon ivo di kuliti, lalu diambil kulit kayunya. Kulit kayu
inilah yang menjadi bahan baku pembuatan fuya.

Gambar 3.6 Proses Pembuatan Fuya (5)

Sumber: lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id

e. Membersihkan kulit kayu yang telah diambil lapisan keduanya dari sisa-sisa
lapisan pertama. Sangat diusahakan agar lapisan kulit terluarnya tidak
tertinggal.

Gambar 3.7 Proses Pembuatan Fuya (6)

Sumber: lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id

f. Di cuci dengan air bersih. Setelah dianggap bersih lalu di rendam beberapa
saat untuk memastikan kulit kayunya benar-benar bersih.

11
Gambar 3.8 Proses Pembuatan Fuya (7)

Sumber: lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id

g. Proses mentoki pertama kalinya. Proses ini ada ketentuan pakem bahwa tidak
boleh di lakukan oleh orang lain (selain pembuat), hanya si pembuat saja
yang diperbolehkan. Pada tahapan ini ada ritual yang biasanya dilakukan
oleh pembuat fuya. Ritual itu lebih ke doa kepada leluhur agar diberi
keselamatan serta berkat di dalam pembuatan fuya sampai jadi.

Gambar 3.9 Proses Pembuatan Fuya (8)

Sumber: lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id

h. Di toki sampai dianggap jadi. Pada tahap ini baru bisa di bantu oleh orang
lain. Pada tahap ini juga biasanya transfer pengetahuan terjadi. Orang yang
baru belajar, biasanya di anjurkan untuk praktek langsung.

Gambar 3.10 Proses Pembuatan Fuya (9)

12
Sumber: lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id

i. Lembaran fuya yang telah di anggap benar-benar jadi lalu dikeringkan


beberapa hari dengan cara di gantung.

Gambar 3.11 Proses Pembuatan Fuya (10)

Sumber: lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id

j. Di simpan baik-baik oleh pembuatnya, jika belom ada yang datang untuk
membeli.

Gambar 3.12 Proses Pembuatan Fuya (11)

Sumber: lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id

13
Kulit kayu dari pohon dikupas dengan hati-hati dengan mengambil bagian
seratnya, direndam di dalam air, kemudian dipukul dengan kayu atau batu untuk di
jadikan sepotong kain yang akan di gunakan sebagai pakaian. Lalu sejalan dengan
bertambahnya pengetahuan, mereka menemukan bahwa pakaian dari kulit kayu
tersebut dapat diwarnai dengan cara dilukis atau dicap dengan sepotong bambu atau
kayu yang diukir.

Komunitas Masyarakat Adat di wilayah Sulawesi Tengah secara riil masih ada,
seperti masyarakat Tau Taa di kabupaten Tojo Una-Una, kabupaten Banggai dan
kabupaten Morowali melalui kekerabatan herois dibawah pimpinan seseorang
telenga. Begitu juga masyarakat Kulawi, Sigi dan Pipikoro sub etnik yang
menggunakan bahasa Ija, Moma dan Oma. Di kabupaten Sigi juga masih
kuat intensitas norma hukum adat. Tercatat dalam sejarah seperti yang tertulis
dalam van Poso naar Parigi, Sigi en Lindoe hasil investigasi dan renungan N.
Adrian dan Albert C. kruyt (1898) menyebutkan, bahwa orang-orang sigi itu ramah
tamah dan bijaksana (scherpzinning), terutama ketika berada di Bora (Ibukota
Kerajaan Sigi). Orang-orang Sigi belum tersentuh oleh tabiat pedagang.
Meskipun peradaban yang lebih maju lainnya sudah ada, namun mereka masih
kuat memegang teguh adat istiadat mereka, seperti Baliya dalam rangka
upacara penyembuhan orang sakit (wurake)

Masyarakat Adat di Sulawesi Tengah membutuhkan pengakuan


perlindungan dalam bentuk peraturan daerah. Akan tetapi, bukan berarti setiap
perda yang ada di Sulawesi Tengah yang mengatur tentang pengakuan dan
perlindungan masyarakat adat itu mengatur secara rinci semua norma-norma
hukum adat. Perda dimaksud hanya bermateri muatan (hetonderwerp) pengakuan
dan perlindungannya saja, khususnya meregulasi hubungan masayarakat adat

14
dengan hutan, air dan lingkungan hidup, dengan tetap memperhatikan
normanorma yang didelegasikan (delegatie van wetgevings). Sedangkan yang
bersangkut paut dengan norma-norma teknis diserahkan pada masyarakat hukum
adat itu sendiri yang mengapresiasinya melalui lembaga adat. Misalnya
pelanggaran-pelanggaran norma adat yang dapat di Givu, dll. Semuanya harus di
kembalikan pada konsepsiemic, yaitu mereka sendiri mempersiapkan hak dan
tanggung jawab menurut hukum adat masing-masing komunitas.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 perihal kehutanan


ditegaskan bahwa masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih
ada dan diakui keberadaanya berhak: pertama, melakukan pemugutan hasil hutan
untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat adat yang
bersangkutan. Kedua, melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum
adat yang berlaku dan tidak bertetangan dengan undang-undang. Ketiga,
mendapatkan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya. Dari
ketiga hak tersebut, harus di kukuhkan melalui pembentukan perda tentang
hutan adat. Yang ingin di tegaskan di sini adalah perda tentang pengakuan dan
perlindungan masyarakat adat di wilayah Sulawesi Tengah. Apabila tidak ada, maka
hak-hak (akses) masyarakat tradisional atas sumber daya alam menjadi hilang,
padahal SDA secara subtansial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
masyarakat adat yang tradisional. Hal-hal tersebut merupakan refleksi dari
gulatan kearifan tradisional dengan keserakahan modern, yang selama ini masih
dalam episode termarginalkan dan masih menjadi fragment kehidupan tradisional
masyarakat Indonesia yang pada umumnya tidak terlihat, namun dapat di rasakan.
Kehidupan masyarakat modern yang di atur oleh hukum modern yang di
dasari oleh pemikiran-pemikiran rasional, logis dan sekaligus dapat di pelintir
merupakan benteng yang kokoh dalam melegalisir dan memberikan legitimasi atas
keserakahan-keserakahan berikutnya yang lebih mutakhir.

15
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Adapun yang menjadi kesimpulan dari makalah ini, adalah sebagai berikut :

Beragamnya kebudayaan yang ada di Indonesia khususnya di provinsi Sulawesi


Tengah memperlihatkan bahwa betapa kayanya Negara ini. Dengan berbagai
perbedaan yang ada, namun tidak membuat perpecahan antar masyarakat. Di
Sulawesi Tengah, secara umum Masyarakat Adat memandang hutan sangat erat
hubungannya dengan kehidupan mereka, karena secara sosial-budaya hutan sudah
menjadi bagian dari kehidupan Masyarakat Adat, digunakan sebagai tempat ritual
adat.

3.2. Saran

Dengan semakin berkembangnya zaman, serta pengaruh globalisasi dan


juga pengaruh budaya-budaya asing. Kebudayaan-kebudayaan yang ada semakin
tergeser dan hampir punah. Untuk mencegah punahnya kebudayaan tersebut
perlu dilakukan berbagai tindakan. Berbagai kebudayaan yang beragam yang ada di
provinsi Sulawesi Tengah seharusnya tetap dijaga dan dilestarikan. Para generasi
penerus harus tetap mempertahankan kebudayaan-kebudayaan yang telah ada.
Pemerintah setempat juga harus terlibat dalam proses pelestarian kebudayaan
dengan melakukan upaya -upaya berupa pembentukan lembaga-lembaga,
sosialisasi dan lain-lain.

16
DAFTAR PUSTAKA

Daftar Sumber Buku :

Budiono Kusumohamodjojo. 2000. Kebhinekaan Masyarakat Indonesia. Jakarta:

Grasindo.

Burhanudin Salam. 1997. Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan Manusia. Jakarta:

PT Rineka Cipta.

Harimanto, Winarno.2009. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta : Bumi Aksara.

Syukur, Abdul et al. 2005. Ensiklopedia Umum Untuk Pelajar. Jakarta:

PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.

Staf Ensiklopedia Nasional Indonesia. 1989. Ensiklopedia Nasional Indonesia. Jakarta:

Cipta Adi Pustaka.

Tim Dosen ISBD. 2012. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta :

Universitas Negeri Jakarta

Daftar Sumber Internet:

Iyoes,Tobing. 2014. Menyusun Persamaan Dasar Akuntansi.


https://www.scribd.com/doc/290066621/Makalah-Sulawesi-Tengah-Univ-
pgri.Diakses tanggal 17 november 2015

Gregorius. 2015. Pembuatan pakaian dari kulit kayu Sigi Sulawesi Tengah Indonesia.
http://lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id/2015/03/pembuatan-pakaian-dari-kulit-
kayu-sigi_24.html. Diakses tanggal 24 Maret 2015

Gregorius. 2016. Proses pembuatan kerajinan Fuya.


http://lakolakokhatulistiwa.blogspot.co.id/2016/01/proses-pembuatan-kerajinan-
fuya.html. Diakses tanggal 08 januari 2016

17
LAMPIRAN

Keterangan :

Nama Narasumber : Suprapti, SE.,MM

Pekerjaan : Pegawai Swasta

18