You are on page 1of 11

MAKALAH IKD 3

ISU KEPERAWATAN MATERNITAS (ABORSI)

Disusun Oeh :

1. Simson Lewa KP.11.00790


2. Veronica Estianty Da Cunha KP.11.00791
3. Yulia Anggraini KP.11.00792

PRODI S1 KEPERAWATAN
STIKES WIRA HUASADA
YOGYAKARTA
2012
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Essa,
karena atas berkat dan Rahmat-Nya penulis dapat menulis makalah ini
yang berjudul ISU KEPERAWATAN MATERNITAS hingga selesai.
Oleh karena itu, penulis menghanturkan terimah kasih kepada dosen
pembimbing serta semua pihak yang telah memberikan sumbangan dan
saran atas selesainya penulis makalah ini. Di dalam penulisan makalah ini
penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan-kekurangan meningat
keterbatasannya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh sebab itu,
sangat di harapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun untuk melengkapkan makalah ini dan berikutnya.

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Keperawatan sebagai profesi dituntut untuk mengembangkan


keilmuannya sebagai wujud kepeduliannya dalam meningkatkan
kesejahteraan umat manusia baik dalam tingkatan preklinik maupun klinik.
Untuk dapat mengembangkan keilmuannya maka keperawatan dituntut
untuk peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya
setiap saat.

Keperawatan maternitas sebagai ilmu keperawatan juga tidak


terlepas dari adanya berbagai perubahan. Adanya berbagai perubahan yang
terjadi akan menimbulkan berbagai trend dan isu yang menuntut
peningkatan pelayanan asuhan keperawatan, misalnya isu keperawatan
maternitas yang paling sering terjadi adalah aborsi.Berdasarkan fenomena
diatas, penulis tertarik untuk membahas Isu Keperawatan Maternitas
(aborsi).

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ABORSI
Menurut Fact About Abortion, Info Kit on Womens Health oleh
Institute for Social, Studies and Action, Maret 1991, dalam istilah
kesehatan aborsi didefinisikan sebagai penghentian kehamilan
setelah tertanamnya telur (ovum) yang telah dibuahi dalam
rahim (uterus), sebelum usia janin (fetus) mencapai 20
minggu.
Jadi, gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah
terjadi keguguran janin; melakukan abortus sebagai melakukan
pengguguran (dengan sengaja karena tak menginginkan bakal bayi
yang dikandung itu). Secara umum, istilah aborsi diartikan
sebagai pengguguran kandungan, yaitu dikeluarkannya janin
sebelum waktunya, baik itu secara sengaja maupun tidak.
Biasanya dilakukan saat janin masih berusia muda (sebelum bulan
ke empat masa kehamilan).
B. ABORSI DARI SUDUT MEDIS
Menurut batasan atau definisi, aborsi adalah pengeluaran buah
kehamilan dimana buah kehamilan itu tidak mempunyai
kemungkinan hidup di luar kandungan. Sedangkan dunia
kedokteran berpendapat bahwa janin yang lahir dengan berat
badan yang sama atau kurang dari 500 gram tidak mungkin hidup
di luar kandungan, meskipun ada laporan kedokteran yang
menyatakan bahwa ada janin di bawah 500 gram yang dapat
hidup. Karena janin dengan berat badan 500 gram sama dengan
usia kehamilan 20 minggu, maka kelahiran janin dibawah 20
minggu tersebut sebagai aborsi.
Ada negara tertentu yang memakai batas 1000 gram sebagai
aborsi, menurut Undang-Undang di Indonesia, kematian janin di
bawah 1000 gram tidak perlu dilaporkan dan dapat dikuburkan di
luar Tempat Pemakaman Umum.
Dari cara terjadinya aborsi, ada tiga macam aborsi, aborsi spontan
(abortus spontaneus), aborsi buatan (abortus provocatus) dan
aborsi terapetik/medis. Aborsi spontan terjadi sendiri tanpa
campur tangan manusia, sedang aborsi buatan adalah hasil dari
perbuatan manusia yang dengan sengaja melakukan perbuatan
pengguguran. Abortus yang terjadi pada usia kehamilan di bawah
12 minggu disebut abortus dini. Berikut macam-macam aborsi :
1. Aborsi Spontan
Insiden abortus spontan diperkirakan 10% dari seluruh
kehamilan. Namun angka ini mempunyai dua kelemahan,
yaitu kegagalan untuk menghitung abortus dini yang tidak
terdeteksi, serta aborsi ilegal yang dinyatakan sebagai abortus
spontan.Insiden abortus spontan sulit untuk ditentukan secara
tepat, karena sampai sekarang belum diterapkan kapan
sebenarnya dimulainya kehamilan? Apakah penetrasi sperma
kedalam sel telur sudah merupakan kehamilan? Apakah
pembelahan sel telur yang telah dibuahi berarti mulainya
kehamilan? Atau kehamilan dimulai setelah blastocyst
membenamkan diri kedalam decidua? Atau setelah janin
bernyawa?Dengan pemeriksaan tes yang dapat mendeteksi
Human Chorionic Gonadotropin maka frekuensi abortus akan
menjadi lebih tinggi (20% 62%).
Penyebab abortus spontan
Lebih dari 80% abortus terjadi pada usia kehamilan 12
minggu. Setengah di antaranya disebabkan karena kelainan
kromosom. Resiko terjadinya abortus meningkat dengan
makin tingginya usia ibu serta makin banyaknya kehamilan.
Selain itu kemungkinan terjadinya abortus bertambah pada
wanita yang hamil dalam waktu tiga bulan setelah melahirkan.
Pada abortus dini, pengeluaran janin/embrio biasanya
didahului dengan kematian janin/embrio. Sedangkan abortus
pada usia yang lebih lanjut, biasanya janin masih hidup
sebelum dikeluarkan.

Kelainan Pertumbuhan Zygote.


Penyebab paling sering terjadinya abortus dini adalah
kelainan pertumbuhan hasil konsepsi (pembuahan), baik
dalam bentuk Zygote, embrio, janin maupun placenta.
Ternyata 50% 60% dari abortus ini berhubungan dengan
kelainan kromosom.
Faktor Ibu.
Penyakit pada ibu biasanya terjadi pada janin dengan
kromosom yang normal, paling banyak pada usia
kehamilan 13 minggu. Beberapa macam infeksi bakteria
atau virus dapat menyebabkan abortus. Penyakit ibu yang
kronis biasanya tidak menyebabkan abortus, meskipun
dapat menyebabkan kematian janin pada usia yang lebih
lanjut atau menyebabkan persalinan prematur. Kelainan
pada uterus (rahim) dapat menyebabkan abortus spontan.
. Pembagian abortus spontan
Abortus Imminens (threatened abortion), yaitu adanya
gejala-gejala yang mengancam akan terjadi aborsi. Dalam
hal demikian kadang-kadang kehamilan masih dapat
diselamatkan.
Abortus Incipiens (inevitable abortion), artinya terdapat
gejala akan terjadinya aborsi, namun buah kehamilan masih
berada di dalam rahim. Dalam hal demikian kehamilan tidak
dapat dipertahankan lagi.
Abortus Incompletus, apabila sebagian dari buah
kehamilan sudah keluar dan sisanya masih berada dalam
rahim. Pendarahan yang terjadi biasanya cukup banyak
namun tidak fatal, untuk pengobatan perlu dilakukan
pengosongan rahim secepatnya.
Abortus Completus, yaitu pengeluaran keseluruhan buah
kehamilan dari rahim. Keadaan demikian biasanya tidak
memerlukan pengobatan.
Missed Abortion. Istilah ini dipakai untuk keadaan dimana
hasil pembuahan yang telah mati tertahan dalam rahim
selama 8 minggu atau lebih. Penderitanya biasanya tidak
menderita gejala, kecuali tidak mendapat haid. Kebanyakan
akan berakhir dengan pengeluaran buah kehamilan secara
spontan dengan gejala yang sama dengan abortus yang lain.
2. Aborsi buatan/sengaja
Mengakhiri kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu
sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari
oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi(dalam hal ini
dokter,bidan atau dukun beranak )..
3. Abortus Therapeuticus/medis
Abortus therapeuticus adalah pengakhiran kehamilan pada
saat dimana janin belum dapat hidup demi kepentingan
mempertahankan kesehatan ibu. Menurut Undang-Undang
di Indonesia tindakan ini dapat dibenarkan. Keadaan
kesehatan ibu yang membahayakan nyawa ibu dengan
adanya kehamilan adalah penyakit jantung yang berat,
hypertensi berat, serta beberapa penyakit kanker.
Di beberapa negara, termasuk dalam kategori ini adalah
kehamilan akibat perkosaan atau insect, dan pada keadaan
dimana bayi yang dikandungnya mempunyai cacat fisik atau
mental yang berat. Di negara-negara Eropa, aborsi
diperbolehkan apabila ibu menderita campak Jerman
(German Measles) pada trimester pertama.
C. EFEK ABORSI
1. Efek Jangka Pendek
Rasa sakit yang intens
Terjadi kebocoran uterus
Pendarahan yang banyak
Infeksi
Bagian bayi yang tertinggal di dalam
Shock/Koma
Merusak organ tubuh lain
Kematian
2. Efek Jangka Panjang
Tidak dapat hamil kembali
Keguguran Kandungan
Kehamilan Tubal
Kelahiran Prematur
Gejala peradangan di bagian pelvis
D. Alasan Aborsi
Tidak ingin memiliki anak karena khawatir mengganggu
karier,sekolah atau tanggung jawab lain.
Tidak memiliki cukup uang untuk merawat anak.
Tidak ingin memiliki anak tanpa ayah
Masih terlalu muda
Aib keluarga
Sudah memiliki banyak anak
E. Tahapan Aborsi
Bayi dibunuh dg cara ditusuk/diremukan di dalam
kandungan
Bayi dipotong-potong tubuhnya agar mudah dikeluarkan
Potongan bayi dikeluarkan satu persatu dari kandungan
Potongan-potongan disusun kembali untuk memastikan
lengkap dan tidak tersisa
Potongan-potongan bayi dibuang ke tempat
sampah/sungai,dikubur di tanah kosong/dibakar
F. Resiko Aborsi
Aborsi memiliki risiko penderitaan yang berkepanjangan terhadap
kesehatan maupun keselamatan hidup seorang wanita. Tidak benar
jika dikatakan bahwa seseorang yang melakukan aborsi ia tidak
merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang .
Resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi berisiko
kesehatan dan keselamatan secara fisik dan gangguan psikologis.
Risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi
seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan
aborsi adalah :

1. Resiko kesehatan dan keselamatan fisik


Kematian mendadak karena
pendarahan hebat.
Kematian mendadak karena
pembiusan yang gagal.
Kematian secara lambat akibat
infeksi serius disekitar kandungan.
Rahim yang sobek (Uterine
Perforation).
Kerusakan leher rahim (Cervical
Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya.
Kanker payudara (karena
ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita).
Kanker indung telur (Ovarian
Cancer).
Kanker leher rahim (Cervical
Cancer).
Kanker hati (Liver Cancer).
Kelainan pada ari-ari (Placenta
Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya dan pendarahan hebat pada kehamilan
berikutnya.
Menjadi mandul/tidak mampu
memiliki keturunan lagi ( Ectopic Pregnancy).
Infeksi rongga panggul (Pelvic
Inflammatory Disease).
Infeksi pada lapisan rahim
(Endometriosis)
2. Resiko kesehatan mental
Dikenal dengan PAS (Post Abortion Syndrome) atau Sindrom
Pasca Aborsi, hal yang dialami adalah :
Kehilangan harga diri
Berteriak histeris
Mimpi buruk berkali-kali tentang bayi
Ingin melakukan bunuh diri
Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang
Tidak bisa lagi menikmati hubungan seksual

Oleh sebab itu yang sangat penting untuk diperhatikan dalam


hal ini adanya perhatian khusus dari orang tua remaja tersebut
untuk dapat memberikan pendidikan seks yang baik dan benar.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Setelah saya membaca kasus-kasus yang terlampir pada lampiran,
kasus aborsi sampai saat ini sangatlah serius dan membahayakan
bagi umat manusia. Menurut data, sampai saat ini ternyata kasus
mengenai aborsi masih sangat tinggi, bahkan sampai remaja pun
telah melakukan tindakan aborsi. Walaupun banyak Negara telah
menyerukan program KB dan banyak Negara telah menyarankan
untuk memakai kondom sebagai pilihan alternative program KB,
tetapi hasilnya di dunia ini masih tinggi akan kasus aborsi.
Saya menanggapi bahwa perbuatan aborsi dengan tujuan dan maksud
tertentu memang ada yang boleh dilakukan dan ada yang tidak boleh
dilakukan. Tujuan dan maksud tersebut memang boleh
dilakukannya tindakan aborsi, apabila dalam situasi janin akan mati
bersama ibunya apabila tidak dilaksanakan pengguguran dan situasi
dimana ibu akan meninggal bila janin tidak digugurkan. Tetapi
tindakan aborsi tidak diperkenankan apabila seorang wanita malu
menanggung resiko mempunyai anak diluar nikah ataupun di dalam
situasi perkawinan dimana seorang ibu yang hamil dan mempunyai
banyak anak, tetapi ibu tersebut tidak menginginkan kehadiran
anaknya didalam kehamilanya, maka ibu tersebut tidak boleh
melakukan tindakan aborsi.

DAFTAR PUSTAKA

http://abortus.blogspot.com/2007/11/metode-metode-aborsi.html
http://abortus.blogspot.com/search/label/Abortus
http://abortus.blogspot.com/search/label/Resiko
http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0609/15/020926.htm
.