You are on page 1of 5

TUGAS PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENULISAN

ILMIAH
Pengutipan

Disusun Oleh
Golongan / Kelompok: D / 3

Fitria ( G42141279 )

Aisyah Balgis ( G42141298 )

Miranda Khoirun N ( G42141310 )

Ikna Khoirani ( G42141327 )

Maulia Yusrina Laili ( G42141330 )

Gella Aprilia ( G42141333 )

Indra Kurnia Sandy ( G42141342 )

Nurainia Puspitasari ( G42141346 )

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


POLITEKNIK NEGERI JEMBER
JURUSAN KESEHATAN
D-IV GIZI KLINIK

2017
BAB 2.TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tuberkulosis MultiDrug Resisten (TB-MDR)

Tuberkulosis MultiDrug Resisten (TB-MDR) merupakan suatu jenis resistensi bakteri


tuberkulosis (TB) terhadap minimal dua obat anti TB lini pertama, yaitui isoniazid dan
rifampicin yang merupakan dua obat TB yang paling efektif. TB-MDR menjadi tantangan
baru dalam program pengendalian TB karena penegakan diagnosis yang sulit, tingginya
angka kegagalan terapi dan kematian (Kementerian Kesehatan RI, 2011).

Tuberkulosis (TB) resistensi dapat berupa resistensi primer dan resistensi sekunder.
Resistensi primer yaitu resistensi yang terjadi pada pasien yang tidak pernah mendapat Obat
Anti Tuberkulosis (OAT) sebelumnya. Resistensi primer ini dijumpai khususnya pada pasien-
pasien dengan positif penyakit Human Deficiency Virus (HIV) sedangkan resistensi sekunder
yaitu resistensi yang didapat selama terapi pada orang yang sebelumnya sensitif obat (Mc
Donald, et al. 2003).

Jalur yang terlibat dalam perkembangan dan penyebaran TB MDR akibat mutasi dari
gen Mycrobacterium tuberkulosis. Basil tersebut mengalami mutasi menjadi resisten
terhadap salah satu jenis obat akibat mendapatkan terapi OAT tertentu yang tidak adekuat.
Terapi yang tidak adekuat dapat disebabkan oleh konsumsi hanya satu jenis obat saja
(monotheraphy direct) atau konsumsi obat kombinasi tetapi hanya satu saja yang sensitif
terhadap basil tersebut (monotheraphy indirect). Pasien TB dengan resistensi obat sekunder
dapat menginfeksi yang lain dimana orang yang terinfeksi tersebut dikatakan resistensi
primer. Transmisi difasilitasi oleh adanya infeksi Human Deficiency Virus (HIV), dimana
perkembangan penyakit lebih cepat, adanya prosedur kontrol infeksi yang tidak adekuat dan
terlambatnya penegakkan diagnostik (Leitch, 2000).

Menurut Aditama, et al (2006) ada beebrapa hal yang menyebabkan terjadinya


resistensi OAT, yaitu :

1. Pemakaian obat tunggal dalam pengobatan tuberculosis.


2. Penggunaan paduan obat yang tidak adekuat, yaitu jenis obatnya yang kurang atau di
lingkungan tersebut telah terdapat resistensi terhadap obat yang digunakan, misalnya
memberikan rifampisin dan INH saja pada daerah dengan resistensi terhadap kedua
obat tersebut.
3. Pemberian obat yang tidak teratur, misalnya hanya dimakan dua atau tiga minggu lalu
berhenti, setelah dua bulan berhenti kemudian bepindah dokter mendapat obat
kembali selama dua atau tiga bulan lalu berhenti lagi, demikian seterusnya.
4. Fenomena addition syndrome yaitu suatu obat ditambahkan dalam suatu paduan
pengobatan yang tidak berhasil. Bila kegagalan itu terjadi karena kuman TB telah
resisten pada paduan yang pertama, maka penambahan (addition) satu macam obat
hanya akan menambah panjangnya daftar obat yang resisten saja.

Berdasarkan hasil penelitian Bertin (2011) pola resistensi yang didapatkan pada
penelitiannya menunjukkan bahwa kasus monoresisten terjadi mayoritas resistensi
Ethambutol dengan persentase mencapai 31,1%, diikuti dengan resistensi Streptomisin
dengan persentase 17,7%. Hasil ini bertentangan dengan penelitian Munir (2010) yang
menyatakan bahwa jenis resistensi yang banyak ditemukan adalah resistensi INH dan
Rifampisin dengan 50,5%.

Lebih tegas lagi Achmadi (2005) menyatakan bahwa penyakit yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis ini telah menginfeksi hampir sepertiga penduduk dunia dan
belum ada hasil yang optimal dikarenakan sedikitnya jumlah penderita yang dapat
disembuhkan. WHO dalam Annual Report on Global TB Control 2003 menyatakan terdapat
22 negara dikategorikan sebagai high burden countris terhadap TB paru termasuk Indonesia
(Achmadi, 2005).

Dalam Pedoman Nasional Penanggulangan TB oleh Depkes (2008) di katakan bahwa


sebagian besar penderita TB adalah golongan miskin dan penduduk yang tinggal di
pemukiman padat. Hal ini serupa dengan data WHO yang menyatakan bahwa 95% dari angka
kematian akibat TB setiap tahun berada di negara berkembang yang relatif miskin. 75%
penderita TB adalah mereka yang berusia produktif secara ekonomi (15-50 tahun).

Berdasarkan pernyataan Famy (2009) Hasil penelitian yang dilakukan pada 15


provinsi di Indonesia menunjukkan angka rata-rata kesakitan TB sebesar 2,55 permil, dengan
angka tertinggi di Sulawesi Selatan 4,7, Sumatra Utara sebesar 4,4 permil dan 0,8 permil di
Bali sebagai angka terendah, sedangkan angka kematian akibat TB antara tahun 1980 sampai
dengan 1986 bergeser dari 5,3% menjadi 5,1% .
Masalah utama yang muncul pada pasienTB-MDR adalah sulitnya pengobatan,
tingginya kematian, biaya yang mahal dan berpotensi menularkan basil resisten kepada orang
lain. Angka kematian yang tinggi lebih banyak dikarenakan oleh faktor penjamu (host), di
mana penderita TB-MDR mengalami penurunan daya tahan tubuh yang dapat disebabkan
oleh asupan gizi tidak seimbang dan kuantitas yang kurang dan kondisi metabolisme tubuh
yang tidak baik. Di samping itu kurangnya kebersihan diri juga berakibat mudahnya faktor
penyebab penyakit (agent) lain masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan infeksi
tambahan (co-infections) semakin memperburuk kondisi sik (Aditama,2013)
DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan RI. (2011). Komunikasi,Informasi dan Edukasi Tuberculosis


Resistance Obat. Jakarta: Sub Direktorat Tuberculosis.
Mc Donald RJ, Reichmann LB. Tuberculosis in Baum G.L., et al (eds), Baums Textbook of
Pulmonary Disease, 7th ed. Lippincot William and Wilkins Publisher, Boston, 2003.
Leitch GA. Management of tuberculosis in Seaton A,et al (eds) , Crofton and Douglass
Respiratory diseases Vol 1, 15th ed. Berlin.2000.
Aditama TY, dkk. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia,
PERPARI, Jakarta, 2006.
Achmadi, U.F. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2005
Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan
dua.Jakarta, 2008
Famy, 2009, Laporan insiden penyakit TB paru,Jakarta.
Aditama T Y, 2013. Extensively drug resistant tuberculosis XDR-TB, Jakarta.
Bertin. (2011). Faktor-faktor Yangmempengaruhi Keberhasilan Pengobatan pada Pasien
dengan Tuberkulosis Resistance di Jawa Tengah. Artikel Ilmiah Kedokteran .
Munir, Arifin, Dianiati. Pengamatan Pasien Tuberkulosis Paru dengan Multidrug
Resistant (TB-MDR) di Poliklinik Paru RSUP Persahabatan. J Respir Indo 2010;
30:92 102